Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

Tuesday, 16 April 2013

#Khamr : Perihal Tweet Ulil Semalam

Semalam ada kicauan menarik dari salah seorang tweeps di twitterland. Rangkaian kultwitnya ditanggapi beragam dari followernya yang mayoritas merasa 'kegerahan' dengan berbagai opininya, kali ini tentang #miras. Tak banyak tweet beliau yang saya baca, hanya sebagian saja dan itu sudah membuat jidat saya mengkerut, tak heran, alur berpikir khas "sepilis" (sekularisme, pluralisme, liberalisme). Beberapa opininya coba saya tanggapi di tulisan kali ini.

Yang pertama mengenai regulasi miras, menurutnya dalam hal ini kita (baca: masyarakat) harus melepaskan diri dari soal pilihan moral, maka saat umat islam percaya miras haram, itu pilihan moral mereka. Jadi saat membicarakan regulasi miras, maka isu utamanya adalah public safety, bukan urusan halal-haram. Hm.. membaca tweet beliau ini, kok saya menjadi tersenyum ya. Ada beberapa point menarik dari pernyataan beliau ini.

Pertama mengenai apa itu sebenarnya halal haram dan apa maksud beliau tentang 'pilihan moral'. Halal haram itu masuk dalam kategori rule, peraturan, syariah, jalan yang harus ditempuh, dipatuhi dan tidak sekedar simbol moral-immoral belaka. Karena halal itu adalah sesuatu yang boleh dilakukan, dan haram adalah hal yang dilarang untuk dilakukan. Definisi yang beririsan dengan definisi regulasi yang hakikatnya sama dengan apa yang beliau maksudkan, yaitu sama-sama peraturan yang harus dipatuhi. Jadi ada semacam kerancuan berpikir saat beliau memposisikan halal-haram diluar definisi regulasi.

Kedua mengenai term 'mereka' yang beliau tujukan kepada umat muslim. Sebuah statement yang secara tidak langsung menegaskan bahwa beliau berada di posisi outgroup. Tidak masuk bagian dari umat islam, dan tidak ikut-ikutan dengan pilihan halal-haram umat islam. Sebuah pernyataan yang 'wow' yang menyadarkan saya bahwa tak heran beliau begitu mudahnya membuat hal-hal kontroversial karena memang tak ada beban sebagai seorang ingroup, umat islam.

Tweet kedua yang saya cermati adalah mengenai turunnya ayat Alquran yang mengatur tentang khamr. Dalam Alquran memang Allah tidak serta merta melarang pengharaman Khamr, akan tetapi dilakukan secara perlahan satu persatu. Dari pelarangan menjauhi shalat saat mabuk, sampai pengharaman mutlak untuk dikonsumsi.

Yang menarik adalah cara pandang beliau yang menganggap bahwa pelarangan khamr yang perlahan hanya terjadi dalam konteks pertikaian sosial seperti yang tersirat dalam surah Al Maidah 90-91. Jadi kalau tidak menimbulkan pertikaian sosial, khamr boleh-boleh saja dikonsumsi, dan menariknya beliau mengambil contoh dari barat sana saat khamr ternyata tidak menghalangi kemajuan suatu bangsa. Karena banyak bangsa-bangsa yang melegalisasi khamr dan membudayakannya, lebih maju dari berbagai aspek.

Duh.. kok saya semakin tersenyum membaca jalan berpikir beliau ya. Pertama, pengharaman khamr perlahan mengandung hikmah bahwa yang namanya dakwah memang harus dilakukan perlahan, tidak langsung diharamkan. Yang ada jika itu dilakukan, dakwah malah tak berhasil dan orang-orang tersebut terlanjur kabur.

Kedua, mengenai pertikaian sosial yang disebabkan oleh khamr. Memang benar bahwa yang namanya khamr bisa memancing emosi dan perkelahian antar kelompok, karena akal sedang kehilangan kendalinya. Tapi itu tidak serta merta menjadi sebuah indikasi bahwa negara yang melegalisasi dan membudayakan miras dimana disana tidak terjadi konflik sosial dianggap lebih maju dan membuat pengharaman atas khamr menjadi hilang. Karena tak ada korelasinya antara budaya miras, penghalalan khamr, dengan kemajuan suatu bangsa. Duh.. cara berpikir yang aneh.

Lalu tweet lainnya mengenai Alquran dan Hadits yang tidak mengatur sanksi mengenai peminum miras, serta beberapa orang sahabat yang menjadi peminum khamr sebelum masuk islam. Seolah-olah karena tidak adanya sanksi dan budaya sebagian sahabat (sebelum islam datang) sebagai peminum khamr membuat pemakluman bagi perkara keharamannya. Pernyataan yang seakan menjadi pembenaran khamr.

Tapi perlu kita ingat,walaupun sebagian sahabat dulunya peminum khamr, tapi sejak turunnya wahyu yang melarangnya, serta merta para sahabat langsung meninggalkannya. Bahkan menurut sebagian riwayat, jalan-jalan di kota madinah penuh dengan genangan khamr yang dibuang. Selain itu, walaupun tidak ada sanksi tertulis dalam Al Quran dan Sunnnah tentang sanksi peminum khamr, tapi di zaman sahabat sanksi tentang meminum khamr telah diatur.

Contohnya saat Umar menerapkan hukuman cambuk bagi anaknya yang meminum Khamr. Jadi meskipun tidak tertulis secara eksplisit dalam Quran dan Sunnah, para sahabat telah berijtihad dalam menentukan sanksi bagi peminum khamr. Karena para sahabat adalah sebaik-baik Ulama sepeninggal Rasul, karena mereka paling memahami Quran dan Sunnah. Akan sangat sulit menyatukan pandangan jika si pembuat tweet tidak mengakui ijtihad para sahabat. gak bakal ketemu ujungnya.

Tapi memang khamr tidak dilegalkan di dunia, tapi di surga sana. Karena di surga sana, khamr jadi minuman yang halal dan disajikan bagi para penghuni surga. Mungkin itu sebabnya mereka, sepilis-sepilis itu, menghalalkan khamr, karena bisa jadi dunia bagaikan surga bagi mereka. Jadi gak usah heran kalau kelakuan mereka seperti itu.

Monday, 15 April 2013

Mari Menulis Lagi..!

Setelah seminggu berlalu (lebih kayaknya), sayapun menyadari bahwa menulis membangun konstruksi berpikir dari lesatan ide serta opini yang ada di kepala. Hal-hal semacam peristiwa, fenomena dan sebungkus informasi yang muncul menjadi stimulus yang asyik tuk diolah. Maka saat aktivitas menulis itu berhenti, ada semacam stagnansi dari sebuah proses perbaikan diri, dan itu sangat mengganggu.

Awalnya saya sekedar ingin melihat perbedaan antara menulis dengan berhenti menulis. Aktivitas yang biasanya dilakukan dibuat hilang untuk sesaat. Harapannya, saya menjadi lebih tahu, apa kiranya yang terjadi saat sesuatu itu hilang. Karena biasanya, yang namanya manusia, baru mulai menyadari hakikat sesuatu saat sesuatu itu sirna.

Dan sayapun sadar bahwa menulis menjadi sesuatu yang penting dalam hidup saya kini. Seminggu (lebih) stop menulis menjadi momen dimana saya dibuat tak berdaya dengan segala informasi yang berlalu lalang. Mengharuskan saya secara tidak langsung untuk menelan saja informasi tersebut tanpa ada hasrat tuk merespon yang biasanya dilakukan dengan cara menulis. Padahal belakangan ini banyak peristiwa dan fenomena yang perlu dikomentari.

Menulis juga menjadi alat bagi diri saya pribadi untuk berbagi ide yang mungkin bermanfaat. Cerdas bersama dengan berbagai komentar dan masukan yang berharga. Tak melulu soal banyaknya pengunjung yang membaca tapi lebih dari itu, semoga tulisan saya bermanfaat dan memberikan inspirasi, setidaknya bagi diri saya yang perlu diberi nasihat oleh dirinya sendiri agar menjadi lebih baik.

