Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Thursday, 21 February 2013

Gaya si Penulis



Sangat menyenangkan bila mencermati gaya menulis beberapa orang di ragam media, entah itu di Blog, Surat Kabar, ataupun artikel-artikel ringan di dunia maya. Jelas terlihat perpaduan bakat, pengaruh seorang penulis, dan background lingkungan pendidikan menjadi tiga faktor utama yang membentuk karakter kepenulisan seseorang. Sebuah karakter yang sedikit banyak tak memiliki arti apapun jika tiga faktor utama tersebut tidak diolah dalam sebuah pembiasaan mengartikulasikan pemikiran menjadi sebentuk kata dan kalimat.

Faktor pertama yang mungkin mempengaruhi gaya menulis seseorang adalah bakat. Ada yang mengatakan bahwa bakat itu bukan segala-galanya untuk menulis karena yang paling penting adalah bagaimana seseorang membiasakan dan mendisiplinkan diri dalam menulis.

Memang ada benarnya, tapi mungkin bakat itu juga berhubungan dengan passion, minat, dan energi yang meluap-luap. Sehingga biasanya orang yang berbakat akan dengan mudahnya dan senang hati melakukan sesuatu karena ada passion, minat, dan energi disana. Jadi bisa saja jika faktor pertama yang mempengaruhi gaya menulis seseorang adalah bakatnya.

Faktor kedua adalah pengaruh seorang penulis. Ketika awal-awal mencoba menulis, biasanya seseorang akan meniru bagaimana bentuk tulisan yang tepat untuknya, yang sesuai dengan jumlah kosa kata di dalam kognisi. Jadi tidak heran dan merupakan hal yang wajar saat ada seorang murid meniru bagaimana si guru menuliskan sebuah tulisan.

Si guru yang tahu bagaimana perkembangan kosa kata si murid, menyesuaikan bentuk-bentuk kalimat sejauh yang dipahami oleh sang murid. Maka saat seseorang menggemari seorang penulis, bisa jadi buku si penulis sudah matching dengan perkembangan kognisi orang itu. Hingga kecocokan diantara keduanya membuat si orang itu memiliki gaya menulis yang menyerupai si penulis.

Sedangkan faktor yang ketiga adalah background lingkungan pendidikan. Suka tidak suka background pendidikan yang berkembang dalam lingkungan seseorang merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada gaya menulis seseorang. Orang yang dibesarkan di lingkungan pendidikan pesantren tentu saja berbeda dalam hal menulis dengan orang yang dilahirkan di lingkungan pendidikan tinggi.

Orang yang dibesarkan di pesantren mungkin saja gaya menulisnya terkesan alami, bijak, dan penuh dengan frase perenungan nilai-nilai religius. Berbeda dengan orang yang dibesarkan di lingkungan pendidikan tinggi yang mungkin gaya menulisnya terkesan strategic, visioner dan bersemangat.

Jika tiga faktor itu telah tepat dimiliki seseorang, tinggal kini faktor pembiasaan yang berperan. Selalu mengasah diri untuk terus menulis dan menjadikannya tetap tajam dengan artikulasi pemikiran dalam sebuah tulisan. Hingga nantinya impian dalam mewujudkan Pram baru, Andrea Hirata baru, Es Ito Baru, JK Rowling baru, dan Dan Brown baru tak sekedar cita-cita belaka.


Wednesday, 6 February 2013

Dukun dan Wartawan

Bukan cuma sekali, bahkan tiap kali saya membaca dan menonton media massa, yang ada isinya hanya pelintiran sana-sini. Entah itu kata-kata narasumbernya yang diolah menjadi tendensius atau data yang diambil terlalu prematur untuk ditayangkan. Mungkin karena kebutuhan, atau mungkin gagah-gagahan hingga tiap sajian berita yang disuguhkan hanya mengejar kecepatan publikasi tanpa mengindahkan keakuratan. Sehingga terkesan penuh prasangka dan keraguan.

Padahal menurut hemat saya, pemirsa yang membaca dan menonton tayangan berita memiliki hak untuk mendapatkan informasi akurat yang tidak sekedar heboh dan membangkitkan minat tuk disimak. Karena seringkali mindset yang kini terbentuk dalam masyarakat, yang namanya berita dan berlabel berita menyajikan informasi yang netral, bebas dari prasangka dan tak terikat dengan kepentingan apapun. Hingga nantinya diharapkan berita tersebut dapat menjadi rujukan bagi pemirsa dalam mengambil sebuah sikap, entah melakukan sesuatu, atau sekedar diam saja sambil menyimpan baik-baik tiap detil informasi yang sewaktu-waktu dapat digunakan tuk bertindak.

Tapi kini yang berkembang justru sebaliknya, pelintiran isi berita yang disebabkan oleh kurang akuratnya informasi yang didapatkan menjadikan berita tak ubahnya ajang kreatifitas para wartawannya. Saat informasi yang didapatkan sedikit, dan deadline penayangan berita semakin dekat membuat wartawan membumbui informasi seadanya dengan sejumput asumsi-asumsi umum, dan setetes ambiguitas penulisan. Hingga berita itu kini menjelma utuh menjadi seikat informasi yang penuh prasangka.

