Kamis, 02 Januari 2014

Review 2013 ; Sruput Kopi Pagi.

Hai Netter..

Lama tak jumpa dan menyapa kalian. Rindu rasanya menulis lagi dan berbagi ide serta cerita lewat laman ini. Karena jujur saja, menyalurkan isi kepala lewat tulisan di blog ini sedikit banyak merupakan cara saya untuk mengobati ketidakpuasan tentang banyak hal. Setidaknya yang membaca laman ini, mungkin saja, mendapatkan perspektif baru dan syukur-syukur tergugah dengan tulisan-tulisan saya.. (tsah..).

Ngomong-ngomong.. sudah setahun lamanya (sejak 2013) saya mencanangkan sebuah rubrik di laman ini. Sruput Kopi Pagi. Sebagai media untuk berbagi gagasan dan uneg-uneg di kepala yang terbit setiap hari. Awalnya saya berencana untuk menuliskannya secara konsisten setiap pagi, selama tahun 2013. Tapi apa daya..Satu dan lain hal (baca: banyak hal) menjadikan Sruput kopi pagi hanya bertahan sampai bulan April 2013. haha.

Dan berikut statistiknya selamat tahun 2013.


Dari statistik tersebut terlihat bahwa, beberapa kata kunci di satu postingan saya tentang sebuah tulisan menjadi hits dan banyak dicari para netter. antara lain: Job Fair, Melamar Pekerjaan, Togel-Mimpi, Haqqul yakin, Hafidz Quran, FPI, dan KPK.

Hasil statistik tersebut cukup mengejutkan bagi saya karena laman ini sudah sejak April tidak di update sama sekali. Tapi justru sejak bulan April, karena postingan saya menggunakan kata kunci Togel, Mimpi, Jobfair, dan sebagainya, membuat laman ini di akses tiap harinya rata-rata 40-50 view perhari. Lumayan bagi ukuran blog tidak terkenal dan jarang sekali di update. Hehe..

Anyway.. Semoga saja postingan-postingan tersebut memberikan manfaat bagi netter yang membacanya. Karena memang bukan tujuan saya untuk menjadi terkenal lewat blog ini, hm.. baiklah, mungkin itu tujuan lainnya..haha.. tapi memang berbagi lewat laman di dunia maya memang menyenangkan, dan semoga di tahun ini, laman ini bisa tetap di update..

:)


Rabu, 04 Desember 2013

Talent dan Exciting Enterprise


“Poin yang terakhir dari IPC Way adalah mengembangkan tempat bekerja yang exciting. Apa maksudnya exciting? Exciting tidak hanya menyenangkan, tetapi juga menggairahkan, membuat kita rindu untuk kembali datang ke tempat kerja”

-R.J. Lino, CEO IPC (PT Pelabuhan Indonesia II), dalam pidato upacara HUT RI ke 68 di Kantor Pusat IPC-

Exciting Enterprise, perusahaan yang luar biasa, menggairahkan, dan menyenangkan. Tentunya tak ada orang yang tak menginginkan untuk bekerja di perusahaan seperti ini. Perusahaan yang membuatnya nyaman dan termovitasi dalam bekerja.  Dimana tiap pekerja di dalam perusahaan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan. Lalu apa saja faktor-faktor yang membuat seseorang merasa Excited, bergairah, dan rindu untuk kembali ke tempat kerja?

Ada bermacam faktor yang mungkin membuat seseorang merasa Excited dengan perusahaannya. Entah karena gaji tinggi, fasilitas kesehatan yang menarik, peluang karir yang menjanjikan atau sekedar mengejar status sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan besar. Faktor-faktor itu dapat saja dijadikan tolok ukur yang dapat memotivasi karyawan untuk selalu excited dalam bekerja.

Tapi kini sesuatu yang sifatnya tangible tersebut (gaji, fasilitas kesehatan, dll) tak selalu membuat seorang karyawan atau calon karyawan tertarik untuk bekerja di sebuah perusahaan. Karena kini, minat dan talent seseorang sedikit banyak mengarahkannya untuk memilih sendiri, perusahaan mana yang membuatnya excited dan termotivasi dalam bekerja.

