Sesaat, saya menghembuskan nafas dan memandang kembali CV dan surat lamaran yang teronggok manis di atas meja kerja. Beberapa lembar kertas yang bertuliskan nama, alamat, riwayat pekerjaan, dan pastinya sepucuk surat bahwa yang bersangkutan ingin melamar di perusahaan tempat saya bekerja.
Secara keseluruhan, idealnya, saya tak perlu 'galau' dengan sepucuk aplikasi lamaran kerja yang tadinya terbungkus rapi dalam amplop coklat besar. Karena memang yang namanya surat lamaran dalam amplop coklat bukan suatu hal yang baru bagi saya.
Bahkan kini beberapa tumpukan lamaran dalam amplop masih terbengkalai berdebu di sudut ruang kerja. (duh maaf ya para pelamar). Tapi kini yang membuat saya agak malas dan resah adalah sebuah tulisan kecil di pojok kiri atas surat lamaran si pelamar. Tertulis dengan tinta berwarna merah, "ref: Dirut". Alamak, tanda-tanda bakal diintervensi nih.
Karena memang biasanya, referensi atau calon dari si pejabat perusahaan, entah dia saudara jauhnya, atau cuma tetangga, hampir dipastikan berujung intervensi dan tekanan yang intinya adalah, "nih orang referensinya pejabat, mau gak mau harus diterima.". duh.. apa jadinya perusahaan kalau begini caranya. Kalau si pelamar sesuai kualifikasi, syukur alhamdulillah, tapi kalau jauh dari kualifikasi? psikotes jeblok, pengalaman nol, hasil tes kesehatan tidak fit. Apa tetap harus diterima?
hm.. ya sebenarnya sih mau dipaksakan atau tidak, tidak jadi masalah. Toh keputusan tetap ditangan para bos-bos itu, pimpinan yang terhormat. Saya hanya menjalankan pekerjaan sesuai prosedur dan keputusan diterima atau tidak kembali saya serahkan pada mereka.
Saya hanya menyajikan fakta dan silahkan para pembesar itu yang memutuskan. Saya serahkan hasil psikotesnya, hasil interview, dan hasil tes kesehatan. Silahkan ditimbang-timbang apakah layak atau tidak. Tapi sejauh ini memang pimpinan saya itu tak mau mengambil risiko, walau referensi pejabat tapi jika tidak memenuhi kualifikasi ya apa mau dikata. Syukurlah para pimpinan masih bisa bertindak rasional.
Showing posts with label iseng. Show all posts
Showing posts with label iseng. Show all posts
Saturday, 18 May 2013
Monday, 25 March 2013
Rasyad dan Riana - 2
"Yahoo Messenger Online"
"chacha accept your friend request"
Ia yang sedang menghabiskan waktu santai di dalam kamar dibuat penasaran oleh sebuah pesan yang masuk di pesan YM nya. chacha?sejak kapan aku menambahkan orang ini dalam kontakku?.
"Halo, salam kenal riana"
chacha, ia menyapa Riana. Sesaat lalu baru saja ia masuk dalam daftar kontak Riana, dan kini ia telah membuka percakapan. Tak ada salahnya, Riana pun membalas salam dari chacha.
"Halo chacha, salam kenal juga, ngomong-ngomong saya yang ngeadd kamu ya?"
bodoh, pertanyaan yang tidak masuk akal. Tentu saja Riana menyadari bahwa ialah yang menambahkan orang itu dalam daftar kontaknya, perkara kapan dan bagaimana ia menambahkan chacha di dalam pertemanan YM-nya, itulah yang harus ia cari tahu.
"haha. ya iya lah, aku kan hanya meng-approve saja. Jadi riana, kamu penggemar sheila juga?"
Pertanyaan chacha mengurungkan keinginan Riana yang penasaran tentang proses dirinya menambahkan orang itu dalam pertemanan, si orang ini tahu bahwa ia penggemar Sheila on 7.
"tahu darimana saya penggemar sheila?"
"simple, status YM kamu menceritakan semuanya. Siapa yang kamu tunggu di jakarta? kamu lagi di luar kota?"
Riana pun menyadari, status YM nya mengambil lirik lagu sheila. Tunggulah aku di jakartamu, tempat labuhan semua mimpiku.
"bukan siapa-siapa, orang yang nggak penting."
Riana pun kembali mengingat saat-saat itu, tatkala harapannya hanya tinggal angan kosong belaka. Orang itu menjauh pergi dan berjalan bersama yang lain. Status YM ini ternyata sudah sangat lama. Telah dua bulan berjalan dan chacha, orang ini membuatnya kembali mengenang cerita kelam yang ingin ia pendam selamanya.
"Saya lagi di jakarta, itu status sudah lama nggak diganti. btw, kamu ini cowok apa cewek sih? dari gaya nulisnya sih sepertinya cowok ya, "
"hoo,, itu status lama toh, hm.. kira-kira gimana? pantesnya cowok apa cewek?"
"lah.. terserah sih, tapi zaman sekarang, lagi trend cowok ke cewek-cewek an gitu loh. haha"
"haha..dasar.. iya, aku cowok"
"oh cowok toh, tapi kok namanya imut-imut gitu ya, chacha.. haha"
"ah seperti biasa, satu dari beberapa hal yang membuat saya malas memakai akun YM ini, maklum lah, nama asli saya bila dibikin imut dan manja ya bisa dibaca chacha, dan mari kita cukupkan pembahasan nama akun ini. seperti kata shakespeare, apalah arti sebuah nama akun YM. haha"
"yee. ngarang aja, shakespeare zaman kapan tuh.."
"Shakespeare zaman Facebook, shakespeare gaul.."
dan selanjutnya, Riana dan chacha larut dalam obrolan yang menyenangkan, sungguh menyenangkan.
--
"chacha is offline"
Beberapa minggu ini, sejak malam itu, chacha tak sekalipun muncul di daftar online kontaknya. Padahal Riana berharap, chacha dapat menemaninya bercerita setelah penatnya bekerja. Ia rindu, ada rasa yang kian tumbuh yang berharap lebih dari sekedar bercakap lewat dunia maya. Namun entah mengapa, chacha menghilang beberapa minggu ini. Riana pun berdiri dan mengambil sebuah buku dari dalam tasnya, buku tebal karya Chairil Anwar yang baru saja diberikan Pak Rasyad kepadanya. Sebuah perhatian dari pak Rasyad yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. ah seandainya kau ada cha, akan banyak cerita dariku tentang sikap pak Rasyad yang banyak berubah sejak aku meminjamkannya album-album sheila.
"chacha is online"
ah dia online. Tergambar jelas raut wajah sumringah dari gadis cantik berjilbab ini.
--
Dari kejauhan, janur kuning nampak melengkung di depan gedung pertemuan di daerah gatot subroto Jakarta Pusat. semoga ini yang terbaik untukmu ri. Perlahan mobil Rasyad memasuki pelataran depan gedung bidakara dan lambat laun menuju halaman parkir di belakang gedung.
Dengan setelan jas rapih, Sosok tegap nan gagah itupun memasuki gedung dengan perasaan yang campur aduk. Entah bagaimana caranya, iapun tak habis pikir dapat sepengecut ini. ah sudahlah, percuma semuanya sudah terjadi. Setelah menuliskan namanya di buku tamu ia pun menerima suvenir berupa gelas kecil yang bertuliskan dua inisial nama dari sang mempelai. "C dan R"
Tak tertahankan, iapun berbalik keluar, semoga kalian bahagia..Chacha dan Riana.
--
Rasyad dan Riana - 1
Monday, 18 March 2013
Si Akun Tiga Macan
Lucu juga melihat lakon yang kini diperankan salah satu akun di dunia maya, akun twitter trio macan yang cukup menghebohkan beberapa waktu belakangan ini. Entah bagaimana caranya tiap kali si macan berkicau, selalu saja ada informasi terselubung yang tak diketahui tiap orang terkait apa yang ia sampaikan. Ada dua kemungkinan cara si macan hingga dapat membeberkan informasi semacam itu, pertama, memiliki informan terpercaya di tiap lapis jaringan penguasa di negeri ini atau yang kedua, itu semua sekedar dugaan berujung prasangka yang tak dapat dipertanggung jawabkan.
Untuk kemungkinan pertama, beberapa orang menyebut akun twitter ini memang dikelola oleh beberapa orang dekat dari penguasa negeri ini. Sila di cek siapa-siapa saja mereka melalui mbah google, yang jelas akses informasi si macan memang lumayan besar. Sedangkan untuk kemungkinan kedua juga tak kalah besar kemungkinannya. Berbagai informasi yang memojokkan seseorang atau instansi rentan disalahartikan, apalagi informasi itu berasal dari sebuah akun anonim yang tak dapat dijamin kredibilitasnya. Maka bisa jadi fitnah yang lebih banyak dibandingkan akurasi informasinya.
Tapi memang si macan ini punya skill mengolah informasi yang ciamik, mengaitkannya dengan kondisi faktual yang terjadi dengan posisioning yang jelas sebagai seorang pemegang informasi penting. Jadi tak heran dengan berita kontroversi yang diolah dalam dialektika konspirasi membuat akun ini berjaya di kalangan tweeps yang haus informasi. Karena kecenderungan yang kini terjadi di kalangan netter, tak penting seberapa besar validitas berita tersebut, yang utama adalah bagaimana berita itu mampu memancing keingintahuan orang-orang.
Melihat kenyataan ini, tentunya bagi seorang terpelajar seperti anda, atau kita, hendaknya tak serta merta mempercayai tweet-tweet yang dituliskan dalam akun tersebut. Berbagai klaim dan kesaksian yang diungkapkan oleh si macan tak perlu terlalu ditanggapi serius, santai saja, karena toh informasi yang ada memang belum tentu valid. Anggap saja apa-apa yang dituliskan sekedar pengaya informasi yang telah kita miliki dan tak perlu terlalu reaktif menanggapinya.
Lucunya adalah, beberapa kalangan aktivis yang dulu sangat membenci si macan, seolah berterima kasih padanya karena membela kelompok mereka yang selama ini 'dizalimi' oleh sekelompok orang. Padahal dulu jelas-jelas si aktivis ini terang-terangan meragukan dan tak menyukai si akun ini. duh.. Jadi jelas memang, tak penting dari siapa informasi itu datang, selama ia mendukung kelompok anda, ketahuilah bahwa mereka adalah teman yang patut dipercaya.
Untuk kemungkinan pertama, beberapa orang menyebut akun twitter ini memang dikelola oleh beberapa orang dekat dari penguasa negeri ini. Sila di cek siapa-siapa saja mereka melalui mbah google, yang jelas akses informasi si macan memang lumayan besar. Sedangkan untuk kemungkinan kedua juga tak kalah besar kemungkinannya. Berbagai informasi yang memojokkan seseorang atau instansi rentan disalahartikan, apalagi informasi itu berasal dari sebuah akun anonim yang tak dapat dijamin kredibilitasnya. Maka bisa jadi fitnah yang lebih banyak dibandingkan akurasi informasinya.
Tapi memang si macan ini punya skill mengolah informasi yang ciamik, mengaitkannya dengan kondisi faktual yang terjadi dengan posisioning yang jelas sebagai seorang pemegang informasi penting. Jadi tak heran dengan berita kontroversi yang diolah dalam dialektika konspirasi membuat akun ini berjaya di kalangan tweeps yang haus informasi. Karena kecenderungan yang kini terjadi di kalangan netter, tak penting seberapa besar validitas berita tersebut, yang utama adalah bagaimana berita itu mampu memancing keingintahuan orang-orang.
Melihat kenyataan ini, tentunya bagi seorang terpelajar seperti anda, atau kita, hendaknya tak serta merta mempercayai tweet-tweet yang dituliskan dalam akun tersebut. Berbagai klaim dan kesaksian yang diungkapkan oleh si macan tak perlu terlalu ditanggapi serius, santai saja, karena toh informasi yang ada memang belum tentu valid. Anggap saja apa-apa yang dituliskan sekedar pengaya informasi yang telah kita miliki dan tak perlu terlalu reaktif menanggapinya.
Lucunya adalah, beberapa kalangan aktivis yang dulu sangat membenci si macan, seolah berterima kasih padanya karena membela kelompok mereka yang selama ini 'dizalimi' oleh sekelompok orang. Padahal dulu jelas-jelas si aktivis ini terang-terangan meragukan dan tak menyukai si akun ini. duh.. Jadi jelas memang, tak penting dari siapa informasi itu datang, selama ia mendukung kelompok anda, ketahuilah bahwa mereka adalah teman yang patut dipercaya.
Tuesday, 5 March 2013
Ngeyel dan Skeptis
Kini tak lagi ada batasan tentang apa dan bagaimana sebuah bentuk pertanyaan patut dilontarkan. Perkara apakah urusan tersebut sudah jelas ataukah masih jadi perdebatan yang terpenting adalah bagaimana simbol skeptisme macam pertanyaan-pertanyaan kritis dapat menjadi sebuah tradisi dalam suatu komunitas. Sehingga sebuah kelompok dikatakan memiliki tatanan masyarakat berkebudayaan saat orang-orang di dalamnya dengan leluasa melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis yang kadung dimaknai (terlalu) positif.
Kadang kala tak selamanya berbagai pertanyaan yang muncul memang ditujukan untuk memperjelas sebuah fenomena, atau sekedar menjawab ketidaktahuan seseorang tentang sesuatu. Karena tak jarang pertanyaan yang muncul merupakan cara dan mekanisme yang dapat dijadikan argumen oleh seseorang untuk menghindar dari sebuah kewajiban dan menyerang sebuah nilai yang diaggap berlawanan dengan dirinya.
Mungkin kita masih ingat saat kecil dulu, di mana seringkali kita melontarkan berbagai alasan untuk menghindarkan diri dari kewajiban yang ada di dalam rumah. Misalnya saat kita diminta untuk membersihkan halaman depan. Dengan kondisi halaman depan yang kotor dan penuh dengan dedaunan memaksa kita memutar otak tuk mencari alasan agar tetap bisa menonton tayangan TV favorit di ruang tamu yang nyaman. Maka kita pun seringkali memunculkan banyak pertanyaan untuk itu, dalam rangka menghindari kewajiban membersihkan halaman.
"Loh ma, itu sapu lidi nya mana? emang bisa pake sapu lidi yang ini? yang ini kan kekecilan"
"Ma, kalau halaman yang itu juga harus dibersihkan? disitu ada genangan air, jadi percuma juga untuk disapu"
Serta berbagai pertanyaan dan argumen yang bertujuan tuk menghindar dari kewajiban.