Maka kini menulis jadi semacam terapi, untuk saling menasihati dan memberikan inspirasi. Karena menulis adalah respon saat Allah memerintahkan kita untuk membaca.


Thursday, 4 April 2013

Harapan Di Atas Harapan

Selalu ada kesempatan tuk berharap. Karena hanya lewat harapan, tiap orang memiliki kesempatan mengais mimpi yang seringkali timbul dalam angan. Seperti saat seorang pengamen jalanan yang bermimpi menjadi seorang penyanyi profesional. Selalu ada harap ditiap usahanya, bahwa suatu saat bisa saja nasib baik berpihak padanya.

Hingga pengalamannya naik-turun angkot, bus kota, dan kereta tidak sia-sia karena tiap kesempatan mengamen adalah ajang unjuk gigi penampilan dan performanya di depan khalayak penumpang. Sampai suatu saat ajang pencarian bakat menjadi titik balik dalam hidupnya dan memang harapan kan selalu ada. Ia mendapat kemenangan berkat hasil usaha dan tentunya kegigihan dalam berharap.

Tapi memang, harapan dan kenyataan tak selalu berbanding lurus. Kadang kala semuanya berjalan mulus hingga tiap harapan yang terselip dalam mimpi dan doa berbuah manis, harapan itu terwujud. Namun tak sedikit pula yang harus merelakan dan mengikhlaskan diri saat harap yang diinginkan tak terwujud sempurna dalam kenyataan. Ternyata tiap usaha, tiap peluh yang keluar dalam usahanya menggapi mimpi tak tergapai indah.

Sebagian orang ada yang merelakan mimpinya pergi melayang, menyerah pada kondisi yang tak memihak dan menganggapnya sebagai nasib buruk. Harapannya putus, seolah tak tahu lagi bahwa terbentang banyak harap di tiap kesempatan yang datang. Lain hal dengan sebagian yang lain, dimana mereka menginsyafi bahwa selalu ada harap di tiap kondisi.

Karena harapan kan selalu ada, karena harapan tak mengenal kata menyerah. Harapan tertinggi yang sempurna atas segala jerih payah yang selama ini tak kunjung menuai hasil. Jika memang satu harap tak terwujud, masih ada harap yang lain, jika belum juga, harap itu masih ada, terus berharap sampai tak terhitung jumlahnya. Hingga nantinya, konsistensi berjuang dalam tiap harapan mencapai titik tertinggi, penilaian yang sempurna dari Tuhan semesta alam. Harapan di atas harapan.


Wednesday, 3 April 2013

Trotoar Jalan



Sesekali mengarahkan pandang ke trotoar jalan mungkin saja memberi perspektif berbeda pada diri kita dalam melihat dunia. Tak melulu soal siapa dan bagaimana seseorang berpacu di keramaian jalan raya karena ada kalanya melambat berjalan di sebuah trotoar menjadi sesuatu yang menyenangkan tuk dilakukan.

Trotoar jalan kini memiliki banyak fungsi. Yang awalnya digunakan para pejalan kaki kini beralih peran menjadi tempat berjualan para pedagang, tempat berkumpulnya anak-anak jalanan, dan sesekali menjadi jalur lintasan motor saat kemacetan muncul di sepanjang jalan.

Tak mengapa jika kini fungsi utama trotoar lambat laun teralihkan, karena memang hanya trotoar jalan yang menerima mereka dengan kesediaan hati sepenuhnya. Dikala jaminan berusaha dan berniaga tak lagi jelas datangnya, merekapun mengaisnya di daerah tempat orang-orang memperhatikan mereka, di tempat orang-orang berlalu lalang. Dikala hangatnya keluarga dan rumah tempat bernaung tak lagi ada, trotoar jalan memberikan tempat bagi anak-anak jalanan menunjukkan keberadaan mereka. Di saat kemacetan parah mulai muncul di sepanjang jalan, trotoar pun menjadi alternative para pengendara motor yang frustasi dengan kondisi jalan yang semrawut.

Mungkin bagi beberapa orang mereka-mereka ini hanya mengganggu para pejalan kaki. Yang semestinya mendapatkan hak untuk dapat menikmati kenyamanan berjalan kaki. Tapi tak dapat dipungkiri saat berjalan kaki dan melambatkan diri seorang pejalan kaki dapat melihat dengan jernih kondisi yang ada disekitarnya. Mencoba memberi makna bahwa ternyata ada hal-hal terpinggirkan yang tak dapat ditangkap kala melajukan kendaraan di jalan raya yang serba cepat.

Jadi tak selamanya bersungut-sungut itu tepat, kala trotoar makin ramai dengan pedangang, anak-anak jalanan, atau bahkan pengendara motor yang nekat. Karena ternyata negeri ini belum dapat memberikan tempat bagi mereka hingga terpinggirkan sampai di tepi trotoar jalan.

Saturday, 30 March 2013

Wisuda Akbar di GBK dan KLB di Bali

Hari ini di dua tempat berbeda, berlangsung dua acara yang berhasil menyedot banyak perhatian. Acara yang pertama dilaksanakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sebuah prosesi akhir dari program one day one ayat yang dicanangkan oleh ustadz Yusuf Mansur Hafidzahullah. Sedangkan acara kedua adalah kongres luar biasa partai demokrat yang berlangsung di Bali. Dimana dengar-dengar si bapak presiden yang terpilih sebagai ketua umum.

Untuk acara di stadion GBK, saya turut serta langsung dan tak henti-hentinya bersyukur dapat mengikuti acara yang digagas oleh Ustadz Yusuf Mansur. Beliau berhasil mempromosikan dan mengajak ribuan masyarakat muslim dari seluruh Indonesia untuk turut serta dalam acara Wisuda Akbar hafalan Qur'an yang mungkin agak aneh bagi beberapa orang, karena biasanya wisuda itu dilakukan oleh orang yang lulus tahapan akademik di jenjang universitas, tapi kini menghafalkan Qur'an dibuat sebergengsi mungkin, seelegan dan sama derajatnya dengan orang kuliah, sebuah rancangan yang di setting sedemikian apik oleh Ustadz Yusuf.

Dengan mengundang beberapa ulama-ulama dari beberapa negara di timur tengah seperti imam masjid Al Haramain Syeikh Sa'ad Al Ghamidi, imam masjid Quba Syeikh Muhammad Kholil, Ketua persatuan tahfidz internasional, Syeikh Ali Basfar, dan beberapa ulama lainnya, membuat acara ini kian dinanti dan diharapkan membawa keberkahan. Dan seperti yang sudah diduga, pembacaan beberapa ayat Quran dari ulama-ulama itu membawa kesan teduh, menenangkan, dan keharuan, ah betapa ayat-ayat suciNya membawa efek yang luar biasa saat dibacakan oleh orang-orang yang mulia. Alam pun seolah ikut larut dalam acara ini, sedari awal acara ini dimulai, kamipun, para peserta melihat betapa awan-awan turut menaungi gelora bung karno, hingga teriknya mentari tak terlalu menyengat. Masya Allah.

Seandainya, seandainya bapak presiden tercinta turut hadir, mungkin saja keberkahan dan rahmatNya akan turun tidak hanya kepada para peserta wisuda akbar, tapi juga kepada bapak presiden yang nampaknya butuh sebuah mukjizat tuk mengurai benang kusut negeri ini. Tapi ya apa mau dikata, bapak presiden nampak lebih sibuk mengurus 'kapal' nya yang lain dibandingkan menambal lubang di 'kapal' utamanya yang nyaris tenggelam.

Dan sayapun mendengar bahwa bapak terpilih menjadi nakhkoda baru tuk menerjang badai dari 'kapal' yang lain. Belum selesai di kapal yang utama, ternyata bapak telah 'terpilih' menjadi nakhkoda di kapal yang lain. Semoga sukses pak, karena masing-masing orang punya pertimbangan tersendiri yang dianggap terbaik menurut mereka. Toh negara ini sudah terbiasa dengan mode auto pilot, hingga saya yakin, kapal yang utama bisa tetap berjalan, walaupun bapak tidak memegang kendali.

