Wednesday 16 January 2013

Si Ulil (U besar) dan si ulil (u kecil)

Bagi saya ulil itu kreatif, banyak akalnya, dan pantang menyerah. Tapi ada kalanya Si ulil ini keterlaluan tingkahnya, ngeyel, inkonsisten dan yang paling penting tidak kapok-kapok walau berkali-kali kena semprot si Komo, Dompu dan Belu gegara usilnya keterlaluan. Eh, ini saya sedang membicarakan ulil di serial Komo loh ya, drama boneka kreasi Kak Seto, bukan membicarakan Ulil yang satunya lagi. :p

Sosok ulil (ulat usil) ini kadung melekat di pikiran saya jika mendengar kata Ulil. Maka ketika beranjak besar dan melek keislaman, mendengar nama Ulil asosiasi sayapun langsung tertuju pada ulat usil iseng yang ada di serial Si Komo, eh tapi ternyata bukan Ulil yang itu, ada Ulil yang lain rupanya. Pria kelahiran Pati 46 tahun silam yang kini menjabat sebagai Ketua Divisi Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan DPP Partainya Angelina Sondakh (eh dia masih terdaftar anggota partai kan ya? hehe) dan tak lupa penggiat serta founding father JIL (Jaringan Ib.. eh Islam Liberal).

Sayapun tak sepenuhnya keliru menyamakan ulil (U kecil) dengan Ulil (U besar), ada beberapa kesamaan diantara mereka berdua. Keduanya sama-sama kreatif dan banyak akalnya. Kalau ulil selalu memiliki ide kreatif untuk mengakali si Komo, Ulil pun tak jauh beda, ia coba menyegarkan umat dengan sebuah ide tentang arti kebebasan, Liberal, segala hal patut dan bebas dipertanyakan termasuk dalam hal simbol-simbol keislaman fundamental, maka tak heran Alquran dan Haditspun perlu diaktualisasikan sesuai perkembangan zaman, kreatif bukan?

ulil dan Ulil sama-sama pantang menyerah. Tiap episode, si ulil selalu tampil dengan semangat baru walau berkali-kali pula kena batunya sendiri karena keisengannya. Begitu juga dengan Ulil, pantang menyerah membela ide-ide islam liberalnya, walau berkali-kali dipatahkan oleh para Ulama dan para penggiat, aktivis #IndonesiatanpaJIL. Padahal kebenaran itu nampak nyata tapi entah mengapa hidayah itu seperti belum sampai padanya.

Keduanya pun tidak pernah kapok walau berkali-kali terkena sentilan. ulil yang selalu bertahan di tiap episode atas segala keisengannya, dan Ulil yang tetap bertahan atas segala ide-ide kreatifnya, terakhir saya lihat di timeline twitter, ia pun menyadari kesalahannya yang mengatakan bahwa Islam gagap dalam menghadapi kasus perkosaan. Ia pun sempat menantang @syarifbaraja (salah satu tweeps) untuk membawa literatur fikih klasik dalam Islam yang membahas tentang kasus perkosaan, yang seketika dijawab oleh @benjameel dengan al muntaqa syarhu al muwatha' juz 5 halaman 268 kitab hudud, bab ma jaa fil mugtshibah (tentang perkosaan). Ulil sepertinya kaget (walau saya gak tau juga dia beneran kaget apa nggak) karena ada yang bisa mejawab tantangannya.

Terakhir, khusus untuk mas Ulil (untuk ulil si komo, sudah cukup kayaknya. hehe), menjadi skeptis dan serba relatif itu cenderung mudah, anda tinggal mempertanyakan saja segala sesuatunya karena tidak ada satupun yang sifatnya mutlak benar bagi anda. Sedangkan menjadi cerdas dengan segala kemampuan untuk menerima kebenaran yang datangnya dari fitrah kemanusiaan, anugerah Rabb semesta alam, itu yang sulit, perlu hidayah. Ibarat menghancurkan bangunan, tanpa perlu skill, anda dapat menjadi penghancur yang baik, tapi menjadi seorang kuli dengan jerih payah keringat dalam membangun, itu yang tak mudah.

Segitu aja ya mas Ulil, mohon maaf kalau ada salah-salah kata.. #masihbelajar.

foto: http://blog.trisakti.ac.id/masjid/files/2012/08/hidayah.jpg

2 comments:

  1. ikut komen: http://muhammadzulifan.blogspot.com/2012/12/metafor-jil.html

    ReplyDelete