Sesaat, saya menghembuskan nafas dan memandang kembali CV dan surat lamaran yang teronggok manis di atas meja kerja. Beberapa lembar kertas yang bertuliskan nama, alamat, riwayat pekerjaan, dan pastinya sepucuk surat bahwa yang bersangkutan ingin melamar di perusahaan tempat saya bekerja.
Secara keseluruhan, idealnya, saya tak perlu 'galau' dengan sepucuk aplikasi lamaran kerja yang tadinya terbungkus rapi dalam amplop coklat besar. Karena memang yang namanya surat lamaran dalam amplop coklat bukan suatu hal yang baru bagi saya.
Bahkan kini beberapa tumpukan lamaran dalam amplop masih terbengkalai berdebu di sudut ruang kerja. (duh maaf ya para pelamar). Tapi kini yang membuat saya agak malas dan resah adalah sebuah tulisan kecil di pojok kiri atas surat lamaran si pelamar. Tertulis dengan tinta berwarna merah, "ref: Dirut". Alamak, tanda-tanda bakal diintervensi nih.
Karena memang biasanya, referensi atau calon dari si pejabat perusahaan, entah dia saudara jauhnya, atau cuma tetangga, hampir dipastikan berujung intervensi dan tekanan yang intinya adalah, "nih orang referensinya pejabat, mau gak mau harus diterima.". duh.. apa jadinya perusahaan kalau begini caranya. Kalau si pelamar sesuai kualifikasi, syukur alhamdulillah, tapi kalau jauh dari kualifikasi? psikotes jeblok, pengalaman nol, hasil tes kesehatan tidak fit. Apa tetap harus diterima?
hm.. ya sebenarnya sih mau dipaksakan atau tidak, tidak jadi masalah. Toh keputusan tetap ditangan para bos-bos itu, pimpinan yang terhormat. Saya hanya menjalankan pekerjaan sesuai prosedur dan keputusan diterima atau tidak kembali saya serahkan pada mereka.
Saya hanya menyajikan fakta dan silahkan para pembesar itu yang memutuskan. Saya serahkan hasil psikotesnya, hasil interview, dan hasil tes kesehatan. Silahkan ditimbang-timbang apakah layak atau tidak. Tapi sejauh ini memang pimpinan saya itu tak mau mengambil risiko, walau referensi pejabat tapi jika tidak memenuhi kualifikasi ya apa mau dikata. Syukurlah para pimpinan masih bisa bertindak rasional.
Showing posts with label pemimpin. Show all posts
Showing posts with label pemimpin. Show all posts
Saturday, 18 May 2013
Saturday, 9 March 2013
Demokrasi Melodrama Ala PDIP
Di negeri ini, Indonesia tercinta, siapa yang teraniaya dimasa lalu niscaya mendapatkan simpati lebih banyak dimasa depan. Kesengsaraan, ketidak adilan yang mereka terima dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai pembenaran untuk mendukung mereka yang teraniaya. Agar nantinya mereka yang dizalimi bisa bangkit kembali dan berjuang melawan ketidakadilan yang menimpa mereka. Sungguh mengharukan dan sangat melodramatis, pantas jika di negeri ini tayangan sinetron sangat laku dipasaran.
Beberapa contoh melodrama dari mereka yang teraniaya terlihat jelas beberapa tahun ini. Untuk yang baru saja terjadi seperti kasus Jokowi dan Dahlan Iskan. Saat Jokowi dibilang 'bodoh' oleh gubernur jawa tengah dan saat Dahlan Iskan seolah di 'bully' oleh anggota DPR. Untuk kasus Jokowi terjadi saat ia tak bersedia mereklamasi Pabrik Es Saripetojo untuk dijadikan Mall sesuai dengan perintah sang gubernur. Sehingga saking kesalnya, terlontarlah kata-kata 'bodoh' dari mulut si Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, kepada Jokowi yang dianggap tak tahu apa-apa mengenai masalah reklamasi ini.
Sedangkan kasus Dahlan Iskan berlatar belakang keteguhan Dahlan yang tak mau jika BUMN hanya dijadikan Sapi perah oleh beberapa oknum anggota dewan, hingga membuat anggota DPR meradang karena Dahlan berbicara terlalu banyak dengan mengatakan bahwa ia telah mengantongi nama-nama anggota yang memeras direksi BUMN. Kedua tokoh tadi merespon dengan cara yang mirip-mirip, act like a victim, berperilaku sebagai korban yang ujungnya mendapatkan dukungan dari masyarakat dengan dukungan media.
Gaya Dahlan dan Jokowi sesungguhnya tak asing lagi di negeri ini. SBY dan Megawati telah lama mengadaptasi gaya penokohan seperti ini. Seperti saat SBY seolah dizalimi dengan dipecat sebagai menteri oleh presiden saat itu, dan saat Megawati seolah dianiaya oleh pendukung PDI versi Suryadi lewat peristiwa 27 juli 1996. Kedua tokoh ini telah secara apik mengolah emosi dan simpati masyarakat untuk sebuah daya dorong dan dukungan yang bermanfaat nantinya ketika mereka menokohkan diri dalam pemilu. Terbukti jelas saat SBY dan Demokratnya memenangkan Pemilu 2009 dan saat PDIP serta Megawati memenangkan Pemilu tahun 1999.
Tak ada yang salah dari demokrasi melodrama macam ini, sah-sah saja selama masih dalam koridor yang wajar. Bahkan sangat cerdik karena dapat melihat sebuah celah tuk mendapatkan dukungan walau lewat sebuah drama pencitraan. Untuk sekarang dan sampai seterusnya demokrasi melodrama nampak masih mendominasi ruang berpolitik di negeri ini, bahkan hingga kini saat pilkada di beberapa daerah telah berjalan beberapa waktu lalu.
Demokrasi melodrama tak melulu mengenai siapa yang disakiti dan dipojokkan, karena kini demokrasi melodrama telah bertransformasi secara unik di sebuah partai yang lahir lewat demokrasi macam ini, PDIP dan Ketumnya Megawati. Dimana Mindset melodrama nampak masih tertanam kuat dibenak para pengikutnya yang kemarin bertarung di Pilkada Jabar dan Sumut. Intinya satu, telah terjadi kecurangan dan mereka terzalimi hingga kalah dalam versi hitung cepat.
Wacana melodrama apa daya telah terlanjur mengemuka. Hingga masyarakat mulai jengah dan melihat adanya ketidakcerdasan dari mereka yang menggugat hasil pemilukada. Boleh-boleh saja mengklaim menang seperti pasangan PDIP di Sumut yang mengatakan telah memenangkan pilkada dengan prosentase 32 persen berdasarkan hasil perhitungan manual mereka, atau seperti Oneng di Jabar yang sepertinya akan menggugat hingga level MK.
Tapi coba setidaknya imbangi cara demokrasi melodrama yang masih tradisional dengan konteks kekinian yang lebih scientific dan ilmiah. Kalau memang mau mengklaim menang, coba belajar ilmu statistik dulu dan memahami dulu apa itu yang namanya quickcount, seberapa besar validitasnya dan seberapa reliabel hasilnya. Kalau memang mau menggugat hingga MK, coba jangan emosional dulu dan siapkan data serta informasi tertulis yang valid yang tidak sekedar omongan saksi dari satu-dua orang. Sertakan etika politisi yang berilmu karena sekarang sudah tak zamannya lagi mengedepankan emosi belaka saat berdemokrasi.
Yasudahlah, gregetan saya melihat mereka-mereka ini... Singkat kata, selamat berjuang. Mari buka-bukaan hingga MK, jangan anarkis dan bawa-bawa preman. Negeri ini sudah cukup merasakan dampak kerusuhan yang mengatasnamakan demokrasi.
Beberapa contoh melodrama dari mereka yang teraniaya terlihat jelas beberapa tahun ini. Untuk yang baru saja terjadi seperti kasus Jokowi dan Dahlan Iskan. Saat Jokowi dibilang 'bodoh' oleh gubernur jawa tengah dan saat Dahlan Iskan seolah di 'bully' oleh anggota DPR. Untuk kasus Jokowi terjadi saat ia tak bersedia mereklamasi Pabrik Es Saripetojo untuk dijadikan Mall sesuai dengan perintah sang gubernur. Sehingga saking kesalnya, terlontarlah kata-kata 'bodoh' dari mulut si Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, kepada Jokowi yang dianggap tak tahu apa-apa mengenai masalah reklamasi ini.
Sedangkan kasus Dahlan Iskan berlatar belakang keteguhan Dahlan yang tak mau jika BUMN hanya dijadikan Sapi perah oleh beberapa oknum anggota dewan, hingga membuat anggota DPR meradang karena Dahlan berbicara terlalu banyak dengan mengatakan bahwa ia telah mengantongi nama-nama anggota yang memeras direksi BUMN. Kedua tokoh tadi merespon dengan cara yang mirip-mirip, act like a victim, berperilaku sebagai korban yang ujungnya mendapatkan dukungan dari masyarakat dengan dukungan media.