Sepertinya ada hikmah, saat dua acara itu berlangsung di tempat yang berbeda, namun di waktu yang bersamaan. Mungkin saja kompensasi kesibukan bapak presiden di kapal yang lain dilunasi dengan tuntas oleh ustadz Yusuf Mansur untuk memberikan keberkahan dan kebaikan bagi kapal yang utama, walau mungkin cuma sehari dan tak lama.

Semoga Allah memberkahi negeri ini atas sebab memuliakan ayat-ayat suciNya.
amin.

Friday, 29 March 2013

Ular Tangga Kehidupan

Ada yang masih ingat permainan ular tangga? sebuah permainan dadu yang dimainkan oleh 2 orang atau lebih di sebuah papan bergambar ular dan tangga. Permainan dimulai dari kotak nomor 1 bertuliskan kata 'start' hingga berakhir di kotak nomor 100 yang berarti finish atau selesai. Lalu gambar tangga dan ular fungsinya apa? tangga dan ular adalah simbol bagi si pemain untuk naik ataupun turun dari kotak yang ditempatinya berdasarkan undian dadu. Jika seorang pemain berhenti di kotak yang terdapat tangganya, berarti 'orang-orang'-an si pemain naik tangga hingga kota di atasnya, dan sebaliknya kalau berhenti di kotak yang terdapat ularnya, berarti dia turun hingga kotak di bawahnya.

Permainan ini praktis tidak membutuhkan skill yang mumpuni, karena untuk memenangkan permainan hingga finish di kotak nomor 100 hanya ditentukan oleh nomor dadu yang dilemparkan keluar dari gelas kecil. Semakin besar nomor dadu yang keluar, semakin banyak langkah 'orang-orang'-an si pemain menuju garis finish. Selain itu, faktor keberuntungan juga menjadi salah satu aspek yang berperan besar dalam permainan, semakin sering menaiki tangga di dalam papan, semakin cepat pula menuju kotak finish kemenangan nomor 100. Sebaliknya, kalau terlalu sering berhenti di kotak yang terdapat gambar ular, otomatis semakin jauh dari garis finish karena harus turun ke kotak nomor yang lebih rendah dibawahnya.

Sekedar mengisi waktu luang dan bersantai sejenak dengan bermain ular tangga bersama teman dan orang terdekat memang cukup menyenangkan. Setidaknya menguji sejauh mana keberuntungan dan strategi kita dalam mengocok dadu berbuah kemenangan dalam permainan. Jika kita cukup beruntung, kita akan dengan mudahnya mendapatkan nomor dadu yang besar hingga dapat melangkah lebih banyak, ditambah lagi jika kita berhenti di kotak tangga, tentunya akan semakin cepat bagi kita mencapai finish dan kemenangan.

Tapi yang namanya permainan, kita tak selalu berada di atas, kadangkala harus jatuh dan berakhir dengan kekalahan. Beberapa orang ada yang bertekad menyelesaikan hingga garis finish walau sudah pasti kalah karena berada di urutan paling buncit, paling terakhir mencapai finish. Dan beberapa orang lainnya justru berhenti ditengah jalan, menyerah dan memutuskan untuk tidak melanjutkan permainan.

Serupa dengan ular tangga, kehidupan tak jauh berbeda dengan permainan ini. Kadangkala nasib baik menghampiri kita hingga mengantarkan kita menuju tujuan dan cita-cita yang selama ini diimpikan, namun sebaliknya kadangkala nasib buruk itu datang dan membuat kita jatuh sejadi-jadinya, kalah sehina-hinanya. Ada orang-orang yang konsisten melangkah sampai titik finish walau dengan berdarah-darah penuh penderitaan, dan ada pula yang berhenti ditengah jalan dan mengaku kalah tak ingin melanjutkan kehidupan.

Begitulah memang ular tangga versi manusia, selalu ada kompetisi, dan selalu ada aturan yang mengekang. Akan sangat berbeda jika ular tangga diperankan sendirian oleh seseorang dan ia menjadi pemain tunggal di dalam permainan. Tentunya akan lebih leluasa dan tak ada aturan yang membatasi. Mau melangkah berapapun tak ada yang protes dan mau naik turun kotak sebanyak apapun tak jadi masalah, karena si orang menjadi pemain tunggal.

Sama halnya dengan Allah Ta'ala, si pemain tunggal dalam kehidupan, tak ada lawan dan tiada banding. Jika Ia telah berkata 'jadi' maka jadilah. Jika Ia memutuskan sesuatu maka terwujudlah. Maka tak heran akan sangat menyenangkan jika kita menjadi pion dan 'orang-orang'-an yang dimainkan olehnya, jika Ia senang kepada kita, betapa hidup ini akan penuh keberkahan dan ketenangan, karena sudah pasti kemenangan akan kita raih.

Sekarang tinggal kita yang memutuskan, berupaya ikut kompetisi ular tangga kehidupan bersama manusia lain tanpa ada andil Allah di dalamnya, atau berserah diri pada aturanNya dan melerakan hidup tuk 'dimainkan' olehNya. 

Karena tak ada pemain dan aturan yang dapat membatasiNya.

Thursday, 28 March 2013

Melindungi Perempuan

Semakin menuanya zaman membuat saya berpikir betapa kasihannya orang tua yang memiliki anak perempuan. Bukan masalah gender, bukan, tapi lebih karena sulitnya melindungi si belahan jiwa dari tangan-tangan nakal yang ingin mengganggunya. Bahkan mereka yang dianggap dapat melindungi para perempuan juga tak selalu bisa diharapkan.

Padahal secara jelas dan sistematis, perlindungan dan peng-agungan terhadap perempuan sudah begitu tinggi di negara ini dan negara-negara lain. Entah berapa banyak fasilitas yang dikhususkan untuk perempuan, dari kereta khusus perempuan, gerbong kereta khusus perempuan, dan lain sebagainya. Tapi entah mengapa kekerasan dan pelecehan masih terjadi pada perempuan.

Seperti saat Jyoti, perempuan muda berusia 23 tahun, menjadi korban pemerkosaan dari 5 orang pemabuk di sebuah distrik di India. Padahal saat itu malam belum terlalu larut dan Jyoti juga pergi bersama temannya. Namun tak disangka orang-orang itu tetap nekat melakukan aksinya. Nampaknya ancaman hukuman dan sanksi berat tak cukup mencegah mereka untuk bertindak biadab. Hingga nasib tragis mengakhiri hidup Jyoti, ia meninggal beberapa pekan setelah kejadian di sebuah rumah sakit di Singapura. Peristiwa ini menyadarkan mata dunia bahwa ancaman terhadap perempuan sewaktu-waktu dapat terjadi.

Maka perlindungan terhadap perempuan tak sekedar dengan cara yang terkesan pasif seperti menyediakan fasilitas yang dapat menjaga mereka. Tapi lebih dari itu, perlindungan itupun hendaknya dilakukan secara proaktif dengan melibatkan banyak pihak. Dari sisi hukum yang diatur dalam sebuah negara, sayapun sangat mengapresiasi presiden korea yang baru, Park Heu Gyeun yang mengambil langkah preventif dengan cara melarang tiap wanita di korea mengenakan rok mini di ruang publik.

Mungkin ada beberapa feminis yang berpendapat bahwa aturan ini mengekang kebebasan berekspresi seorang wanita, dan mungkin ada yang menganggap bahwa negara terlalu ikut campur terhadap privasi seseorang. Tapi memang kenyataannya dengan mengenakan rok mini, menurut saya pribadi, wanita tersebut secara tidak langsung mengobjekkan dirinya untuk dilihat dan berusaha menarik perhatian orang lain, terlebih bagi pria bejat tak bermoral yang sewaktu-waktu kehilangan akal dan berusaha melecehkan si wanita. Bila aturan pertama tadi kurang melindungi, Park Heu Gyeun mengambil langkah selanjutnya yang boleh jadi membuat para pria bejat itu berpikir ribuan kali untuk melecehkan perempuan, mengebiri mereka yang terbukti melakukan tindak pemerkosaan.