Saya kembali teringat dengan sebuah hadit dari Rasulullah yang kurang lebih bunyinya seperti ini.
Dari Aisyah radiyallahuanha, beliau bertanya pada Rasulullah tentang berita yang disampaikan oleh para dukun;
"Ya Rasulullah.. tapi kadang-kadang para dukun itu menyampaikan berita yang benar"
Rasulullah Sholallahu Alaiyhi wa Sallam menjawab;
"Benar, berita itu memang dicuri oleh jin (dari langit) dan dia menyampaikannya kepada para dukun dengan benar! Hanya saja dukun itu menambahkan berita itu dengan seratus kebohongan" (H.R. Muslim)

Dalam hadits itu Rasulullah memberitahukan bahwa jin memang memberitakan dan menyampaikan sesuatu dengan benar atas apa yang mereka dengar dari langit , tapi karena mungkin informasi yang diberikan sedikit dan nantinya malah tak berguna sama sekali, maka para dukun itu tak segan menambahkan bumbu-bumbu kebohongan di dalam berita yang mereka dapatkan. Mirip-mirip memang dengan wartawan bedanya kalau wartawan membungkusnya dengan elegan dan mungkin tanpa kebohongan, hanya sekedar asumsi dan tendesi penulisan. Sedangkan dukun jelas-jelas membungkus berita dengan kebohongan. Walau mungkin tetap saja keduanya mirip-mirip.

Memang tidak semua wartawan seperti itu, masih banyak wartawan baik yang menjunjung tinggi nilai-nilai jurnalisme. Yang teguh memegang erat asas objektif, akurat dan seimbang. Namun memang tidak dapat dipungkiri trend yang kini berkembang tengah menyertai wartawan-wartawan yang mirip dukun itu hingga suatu saat ada media massa yang sudi memfasilitasi wartawan jujur dan baik itu.

*karena jurnalisme adalah corong kebenaran.

foto : http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/02/13287696551388440093.jpg

Wednesday, 23 January 2013

[Review] Cinta di Ujung Jari

Cinta itu tak menggurui, ia punya cara unik yang dimaknai berbeda di tiap kepala anak manusia. Ia tak perlu didikte, karena lambat laun manusia akan paham sendiri makna cintanya. Biarkan cinta bermain dalam kompleksitas logika dan relung sanubari terdalam. Hingga ia lelah dan mengajak manusia menikmati bahwa cinta memaknai arti mereka.

Cinta itu kehidupan. Manusia kadang dapat hidup tanpa cinta namun tak sedikit pula yang mati karenanya. Mungkin itu terlalu berlebihan, cinta tak sebegitunya kok. Ia kini hanya berganti wujud (sementara) menjadi bumbu pemanis kehidupan dalam sebuah drama picisan. Ah sepertinya manusia terlalu naif mengemas cinta, hanya dimaknai oleh sebentang episode kehidupan yang berdurasi tak lebih dari dua jam.

Cinta itu menggugah, menggerakkan manusia meraih takdir terbaiknya. Karena selalu ada harapan dalam tiap jengkal cinta yang merekah. Walau cinta tak selalu indah dinikmati, tapi manusia memungkinkan dirinya untuk tahu bahwa cinta hanya meminta untuk diresapi berbeda, pahit memang namun kadang begitulah ia terasa. Kecap dengan kerelaan dan cinta akan membawamu pada penghujung takdir terbaik.

Cinta itu multitafsir, ia direspon berbeda oleh tiap manusia. Walau sekedar berjalan di tepiannya atau menyelam jauh ke dalamnya. Apapun itu, cinta memberikan makna luasnya bagi mereka yang meluangkan waktu khusus untuk memahaminya. Hingga manusia tahu arti keberadaan mereka.

Intrepetasi bebas saya atas karya sastra milik dua orang sahabat, http://muhammadakhyar.tumblr.com/ dan http://nayasa.tumblr.com/

Sunday, 20 January 2013

Antara yang Memimpin dan yang Dipimpin

"karena saat itu Abu Bakar, Umar dan Utsman memimpin orang-orang seperti aku, sedangkan saat ini aku memimpin orang-orang seperti kalian" Ali bin Abi Thalib, saat ditanya mengapa kondisi begitu mengenaskan di masa kepemimpinannya.

Sesuatu yang dipilih hakikatnya memiliki kesamaan dengan yang memilih atau paling tidak, ada sebuah preferensi, hal menarik yang membuat ia dipilih oleh yang memilih. Contohnya ketika kita memilih obat batuk dengan merek A. Kita meminum obat batuk A karena cocok dengan batuk yang kita alami, sesederhana itu. Contoh lainnya ketika kita memilih shampoo dengan merek B. Kita memakai shampoo B karena sesuai dengan jenis rambut kita yang berminyak dan mudah rontok, maka kita pun memilih shampoo B. Maka semua hal dipilih karena sesuai dengan yang memilih. Biasanya seperti itu.