Atau mungkin saat kita bermain bersama teman-teman di bangku SD, dimana seringkali lontaran pertanyaan yang muncul bertujuan untuk menyerang seseorang yang tidak kita sukai. Misalnya saat seorang anak memamerkan mainan barunya membuat kita melontarkan berbagai pertanyaan meledek yang menyiratkan ketidaksukaan kita padanya.
"emang itu buatan mana? ah paling buatan cina"
"mobilnya bisa apa aja? ah paling maju mundur doank"
Dan beragam pertanyaan yang bernada negatif mengenai orang yang tidak kita sukai.
Beberapa orang terutama para tetua menyebut tingkah laku ini bernama ngeyel. Sulit tuk menerima kebenaran dan kenyataan walau itu sudah jelas-jelas terlihat. Walau mungkin kebenaran sudah jelas tergambar tapi tetap saja karena ada keinginan tuk menghindar dari kewajiban dan tidak menyukai sesuatu, maka terlontarlah pertanyaan yang terkesan kritis dan berbobot.
Maka kini jadi sesuatu yang unik kala beragam pertanyaan yang terlihat kritis jadi terkesan ngeyel kala mempertanyakan dan memperdebatkan sesuatu yang telah jelas-jelas kebenarannya. Macam golongan munafik zaman rasul yang kerap kali melontarkan alasan dan pertanyaan terhadap sesuatu yang sudah mutlak hukumnya.
Jadi memang tak selamanya lontaran kritik terlihat keren dimata orang-orang. Karena salah-salah gaya kita yang terkesan elegan dengan pertanyaan yang menusuk tajam malah membuat kita tak ubahnya orang-orang skeptis yang tak lebih dari sekelompok manusia yang sukanya ngeyel.
Kadang kala tak selamanya berbagai pertanyaan yang muncul memang ditujukan untuk memperjelas sebuah fenomena, atau sekedar menjawab ketidaktahuan seseorang tentang sesuatu. Karena tak jarang pertanyaan yang muncul merupakan cara dan mekanisme yang dapat dijadikan argumen oleh seseorang untuk menghindar dari sebuah kewajiban dan menyerang sebuah nilai yang diaggap berlawanan dengan dirinya.
Mungkin kita masih ingat saat kecil dulu, di mana seringkali kita melontarkan berbagai alasan untuk menghindarkan diri dari kewajiban yang ada di dalam rumah. Misalnya saat kita diminta untuk membersihkan halaman depan. Dengan kondisi halaman depan yang kotor dan penuh dengan dedaunan memaksa kita memutar otak tuk mencari alasan agar tetap bisa menonton tayangan TV favorit di ruang tamu yang nyaman. Maka kita pun seringkali memunculkan banyak pertanyaan untuk itu, dalam rangka menghindari kewajiban membersihkan halaman.
"Loh ma, itu sapu lidi nya mana? emang bisa pake sapu lidi yang ini? yang ini kan kekecilan"
"Ma, kalau halaman yang itu juga harus dibersihkan? disitu ada genangan air, jadi percuma juga untuk disapu"
Serta berbagai pertanyaan dan argumen yang bertujuan tuk menghindar dari kewajiban.
Atau mungkin saat kita bermain bersama teman-teman di bangku SD, dimana seringkali lontaran pertanyaan yang muncul bertujuan untuk menyerang seseorang yang tidak kita sukai. Misalnya saat seorang anak memamerkan mainan barunya membuat kita melontarkan berbagai pertanyaan meledek yang menyiratkan ketidaksukaan kita padanya.
"emang itu buatan mana? ah paling buatan cina"
"mobilnya bisa apa aja? ah paling maju mundur doank"
Dan beragam pertanyaan yang bernada negatif mengenai orang yang tidak kita sukai.
Beberapa orang terutama para tetua menyebut tingkah laku ini bernama ngeyel. Sulit tuk menerima kebenaran dan kenyataan walau itu sudah jelas-jelas terlihat. Walau mungkin kebenaran sudah jelas tergambar tapi tetap saja karena ada keinginan tuk menghindar dari kewajiban dan tidak menyukai sesuatu, maka terlontarlah pertanyaan yang terkesan kritis dan berbobot.
Maka kini jadi sesuatu yang unik kala beragam pertanyaan yang terlihat kritis jadi terkesan ngeyel kala mempertanyakan dan memperdebatkan sesuatu yang telah jelas-jelas kebenarannya. Macam golongan munafik zaman rasul yang kerap kali melontarkan alasan dan pertanyaan terhadap sesuatu yang sudah mutlak hukumnya.
Jadi memang tak selamanya lontaran kritik terlihat keren dimata orang-orang. Karena salah-salah gaya kita yang terkesan elegan dengan pertanyaan yang menusuk tajam malah membuat kita tak ubahnya orang-orang skeptis yang tak lebih dari sekelompok manusia yang sukanya ngeyel.
Wednesday, 27 February 2013
Blogging dan Mikroblogging
Ada perbedaan mendasar antara menulis di mikroblogging semacam Twitter, Plurk, dan sejenisnya dengan blogging seperti Blogspot, Wordpress, dan semacamnya. Perbedaan itu terletak pada konten layanan yang disediakan oleh kedua jenis social media itu. Tentunya kita sudah familiar dengan keduanya, bahwa mikroblogging hanya membatasi penggunanya untuk dapat menuliskan sesuatu sampai 150 karakter saja. Sedangkan blogging berbeda, lebih dari 150 karakter dan dirancang untuk menyediakan layanan yang lebih kompleks dan tidak sesederhana mikroblogging.
Misalnya Twitter, sekedar menuliskan perkataan singkat dan seketika dapat dipublish kepada orang-orang yang mengikutinya (follower). Karena sifatnya yang sederhana, mudah, dan interaktif menjadikan twitter digemari oleh sebagian besar pengguna internet. Proses sharing (retweet) info dan berita yang cepat membuat twitter jadi sarana penyebaran ide dan gagasan yang efektif apalagi jika si orang memiliki banyak follower, tentunya proses distribusi pemikiran akan mudah dilakukan. Ditambah lagi dengan keterbatasan karakter penulisan, memaksa setiap tweeps (pengguna twitter) untuk memaksimalkan ide mereka dalam limit yang telah ditentukan.
Proses memaksimalkan ide dalam satu limit tweet senada dengan ritme dunia maya yang serba cepat dan instan. Kini sangat jarang orang berlama-lama membaca sebuah berita atau informasi lebih dari 10 menit. Kebanyakan hanya membaca kurang dari 5 menit dan akan segera berpindah mencari bacaan yang lain jika inti berita telah didapatkan. Yang penting adalah mendapatkan informasi sebanyak mungkin dengan sistem dan proses skimming. Bahkan terkadang ada beberapa orang yang cukup membaca judul saja, sudah tahu isi beritanya dan lanjut membaca berita yang lain. Proses inilah yang sedikit banyak menjadikan twitter yang instan, cepat, dan sederhana sesuai dengan irama netter saat ini.
Tapi bagi beberapa orang, seperti saya contohnya, beradaptasi dengan twitter sungguh sulit rasanya. Saya yang terbiasa mengartikulasikan ide secara runut dan bertahap disertai dengan bumbu-bumbu pengantar tulisan di dalamnya, menjadikan twitter serasa sulit digunakan. Karena saya merasa bahwa menulis tak sekedar menyampaikan ide dan gagasan kita secara ringkas dan cepat, tapi lebih dari itu, ia merupakan sebuah keterampilan dan seni dalam mempercantik sebuah gagasan.
Maka menulis di Blog lebih cocok dengan saya yang terbiasa dengan proses penulisan yang mirip seorang koki. Seorang koki yang memiliki satu bumbu inti, lalu diambil sebagiannya dan diberikan sejumput air tuk mengembangkannya. Diolah dengan adukan dan tumbukan tangan, sehingga lambat laun siap tuk dicampurkan dengan berbagai bumbu pendamping agar menjadi lebih sedap. Serupa dengan menulis dimana sekeping ide dipaparkan dalam sebuah frase panjang yang ditemani oleh berbagai fakta dan gagasan. Mengolahnya dalam ruang pemikiran kontemplatif yang berbuah kesadaran dan pencerahan.
Tapi memang semuanya kembali kepada masalah kebiasaan saja. Saya yang terbiasa menuliskan sesuatu berputar-putar, jalan-jalan sana sini terlebih dulu sebelum menyampaikan inti dan maksud tulisan menjadi agak terbatasi kala dihadapkan pada sebuah layanan bernama mikroblogging. Mungkin saya harus dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman yang serba cepat, tentunya tanpa meninggalkan ciri khas saya dalam menulis.
Misalnya Twitter, sekedar menuliskan perkataan singkat dan seketika dapat dipublish kepada orang-orang yang mengikutinya (follower). Karena sifatnya yang sederhana, mudah, dan interaktif menjadikan twitter digemari oleh sebagian besar pengguna internet. Proses sharing (retweet) info dan berita yang cepat membuat twitter jadi sarana penyebaran ide dan gagasan yang efektif apalagi jika si orang memiliki banyak follower, tentunya proses distribusi pemikiran akan mudah dilakukan. Ditambah lagi dengan keterbatasan karakter penulisan, memaksa setiap tweeps (pengguna twitter) untuk memaksimalkan ide mereka dalam limit yang telah ditentukan.
Proses memaksimalkan ide dalam satu limit tweet senada dengan ritme dunia maya yang serba cepat dan instan. Kini sangat jarang orang berlama-lama membaca sebuah berita atau informasi lebih dari 10 menit. Kebanyakan hanya membaca kurang dari 5 menit dan akan segera berpindah mencari bacaan yang lain jika inti berita telah didapatkan. Yang penting adalah mendapatkan informasi sebanyak mungkin dengan sistem dan proses skimming. Bahkan terkadang ada beberapa orang yang cukup membaca judul saja, sudah tahu isi beritanya dan lanjut membaca berita yang lain. Proses inilah yang sedikit banyak menjadikan twitter yang instan, cepat, dan sederhana sesuai dengan irama netter saat ini.
Tapi bagi beberapa orang, seperti saya contohnya, beradaptasi dengan twitter sungguh sulit rasanya. Saya yang terbiasa mengartikulasikan ide secara runut dan bertahap disertai dengan bumbu-bumbu pengantar tulisan di dalamnya, menjadikan twitter serasa sulit digunakan. Karena saya merasa bahwa menulis tak sekedar menyampaikan ide dan gagasan kita secara ringkas dan cepat, tapi lebih dari itu, ia merupakan sebuah keterampilan dan seni dalam mempercantik sebuah gagasan.
Maka menulis di Blog lebih cocok dengan saya yang terbiasa dengan proses penulisan yang mirip seorang koki. Seorang koki yang memiliki satu bumbu inti, lalu diambil sebagiannya dan diberikan sejumput air tuk mengembangkannya. Diolah dengan adukan dan tumbukan tangan, sehingga lambat laun siap tuk dicampurkan dengan berbagai bumbu pendamping agar menjadi lebih sedap. Serupa dengan menulis dimana sekeping ide dipaparkan dalam sebuah frase panjang yang ditemani oleh berbagai fakta dan gagasan. Mengolahnya dalam ruang pemikiran kontemplatif yang berbuah kesadaran dan pencerahan.
Tapi memang semuanya kembali kepada masalah kebiasaan saja. Saya yang terbiasa menuliskan sesuatu berputar-putar, jalan-jalan sana sini terlebih dulu sebelum menyampaikan inti dan maksud tulisan menjadi agak terbatasi kala dihadapkan pada sebuah layanan bernama mikroblogging. Mungkin saya harus dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman yang serba cepat, tentunya tanpa meninggalkan ciri khas saya dalam menulis.
Friday, 22 February 2013
Ke Malang
Perjalanan ke luar kota memberikan saya banyak pengalaman baru yang menyenangkan. Sesuatu yang seringkali tak dijumpai di wilayah domisili saya berada, dalam hal ini Jakarta dan Bekasi. Dimana sajian kedua kota itu sekarang tidak jauh-jauh dari kemacetan dan kepenatan. Fiuh..
Tapi berbeda dengan keadaan di luar sana. Di kota-kota yang jauh dari wilayah Jabodetabek. Di sana semuanya berjalan damai, tak ada huru-hara di pagi hari demi menghindari kemacetan karena kondisi jalan yang relatif lengang, tak ada wajah-wajah penuh noda karena polusi belum mencemari udara sekitar. Semuanya berjalan teratur dan penuh harmoni. Keadaan yang saya rindukan terutama saat bertandang ke sebuah kota, kota Malang.
Malang kota yang indah dan penuh pesona. Kota yang dirancang dengan beragam keunikan, bangunan bangunannya yang artistik, dan wisata-wisatanya yang menarik. Kota yang tepat untuk beristirahat dan menghabiskan masa tua karena irama kehidupannya yang selaras dengan alam. Sungguh damai.
Kesan itulah yang benar-benar saya tangkap kala pesawat saya berlabuh di bandara Abdurrahman Saleh dua tahun lalu, bandara yang menjaga kesederhanaannya dan tak terlampau peduli akan gegap gempita modernitas. Sayapun beranjak meninggalkan bandara yang berada di kompleks angkatan udara menuju penginapan. Teringat jelas kala melintasi jalan-jalan kota malang, kesan bersahabat yang berpadu indah antara manusia dan alam.
Kesan sentimentil kini datang lagi saat hari ini saya menyempatkan singgah kembali ke kota ini. Teringat ketika dulu sempat bertemu dengan Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan selepas mereka berlatih bersama Persema Malang. Sebuah pertemuan di lobi Hotel Regent yang tak diduga. Lalu saat aura kota Malang yang mistis dan dingin mulai menampakkan wujudnya membuat saya merasa dibayangi oleh sebentuk makhluk halus yang sepertinya telah lama mendiami kamar hotel nomor 243.
Banyak hal yang menjadikan Malang penuh kenangan. Terlebih lagi sekarang, ketika kali kedua saya bertandang kembali ke kota ini. Yang sepertinya akan meninggalkan kenangan cukup berkesan.
Sampai jumpa di sana..