Langkah berani yang dilakukan Gyeun membuat saya berpikir bahwa sebenarnya syariat Islam telah jauh-jauh hari mengenal aturan-aturan itu. Dari urusan menjaga dan menutup aurat, hingga hukuman rajam bagi para pezina. Tapi entah mengapa giliran Islam yang menyuarakan, berbagai tudingan dan sentimen negatif serentak muncul tuk menentang. duh.

Memang benar yang dikatakan Rasul kita tercinta, barang siapa seorang ayah dapat mendidik dan menjaga putrinya dengan baik hingga ia dewasa, niscaya jaminannya surga. Karena memang tak mudah mendidik, melindungi, dan menjaga perempuan di zaman yang makin menua ini.

Wednesday, 27 March 2013

Populer di Mata Penghuni Langit

"Kau lihat Abdullah ? Sedekahnya di sore itu menjadi buah bibir diantara kita. Saat ia menyisihkan setengah gajinya untuk saudara-saudaranya di Rohingya dan Palestina. Padahal aku tahu persis bahwa saat itu ia butuh uang untuk mengobati ibunya yang sakit. ah..Semoga keberkahan selalu tercurah padanya."

"oh ya? kurasa beberapa hari ini Abdullah juga berhasil meraih simpatiNya saat ia sujud bersimpuh di gelapnya malam. Kau lihat betapa tangisannya menarik hatiku tuk menemani, semoga segala hajatnya terpenuhi."

Percakapan dua orang malaikat itupun di dengar oleh malaikat yang lain. Ia penasaran, siapa sebenarnya si Abdullah ini? Iapun turun ke langit dunia berusaha mencari sosok Abdullah yang kini menjadi trending topic diantara penghuni langit. Beberapa saat ia mencari dan akhirnya ia pun menemukan sosok itu. Seseorang yang terlihat mengayuh sepeda di pagi buta menuju tempatnya bekerja.

Nama Abdullah kini begitu populer dikalangan malaikat. Seorang cleaning service di sebuah perusahaan swasta di Jakarta yang tiap hari berjalan menembus dinginnya pagi. Secercah harapan selalu tersemat di hatinya, semoga usahanya di pagi itu berbuah ridho dan keberkahan dariNya. Berharap nafkah terbaik dan halal untuk keluarganya.

Pekerjaannya boleh saja kurang bergengsi, status bisa jadi tak sementereng manajer di perusahaan tempatnya bekerja, dan mungkin di mata manusia, sosoknya hanya dipandang sebelah mata. Tapi tak disangka lelaki paruh baya ini begitu menarik hati seorang malaikat untuk mengenalnya lebih jauh. 

"Assalamualaikum pak, boleh saya bantu?"
"oh ya, silahkan nak"
Tak sengaja, Abdullah berpapasan dengan seorang bapak tua yang membawa sekarung bahan belanjaan dari pasar tuk dijual kembali. Ia pun membantu bapak tua itu dengan senyuman dan wajah bersahabat. Dan tak berapa lama, berita tentang kebaikan Abdullah ini melesat cepat menuju langit. Malaikat ini pun tersenyum. Masya Allah, tak heran, jika ia begitu populer di langit. Assalamualaika ya Abdullah.

--

Boleh jadi tak seorangpun yang memandang kita, dan mungkin saja nama kita tak setenar selebritas yang muncul di televisi. Namun apalah artinya itu semua, popularitas di mata manusia, jika dibandingkan nama kita yang selalu disebut diantara penghuni langit dan menjadi buah bibir diantara para malaikat.

Karena ketenaran di dunia cuma sementara.

Tuesday, 26 March 2013

Anti Mubazir Makanan

Kalau anda penggemar masakan padang seperti saya tentu tak asing lagi dengan fenomena unik yang ada di restoran nasi padang. Fenomena itu terkait dengan porsi nasi yang diberikan oleh si penjual. Jika anda makan di tempat, biasanya anda hanya akan diberikan satu centong nasi dari si uda penjual nasi padang, dan bila anda merasa kurang anda bisa meminta satu centong tambahan lagi kepada si pelayan. Berbeda saat anda membawa pulang nasi padang. Porsi nasinya lebih banyak dibandingkan anda memakan di tempat. Kenapa ya?

Ada beberapa pendapat tentang fenomena ini, ada yang bilang karena menghemat ongkos cuci piring. Jadi tak perlu repot-repot lagi mencuci piring dan menghabiskan jatah sabun. Tapi pendapat ini sepertinya terlalu berlebihan, selain karena proses mencuci piring yang tergolong simple dan nggak ribet, harga sabun cuci piringpun tak semahal itu hingga perlu dihemat-hemat sedemikian rupa. Kesannya orang padang pelit banget. hehe. Sayapun lebih setuju dengan pendapat selanjutnya ini, karena takut makanannya bersisa.

Jadi memang orang-orang kita ini adalah orang-orang yang cenderung sering menyisakan lauk dan nasi di piringnya, padahal nasi dan lauk itu masih layak untuk dimakan. Alasannya bisa berbagai macam, dan yang paling sering adalah karena sudah kenyang, karena nasi dan lauknya kebanyakan. Maka dari itu, untuk menghindari praktek-praktek menyisakan makanan dari para costumer-nya, si uda penjual nasi padang pun mengambil kebijakan untuk memberikan porsi yang sedikit saja ke piring yang disajikan hingga kemungkinan makanan yang bersisa menjadi kecil, toh harganya tetap sama jika menambah nasi ataupun tidak.

Sayapun melihat bahwa budaya yang ditanamkan kepada saya di dalam keluarga juga tak jauh beda dengan si uda penjual nasi padang. Bahwa makanan sekecil dan sesedikit apapun harus dihabiskan, karena salah-salah masuk kategori mubazir, karena mubazir temannya setan. Penekanan nilai yang sampai kini tertanam di benak saya dan adik-adik.

Mubazir tak sekedar ancamannya saja yang keras, tapi mubazir juga mengindikasikan tingkat kesyukuran seseorang terhadap nikmat yang diperolehnya, dalam hal ini makanan. Kalau ia selalu menghabiskan makanan yang disajikan setidaknya ia orang yang mampu mengungkapkan nikmat dengan cara sepatutnya. Sedangkan yang kerap menyisakan dan menyianyiakan makanan bisa jadi kurang bersyukur dengan nikmat makanan yang diperolehnya. Bersyukurlah, niscaya nikmat dariNya akan ditambahkan kepada mereka yang bersyukur.

Tapi memang menyisakan makanan bagi orang-orang kita masih terkesan biasa saja. Padahal jika dikumpulkan makanan sisa itu dari piring-piring mereka, niscaya akan terkumpul satu piring penuh nasi dan lauk, yang sangat berharga bagi mereka yang membutuhkan. Saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Ditambah lagi kita-kita ini kurang menyadari bahwa yang namanya keberkahan makanan tak ada satupun yang tahu dimana letaknya, apakah di awal kita menyantap makanan, ataukah di butir terakhir nasi yang ada di piring kita. Sehingga nantinya makanan yang berkah berbuah manfaat bagi kita, energi dan nutrisi yang bertambah dan tak berakibat buruk bagi kita seperti tekanan darah tinggi, kolesterol, jantung, dan berbagai penyakit lainnya.


Saturday, 23 March 2013

The Interview



Kalau saja di zaman mereka ada semacam talk show dari hati ke hati seperti Kick Andy, Just Alvin, atau Mata Najwa, tentunya tak ada rasa penasaran dan tanda tanya tentang hidup mereka. Tapi sayangnya zaman dulu tak ada interview mendalam semacam itu, hingga sayapun bertanya-tanya tentang mereka.

Seperti para pemuda Ashabul Kahfi. Bagaimana kiranya perasaan mereka saat lari dari kaumnya? Padahal mereka cuma sekelompok pemuda yang ingin menyelamatkan akidahnya. Bagaimana caranya mereguk keyakinan hingga bertekad untuk lari dan bersembunyi dalam gua? Disaat para pemuda zaman sekarang makin jauh dari semangat keislaman. Ah saya penasaran.

