Showing posts with label persaudaraan. Show all posts
Showing posts with label persaudaraan. Show all posts

Thursday, 21 March 2013

Selamat Hari Lahir Kawan..!

Ada rasa canggung saat bertemu kembali dengannya, untuk kali pertama sejak ia menikah beberapa bulan lalu. Saat itu hari ahad yang indah dan ia bersama sang istri menemaniku untuk sebuah pertemuan yang bersejarah, paling tidak bagi diriku pribadi.

Tapi perasaan kaku dan canggung itu hanya sesaat, seiring datangnya makanan dan minuman di rumah makan itu, kamipun kembali tergelak dalam tawa dan pertemuan yang hangat seperti dulu. Ah kawan, tak terasa waktu berlalu begitu cepat, dengan dirimu kini yang menjadi calon ayah serta ksatria cilik dikandungan istrimu ternyata banyak cerita yang telah terjadi, membuatku kembali terkenang masa-masa sekolah dulu.

Kami satu sekolah saat SD dulu, di SDN Bumi Bekasi Baru V, dan kalau tidak salah pertama kali kami bertemu saat kelas 3 atau 4 SD, akupun lupa-lupa ingat. Tapi yang jelas, pertemuan pertamaku dengannya tak mengenakkan, entah seperti apa detailnya, tapi yang jelas bukan sesuatu yang menyenangkan. Seiring berjalannya waktu, di kelas dan sekolah itu, ternyata kami memiliki banyak persamaan.

Sama-sama menyukai diskusi, bermain bola, dan bersaing untuk mendapatkan nilai ulangan yang lebih tinggi saat kelas 6 dulu. haha. Dengan kelas yang padat, hampir 50 orang lebih, maka satu meja diisi oleh 3 orang, dan saat itu aku, dia, serta temanku yang satunya lagi, Carlos Siregar, saling berlomba mendapatkan nilai ulangan yang lebih tinggi, dan entah mengapa itu hal yang sangat mengasyikkan, saat belajar memang terasa menyenangkan.

Kamipun lulus dan takdir membawa cerita baru bahwa kami berada di SMP yang kembali sama. Di masa SMP ini bakat dan cahayanya makin terlihat. Ia menjadi Ketua OSIS dengan prestasi akademik yang juga mumpuni. Berbeda denganku yang tak lebih dari sekedar siswa hilir mudik dari rumah ke sekolah. hehe. Di kelas 1 dan 2 yang berbeda, kamipun di kelas yang sama lagi di kelas 3. Dan akupun bersyukur, setidaknya pengalaman 2 tahun di SMP tidak sia-sia karena di kelas 3 kamipun satu kelas lagi, karena bertukar pengalaman dan pikiran dengannya sangat menyenangkan.

Satu pemikiran dan pemahaman tentang bagaimana SMA yang bagus itu, kamipun kembali berkumpul di SMA yang sama, SMA 1 Bekasi. Dan kamipun sepakat, atau setidaknya saya pribadi sepakat, bahwa masa SMA bisa jadi masa yang tak begitu menyenangkan dibandingkan ketika SD dan SMP dulu. Maka tak heran, kamipun lebih banyak menghabiskan waktu di organisasi, dibandingkan bergelut dalam bidang akademis. Tapi mau tak mau, ujung-ujungnya, akademis adalah tujuan akhir, dan tak terasa kamipun berada di penghujung masa putih abu-abu.

Awalnya kami ragu, bisakah menembus PTN, tapi alhamdulilla, Allah memperlihatkan kuasanya dengan meluluskan kami di PTN, dan tak disangka di PTN yang sama dan fakultas yang sama, walaupun sempat setahun ia menghabiskan waktu di bandung sana. Dan memang sepertinya kampusnya dulu tak cukup besar tuk menampung visi dan cita-citanya yang waah. Di kampus UI ini, kualitasnya sebagai individu jelas terlihat, pemikiran yang tajam, kemampuan menulis yang ciamik, dan konsistensi dalam memegang nilai-nilai prinsipil membuat sinarnya kian terlihat jelas.

Dan tak terasa akupun terbangun dari lamunan saat ia datang. Ah semoga dua sahabatku ini, menjadi jalan bagiku bertemu takdir masa depanku. Dan ternyata sejauh ini memang benar, mereka berdua yang menjadi perpanjangan tangan sang kuasa untuk diriku dan dirinya. Terima kasih.