Sama halnya saat kita memilih pemimpin. Kalau yang menjadi pemimpin, orang yang dipilih menjadi pemimpin adalah seorang yang gemar menipu, pintar memanipulasi, egois dan tidak peka, mungkin saja yang memilih pun tidak jauh berbeda dengan yang dipilih. Jadi bagi saya tidak perlu lah kita terlalu mengkritik, menghujat dan menghina para wakil rakyat yang belum sesuai dengan harapan kita, yang masih saja akrab dengan manipulasi, korupsi, dan hipokrisme. Karena bisa jadi kita tak jauh berbeda dengan mereka.

Tapi bagaimanapun saya paham dengan kondisi rakyat saat ini Tak lagi mempan dengan nasihat dan petuah seperti apa yang saya tuliskan di atas. Kesulitan dan kerasnya hidup membuat kata-kata manis tak lagi mampu meredam kemarahan mereka kepada para pemimpinnya. Namun, apa lagi yang dapat kita lakukan? selalu menghujat dengan kata-kata kasar dan mengeluh atas perilaku para wakil rakyat? apa hal itu dapat mengubah keadaan? panggil saya jika cara itu berhasil memperbaiki kondisi, saya akan mendukung anda sepenuhnya, tapi kenyataannya belum bukan?

Mengapa kita memilih sistem demokrasi dalam memilih pemimpin? karena kita dapat memilih secara transparan, adil, dan terbuka orang-orang terbaik yang ada di tengah-tengah kita sebagai seorang pemimpin. Kalau yang terpilih justru orang-orang yang buruk? ada dua kemungkinan, kita yang belum bijak dalam memilih pemimpin, atau kitalah yang memang buruk sehingga tak heran pemimpin yang terpilihpun buruk.

"Normatif, pasti akhirnya menyuruh rakyat untuk memperbaiki dirinya terlebih dulu, basi bro..." Ya ya, apapun itu, bagaimanapun reaksi kita, meluapkan kemarahan atau sekedar berkeluh kesah, keadaannya akan tetap sama, rakyat dengan kesengsaraannya, dan wakil rakyat dengan perilakunya. Tapi setidaknya, bergerak terus dalam memperbaiki diri, lebih baik dan bermanfaat dibandingkan diam membisu dan pasrah menerima takdir. 

Nobody can give you freedom. Nobody can give you equality or justice or anything. If you're a man, you take it. - Malcolm X

foto : http://mimadrasahmerdeka.files.wordpress.com/2009/10/pemimpin-untuk-rakyat.jpg

Saturday, 19 January 2013

Haters gonna hate

Jagat maya tak henti memunculkan sensasi dan memaksa kita mencermati kembali apa-apa yang terjadi di sana. Selalu ada hal-hal unik yang sayang jika kita lewatkan begitu saja, salah satunya adalah komentar-komentar para user di internet yang kadang kala lebih menarik dibandingkan isu dan berita utamanya (main topic).

Jika kita membuka kaskus, detikcom, youtube dan forum dunia maya lainnya kita akan mendapatkan banyak komentator yang berkicau, ada kalanya dengan bahasa yang santun, tapi tak sedikit pula yang menggunakan kata-kata offensif dan emosional. Terkadang komentar tersebut memang benar adanya, yang mungkin mewakili hasrat terpendam dari lubuk hati terdalam para netter. Walaupun sebagian besar user yang berkomentar dengan bahasa-bahasa itu tak mencantumkan identitas asli mereka.

Ada banyak hal yang mungkin menyebabkan hal ini, bisa karena takut citra dirinya tercemar dan membuat dirinya dianggap buruk oleh teman dan kerabatnya yang membaca, atau mungkin mereka ingin memposisikan diri pada profil baru yang mereka ciptakan kembali, berbeda dengan profil mereka di dunia nyata. Di dunia nyata mungkin mereka hanya seorang anak pemalu dengan kacamata besar dan jerawat penuh menyesaki wajah (konstruk sosial di kalangan anak muda bagi seseorang yang kuper). Tak seorangpun yang melirik dan menyadari kehadiran mereka. Tapi di dunia maya, mereka seorang yang percaya diri dengan ucapan-ucapannya, punya argumen meyakinkan dan tak segan berdebat tentang suatu hal walaupun sekedar pembicaraan sepele. Mereka didaulat menjadi seorang pemimpin, disegani dan dihormati, kehadirannya diperhitungkan. Berbeda sangat dengan dunia nyata.

Tapi tak semua user seperti itu, mungkin cuma sebagian kecil saja. Karena sepertinya kini tiap orang sudah nyaman dengan diri mereka yang ada di dunia nyata sehingga tak perlu lagi menciptakan profil baru yang berbeda di dunia maya (bukti keberhasilan training pengembangan diri dan motivasi). Yang mungkin sering kita jumpai sekarang adalah identitas palsu dan anonim yang hanya dipergunakan untuk sekedar membalas sebuah berita atau posting di internet. Membuat mereka lebih aman dan nyaman dalam mengomentari sesuatu.