Lalu bagaimana dengan Nabi Khidir, benarkah beliau berumur ratusan tahun dan masih hidup hingga kini? Apa kiranya yang membuat beliau diberi anugerah berupa usia yang sangat panjang, lalu apa tanggapan beliau melihat kondisi umat ini jika beliau masih hidup sampai sekarang. Kira-kira apa perasaan beliau saat membunuh anak kecil yang disinyalir akan mengajak orang tuanya kepada kekafiran seperti yang diceritakan di surat Al Kahfi? Apakah beliau tak merasakan sesuatu saat membunuh anak itu? Ah saya penasaran.

Seperti Iskandar Zulkarnain, benarkah Alexander Agung itu adalah beliau dalam versi romawi? Lalu bagaimana caranya membuat tembok besar dari logam untuk mencegah Ya’juj dan Ma’juj keluar? Benarkah beliau memiliki tanduk di kepalanya? Karena zulkarnain berarti yang memiliki dua tanduk. Lalu bila dibandingkan dengan Nabi Sulaiman, seper berapanya kah kekayaan beliau dibandingkan sang nabi? Hehe. Benar-benar membuat saya penasaran.

Dan yang paling penting, tentang mereka yang telah pergi ratusan tahun lalu, apa sebenarnya motif Muawiyah saat berperang melawan Ali. Benarkah Cuma sekedar ingin menuntut balas pelaku pembunuhan Utsman? Padahal jelas-jelas setelah beliau menjadi khalifah, anak keturunannya yang meneruskan kekhalifahan. Ah sungguh tak sampai pikiran saya, padahal mereka yang berperang antara Ali dan Muawiyah adalah kaum muslimin, kenapa sampai berperang? Bagaimana kiranya perasaan rasul melihat para sahabatnya saling berperang pasca wafatnya beliau.

Mungkin jawabannya hanya ada di sana, sembari duduk bertelekan permadani di tepi telaga Al Kautsar, meminum airnya yang sangat nikmat. Berbincang hangat bersama beliau-beliau para pendahulu. Bertanya kepada Rasul, para sahabat, dan orang-orang shalih itu, semoga ada kesempatan. Semoga Allah merahmati saya dan kaum muslimin untuk menggapai tempat itu.

Friday, 22 March 2013

Menyemai Bibit Kedermawanan



Suatu saat Rasulullah dikunjungi oleh salah seorang Sahabiah (sahabat dari kaum wanita), Asma Binti Abu Bakar, yang bertanya perihal hartanya. Kehidupan Asma yang merupakan istri dari Zubair Bin Awwam, salah satu sahabat dari 10 orang sahabat yang dijamin masuk surga, adalah Kehidupan yang jauh dari kesenangan dunia. Tak ada harta melimpah, dan makanan-makanan lezat, secukupnya saja dan seringkali kurang. Kondisi yang membuat Asma memberanikan diri untuk bertanya kepada Rasulullah.

“Ya Rasulullah, uang yang ada padaku hanyalah uang yang diberikan suamiku padaku. Tak ada lebih untuk yang lain. Adakah keringanan bagiku untuk hal ini?”
Rasulullah pun menjawab. “Wahai Asma, Berinfaklah atau bersedekahlah & janganlah kamu menahan sebagian hartamu (tidak mau berinfak), atau Allah akan menyempitkan rizkimu, & janganlah kamu bakhil atau Allah akan bakhil terhadapmu.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan memberikan kita sebuah pemahaman bahwa anjuran bersedekah bukan sekedar untuk seseorang yang kelebihan harta, tapi untuk semua orang, tak memandang bagaimana kondisi ekonominya. Entah dia kaya, miskin, biasa saja, tapi jika ia mendapatkan rizqi, maka dianjurkan baginya untuk mengeluarkan sebagiannya di jalan Allah.  

Tapi memang paradigma yang terlanjur ada mengatakan bahwa bersedekah adalah urusan orang-orang kaya, dan orang miskin tak ada kesempatan yang sama. Sedikit banyak hal ini yang mungkin menjadi pembenaran sebagian orang untuk tidak bersedekah. Padahal bukan masalah hartanya yang jadi persoalan, tapi lebih kepada mental pemberi yang perlu dilatih.

Berapa banyak orang-orang yang memiliki kelebihan rizqi justru bakhil dalam mengelola hartanya, dan berapa banyak orang-orang yang kekurangan rizqi justru dermawan walau berinfak seadanya dan tidak banyak. Jadi sebenarnya bukan perkara ada dan tidak ada harta, tapi lebih karena mind set yang masih tertancap kuat bahwa harta adalah miliknya pribadi.

Akan lebih mudah bagi seseorang dalam menyisihkan sebagian hartanya jika ia menyadari bahwa harta yang ada padanya merupakan titipan, tidak sepenuhnya milik pribadi. Rasa kecintaan yang berlebihan terkadang membuat seseorang enggan lepas dari hartanya. Ditumpuk sebanyak-banyaknya hingga melekat dan sulit dipisahkan. Hingga lambat laun melupakan sebuah hakikat bahwa harta yang dipegang dan dimiliki punya masa pakai, sampai ajal menjemput. Karena harta memang tidak dibawa mati, bagaimana harta itu digunakan, itulah yang akan dibawa mati.

Maka sungguh indah jika tiap orang mau memberi, dan tidak sekedar mementingkan dirinya sendiri. Harta akan bergerak ibarat air yang mengalir, ia akan membersihkan, menyejukkan dan memberi manfaat bagi orang banyak. Tidak seperti harta yang ditumpuk bagai air tergenang yang menjadi tempat bersarangnya nyamuk. Yang justru menjadi bibit kerusakan dan tumbuhnya penyakit hati, kesenjangan sosial, dan egoisme.
 

Tuesday, 19 March 2013

Berebut Suara diantara Partai Islam

Butuh waktu lama bagi saya untuk mencerna sikap yang ditampakkan oleh PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) dan PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Menolak keikutsertaan PBB (Partai Bulan Bintang) dalam pemilu. Sikap yang muncul seiring pengajuan banding petinggi PBB terhadap keputusan KPU yang tidak meloloskan mereka sebagai peserta Pemilu 2014. Apa karena bermaksud mendukung kerja KPU dengan menjalankan saja hasil verifikasi kelayakan partai tanpa sibuk dan repot-repot mengurus partai yang mengajukan banding, atau karena suara loyalis partai islam yang makin tergerus membuat PKB dan PPP ketakutan 'jatah' suara mereka menjadi berkurang.

Tapi apapun itu, kekhawatiran terpecahnya suara loyalis partai berbasis keislaman nampak jelas terlihat. Trend yang ada memang menunjukkan bahwa suara partai islam tak pernah beranjak dari dulu, selalu saja dibawah bayang-bayang partai nasionalis macam Demokrat, Golkar, dan PDIP. Ditambah beberapa kasus yang melibatkan petinggi partai Islam membuat kepercayaan publik kembali menurun. Padahal jika dipikir-pikir partai nasionalis pun bisa dikatakan lebih parah dalam urusan kasus korupsi.

Namun publik tak mau susah-susah berpikir kritis untuk hal semacam itu, yang mereka tahu, lebih baik sekalian saja memilih partai nasionalis yang tidak membawa embel-embel agama, daripada memilih partai Islam yang ketahuan cacatnya. Karena wajar saja jika partai nasionalis melakukan kesalahan karena mereka kumpulan manusia yang tak sempurna, tapi tidak dengan partai yang membawa-bawa agama, mereka seharusnya lurus dan tak boleh ada cela, jadi sekali saja berbuat salah, selamanya akan sulit dimaafkan. Duh.. logika yang aneh.