Gaya Dahlan dan Jokowi sesungguhnya tak asing lagi di negeri ini. SBY dan Megawati telah lama mengadaptasi gaya penokohan seperti ini. Seperti saat SBY seolah dizalimi dengan dipecat sebagai menteri oleh presiden saat itu, dan saat Megawati seolah dianiaya oleh pendukung PDI versi Suryadi lewat peristiwa 27 juli 1996. Kedua tokoh ini telah secara apik mengolah emosi dan simpati masyarakat untuk sebuah daya dorong dan dukungan yang bermanfaat nantinya ketika mereka menokohkan diri dalam pemilu. Terbukti jelas saat SBY dan Demokratnya memenangkan Pemilu 2009 dan saat PDIP serta Megawati memenangkan Pemilu tahun 1999.
Tak ada yang salah dari demokrasi melodrama macam ini, sah-sah saja selama masih dalam koridor yang wajar. Bahkan sangat cerdik karena dapat melihat sebuah celah tuk mendapatkan dukungan walau lewat sebuah drama pencitraan. Untuk sekarang dan sampai seterusnya demokrasi melodrama nampak masih mendominasi ruang berpolitik di negeri ini, bahkan hingga kini saat pilkada di beberapa daerah telah berjalan beberapa waktu lalu.
Demokrasi melodrama tak melulu mengenai siapa yang disakiti dan dipojokkan, karena kini demokrasi melodrama telah bertransformasi secara unik di sebuah partai yang lahir lewat demokrasi macam ini, PDIP dan Ketumnya Megawati. Dimana Mindset melodrama nampak masih tertanam kuat dibenak para pengikutnya yang kemarin bertarung di Pilkada Jabar dan Sumut. Intinya satu, telah terjadi kecurangan dan mereka terzalimi hingga kalah dalam versi hitung cepat.
Wacana melodrama apa daya telah terlanjur mengemuka. Hingga masyarakat mulai jengah dan melihat adanya ketidakcerdasan dari mereka yang menggugat hasil pemilukada. Boleh-boleh saja mengklaim menang seperti pasangan PDIP di Sumut yang mengatakan telah memenangkan pilkada dengan prosentase 32 persen berdasarkan hasil perhitungan manual mereka, atau seperti Oneng di Jabar yang sepertinya akan menggugat hingga level MK.
Tapi coba setidaknya imbangi cara demokrasi melodrama yang masih tradisional dengan konteks kekinian yang lebih scientific dan ilmiah. Kalau memang mau mengklaim menang, coba belajar ilmu statistik dulu dan memahami dulu apa itu yang namanya quickcount, seberapa besar validitasnya dan seberapa reliabel hasilnya. Kalau memang mau menggugat hingga MK, coba jangan emosional dulu dan siapkan data serta informasi tertulis yang valid yang tidak sekedar omongan saksi dari satu-dua orang. Sertakan etika politisi yang berilmu karena sekarang sudah tak zamannya lagi mengedepankan emosi belaka saat berdemokrasi.
Yasudahlah, gregetan saya melihat mereka-mereka ini... Singkat kata, selamat berjuang. Mari buka-bukaan hingga MK, jangan anarkis dan bawa-bawa preman. Negeri ini sudah cukup merasakan dampak kerusuhan yang mengatasnamakan demokrasi.
Friday, 8 March 2013
Generasi Anti Galau
Tiap zaman memiliki ceritanya masing-masing yang mungkin tak lagi bisa didapatkan di kemudian hari. Ketika dulu saat dimana usia saya beranjak 5 tahun, dunia hiburan anak-anak tidak kehabisan stock barang yang dapat dijual kepada konsumen mereka, bocah-bocah yang masih lugu dan lucu. Penyanyi-penyanyi seperti Bondan Prakoso, Enno Lerian, Ria Enes & Susan, dan lain sebagainya merupakan pengisi waktu luang dan masa kecil yang pas dipasangkan dengan anak-anak yang hidup dalam dunia keceriaan, kesenangan, riang gembira dan pastinya sesuai dengan masa tumbuh kembangnya.
Banyak yang lupa bahwa masa keemasan seorang anak berada di kisaran usia 0-5 tahun. Saat dimana kemampuan otak anak dalam menyerap informasi sangatlah tinggi. Semua jenis informasi dapat dengan mudah terserap, otak mereka sedang berkembang menuntut adanya asupan gizi berupa kualitas pengetahuan yang berharga. Maka begitu pentingnya peran orang tua di masa ini untuk memastikan bahwa hal yang baik lah yang diserap oleh anak-anak mereka. Sehingga bisa saja kualitas seorang anak nantinya di masa depan sedikit banyak bergantung dari bagaimana masa-masa golden age ini diisi. Tapi kini nampaknya banyak orang tua yang tak terlalu mempedulikan masa-masa keemasan ini hingga terkadang lalai membiarkan buah hatinya menyerap informasi yang justru lambat laun mempengaruhi karakternya kelak.
Jika masa itu diisi dengan pengalaman moral berharga, dialog kekeluargaan yang hangat, penanaman nilai-nilai prinsipil yang penting maka jadilah mereka, anak-anak itu nantinya, seorang yang kuat karakternya, tajam pemikirannya, dan lembut hatinya. Hingga tak heran jika kelak mereka tumbuh berkembang sebagai seorang manusia yang sholih dan mensholihkan lingkungannya, seorang manusia yang hebat dan menghebatkan manusia lainnya.
Jadi sangatlah miris melihat kini masa-masa keemasan itu diisi dengan informasi dan tayangan hiburan yang jauh dari nilai-nilai luhur dan kuat. Hiburan yang tak lagi membicarakan masalah keceriaan hari, aktivitas membantu teman-teman, mengenal lingkungan sekitar serta budayanya seperti lagu-lagu Enno Lerian, Bondan Prakoso, dan Trio Kwek-kwek. Tapi justru penuh dengan kegelisahan, percintaan yang tak kunjung ada habisnya, kesenduan ditinggal kekasih, dan berbagai hiburan yang tak lain belum cocok dalam masa tumbuh kembang mereka. Saat dimana mereka lebih membutuhkan fondasi yang kuat macam nilai-nilai moral dan karakter yang kuat dibandingkan membiarkan mereka terbangun dari fondasi yang lemah macam lagu-lagu galau dan sendu.
Dunia, dan kehidupan dimasa mendatang tak membutuhkan calon-calon pemimpin dan penerus yang cengeng dan kerap meratapi nasib. Hidup makin keras dan siapkan calon penerus kita untuk siap menghadapinya. Bangun karakter yang kuat dan hebat pada diri-diri mereka, hingga nantinya mereka siap menaklukan dunia.
Banyak yang lupa bahwa masa keemasan seorang anak berada di kisaran usia 0-5 tahun. Saat dimana kemampuan otak anak dalam menyerap informasi sangatlah tinggi. Semua jenis informasi dapat dengan mudah terserap, otak mereka sedang berkembang menuntut adanya asupan gizi berupa kualitas pengetahuan yang berharga. Maka begitu pentingnya peran orang tua di masa ini untuk memastikan bahwa hal yang baik lah yang diserap oleh anak-anak mereka. Sehingga bisa saja kualitas seorang anak nantinya di masa depan sedikit banyak bergantung dari bagaimana masa-masa golden age ini diisi. Tapi kini nampaknya banyak orang tua yang tak terlalu mempedulikan masa-masa keemasan ini hingga terkadang lalai membiarkan buah hatinya menyerap informasi yang justru lambat laun mempengaruhi karakternya kelak.
Jika masa itu diisi dengan pengalaman moral berharga, dialog kekeluargaan yang hangat, penanaman nilai-nilai prinsipil yang penting maka jadilah mereka, anak-anak itu nantinya, seorang yang kuat karakternya, tajam pemikirannya, dan lembut hatinya. Hingga tak heran jika kelak mereka tumbuh berkembang sebagai seorang manusia yang sholih dan mensholihkan lingkungannya, seorang manusia yang hebat dan menghebatkan manusia lainnya.