Modus anonim dan identitas palsu ini cenderung efektif dan instan menjadikan seseorang berbeda dengan dirinya di dunia nyata. Hal-hal yang sebelumnya cuma bisa disimpan dalam hati yang akan membuat mereka dipersepsikan buruk dengan komentar yang offensif dan emosional dapat disalurkan tanpa tekanan dan beban. Walau menurut saya hal itu merupakan sebuah penyakit, benih hipokrit yang berpotensi menjalar dan menulari orang tersebut. Di luar berkata A dan mendukung B tapi di dalam hati berkata B dan mendukung A. Di luar menyukai A tapi di dalam hati membenci A.

Tapi memang, jagat maya kini memberikan perspektif  baru mengenai cara manusia berinteraksi dan membangun karakter. Ya kalau menurut saya yang paling ideal adalah percantik diri sebaik-baiknya hingga tak segan menyuarakan dan berpendapat tentang suatu hal walau dianggap offensif dan emosional, serta tak ragu untuk menampilkan diri (show off) di hadapan orang-orang. Apa yang kita tunjukkan adalah apa yang ada pada diri dan hati kita, tak perlu minder dan takut terhadap persepsi orang kebanyakan. Kalaulah kita tetap dimusuhi dan dijauhi atas usaha dalam membangun kualitas diri, atas segala perkataan dan tindakan hebat yang kita lakukan, santai saja, karena kita memang tidak bisa memuaskan semua orang karena kita memang bukan alat pemuas.hehe

Haters always gonna hate.

foto : http://mboke.files.wordpress.com/2011/07/tutup-kuping.jpg

Saturday, 12 January 2013

Astronom atau Astronot ?

"Dulu mempelajari fosil dan peninggalan purbakala sungguh mengasyikkan sampai mereka mencoba menjadikanmu bahan makanannya" - Dr Alan Green, Jurassic Park

 Pilih mana, menjadi Astronot atau menjadi Astronom? Sebagian orang mungkin lebih menikmati duduk santai memandang langit dan mempelajarinya dari jauh, tapi sebagian diantaranya lebih tertantang untuk terjun langsung menjelajahi langit dan merasakan sendiri sensasinya. Keduanya memiliki keasyikan tersendiri dan masing-masing pilihan punya keunikan yang tidak dimiliki satu sama lain.

Tidak tiap orang berbakat menjadi astronot dan tidak semua orang suka menjadi astronom. Kalaulah kita ingin menghitung prosentasenya, mungkin 50% lebih, orang-orang yang berasal dari keluarga yang dididik dengan aturan yang ketat dan keras, cenderung memilih menjadi astronom yang dirasa lebih nyaman dan aman bagi mereka. Sedangkan orang-orang yang dididik di keluarga yang demokratis dan bebas mengekspresikan aktivitas, lebih memilih menjadi astronot yang penuh tantangan.

Menjadi Astronot atau Astronom pun membutuhkan skill dan kemampuan khusus tersendiri. Tidak setiap orang memiliki fisik yang prima dan kadar adrenalin yang berlebih seperti para Astronot, dan tidak semua orang punya kemampuan matematis, analisa, dan kecermatan yang prima seperti para Astronom. Jadi memang, menjadi Astronot atau Astronom membutuhkan kesiapan mental dan fisik yang berbeda. Sehingga tidak usah diperdebatkan lagi mana yang lebih unggul dan lebih baik diantara keduanya.

Mungkin jika kita ejawantahkan dalam ranah yang berbeda, menjadi pengamat dan menjadi pelaku punya keunikan dan keunggulan tersendiri. Misalnya tidak tiap orang punya skill bermain bola yang ciamik macam Messi dan Ronaldo, dan tidak semua orang memiliki analisis yang tajam tentang jalannya pertandingan sepakbola layaknya Bung Kusnaeni dan Bung Towel. Begitu juga tidak setiap orang punya skill menulis macam Andrea Hirata, Es Ito, Dan Brown, serta Pramudya dan tidak semua orang punya kemampuan mengkritisi buku dan menguliknya sedalam mungkin layaknya Komentator di Goodread.

Antara keduanya, Astronot atau Astronom, pengamat bola dan pemain bola, atau penulis buku serta pengkritik buku, hakikatnya dapat dibangun sebuah sinergi yang saling melengkapi, Si pengamat membutuhkan si pelaku untuk dijadikan bahan dalam menganalisa jalannya proses dari sebuah pekerjaan, sedangkan si Pelaku membutuhkan si Pengamat untuk memberikan masukan terkait pekerjaan mereka.

karena hidup itu berpasangan-pasangan dan saling membutuhkan.

Saturday, 5 January 2013

Made In China



“Tuhan yang menciptakan Manusia, Tumbuhan serta Hewan, dan Selebihnya Cina yang membuat” – Bosnya Temen (Ekspat dari Negeri tirai bambu)

Kemarin saya pulang di saat yang tepat. Keluar kantor dan langsung mendapatkan ojek, capcus seketika menuju stasiun Karet, tidak lama setelah si mbak-mbak penjaga loket sibuk menghitung kembalian, si kereta itu pun muncul, yeyeii.. tepat sekali, walau berdiri, suasana kereta malam itu terbilang sepi, jadi ya tak apa lah, yang penting nyaman dan tidak berdesakan.