Belajar dari kemenangan partai berbasis keislaman di Mesir dan Turki, idealnya suara yang dibidik tak lagi terpusat pada loyalis partai islam (pemuda, masyarakat muslim konservatif, dan semacamnya) yang mau tidak mau, pasti memilih partai Islam, apapun itu. Karena ternyata peluang suara yang lebih besar terletak di luar kelompok itu, yang seharusnya memilih partai islam karena sebagian besar mereka adalah muslim. Tapi kenyataannya, entah karena kadung tak menyukai partai yang membawa-bawa agama atau karena mereka memiliki pandangan lain terkait fenomena partai islam, suara mereka justru sebagian besar diambil oleh partai-partai nasionalis.

Nampaknya paradigma yang melekat di benak petinggi PKB dan PPP masih sama, meraih dan berebut suara loyalis partai islam tanpa punya keinginan tuk merebut suara mayoritas muslim bahkan non-muslim yang berada diluar sana. Entah karena malas untuk berusaha lebih profesional dan amanah, atau karena sudah merasa nyaman dengan basis masa yang fanatik, membuat mereka cenderung berfokus dalam pencitraan partai tanpa usaha nyata tuk menjadikan partai islam terlihat lebih keren dimata para pemilih. Hingga ketakutan itupun berujung pada penolakan mereka terhadap keikutsertaan PBB, saudara mereka sendiri, dalam pemilu kali ini.

Tapi untungnya PTUN berpendapat lain, PBB dinyatakan lolos verfikasi dan KPU pun menerima putusan tersebut tanpa melakukan banding lagi. Jadi, Selamat kepada PBB, semoga keikutsertaan anda menambah gairah kompetisi, fastabiqul khoirot diantara partai-partai Islam. Dan kepada PKB dan PPP, terima sajalah keputusan PTUN, toh sepertinya keikutsertaan PBB tak sesignifikan itu mempengaruhi suara anda, karena memang suara anda segitu-gitu saja.

Thursday, 14 March 2013

Saat Usia Empat Puluh Tahun

Sebagian orang mengira hidup itu dimulai saat beranjak remaja di usia 17 tahun. Kala fisik sedang prima-primanya, saat romantika dan ketertarikan pada pasangan lawan jenis menjadi sesuatu yang menyenangkan tuk dijalani. Lalu ada sebagian lagi yang berkata bahwa usia puncak seseorang adalah saat ia beranjak menapaki usia 30 tahun. Saat kedewasaan berperan penuh, kala karir dan asmara telah terlihat jelas jalannya.

Tapi sebagian besar berpendapat, dan ini yang paling populer, Life begin in fourty. Hidup dimulai saat usia beranjak empat puluh tahun. Kalau istilah saudara saya, "kalau mau lurus, lurus sekalian. Kalau mau bejat, bejat sekalian". Sebegitu besarnya dampak dan pengaruh masa-masa usia menjelang 40 tahun hingga terkadang perlu sebuah peristiwa ataupun momen yang spektakuler untuk mengalihkan seseorang dari satu jalan keburukan kepada jalan kebaikan.

Seperti peristiwa yang dialami saudara saya ini. Suami dari sepupu saya. Hidupnya jika dideskripsikan adalah hidup yang tak jelas arahnya, tak tahu harus kemana dan berbuat apa. Hidup tak tenang, keluarga yang tak pernah damai, dan rumah yang hanya jadi tempat singgah sementara karena memang tak ada kehangatan dibawah atap rumah yang ditempatinya. Diperparah lagi dengan ibadah yang tak kunjung mengalami perbaikan, menambah beratnya hidup dan peliknya permasalahan yang dialaminya. Kekhawatiran semakin memuncak dikala usianya kini yang berusia 39 tahun, perbaikan belum terlihat sama sekali dari dirinya. Hanya doa yang mampu kami, keluarga panjatkan, semoga hidayah itu cepat datang.

Dan sampailah suatu ketika, sebuah peristiwa yang tak terduga dialami olehnya. Saat dimana nyawa seolah di ujung tanduk dan hampir terenggut. Tubuhnya lemas tak terduga, tak ada tenaga dan nafasnya sesak seolah tak ada lagi oksigen yang dapat dihirup. Kondisi kritis yang hanya mampu dibantu dengan doa-doa dari kami keluarganya, semoga ia mendapatkan kesempatan kedua. Ya, semoga saja.

Sepertinya, doa-doa itupun dijawab olehNya dengan kondisinya yang membaik, sungguh membaik. Masa-masa kritis telah berlalu dan mungkin ini cara Allah menyadarkannya dan menjadi kado tak terlupakan di usianya yang menjelang 40 tahun di bulan April nanti. Kini semuanya berubah, kehidupan rumah tangga tenang dan damai, rizqi pun halal walaupun sedikit yang penting berkah, dan yang paling penting, ibadah semakin membaik.

Semoga kau selalu istiqomah bang..

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".
QS Al Ahqof ayat 15

Monday, 11 March 2013

Antara Ikhtiar dan Hasil usaha

Rabb semesta alam memberikan tools bernama ikhtiar agar manusia menggapai hasil yang diimpikannya. Ikhtiar tersebut terbagi dua, ada yang berupa doa dan ada yang berupa usaha. Keduanya berpadu dan saling melengkapi satu sama lain, masing-masing tak dapat berjalan sendiri-sendiri. Kalaupun ada yang mampu menggapai hasil dengan salah satu jenis ikhtiar saja, dapat dipastikan hasil yang didapatkan belum tentu maksimal. Entah disebut beruntung dengan bermodal doa saja, entah disebut sombong dengan menafikan andil tuhan tanpa bermodal doa dan hanya mengandalkan usaha saja.

Diantara ikhtiar yang diupayakan dan hasil yang diinginkan terdapat sebuah ruang, dimana manusia tak mampu memegang kendali apapun atas apa yang direncanakan dan diusahakannya. Di ruang itulah manusia menyadari bahwa sebaik-baiknya mereka berusaha dan sekeras-kerasnya mereka berdoa ada sebuah kekuatan yang menentukan hasil akhirnya. Maka di ruang inilah manusia bersikap, melapangkan hati atas segala hasil yang nantinya mereka dapatkan, atau merasa was-was dan khawatir atas segala capaian yang mereka harapkan.

Mereka yang melapangkan hati dan berpikir positif atas segala hasil yang nantinya mereka dapatkan, baik itu hasil yang sesuai harapan atau hasil yang buruk, memiliki tingkat kebahagiaan yang berlipat dan ketenangan dalam jumlah maksimum, tak ada rasa sesal karena ia yakin tugas manusia adalah berusaha dan selebihnya serahkan pada yang maha kuasa untuk segala hasilnya.

Sedangkan mereka yang seringkali khawatir akan hasil yang mereka harap-harapkan, selalu diliputi ketidaknyamanan dalam menunggu hasil, mood yang buruk dan kemarahan yang kadang muncul sesekali. Maka tak mengenakkan menunggu dengan kondisi seperti ini, sudah hasilnya belum pasti didapatkan, pikiranpun terbebani dengan rasa was-was yang semakin menjadi.

Maka menunggu di sebuah ruang, antara ikhtiar dan hasil, ibarat duduk manis menunggu nomor antrian. Percuma juga merasa was-was dan khawatir toh nantinya kita akan mendapatkan hasil sesuai nomor antrian. Jadi duduk manis dengan penuh ketenangan sembari membaca dan melakukan hal-hal yang kita sukai merupakan sesuatu yang asyik untuk kita lakukan dalam menunggu nomor antrian. Hingga nantinya apapun hasil dari antrian yang kita tunggu-tunggu, tak membuat kita merasa kecewa karena setidaknya usaha, doa dan keikhlasan hati padaNya jadi sesuatu yang berharga saat kita melangkah menuju ruang antrian, ruang tunggu antara ikhtar dan hasil.