Jadi sangatlah miris melihat kini masa-masa keemasan itu diisi dengan informasi dan tayangan hiburan yang jauh dari nilai-nilai luhur dan kuat. Hiburan yang tak lagi membicarakan masalah keceriaan hari, aktivitas membantu teman-teman, mengenal lingkungan sekitar serta budayanya seperti lagu-lagu Enno Lerian, Bondan Prakoso, dan Trio Kwek-kwek. Tapi justru penuh dengan kegelisahan, percintaan yang tak kunjung ada habisnya, kesenduan ditinggal kekasih, dan berbagai hiburan yang tak lain belum cocok dalam masa tumbuh kembang mereka. Saat dimana mereka lebih membutuhkan fondasi yang kuat macam nilai-nilai moral dan karakter yang kuat dibandingkan membiarkan mereka terbangun dari fondasi yang lemah macam lagu-lagu galau dan sendu.
Dunia, dan kehidupan dimasa mendatang tak membutuhkan calon-calon pemimpin dan penerus yang cengeng dan kerap meratapi nasib. Hidup makin keras dan siapkan calon penerus kita untuk siap menghadapinya. Bangun karakter yang kuat dan hebat pada diri-diri mereka, hingga nantinya mereka siap menaklukan dunia.
Wednesday, 6 March 2013
Antara Tahta dan Popularitas
Ada pepatah Arab kuno yang mengatakan bahwa, jika kalian ingin terkenal, kencingi sumur zam-zam, niscaya kalian akan masyhur seantero Jazirah Arab. Bukan saja populer di tanah Arab, anda bahkan dikenal oleh orang-orang di penjuru dunia, dimana ternyata ada orang yang berani mengencingi sumur zam-zam yang disucikan umat muslim, sesuatu yang tak lazim, nekat, dan pastinya baru pertama kali terjadi.
Itu kalau berbicara mengenai ke-terkenal-an semata, sesuatu yang memang mudah dilakukan asal memiliki nyali yang besar. Tapi tentunya bukan terkenal seperti itu yang anda inginkan. Karena menjadi populer dengan cara seperti itu tak lain cuma memberikan anda kesengsaraan walau mungkin nama dan wajah anda terpampang manis di media massa.
Maka cara aman, lazim dan umum (seperti menjadi artis, memiliki prestasi dll) untuk menjadi terkenal adalah satu-satunya jalan jika anda ingin menikmati berbagai keuntungan atas kepopuleran anda. Wajah yang kerap menghiasi laman surat kabar dan citra yang terus disorot lewat layar kaca. Sesuatu yang dilakukan bukan dengan cara ekstrim yang bertentangan dengan aturan dan norma yang berlaku.
Selanjutnya saat anda telah menjadi populer dengan cara aman maka kini tergantung anda mengarahkannya. Jika sekedar mengisi rubrik di dalam surat kabar itu biasa dan sangat mudah. Tapi cobalah untuk berfokus pada 3 hal yang memang dituju manusia di dunia, harta, tahta, dan cinta. Karena tiga hal itu yang mayoritas dikejar oleh para tokoh-tokoh terkenal yang sukses.
Biasanya seorang yang terkenal dengan jalur menjadi artis atau dengan sebuah prestasi yang diraih akan secara tidak langsung mendapatkan dua hal yang menjadi tujuan manusia. Harta dan cinta. Mereka mudah menggaet wanita dan harta kan mengalir dengan sendirinya ke pundi-pundi tabungan mereka. Saat mereka diikat kontrak tuk berperan dalam sebuah film atau sekedar mendapat bayaran dari sebuah prestasi yang mereka miliki. Karena siapa yang bisa menolak berdekatan dengan seseorang yang populer dan memiliki banyak simpanan harta, nyaris tak ada dan itulah mengapa tiap orang berharap tuk menjadi terkenal.
Kini saat dua hal itu, harta dan cinta telah di dapat, mayoritas kaum populis kan beranjak ke tujuan selanjutnya, tahta yang akan melengkapi kesempurnaan mereka. Harta ada, cintapun dimiliki, maka tak heran tahta yang menjadi sasaran berikutnya. Jadi sangatlah relevan jika sekarang ini kita lihat kaum-kaum populer semacam artis, olahragawan, tokoh-tokoh masyarakat berbondong-bondong menceburkan diri ke jalur politik. Entah dengan menjadi calon anggota legislatif atau sekedar mencoba peruntungan sebagai calon kepala/wakil kepala daerah. Semua hal yang dapat dilakukan agar tujuan selanjutnya tercapai, menggapai tahta tuk meggenapi dua hal lainnya.
Mungkin itulah mengapa saat ini orang-orang terkenal bersaing mendapatkan tahta, sehingga jangan kaget jika kelak pemangku kekuasaan dan tahta dipegang oleh orang-orang populer. Yang mungkin sekedar memenuhi hasratnya dalam melengkapi kesempurnaan yang telah ia dapatkan sebelumnya, harta dan cinta. Padahal tahta tak hanya perkara obsesi buta yang hendak dicapai, tapi lebih dari itu, ia adalah sebuah amanah yang membutuhkan kompetensi dan profesionalitas tuk mengelolanya. Agar tatanan masyarakat yang dipangku dan diperintah olehnya menjadi lebih baik dan sejahtera.
Semoga kelak para kaum populer itu menyadari bahwa keberhasilan mereka nantinya meraih tahta tak serta merta membuat mereka layak, karena memimpin dan mengelola tahta butuh otak dan skill yang tidak sekedar mengandalkan ke-terkenal-an belaka.
Itu kalau berbicara mengenai ke-terkenal-an semata, sesuatu yang memang mudah dilakukan asal memiliki nyali yang besar. Tapi tentunya bukan terkenal seperti itu yang anda inginkan. Karena menjadi populer dengan cara seperti itu tak lain cuma memberikan anda kesengsaraan walau mungkin nama dan wajah anda terpampang manis di media massa.
Maka cara aman, lazim dan umum (seperti menjadi artis, memiliki prestasi dll) untuk menjadi terkenal adalah satu-satunya jalan jika anda ingin menikmati berbagai keuntungan atas kepopuleran anda. Wajah yang kerap menghiasi laman surat kabar dan citra yang terus disorot lewat layar kaca. Sesuatu yang dilakukan bukan dengan cara ekstrim yang bertentangan dengan aturan dan norma yang berlaku.
Selanjutnya saat anda telah menjadi populer dengan cara aman maka kini tergantung anda mengarahkannya. Jika sekedar mengisi rubrik di dalam surat kabar itu biasa dan sangat mudah. Tapi cobalah untuk berfokus pada 3 hal yang memang dituju manusia di dunia, harta, tahta, dan cinta. Karena tiga hal itu yang mayoritas dikejar oleh para tokoh-tokoh terkenal yang sukses.
Biasanya seorang yang terkenal dengan jalur menjadi artis atau dengan sebuah prestasi yang diraih akan secara tidak langsung mendapatkan dua hal yang menjadi tujuan manusia. Harta dan cinta. Mereka mudah menggaet wanita dan harta kan mengalir dengan sendirinya ke pundi-pundi tabungan mereka. Saat mereka diikat kontrak tuk berperan dalam sebuah film atau sekedar mendapat bayaran dari sebuah prestasi yang mereka miliki. Karena siapa yang bisa menolak berdekatan dengan seseorang yang populer dan memiliki banyak simpanan harta, nyaris tak ada dan itulah mengapa tiap orang berharap tuk menjadi terkenal.
Kini saat dua hal itu, harta dan cinta telah di dapat, mayoritas kaum populis kan beranjak ke tujuan selanjutnya, tahta yang akan melengkapi kesempurnaan mereka. Harta ada, cintapun dimiliki, maka tak heran tahta yang menjadi sasaran berikutnya. Jadi sangatlah relevan jika sekarang ini kita lihat kaum-kaum populer semacam artis, olahragawan, tokoh-tokoh masyarakat berbondong-bondong menceburkan diri ke jalur politik. Entah dengan menjadi calon anggota legislatif atau sekedar mencoba peruntungan sebagai calon kepala/wakil kepala daerah. Semua hal yang dapat dilakukan agar tujuan selanjutnya tercapai, menggapai tahta tuk meggenapi dua hal lainnya.
Mungkin itulah mengapa saat ini orang-orang terkenal bersaing mendapatkan tahta, sehingga jangan kaget jika kelak pemangku kekuasaan dan tahta dipegang oleh orang-orang populer. Yang mungkin sekedar memenuhi hasratnya dalam melengkapi kesempurnaan yang telah ia dapatkan sebelumnya, harta dan cinta. Padahal tahta tak hanya perkara obsesi buta yang hendak dicapai, tapi lebih dari itu, ia adalah sebuah amanah yang membutuhkan kompetensi dan profesionalitas tuk mengelolanya. Agar tatanan masyarakat yang dipangku dan diperintah olehnya menjadi lebih baik dan sejahtera.
Semoga kelak para kaum populer itu menyadari bahwa keberhasilan mereka nantinya meraih tahta tak serta merta membuat mereka layak, karena memimpin dan mengelola tahta butuh otak dan skill yang tidak sekedar mengandalkan ke-terkenal-an belaka.
