Monday 28 January 2013

Masjid-masjid di sini

Dulu, 20 tahun yang lampau, mesjid bagi saya adalah arena bermain tempat dimana bebas berlari sepuas-puasnya. Tentunya dikala masjid masih kosong dan sholat belum didirikan, karena berlarian dan berteriak ditengah jamaah yang sedang sholat, siap-siap saja menerima jeweran dari Datuk penjaga masjid yang garangnya minta ampun dan ditakuti bocah-bocah. Ah tapi saya tidak pernah kapok, jeweran tak sebanding dengan keasyikan berlari dan bermain di dalam lapangnya masjid.

Itu dulu, kala saya tak tahu apa makna berkumpulnya manusia dengan beragam penampilan dalam sebuah barisan. Sekarang, paling tidak saya mengetahui bahwa berbarisnya mereka bukannya tanpa maksud. Ada ketundukan disana, kesetaraan, dan kekompakan. Tua-Muda, Kaya-Miskin, Ganteng-Jelek (eh..), semuanya berharap untuk satu tujuan, keridhoanNya dan keberkahan dariNya.

Lain daripada itu, Masjid adalah tempat yang paling homy bagi saya. Menerima dengan tangan terbuka tiap muslim yang ingin kembali padaNya, bahkan lebih dari itu, menerima siapa saja yang membutuhkan tempat bernaung dan berlindung. Momen ini terlihat jelas jika bulan Ramadhan datang. Tiap-tiap masjid biasanya mengadakan ifthor berjamaah untuk shoimin (orang yang berpuasa) yang ingin berbuka. Sepertinya tak pernah sekalipun saya lihat ada registrasi siapa-siapa saja yang ingin berbuka disana, membayar sekian dulu baru bisa ikut berbuka. Ah tidak kawan, Islam yang rahmatan lil 'Alamin terlihat jelas saat itu, siapa saja bisa ikut berbuka, diterima dengan senyuman dan hangatnya persahabatan.

Atau ketika saya terlampau larut untuk pulang, kendaraan tak lagi ada, dan pulsa di hape pun nihil. Daerah yang asing dan nampak jauh dari orang-orang yang saya kenal. Ah, yasudahlah, mari kita cari masjid. Syarat mencari mesjid di negeri ini cukup mudah, cukup berjalan beberapa langkah ke sebuah perkampungan dan permukiman, maka anda dengan segera akan melihat sebuah bangunan dengan atap berkubah berlambang bintang bulan, Saya loncati pagar dan coba membuka pintu masjid, ternyata dikunci, tak apa masih ada halaman masjid berlantai putih. Sampai saya tertidur lelah hingga fajar menjelang, dan suara muadzin membangunkan saya.

Bersyukurnya lahir di negeri ini, terlepas dari banyaknya persoalan yang membelitnya, karena masjidnya banyak dan begitu menjamur. Tapi mungkin sekarang, masjid sekedar pelengkap eksistensi muslim di suatu daerah, ia tak lebih dari sarana berkumpulnya masyarakat dalam parade keagamaan. Padahal dulu, di zaman rasul, masjid memiliki fungsi yang sentral dan strategis. Tempat dimana akhlaq dibangun dan ilmu disampaikan. Hingga Rasul pernah bersabda, "aku akan membakar rumah orang muslim yang tidak berangkat sholat berjamaah", walau hal itu tidak pernah terwujud karena tiap muslim ketika itu selalu sholat berjamaah, bahkan seorang munafik sekalipun.

Begitulah, masjid disini dengan berbagai problematikanya. Masjid yang menjadi kebanggaan tapi tak pernah ada yang mau mengisinya dengan padatnya sholat berjamaah. Padahal di dua sholat, saat Shubuh dan Isya, ada pertanda dan seleksi mana muslim yang mukmin dan mana yang munafik. Bahkan Sholat subuh berjamaah menjadi tolok ukur kebangkitan Islam, dimana Islam akan bangkit dan berjaya kembali saat jamaah Sholat Subuh menyamai jamaah sholat Jum'at.

'Rabbij'alni muqimash-shalati wa min dzurriyati, rabbana wa taqabbal du'a'.
 

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami & anak cucu kami orang-orang yg tetap mendirikan sholat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doa kami.'

 foto : http://www.csrc.or.id/foto_berita/89masjid.jpg

No comments:

Post a Comment