Talent dan Exciting Enterprise

Rohah Shah adalah pemuda 20 tahun dan sekaligus sebagai mahasiswa Universitas Illinois dengan beragam prestasi di kampusnya. Nilai akademik yang tinggi, aktif dalam dewan mahasiswa di kampus, menguasai 3 bahasa, dan asisten dosen nampaknya cukup menggambarkan betapa Shah adalah seorang mahasiswa berprestasi.

Dengan berbagai capaian tersebut, tak sulit bagi Shah untuk melamar di sebuah perusahaan besar yang diimpikan banyak orang. Dibandingkan mengejar gaji tinggi, status sebagai karyawan perusahaan ternama, dan berbagai fasilitas wah lainnya, ia justru lebih mengikuti talent dan passionnya di bidang IT, hingga ia pun mengajukan diri sebagai karyawan magang terlebih dulu di perusahaan IT sekelas Google.

Shah melamar secara online, sebuah prosedur wajib bagi orang-orang yang tertarik bekerja ataupun magang di Google.  Ia pun mengisi formulir, mengirimkannya kembali lewat email disertai dengan surat lamaran, nilai akademik dan catatan aktivitas organisasi yang ia ikuti. Beberapa waktu kemudian, Shah menerima email dari Google, sebuah undangan wawancara untuk posisi karyawan magang selama musim panas. Mendapat email itu, Shah sangat senang. Dia tak mau melewatkan kesempatan itu. Apa lagi, kompetisi untuk masuk Google sangat ketat. Menurut juru bicara Google, Google hanya menerima 1.500 anak magang dari 40 ribu yang melamar setiap tahunnya.

Yang menarik adalah, talent dan minat Shah di suatu bidang sangat diperhatikan dalam proses seleksi. Ada dua proses wawancara yang diikuti Shah,  Wawancara yang bersifat teknikal terkait bidang IT melalui telepon dan wawancara secara langsung dengan beberapa tim dari Google. Setelah beberapa kali wawancara, akhirnya tim dari Google membantu Shah memilih divisi yang cocok sebagai tempat magangnya. Singkat cerita, dalam waktu 3 bulan setelah mengirim lamaran online, Shah resmi magang di Google. Dia bergabung dengan divisi Android, sesuai dengan hobi dan talent yang dikuasainya.

Dari kisah Rohah Shah di atas, kita dapat melihat bahwa talent dan exciting enterprise memiliki keterkaitan satu sama lain. Dimana talent Shah di bidang IT mempengaruhi dirinya untuk bekerja di sebuah perusahaan yang dilihatnya sebagai perusahaan yang exciting. Talent sendiri di dalam dunia kerja tidak hanya didefinisikan dan diartikan secara harafiah sebagai bakat. Tapi lebih dari itu, ketika kita membicarakan talent, kita juga membicarakan tentang orangnya.

Orang yang memiliki talent adalah orang yang memiliki kompetensi atau kemampuan di atas rata-rata sehingga membuat dia mampu untuk perform sangat baik dibanding dengan orang-orang di sekelilingnya (average performer). Untuk mendefinisikan talent sendiri, kita harus bagi menjadi dua antara Performance dan Potency.

Performance sendiri didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk menampilkan talent dan minatnya pada suatu bidang. Ada dua jenis performance yang ada pada diri seseorang, high performance dan low performance. High performance adalah kemampuan seseorang menampilkan talent dan minatnya dengan sangat baik pada suatu bidang, ia mampu menunjukkan kinerja di atas rata-rata dibandingkan orang lain. Sebaliknya low performance adalah ketidakmampuan seseorang menampilkan talent dan minatnya, sehingga ia menunjukkan kinerja dibawah rata-rata.

Sedangkan potency adalah kemampuan yang memiliki kemungkinan untuk dikembangkan ke depannya. Potency seseorang secara umum tercermin dari caranya berkomunikasi, hasil tesnya (misalnya tes IQ), histori prestasinya dan lain-lain. Ada dua jenis potency pada diri seseorang, high potency dan low potency. High potency adalah kemampuan seseorang yang dapat dikembangkan dengan lebih besar di masa mendatang, dan low potency adalah kemampuan seseorang yang sulit dikembangkan walaupun tersedia banyak peluang bagi orang tersebut.