Sunday, 24 February 2013
Memilih : Dilema Sang Idealis
Menjadi idealis itu terkadang makan hati, apalagi jika sang idealis terjun ke ranah praktis. Banyak hal yang tadinya indah diucapkan dengan penuh keyakinan menjadi hambar dan tak berarti kala menyentuh ranah aplikasi. Semua rencana dan gagasan seringkali berbenturan dengan realita lapangan. Entah berkaitan dengan birokrasinya atau mindset orang-orangnya.
Dari dulu bahkan hingga sekarang tiap orang punya opini masing-masing yang berkaitan dengan pengelolaan sistem pemerintahan yang tepat. Sebuah sistem yang berorientasi melayani masyarakat dan mensejahterakan mereka. Ada yang bilang hal seideal itu dapat terwujud bila pemimpin yang memegang kendali muncul dari kalangan idealis. Yang terbiasa membicarakan hal yang sepatutnya di dalam sebuah pemerintahan. Tapi ada juga yang berkata bahwa konsep idealitas tak sepenuhnya cocok dengan kondisi faktual yang bersifat relatif dan kompleks. Sehingga terkadang seorang idealis mau tak mau harus mampu berkompromi dan memiliki rentang toleransi yang besar terhadap hal yang tidak ideal.
Maka jadi sesuatu yang unik saat seorang aktivis,penggiat gerakan, dan komentator pemerintahan yang identik dengan konsep idealitas mencalonkan diri sebagai kandidat kepala daerah. Dimana posisi itu jelas-jelas kadung dipersepsi dengan kesemrawutan birokrasi dan pola berpikir. Maka jika tidak yakin mampu berkompromi dan mengubah kekusutan itu, yang ada justru cibiran dan kekecewaan kepada sang idealis.
Tapi ya semuanya kembali kepada para aktivis,komentator,dan penggiat yang idealis. Kalau memang merasa mampu silahkan mencoba, tak ada salahnya dan akan menjadi capaian yang luar biasa saat berhasil. Tapi bagi saya pribadi, menjadi aktivis, penggiat dan komentator yang idealis hendaknya membuat mereka menyadari bahwa pilihan profesi yang tepat memang hal-hal yang berbau idealis,yang jauh dari kesan negatif.
Seperti saat komentator sepakbola menjadi pelatih, atau saat penggiat anti korupsi menjadi pimpinan KPK. Karena setidaknya jika mereka gagal disana, tak ada kekecewaan karena nilai-nilai idealitas tak tergerus dan tetap terjaga. Berbeda saat mereka sang aktivis,penggiat, dan komentator idealis turun dalam kubangan lumpur seperti pilkada, capaian keberhasilan belum pasti, malah nilai-nilai dalam kritik idealis yang selama ini mereka agungkan berbenturan dengan fakta kompromi di lapangan,yang serba semrawut.
Sinis? Tidak juga, saya hanya gemes dan terkadang ingin mentoyor kepala sang komentator,aktivis idealis yang terkadang hanya bisa mengkritik karena memang lebih enak mengkritik dibandingkan berbicara praktek faktual di lapangan. Selamat memilih, dan semoga si komentator, aktivis, penggiat idealis tetap di jalan kebenaran
Dari dulu bahkan hingga sekarang tiap orang punya opini masing-masing yang berkaitan dengan pengelolaan sistem pemerintahan yang tepat. Sebuah sistem yang berorientasi melayani masyarakat dan mensejahterakan mereka. Ada yang bilang hal seideal itu dapat terwujud bila pemimpin yang memegang kendali muncul dari kalangan idealis. Yang terbiasa membicarakan hal yang sepatutnya di dalam sebuah pemerintahan. Tapi ada juga yang berkata bahwa konsep idealitas tak sepenuhnya cocok dengan kondisi faktual yang bersifat relatif dan kompleks. Sehingga terkadang seorang idealis mau tak mau harus mampu berkompromi dan memiliki rentang toleransi yang besar terhadap hal yang tidak ideal.
Maka jadi sesuatu yang unik saat seorang aktivis,penggiat gerakan, dan komentator pemerintahan yang identik dengan konsep idealitas mencalonkan diri sebagai kandidat kepala daerah. Dimana posisi itu jelas-jelas kadung dipersepsi dengan kesemrawutan birokrasi dan pola berpikir. Maka jika tidak yakin mampu berkompromi dan mengubah kekusutan itu, yang ada justru cibiran dan kekecewaan kepada sang idealis.
Tapi ya semuanya kembali kepada para aktivis,komentator,dan penggiat yang idealis. Kalau memang merasa mampu silahkan mencoba, tak ada salahnya dan akan menjadi capaian yang luar biasa saat berhasil. Tapi bagi saya pribadi, menjadi aktivis, penggiat dan komentator yang idealis hendaknya membuat mereka menyadari bahwa pilihan profesi yang tepat memang hal-hal yang berbau idealis,yang jauh dari kesan negatif.
Seperti saat komentator sepakbola menjadi pelatih, atau saat penggiat anti korupsi menjadi pimpinan KPK. Karena setidaknya jika mereka gagal disana, tak ada kekecewaan karena nilai-nilai idealitas tak tergerus dan tetap terjaga. Berbeda saat mereka sang aktivis,penggiat, dan komentator idealis turun dalam kubangan lumpur seperti pilkada, capaian keberhasilan belum pasti, malah nilai-nilai dalam kritik idealis yang selama ini mereka agungkan berbenturan dengan fakta kompromi di lapangan,yang serba semrawut.
Sinis? Tidak juga, saya hanya gemes dan terkadang ingin mentoyor kepala sang komentator,aktivis idealis yang terkadang hanya bisa mengkritik karena memang lebih enak mengkritik dibandingkan berbicara praktek faktual di lapangan. Selamat memilih, dan semoga si komentator, aktivis, penggiat idealis tetap di jalan kebenaran
Friday, 1 February 2013
Politik itu Kotor (katanya)
Ada
adagium yang mengatakan Politik itu kotor, jadi Agama yang bersih dan suci tak
usahlah ikut-ikutan berpolitik, nanti malah merusak citra dan mencoreng
nilai-nilai Agama itu sendiri. Maka tak heran di barat sana, dimana kesucian simbol-simbol keagamaan
dijunjung tinggi, mengharamkan Agama ikut campur dalam urusan Negara. Ia
terpisah dan jadi urusan pribadi masing-masing individu, biarkan Agama tetap
steril dan biarkan kaum sekuler yang berkubang dalam kotornya perpolitikan.
Dalam taraf tertentu, mindset sekulerisme nampak diterima
dengan baik di sebagian Negara muslim, tak terkecuali di Indonesia. Oke,
saya tahu Indonesia
bukan Negara sekuler karena jelas terlihat, nilai-nilai relijiusitas tidak
sekedar menjadi urusan masing-masing individu, tapi telah menjadi bagian dari
kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dimana tokoh-tokoh agama merupakan tonggak berdirinya Negara
ini dan mewarnai sendi kehidupannya. Walau mungkin tetap harus diakui, Negara
ini mau tidak mau berlandaskan pancasila yang tidak secara tegas menjadikan
agama sebagai landasan bernegara meski di sila pertama pancasila tertulis jelas
kata-kata Tuhan di sana.
Maka tidak heran dengan ambigunya nilai-nilai yang
dituliskan dalam pancasila membuat aplikasi kongkret ideologi ini merupakan
tafsiran masing-masing kelompok, entah kelompok agamis, kelompok banci ataupun
kelompok sekuler. Yang agamis mengatakan bahwa berpolitik dan bernegara juga
merupakan bagian dari beragama, ada tanggung jawab kemanusiaan dan amanah tuhan
disana, sehingga ikut andil di dalamnya merupakan sebuah bentuk keharusan.
Yang banci mengatakan ada hal-hal yang secara alami tak
dapat dicampuri agama hingga tak selamanya berpolitik itu cocok dengan konsep
keagamaan, jadi tak usahlah meributkan cara agama dalam bernegara karena memang
tak selamanya agama itu cocok dengan kehidupan (?).
Sedangkan yang
terakhir, yang sekuler mengatakan bahwa politik itu nature nya memang kotor, menghalalkan segala cara untuk mencapai
tujuan, jadi takkan pernah cocok dengan agama yang secara jelas menyatakan
bahwa kebaikan dan keburukan selamanya takkan bersatu. Jadi biarkan sekulerisme
bekerja dan silahkan para tokoh agama duduk manis menjalankan nilai-nilai
rohani.
--
Dan kini nampak jelas terlihat, politik memang dimaknai
kotor oleh sebagian masyarakat negeri ini. Termakan isu yang memang secara
sistematis menempatkan politik tak jauh dari pemakluman akan sebuah kebusukan.