Barakallah kawan, Jati Nantiasa Ahmad, Suami dari Dea Adhicita dan ayah dari Ksatria. Selamat hari lahir,  semoga limpahan rahmat selalu tercurah pada keluarga kecil kalian.

Thursday, 14 March 2013

Saat Usia Empat Puluh Tahun

Sebagian orang mengira hidup itu dimulai saat beranjak remaja di usia 17 tahun. Kala fisik sedang prima-primanya, saat romantika dan ketertarikan pada pasangan lawan jenis menjadi sesuatu yang menyenangkan tuk dijalani. Lalu ada sebagian lagi yang berkata bahwa usia puncak seseorang adalah saat ia beranjak menapaki usia 30 tahun. Saat kedewasaan berperan penuh, kala karir dan asmara telah terlihat jelas jalannya.

Tapi sebagian besar berpendapat, dan ini yang paling populer, Life begin in fourty. Hidup dimulai saat usia beranjak empat puluh tahun. Kalau istilah saudara saya, "kalau mau lurus, lurus sekalian. Kalau mau bejat, bejat sekalian". Sebegitu besarnya dampak dan pengaruh masa-masa usia menjelang 40 tahun hingga terkadang perlu sebuah peristiwa ataupun momen yang spektakuler untuk mengalihkan seseorang dari satu jalan keburukan kepada jalan kebaikan.

Seperti peristiwa yang dialami saudara saya ini. Suami dari sepupu saya. Hidupnya jika dideskripsikan adalah hidup yang tak jelas arahnya, tak tahu harus kemana dan berbuat apa. Hidup tak tenang, keluarga yang tak pernah damai, dan rumah yang hanya jadi tempat singgah sementara karena memang tak ada kehangatan dibawah atap rumah yang ditempatinya. Diperparah lagi dengan ibadah yang tak kunjung mengalami perbaikan, menambah beratnya hidup dan peliknya permasalahan yang dialaminya. Kekhawatiran semakin memuncak dikala usianya kini yang berusia 39 tahun, perbaikan belum terlihat sama sekali dari dirinya. Hanya doa yang mampu kami, keluarga panjatkan, semoga hidayah itu cepat datang.

Dan sampailah suatu ketika, sebuah peristiwa yang tak terduga dialami olehnya. Saat dimana nyawa seolah di ujung tanduk dan hampir terenggut. Tubuhnya lemas tak terduga, tak ada tenaga dan nafasnya sesak seolah tak ada lagi oksigen yang dapat dihirup. Kondisi kritis yang hanya mampu dibantu dengan doa-doa dari kami keluarganya, semoga ia mendapatkan kesempatan kedua. Ya, semoga saja.

Sepertinya, doa-doa itupun dijawab olehNya dengan kondisinya yang membaik, sungguh membaik. Masa-masa kritis telah berlalu dan mungkin ini cara Allah menyadarkannya dan menjadi kado tak terlupakan di usianya yang menjelang 40 tahun di bulan April nanti. Kini semuanya berubah, kehidupan rumah tangga tenang dan damai, rizqi pun halal walaupun sedikit yang penting berkah, dan yang paling penting, ibadah semakin membaik.

Semoga kau selalu istiqomah bang..

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".
QS Al Ahqof ayat 15

Friday, 8 March 2013

Generasi Anti Galau

Tiap zaman memiliki ceritanya masing-masing yang mungkin tak lagi bisa didapatkan di kemudian hari. Ketika dulu saat dimana usia saya beranjak 5 tahun, dunia hiburan anak-anak tidak kehabisan stock barang yang dapat dijual kepada konsumen mereka, bocah-bocah yang masih lugu dan lucu. Penyanyi-penyanyi seperti Bondan Prakoso, Enno Lerian, Ria Enes & Susan, dan lain sebagainya merupakan pengisi waktu luang dan masa kecil yang pas dipasangkan dengan anak-anak yang hidup dalam dunia keceriaan, kesenangan, riang gembira dan pastinya sesuai dengan masa tumbuh kembangnya.