Talent, IPC, dan Exciting Enterprise

Melihat dinamika SDM kini yang tak hanya seputar hal-hal yang tangible (gaji, tunjangan fasilitas dll), maka idealnya IPC yang mengusung misi sebagai world class port operator mampu menjawab tantangan yang ada kini dalam mengembangkan Exciting enterprise bagi karyawannya. Dimana nantinya telah ada skema atau planning yang terstruktur dan detail mengenai pengembangan talent di dalam perusahaan.

Secara umum di banyak perusahaan, pengembangan talent merupakan proyek besar dalam rangka menyiapkan calon-calon karyawan potensial dan pemimpin perusahaan di masa mendatang. Mereka yang High potential dan high performance diharapkan dapat dikembangkan kompetensinya dan diarahkan sesuai career path yang ada dalam sebuah perusahaan. Dikumpulkan dalam sebuah wadah yang dikenal dengan nama talent pool. Sedangkan karyawan yang high potential dan low performance dapat di coach, serta dimotivasi agar nantinya dapat meningkatkan performance-nya dan mampu bergabung dengan high potential dan high performance di dalam rencana jangka panjang perusahaan.

Tentunya tak mudah mensinergikan talent seorang karyawan dengan misi dan budaya yang ada di sebuah perusahaan khususnya IPC. Tapi dengan melihat kondisi faktual yang ada, IPC sebagai salah satu perusahaan yang sedang bertransformasi dalam banyak hal, idealnya mampu menciptakan peluang bagi talent-talent yang ada untuk berkembang dan membuat mereka merasa excited dalam bekerja karena sesuai dengan talent yang mereka miliki. Hingga harapannya, exciting enterprise yang kini dikembangkan lewat culture transformation IPC dapat menjadi kenyataan dan tak sekedar slogan semata.

Kamis, 07 November 2013

Erika Hapsari



Hm..

Oke, secara de facto dia adalah adik kelas saya, junior lah kalau orang-orang menyebutnya. Junior di kampus. Tapi kok ketika dulu di kampus saya jarang ngeliat dia ya??.. hm.. entah saya yang kurang gaul atau memang ruang lingkup aktivitas kami yang berbeda, dia lebih sering main ke pusgiwa dan saya ke student center psikologi, tapi yang jelas, namanya sudah cukup familiar di telinga saya. Erika Hapsari..

Yup, Erika Hapsari. Wanita anggun asal malang dengan wajah yang memancarkan binar keceriaan. Sejak email dari temannya (yang termasuk teman saya juga), tentang informasi dan profile dirinya masuk ke inbox saya, sayapun mengetahui tentang dirinya lebih jauh dari sekedar bahwa ia adalah mahasiswi yang smart dengan title Mahasiswa berprestasi dengan segudang aktivitas kemahasiswaan. Ah ternyata ia yang saya cari selama ini.

Profilenya saya baca berulang kali, berulang kali, dan berulang kali. Sungguh bahagia sekali bila anak saya nanti beribukan seorang wanita yang luar biasa seperti ini. Bismillah, dengan istikhoroh dan berbagai masukan dari banyak informan, sayapun bertekad, she is the one.

**
Saat itu pertengahan januari, seminggu setelah berkonsultasi dengan sang khaliq, sayapun memutuskan untuk bertemu dengannya. Di sebuah rumah makan ditemani oleh dua orang teman yang sekaligus pasangan suami istri. Disana saya bertatap muka langsung dengannya, bertanya lebih lanjut dan mengklarifikasi banyak hal. Hm.. sangat menyenangkan. Sayapun menyampaikan bahwa, “oke, kita masing-masing istikhoroh dulu, insyaAllah setelah itu kita akan saling mengabari”

Seminggu setelah pertemuan itu, sayapun kembali istikhoroh. Sungguh, untuk yang satu ini, dia yang insyaAllah terbaik sebagai pendamping hidup, saya serahkan sepenuhnya pada Allah. Biarlah sang khaliq yang memilihkan. Dan dengan bertawakal padaNya, sayapun memutuskan untuk melanjutkan proses ini. Tapi itu baru dari saya, sedangkan ia belum tahu seperti apa. Apakah bersedia untuk melanjutkan proses ini atau tidak. Awalnya rasa harap dan keinginan untuk bersamanya tak terlalu besar, biasa saja, tapi entah kenapa Allah seperti sudah menitipkan rasa itu pada saya. Dan rasa itu makin besar. Semoga ia menerima.