Tak apalah kotor dan bau-bau sedikit, toh wajar saja bukan kalau politik itu
memang tengik? Jadi tak usah heran jika melihat ada politikus yang terjerat
kasus hukum karena memang itu sudah nature
nya. Ya dihujat sedikit dan dicela sesekali tak apalah, toh rakyat cepat lupa
lagipula kami bukan dari kelompok agama, jadi wajarlah melakukan salah, kami
bukan manusia suci.
Standar politik yang terlampau rendah jadi sesuatu yang
lumrah. Sampai-sampai jika ada yang keluar dari mainstream yang ada seolah
dipaksa untuk turun bersama dalam kubangan yang sama. Maka tak sepatutnya jika ada
kelompok agamis berpolitik yang bersih, partai yang profesional, kader yang peduli
dan perilaku yang membangun, karena itu semua bukan sesuatu yang wajar untuk
sebuah laku yang bernama politik di negeri ini. Politik harus tetap pada
maqomnya, sesuatu yang kotor dan busuk, dan
jika ada yang membelot, selayaknya tuk ditempatkan kembali sesuai dengan posisi
sebenarnya meski itu dari kelompok agamis sekalipun.
Maka tak heran, apapun dilakukan demi menempatkan kembali
sebuah organ politik yang bersih pada posisi yang selayaknya bersama para
kubangers, entah dengan pembunuhan karakter ataupun opini yang menyudutkan.
Syaratnya mudah, cari saja satu cela dari mereka dan ungkapkanlah seramai
mungkin, hingga seolah tak tersisa lagi kebaikan yang ada pada mereka.
Sakit, kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat
negeri ini sekarang. Ketika klaim bersih dan jargon professional takkan pernah
tersandang untuk sebuah institusi politik meski ia berasal dari kelompok agama.
Karena sekali saja mengaku bersih, ketika itu pula puluhan, ribuan bahkan
jutaan orang akan berbondong-bondong mencari tahu kesalahan anda dan dengan
bangga mengatakan.. “tuh kan, gw bilang juga
apa, make ngaku-ngaku bersih dan anti korupsi sih, make bawa-bawa agama sih,
sekarang baru ketauan kan??”
Ah negeriku..
Foto : http://fc06.deviantart.net/fs70/f/2011/330/2/e/sejuk_by_karman87-d4hbq2l.jpg
Friday, 25 January 2013
Mr. Almost
Kala itu saya masih cupu dan keliatan sekali bahwa saya tidak tahu apa-apa tentang UI. Berangkat ke Depok saja harus cari barengan dulu. Untunglah beberapa teman se-SMA ada juga yang lulus di UI, setidaknya saya ada teman ke Depok untuk mencari tahu informasi pasca kelulusan SPMB, ditambah lagi beberapa senior pun nampak helpfull untuk membantu junior-juniornya yang baru lulus.
Tahun itu Afee (Admision Fee) untuk kali kedua diberlakukan setelah setahun sebelumnya untuk kali pertama UI membandrol harga masuknya dengan nilai selangit. Fakultas sosial rata-rata dipatok 10 Juta (termasuk psikologi), FK dan FT dipatok lebih tinggi lagi, 25 Juta, sedangkan MIPA dan FIB kalau tidak salah agak lebih ringan, 5 juta rupiah. Kalau dipikir-pikir, ah tak mungkin lah bapak saya bisa membayar sebesar itu, tapi bismillah, semoga permohonan keringanan biaya Afee dapat dikabulkan.
Singkat cerita, permohonan keringanan Afee sampai pada tahap wawancara dengan orang tua. Ibu yang saat itu datang bersama saya selalu berkata, "yang penting kita apa adanya, kalau kita memang mampunya bayar sekian, ya kita bayar sekian", yup, betul sekali, kejujuran akan membawa keberkahan. Kamipun berjalan melintasi pelataran parkir psikologi yang berada di samping Gedung H, yang ditempati oleh salah satu minimarket. Di saat itulah saya pertama kali berpapasan dengannya, ia berjalan bersama ayahnya menuju tempat yang sama dengan kami. Dari dulu hingga kini perawakannya tak banyak berubah, kurus, rambut cepak dan senyuman yang selalu nampak menghiasi wajahnya, ia si Mr. Almost.
Kami pun berpisah dengan orang tua masing-masing, sembari berdoa semoga diberikan yang terbaik. Sayapun berkenalan dengannya sembari menyebut nama masing-masing. Ada yang unik dari namanya "nama lu unik juga, gw panggil nama belakangnya aja ya", dan ia pun tak masalah dipanggil dengan nama itu.
"abis ini mau kemana?" dengan tampang bodoh aku bertanya padanya
"lah? lo gak tau? kan ada ngumpul di belakang MUI, samping danau, yaudah bareng gw aja, gw juga mau kesana"
Jujur, saya betul-betul buta dengan acara kemahasiswaan, atau ospek di fakultas saya.
Dan sampailah kami ditepi danau dengan perkenalan dari para senior berjaket kuning, disertai beberapa aturan main selama proses orientasi mahasiswa baru. Tak banyak saya ingat saat itu, tapi yang jelas, salah seorang senior saya di SMA, yang saat itu jadi panitia, mengompor-ngompori saya untuk maju sebagai calon ketua angkatan, dan entah angin dari mana, dan bisikan setan apa, sayapun maju ke depan sebagai kandidat ketua angkatan. argh.. dan ternyata, dia pun ikut maju.
Sedikit perkenalan, dan basa basi busuk, kami bertiga pun akhirnya dipilih untuk menjadi ketua angkatan. Pastinya bukan saya yang terpilih, kalau sampai terpilih, jalan hidup saya mungkin berbeda *lebay. Saya tak terpilih, dia pun tak terpilih, lalu siapa yang terpilih? ternyata orang yang lebih baik dari kami. Karena saat itu pertama kalinya saya melihat ia dalam sebuah pemilihan, maka officially, itu untuk pertama kalinya ia menjadi Mr. Almost. Hampir hampir jadi ketua.
Keesokan harinya, saya bertemu kembali dengannya, kali ini di MUI. Dan sayapun heran, ia yang notabene maba banyak mengenal orang-orang di masjid, dan belakangan saya tahu, tahun sebelumnya ia kuliah di FT UI, Ah pantesan. Kamipun sedikit banyak saling bercerita dan berdiskusi tentang banyak hal. Ragam pemikiran dan ide briliannya menjadikan diskusi dan pertemuan dengannya jadi sesuatu yang mengasyikkan. Sehingga tak heran iapun diamanahi sebagai Wakil Kepala bidang Kajian Strategis di Senat F.Psi UI. wuiih.. keren kan? :p
Karir politiknya (heh?), maksudnya karir kemahasiswaannya pun berlanjut dengan dicalonkannya ia menjadi salah satu kandidat Ketua Lembaga dakwah Fakultas bersama 1 orang rekan, dan si ketua angkatan. Fit and Proper Test pun berlangsung dan tibalah hari pengumuman siapa ketua yang baru. Pemilihan tidak dilakukan dengan voting, tapi dengan musyawarah, dan akhirnya terpilihlah orang yang terbaik diantara mereka, kali ini bukan si ketua angkatan, dan bukan dia (lagi), officially, kali kedua menjadi Mr. Almost. hehe.
Waktu berjalan, dan sayapun makin tahu sosok si Mr. Almost. Orang yang amanah, sangat hati-hati dan penuh perhitungan (maksud lu lelet gar?, bukan..suudzhon aja sih.hehe). Sosok yang terkadang lucu, tapi juga frontal dan sarkas dalam becanda. hahaha. itu mungkin yang membuat si ibu wakilnya dulu di lembaga kemahasiswaan jatuh hati padanya. cuit cuit.. :p, (padahal dua orang ini dulu sering bentrok, gak nyangka bakal jadi)
Menjelang akhir masa studi di fakultas, ia tak gampang menyerah. Ia pun kembali maju sebagai kandidat Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru di F. Psi. Kali ini yang maju ada empat orang, 3 orang dari angkatan saya, dan satu orang lagi dari angkatan 2003 (wuih.. senior nih). Persaingan pun sengit, dan berdasarkan hasil FPT akhirnya yang terpilih adalah sang senior. Dan officially, untuk ketiga kalinya, ia menjadi Mr. Almost. hehe.
Diluar kampus, sayapun sering berdiskusi dengannya, membicarakan banyak hal tentang apapun, dari urusan politik kampus sampai masalah negara. Bahkan beberapa kali saya menginap di rumahnya. Sungguh diskusi dan interaksi yang menyenangkan. Iapun sosok yang berani dan keren kalau menurut saya, dikala orang-orang masih cupu dan bingung mau melakukan apa nantinya setelah lulus, dia melakukan gebrakan. Lelaki pertama di angkatan saya yang menikah yang belum lulus dan berhasil menggaet si ibu wakilnya jadi istri.. haha..