Tapi berbeda dengan keadaan di luar sana. Di kota-kota yang jauh dari wilayah Jabodetabek. Di sana semuanya berjalan damai, tak ada huru-hara di pagi hari demi menghindari kemacetan karena kondisi jalan yang relatif lengang, tak ada wajah-wajah penuh noda karena polusi belum mencemari udara sekitar. Semuanya berjalan teratur dan penuh harmoni. Keadaan yang saya rindukan terutama saat bertandang ke sebuah kota, kota Malang.
Malang kota yang indah dan penuh pesona. Kota yang dirancang dengan beragam keunikan, bangunan bangunannya yang artistik, dan wisata-wisatanya yang menarik. Kota yang tepat untuk beristirahat dan menghabiskan masa tua karena irama kehidupannya yang selaras dengan alam. Sungguh damai.
Kesan itulah yang benar-benar saya tangkap kala pesawat saya berlabuh di bandara Abdurrahman Saleh dua tahun lalu, bandara yang menjaga kesederhanaannya dan tak terlampau peduli akan gegap gempita modernitas. Sayapun beranjak meninggalkan bandara yang berada di kompleks angkatan udara menuju penginapan. Teringat jelas kala melintasi jalan-jalan kota malang, kesan bersahabat yang berpadu indah antara manusia dan alam.
Kesan sentimentil kini datang lagi saat hari ini saya menyempatkan singgah kembali ke kota ini. Teringat ketika dulu sempat bertemu dengan Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan selepas mereka berlatih bersama Persema Malang. Sebuah pertemuan di lobi Hotel Regent yang tak diduga. Lalu saat aura kota Malang yang mistis dan dingin mulai menampakkan wujudnya membuat saya merasa dibayangi oleh sebentuk makhluk halus yang sepertinya telah lama mendiami kamar hotel nomor 243.
Banyak hal yang menjadikan Malang penuh kenangan. Terlebih lagi sekarang, ketika kali kedua saya bertandang kembali ke kota ini. Yang sepertinya akan meninggalkan kenangan cukup berkesan.
Sampai jumpa di sana..
Sunday, 17 February 2013
Ngemil
Ada dua hal yang membuat pengemil sejati menghentikan aktivitas ngemilnya, pertama karena cemilannya habis, atau yang kedua karena dipaksa berhenti oleh orang lain. Dipaksa itu pun karena dua sebab, sungkan dengan si pemilik cemilan, atau karena si pemilik cemilan dengan terang-terangan meminta anda menghentikan aktivitas ngemil anda. Jelas terlihat dari sorot mata si pemilik yang seolah berkata.."Beli sendiri...minta mulu!"
Ngemil memang asyik, dan semakin asyik kalau cemilan itu punya orang lain. Biasanya jarang-jarang tukang ngemil membeli cemilan sendiri, kalaupun membeli sendiri pasti dihemat-hemat. Kalau bisa cemilan yang dibeli bisa bertahan sangat lama, selama mungkin sampai terkadang lupa kalau di kulkas ada cemilan yang menganggur. Tapi memang cemilan milik orang lain terlihat lebih enak, padahal cemilan punya sendiri yang ada di dalam kulkas sama dengan cemilan milik orang lain. Aneh, fakta pertama untuk cemilan.
Aktivitas ngemil itu mirip-mirip dengan orang yang terindikasi OCD (obsesive compulsive disorder). Tak tahan tuk tidak melakukan sesuatu berulang-ulang. Seolah tangan ini tak bisa berhenti untuk mengupas kulit kacang atau mengambil keripik yang ada di dalam bungkus cemilan. Sehingga jadi sesuatu yang aneh saat berhenti ngemil di tengah jalan, ada rasa gatal untuk kembali mengambil satu lagi cemilan dan melanjutkan lagi ngemilnya. Tapi itu cuma sensasi sesaat, beberapa menit menahan diri dari ngemil, tangan dan pikiran sudah bisa dikendalikan untuk berhenti ngemil. Aneh, fakta kedua untuk cemilan.
Biasanya antara jam sarapan ke jam makan siang ada jeda kosong yang terkadang agak tanggung kalau diisi dengan aktivitas makan berat. Maka ngemil pun jadi pilihan. Terasa menyenangkan memakan cemilan ringan sambil menunggu makan siang. Sehingga tak disangka waktupun berjalan cepat dan tak terasa bobot tubuh bertambah gemuk dan berat. Aneh, fakta ketiga untuk cemilan.
Ngemil itu menyenangkan jika masih ada cemilannya. Jika sudah habis, maka sesaat ada perasaan menyesal saat menghabiskan cemilan tanpa perencanaan yang matang. Padahal bisa saja cemilan itu dimakan nanti di saat-saat yang tepat untuk menemani bekerja, menonton atau aktivitas lainnya. Aneh, fakta keempat untuk cemilan.
Ngemil itu ibarat waktu senggang yang kita miliki. Sangat berharga tuk digunakan sampai-sampai beberapa orang rela mengambil hak orang lain untuk mendapatkannya. Entah bolos kerja, ataupun ijin pura-pura sakit. Sangat berharga hingga tak rela tuk dihabiskan oleh dan bersama orang lain. Waktu luang terkadang membuat kita tak bisa berhenti jika sudah menggunakannya. membuat kita lupa segala hal hingga berakibat buruk bagi diri dan kehidupan. Maka ketika ia pergi, waktu senggang telah hilang, hanya penyesalan yang tersisa karena tidak menggunakannya secara bijak.
Karena waktu luang merupakan nikmat..
Ngemil memang asyik, dan semakin asyik kalau cemilan itu punya orang lain. Biasanya jarang-jarang tukang ngemil membeli cemilan sendiri, kalaupun membeli sendiri pasti dihemat-hemat. Kalau bisa cemilan yang dibeli bisa bertahan sangat lama, selama mungkin sampai terkadang lupa kalau di kulkas ada cemilan yang menganggur. Tapi memang cemilan milik orang lain terlihat lebih enak, padahal cemilan punya sendiri yang ada di dalam kulkas sama dengan cemilan milik orang lain. Aneh, fakta pertama untuk cemilan.
Aktivitas ngemil itu mirip-mirip dengan orang yang terindikasi OCD (obsesive compulsive disorder). Tak tahan tuk tidak melakukan sesuatu berulang-ulang. Seolah tangan ini tak bisa berhenti untuk mengupas kulit kacang atau mengambil keripik yang ada di dalam bungkus cemilan. Sehingga jadi sesuatu yang aneh saat berhenti ngemil di tengah jalan, ada rasa gatal untuk kembali mengambil satu lagi cemilan dan melanjutkan lagi ngemilnya. Tapi itu cuma sensasi sesaat, beberapa menit menahan diri dari ngemil, tangan dan pikiran sudah bisa dikendalikan untuk berhenti ngemil. Aneh, fakta kedua untuk cemilan.
Biasanya antara jam sarapan ke jam makan siang ada jeda kosong yang terkadang agak tanggung kalau diisi dengan aktivitas makan berat. Maka ngemil pun jadi pilihan. Terasa menyenangkan memakan cemilan ringan sambil menunggu makan siang. Sehingga tak disangka waktupun berjalan cepat dan tak terasa bobot tubuh bertambah gemuk dan berat. Aneh, fakta ketiga untuk cemilan.
Ngemil itu menyenangkan jika masih ada cemilannya. Jika sudah habis, maka sesaat ada perasaan menyesal saat menghabiskan cemilan tanpa perencanaan yang matang. Padahal bisa saja cemilan itu dimakan nanti di saat-saat yang tepat untuk menemani bekerja, menonton atau aktivitas lainnya. Aneh, fakta keempat untuk cemilan.
Ngemil itu ibarat waktu senggang yang kita miliki. Sangat berharga tuk digunakan sampai-sampai beberapa orang rela mengambil hak orang lain untuk mendapatkannya. Entah bolos kerja, ataupun ijin pura-pura sakit. Sangat berharga hingga tak rela tuk dihabiskan oleh dan bersama orang lain. Waktu luang terkadang membuat kita tak bisa berhenti jika sudah menggunakannya. membuat kita lupa segala hal hingga berakibat buruk bagi diri dan kehidupan. Maka ketika ia pergi, waktu senggang telah hilang, hanya penyesalan yang tersisa karena tidak menggunakannya secara bijak.
Karena waktu luang merupakan nikmat..
Wednesday, 13 February 2013
Dua Orang, Beda Zaman, dan Sebuah Persamaan.
Kejadian itu terlampau lama berlalu, ia pun tak dapat menarik persis kenangan yang terendap jauh di dalam memorinya. Yang ia ingat, saat itu dirinya masih bocah ingusan yang diajak menonton aksi pamer kehebatan antara kaumnya dengan seorang manusia. Persis di samping ayahnya ia berdiri dan melihat dari kejauhan dua orang berhadapan di atas panggung. Ia pun mencoba mengingat-ingat suasana saat itu. Di tanah lapang nan tandus, di atas panggung itu, salah satu dari kaumnya berkata.
"Aku dapat segera membawa singgasana itu kehadapan anda yang mulia, sebelum anda beranjak berdiri dari singgasana anda kini"
Jelas terlihat dari kejauhan, ia nampak sangat percaya diri. Pancaran wajahnya penuh keyakinan dan seolah berkata bahwa takkan ada yang mampu menyaingi kekuatannya.
Lelaki dengan panggilan yang mulia nampak mematung dan berpikir sejenak, ia tidak mengatakan sepatah katapun. Ia menunggu seorang lagi, sang penantang yang terlihat berjalan ke tengah panggung, tatapannya teduh dengan sinar cahaya wajah yang tersirat jelas. Dengan santun dan merendah ia berkata.
"Wahai Raja, sesungguhnya tiada kekuatan, daya dan upaya melainkan atas kehendak dariNya. Maka atas izinNya, saya akan membawa singgasana itu sebelum anda mengedipkan mata"
Riuh rendah gemuruh percakapan nampak memenuhi seisi lapangan. Seolah tak ada satupun penonton yang percaya bahwa singgasana yang megah itu dapat berpindah secepat kilat sejauh ratusan kilometer dari daerah di ujung jazirah sana ke daerah bertandus ini. Ia lupa, sungguh lupa apa yang terjadi setelah itu. Ingatan ribuan tahunnya telah melapuk dan hanya menyisakan serpihan-serpihan kecil dari serangkaian puzzle kenangan. Yang jelas saat itu perwakilan kaumnya nampak harus mengakui kekalahan. Dengan sekejap mata, sebuah singgasana telah berdiri anggun di atas panggung. Manusia itu berhasil, ia sungguh hebat.
Ribuan tahun berlalu dan sekarang ia menemukan kembali dan melihat jelas persamaan diantara kedua manusia ini. Sungguh ia tak tahu persis apa sebenarnya yang membuatnya berpikir bahwa kedua orang ini memiliki kesamaan, ingatannya tak lagi setajam dulu. Gerak-gerik, tingkah laku dan sorotan mata teduh keduanya memang mirip, tapi bukan itu, ada hal lain yang membuatnya berpikir bahwa ada kesamaan diantara kedua orang ini. Semacam auara atau sejenisnya, entah apa sebenarnya.
Tetiba sejumput kenangan muncul dari relung ingatan terdalamnya.
Suara itu, bacaan itu yang sama persis seperti apa yang kudengar dari manusia yang ada di lapangan itu dulu.
Ia pun mencari dari mana suara merdu ini dibacakan. Diikutinya arah suara itu berasal dan sampailah ia di sebuah ruangan di lantai dua. Irama dan bacaan itu sungguh menarik hatinya..
ini, bacaan ini sungguh luar biasa. Terlihat sebuah kitab yang dibaca dengan khusyuk oleh sesosok manusia yang nampak berurai air mata membaca lembaran kertas yang ada dihadapannya.
Ternyata, mereka memiliki kitab yang sama.
Dan perlahan dirinya pun larut.
Sembari bergumam dalam hati ia berkata, Tak ada kata terlambat untuk sebuah kebenaran.
Monday, 4 February 2013
#Nyinyir
Nyinyir, sayapun tak tahu persis apa kosa kata ini telah terdaftar secara resmi di KBBI atau belum. Tapi unik juga sih kalau mendengar kata ini, agak-agak lucu jika diucapkan, semacam ada rasa pedas bermakna keluhan bila mengaitkan kata ini untuk sebuah peristiwa atau kejadian yang menyebalkan.
"nih orang nyinyir aja, udah sono kerja.."
"nyinyir mulu lu, mendingan bantuin gw sini.."
"sial nih orang, bisanya nyinyir doank.."
Setelah saya cek di internet, ternyata nyinyir itu berarti mengulang-ulang perintah, atau dengan kata lain, cerewet. Sering kali kata ini saya dapatkan di internet, terutama twitter, kala seseorang dilihat cuma bisa ngomong doank, padahal kerja pun belum tentu bisa, kontribusi pun belum tentu ada. Dan mungkin fenomonena nyinyir sedang nge-trend sekarang ini, saat beberapa isu nasional sedang asyik tuk di-nyinyir-in.
Semua hal di-nyinyir-in. Jabat tangan menteri komunikasi dengan ibu negara Amerika Serikat, nyinyir. Pedagang stasiun yang bersusah payah membela hak-haknya, nyinyir. Perda larangan berboncengan dengan duduk mengangkang, nyinyir. FPI yang menegakkan nahi mungkar, nyinyir. Bahkan berprasangka baik terhadap partai yang terkena kasus korupsi pun di-nyinyir-in, Gila.. sekedar berprasangka baik saja di-nyinyir-in. duh.
Nyinyir itu asyik, puas rasanya saat mengomentari seseorang yang terkenal bersih dan alim ternyata tersangkut kasus korupsi. Nyinyir itu sarana melampiaskan emosi, saat suatu hal berjalan tidak sesuai dengan kehendak kita. Nyinyir itu mudah, cuma sekedar duduk santai mengeluh dan mengkritik segala hal yang tidak sesuai dengan pendapat kita, dimana disaat yang bersamaan orang-orang lain sibuk bekerja dan bertindak nyata.
Nyinyir itu budaya, karena sejak dulu leluhur kita memang terkenal sebagai seorang pujangga yang jago bersilat lidah. Sehingga banyak yang beralasan bahwa nyinyir adalah faktor keturunan. Benar juga sih, tapi saat nyinyir hanya bisa berdampak negatif, membuat orang emosi, dan memancing permusuhan, nyinyir tidak lebih dari aktivitas yang penuh kesia-siaan. Apalagi nyinyir-nya sudah sampai tingkatan ghibah, wah itu sudah masuk zona merah..