Dan ternyata, ia bersedia untuk melanjutkan proses ini. Alhamdulillah, selanjutnya kamipun mulai membicarakan hal yang lebih detail via email atau sms terkait dengan proses menuju jenjang pernikahan. Dan entah kenapa, semuanya berjalan lancar dan cepat. Bulan januari kami bertemu, beberapa kali diskusi, akhirnya di penghujung januari ia ke rumah saya ditemani sahabatnya, bertemu dengan orang tua  yang tidak disangka, beliau berdua cocok dengannya.

“gimana kalau kak tegar februari ke sini aja, langsung ketemu orang tuaku, sekalian lamaran juga boleh, tapi klo bisa jangan sendiri, gak usah dua-duanya dateng juga gakpapa,”

Wuih.. dan akhirnya februari disuruh ke rumahnya langsung di malang. Malam itu pun, setelah dia mampir ke rumah saya, saya mencari tiket ke pesawat promo. Tak disangka, dapat yang murah dan untuk berdua. Pesawat tiger airways, dua juta untuk dua orang, PP JKT-SBY. Murah bangettt.. ternyata ada aja jalannya.

**
Sayapun berangkat bersama ayah, hanya berdua, bertandang ke rumahnya sekaligus lamaran. Kamipun hanya membawa beberapa buah tangan, tak banyak, tapi mudah2an bermanfaat. Disana ayah sayapun mengutarakan maksud kami datang ke malang, dan Alhamdulillah, kami diterima dengan baik dan lamaran sayapun ditanggapi dengan positif.

Selanjutnya kamipun membicarakan proses menuju pernikahan, dari urusan tanggal, prosesi pernikahan dan sebagainya. Sungguh banyak kalau diceritakan dalam satu tulisan, tapi intinya, kami berdua dimudahkan. Dengan kondisi saya yang tabungannya kurang (bahkan nyaris gak ada) dan masih belum bebas financial, Alhamdulillah ada saja rejeki yang datang. Hehe.

**
5 bulan dari hari pernikahan.
Kami menikah bulan Juni, di malang, dengan resepsi yang sungguh luar biasa. Saya bersyukur bahwa Allah telah menentukan jalan terbaik bagi kami berdua untuk berkumpul sebagai satu keluarga, insyaAllah hingga ke surga kelak. Aamiin.

Dan hingga detik ini, betapa bersyukurnya saya mendapatkan anugrah bidadari penyejuk mata seperti dirinya. Wanita dengan senyuman manis yang senantiasa ridho dengan kondisi suaminya, tak banyak mengeluh dan sangat menyayangi saya dan menerima keluarga saya layaknya keluarga sendiri.  Wanita dengan sosok tangguh, luar biasa, dan penyayang.

Wanita yang bisa berkata “uangku uang mas juga" 
Atau "istri harus bisa bantu suami”
Atau “uangnya di mas aja, aku bakal minta kok kalo kurang.”
Atau “insyaAllah rejeki gak kemana mas, usaha terus ya, insyaAllah ada jalan”
Dan banyak fragmen yang saya terekam jelas dalam memori.

Banyak hal yang akan kami tempuh di tahun-tahun mendatang, bahkan mungkin masih banyak yang perlu kami ketahui satu sama lain. Tapi insyaAllah, dengan ridho Allah, kami akan lalui jalan ini berdua bersama anak-anak kami nantinya. Aamiin.

Selamat hari lahir dek, semoga sehat selalu dalam menempuh jalan hidup ini bersamaku.

Teruntuk istriku tercinta.
Erika Hapsari
:)

Sabtu, 18 Mei 2013

KPK dan Staf HRD

Sesaat, saya menghembuskan nafas dan memandang kembali CV dan surat lamaran yang teronggok manis di atas meja kerja. Beberapa lembar kertas yang bertuliskan nama, alamat, riwayat pekerjaan, dan pastinya sepucuk surat bahwa yang bersangkutan ingin melamar di perusahaan tempat saya bekerja.