Dan hari ini, ia berulang tahun yang ke...*sensor, seorang bapak muda, suami teladan, dan sahabat yang hebat. Aidil Miladika Irwan Sujarwo, Suami dari Dewi Kumalasari dan ayah dari Fatih Taqiy Daniswara, semoga limpahan berkah selalu tercurah pada anda dan keluarga, tetap istiqomah dan jangan pernah berhenti tersenyum. :)
foto: http://minimalistica.org/wp-content/uploads/2010/11/Christopher-Sylvester-And-Matt-Tolfrey-%E2%80%93-Almost-There.jpg
Tahun itu Afee (Admision Fee) untuk kali kedua diberlakukan setelah setahun sebelumnya untuk kali pertama UI membandrol harga masuknya dengan nilai selangit. Fakultas sosial rata-rata dipatok 10 Juta (termasuk psikologi), FK dan FT dipatok lebih tinggi lagi, 25 Juta, sedangkan MIPA dan FIB kalau tidak salah agak lebih ringan, 5 juta rupiah. Kalau dipikir-pikir, ah tak mungkin lah bapak saya bisa membayar sebesar itu, tapi bismillah, semoga permohonan keringanan biaya Afee dapat dikabulkan.
Singkat cerita, permohonan keringanan Afee sampai pada tahap wawancara dengan orang tua. Ibu yang saat itu datang bersama saya selalu berkata, "yang penting kita apa adanya, kalau kita memang mampunya bayar sekian, ya kita bayar sekian", yup, betul sekali, kejujuran akan membawa keberkahan. Kamipun berjalan melintasi pelataran parkir psikologi yang berada di samping Gedung H, yang ditempati oleh salah satu minimarket. Di saat itulah saya pertama kali berpapasan dengannya, ia berjalan bersama ayahnya menuju tempat yang sama dengan kami. Dari dulu hingga kini perawakannya tak banyak berubah, kurus, rambut cepak dan senyuman yang selalu nampak menghiasi wajahnya, ia si Mr. Almost.
Kami pun berpisah dengan orang tua masing-masing, sembari berdoa semoga diberikan yang terbaik. Sayapun berkenalan dengannya sembari menyebut nama masing-masing. Ada yang unik dari namanya "nama lu unik juga, gw panggil nama belakangnya aja ya", dan ia pun tak masalah dipanggil dengan nama itu.
"abis ini mau kemana?" dengan tampang bodoh aku bertanya padanya
"lah? lo gak tau? kan ada ngumpul di belakang MUI, samping danau, yaudah bareng gw aja, gw juga mau kesana"
Jujur, saya betul-betul buta dengan acara kemahasiswaan, atau ospek di fakultas saya.
Dan sampailah kami ditepi danau dengan perkenalan dari para senior berjaket kuning, disertai beberapa aturan main selama proses orientasi mahasiswa baru. Tak banyak saya ingat saat itu, tapi yang jelas, salah seorang senior saya di SMA, yang saat itu jadi panitia, mengompor-ngompori saya untuk maju sebagai calon ketua angkatan, dan entah angin dari mana, dan bisikan setan apa, sayapun maju ke depan sebagai kandidat ketua angkatan. argh.. dan ternyata, dia pun ikut maju.
Sedikit perkenalan, dan basa basi busuk, kami bertiga pun akhirnya dipilih untuk menjadi ketua angkatan. Pastinya bukan saya yang terpilih, kalau sampai terpilih, jalan hidup saya mungkin berbeda *lebay. Saya tak terpilih, dia pun tak terpilih, lalu siapa yang terpilih? ternyata orang yang lebih baik dari kami. Karena saat itu pertama kalinya saya melihat ia dalam sebuah pemilihan, maka officially, itu untuk pertama kalinya ia menjadi Mr. Almost. Hampir hampir jadi ketua.
Keesokan harinya, saya bertemu kembali dengannya, kali ini di MUI. Dan sayapun heran, ia yang notabene maba banyak mengenal orang-orang di masjid, dan belakangan saya tahu, tahun sebelumnya ia kuliah di FT UI, Ah pantesan. Kamipun sedikit banyak saling bercerita dan berdiskusi tentang banyak hal. Ragam pemikiran dan ide briliannya menjadikan diskusi dan pertemuan dengannya jadi sesuatu yang mengasyikkan. Sehingga tak heran iapun diamanahi sebagai Wakil Kepala bidang Kajian Strategis di Senat F.Psi UI. wuiih.. keren kan? :p
Karir politiknya (heh?), maksudnya karir kemahasiswaannya pun berlanjut dengan dicalonkannya ia menjadi salah satu kandidat Ketua Lembaga dakwah Fakultas bersama 1 orang rekan, dan si ketua angkatan. Fit and Proper Test pun berlangsung dan tibalah hari pengumuman siapa ketua yang baru. Pemilihan tidak dilakukan dengan voting, tapi dengan musyawarah, dan akhirnya terpilihlah orang yang terbaik diantara mereka, kali ini bukan si ketua angkatan, dan bukan dia (lagi), officially, kali kedua menjadi Mr. Almost. hehe.
Waktu berjalan, dan sayapun makin tahu sosok si Mr. Almost. Orang yang amanah, sangat hati-hati dan penuh perhitungan (maksud lu lelet gar?, bukan..suudzhon aja sih.hehe). Sosok yang terkadang lucu, tapi juga frontal dan sarkas dalam becanda. hahaha. itu mungkin yang membuat si ibu wakilnya dulu di lembaga kemahasiswaan jatuh hati padanya. cuit cuit.. :p, (padahal dua orang ini dulu sering bentrok, gak nyangka bakal jadi)
Menjelang akhir masa studi di fakultas, ia tak gampang menyerah. Ia pun kembali maju sebagai kandidat Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru di F. Psi. Kali ini yang maju ada empat orang, 3 orang dari angkatan saya, dan satu orang lagi dari angkatan 2003 (wuih.. senior nih). Persaingan pun sengit, dan berdasarkan hasil FPT akhirnya yang terpilih adalah sang senior. Dan officially, untuk ketiga kalinya, ia menjadi Mr. Almost. hehe.
Diluar kampus, sayapun sering berdiskusi dengannya, membicarakan banyak hal tentang apapun, dari urusan politik kampus sampai masalah negara. Bahkan beberapa kali saya menginap di rumahnya. Sungguh diskusi dan interaksi yang menyenangkan. Iapun sosok yang berani dan keren kalau menurut saya, dikala orang-orang masih cupu dan bingung mau melakukan apa nantinya setelah lulus, dia melakukan gebrakan. Lelaki pertama di angkatan saya yang menikah yang belum lulus dan berhasil menggaet si ibu wakilnya jadi istri.. haha..
Dan hari ini, ia berulang tahun yang ke...*sensor, seorang bapak muda, suami teladan, dan sahabat yang hebat. Aidil Miladika Irwan Sujarwo, Suami dari Dewi Kumalasari dan ayah dari Fatih Taqiy Daniswara, semoga limpahan berkah selalu tercurah pada anda dan keluarga, tetap istiqomah dan jangan pernah berhenti tersenyum. :)
foto: http://minimalistica.org/wp-content/uploads/2010/11/Christopher-Sylvester-And-Matt-Tolfrey-%E2%80%93-Almost-There.jpg
Sunday, 20 January 2013
Antara yang Memimpin dan yang Dipimpin
"karena saat itu Abu Bakar, Umar dan Utsman memimpin orang-orang seperti aku, sedangkan saat ini aku memimpin orang-orang seperti kalian" Ali bin Abi Thalib, saat ditanya mengapa kondisi begitu mengenaskan di masa kepemimpinannya.
Sesuatu yang dipilih hakikatnya memiliki kesamaan dengan yang memilih atau paling tidak, ada sebuah preferensi, hal menarik yang membuat ia dipilih oleh yang memilih. Contohnya ketika kita memilih obat batuk dengan merek A. Kita meminum obat batuk A karena cocok dengan batuk yang kita alami, sesederhana itu. Contoh lainnya ketika kita memilih shampoo dengan merek B. Kita memakai shampoo B karena sesuai dengan jenis rambut kita yang berminyak dan mudah rontok, maka kita pun memilih shampoo B. Maka semua hal dipilih karena sesuai dengan yang memilih. Biasanya seperti itu.