Meski begitu, kita patut berterima kasih karena nyinyir pula yang membuat Indonesia menduduki peringkat 5 pengguna twitter terbanyak di dunia, saat apapun dikicaukan. Sehingga setidaknya ada yang bisa dibanggakan dari negeri ini walau sekedar nyinyir lewat twitter-an.
*tidak lebih baik dari orang-orang yang nyinyir
*otokritik untuk pribadi penulis.
foto : http://soeloehmelajoe.files.wordpress.com/2012/06/cerewet.jpg?w=600
"nih orang nyinyir aja, udah sono kerja.."
"nyinyir mulu lu, mendingan bantuin gw sini.."
"sial nih orang, bisanya nyinyir doank.."
Setelah saya cek di internet, ternyata nyinyir itu berarti mengulang-ulang perintah, atau dengan kata lain, cerewet. Sering kali kata ini saya dapatkan di internet, terutama twitter, kala seseorang dilihat cuma bisa ngomong doank, padahal kerja pun belum tentu bisa, kontribusi pun belum tentu ada. Dan mungkin fenomonena nyinyir sedang nge-trend sekarang ini, saat beberapa isu nasional sedang asyik tuk di-nyinyir-in.
Semua hal di-nyinyir-in. Jabat tangan menteri komunikasi dengan ibu negara Amerika Serikat, nyinyir. Pedagang stasiun yang bersusah payah membela hak-haknya, nyinyir. Perda larangan berboncengan dengan duduk mengangkang, nyinyir. FPI yang menegakkan nahi mungkar, nyinyir. Bahkan berprasangka baik terhadap partai yang terkena kasus korupsi pun di-nyinyir-in, Gila.. sekedar berprasangka baik saja di-nyinyir-in. duh.
Nyinyir itu asyik, puas rasanya saat mengomentari seseorang yang terkenal bersih dan alim ternyata tersangkut kasus korupsi. Nyinyir itu sarana melampiaskan emosi, saat suatu hal berjalan tidak sesuai dengan kehendak kita. Nyinyir itu mudah, cuma sekedar duduk santai mengeluh dan mengkritik segala hal yang tidak sesuai dengan pendapat kita, dimana disaat yang bersamaan orang-orang lain sibuk bekerja dan bertindak nyata.
Nyinyir itu budaya, karena sejak dulu leluhur kita memang terkenal sebagai seorang pujangga yang jago bersilat lidah. Sehingga banyak yang beralasan bahwa nyinyir adalah faktor keturunan. Benar juga sih, tapi saat nyinyir hanya bisa berdampak negatif, membuat orang emosi, dan memancing permusuhan, nyinyir tidak lebih dari aktivitas yang penuh kesia-siaan. Apalagi nyinyir-nya sudah sampai tingkatan ghibah, wah itu sudah masuk zona merah..
Meski begitu, kita patut berterima kasih karena nyinyir pula yang membuat Indonesia menduduki peringkat 5 pengguna twitter terbanyak di dunia, saat apapun dikicaukan. Sehingga setidaknya ada yang bisa dibanggakan dari negeri ini walau sekedar nyinyir lewat twitter-an.
*tidak lebih baik dari orang-orang yang nyinyir
*otokritik untuk pribadi penulis.
foto : http://soeloehmelajoe.files.wordpress.com/2012/06/cerewet.jpg?w=600
Sunday, 27 January 2013
Wanita - Tak Tergapai
Butuh waktu lama bagi Rizka untuk menyadari bahwa tinggal menyisakan beberapa menit lagi sebelum Anton bertandang ke rumahnya. Dilihatnya kembali diri yang nampak mematung di depan cermin. Kini ia bak supermodel, rambut lurus tergerai, eye shadow, gincu merah muda, dan polesan bedak putih yang kini nampak agak menebal.
Diusapnya kembali wajahnya untuk meratakan bedak yang terlihat menumpuk di beberapa sisi. Ia pun menatap kembali wajahnya di depan cermin yang mulai bosan dengan tingkah laku Rizka. Tak puas, ia pun kembali memoles beberapa sisi wajahnya dengan bedak putih yang dirasanya belum menutupi beberapa flek hitam yang mulai bermunculan di bawah kelopak mata.
Ia terdiam sesaat, menyadari betapa menyedihkannya orang yang kini berdiri di depan cermin. Pontang panting tuk sekedar mendapatkan apa yang sedari dulu ia anggap sesuatu yang mudah. Lihat dirinya, Wanita cantik paruh baya dengan senyuman manis layaknya Dian Sastro, dan tatapan mata teduh si cantik Zaskia Mecca.
Tak ada yang kurang darinya, postur tinggi badan semampai dengan kesehatan yang prima. Terlahir dari keluarga terpandang anak dari pejabat di salah satu perusahaan milik negara. Pesona dirinya pun makin lengkap dengan berbagai titel yang nampak elegan tersandang di depan dan belakang namanya, Prof. Dr. dr. Rizka Aziza, Sp.BP.
Ah tidak, 10 menit lagi. Ia pun segera mengganti daster yang dipakainya sedari pagi dengan gaun indah pemberian Anton. Tapi tunggu, dimana gaunnya kini? ia pun berdesis keluh, ah sial, kamarku seperti kapal pecah. Handuk dan pakaian bekas pakai kemarin, masih tergeletak di atas kasur dengan selimut dan bantal tak karuan. Terlihat pula beberapa alat kosmetik, sendal, dan hair dryer masih teronggok tak jelas di atas lantai.
Dibukanya lemari pakaian yang masih menyisakan beberapa pakaian layak pakai. Duh, terserah lah. Ia pun asal mengambil beberapa helai pakaian, rok panjang berwarna hitam dipadu blouse berwarna pink. Dipakainya dengan tergesa, dan simsalabim, 20 menit persiapan yang penuh kekacauan. Semoga kali ini tak seperti cerita yang sudah-sudah.
--
"Rizkaa.. Anton sudah datang, cepat turun nak.."
Suara seorang wanita terdengar lantang dari bawah. Mama yang selalu mengeluhkan atas segala yang sudah Ia lakukan.
"nduk..mbok jadi perempuan itu jangan terlalu ngoyo, biasa aja, sudahlah, cukup sampai disini. sekarang fokus untuk yang lain."
Sedari dulu, bahkan sejak ia melanjutkan ke tingkatan strata tiga. Nasihat sang ibu tak lebih dari angin lalu yang sekedar menjadi ketakutan sesaat para orang tua. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, Ia cantik, terpandang dengan segala keindahan seorang wanita yang berkumpul anggun pada dirinya. Tak sulit tuk sekedar mencari lelaki, kerlingan mata sesaat pada sang Adam cukup membuat pria manapun bertekuk lutut di hadapannya. Jadi tak ada alasan tuk takut.
Ia makin asyik dengan dunianya. Gelar akademis tertinggi dari universitas ternama. Guru besar dengan spesialisasi di bidang kedokteran yang mumpuni. Ia kini tinggi, hingga tak sanggup lagi tergapai oleh siapapun. Profesor cantik, Dokter pintar, terpandang dan dari keluarga kaya. Ah wanita mana yang mampu menyainginya kini. Sesaat setelah penganugerahan gelar guru besar, sesuatu nampak hinggap di hatinya, sesuatu yang kosong dan tak mampu dimaknai. Apalagi yang harus kukejar. Sorak sorai selamat dari rekan-rekan seprofesinya terasa hambar. Ia memasang wajah datar dengan tatapan nanar.
"Wah Rizka, selamat yaaa.."
dr. Rini sahabat baiknya datang dengan kedua putra yang lucu dan menggemaskan, di belakangnya nampak sang suami sedang menggendong anak ketiga mereka, putri kecil yang cantik.
"eh iya, makasih ya rin"
Satu per satu, rekan sejawat yang hadir dengan pasangannya masing-masing menyadarkannya akan satu hal. Mama, kau benar.
Wandi, Ridwan, Ali, Mike, orang-orang yang dulu hadir tanpa diminta oleh dirinya. Menyapanya tiap pagi, membawakan minuman untuknya ketika ia terduduk lelah di ruangan dosen. Mereka yang begitu perhatian pada dirinya. Sinyal-sinyal itu, ah untuk pertama kalinya, ia merasa sangat bodoh. Harusnya Ia tahu maksud itu. Tak ada sesuatu yang cuma-cuma, ada sebongkah harapan dari mereka terhadapnya. Tapi kini, setelah 10 tahun berjalan, satu per satu mereka mundur teratur. Dan kini disinilah ia berada, dalam relung angan-angan yang memuai, hilang dan lepas.
--
Anton, pria setengah abad dan perut buncit yang kerap kali menganggu pandangannya. Sorot mata sang ibu tak lagi dihiraukan oleh Rizka, sorot mata penuh harap yang seolah tak mempersoalkan lagi siapa yang kini hendak meminang putrinya.
Sebegitu pasrahnya kah ibu?
Dulu, Satu per satu lelaki tampan dan berpendidikan nampak memandang terlalu tinggi dirinya, Ia masih saja dianggap tak tergapai. Padahal Aku dengan senang hati menerima. Tapi kenapa, Ada apa dengan kalian??
Anton memang bukan yang pertama, dan pastinya, setelah ia memandang kembali pada sosok pria tua dihadapannya. Ia berketetapan hati, Kau bukan yang terakhir.
nampak gurat kekecewaan dari wajah sang ibu.
Diusapnya kembali wajahnya untuk meratakan bedak yang terlihat menumpuk di beberapa sisi. Ia pun menatap kembali wajahnya di depan cermin yang mulai bosan dengan tingkah laku Rizka. Tak puas, ia pun kembali memoles beberapa sisi wajahnya dengan bedak putih yang dirasanya belum menutupi beberapa flek hitam yang mulai bermunculan di bawah kelopak mata.
Ia terdiam sesaat, menyadari betapa menyedihkannya orang yang kini berdiri di depan cermin. Pontang panting tuk sekedar mendapatkan apa yang sedari dulu ia anggap sesuatu yang mudah. Lihat dirinya, Wanita cantik paruh baya dengan senyuman manis layaknya Dian Sastro, dan tatapan mata teduh si cantik Zaskia Mecca.
Tak ada yang kurang darinya, postur tinggi badan semampai dengan kesehatan yang prima. Terlahir dari keluarga terpandang anak dari pejabat di salah satu perusahaan milik negara. Pesona dirinya pun makin lengkap dengan berbagai titel yang nampak elegan tersandang di depan dan belakang namanya, Prof. Dr. dr. Rizka Aziza, Sp.BP.
Ah tidak, 10 menit lagi. Ia pun segera mengganti daster yang dipakainya sedari pagi dengan gaun indah pemberian Anton. Tapi tunggu, dimana gaunnya kini? ia pun berdesis keluh, ah sial, kamarku seperti kapal pecah. Handuk dan pakaian bekas pakai kemarin, masih tergeletak di atas kasur dengan selimut dan bantal tak karuan. Terlihat pula beberapa alat kosmetik, sendal, dan hair dryer masih teronggok tak jelas di atas lantai.
Dibukanya lemari pakaian yang masih menyisakan beberapa pakaian layak pakai. Duh, terserah lah. Ia pun asal mengambil beberapa helai pakaian, rok panjang berwarna hitam dipadu blouse berwarna pink. Dipakainya dengan tergesa, dan simsalabim, 20 menit persiapan yang penuh kekacauan. Semoga kali ini tak seperti cerita yang sudah-sudah.
--
"Rizkaa.. Anton sudah datang, cepat turun nak.."
Suara seorang wanita terdengar lantang dari bawah. Mama yang selalu mengeluhkan atas segala yang sudah Ia lakukan.
"nduk..mbok jadi perempuan itu jangan terlalu ngoyo, biasa aja, sudahlah, cukup sampai disini. sekarang fokus untuk yang lain."
Sedari dulu, bahkan sejak ia melanjutkan ke tingkatan strata tiga. Nasihat sang ibu tak lebih dari angin lalu yang sekedar menjadi ketakutan sesaat para orang tua. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, Ia cantik, terpandang dengan segala keindahan seorang wanita yang berkumpul anggun pada dirinya. Tak sulit tuk sekedar mencari lelaki, kerlingan mata sesaat pada sang Adam cukup membuat pria manapun bertekuk lutut di hadapannya. Jadi tak ada alasan tuk takut.
Ia makin asyik dengan dunianya. Gelar akademis tertinggi dari universitas ternama. Guru besar dengan spesialisasi di bidang kedokteran yang mumpuni. Ia kini tinggi, hingga tak sanggup lagi tergapai oleh siapapun. Profesor cantik, Dokter pintar, terpandang dan dari keluarga kaya. Ah wanita mana yang mampu menyainginya kini. Sesaat setelah penganugerahan gelar guru besar, sesuatu nampak hinggap di hatinya, sesuatu yang kosong dan tak mampu dimaknai. Apalagi yang harus kukejar. Sorak sorai selamat dari rekan-rekan seprofesinya terasa hambar. Ia memasang wajah datar dengan tatapan nanar.
"Wah Rizka, selamat yaaa.."
dr. Rini sahabat baiknya datang dengan kedua putra yang lucu dan menggemaskan, di belakangnya nampak sang suami sedang menggendong anak ketiga mereka, putri kecil yang cantik.
"eh iya, makasih ya rin"
Satu per satu, rekan sejawat yang hadir dengan pasangannya masing-masing menyadarkannya akan satu hal. Mama, kau benar.
Wandi, Ridwan, Ali, Mike, orang-orang yang dulu hadir tanpa diminta oleh dirinya. Menyapanya tiap pagi, membawakan minuman untuknya ketika ia terduduk lelah di ruangan dosen. Mereka yang begitu perhatian pada dirinya. Sinyal-sinyal itu, ah untuk pertama kalinya, ia merasa sangat bodoh. Harusnya Ia tahu maksud itu. Tak ada sesuatu yang cuma-cuma, ada sebongkah harapan dari mereka terhadapnya. Tapi kini, setelah 10 tahun berjalan, satu per satu mereka mundur teratur. Dan kini disinilah ia berada, dalam relung angan-angan yang memuai, hilang dan lepas.
--
Anton, pria setengah abad dan perut buncit yang kerap kali menganggu pandangannya. Sorot mata sang ibu tak lagi dihiraukan oleh Rizka, sorot mata penuh harap yang seolah tak mempersoalkan lagi siapa yang kini hendak meminang putrinya.
Sebegitu pasrahnya kah ibu?