Banyak yang lupa bahwa masa keemasan seorang anak berada di kisaran usia 0-5 tahun. Saat dimana kemampuan otak anak dalam menyerap informasi sangatlah tinggi. Semua jenis informasi dapat dengan mudah terserap, otak mereka sedang berkembang menuntut adanya asupan gizi berupa kualitas pengetahuan yang berharga. Maka begitu pentingnya peran orang tua di masa ini untuk memastikan bahwa hal yang baik lah yang diserap oleh anak-anak mereka. Sehingga bisa saja kualitas seorang anak nantinya di masa depan sedikit banyak bergantung dari bagaimana masa-masa golden age ini diisi. Tapi kini nampaknya banyak orang tua yang tak terlalu mempedulikan masa-masa keemasan ini hingga terkadang lalai membiarkan buah hatinya menyerap informasi yang justru lambat laun mempengaruhi karakternya kelak.

Jika masa itu diisi dengan pengalaman moral berharga, dialog kekeluargaan yang hangat, penanaman nilai-nilai prinsipil yang penting maka jadilah mereka, anak-anak itu nantinya, seorang yang kuat karakternya, tajam pemikirannya, dan lembut hatinya. Hingga tak heran jika kelak mereka tumbuh berkembang sebagai seorang manusia yang sholih dan mensholihkan lingkungannya, seorang manusia yang hebat dan menghebatkan manusia lainnya.

Jadi sangatlah miris melihat kini masa-masa keemasan itu diisi dengan informasi dan tayangan hiburan yang jauh dari nilai-nilai luhur dan kuat. Hiburan yang tak lagi membicarakan masalah keceriaan hari, aktivitas membantu teman-teman, mengenal lingkungan sekitar serta budayanya seperti lagu-lagu Enno Lerian, Bondan Prakoso, dan Trio Kwek-kwek. Tapi justru penuh dengan kegelisahan, percintaan yang tak kunjung ada habisnya, kesenduan ditinggal kekasih, dan berbagai hiburan yang tak lain belum cocok dalam masa tumbuh kembang mereka. Saat dimana mereka lebih membutuhkan fondasi yang kuat macam nilai-nilai moral dan karakter yang kuat dibandingkan membiarkan mereka terbangun dari fondasi yang lemah macam lagu-lagu galau dan sendu.

Dunia, dan kehidupan dimasa mendatang tak membutuhkan calon-calon pemimpin dan penerus yang cengeng dan kerap meratapi nasib. Hidup makin keras dan siapkan calon penerus kita untuk siap menghadapinya. Bangun karakter yang kuat dan hebat pada diri-diri mereka, hingga nantinya mereka siap menaklukan dunia.

Tuesday, 26 February 2013

Tempo dan PKS

Mereka ditempa dalam tekanan yang sama. Tumbuh dan berkembang di dalam pusaran hebat konstelasi represi orde baru. Tak banyak yang mengira bahwa kehidupan yang keras justru membawa mereka pada sebuah peran yang dimainkan apik, sejak dulu bahkan hingga kini.Yang satu melalui jalur pergerakan berbasis ideologi keagamaan, dan satunya lagi identik dengan kritik mencerahkan bagi para pencari kebenaran.

Tempo dan PKS, dua institusi yang lahir dari rahim yang sama bernama reformasi. Perbedaan patron dan perspektif dalam berjuang menjadikan mereka silih berganti memainkan porsi perannya masing-masing. Membuat mereka menjadi simbol atas tercapainya cita-cita demokrasi negeri ini. Idealnya, sebuah keyakinan kerap mengemuka, bahwa tak lain mereka datang dari sebuah momen yang sama dan hendaknya masing-masing saling memaklumi bahwa tak ada yang luput dari kesalahan.

Tapi yang ada kini sungguh mengecewakan, satu sama lain bagai berlomba saling menjatuhkan. Tak penting siapa yang lebih dulu memulai, tapi yang jelas sungguh menyedihkan melihat anak kandung reformasi melupakan hakikat perjuangan yang dulu mereka dengungkan. Entah mencari ketenaraan semata atau sekedar mencari sensasi sesaat tapi yang jelas perseteruan keduanya membawa kembali kenyataan pahit bahwa uang berada dibalik ini semua.

Ada yang bilang Tempo dalam hal ini media cetaknya, makin tergerus oleh pesaing yang kian beragam. Baik dari sesama media cetak ataupun media internet yang mampu menawarkan pemberitaan faktual terkini. Tempo pun diberitakan mengalami kerugian yang cukup signifikan di tahun 2012 lalu. Yang lambat laun mimpi buruk kebangkrutan kian tergambar layaknya media-media raksasa di eropa dan amerika sana yang telah gulung tikar terlebih dulu.