Sama halnya saat kita memilih pemimpin. Kalau yang menjadi pemimpin, orang yang dipilih menjadi pemimpin adalah seorang yang gemar menipu, pintar memanipulasi, egois dan tidak peka, mungkin saja yang memilih pun tidak jauh berbeda dengan yang dipilih. Jadi bagi saya tidak perlu lah kita terlalu mengkritik, menghujat dan menghina para wakil rakyat yang belum sesuai dengan harapan kita, yang masih saja akrab dengan manipulasi, korupsi, dan hipokrisme. Karena bisa jadi kita tak jauh berbeda dengan mereka.
Tapi bagaimanapun saya paham dengan kondisi rakyat saat ini Tak lagi mempan dengan nasihat dan petuah seperti apa yang saya tuliskan di atas. Kesulitan dan kerasnya hidup membuat kata-kata manis tak lagi mampu meredam kemarahan mereka kepada para pemimpinnya. Namun, apa lagi yang dapat kita lakukan? selalu menghujat dengan kata-kata kasar dan mengeluh atas perilaku para wakil rakyat? apa hal itu dapat mengubah keadaan? panggil saya jika cara itu berhasil memperbaiki kondisi, saya akan mendukung anda sepenuhnya, tapi kenyataannya belum bukan?
Mengapa kita memilih sistem demokrasi dalam memilih pemimpin? karena kita dapat memilih secara transparan, adil, dan terbuka orang-orang terbaik yang ada di tengah-tengah kita sebagai seorang pemimpin. Kalau yang terpilih justru orang-orang yang buruk? ada dua kemungkinan, kita yang belum bijak dalam memilih pemimpin, atau kitalah yang memang buruk sehingga tak heran pemimpin yang terpilihpun buruk.
"Normatif, pasti akhirnya menyuruh rakyat untuk memperbaiki dirinya terlebih dulu, basi bro..." Ya ya, apapun itu, bagaimanapun reaksi kita, meluapkan kemarahan atau sekedar berkeluh kesah, keadaannya akan tetap sama, rakyat dengan kesengsaraannya, dan wakil rakyat dengan perilakunya. Tapi setidaknya, bergerak terus dalam memperbaiki diri, lebih baik dan bermanfaat dibandingkan diam membisu dan pasrah menerima takdir.
Nobody can give you freedom. Nobody can give you equality or justice or anything. If you're a man, you take it. - Malcolm X
foto : http://mimadrasahmerdeka.files.wordpress.com/2009/10/pemimpin-untuk-rakyat.jpg
Sesuatu yang dipilih hakikatnya memiliki kesamaan dengan yang memilih atau paling tidak, ada sebuah preferensi, hal menarik yang membuat ia dipilih oleh yang memilih. Contohnya ketika kita memilih obat batuk dengan merek A. Kita meminum obat batuk A karena cocok dengan batuk yang kita alami, sesederhana itu. Contoh lainnya ketika kita memilih shampoo dengan merek B. Kita memakai shampoo B karena sesuai dengan jenis rambut kita yang berminyak dan mudah rontok, maka kita pun memilih shampoo B. Maka semua hal dipilih karena sesuai dengan yang memilih. Biasanya seperti itu.
Sama halnya saat kita memilih pemimpin. Kalau yang menjadi pemimpin, orang yang dipilih menjadi pemimpin adalah seorang yang gemar menipu, pintar memanipulasi, egois dan tidak peka, mungkin saja yang memilih pun tidak jauh berbeda dengan yang dipilih. Jadi bagi saya tidak perlu lah kita terlalu mengkritik, menghujat dan menghina para wakil rakyat yang belum sesuai dengan harapan kita, yang masih saja akrab dengan manipulasi, korupsi, dan hipokrisme. Karena bisa jadi kita tak jauh berbeda dengan mereka.
Tapi bagaimanapun saya paham dengan kondisi rakyat saat ini Tak lagi mempan dengan nasihat dan petuah seperti apa yang saya tuliskan di atas. Kesulitan dan kerasnya hidup membuat kata-kata manis tak lagi mampu meredam kemarahan mereka kepada para pemimpinnya. Namun, apa lagi yang dapat kita lakukan? selalu menghujat dengan kata-kata kasar dan mengeluh atas perilaku para wakil rakyat? apa hal itu dapat mengubah keadaan? panggil saya jika cara itu berhasil memperbaiki kondisi, saya akan mendukung anda sepenuhnya, tapi kenyataannya belum bukan?
Mengapa kita memilih sistem demokrasi dalam memilih pemimpin? karena kita dapat memilih secara transparan, adil, dan terbuka orang-orang terbaik yang ada di tengah-tengah kita sebagai seorang pemimpin. Kalau yang terpilih justru orang-orang yang buruk? ada dua kemungkinan, kita yang belum bijak dalam memilih pemimpin, atau kitalah yang memang buruk sehingga tak heran pemimpin yang terpilihpun buruk.
"Normatif, pasti akhirnya menyuruh rakyat untuk memperbaiki dirinya terlebih dulu, basi bro..." Ya ya, apapun itu, bagaimanapun reaksi kita, meluapkan kemarahan atau sekedar berkeluh kesah, keadaannya akan tetap sama, rakyat dengan kesengsaraannya, dan wakil rakyat dengan perilakunya. Tapi setidaknya, bergerak terus dalam memperbaiki diri, lebih baik dan bermanfaat dibandingkan diam membisu dan pasrah menerima takdir.
Nobody can give you freedom. Nobody can give you equality or justice or anything. If you're a man, you take it. - Malcolm X
foto : http://mimadrasahmerdeka.files.wordpress.com/2009/10/pemimpin-untuk-rakyat.jpg
Tuesday, 15 January 2013
Panas : antara pedagang, mahasiswa, dan penumpang kereta
Tidak biasanya, kemarin cuaca sungguh panas seharian. Dari jakarta hingga depok sinar hangat menyinari kedua wilayah itu. Padahal beberapa hari sebelumnya hujan secara merata mengguyur jakarta dan daerah sekitarnya. Tapi kemarin tidak biasanya, seperti ada maksud yang ingin disampaikan, ada hikmah di balik ini.Panas menyengat dan orang-orang mulai berdatangan. Stasiun pondok Cina mulai sesak dengan massa yang bercampur. Mahasiswa, pedagang, dan orang-orang berbadan besar dengan linggis di tangan. Terik matahari tidak tertahankan lagi, provokasi orang-orang berbadan besar itu nampak menyulut emosi sebagian pedagang.
Bagaimana tidak?? sumber penghidupan mereka dihancurkan, kios yang selama ini menjadi penopang nyawa dibongkar paksa. Tak ada tawar menawar, hanya linggis dan parang yang berbicara. Sedangkan rekan-rekan mahasiswa tak mampu lagi meredakan amarah dan emosi pedagang, hingga tak kuasa menahan mereka memblokir rel kereta.
Suasana sungguh kacau kawan, polisi pun tak punya nyali. Beberapa orang terkena pukulan bahkan linggis, pedagang dan mahasiswa pun hanya bisa meringis. Panas, ya betul, saat itu sungguh panas, karena memang sudah saatnya kita panas melihat kedzoliman yang sudah jelas. Jika kau lihat kedzholiman, ubah dengan tanganmu, bila tidak, dengan ucapanmu, dan yang terakhir jika kau tak mampu maka cukup dengan hatimu, karena itu selemah lemahnya iman. Dan kami jelas-jelas masih kuat beriman.
Panas hari kemarin diganti oleh sang Khaliq dengan Hujan seharian di hari esok, seolah tahu sudah saatnya mengguyur hati dengan kesejukan. Biarlah kini semuanya terendapkan dulu dengan Rahmat turunnya hujan. Biarlah guyurannya sementara waktu menghapus perih yang dirasa. Jika semua telah kembali tenang, bergerak pun lebih lega tuk dilakukan.
Panas kemarin mengundang panas semua orang, tidak hanya pedagang, para penumpang yang terlunta turut merasakan, emosi mereka tersulut. Tapi setidaknya panas kami berbeda kawan, karena panas kami jelas punya maksud dan tertulis jelas dalam syariat.
Untuk Kalian yang terus berjuang.
Monday, 14 January 2013
'Umar : blusukan before it was cool
Apa saja dilakukan pejabat negeri ini demi mendapat dukungan rakyat. Entah itu iklan di TV, Baliho, atau spanduk, atau ada juga yang langsung menyapa para pendukungnya yang ternyata luar biasa banyak, satu lapangan penuh meneriakkan dan mengelu-elukan nama mereka, terlepas dari faktor U (baca:uang) yang berbicara di sana, tapi usaha mereka patut diapresiasi, setidaknya memberikan rakyat hiburan tersendiri, diliput media dan kampung mereka menjadi ramai.