Dulu, Satu per satu lelaki tampan dan berpendidikan nampak memandang terlalu tinggi dirinya, Ia masih saja dianggap tak tergapai. Padahal Aku dengan senang hati menerima. Tapi kenapa, Ada apa dengan kalian??
Anton memang bukan yang pertama, dan pastinya, setelah ia memandang kembali pada sosok pria tua dihadapannya. Ia berketetapan hati, Kau bukan yang terakhir.
nampak gurat kekecewaan dari wajah sang ibu.
Tuesday, 22 January 2013
The Good Old Time
Konsol game pertama yang saya miliki adalah nintendo atau lebih dikenal dengan nama NES 16 bit (Nintendo Entertainment System). Perkenalan awal saya dengan NES adalah saat saya melihat teman se-TK memainkan game super mario bros dengan asyiknya. wuih.. jadi kepengen main juga, sayapun diajaknya bermain dan seketika itu pula saya langsung jatuh hati pada konsol game ini. Love at the first sight.hehe
Kisahpun berlanjut, dengan merengek dan memohon pada ayah, serta berjanji untuk mendapatkan nilai raport yang bagus di tahun itu, sayapun berhasil meyakinkan ayah untuk membeli konsol game NES. Yess. Sepertinya masa kecil yang penuh imajinasi telah dimulai.hehe Benar saja, game-game itu membawa perubahan berarti bagi saya. Bocah lelaki berumur 6 tahun dengan dunianya yang berkisar antara sekolah, lapangan bermain, dan rumah, diajak menjelajah ke dunia yang penuh petualangan.
Suatu waktu saya berperan sebagai seorang tukang pipa, dan suatu kali berperan menjadi tentara elit pemberantas alien. Walau si tukang pipa tak selalu berhasil menyelamatkan sang putri, walau si tentara tak kunjung berhasil membasmi alien. Ah sungguh menyenangkan, ternyata dunia tidak hanya sekedar permainan petak umpet, kelereng, atau galasin. hehe.
Tapi memang, tidak dipungkiri, permainan petak umpet, galasin, dan kelereng turut melatih kemampuan saya bersosialisasi, berempati, dan belajar bekerja sama. Semua hal yang mungkin kurang didapatkan dari konsol game. Namun, melalui game konsol inilah saya diajak bermimpi, berpetualang untuk menyelesaikan suatu tugas apalagi saat memainkan game petualangan. Alangkah gembiranya saat berhasil menamatkan sebuah misi. Ada kebanggaan tersendiri, Ternyata saya bisa loh.
Dan kini saat usia beranjak dewasa, sayapun masih bermimpi untuk dapat berpetualang seperti di dalam game yang saya mainkan. Membawa lagi keasyikan dan keseruan di dalamnya. Menjelajah tempat yang asing dengan berbagai tantangan yang tak terduga. Menyelesaikan suatu misi dengan beragam teka tekinya. Ah nampaknya sensasi berpetualang yang sebenarnya saya cari.
Berpetualang di dunia yang tak hanya berada di dalam TV dan konsol game. Mencari keseruan hidup dan menciptakan ragam warna di dalamnya. Berpergian dan merencanakan sendiri petualangan yang saya inginkan. Mungkin hidup tak semeriah dan seseru game konsol, tapi setidaknya saya bisa membumbuinya dengan sedikit aroma keceriaan dan beberapa tetes pedasnya tantangan. Mari sejenak keluar dari penatnya rutinitas dan resapi aneka rasa kehidupan.
*saatnya cuti dan merencanakan liburan
Kisahpun berlanjut, dengan merengek dan memohon pada ayah, serta berjanji untuk mendapatkan nilai raport yang bagus di tahun itu, sayapun berhasil meyakinkan ayah untuk membeli konsol game NES. Yess. Sepertinya masa kecil yang penuh imajinasi telah dimulai.hehe Benar saja, game-game itu membawa perubahan berarti bagi saya. Bocah lelaki berumur 6 tahun dengan dunianya yang berkisar antara sekolah, lapangan bermain, dan rumah, diajak menjelajah ke dunia yang penuh petualangan.
Suatu waktu saya berperan sebagai seorang tukang pipa, dan suatu kali berperan menjadi tentara elit pemberantas alien. Walau si tukang pipa tak selalu berhasil menyelamatkan sang putri, walau si tentara tak kunjung berhasil membasmi alien. Ah sungguh menyenangkan, ternyata dunia tidak hanya sekedar permainan petak umpet, kelereng, atau galasin. hehe.
Tapi memang, tidak dipungkiri, permainan petak umpet, galasin, dan kelereng turut melatih kemampuan saya bersosialisasi, berempati, dan belajar bekerja sama. Semua hal yang mungkin kurang didapatkan dari konsol game. Namun, melalui game konsol inilah saya diajak bermimpi, berpetualang untuk menyelesaikan suatu tugas apalagi saat memainkan game petualangan. Alangkah gembiranya saat berhasil menamatkan sebuah misi. Ada kebanggaan tersendiri, Ternyata saya bisa loh.
Dan kini saat usia beranjak dewasa, sayapun masih bermimpi untuk dapat berpetualang seperti di dalam game yang saya mainkan. Membawa lagi keasyikan dan keseruan di dalamnya. Menjelajah tempat yang asing dengan berbagai tantangan yang tak terduga. Menyelesaikan suatu misi dengan beragam teka tekinya. Ah nampaknya sensasi berpetualang yang sebenarnya saya cari.
Berpetualang di dunia yang tak hanya berada di dalam TV dan konsol game. Mencari keseruan hidup dan menciptakan ragam warna di dalamnya. Berpergian dan merencanakan sendiri petualangan yang saya inginkan. Mungkin hidup tak semeriah dan seseru game konsol, tapi setidaknya saya bisa membumbuinya dengan sedikit aroma keceriaan dan beberapa tetes pedasnya tantangan. Mari sejenak keluar dari penatnya rutinitas dan resapi aneka rasa kehidupan.
*saatnya cuti dan merencanakan liburan
Thursday, 3 January 2013
Spongebob dan Kebodohan kita
Mari kita awali pagi ini dengan menonton Spongebob, serial kesayangan kita (kita??), eh maksudnya saya :p. Sejak tinggal di petamburan, dan jarak ke kantor hanya beberapa kilometer saja, saya pun masih sempat menonton Spongebob dan tayangan itu menjadi alternatif (satu-satunya) tontonan yang enak dilihat diantara tayangan berbau gosip, alay, dan gak jelas lainnya.
Saya suka Spongebob, tiap episodenya mencerminkan sifat dan perilaku satir manusia yang terkadang luput dari pandangan mata. Yang terkadang membuat kita terpingkal-pingkal menertawakan kebodohan spongebob yang ternyata juga kita lakukan.
Misalnya saat ia beralih profesi menjadi penjaga pantai dengan berbekal tanda putih di hidung. Dengan style penjaga pantai yang pas dan kepercayaan diri tinggi, ia pun berlagak menjadi penjaga pantai yang populer di mata orang-orang, dan bodohnya, Larry (lobster berbadan besar, si bos penjaga pantai) percaya saja. Padahal spongebob berenang pun tidak bisa. Duh.. mirip kita sekali yang terkadang membohongi diri sendiri untuk sekedar mencari perhatian orang, menjadi populer, padahal kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita lakukan.
Atau mungkin saat fanatismenya terhadap ubur-ubur, krabby patty, dan kulit kerang ajaib menjadi tontonan seru. Ah, terkadang kita pun sepertinya, gaya lebay dan lucu spongebob membuat kita tak terlalu mawas bahwa kita sewaktu-waktu fanatik tak jelas pada suatu hal. Tengoklah kini saat konser band kesayangan kita manggung di jakarta, yang rela membuat kita antri berjam-jam dibawah guyuran hujan. Yang kalau dipikir-pikir sama saja dengan Spongebob, tapi beda subjek yang di fanatisme kan.
Menertawakan diri sekali-kali itu perlu, setidaknya membuat kita tahu bahwa kebodohan adalah hal yang wajar dalam kadar tertentu. Sehingga hidup tak melulu tentang hal ini dan itu yang tak kenal waktu. Dan menonton spongebob membuat kita sedikit bersyukur, bahwa hidup kita tidak dikelilingi Teman yang idiot, tetangga yang menyebalkan, rekan kerja yang cuek, bos yang pelit, dan setidaknya kita lebih beruntung dari spongebob karena telah berhasil di jenjang akademis, tidak sepertinya yang tak pernah lulus kursus mengemudi dan membuat gurunya frustasi. hehe.
*melanjutkan nonton..menyeruput kopi..
gambar diunduh dari : http://voices.washingtonpost.com/answer-sheet/talking-out-of-school/spongebob-speaks-exclusive-int.html
Saya suka Spongebob, tiap episodenya mencerminkan sifat dan perilaku satir manusia yang terkadang luput dari pandangan mata. Yang terkadang membuat kita terpingkal-pingkal menertawakan kebodohan spongebob yang ternyata juga kita lakukan.
Misalnya saat ia beralih profesi menjadi penjaga pantai dengan berbekal tanda putih di hidung. Dengan style penjaga pantai yang pas dan kepercayaan diri tinggi, ia pun berlagak menjadi penjaga pantai yang populer di mata orang-orang, dan bodohnya, Larry (lobster berbadan besar, si bos penjaga pantai) percaya saja. Padahal spongebob berenang pun tidak bisa. Duh.. mirip kita sekali yang terkadang membohongi diri sendiri untuk sekedar mencari perhatian orang, menjadi populer, padahal kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita lakukan.
Atau mungkin saat fanatismenya terhadap ubur-ubur, krabby patty, dan kulit kerang ajaib menjadi tontonan seru. Ah, terkadang kita pun sepertinya, gaya lebay dan lucu spongebob membuat kita tak terlalu mawas bahwa kita sewaktu-waktu fanatik tak jelas pada suatu hal. Tengoklah kini saat konser band kesayangan kita manggung di jakarta, yang rela membuat kita antri berjam-jam dibawah guyuran hujan. Yang kalau dipikir-pikir sama saja dengan Spongebob, tapi beda subjek yang di fanatisme kan.
Menertawakan diri sekali-kali itu perlu, setidaknya membuat kita tahu bahwa kebodohan adalah hal yang wajar dalam kadar tertentu. Sehingga hidup tak melulu tentang hal ini dan itu yang tak kenal waktu. Dan menonton spongebob membuat kita sedikit bersyukur, bahwa hidup kita tidak dikelilingi Teman yang idiot, tetangga yang menyebalkan, rekan kerja yang cuek, bos yang pelit, dan setidaknya kita lebih beruntung dari spongebob karena telah berhasil di jenjang akademis, tidak sepertinya yang tak pernah lulus kursus mengemudi dan membuat gurunya frustasi. hehe.
*melanjutkan nonton..menyeruput kopi..
gambar diunduh dari : http://voices.washingtonpost.com/answer-sheet/talking-out-of-school/spongebob-speaks-exclusive-int.html
Tuesday, 1 January 2013
Master Plan 2013
![]() |
| http://muntr.org/v4/wp-content/uploads/2011/10/the-future.jpg |
Masyhur dikalangan aktivis, hadits yang saya tuliskan di atas. Ya memang untuk memacu seseorang berbuat lebih baik dalam hidupnya, kadang kala perlu dipecut dengan kata-kata membangun seperti itu. hm.. Hadits tersebut Dhoif, bahkan maudhu', tapi tenang dulu, kita tak membahas derajat hadits itu, tapi saya coba membawa kawan-kawan pada sebuah realitas bahwa hidup sejatinya harus lebih baik dari hari ke hari.
Di awal tahun seperti sekarang, sangat mainstream melihat orang-orang menyusun resolusinya, walau mungkin kalau kata temen saya, ngapain solusi diulang terus tiap tahun, yang ada kita perlu revolusi. Ya ya, terlepas dari apa makna resolusi ataupun revolusi, seseorang harus mengetahui apa yang ingin dicapainya di tahun yang baru, setidaknya itu membantunya mengarahkan energi untuk melakukan sesuatu, sehingga tidak berantakan dan grasak grusuk nabrak sana sini.
Dan salah satu resolusi eh.. rencana saya di tahun yang baru ini adalah
Sip, itu gambaran umumnya, ya mudah-mudahan tidak terlalu mengawang, dan tidak terlalu membumi, tengah-tengah saja, moderat klo kata pak Musoli. Dan rencana itu sifatnya pleksibel, klo ada kesempatan mungkin ditambahkan, misalnya seperti
tapi insyaAllah secara garis besar, tiga hal itu yang jadi fokus utama.
Bismillah.
Sunday, 30 December 2012
Dilema #2
Aku tak sanggup bertanya pada Bapak.
Serasa ada sesuatu yang naik dari perutku setiap kali ingin memulai
membicarakan tentang hal ini. Kami sekeluarga dalam perjalanan pulang menuju
Jakarta. Nampaknya bapak sedang sibuk menyetir dan tidak bisa diganggu, ah aku
semakin tak sanggup membicarakan hal ini. Si kakak pun sepertinya sudah lama
menunggu. Sesaat kemudian, sebuah SMS masuk ke hape ku.
“jadi gimana? Sudah ada jawaban dari
bapak?”
“belum kak, setiap saya mau ngomong
tentang ini, perut saya tiba-tiba mules. Duh..”
“hm.. yaudah, saya aja yang sms
bapak, tolong kirim nomornya ya”
Hah? Seriusan nih orang? Wah..
nantangin ya. Akupun mengirimkan nomer bapak padanya.
“ini nomernya kak. 0816xxxxx. Tapi
jangan di sms sekarang ya kak, bapak lagi nyupir takutnya keganggu, soalnya
bapak sensitive klo ada sms yang gak jelas dari siapa, biasa ditawarin kartu
kredit. Hehe”
“sip.. oke”
Coba kita lihat, apakah si kakak itu
berani mencoba menghubungi bapak langsung. Ada semacam keraguan, sepertinya ia
akan berpikir puluhan kali kalau ingin mengirim sms langsung ke orang tua ku.
Beberapa saat kemudian, bapak
memanggilku.
“An, ini ada yang sms siapa ya? Temen Ani ya?”
“hah? Temen Ani? Siapa pak? Ngapain
juga ada yang sms bapak”
akupun tak sadar, bahwa sebelumnya ada seseorang yang
meminta nomor bapak dan akan menghubunginya. Dan ternyata, ya Ampun, si kakak
yang mengirimkan sms dengan tulisan yang sangat lugas.