Tempo berusaha memutar otak, dan akhirnya ditemukan satu jawaban, mengkritik habis-habisan sebuah organisasi yang lahir dari sebuah perubahan yang selama ini dicitrakan pro pembaharuan oleh mereka yang terkenal dengan pemberitaan tajam dan membuka wawasan baru. Maka diputuskanlah, membawa PKS sebagai tumbalnya.

Hasilnya pun lumayan, sedikit banyak orang-orang kembali tertarik membeli majalah itu dan oplah pun perlahan meningkat. Counter balance dari orang-orang pro PKS pun menambah rasa yang makin menegaskan bahwa isu yang diusung Tempo memang selalu menarik apabila membawa-bawa saudara reformasinya dalam pemberitaan.

Maka dsinilah semuanya bermuara, bisnis yang perlahan menggerus cita-cita yang digaungkan sejak lama. Tapi ya, itulah realita yang ada, tinggal kini bagaimana kita menyikapinya. Apakah turut terjun dalam polemik yang ada, atau membiarkannya berlalu sampai kebenaran yang akhirnya berbicara.

Sunday, 24 February 2013

Memilih : Dilema Sang Idealis

Menjadi idealis itu terkadang makan hati, apalagi jika sang idealis terjun ke ranah praktis. Banyak hal yang tadinya indah diucapkan dengan penuh keyakinan menjadi hambar dan tak berarti kala menyentuh ranah aplikasi. Semua rencana dan gagasan seringkali berbenturan dengan realita lapangan. Entah berkaitan dengan birokrasinya atau mindset orang-orangnya.

Dari dulu bahkan hingga sekarang tiap orang punya opini masing-masing yang berkaitan dengan pengelolaan sistem pemerintahan yang tepat. Sebuah sistem yang berorientasi melayani masyarakat dan mensejahterakan mereka. Ada yang bilang hal seideal itu dapat terwujud bila pemimpin yang memegang kendali muncul dari kalangan idealis. Yang terbiasa membicarakan hal yang sepatutnya di dalam sebuah pemerintahan. Tapi ada juga yang berkata bahwa konsep idealitas tak sepenuhnya cocok dengan kondisi faktual yang bersifat relatif dan kompleks. Sehingga terkadang seorang idealis mau tak mau harus mampu berkompromi dan memiliki rentang toleransi yang besar terhadap hal yang tidak ideal.


Maka jadi sesuatu yang unik saat seorang aktivis,penggiat gerakan, dan komentator pemerintahan yang identik dengan konsep idealitas mencalonkan diri sebagai kandidat kepala daerah. Dimana posisi itu jelas-jelas kadung dipersepsi dengan kesemrawutan birokrasi dan pola berpikir. Maka jika tidak yakin mampu berkompromi dan mengubah kekusutan itu, yang ada justru cibiran dan kekecewaan kepada sang idealis.


Tapi ya semuanya kembali kepada para aktivis,komentator,dan penggiat yang idealis. Kalau memang merasa mampu silahkan mencoba, tak ada salahnya dan akan menjadi capaian yang luar biasa saat berhasil. Tapi bagi saya pribadi, menjadi aktivis, penggiat dan komentator yang idealis hendaknya membuat mereka menyadari bahwa pilihan profesi yang tepat memang hal-hal yang berbau idealis,yang jauh dari kesan negatif.


Seperti saat komentator sepakbola menjadi pelatih, atau saat penggiat anti korupsi menjadi pimpinan KPK. Karena setidaknya jika mereka gagal disana, tak ada kekecewaan karena nilai-nilai idealitas tak tergerus dan tetap terjaga. Berbeda saat mereka sang aktivis,penggiat, dan komentator idealis turun dalam kubangan lumpur seperti pilkada, capaian keberhasilan belum pasti, malah nilai-nilai dalam kritik idealis yang selama ini mereka agungkan berbenturan dengan fakta kompromi di lapangan,yang serba semrawut.


Sinis? Tidak juga, saya hanya gemes dan terkadang ingin mentoyor kepala sang komentator,aktivis idealis yang terkadang hanya bisa mengkritik karena memang lebih enak mengkritik dibandingkan berbicara praktek faktual di lapangan. Selamat memilih, dan semoga si komentator, aktivis, penggiat idealis tetap di jalan kebenaran

Monday, 18 February 2013

Tidur..