Beberapa menit kemudian, sayapun sampai di stasiun manggarai, stasiun transit menuju Bekasi. Dan ternyata keberuntungan saya berlanjut, kereta di jalur satu terlihat sudah standby, sepi dan kosong belum terisi penumpang, yap, dengan berlari-lari kecil sayapun naik dan mencari lokasi yang cukup nyaman, nah nampaknya di kursi samping pintu ini lokasi yang tepat. Ah, siap, tinggal duduk, menikmati perjalanan sambil ber-twitter ria.

Gerbong kereta lambat laun terlihat ramai, beberapa orang terburu-buru menaiki gerbong seolah tak ingin kehilangan satu kursi berharga. Sayapun mengalihkan perhatian pada HP yang sedari tadi setia menunggu tuannya. Siap bung HP.. Tapi sebelum sempat membuka aplikasi di dalamnya, seseorang sudah duduk disamping saya sembari menyodorkan tangannya menyalami, Yup, sayapun bertemu kembali dengan kawan SMA, kali ini beda orang, seorang ketua kelas saat kelas satu dulu.

Wira, begitu ia biasa dipanggil. Hm.. bukan biasa sebenarnya, tapi karena agaknya terlalu riskan menyebut nama panjangnya di blog ini, jadi nama tengahnya saja yang saya ambil. Wira kini bekerja di salah satu perusahaan Cina yang memproduksi beberapa perangkat komunikasi semacam Hape dan tablet. Tiga tahun sudah ia bekerja di perusahaan itu, dan sepertinya belum ada tanda-tanda ia akan meninggalkan kantornya yang sekarang. Walau bisa dibilang tidak mudah bekerja di perusahaan asing, tapi sejauh ini ia merasa bahwa kompensasi yang ditawarkan masih sebanding dengan pekerjaannya. Baiklah.. kamipun banyak bercerita tentang Cina, dan perkembangan teknologinya.

Cina, China (dibaca Chaina), Tiongkok apapun sebutannya adalah panggilan bagi bangsa yang memiliki akar sejarah dari negeri asia terluas di bagian timur. Kini tak diragukan lagi bahwa China merupakan salah satu Negara dengan perkembangan industri yang pesat, salah satunya dibidang perangkat komunikasi.



Wira bertutur bahwa konsep produksi di China sedikit berbeda dengan Negara-negara industri kebanyakan. Bagi perusahaan-perusahaan China, mereka lebih mementingkan Cash Flow yang lancar dibandingkan keuntungan besar dari sebuah produk yang mereka hasilkan. Walau untung kecil, yang penting keuntungan stabil selalu didapat. Jadi bagi mereka yang paling penting adalah menjual produk yang banyak, produksi maksimum dengan ongkos produksi yang minimum adalah hal yang paling utama. Istilahnya, mereka menentukan terlebih dahulu produk semahal apa yang mau mereka buat, baru setelah itu mereka akan mencarikan komponen yang tepat untuk membuat (misalkan) Hape dengan harga 500 ribu rupiah.

Dan tentu saja, efeknya adalah kualitas yang memang di nomor duakan, sehingga tak heran perangkat yang diproduksi seringkali mengalami trouble dalam jangka waktu singkat sejak diproduksi, walau banyak yang bilang “ah kualitasnya lumayan kok, walau suaranya agak jelek, layarnya kurang jelas, papan tombolnya sering macet” tapi bagi Wira, itu tidak jadi alasan karena ia pun tahu sejauh mana kualitas barang yang di produksi perusahaannya, bahkan ia pun tak mau memakai gadget yang dibuat perusahaannya (walau dikasih gw juga gak mau gar.. haha). Oh iya, hingga ada anekdot yang mengatakan bahwa kenapa tembok cina dinyatakan sebagai salah satu keajaiban dunia?? Karena ia satu-satunya produk cina yang bertahan lebih dari dua hari.. #jleb..

Kemarin kami juga sempat membahas perkembangan industri Cina yang kini menyaingi negara tetangga yang disebut pengkhianat oleh mereka, Taiwan. Taiwan sejak lama memang lebih berkembang dalam hal teknologi dibandingkan Cina daratan (tiongkok). Pengaruh barat yang kuat serta sistem pemerintahan non-komunis membuat mereka lebih leluasa dalam berkreasi dan berinovasi. Sebut saja Hape HTC android, Laptop Asus, dan lainnya yang merupakan produk perusahaan Taiwan.

Sedangkan Cina daratan baru beberapa dekade terakhir mengembangkan industri mereka. Puluhan tahun dibawah rezim komunis sosialis membuat Cina kini menyadari pentingnya industrialiasi dan mulai mengubah image tirai bambu mereka yang menutup diri. Sehingga mungkin saja, kini, untuk mengejar ketertinggalan, mereka lebih menyukai bermain dari segi kuantitas dan harga, dibandingkan kualitas.