Secara keseluruhan, idealnya, saya tak perlu 'galau' dengan sepucuk aplikasi lamaran kerja yang tadinya terbungkus rapi dalam amplop coklat besar. Karena memang yang namanya surat lamaran dalam amplop coklat bukan suatu hal yang baru bagi saya.

Bahkan kini beberapa tumpukan lamaran dalam amplop masih terbengkalai berdebu di sudut ruang kerja. (duh maaf ya para pelamar). Tapi kini yang membuat saya agak malas dan resah adalah sebuah tulisan kecil di pojok kiri atas surat lamaran si pelamar. Tertulis dengan tinta berwarna merah, "ref: Dirut". Alamak, tanda-tanda bakal diintervensi nih.

Karena memang biasanya, referensi atau calon dari si pejabat perusahaan, entah dia saudara jauhnya, atau cuma tetangga, hampir dipastikan berujung intervensi dan tekanan yang intinya adalah, "nih orang referensinya pejabat, mau gak mau harus diterima.". duh.. apa jadinya perusahaan kalau begini caranya. Kalau si pelamar sesuai kualifikasi, syukur alhamdulillah, tapi kalau jauh dari kualifikasi? psikotes jeblok, pengalaman nol, hasil tes kesehatan tidak fit. Apa tetap harus diterima?

hm.. ya sebenarnya sih mau dipaksakan atau tidak, tidak jadi masalah. Toh keputusan tetap ditangan para bos-bos itu, pimpinan yang terhormat. Saya hanya menjalankan pekerjaan sesuai prosedur dan keputusan diterima atau tidak kembali saya serahkan pada mereka.

Saya hanya menyajikan fakta dan silahkan para pembesar itu yang memutuskan. Saya serahkan hasil psikotesnya, hasil interview, dan hasil tes kesehatan. Silahkan ditimbang-timbang apakah layak atau tidak. Tapi sejauh ini memang pimpinan saya itu tak mau mengambil risiko, walau referensi pejabat tapi jika tidak memenuhi kualifikasi ya apa mau dikata. Syukurlah para pimpinan masih bisa bertindak rasional.


Selasa, 16 April 2013

#Khamr : Perihal Tweet Ulil Semalam

Semalam ada kicauan menarik dari salah seorang tweeps di twitterland. Rangkaian kultwitnya ditanggapi beragam dari followernya yang mayoritas merasa 'kegerahan' dengan berbagai opininya, kali ini tentang #miras. Tak banyak tweet beliau yang saya baca, hanya sebagian saja dan itu sudah membuat jidat saya mengkerut, tak heran, alur berpikir khas "sepilis" (sekularisme, pluralisme, liberalisme). Beberapa opininya coba saya tanggapi di tulisan kali ini.

Yang pertama mengenai regulasi miras, menurutnya dalam hal ini kita (baca: masyarakat) harus melepaskan diri dari soal pilihan moral, maka saat umat islam percaya miras haram, itu pilihan moral mereka. Jadi saat membicarakan regulasi miras, maka isu utamanya adalah public safety, bukan urusan halal-haram. Hm.. membaca tweet beliau ini, kok saya menjadi tersenyum ya. Ada beberapa point menarik dari pernyataan beliau ini.

Pertama mengenai apa itu sebenarnya halal haram dan apa maksud beliau tentang 'pilihan moral'. Halal haram itu masuk dalam kategori rule, peraturan, syariah, jalan yang harus ditempuh, dipatuhi dan tidak sekedar simbol moral-immoral belaka. Karena halal itu adalah sesuatu yang boleh dilakukan, dan haram adalah hal yang dilarang untuk dilakukan. Definisi yang beririsan dengan definisi regulasi yang hakikatnya sama dengan apa yang beliau maksudkan, yaitu sama-sama peraturan yang harus dipatuhi. Jadi ada semacam kerancuan berpikir saat beliau memposisikan halal-haram diluar definisi regulasi.

Kedua mengenai term 'mereka' yang beliau tujukan kepada umat muslim. Sebuah statement yang secara tidak langsung menegaskan bahwa beliau berada di posisi outgroup. Tidak masuk bagian dari umat islam, dan tidak ikut-ikutan dengan pilihan halal-haram umat islam. Sebuah pernyataan yang 'wow' yang menyadarkan saya bahwa tak heran beliau begitu mudahnya membuat hal-hal kontroversial karena memang tak ada beban sebagai seorang ingroup, umat islam.