“Assalamualaikum pak, Saya Adi, temannya
Ani, saya ingin mencoba serius untuk taaruf menuju pernikahan dengan anak
bapak. Kalau bapak mengizinkan, saya akan coba mengirimkan CV saya lewat email.
Terima kasih pak”
Ya salam, ini orang serius ya, dan
bapak pun hanya terdiam, akupun salah tingkah, ah tak tahulah.
“bapak akan balas SMSnya, nanti kamu
baca lagi. Kalau ada yang mau ditambahkan tambahkan saja” bapak pun hanya
berkata singkat padaku. Ah biarlah, ikuti saja kemana proses ini akan berjalan.
Sepekan berlalu, dan ia telah
mengirimkan CV nya padaku lewat email. Oh ya, ia juga mengirimkan Proposal
nikahnya. Ah niat sekali.. akupun membaca dan terpaku dengan CV dan
proposalnya. Apa lagi yang bisa membuatku menolaknya. Tapi.. ah selalu ada
gundah, mungkin karena orang itu. Tapi.. sudahlah. Akupun membalas SMSnya
“CV dan proposalnya sudah saya baca
kak, masya Allah, saya masih gak percaya, kenapa saya kak, seharusnya ada yang
lebih baik dari saya”
“Gak An, insyaAllah saya udah
berpikir matang, dan memang, sepertinya Ani orang yang tepat.”
Duh.. akupun tak tahu lagi harus
membalas apa. Bapak ku pun ikut membaca proposalnya pula. Ah sepertinya ia
begitu tertarik dengan si kakak ini. Terlihat jelas dari pancaran wajahnya,
senyumnya menyiratkan bahwa pemuda ini orang yang tepat untuk putrinya. Aku
juga mengirimkan CV ku padanya, CV yang biasa saja, itupun aku contek formatnya
dari CV yang ia kirim, hehe.
“An.. coba bilang ke dia, kalau
misalkan bisa, hari sabtu nanti datang ke rumah. Kamu kasih alamat ke dia ya”
Hah? Ke rumah? Secepat ini kah? Ya
ampun. Akupun mengirimkan SMS padanya meminta agar dia bisa datang ke rumah.
Sesuai dugaanku, ia pun menyanggupinya. Rumah ku di daerah tangerang banten
memang lumayan jauh, dan semoga si kakak ini tidak tersesat.
Pertemuan itu dan
pertemuan-pertemuan selanjutnya, semuanya berjalan lancar. Orang tuanya pun
sudah datang bersilaturahmi ke rumah. Tapi, ah selalu ada tapi, gundah ini
selalu menyertai. Bayangan orang itu masih terekam jelas di benakku.
Berhari-hari, akupun jarang membalas sms Kak Adi. Akupun tak tahu apa yang
terjadi padaku. Selalu ada keraguan dan semuanya bermuara pada orang itu.
Baiklah, kurasa semuanya harus menjadi jelas, aku harus mengatakan yang
sebenarnya pada kak Adi.
“sebenarnya, saya udah punya pilihan
sendiri kak. Tapi jujur, ini murni karena kedekatan, minat dan kesenangan kami
yang sama. Ia satu fakultas dengan saya, seangkatan dengan saya. Dan kemaren
saya blom bisa memberi tahu kak Adi karena sayapun bingung, orang tua saya
lebih menyukai kak Adi dibandingkan dengan calon saya ini. Karena menurut
bapak, kak Adi adalah figure ideal untuk seorang suami, sayapun sadar sih kak,
tapi saya sudah memutuskan, saya akan coba dengan calon saya sendiri”
Fiuh.. ah ada rasa sesal, tapi satu
sisi, akupun lega. Semoga ini yang terbaik untuk kami. Kak Adi pun menerima
dengan senyuman, setidaknya itu yang tertulis dalam sebaris pesan SMS darinya.
“semoga Kak Adi dipertemukan dengan
orang yang lebih baik”
“insyaAllah An, InsyaAllah,
begitupula dengan Ani”
Ya Rabb..
*bersambung
Sunday, 9 December 2012
Petamburan : antara FPI, Debt Collector, dan Para Jawara
Saya tidak ingat persis kapan pastinya saya mulai tinggal di petamburan Jakarta pusat, rumah almarhumah nenek. Sepengetahuan saya, sejak bapak beberapa kali bolak-balik Bekasi-Petamburan untuk mengajar Olin (anak sepupu saya alias keponakan saya) dalam persiapannya menghadapi UN SD yang tinggal dua bulan lagi. Olin itu unik, gak pernah belajar, tapi nilai ulangannya bagus-bagus (baca:standar), entah dia nyontek atau emang jenius. Tapi memang setiap diberikan soal-soal matematika, dia selalu pusing dan ujung-ujungnya bapak juga yang menyelesaikan. halah.
Akhirnya sayapun jadi sering menginap di petamburan sambil menemani bapak. Karena sering menginap dan merasakan bagaimana enaknya rumah yang dekat dengan kantor (cuma 10 menit. wehehe), akhirnya diputuskanlah bahwa saya akan tinggal di petamburan kalau hari kerja dan kembali ke bekasi tiap week end. horay, hemat ongkos, dan gak capek pula. hehe.
Petamburan itu nama kelurahan di kecamatan Tanah Abang, daerah yang dikenal dengan pusat grosirnya. Dari pasar Tanah Abang ke rumah nenekpun tergolong dekat, cuma berjalan kaki sekitar 2 kilometer, itupun kalau lagi gak males, karena biasanya orang-orang ingin yang praktis dan nyaman, maka tersedialah tukang-tukang ojek dan bajaj yang siap mengantar.
Petamburan terletak persis di sebelah bantaran sungai ciliwung. Daerah yang memanjang dari depan museum tekstil jakarta sampai pintu air. Permukimannya padat, tak teratur dan tidak rapi lah pokoknya. Jalan-jalannya kecil dan sulit dilewati kendaraan, maka tak heran karena daerah resapan air yang nyaris tidak ada membuat banjir jadi sesuatu yang akrab disana. Tapi karena letaknya yang strategis, dekat dengan Jalan protokol (sudirman-thamrin) dan pusat grosir terbesar se-asia tenggara, maka penduduknya pun enggan pindah dari sana, walau kerap kali harus merasakan kiriman banjir dari bogor.
Petamburan itu tempatnya para jawara (kalau tidak mau dibilang tempatnya para preman). Jadi jangan heran kalau debt collector pun enggan datang kesana. Banyak debt collector yang memiliki nasib tak mengenakkan ketika menagih ke daerah ini, entah diteriaki maling dan jadi bulan-bulanan warga, atau bernasib lebih baik karena berhasil kabur dari kejaran dan amukan warga. Tapi terkadang ada juga debt collector yang beruntung, berhasil nagih dan keluar dengan selamat, mungkin itu cuma satu diantara puluhan debt collector yang terpilih karena sering sedekah dan berbuat baik. hehe. oh iya, karena daerah tempat para jawara, prosentase pencurian motor di daerah ini tergolong rendah, coba saja parkir motor di depan rumah semalaman, pagi harinya motor kita dijamin masih utuh, mungkin orang-orang akan berpikir puluhan kali kalau mau macam-macam ditempat ini, salah-salah nyawanya bisa lewat karena dikeroyok warga.
Di tempat ini pun terdapat basis dari salah satu ormas Islam yang kini sering jadi sorotan. FPI. Disini, FPI jadi semacam buffer yang menyeimbangkan potensi fasad warga petamburan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Tengok saja sebagian simpatisannya yang kalau diperhatikan jauh dari nilai-nilai Islam, Muka sangar dan serem, badan tatoan, dan sholat pun jarang-jarang. Tapi saat isu-isu sentimen negatif tentang Islam merebak, mereka paling depan membela. Istilahnya, gw emang jarang sholat, tapi klo nabi dan agama gw dihina, tunggu dulu, hadepin gw klo berani. Wuih.. luar biasa.
Sudah hampir setengah tahun saya tinggal disini dan selalu ada fenomena unik yang terekam pandang dan tersimpan dalam benak. Seperti saat saya mengetahui bahwa tiap selasa dan kamis, selalu ada bazar yang menutupi jalan utama menuju petamburan, dan itu sangat mengganggu karena saya harus memutar jauh kalau mau pulang..Argh.. Bazar itu menjual beragam barang dagangan dari makanan, pakaian, alat-alat rumah tangga dan berbagai macam benda yang gak dijual bebas di pasaran (eh ini ciyus loh..). Atau ketika saya mengetahui bahwa hingga kini telah puluhan anak muda yang mati karena narkoba saking sulitnya tempat itu terjamah tangan aparat..duh.
Allahu'alam.
Saturday, 1 December 2012
Banjir di penghujung November
Jum'at 30 November 2012.
Penghujung November diakhiri dengan hujan lebat, tak terkecuali di Jakarta, Bekasi pun bernasib sama. Dari tahun ke tahun, selebat apapun hujan tidak akan menimbulkan kekacauan, tidak seperti Jakarta yang penghuninya selalu dag dig dug kala hujan datang, khawatir banjir. Duh, padahal Hujan itu Rahmat ya, tapi yaa begitulah. Tapi semalam berbeda, Hujan di Bekasi sejak Ba'da Ashar hingga menjelang Maghrib membuat kali di depan Kompleks meluap dan sudah bisa diperkirakan, banjir pun terjadi.
Sore itu saya masih di kantor, harap-harap cemas melihat langit yang berubah gelap. Mau pulang gak bawa payung, takut keujanan. Klo gak pulang sudah pasti bakal terjebak sampe malam di kantor. Akhirnya ya sudahlah, maghrib dulu aja di kantor, siapa tahu dapet pencerahan. hehe. Lalu tak lama hape saya berbunyi. Eh dari rumah, seperti biasa, cumi. Cuma miskol. haha. Saya pun menelepon balik ke rumah.
"Ga, di sini banjir, udah masuk rumah, di ruang tamu aja udah sepuluh centi. Ega pulang kapan?"
Ibu saya, belum sempat menjawab beliaupun kembali bercerita.
"Kalau emang disini masih banjir, ega nginep di Petamburan aja, besok pulangnya, disini takut gak ada angkot yang masuk".
Petamburan itu tempat nenek saya, walaupun yang menempati rumah itu tinggal bibi dan keluarga anaknya alias keluarga sepupu saya. Rumah beliau deket kantor, makanya saya bela-belain tinggal disana klo week day, lumayan bisa menghemat. hehe.
"Oh iya ma, okeh, kok bisa masuk rumah? ujan dari jam berapa?"
"iya nih tumben, biasanya cuma nyampe depan doank, dari abis ashar, ampe sekarang."
Oh pantesan, hujan 3 setengah jam sudah lebih dari cukup untuk menggenangi satu komplek.
"yaudah, udahan dulu ya Ga, udah mau maghrib, wassalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Sayapun mulai beres-beres meja yang kurang rapi (baca:berantakan), dan mematikan kompie kantor. yup, saatnya maghrib-an dulu
__
Selesai maghrib-an hujan sudah mulai reda, meski sesekali hujan rintik masih terasa. hm..klo gak balik sekarang, bakal lebih berisiko, karena saya gak tahu apa hujannya bakal turun lebih deras lagi atau emang sudah bener-bener berhenti. Bismillah, mari kita pulang. Berjalan sebentar ke depan kantor, saya pun memanggil ojeg untuk mengantarkan saya ke stasiun karet. Akhir pekan dan hujan di sore hari, kombinasi yang pas untuk macet. Jalan Penjernihan I hingga karet padat, semoga bisa ngejar kereta yang jam setengah delapan.
Alhamdulillah, Tepat waktu, berjalan di bawah fly over karet, sayup-sayup terdengar bahwa kereta ke arah Depok masih berada di St. Duri. berarti pas banget nih. Tiket ke bekasi dibeli dan dengan sikap seorang anker (anak kereta), tas di taruh depan, dompet di tas, sayapun bersiap menyambut kereta.
Kereta datang dan para penumpang berdesak-desakan masuk ke dalam gerbong. ah ini masih stasiun karet aja udah padet gini, gimana sampe sudirman. untungnya kereta ke bekasi transit dulu di manggarai, jadi gak perlu desak-desakan kayak gini sampe bekasi. Dan benar perkiraan saya, di sudirman para penumpang udah gak mikir lagi, yang penting masuk gerbong, sebodo amat padet atau nggak. dan saya pun terdorong-dorong oleh penumpang yang baru masuk. Untung gak tiap hari ngerasain yang beginian.
Sampai stasiun manggarai, keluar gerbongpun susah amat, tas saya sampai tertarik dan hampir putus. parah dah. Dalam kondisi gak karuan gitu, si announcer stasiun ngomong, "kereta menuju bekasi sesaat lagi berangkat, di jalur 1" itu kan di ujung, terpaksalah saya tergopoh-gopoh berlari menuju jalur 1. sayapun naik dengan memanjat, duh kenapa ini jalur 1 gak dibikin peron aja sih, klo anak muda seperti saya mungkin gak masalah, tapi tadi saya melihat beberapa orang ibu-ibu yang kesulitan naik ke gerbong.
Ah akhirnya, sayapun berjalan melintasi beberapa gerbong berharap masih ada sisa tempat duduk, seperti biasa, kereta ke bekasi gak sepadat ke bogor. alhamdulillah, dapet duduk juga, dan beberapa saat sayapun sempat menghela nafas. Waktu masih menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit, wih, cepet juga ya, gak biasanya.
Saya sempat tidur-tidur ayam, sampai si petugas pemeriksa karcis datang. "karcisnya karcis, disiapkan." sayapun merogoh kantung depan jaket saya, mencari itu karcis. hm.. okeh, di saku depan gak ada, di saku bajupun gak ada, di celana apalagi, ah bener2, karcis saya ilang. dengan muka memelas sayapun bilang ke petugas.
"eh pak, karcis saya jatoh kayaknya pas turun dari kereta tadi."
"yaudah cari aja dulu" si petugas itu pun kembali berjalan menghampiri beberapa penumpang lainnya yang memiliki karcis.
Sekedar menghibur diri, sayapun kembali memeriksa jaket saya, kantung baju, celana, dan isi taspun tak luput dari pemeriksaan. ah bener-bener, jatoh nih. Bodohnya, kenapa itu karcis ditaruh di kantong depan jaket, udah tau itu kantong gak dalem, alias dangkal. Beberapa menit ke depan, saya menghabiskan waktu merutuki nasib dan merenung, ini pasti ada hikmahnya. sayapun memeriksa dompet, dan uang saya tinggal sisa 20 ribu, belum ngambil duit lagi. padahal tiket suplisi (denda)harganya 50 ribu. yasudahlah, pasrah aja.