Sungguh kasihan jika melihat kondisi saudari saya ini. Bertahun-tahun berumah tangga dan sudah dikaruniai dua orang anak, hidupnya terbilang masih kurang dari sisi materi. Rumah masih mengontrak, anak sakit-sakitan dan pekerjaan si suami yang masih sama sebagai pengantar barang setelah 15 tahun bekerja, sehingga otomatis penghasilan pun masih sama setelah bertahun-tahun lamanya, kalaupun ada kenaikan tentunya tidak signifikan dengan inflasi keuangan yang gila-gilaan seperti sekarang.

Materi memang bukan segala-galanya tapi setidaknya materi merupakan cerminan akan sebuah kesungguhan dan ketekunan dalam bekerja. Bekerja yang tidak melulu bersifat duniawi tapi juga ukhrowi atau spiritual. Karena filosofinya, materi akan ikut secara sendirinya saat sisi immateri yaitu spiritual dan religiusitas diperbaiki. "perbaikilah akhiratmu niscaya dunia akan menghamba padamu." begitu kira-kira bunyinya. Tapi masalahnya adalah dari sisi ini pun si Saudari ini tak kunjung membenahinya. Sudah tahu hidupnya sangat berat, meminta padaNya pun masih seringkali lalai. Sudah tahu permasalahan banyak, mengiba padaNya pun masih seringkali lupa.

Suatu saat, Ibnu Abbas RA pernah menegur salah seorang anaknya.yang tertidur di dalam waktu subuh. "Bangunlah, engkau tidur saat rejeki dibagi-bagikan". Asumsi saya adalah, si anak ini kembali tidur sesaat setelah selesai mendirikan sholat subuh. Karena hampir tidak mungkin anak seorang sahabat tidak di didik untuk sholat subuh. Itu baru tertidur sehabis sholat subuh dan tarafnya sudah sangat tidak dianjurkan, apalagi tertidur dan melewatkan sholat subuh. Lebih parah lagi. Dan itu yang terjadi pagi ini, saat saya melihat, si saudari ini dan suaminya dengan tenangnya melewatkan sholat subuh, dan hanya mengangguk iya kala diingatkan untuk sholat. fiuh..

Tidur itu nikmat, dan ia rahmat dari sang pencipta bagi hamba-hambaNya yang lelah saat terjaga. Tidur itu pertanda bahwa tubuh ini harus beristirahat sejenak untuk disegarkan kembali melalui mekanisme ketidaksadaran hingga relaksasi perlahan di kala tidur menambah energi seseorang ketika ia bangun nanti. Tidur itu cara mudah melarikan diri dari persoalan. Cukup tertidur maka dengan segera masalah anda seolah hilang. Tapi itu hanya sesaat, setelah bangun barulah anda menyadari kembali bahwa masalah anda masih sama dan belum beranjak pergi. Ironisnya hal ini seringkali dijadikan sarana utama bagi beberapa orang untuk mengobati masalahnya.

Mungkin itu yang dilakukan saudari saya ini. Kala mengetahui bahwa anak-anak sakit, uang belanja menipis, dan otak pun serasa penuh dengan masalah, tidur pun jadi sarana instan dalam menyelesaikan persoalan. Seolah berharap masalah akan berakhir saat ia bangun nanti. Mungkin tidak sebegitunya, tak sampai berharap bahwa masalahnya akan selesai, hanya ingin jeda sesaat dan mengulur waktu dalam kesendirian.

Tiap orang memang punya alasannya masing-masing untuk tidur dan menyelesaikan permasalahannya. Tinggal dilihat sejauh mana apakah cara itu efektif atau tidak dalam menyelesaikan masalah. Logikanya, dengan nasib yang tak kunjung berubah sekian tahun lamanya, idealnya ada sebentuk inovasi dalam berbuat, dan bertingkah laku. Ada sebuah bentuk perbaikan saat tahu bahwa cara lama, seperti tidur, mengeluh, bermalas-malasan, tidak juga memberikan hasil. Tapi memang hal itu sepertinya belum sampai, sebuah kesadaran untuk melakukan revolusi dalam hidup. Entah sampai kapan hanya Allah yang tahu.

Semoga Rahmat dan HidayahNya meliputimu sist..