Friday, 8 March 2013

Generasi Anti Galau

Tiap zaman memiliki ceritanya masing-masing yang mungkin tak lagi bisa didapatkan di kemudian hari. Ketika dulu saat dimana usia saya beranjak 5 tahun, dunia hiburan anak-anak tidak kehabisan stock barang yang dapat dijual kepada konsumen mereka, bocah-bocah yang masih lugu dan lucu. Penyanyi-penyanyi seperti Bondan Prakoso, Enno Lerian, Ria Enes & Susan, dan lain sebagainya merupakan pengisi waktu luang dan masa kecil yang pas dipasangkan dengan anak-anak yang hidup dalam dunia keceriaan, kesenangan, riang gembira dan pastinya sesuai dengan masa tumbuh kembangnya.

Banyak yang lupa bahwa masa keemasan seorang anak berada di kisaran usia 0-5 tahun. Saat dimana kemampuan otak anak dalam menyerap informasi sangatlah tinggi. Semua jenis informasi dapat dengan mudah terserap, otak mereka sedang berkembang menuntut adanya asupan gizi berupa kualitas pengetahuan yang berharga. Maka begitu pentingnya peran orang tua di masa ini untuk memastikan bahwa hal yang baik lah yang diserap oleh anak-anak mereka. Sehingga bisa saja kualitas seorang anak nantinya di masa depan sedikit banyak bergantung dari bagaimana masa-masa golden age ini diisi. Tapi kini nampaknya banyak orang tua yang tak terlalu mempedulikan masa-masa keemasan ini hingga terkadang lalai membiarkan buah hatinya menyerap informasi yang justru lambat laun mempengaruhi karakternya kelak.

Jika masa itu diisi dengan pengalaman moral berharga, dialog kekeluargaan yang hangat, penanaman nilai-nilai prinsipil yang penting maka jadilah mereka, anak-anak itu nantinya, seorang yang kuat karakternya, tajam pemikirannya, dan lembut hatinya. Hingga tak heran jika kelak mereka tumbuh berkembang sebagai seorang manusia yang sholih dan mensholihkan lingkungannya, seorang manusia yang hebat dan menghebatkan manusia lainnya.

Jadi sangatlah miris melihat kini masa-masa keemasan itu diisi dengan informasi dan tayangan hiburan yang jauh dari nilai-nilai luhur dan kuat. Hiburan yang tak lagi membicarakan masalah keceriaan hari, aktivitas membantu teman-teman, mengenal lingkungan sekitar serta budayanya seperti lagu-lagu Enno Lerian, Bondan Prakoso, dan Trio Kwek-kwek. Tapi justru penuh dengan kegelisahan, percintaan yang tak kunjung ada habisnya, kesenduan ditinggal kekasih, dan berbagai hiburan yang tak lain belum cocok dalam masa tumbuh kembang mereka. Saat dimana mereka lebih membutuhkan fondasi yang kuat macam nilai-nilai moral dan karakter yang kuat dibandingkan membiarkan mereka terbangun dari fondasi yang lemah macam lagu-lagu galau dan sendu.

Dunia, dan kehidupan dimasa mendatang tak membutuhkan calon-calon pemimpin dan penerus yang cengeng dan kerap meratapi nasib. Hidup makin keras dan siapkan calon penerus kita untuk siap menghadapinya. Bangun karakter yang kuat dan hebat pada diri-diri mereka, hingga nantinya mereka siap menaklukan dunia.

Thursday, 7 March 2013

What doesnt kill you makes you taubah

Sebelumnya hidup hanya dipandang enteng olehnya. Dengan kondisi fisik yang prima dan finansial yang kuat membuatnya merasa jumawa. Seolah dunia tergenggam erat di tangan dan sebebas mungkin dikendalikannya sesuka hati. Tak ada yang namanya kekhawatiran yang ada hanya kepuasan mereguk kenikmatan yang dianugerahkan padanya. Maka hidup sekedar dimaknai dalam lingkup kesenangan diri, tak peduli bagaimana kondisi sekitar yang jelas dirinya dapat bersenang-senang, terlebih kini dimana aturan Tuhan pun diabaikan saat keterlenaan dunia memabukkannya.

Usianya masih tergolong muda, 40 tahun. Untuk ukuran seorang ayah yang sudah memiliki anak berusia 15 dan 11 tahun, fisiknya masih terbilang prima. Tapi entah mengapa, beragam kemudahan dunia seolah tak memberikannya ketenangan. Rumah tangga yang tak pernah sepi dari pertengkaran, dan keresahan yang kerap menghampiri. Ketiadaan alternatif solusi membuatnya makin larut dalam kesenangan yang membutakan, membuatnya makin jauh dari Tuhan yang justru menambah peliknya persoalan yang dihadapinya.

Entah tiga bulan, atau mungkin dua bulan yang lalu, tubuhnya lunglai tak bertenaga. Dirinya yang sedang mengendarai sepeda motor tiba-tiba saja terjatuh tanpa ada kekuatan tuk menopang tubuh dan berat motor. Awalnya tak ada kesan khusus dari peristiwa yang dialaminya, menganggap hal itu dikarenakan kondisi tubuhnya yang tidak fit. Perlahan, sebuah kejadian yang bisa jadi sebuah alarm peringatan hanya dianggap angin lalu olehnya, maka kini satu per satu beragam penyakit mempreteli kesehatannya.

Kesehatan yang menurun memaksanya untuk mengurangi aktivitas yang secara tak langsung membatasi dirinya dalam bekerja. Tak ada perubahan berarti di ragam usaha yang dilakukan agar dirinya kembali prima, dan tak terasa tidak ada lagi pemasukan keuangan akibat kondisinya yang menganggur. Tubuhnya pun makin ringkih, beragam penyakit mulai terdiagnosis menyerang dirinya. Gangguan ginjal, hati, dan penyakit gatal eksim di kaki membuatnya merana, tak ada lagi kesenangan yang dulu dinikmati, kini hanya keputusasaan yang makin menjadi.

Puncaknya seminggu yang lalu. Tubuhnya terkapar tak berdaya di tempat tidur tanpa ada tenaga tuk bergerak. Tubuhnya lumpuh tanpa tahu apa sebabnya. Dada sesak dan lambat laun kesadaran pun perlahan hilang. Ia dengan segera dibawa ke ke UGD rumah sakit. Dokter pun belum dapat mendiagnosis apa penyakit yang dideritanya, kamar ICU yang penuh dan ruang UGD yang minim peralatan membuatnya dirawat seadanya. Kondisinya makin kritis saat perlahan denyut jantung dan nafasnya menurun. Suasana saat itu sungguh sangat mencekam. Si istri yang setia mendampingi hanya dapat menguatkan dan meminta si suami tetap kuat dan terus berusaha melawan sakitnya.
"Ayo pa, ingat adek, ingat abang. kamu sayang kan sama mereka berdua. jangan pergi. tolong jangan pergi"
Si istri hanya menangis di tengah usaha dokter memberi pertolongan.

Seluruh keluarga berdoa untuk kesembuhannya. Tak ada lagi harapan kecuali meminta sang Khaliq memperpanjang usianya, karena tiap orang sangat mengetahui bagaimana hidupnya semasa sehat dulu. Semoga ada setitik keajaiban untuknya. Semoga ada kesempatan kedua baginya. Dengan lafadz tahlil, tahmid, tasbih dari si istri yang setia mendampingi di sisinya, ia pun mencoba mengikuti ucapan-ucapan yang dibimbing sang istri. Kalimat-kalimat yang dulu pernah diabaikannya yang kini menjadi satu-satunya harapan agar Tuhan berbaik hati padanya.

--

2 minggu kemudian

Wajah sumringah terpancar jelas dari raut mukanya. Ia tampak lebih segar dari biasanya, dan yang pasti ada semacam cahaya yang jelas terlihat dari dirinya.
"Jangan lupa ingatkan aku ya, takut lupa kalau sudah bekerja"
Sang istri hanya mengangguk pelan disertai senyuman, tanda kebahagiaan bahwa si suami telah banyak berubah.
"Iya insyaAllah pa, jangan lupa bawa sajadah ya. dimanapun kamu sempat, luangkan waktu disela-sela kesibukan"
Disertai kecup manis dikening sang istri, ia pun pergi melangkah, disertai harapan dari sebuah kehidupan baru. Kesempatan kedua dariNya. Semoga Istiqomah.