Tweet kedua yang saya cermati adalah mengenai turunnya ayat Alquran yang mengatur tentang khamr. Dalam Alquran memang Allah tidak serta merta melarang pengharaman Khamr, akan tetapi dilakukan secara perlahan satu persatu. Dari pelarangan menjauhi shalat saat mabuk, sampai pengharaman mutlak untuk dikonsumsi.

Yang menarik adalah cara pandang beliau yang menganggap bahwa pelarangan khamr yang perlahan hanya terjadi dalam konteks pertikaian sosial seperti yang tersirat dalam surah Al Maidah 90-91. Jadi kalau tidak menimbulkan pertikaian sosial, khamr boleh-boleh saja dikonsumsi, dan menariknya beliau mengambil contoh dari barat sana saat khamr ternyata tidak menghalangi kemajuan suatu bangsa. Karena banyak bangsa-bangsa yang melegalisasi khamr dan membudayakannya, lebih maju dari berbagai aspek.

Duh.. kok saya semakin tersenyum membaca jalan berpikir beliau ya. Pertama, pengharaman khamr perlahan mengandung hikmah bahwa yang namanya dakwah memang harus dilakukan perlahan, tidak langsung diharamkan. Yang ada jika itu dilakukan, dakwah malah tak berhasil dan orang-orang tersebut terlanjur kabur.

Kedua, mengenai pertikaian sosial yang disebabkan oleh khamr. Memang benar bahwa yang namanya khamr bisa memancing emosi dan perkelahian antar kelompok, karena akal sedang kehilangan kendalinya. Tapi itu tidak serta merta menjadi sebuah indikasi bahwa negara yang melegalisasi dan membudayakan miras dimana disana tidak terjadi konflik sosial dianggap lebih maju dan membuat pengharaman atas khamr menjadi hilang. Karena tak ada korelasinya antara budaya miras, penghalalan khamr, dengan kemajuan suatu bangsa. Duh.. cara berpikir yang aneh.

Lalu tweet lainnya mengenai Alquran dan Hadits yang tidak mengatur sanksi mengenai peminum miras, serta beberapa orang sahabat yang menjadi peminum khamr sebelum masuk islam. Seolah-olah karena tidak adanya sanksi dan budaya sebagian sahabat (sebelum islam datang) sebagai peminum khamr membuat pemakluman bagi perkara keharamannya. Pernyataan yang seakan menjadi pembenaran khamr.

Tapi perlu kita ingat,walaupun sebagian sahabat dulunya peminum khamr, tapi sejak turunnya wahyu yang melarangnya, serta merta para sahabat langsung meninggalkannya. Bahkan menurut sebagian riwayat, jalan-jalan di kota madinah penuh dengan genangan khamr yang dibuang. Selain itu, walaupun tidak ada sanksi tertulis dalam Al Quran dan Sunnnah tentang sanksi peminum khamr, tapi di zaman sahabat sanksi tentang meminum khamr telah diatur.

Contohnya saat Umar menerapkan hukuman cambuk bagi anaknya yang meminum Khamr. Jadi meskipun tidak tertulis secara eksplisit dalam Quran dan Sunnah, para sahabat telah berijtihad dalam menentukan sanksi bagi peminum khamr. Karena para sahabat adalah sebaik-baik Ulama sepeninggal Rasul, karena mereka paling memahami Quran dan Sunnah. Akan sangat sulit menyatukan pandangan jika si pembuat tweet tidak mengakui ijtihad para sahabat. gak bakal ketemu ujungnya.

Tapi memang khamr tidak dilegalkan di dunia, tapi di surga sana. Karena di surga sana, khamr jadi minuman yang halal dan disajikan bagi para penghuni surga. Mungkin itu sebabnya mereka, sepilis-sepilis itu, menghalalkan khamr, karena bisa jadi dunia bagaikan surga bagi mereka. Jadi gak usah heran kalau kelakuan mereka seperti itu.

Senin, 15 April 2013

Mari Menulis Lagi..!