Terlepas dari tingkat persaingan yang semakin ketat di pasar perangkat komunikasi, Indonesia sedikit demi sedikit, mulai muncul dan bersaing. Sebut saja Cross, Mito dan beberapa produk local lainnya, yang kini menjadi alternatif bagi Middle Low Class untuk mendapatkan perangkat yang murah, jadi setidaknya gencarnya produk cina lambat laun dapat diimbangi oleh produk local.

Tak terasa kereta yang saya tumpangi mulai memasuki stasiun Kranji, dan sayapun berpamitan dengan Wira, suatu kesenangan tersendiri dapat berdiskusi dengannya, mungkin suatu waktu kami dapat bertemu kembali, dan pertemuan itu memberikan saya harapan, bahwa Indonesia punya potensi, jika ada iktikad dan Kemauan yang kuat.

Salam.

Tuesday, 1 January 2013

Master Plan 2013

http://muntr.org/v4/wp-content/uploads/2011/10/the-future.jpg
Barang siapa yang harinya sama saja maka dia telah lalai, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka dia terlaknat, barang siapa yang tidak mendapatkan tambahan maka dia dalam kerugian, barangsiapa yang dalam kerugian maka kematian lebih baik baginya. (Iqtidha’ul ‘Ilmi Al ‘Amal, No. 196)

Masyhur dikalangan aktivis, hadits yang saya tuliskan di atas. Ya memang untuk memacu seseorang berbuat lebih baik dalam hidupnya, kadang kala perlu dipecut dengan kata-kata membangun seperti itu. hm.. Hadits tersebut Dhoif, bahkan maudhu', tapi tenang dulu, kita tak membahas derajat hadits itu, tapi saya coba membawa kawan-kawan pada sebuah realitas bahwa hidup sejatinya harus lebih baik dari hari ke hari.

Di awal tahun seperti sekarang, sangat mainstream melihat orang-orang menyusun resolusinya, walau mungkin kalau kata temen saya, ngapain solusi diulang terus tiap tahun, yang ada kita perlu revolusi. Ya ya, terlepas dari apa makna resolusi ataupun revolusi, seseorang harus mengetahui apa yang ingin dicapainya di tahun yang baru, setidaknya itu membantunya mengarahkan energi untuk melakukan sesuatu, sehingga tidak berantakan dan grasak grusuk nabrak sana sini.

Dan salah satu resolusi eh.. rencana saya di tahun yang baru ini adalah nikah menerbitkan novel saya bagaimanapun caranya. Entah itu todong langsung ke editornya (ups..) atau sepahit-pahitnya self publishing (yoshh..#mengencangkan ikat kepala), lalu selanjutnya adalah nikah menyelesaikan satu novel lagi, genrenya tetap sama, thriller dengan bumbu romantisme di dalamnya (aih mati..). dan yang terakhir nikah mencoba menulis satu hari satu tulisan di blog tercintah ini. Sepertinya menulis memang jadi terapi yang paling tepat bagi saya untuk menyelesaikan problem selain membaca kitabullah. Ditambah lagi, dengan menulis saya mencoba berbagi inspirasi, pengetahuan, dan kebaikan yang mungkin bermanfaat bagi yang membacanya karena klo kata mas Jamil Azzaini, buat resolusi yang bermanfaat buat orang sekitar, jangan egois. #nah loh..

Sip, itu gambaran umumnya, ya mudah-mudahan tidak terlalu mengawang, dan tidak terlalu membumi, tengah-tengah saja, moderat klo kata pak Musoli. Dan rencana itu sifatnya pleksibel, klo ada kesempatan mungkin ditambahkan, misalnya seperti nikah membahagiakan orang tua dengan cara membahagiakan dan bertanggung pada anak orang lain.. :p 
tapi insyaAllah secara garis besar, tiga hal itu yang jadi fokus utama.

Bismillah.
 

Thursday, 13 May 2010

The Lost Symbol : Review


Robert Langdon kembali pada petualangan semalam suntuknya, menyajikan para pembaca dengan ketegangan penuh teka-teki ala Dan Brown. Seperti cerita-cerita sebelumnya, Dan Brown menyelami misteri organisasi kuno yang berdiri berabad-abad yang lalu, setelah membahas tentang illuminati dan biarawan sion, kini Dan Brown menggali misteri persaudaran mason atau freemasonry dalam The Lost Symbol.

The lost symbol, membahas persaudaran mason, segala symbol dan teka teki pemecahan misteri. Di awali dengan undangan menjadi pembicara dari seorang filantropis petinggi mason, peter Solomon, Langdon memulai malamnya yang panjang di Washington DC. Namun secara tak terduga, undangan tersebut berubah menjadi bencana. Langdon tertipu karena Peter sama sekali tak mengundang Langdon untuk menjadi pembicara. Penipu itu menawan peter dan memaksa Langdon mengikuti permainannya, jika tidak nyawa peter menjadi taruhannya.