Wednesday, 6 March 2013

Antara Tahta dan Popularitas

Ada pepatah Arab kuno yang mengatakan bahwa, jika kalian ingin terkenal, kencingi sumur zam-zam, niscaya kalian akan masyhur seantero Jazirah Arab. Bukan saja populer di tanah Arab, anda bahkan dikenal oleh orang-orang di penjuru dunia, dimana ternyata ada orang yang berani mengencingi sumur zam-zam yang disucikan umat muslim, sesuatu yang tak lazim, nekat, dan pastinya baru pertama kali terjadi.

Itu kalau berbicara mengenai ke-terkenal-an semata, sesuatu yang memang mudah dilakukan asal memiliki nyali yang besar. Tapi tentunya bukan terkenal seperti itu yang anda inginkan. Karena menjadi populer dengan cara seperti itu tak lain cuma memberikan anda kesengsaraan walau mungkin nama dan wajah anda terpampang manis di media massa.

Maka cara aman, lazim dan umum (seperti menjadi artis, memiliki prestasi dll) untuk menjadi terkenal adalah satu-satunya jalan jika anda ingin menikmati berbagai keuntungan atas kepopuleran anda. Wajah yang kerap menghiasi laman surat kabar dan citra yang terus disorot lewat layar kaca. Sesuatu yang dilakukan bukan dengan cara ekstrim yang bertentangan dengan aturan dan norma yang berlaku.

Selanjutnya saat anda telah  menjadi populer dengan cara aman maka kini tergantung anda mengarahkannya. Jika sekedar mengisi rubrik di dalam surat kabar itu biasa dan sangat mudah. Tapi cobalah untuk berfokus pada 3 hal yang memang dituju manusia di dunia, harta, tahta, dan cinta. Karena tiga hal itu yang mayoritas dikejar oleh para tokoh-tokoh terkenal yang sukses.

Biasanya seorang yang terkenal dengan jalur menjadi artis atau dengan sebuah prestasi yang diraih akan secara tidak langsung mendapatkan dua hal yang menjadi tujuan manusia. Harta dan cinta. Mereka mudah menggaet wanita dan harta kan mengalir dengan sendirinya ke pundi-pundi tabungan mereka. Saat mereka diikat kontrak tuk berperan dalam sebuah film atau sekedar mendapat bayaran dari sebuah prestasi yang mereka miliki. Karena siapa yang bisa menolak berdekatan dengan seseorang yang populer dan memiliki banyak simpanan harta, nyaris tak ada dan itulah mengapa tiap orang berharap tuk menjadi terkenal.

Kini saat dua hal itu, harta dan cinta telah di dapat, mayoritas kaum populis kan beranjak ke tujuan selanjutnya, tahta yang akan melengkapi kesempurnaan mereka. Harta ada, cintapun dimiliki, maka tak heran tahta yang menjadi sasaran berikutnya. Jadi sangatlah relevan jika sekarang ini kita lihat kaum-kaum populer semacam artis, olahragawan, tokoh-tokoh masyarakat berbondong-bondong menceburkan diri ke jalur politik. Entah dengan menjadi calon anggota legislatif atau sekedar mencoba peruntungan sebagai calon kepala/wakil kepala daerah. Semua hal yang dapat dilakukan agar tujuan selanjutnya tercapai, menggapai tahta tuk meggenapi dua hal lainnya.

Mungkin itulah mengapa saat ini orang-orang terkenal bersaing mendapatkan tahta, sehingga jangan kaget jika kelak pemangku kekuasaan dan tahta dipegang oleh orang-orang populer. Yang mungkin sekedar memenuhi hasratnya dalam melengkapi kesempurnaan yang telah ia dapatkan sebelumnya, harta dan cinta. Padahal tahta tak hanya perkara obsesi buta yang hendak dicapai, tapi lebih dari itu, ia adalah sebuah amanah yang membutuhkan kompetensi dan profesionalitas tuk mengelolanya. Agar tatanan masyarakat yang dipangku dan diperintah olehnya menjadi lebih baik dan sejahtera.

Semoga kelak para kaum populer itu menyadari bahwa keberhasilan mereka nantinya meraih tahta tak serta merta membuat mereka layak, karena memimpin dan mengelola tahta butuh otak dan skill yang tidak sekedar mengandalkan ke-terkenal-an belaka.

Tuesday, 5 March 2013

Ngeyel dan Skeptis

Kini tak lagi ada batasan tentang apa dan bagaimana sebuah bentuk pertanyaan patut dilontarkan. Perkara apakah urusan tersebut sudah jelas ataukah masih jadi perdebatan yang terpenting adalah bagaimana simbol skeptisme macam pertanyaan-pertanyaan kritis dapat menjadi sebuah tradisi dalam suatu komunitas. Sehingga sebuah kelompok dikatakan memiliki tatanan masyarakat berkebudayaan saat orang-orang di dalamnya dengan leluasa melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis yang kadung dimaknai (terlalu) positif.

Kadang kala tak selamanya berbagai pertanyaan yang muncul memang ditujukan untuk memperjelas sebuah fenomena, atau sekedar menjawab ketidaktahuan seseorang tentang sesuatu. Karena tak jarang pertanyaan yang muncul merupakan cara dan mekanisme yang dapat dijadikan argumen oleh seseorang untuk menghindar dari sebuah kewajiban dan menyerang sebuah nilai yang diaggap berlawanan dengan dirinya.

Mungkin kita masih ingat saat kecil dulu, di mana seringkali kita melontarkan berbagai alasan untuk menghindarkan diri dari kewajiban yang ada di dalam rumah. Misalnya saat kita diminta untuk membersihkan halaman depan. Dengan kondisi halaman depan yang kotor dan penuh dengan dedaunan memaksa kita memutar otak tuk mencari alasan agar tetap bisa menonton tayangan TV favorit di ruang tamu yang nyaman. Maka kita pun seringkali memunculkan banyak pertanyaan untuk itu, dalam rangka menghindari kewajiban membersihkan halaman.
"Loh ma, itu sapu lidi nya mana? emang bisa pake sapu lidi yang ini? yang ini kan kekecilan"
"Ma, kalau halaman yang itu juga harus dibersihkan? disitu ada genangan air, jadi percuma juga untuk disapu"
Serta berbagai pertanyaan dan argumen yang bertujuan tuk menghindar dari kewajiban.

Atau mungkin saat kita bermain bersama teman-teman di bangku SD, dimana seringkali lontaran pertanyaan yang muncul bertujuan untuk menyerang seseorang yang tidak kita sukai. Misalnya saat seorang anak memamerkan mainan barunya membuat kita melontarkan berbagai pertanyaan meledek yang menyiratkan ketidaksukaan kita padanya.
"emang itu buatan mana? ah paling buatan cina"
"mobilnya bisa apa aja? ah paling maju mundur doank"
Dan beragam pertanyaan yang bernada negatif mengenai orang yang tidak kita sukai.

Beberapa orang terutama para tetua menyebut tingkah laku ini bernama ngeyel. Sulit tuk menerima kebenaran dan kenyataan walau itu sudah jelas-jelas terlihat. Walau mungkin kebenaran sudah jelas tergambar tapi tetap saja karena ada keinginan tuk menghindar dari kewajiban dan tidak menyukai sesuatu, maka terlontarlah pertanyaan yang terkesan kritis dan berbobot.

Maka kini jadi sesuatu yang unik kala beragam pertanyaan yang terlihat kritis jadi terkesan ngeyel kala mempertanyakan dan memperdebatkan sesuatu yang telah jelas-jelas kebenarannya. Macam golongan munafik zaman rasul yang kerap kali melontarkan alasan dan pertanyaan terhadap sesuatu yang sudah mutlak hukumnya.

Jadi memang tak selamanya lontaran kritik terlihat keren dimata orang-orang. Karena salah-salah gaya kita yang terkesan elegan dengan pertanyaan yang menusuk tajam malah membuat kita tak ubahnya orang-orang skeptis yang tak lebih dari sekelompok manusia yang sukanya ngeyel.