Dari kejauhan, saya melihat seorang ibu, usianya mungkin sekitar 60 tahunan.
"bu, silahkan duduk"
wajahnya terlihat cerah,
"terima kasih banyak ya nak"
"iya bu, sama-sama"
Senangnya melihat senyum di wajah ibu itu. Mudah-mudahan Allah meridhoi.
Berdiri di samping pintu, saya melihat ke arah lantai gerbong. Coba disusuri lagi deh, siapa tahu ketemu, sayapun mencoba mencari karcis saya yang sepertinya gak bakal ketemu juga, mission imposible, tapi tak ada salahnya mencoba, karena tugas kita hanya berusaha, urusan hasil, itu murni hak prerogratif Allah.
Ternyata gak ada. sudah hampir sampai gerbong wanita dan susasana gerbong ini lebih ramai dengan penumpang. Sayapun bersiap-siap dengan berbagai alternatif tindakan pas nyampe stasiun kranji nanti. okeh, jadi nanti pas turun ngasih muka memelas dan bilang tiket saya ilang pak, dan berharap bapak itu terenyuh dan membiarkan saya lewat. atau coba bayar dengan uang seadanya dan berharap bapak itu mau menerima dengan ikhlas serta beberapa pikiran ngelantur lainnya.
Eh kayaknya kenal ama itu orang, sayapun menghampiri orang yang duduk dan sedang memainkan gadgetnya itu. "eh nu, gimana kabar, wah gak nyangka ketemu disini" Wisnu Wicaksono, teman SMA saya yang kerja di daerah sudirman.
"eh lo gar, alhamdulillah baik"
ngobrol-ngobrol sebentar dan sayapun curhat ke dia.
"nu, karcis gw ilang nih, gimana ya, kayaknya jatoh pas gw turun dari kereta arah bogor tadi, nanti lo jadi saksi ya pas gw ditanya karcis sama petugasnya , klo karcis gw jatoh. hehe"
"haha, tenang aja gar"
Obrolan pun berlanjut sampai menjelang stasiun kranji, wisnu mengeluarkan dompetnya dan memberikan secarik karcis. "nih, ya gapapalah meski tanggalnya beda."
"eh serius nih nu? lo punya banyak ya?"
"banyak, siap-siap buat kondisi kayak lo gini.haha"
Alhamdulillah ada jalan keluar ternyata.
Sayapun sampai ke rumah dengan kondisi rumah yang udah kayak kolam di ruang tengah. aih mak, siap-siap kerja keras nih. dan malam itu pun dihabiskan dengan menguras air. hehe. mungkin ini hikmahnya saya bisa cepet sampe rumah, disuruh bantuin emak bapak beres-beres.
Penghujung November diakhiri dengan hujan lebat, tak terkecuali di Jakarta, Bekasi pun bernasib sama. Dari tahun ke tahun, selebat apapun hujan tidak akan menimbulkan kekacauan, tidak seperti Jakarta yang penghuninya selalu dag dig dug kala hujan datang, khawatir banjir. Duh, padahal Hujan itu Rahmat ya, tapi yaa begitulah. Tapi semalam berbeda, Hujan di Bekasi sejak Ba'da Ashar hingga menjelang Maghrib membuat kali di depan Kompleks meluap dan sudah bisa diperkirakan, banjir pun terjadi.
Sore itu saya masih di kantor, harap-harap cemas melihat langit yang berubah gelap. Mau pulang gak bawa payung, takut keujanan. Klo gak pulang sudah pasti bakal terjebak sampe malam di kantor. Akhirnya ya sudahlah, maghrib dulu aja di kantor, siapa tahu dapet pencerahan. hehe. Lalu tak lama hape saya berbunyi. Eh dari rumah, seperti biasa, cumi. Cuma miskol. haha. Saya pun menelepon balik ke rumah.
"Ga, di sini banjir, udah masuk rumah, di ruang tamu aja udah sepuluh centi. Ega pulang kapan?"
Ibu saya, belum sempat menjawab beliaupun kembali bercerita.
"Kalau emang disini masih banjir, ega nginep di Petamburan aja, besok pulangnya, disini takut gak ada angkot yang masuk".
Petamburan itu tempat nenek saya, walaupun yang menempati rumah itu tinggal bibi dan keluarga anaknya alias keluarga sepupu saya. Rumah beliau deket kantor, makanya saya bela-belain tinggal disana klo week day, lumayan bisa menghemat. hehe.
"Oh iya ma, okeh, kok bisa masuk rumah? ujan dari jam berapa?"
"iya nih tumben, biasanya cuma nyampe depan doank, dari abis ashar, ampe sekarang."
Oh pantesan, hujan 3 setengah jam sudah lebih dari cukup untuk menggenangi satu komplek.
"yaudah, udahan dulu ya Ga, udah mau maghrib, wassalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Sayapun mulai beres-beres meja yang kurang rapi (baca:berantakan), dan mematikan kompie kantor. yup, saatnya maghrib-an dulu
__
Selesai maghrib-an hujan sudah mulai reda, meski sesekali hujan rintik masih terasa. hm..klo gak balik sekarang, bakal lebih berisiko, karena saya gak tahu apa hujannya bakal turun lebih deras lagi atau emang sudah bener-bener berhenti. Bismillah, mari kita pulang. Berjalan sebentar ke depan kantor, saya pun memanggil ojeg untuk mengantarkan saya ke stasiun karet. Akhir pekan dan hujan di sore hari, kombinasi yang pas untuk macet. Jalan Penjernihan I hingga karet padat, semoga bisa ngejar kereta yang jam setengah delapan.
Alhamdulillah, Tepat waktu, berjalan di bawah fly over karet, sayup-sayup terdengar bahwa kereta ke arah Depok masih berada di St. Duri. berarti pas banget nih. Tiket ke bekasi dibeli dan dengan sikap seorang anker (anak kereta), tas di taruh depan, dompet di tas, sayapun bersiap menyambut kereta.
Kereta datang dan para penumpang berdesak-desakan masuk ke dalam gerbong. ah ini masih stasiun karet aja udah padet gini, gimana sampe sudirman. untungnya kereta ke bekasi transit dulu di manggarai, jadi gak perlu desak-desakan kayak gini sampe bekasi. Dan benar perkiraan saya, di sudirman para penumpang udah gak mikir lagi, yang penting masuk gerbong, sebodo amat padet atau nggak. dan saya pun terdorong-dorong oleh penumpang yang baru masuk. Untung gak tiap hari ngerasain yang beginian.
Sampai stasiun manggarai, keluar gerbongpun susah amat, tas saya sampai tertarik dan hampir putus. parah dah. Dalam kondisi gak karuan gitu, si announcer stasiun ngomong, "kereta menuju bekasi sesaat lagi berangkat, di jalur 1" itu kan di ujung, terpaksalah saya tergopoh-gopoh berlari menuju jalur 1. sayapun naik dengan memanjat, duh kenapa ini jalur 1 gak dibikin peron aja sih, klo anak muda seperti saya mungkin gak masalah, tapi tadi saya melihat beberapa orang ibu-ibu yang kesulitan naik ke gerbong.
Ah akhirnya, sayapun berjalan melintasi beberapa gerbong berharap masih ada sisa tempat duduk, seperti biasa, kereta ke bekasi gak sepadat ke bogor. alhamdulillah, dapet duduk juga, dan beberapa saat sayapun sempat menghela nafas. Waktu masih menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit, wih, cepet juga ya, gak biasanya.
Saya sempat tidur-tidur ayam, sampai si petugas pemeriksa karcis datang. "karcisnya karcis, disiapkan." sayapun merogoh kantung depan jaket saya, mencari itu karcis. hm.. okeh, di saku depan gak ada, di saku bajupun gak ada, di celana apalagi, ah bener2, karcis saya ilang. dengan muka memelas sayapun bilang ke petugas.
"eh pak, karcis saya jatoh kayaknya pas turun dari kereta tadi."
"yaudah cari aja dulu" si petugas itu pun kembali berjalan menghampiri beberapa penumpang lainnya yang memiliki karcis.
Sekedar menghibur diri, sayapun kembali memeriksa jaket saya, kantung baju, celana, dan isi taspun tak luput dari pemeriksaan. ah bener-bener, jatoh nih. Bodohnya, kenapa itu karcis ditaruh di kantong depan jaket, udah tau itu kantong gak dalem, alias dangkal. Beberapa menit ke depan, saya menghabiskan waktu merutuki nasib dan merenung, ini pasti ada hikmahnya. sayapun memeriksa dompet, dan uang saya tinggal sisa 20 ribu, belum ngambil duit lagi. padahal tiket suplisi (denda)harganya 50 ribu. yasudahlah, pasrah aja.
Dari kejauhan, saya melihat seorang ibu, usianya mungkin sekitar 60 tahunan.
"bu, silahkan duduk"
wajahnya terlihat cerah,
"terima kasih banyak ya nak"
"iya bu, sama-sama"
Senangnya melihat senyum di wajah ibu itu. Mudah-mudahan Allah meridhoi.
Berdiri di samping pintu, saya melihat ke arah lantai gerbong. Coba disusuri lagi deh, siapa tahu ketemu, sayapun mencoba mencari karcis saya yang sepertinya gak bakal ketemu juga, mission imposible, tapi tak ada salahnya mencoba, karena tugas kita hanya berusaha, urusan hasil, itu murni hak prerogratif Allah.
Ternyata gak ada. sudah hampir sampai gerbong wanita dan susasana gerbong ini lebih ramai dengan penumpang. Sayapun bersiap-siap dengan berbagai alternatif tindakan pas nyampe stasiun kranji nanti. okeh, jadi nanti pas turun ngasih muka memelas dan bilang tiket saya ilang pak, dan berharap bapak itu terenyuh dan membiarkan saya lewat. atau coba bayar dengan uang seadanya dan berharap bapak itu mau menerima dengan ikhlas serta beberapa pikiran ngelantur lainnya.
Eh kayaknya kenal ama itu orang, sayapun menghampiri orang yang duduk dan sedang memainkan gadgetnya itu. "eh nu, gimana kabar, wah gak nyangka ketemu disini" Wisnu Wicaksono, teman SMA saya yang kerja di daerah sudirman.
"eh lo gar, alhamdulillah baik"
ngobrol-ngobrol sebentar dan sayapun curhat ke dia.
"nu, karcis gw ilang nih, gimana ya, kayaknya jatoh pas gw turun dari kereta arah bogor tadi, nanti lo jadi saksi ya pas gw ditanya karcis sama petugasnya , klo karcis gw jatoh. hehe"
"haha, tenang aja gar"
Obrolan pun berlanjut sampai menjelang stasiun kranji, wisnu mengeluarkan dompetnya dan memberikan secarik karcis. "nih, ya gapapalah meski tanggalnya beda."
"eh serius nih nu? lo punya banyak ya?"
"banyak, siap-siap buat kondisi kayak lo gini.haha"
Alhamdulillah ada jalan keluar ternyata.
Sayapun sampai ke rumah dengan kondisi rumah yang udah kayak kolam di ruang tengah. aih mak, siap-siap kerja keras nih. dan malam itu pun dihabiskan dengan menguras air. hehe. mungkin ini hikmahnya saya bisa cepet sampe rumah, disuruh bantuin emak bapak beres-beres.
Thursday, 29 November 2012
Catatan Hari ini : 28 November 2012
Yap.. Kami tertawa bersama, tergelak dalam romantisme yang tak ternilai. Tentang kebodohan, kelucuan, dan keharuan di waktu itu, sebuah masa di mana semua mimpi dirajut dan kini kami memutarnya kembali dalam sebuah diskusi hangat.
Beberapa jamnya sebelumnya, aku datang kembali ke kampus dengan sebuah undangan dari teman-teman legislatif fakultas, hujan rintik mengiringiku memasuki gerbang kampus, tempat ini, selalu ada yang dirindukan darinya..
Ah tak disangka, mushola itu, kini tak lagi identik dengan istilah kandang burung, sekarang sudah permanen bung..! Catat, Mushola permanen di Psikologi UI. kalaulah bisa, aku akan memberinya nama mushola perjuangan.
Akupun sempat bertemu dengan beberapa karyawan perpustakaan yang dulu kurepotkan dalam penyusunan skripsi, beberapa aku lupa namanya, eh.. mungkin semuanya. haha. Selain itu aku juga bertemu dengan dua orang saat hendak sholat Ashar dan mereka kukenal cukup baik karena setia melayani mahasiswa di mahalum, tiap pemburu beasiswa harusnya mengenali mereka, Pak Pur dan Pak Lili, dan tak banyak yang berubah dari perawakan mereka disamping beberapa helai rambut keputihan yang kian terlihat.
Ba'da Sholat Ashar, setelah beberapa menit briefing dimulailah debat dan eksploring kandidat MPMI (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa jalur Independent). Diminta jadi Panelis, akupun tak terlalu banyak memberikan pertanyaan yang menyudutkan mereka, ya sudahlah, berikan saja pertanyaan yang memang membangun, karena aku tahu, tak mudah menjalankan roda organisasi, terlebih MPM.
Sepuluh menit sebelum sesi panelis berakhir, hape ku berbunyi, dan kulihat ada pesan masuk. "Sorry gar baru bales, SMS lo ke skip, makasih ya, eh iya, lo lagi di kampus ya? jadi panelis? yah, gw udah pulang." ternyata dari Cune, "iya ne, sama2, iya nih, padahal gw udah kangen ngobrol. haha."
Sesi panelispun berakhir, Sholat maghrib, dan satu lagi kawan yang hadir, Muhammad Akhyar, mahasiswa Insos (inget ya, Insos, bukan Ansos) yang sedang pusing mikirin tugas, hehe, dan tak ada yang berubah, ia tetap dengan gayanya yang tak biasa dengan ungkapan-ungkapan nyeleneh cerdasnya. hehe..
tak lama, SMS pun kembali masuk, "bro.. Ane di kancil yo", weits, Jati, pasti bersama Dea, sang istri. Si calon bapak yang kini giat mengembangkan e learning di kampus. Si calon bapak yang dulu sering kali berseberangan dengan bapak Akhyar. haha. *sampe sekarang kayaknya.