Petualangan pun dimulai, melintasi relung-relung terdalam kota Washington dan tempat-tempat bersejarah di ibukota amerika serikat, disertai pemaparan sejarah dan ilmu pengetahuan yang mungkin terdengar asing dimata kita, Ilmu noetik, segi empat ajaib serupa Sudoku, dan beberapa ritual mistis mason. The Lost Symbol menyajikan ketegangan di setiap Babnya.

Memompa rasa penasaran hingga sampai sepertiga bab terakhir, cerita berakhir anti klimaks, pengungkapan rahasia ritual inisiasi mason hingga tingkat 33 yang dianggap sebagai ancaman nasional oleh direktur OS Inoue Sato terlalu berlebihan menurut saya, karena walau tak pernah tertangkap langsung lewat kamera, telah menjadi rahasia umum bahwa inisiasi mason memang mengerikan.

Selain itu pemaparan panjang setelah Mal’akh terbunuh terasa membosankan bagi saya, seolah Dan Brown ingin menyampaikan sebuah pesan tentang arti sebenarnya dari persaudaraan mason. Hingga saya pun berpikir bahwa freemasonry menyewa dan brown untuk mengklarifikasi pemahaman sebagian besar masyarakat atau mungkin saja dan brown sendiri menjadi bagian dari anggota mason.

Entahlah, yang jelas bagi saya petualangan Langdon sebelum2nya lebih menantang dibandingkan kali ini. Pemaparan misteri mason tak terlalu menghebohkan bagi saya dibandingkan pemboman vatikan dengan anti materi ataupun pengungkapan keturunan yesus kristus.

Secara keseluruhan novel ini bagus, membuka mata kita akan pemahaman baru tentang ilmu noetic, dan persaudaraan mason, walaupun terkadang bagi saya pribadi terlalu dipaksakan oleh penulisnya.


Wednesday, 29 August 2007

Rahasia Meede: misteri harta karun VOC

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Mystery & Thrillers
Author:ES ITO
Dapet dari blog tetangga : http://rahasia-meede.blogspot.com/

gak bakal nyesel buat yang beli bukunya...
pengarangnya gak usah diragukan lagi...

Friday, December 28, 2007
Rahasia Meede-Preview

Di Den Haag pada akhir tahun 1949, perundingan penting antara
Indonesia dan Belanda tengah dilakukan, konferensi meja bundar. Setelah menyepakati banyak hal, perundingan itu menemui jalan buntu ketika Belanda meminta Indonesia untuk melunasi hutang-hutang yang pernah dibuat oleh pemerintah kolonial sebagai syarat untuk pengakuan kedaulatan. Sumitro bersuara lantang menolak hutang yang tidak pernah dibuat Indonesia itu. Delegasi Hatta pun dilanda dilema. Bukankah Utang jagal bagi kedaulatan? Tetapi itulah masa ketika segalanya tampak mungkin. Bila manusia menyerah maka alam tidak, ia mengutus seseorang dari masa lalu. Dalam dingin malam yang membekukan, pria misterius itu meyakinkan delegasi Hatta
untuk menerima persyaratan itu. "Ontvangen maar die onderhandeling. Indonesie heeft niets te verliezen" ucapnya meyakinkan.

Lebih dari lima puluh tahun kemudian, wartawan muda koran Indonesiaraya Batu Noah Gultom mencium jejak pembunuhan berantai dengan korban orang penting di Boven Digoel Papua. Ini melengkapi tiga pembunuhan misterius sebelumnya di Bukittinggi, Brussel dan Bangka. Mata rantai pembunuhan itu itu adalah kesamaan huruf "B" pada huruf awal lokasi pembunuhan. Tetapi yang lebih penting adalah pesan yang diterima keluarga korban. Dosa-dosa sosial sebagaimana pernah ditulis oleh Mahatma Gandhi dalam majalah Young India pada tahun 1925. Penelusuran itu membawa Batu untuk mengungkap peristiwa kematian orang-orang bertato di utara Jakarta beberapa tahun silam. Misteri tato yang membawanya dalam petualangan di pulau Siberut, Mentawai.

Pada saat yang bersamaan tiga orang peneliti dari Belanda, Erick Marcellius de Noiijer, Rafael Alexander van de Horst dan Robert Stephane Daucet terjebak dalam gairah ilmu untuk menemukan de ondergrondse stad, kota bawah tanah di daerah kota tua Jakarta. Penelitian yang tekun menuntun mereka untuk mengungkap rahasia ratusan tahun. Kuncinya ada pada lukisan sketsa Batavia lama karya Johannes Rach, seorang pelukis Denmark yang bekerja untuk VOC, tiga setengah abad silam. Mereka menemukannya dalam bentuk yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Akan tetapi baru saja penemuan itu akan mereka rayakan, sebuah tragedi terjadi. Masih bisakah mereka kembali ke Belanda?