Ada trend terbaru dalam mencari dukungan rakyat yang dipopulerkan oleh Gubernur Jakarta saat ini, Jokowi, orang-orang menyebutnya Blusukan. Di dalam kamus Bahasa Indonesia blusukan nampaknya belum terdaftar secara resmi, tapi di kamus masyarakat jawa, blusukan secara harfiah berarti masuk. Secara definitif blusukan berarti masuk dari kampung ke kampung menyapa masyarakat secara lansung. Dimana blusukan ini jadi ciri khas jokowi dalam kampanye pilkada DKI yang lalu.
Blusukan efektif menggaet hati masyarakat. Pemimpin yang biasa mereka lihat hanya di TV, sekarang menyapa mereka secara langsung tanpa ada batas tanpa ada sekat. Jarak yang dulu memisahkan dan kesan pemimpin yang elitis kini hilang. Masyarakat dapat bertanya langsung pada pemimpinnya perihal permasalahan mereka, mengeluh, mengeluarkan uneg-uneg tanpa dibatasi dinding-dinding protokoler. Masyarakat senang, keluh kesah mereka didengar, karena terkadang mereka hanya butuh didengar. Si pemimpin pun ikut senang, simpati berdatangan, target suarapun dalam genggaman. Efektif memang, dan itu terbukti saat Jokowi menang.
Namanya juga trend, pasti banyak yang meniru. Selain Jokowi beberapa pejabat juga mengikuti trend blusukan ini, sebut saja ARB, HADE 2.0 (Cagub Jabar), Rieke-Teten (Cagub Jabar), bahkan SBY pun juga ikut-ikutan. Beberapa kali SBY terlihat tengah turun ke tengah masyarakat, menyapa mereka langsung. Blusukan jadi begitu populer.
--
Ah tapi bagi saya hal itu tidak luar biasa, apa yang Jokowi populerkan sudah jauh-jauh hari dilakukan oleh salah seorang pemimpin Islam pengganti Abu Bakar, Khalifah kedua, Amirul Mu'minin, Umar Ibn Khattab RA. Sejarah mencatat kegemilangan Umar dalam merevolusi arti kepemimpinan. Aspek manajerial dan administratif sudah tertangani secara efektif dimasa pemerintahannya. Ia yang pertama menetapkan penanggalan hijriah, beliau juga yang mendirikan baitul maal pertama, menetapkan sistem adminstrasi kepegawaian, serta menjamin hak-hak istri, anak dan suami. Satu lagi yang tak kalah penting, beliau selalu berpatroli tiap malam (blusukan) demi melihat langsung kesulitan rakyatnya, demi menjamin hak-hak rakyatnya terpenuhi.
Kisah Umar yang menggendong gandum dari brankas baitul maal ke rumah seorang janda yang memiliki bayi dan lalu memasaknya sendiri jadi legenda yang tak lekang dimakan waktu. Lalu ketika beliau menyamar menjadi seorang musafir dan bertanya pada seorang nenek apa tanggapannya tentang Umar, si nenek pun bilang, "Umar seorang pemimpin yang buruk, dia tidak menghiraukan orang tua seperti ku", lalu Umar yang menyamar berkata "sudikah nenek menerima uangku sebagai tebusan atas kesalahan umar tersebut?" dan si nenek pun bersedia menerima Uang tersebut, "terima kasih ya nak". Tak lama Utsman dan Ali datang menyapa beliau "wahai Amirul Mu'minin" dan akhirnya terkejutlah si nenek, ternyata orang yang bertanya tadi adalah Umar "maafkan saya Amirul Mu'minin, saya tidak tahu", Umar hanya tersenyum dan berkata "tak apa nek". Sungguh sketsa yang indah dari seorang pemimpin yang amanah.
Begitulah Islam mengajarkan, jabatan adalah amanah dan harus dipertanggung jawabkan nantinya dihadapan Allah. Jadi terlepas dari apapun motifnya, entah untuk mendulang suara atau sekedar mencari popularitas, blusukan hendaknya dimaknai lebih dalam oleh para pemimpin. Bila niatnya cuma karena suara, blusukan akan cepat busuk, umurnya tak lama. Tapi bila niatnya ikhlas melayani rakyat, insyaAllah dampaknya lebih lama dan lebih berkah bagi si pemimpin, karena di sebagian suara rakyat ada suara orang-orang terdzolimi, dan doa mereka secepat kilat dapat menembus langit.
foto : http://sikokoh.files.wordpress.com/2012/08/rumah-rakyat-kecil.jpg
Ada trend terbaru dalam mencari dukungan rakyat yang dipopulerkan oleh Gubernur Jakarta saat ini, Jokowi, orang-orang menyebutnya Blusukan. Di dalam kamus Bahasa Indonesia blusukan nampaknya belum terdaftar secara resmi, tapi di kamus masyarakat jawa, blusukan secara harfiah berarti masuk. Secara definitif blusukan berarti masuk dari kampung ke kampung menyapa masyarakat secara lansung. Dimana blusukan ini jadi ciri khas jokowi dalam kampanye pilkada DKI yang lalu.
Blusukan efektif menggaet hati masyarakat. Pemimpin yang biasa mereka lihat hanya di TV, sekarang menyapa mereka secara langsung tanpa ada batas tanpa ada sekat. Jarak yang dulu memisahkan dan kesan pemimpin yang elitis kini hilang. Masyarakat dapat bertanya langsung pada pemimpinnya perihal permasalahan mereka, mengeluh, mengeluarkan uneg-uneg tanpa dibatasi dinding-dinding protokoler. Masyarakat senang, keluh kesah mereka didengar, karena terkadang mereka hanya butuh didengar. Si pemimpin pun ikut senang, simpati berdatangan, target suarapun dalam genggaman. Efektif memang, dan itu terbukti saat Jokowi menang.
Namanya juga trend, pasti banyak yang meniru. Selain Jokowi beberapa pejabat juga mengikuti trend blusukan ini, sebut saja ARB, HADE 2.0 (Cagub Jabar), Rieke-Teten (Cagub Jabar), bahkan SBY pun juga ikut-ikutan. Beberapa kali SBY terlihat tengah turun ke tengah masyarakat, menyapa mereka langsung. Blusukan jadi begitu populer.
--
Ah tapi bagi saya hal itu tidak luar biasa, apa yang Jokowi populerkan sudah jauh-jauh hari dilakukan oleh salah seorang pemimpin Islam pengganti Abu Bakar, Khalifah kedua, Amirul Mu'minin, Umar Ibn Khattab RA. Sejarah mencatat kegemilangan Umar dalam merevolusi arti kepemimpinan. Aspek manajerial dan administratif sudah tertangani secara efektif dimasa pemerintahannya. Ia yang pertama menetapkan penanggalan hijriah, beliau juga yang mendirikan baitul maal pertama, menetapkan sistem adminstrasi kepegawaian, serta menjamin hak-hak istri, anak dan suami. Satu lagi yang tak kalah penting, beliau selalu berpatroli tiap malam (blusukan) demi melihat langsung kesulitan rakyatnya, demi menjamin hak-hak rakyatnya terpenuhi.
Kisah Umar yang menggendong gandum dari brankas baitul maal ke rumah seorang janda yang memiliki bayi dan lalu memasaknya sendiri jadi legenda yang tak lekang dimakan waktu. Lalu ketika beliau menyamar menjadi seorang musafir dan bertanya pada seorang nenek apa tanggapannya tentang Umar, si nenek pun bilang, "Umar seorang pemimpin yang buruk, dia tidak menghiraukan orang tua seperti ku", lalu Umar yang menyamar berkata "sudikah nenek menerima uangku sebagai tebusan atas kesalahan umar tersebut?" dan si nenek pun bersedia menerima Uang tersebut, "terima kasih ya nak". Tak lama Utsman dan Ali datang menyapa beliau "wahai Amirul Mu'minin" dan akhirnya terkejutlah si nenek, ternyata orang yang bertanya tadi adalah Umar "maafkan saya Amirul Mu'minin, saya tidak tahu", Umar hanya tersenyum dan berkata "tak apa nek". Sungguh sketsa yang indah dari seorang pemimpin yang amanah.
Begitulah Islam mengajarkan, jabatan adalah amanah dan harus dipertanggung jawabkan nantinya dihadapan Allah. Jadi terlepas dari apapun motifnya, entah untuk mendulang suara atau sekedar mencari popularitas, blusukan hendaknya dimaknai lebih dalam oleh para pemimpin. Bila niatnya cuma karena suara, blusukan akan cepat busuk, umurnya tak lama. Tapi bila niatnya ikhlas melayani rakyat, insyaAllah dampaknya lebih lama dan lebih berkah bagi si pemimpin, karena di sebagian suara rakyat ada suara orang-orang terdzolimi, dan doa mereka secepat kilat dapat menembus langit.
foto : http://sikokoh.files.wordpress.com/2012/08/rumah-rakyat-kecil.jpg
Subscribe to:
Posts (Atom)