Akupun mengajak akhyar dan dimulailah diskusi itu. haha.. senangnya berdiskusi dengan kalian, dari masalah di fakultas, senior yang kayaknya gak ada kerjaan karena masih aja intervensi junior2nya di kampus, tentang kandidat KaBEM UI yang cuma satu calon, poligami, pacaran, birokrasi, tauhid, halah banyak banget dah, dan sepertinya bakal terus lanjut kalau si bapak Akhyar gak dipanggil untuk konsultasi tentang tugas S2 nya.
Diskusi itu pun berakhir, kalau lah ada Cune, nila, farah, input, Jarwo, dkk mungkin akan lebih lengkap. hehe. Terima kasih kawan, diskusi dengan kalian me-recharge kembali energi positif, membuatku semangat menjalani hari esok yang penuh rutinitas. setidaknya menyadarkanku bahwa kehidupan tak sebatas kubikal kantor, masih ada hal-hal yang menarik diluar sana dan masih ada orang-orang baik seperti kalian.
Beberapa jamnya sebelumnya, aku datang kembali ke kampus dengan sebuah undangan dari teman-teman legislatif fakultas, hujan rintik mengiringiku memasuki gerbang kampus, tempat ini, selalu ada yang dirindukan darinya..
Ah tak disangka, mushola itu, kini tak lagi identik dengan istilah kandang burung, sekarang sudah permanen bung..! Catat, Mushola permanen di Psikologi UI. kalaulah bisa, aku akan memberinya nama mushola perjuangan.
Akupun sempat bertemu dengan beberapa karyawan perpustakaan yang dulu kurepotkan dalam penyusunan skripsi, beberapa aku lupa namanya, eh.. mungkin semuanya. haha. Selain itu aku juga bertemu dengan dua orang saat hendak sholat Ashar dan mereka kukenal cukup baik karena setia melayani mahasiswa di mahalum, tiap pemburu beasiswa harusnya mengenali mereka, Pak Pur dan Pak Lili, dan tak banyak yang berubah dari perawakan mereka disamping beberapa helai rambut keputihan yang kian terlihat.
Ba'da Sholat Ashar, setelah beberapa menit briefing dimulailah debat dan eksploring kandidat MPMI (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa jalur Independent). Diminta jadi Panelis, akupun tak terlalu banyak memberikan pertanyaan yang menyudutkan mereka, ya sudahlah, berikan saja pertanyaan yang memang membangun, karena aku tahu, tak mudah menjalankan roda organisasi, terlebih MPM.
Sepuluh menit sebelum sesi panelis berakhir, hape ku berbunyi, dan kulihat ada pesan masuk. "Sorry gar baru bales, SMS lo ke skip, makasih ya, eh iya, lo lagi di kampus ya? jadi panelis? yah, gw udah pulang." ternyata dari Cune, "iya ne, sama2, iya nih, padahal gw udah kangen ngobrol. haha."
Sesi panelispun berakhir, Sholat maghrib, dan satu lagi kawan yang hadir, Muhammad Akhyar, mahasiswa Insos (inget ya, Insos, bukan Ansos) yang sedang pusing mikirin tugas, hehe, dan tak ada yang berubah, ia tetap dengan gayanya yang tak biasa dengan ungkapan-ungkapan nyeleneh cerdasnya. hehe..
tak lama, SMS pun kembali masuk, "bro.. Ane di kancil yo", weits, Jati, pasti bersama Dea, sang istri. Si calon bapak yang kini giat mengembangkan e learning di kampus. Si calon bapak yang dulu sering kali berseberangan dengan bapak Akhyar. haha. *sampe sekarang kayaknya.
Akupun mengajak akhyar dan dimulailah diskusi itu. haha.. senangnya berdiskusi dengan kalian, dari masalah di fakultas, senior yang kayaknya gak ada kerjaan karena masih aja intervensi junior2nya di kampus, tentang kandidat KaBEM UI yang cuma satu calon, poligami, pacaran, birokrasi, tauhid, halah banyak banget dah, dan sepertinya bakal terus lanjut kalau si bapak Akhyar gak dipanggil untuk konsultasi tentang tugas S2 nya.
Diskusi itu pun berakhir, kalau lah ada Cune, nila, farah, input, Jarwo, dkk mungkin akan lebih lengkap. hehe. Terima kasih kawan, diskusi dengan kalian me-recharge kembali energi positif, membuatku semangat menjalani hari esok yang penuh rutinitas. setidaknya menyadarkanku bahwa kehidupan tak sebatas kubikal kantor, masih ada hal-hal yang menarik diluar sana dan masih ada orang-orang baik seperti kalian.
Tuesday, 30 October 2012
Saya dan Seafood
Ketidak cocokan saya dengan makanan laut dimulai sejak kecil. Dimana bapak sebagai Role model pertama dalam hidup, tidak suka dengan ikan. Akhirnya kebiasaan itu menurun kepada anak-anaknya. Padahal ibu suka banget sama ikan. Tapi begitulah, yang namanya anak kecil, walaupun sebenernya ikan itu gak beda sama ayam dari segi rasa dan tekstur. tapi tetep aja, pas udah 3 suapan, saya pun bertanya ke ibu
"ma, ayamnya nambah lagi boleh gak?.. ",
"ini ikan sayang, tuh, enak kan."
dan seketika saya gak mau disuapin lagi sama ibu. haduh haduh.
Beranjak besar, sayapun mulai menyadari bahwa ketidak sukaan saya pada masakan laut lebih karena ikut-ikutan bapak yang memang gak suka dengan ikan dan teman-temannya. Makanya sejak SMP sayapun mulai membiasakan diri untuk makan makanan laut. Berbeda dengan kedua adik saya yang tetap kekeuh gak mau makan ikan. Beberapa kali ibu memasak ikan dengan berbagai variannya dan saya pun dengan lahapnya menyantap masakan ibu. nyam..
Tapi semuanya berubah ketika negara api menyerang, eh maksudnya, semuanya berubah saat saya diajak makan-makan sama sodara saya di kampus, bapak Jati Nantiasa Ahmad, untuk merayakan hari kelahirannya di restoran mang engking dekat danau UI bersama beberapa orang teman. Duduk di angkringan beratap rumbai kelapa sembari menunggu datangnya hidangan membuat saya semakin lapar. Setelah menunggu beberapa lama makanan pun berdatangan. Udang balado, tumis kangkung, Gurame bakar, dan berbagai masakan laut lainnya. Seumur umur, baru kali itu saya makan dengan lauk yang gak ada satupun dari daratan semacam ayam dan teman-temannya, sayapun dengan lahap menyantap udang dan gurame yang ada di atas meja.. nyam. Beberapa menit setelah hidangan licin tandas kami habiskan, kami pun bersantai sejenak dan selanjutnya beranjak menuju masjid untuk sholat Jumat (waktu itu hari jumat).
Dalam perjalanan menuju Mesjid UI, sayapun merasakan ada sesuatu yang aneh dengan wajah saya. Saya merasa wajah saya semakin tebal, ada sesuatu yang berbeda dengan wajah saya. Saya seperti memakai topeng. sayapun merasa gatal yang semakin menjadi di lengan dan punggung. Dan salah seorang kawan saya pun berucap.
"gar, kenapa muka lo merah-merah gitu. lo alergi udang ye?" oh tidak, sepertinya saya memang alergi udang dan bodohnya saya baru tahu saat itu. Sayapun memaksa untuk ditemani ke Rumah Sakit terdekat karena saking paniknya merasakan perubahan tubuh yang drastis, badan yang semakin gatal, dan muka yang sudah gak karuan bentuknya.
Pada akhirnya, Sayapun ditemani Jati ke rumah sakit bunda Margonda, dan paramedis pun memberikan suntikan anti alergi yang reaksinya terjadi beberapa menit kemudian. ajaib..!, gatal saya hilang, dan wajah saya semakin membaik. Tapi ternyata penanganan yang dilakukan tidak gratis alias mahaaal. Terbilang hampir 200 ribu saya keluarkan untuk mengobati alergi. (padahal kata orang2 tinggal istirahat aja nanti juga ilang sendiri alerginya...duh..). Mungkin itu seharga makanan yang saya makan tadi, sama juga gak ditraktir ya. hehe.
Pengalaman saya bersama masakan lautpun berlanjut beberapa tahun kemudian. Saat itu kerjaan saya yang suka mampir ke daerah-daerah indonesia timur, secara tidak langsung mengharuskan saya untuk bersedia dijamu oleh teman-teman di kantor cabang dengan makanan khas mereka yang sebagian besar adalah masakan laut. duh. gak enak nih klo gak dimakan, maka dengan berbekal keyakinan, sayapun memakan sajian yang disediakan oleh restoran tempat kami makan. dan ternyata hasilnya, tak disangka-sangka. Alergi saya gak muncul, walaupun setelah sampai hotel, diliat liat ada beberapa bentol gatal merah di beberapa bagian tubuh. hm.. mungkin saat itu kondisi saya sedang fit jadi imunitas tubuh saya jadi lebih kuat.
Anyway, barusan saya diajak makan sama pimpinan cabang, saat diajak makan, sayapun gak berharap makan di mana dan bakal makan apa, yang penting rejeki makan gratis. hehe. tapi ternyata makannya di warung seafood. halah. karena udah naek mobil dan bakal aneh klo saya batalin gak jadi ikutan makan dengan alasan yang dibuat-buat. Maka terpaksalah saya ikutan makan. dan hasilnya, bibir saya sedikit bengkak. hehe. untung gak keliatan sama temen-temen kantor.
Oh ya, walaupun begitu, sekarang saya berusaha fleksibel, gak keberatan klo diajak makan, meski itu berbau seafood. hehe
Friday, 19 October 2012
First Flight
Penjernihan II, Jakarta
Pusat
18 Oktober 2012, 11.30
Waktu dzuhur di bulan ini lebih cepat dari biasanya. Kini pukul
11.45 sudah masuk Dzuhur. Jam di ruang SDM sudah menunjukkan pukul 11.30, 15
menit menuju dzuhur. Akupun bersiap, merapihkan meja (jangan dibayangkan bahwa
benar-benar rapih tertata dengan indah, ini cuma sekedar membetulkan letaknya
aja), lalu mengecek email kantor sebentar. Hm. Tak ada email baru. Baiklah, akupun segera beranjak dari kursi
sebelum terhenti pada sebuah status menarik di Facebook temanku.
Hoo.. dia
sekarang sedang berada di Padang, perasaan baru beberapa hari yang lalu dia
kembali dari palembang. Sekarang aktivitasnya lebih sering di luar kota,
enaknya bisa jalan-jalan. Hehe. Akupun kembali teringat saat dulu masih di
kantor yang lama. Kalau tidak salah pertama kalinya diriku keluar kota itu
bulan Desember 2009.
Setelah 2 bulan
yang penuh dengan pekerjaan klerikal dan printilan administrasi, tibalah di
akhir tahun 2009, diriku mulai merasakan pekerjaan yang sedikit berbau
psikologi. Yup, mulai saat itu aku mulai menjadi tester psikotes. Yuhuu.. dan
pekerjaan pertama ku sebagai seorang rekruter adalah mengadakan psikotes di
luar kota, dan kota pertama yang kusambangi saat itu adalah Semarang.
Hm...oke, jujur, saat
itu aku sedikit nervous. Untuk pertama kalinya mengadakan psikotes di luar kota
(alhamdulillah dibantu teman-teman kantor cabang), dan ditambah lagi, ini untuk
pertama kalinya diriku naik pesawat terbang.. (haha, norak banget dah, udah tua
gini baru naek pesawat). Syukurlah, di penerbanganku yang pertama ini kantorku
bekerja sama dengan maskapai terbang terbaik negeri ini, setidaknya mengurangi
ketakutan seorang penumpang pemula. Hehe.
Semuanya sudah siap,
tiket pesawat, perlengkapan psikotes, dan penginapan di semarang. Akupun dengan
setelan yakin membawa koper dan berpamitan dengan teman-teman di kantor
(berangkat dari kantor siang hari, pesawat jam 5 sore).
”eh gar, lo bisa
berangkat sendiri kan? Gak bakal nyasar kan? Hehe..pokoknya nanti lo tinggal
masuk bandara aja terus lo cari tempat check in” petuah salah seorang kawanku
hanya kutanggapi dengan senyuman dan acungan jempol..
”sipp, tenang aja mbak”,
akupun menimpali nasihatnya dengan nada penuh keyakinan, nasihatnya hanya lewat
berlalu begitu saja dari pikiranku.
Di bandara,
akupun berjalan memasuki pintu gerbang pemeriksaan bagasi. Dengan langkah penuh
kebanggaan, akupun berjalan mendorong tas koper menuju ruang tunggu bandara. Ah,
masih lama ternyata, akupun berbalik arah menuju tempat makan di serambi
bandara. Tujuanku saat itu sebenarnya hanya ingin menghabiskan waktu dan
menikmati suasana bandara, karena waktu penerbangan masih sekitar 2 jam lagi.
Waktu berjalan
cepat, tak terasa jadwal penerbanganku tinggal setengah jam lagi. Ah akupun
segera berlari menuju ruang tunggu bandara. Fiuh. Akhirnya sampai juga. Akupun menunjukkan
tiketku pada petugas pemeriksa di ruang tunggu bandara.
”eh maaf pak,
boarding passnya bisa?” eh. Akupun bingung,
”loh
mbak, ini tiket saya”
”maaf
pak, bapak harus check in dulu untuk mengambil boarding pass dan membayar
pajak. Cepat ya pak, tinggal 20 menit lagi.”
Aih mak,
mati. Akupun segera berlari menuju counter check in. Ah syukurlah masih sempat. Dengan nafas yang terengah-engah, aku menunjukkan tiket dan KTP ku, akhirnya boarding pass sudah di tangan dan aku pun kembali berlari menuju ruang tunggu dan kuserahkan benda itu pada petugas yang nampak menungguku dengan pandangan kesal. Gini
nih jadinya kalau terlalu PD, keliatan noraknya, padahal tadi sudah
diingatkan oleh teman kantorku. Untung gak ketinggalan pesawat.
Akupun tersenyum
ketika mengingat kembali kejadian itu. Ah.. masa-masa itu, eh sudah waktunya
dzuhur. Teman-teman di kantor sudah banyak yang berangkat ke mushola. Ah. Terlambat
lagi.
#dan petualangan
pun dimulai.
Subscribe to:
Posts (Atom)