Cathleen Zwinckel adalah pendatang lain dari Belanda. Mahasiswa pascasarjana di Universitas Leiden itu mengaku tengah menyelesaikan thesis Master-nya tentang Sejarah Ekonomi Kolonial. Oleh profesornya, ia dititipkan pada CSA, sebuah lembaga think-thank terkemuka di Jakarta. Tetapi diam-diam ia memiliki agenda lain. Gadis cantik itu datang juga untuk mengungkap misteri ratusan tahun. Oleh profesornya, ia diminta untuk memecahkan misteri Surat Kew yang dikeluarkan oleh William V pada tahun 1795. Surat yang akan menuntunnya pada misteri terbesar yang selama ini hanya menjadi bisik-bisik, Het Geheim van Meede, Rahasia Meede. Kunci misteri itu ada pada sosok Suhadi, seorang arsiparis senior Arsip Nasional Republik Indonesia. Tetapi pekerjaan itu tidak semudah bayangan Cathleen. Jakarta mulai menunjukkan murkanya. Ia diculik kemudian terdampar di kepulauan rempah-rempah. Sosok gelap itu mulai terungkap; ia menginginkan semuanya. Laki-laki muda di balik penculikan itu bernama Kalek. Buronan nomor satu yang sempat dinyatakan tewas, dalang di balik peristiwa penyerbuan bersenjata dan kematian orang-orang bertato pada tahun 2002.

Pembunuhan berantai itu tidak berhenti. Tetapi Batu mulai bisa mencium jejak pembunuhnya. Tetapi di tengah-tengah penemuan itu, Parada Gultom, redaktur yang membawahi Batu di Indonesiaraya hilang tanpa jejak. Menemukan dirinya dalam ruang gelap dan kemudian dipaksa bicara setelah disuntik dengan Scopolamine, serum pengakuan. Sementara itu, Cathleen terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan yang ia takutkan dari Kalek. Tentang VOC, Monsterverbond hingga pembunuhan Pieter Erberveld pada bulan April 1722 di Batavia. Cathleen Zwinckel bertaruh dengan nasibnya. Sementara di balik ketegangan itu seorang guru biasa dipanggil Guru Uban hidup dalam kedamaian di Bojonggede. Tetapi di balik penampilan tenang, ia menyimpan sebuah rahasia.

Lembar demi lembar misteri mulai terungkap ketika Lalat Merah, nama sandi untuk seorang perwira muda pasukan Sandhi Yudha Kopassus memburu Kalek. Mereka berdua adalah teman karib ketika masih menjadi siswa SMA Taruna Nusantara. Tetapi kemudian masa depan menyodorkan pilihan pahit dalam persahabatan mereka; satu memburu yang lainnya. Dalam perburuan, Kalek mengirimkan isyarat dalam bentuk dialog Nabi Musa dan Nabi Khidr. Perlahan Lalat Merah membongkar misteri ini sambil terus berusaha menyelamatkan Cathleen Zwinckel. Pertanyaan-pertanyaan mulai terjawab, tentang peristiwa di tahun 2002, 1949, 1722, hingga masa akhir pemerintahan Deandels di Batavia. Pembunuhan berantai, kota bawah tanah, surat Kew, Monsterverbond, Erberveld, KMB berujung pada satu misteri harta karun VOC.

Bisakah rentetan pembunuhan itu dihentikan dan bagaimana sebenarnya jalinan panjang sejarah 400 tahun bermuara pada satu sosok manusia di masa kini?

Monday, 27 August 2007

Negara Kelima

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author:Es Ito
"lo bakal bangga jadi orang indonesia klo baca buku ini!!!...apalagi klo lo orang minang,...cara dia menyampaikan cerita,,seolah-olah membuat indonesia lebih tinggi dari semua bangsa lain di dunia..keren banget.."

..kata-kata itulah yang pertama kali saya dengar saat saya melihat sebuah buku diatas meja teman saya,Faisal...
lalu kata-katanya menarik diri saya untuk mengetahui lebih jauh tentang isi buku ini..
terus saya bertanya lagi padanya..
"emang yang buat buku ini beda ama yang lain apaan selain yang tadi lo bilang..??"
lalu Faisal bilang: "dia (pengarangnya) bisa bisa mengaitkan antara sejarah indonesia dengan sejarah-sejarah besar di dunia ini..semacam postkolonialism gitu lah...klo mau lo baca aja dulu..jangan banyak tanya..nanti gak seru lagi.."
yasudah..setelah dia bilang seperti itu..saya langsung baca novel itu..

dan setelah 4 jam membaca(hampir memecahkan rekor membaca saya,yaitu 2 jam 45 menit ketika membaca buku ayat2 cinta) akhirnya saya pada satu kesimpulan..

ternyata banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengangkat harkat bangsa ini..salah satunya dengan menulis..
ya..menulis..
betapa penulis buku ini mampu mengaitkan sejarah dunia seperti sejarah tentang atlantis, plato, alexander agung, dengan sejarah bangsa indonesia seperti PDRI di sumatera barat, sejarah singosari, sriwijaya, minangkabau...
hingga pada satu titik kesimpulan...indonesia pusat peradaban dunia..

buku yang bagus untuk dibaca,,satu2nya novel konspiratif buatan anak bangsa yang mampu menyaingi novel2nya Dan Brown..