Setelah seminggu berlalu (lebih kayaknya), sayapun menyadari bahwa menulis membangun konstruksi berpikir dari lesatan ide serta opini yang ada di kepala. Hal-hal semacam peristiwa, fenomena dan sebungkus informasi yang muncul menjadi stimulus yang asyik tuk diolah. Maka saat aktivitas menulis itu berhenti, ada semacam stagnansi dari sebuah proses perbaikan diri, dan itu sangat mengganggu.

Awalnya saya sekedar ingin melihat perbedaan antara menulis dengan berhenti menulis. Aktivitas yang biasanya dilakukan dibuat hilang untuk sesaat. Harapannya, saya menjadi lebih tahu, apa kiranya yang terjadi saat sesuatu itu hilang. Karena biasanya, yang namanya manusia, baru mulai menyadari hakikat sesuatu saat sesuatu itu sirna.

Dan sayapun sadar bahwa menulis menjadi sesuatu yang penting dalam hidup saya kini. Seminggu (lebih) stop menulis menjadi momen dimana saya dibuat tak berdaya dengan segala informasi yang berlalu lalang. Mengharuskan saya secara tidak langsung untuk menelan saja informasi tersebut tanpa ada hasrat tuk merespon yang biasanya dilakukan dengan cara menulis. Padahal belakangan ini banyak peristiwa dan fenomena yang perlu dikomentari.

Menulis juga menjadi alat bagi diri saya pribadi untuk berbagi ide yang mungkin bermanfaat. Cerdas bersama dengan berbagai komentar dan masukan yang berharga. Tak melulu soal banyaknya pengunjung yang membaca tapi lebih dari itu, semoga tulisan saya bermanfaat dan memberikan inspirasi, setidaknya bagi diri saya yang perlu diberi nasihat oleh dirinya sendiri agar menjadi lebih baik.

Maka kini menulis jadi semacam terapi, untuk saling menasihati dan memberikan inspirasi. Karena menulis adalah respon saat Allah memerintahkan kita untuk membaca.


Kamis, 04 April 2013

Harapan Di Atas Harapan

Selalu ada kesempatan tuk berharap. Karena hanya lewat harapan, tiap orang memiliki kesempatan mengais mimpi yang seringkali timbul dalam angan. Seperti saat seorang pengamen jalanan yang bermimpi menjadi seorang penyanyi profesional. Selalu ada harap ditiap usahanya, bahwa suatu saat bisa saja nasib baik berpihak padanya.

Hingga pengalamannya naik-turun angkot, bus kota, dan kereta tidak sia-sia karena tiap kesempatan mengamen adalah ajang unjuk gigi penampilan dan performanya di depan khalayak penumpang. Sampai suatu saat ajang pencarian bakat menjadi titik balik dalam hidupnya dan memang harapan kan selalu ada. Ia mendapat kemenangan berkat hasil usaha dan tentunya kegigihan dalam berharap.

Tapi memang, harapan dan kenyataan tak selalu berbanding lurus. Kadang kala semuanya berjalan mulus hingga tiap harapan yang terselip dalam mimpi dan doa berbuah manis, harapan itu terwujud. Namun tak sedikit pula yang harus merelakan dan mengikhlaskan diri saat harap yang diinginkan tak terwujud sempurna dalam kenyataan. Ternyata tiap usaha, tiap peluh yang keluar dalam usahanya menggapi mimpi tak tergapai indah.

Sebagian orang ada yang merelakan mimpinya pergi melayang, menyerah pada kondisi yang tak memihak dan menganggapnya sebagai nasib buruk. Harapannya putus, seolah tak tahu lagi bahwa terbentang banyak harap di tiap kesempatan yang datang. Lain hal dengan sebagian yang lain, dimana mereka menginsyafi bahwa selalu ada harap di tiap kondisi.

Karena harapan kan selalu ada, karena harapan tak mengenal kata menyerah. Harapan tertinggi yang sempurna atas segala jerih payah yang selama ini tak kunjung menuai hasil. Jika memang satu harap tak terwujud, masih ada harap yang lain, jika belum juga, harap itu masih ada, terus berharap sampai tak terhitung jumlahnya. Hingga nantinya, konsistensi berjuang dalam tiap harapan mencapai titik tertinggi, penilaian yang sempurna dari Tuhan semesta alam. Harapan di atas harapan.