Sunday 9 December 2012

Petamburan : antara FPI, Debt Collector, dan Para Jawara


Saya tidak ingat persis kapan pastinya saya mulai tinggal di petamburan Jakarta pusat, rumah almarhumah nenek. Sepengetahuan saya, sejak bapak beberapa kali bolak-balik Bekasi-Petamburan untuk mengajar Olin (anak sepupu saya alias keponakan saya) dalam persiapannya menghadapi UN SD yang tinggal dua bulan lagi. Olin itu unik, gak pernah belajar, tapi nilai ulangannya bagus-bagus (baca:standar), entah dia nyontek atau emang jenius. Tapi memang setiap diberikan soal-soal matematika, dia selalu pusing dan ujung-ujungnya bapak juga yang menyelesaikan. halah.

Akhirnya sayapun jadi sering menginap di petamburan sambil menemani bapak. Karena sering menginap dan merasakan bagaimana enaknya rumah yang dekat dengan kantor (cuma 10 menit. wehehe), akhirnya diputuskanlah bahwa saya akan tinggal di petamburan kalau hari kerja dan kembali ke bekasi tiap week end. horay, hemat ongkos, dan gak capek pula. hehe.

Petamburan itu nama kelurahan di kecamatan Tanah Abang, daerah yang dikenal dengan pusat grosirnya. Dari pasar Tanah Abang ke rumah nenekpun tergolong dekat, cuma berjalan kaki sekitar 2 kilometer, itupun kalau lagi gak males, karena biasanya orang-orang ingin yang praktis dan nyaman, maka tersedialah tukang-tukang ojek dan bajaj yang siap mengantar.

Petamburan terletak persis di sebelah bantaran sungai ciliwung. Daerah yang memanjang dari depan museum tekstil jakarta sampai pintu air. Permukimannya padat, tak teratur dan tidak rapi lah pokoknya. Jalan-jalannya kecil dan sulit dilewati kendaraan, maka tak heran karena daerah resapan air yang nyaris tidak ada membuat banjir jadi sesuatu yang akrab disana. Tapi karena letaknya yang strategis, dekat dengan Jalan protokol (sudirman-thamrin) dan pusat grosir terbesar se-asia tenggara, maka penduduknya pun enggan pindah dari sana, walau kerap kali harus merasakan kiriman banjir dari bogor.

Petamburan itu tempatnya para jawara (kalau tidak mau dibilang tempatnya para preman). Jadi jangan heran kalau debt collector pun enggan datang kesana. Banyak debt collector yang memiliki nasib tak mengenakkan ketika menagih ke daerah ini, entah diteriaki maling dan jadi bulan-bulanan warga, atau bernasib lebih baik karena berhasil kabur dari kejaran dan amukan warga. Tapi terkadang ada juga debt collector yang beruntung, berhasil nagih dan keluar dengan selamat, mungkin itu cuma satu diantara puluhan debt collector yang terpilih karena sering sedekah dan berbuat baik. hehe. oh iya, karena daerah tempat para jawara, prosentase pencurian motor di daerah ini tergolong rendah, coba saja parkir motor di depan rumah semalaman, pagi harinya motor kita dijamin masih utuh, mungkin orang-orang akan berpikir puluhan kali kalau mau macam-macam ditempat ini, salah-salah nyawanya bisa lewat karena dikeroyok warga.

Di tempat ini pun terdapat basis dari salah satu ormas Islam yang kini sering jadi sorotan. FPI. Disini, FPI jadi semacam buffer yang menyeimbangkan potensi fasad warga petamburan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Tengok saja sebagian simpatisannya yang kalau diperhatikan jauh dari nilai-nilai Islam, Muka sangar dan serem, badan tatoan, dan sholat pun jarang-jarang. Tapi saat isu-isu sentimen negatif tentang Islam merebak, mereka paling depan membela. Istilahnya, gw emang jarang sholat, tapi klo nabi dan agama gw dihina, tunggu dulu, hadepin gw klo berani. Wuih.. luar biasa.

Sudah hampir setengah tahun saya tinggal disini dan selalu ada fenomena unik yang terekam pandang dan tersimpan dalam benak. Seperti saat saya mengetahui bahwa tiap selasa dan kamis, selalu ada bazar yang menutupi jalan utama menuju petamburan, dan itu sangat mengganggu karena saya harus memutar jauh kalau mau pulang..Argh.. Bazar itu menjual beragam barang dagangan dari makanan, pakaian, alat-alat rumah tangga dan berbagai macam benda yang gak dijual bebas di pasaran (eh ini ciyus loh..). Atau ketika saya mengetahui bahwa hingga kini telah puluhan anak muda yang mati karena narkoba saking sulitnya tempat itu terjamah tangan aparat..duh.

Allahu'alam.

No comments:

Post a Comment