Saturday, 16 February 2013

Kesempatan Kedua

Tak ada orang yang luput dari kesalahan, karena fitrahnya manusia memang seringkali lupa. Jadi tak heran pintu pertaubatan dan perbaikan selalu terbuka hingga hari akhir nanti. Harapannya ialah, yang bersalah akan menghapus kekhilafan mereka dengan kebaikan sebagaimana air yang membersihkan noda yang terlanjur mengotori indahnya sehelai kain putih. Hingga nantinya tak ada lagi bekas noda dan kain itu kembali bersih seperti sedia kala.

Kesempatan bertaubat selalu ada tapi seringkali manusia yang lain terlanjur menghakimi dengan mengatakan bahwa yang bersalah takkan ada harapan untuk kembali kepada kebaikan. Kecewa memang, saat kita melihat orang yang kita kagumi melakukan sebuah kesalahan, serasa kebaikan yang ia lakukan dulu tak ada nilainya lagi dimata kita. Tapi mungkin seringkali kita lupa bahwa manusia yang masih hidup memang rentan melakukan kesalahan.

Abdullah Ibnu Mas'ud pernah berkata belajarlah dan ambil hikmah dari orang yang telah mati, karena orang yang masih hidup belum aman dari fitnah. Maka sangatlah naif saat kita terlalu mengagungkan seseorang karena belum tentu si orang itu akan konsisten pada kebaikan, yang patut kita lakukan adalah mendoakan semoga si orang tetap istiqomah hingga ajal menjemput, karena setelah wafatlah baru kita layak menilai seseorang secara utuh.

Sayapun teringat dengan salah seorang tokoh islam yang syahid di medan perang, namanya adalah Thulaihah Al Assad, Thulaihah dari suku Assad. Kalau kita menyimak kisah hidupnya, mungkin kesan pertama kita adalah, Thulaihah takkan punya kesempatan untuk menjadi orang baik. Bagaimana tidak? ia mengaku mendapatkan wahyu dari Allah dan mengaku sebagai Rasul sepeninggal Rasulullah. Iapun sempat berperang melawan Khalid sebelum akhirnya kabur dan menetap di Syam. Coba kita lihat, keburukan apa yang kurang darinya? mengaku nabi, menghapus syariat zakat, dan menghapus beberapa gerakan sholat. Semuanya lengkap.

Tapi yang namanya kehidupan adalah rahasia ilahi. Thulaihah pun bertaubat dan bersungguh-sungguh ingin melunasi kesalahan-kesalahannya di masa lampau. Hingga Abu bakar pun menerima permintaan maaf Thulaihah dan bahkan menganjurkan Khalid bin Walid untuk meminta saran kepada Thulaihah karena ia mengerti betul mengenai wilayah Syam. Meski tak mendapatkan jabatan apapun semasa Khalifah Abu Bakar dan Umar, Thulaihah tak mempermasalahkannya, yang ia tahu, ia harus menunjukkan bahwa ia benar-benar bukan pengkhianat dan telah insyaf sejadi-jadinya.

Maka dengan gagah berani Thulaihah mengikuti berbagai peperangan, diantaranya yang cukup masyhur adalah saat ia berhasil menawan dua pimpinan pasukan persia dan membawanya kepada panglima perang Qadisiyah kala itu, Saad bin Abi Waqqash. Seorang pimpinan persia itu pun mengaku kagum dengan Thulaihah.
"baru kali ini saya melihat seseorang yang sendirian menyerbu pasukan seolah dirinya bagaikan seribu orang." Atas kekaguman terhadap keberaniannya, panglima itupun menyatakan masuk islam dan berperang bersama pasukan muslimin.

Dan puncak kesungguhannya untuk memperbaiki kesalahan adalah saat peperangan Nahawan melawan pasukan persia. Ia kembali pada Rabbnya dengan husnul khotimah sebagai syahid. Titik balik yang sempurna untuk seorang yang bersungguh dalam memperbaiki diri.

Sungguh, kisah Thulaihah memberikan kita banyak hikmah bahwa tiap orang punya kesempatan untuk memperbaiki diri sebesar apapun kesalahannya, tak peduli bagaimana ia dulu tapi yang kita lihat adalah kesungguhannya untuk menutupi khilaf diri di masa kini

Karena Allah maha penerima Taubat.

Tuesday, 5 February 2013

Brotherhood

Satu-satunya hal yang membuat saya merasa terhubung dengan orang lain, di luar keluarga, di luar teman-teman, dan di luar negara ini adalah ikatan sebagai sesama muslim. Ada semacam sinyal yang menjadikan saya merasa connect dan langsung tune in dengan mereka. Bagai kawan ataupun kerabat yang terpisah jauh dan bertemu lagi setelah sekian lama. Ada rasa kerinduan, ada rasa penasaran dan ingin berbagi banyak hal ketika berjumpa. 

Mungkin itu yang kerap kali saya rasakan ketika membaca berita tentang seorang muslim, bertemu dan berinteraksi dengan mereka. Entahlah, mungkin itu hanya sensasi kelekatan dalam sebuah komunitas, yang tak lebih dari kebanggaan atas satu pandangan yang sama dalam beragama. Tapi jika benar cuma sekedar rasa sesaat, tapi kenapa ada orang yang rela memberikan sebagian harta dan bahkan jiwanya untuk membela sesama muslim?, bagi saya mengorbankan harta dan jiwa bukan hal yang main-main, itu sudah diluar nalar kemanusiaan yang cuma bisa dilakukan bila ada keyakinan mutlak tentang apa yang mereka percaya.

Nalar dan logika manusia memiliki mekanisme kerja yang sistematis agar menjamin keamanan dan kenyamanan manusia di dunia ini. Banyak hitung-hitungan dan pertimbangan yang bermain saat seseorang memilih untuk melakukan sesuatu.
Bagaimana nasib keluarga saya kelak, kalau saya membagi sebagian harta ini dengan mereka?
Lalu nanti saya tinggal dimana kalau sebagian rumah ini saya berikan kepada mereka?
Waduh.. bisa-bisa saya mati kalau ikut perang kesana?
Dan berbagai pertanyaan yang sering kali muncul saat manusia diminta mengorbankan sesuatu yang ia miliki.

Tapi semua pertanyaan itu jadi sesuatu hal yang kecil saat keyakinan jadi pertimbangan utama. Keyakinan akan sebuah ganjaran yang telah dijanjikan oleh Tuhan semesta alam. Saat dunia seisinya tak sebanding dengan nikmat yang akan jadi pengganti atas keikhlasan berkorban untuk sesama saudara seiman dan seakidah.

--

Pengorbanan dan kerelaan dalam membantu sesama muslim cuma sebagian dari rasa keterikatan dalam berislam. Lebih dari itu, rasa keakraban jadi sesuatu yang menarik ketika berinteraksi dengan muslim yang baru saja kita kenal. Misalnya saat kita membaca biografi Syeikh Fatih Seferagic. MasyaAllah, kita seolah ikut merasakan kegembiraan karena masih ada pemuda islam di luar sana, di negeri serba hedonis dan sekuler, mampu mempertahankan keyakinannya dan bahkan mampu menghafalkan Alquran. Kita pun dengan mudahnya meng-akrabkan diri dengan memberi salam dan mengucapkan apresiasi atas usaha beliau dalam menjaga keistiqomahannya. Sila di cek di facebook beliau bila tidak percaya, saat muslim-muslimah berbondong-bondong memberikan salam hangat persaudaraan.

Atau saat muslim di Perancis membuat sebuah komik kartun yang membahas peristiwa menarik dalam keseharian mereka di negara sekuler. Nama komiknya "The Muslim Show", coba di cari Fans Page-nya di Facebook. Sungguh memberikan wawasan tersendiri bahwa tiap muslim di tiap negara memiliki tantangan yang berbeda dalam bersyariat islam. Sehingga keakraban sebagai sesama muslim membuat kita tidak sungkan untuk memberikan support, nasihat, dan kepedulian kepada mereka yang tinggal di sana. Walau kadang kala, hanya sekedar komentar-komentar yang mungkin tak terlalu banyak membantu.

Keakraban dan kerelaan berkorban terhadap sesama muslim membuat saya bersyukur karena diberi nikmat keimanan dan keislaman. Karena dua hal itu adalah nikmat yang kadang terlupa oleh kita.

Alhamdulillâhilladzi allafa baina qulubina, fa-ashbahna bi-ni'matihi ikhwâna.

foto : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZ4ynLHtHZWmEVeP3wYq1lDxZmz7Tih0TlhWDKnUS-SBFSv5sbn2LqWtQrCgZNQSK1fwOSCSEvdOw8WXi7g9nBHXJjTomfolZhARjHUet19GZKf6neA_fzSTe0E6_crYVJgZC7l0Y2bb0/s1600/ukhuwah123.jpg