Showing posts with label meracau. Show all posts
Showing posts with label meracau. Show all posts

Monday, 4 March 2013

Imajinasi Manusia

Imaji terliar manusia mengatakan bahwa mereka mampu menembus ruang dan waktu serta menemukan sebuah bentuk kehidupan lain di luar sana. Tapi dua hal ini, merupakan beberapa hal dari imajinasi yang sampai saat ini masih sekedar angan belaka bagi manusia.

Entah berapa banyak teori yang sekedar menjadi pro dan kontra dikalangan ilmuwan kala mereka membahas kemungkinan menjelajah waktu. Entah berapa banyak teori yang berbicara mengenai kemungkinan adanya makhluk asing cerdas di luar bumi yang sampai sekarang hanya jadi tema sentral para sineas hollywood.

Seperti itulah memang yang terjadi, jika kau tidak mampu menemukannya di kehidupan nyata dan sekedar imajinasi belaka maka ciptakanlah meski itu hanya dalam sebuah cerita dalam layar kaca, dan itu dengan tepat ditangkap oleh para kreator film di luar sana. Dari film tentang penjelajahan waktu seperti back to the future hingga independence day yang bercerita tentang alien yang menyerang bumi. Film yang memfasilitasi dengan tepat hasrat manusia akan imaji yang tak terbatas.

Satu hal yang pasti saat sebuah film begitu realistis menyajikan imajinasi, semua itu karena perkembangan teknologi yang makin pesat. Yang menjadikan imaji dalam angan tak lagi jadi halangan. Dengan berbagai visual effect teknologi serta beragam rancangan cerita yang ciamik membuat film serasa nyata. Sehingga ruang imaji dan kenyataan tak lagi jelas.

Maka kini sebuah imajinasi tidak lagi menjadi sesuatu yang sakral dan mewah. Karena ia dengan mudahnya terwujudkan dalam sebuah efek visual. Tak buruk memang, malah menjadi sesuatu yang hebat kala tiap imaji tersampaikan dengan sempurna dalam sebuah film. Tapi tiap kali sebuah film imaji tercipta maka tiap itu pula imaji telah mewujud dalam sebuah kenyataan semu, yang sekedar mewadahi keinginan manusia memenuhi hasrat imaji dengan bantuan teknologi tanpa peduli apakah cukup realistis dalam dunia nyata.

Jadi imaji tentunya tak dimaknai ala kadarnya dalam sebuah film dengan rancang efek visual luar biasa. Tapi lebih dari itu, imaji yang kan mengubah dunia walau mungkin masih sekedar angan manusia.

Sunday, 3 March 2013

Menulis di waktu kritis

Konsistensi kan teruji saat jemu dan peliknya problematika hidup menghampiri para penulis. Terlebih penulis yang dituntut menyelesaikan tulisan dalam kurun waktu tertentu. Jika tidak pandai-pandai mengelola energi dan antusiasme, mungkin telah banyak yang berguguran, apalagi seorang penulis yang hanya meluangkan waktu menulis di laman blognya, sudah sedikit yang membaca, dibayar pun tidak. hehe.

Tapi memang yang namanya konsistensi dalam menulis perlu ditumbuhkan dengan sebuah komitmen. Komitmen penuh kesadaran bahwa tulisan yang akan dibuat merupakan sebuah produk intelektual bermanfaat bagi orang banyak. Walau sekedar curhatan penuh kegalauan, walau keluh kesah penuh kegelisahan, tapi tetap yang namanya tulisan sedikit banyak berbuah inspirasi dan simpati dari para pembacanya.

Maka tak heran, sayapun yakin setidaknya tulisan yang saya buat menjadi cara bagi saya untuk menceramahi diri dalam sebuah inner dialogue. Bahwa diri ini perlu dimotivasi dan diberi vitamin oleh dirinya sendiri, karena mau tak mau musuh terbesar dan terberat dari diri manusia adalah diri mereka sendiri. Jadi setidaknya saya sedikit yakin bahwa diri ini akan lebih suka mendengar dirinya berbicara dibandingkan orang lain. Walau tentu saja saya tidak memungkiri bahwa nasihat dan simpati, dari orang lain dalam hal ini pembaca akan lebih memperkuat percakapan antara saya dan diri saya.

Maka disinilah saya berada, menulis di penghujung hari tuk membuktikan sebuah komitmen bahwa janji tuk menulis harus terus ditepati sebisa mungkin, walau ide tak lagi ada, walau semangat tak lagi membara. Karena menulis adalah nasihat, bagi kita dan terutama bagi diri saya pribadi.

Sunday, 24 February 2013

Memilih : Dilema Sang Idealis

Menjadi idealis itu terkadang makan hati, apalagi jika sang idealis terjun ke ranah praktis. Banyak hal yang tadinya indah diucapkan dengan penuh keyakinan menjadi hambar dan tak berarti kala menyentuh ranah aplikasi. Semua rencana dan gagasan seringkali berbenturan dengan realita lapangan. Entah berkaitan dengan birokrasinya atau mindset orang-orangnya.

Dari dulu bahkan hingga sekarang tiap orang punya opini masing-masing yang berkaitan dengan pengelolaan sistem pemerintahan yang tepat. Sebuah sistem yang berorientasi melayani masyarakat dan mensejahterakan mereka. Ada yang bilang hal seideal itu dapat terwujud bila pemimpin yang memegang kendali muncul dari kalangan idealis. Yang terbiasa membicarakan hal yang sepatutnya di dalam sebuah pemerintahan. Tapi ada juga yang berkata bahwa konsep idealitas tak sepenuhnya cocok dengan kondisi faktual yang bersifat relatif dan kompleks. Sehingga terkadang seorang idealis mau tak mau harus mampu berkompromi dan memiliki rentang toleransi yang besar terhadap hal yang tidak ideal.


Maka jadi sesuatu yang unik saat seorang aktivis,penggiat gerakan, dan komentator pemerintahan yang identik dengan konsep idealitas mencalonkan diri sebagai kandidat kepala daerah. Dimana posisi itu jelas-jelas kadung dipersepsi dengan kesemrawutan birokrasi dan pola berpikir. Maka jika tidak yakin mampu berkompromi dan mengubah kekusutan itu, yang ada justru cibiran dan kekecewaan kepada sang idealis.


Tapi ya semuanya kembali kepada para aktivis,komentator,dan penggiat yang idealis. Kalau memang merasa mampu silahkan mencoba, tak ada salahnya dan akan menjadi capaian yang luar biasa saat berhasil. Tapi bagi saya pribadi, menjadi aktivis, penggiat dan komentator yang idealis hendaknya membuat mereka menyadari bahwa pilihan profesi yang tepat memang hal-hal yang berbau idealis,yang jauh dari kesan negatif.


Seperti saat komentator sepakbola menjadi pelatih, atau saat penggiat anti korupsi menjadi pimpinan KPK. Karena setidaknya jika mereka gagal disana, tak ada kekecewaan karena nilai-nilai idealitas tak tergerus dan tetap terjaga. Berbeda saat mereka sang aktivis,penggiat, dan komentator idealis turun dalam kubangan lumpur seperti pilkada, capaian keberhasilan belum pasti, malah nilai-nilai dalam kritik idealis yang selama ini mereka agungkan berbenturan dengan fakta kompromi di lapangan,yang serba semrawut.


Sinis? Tidak juga, saya hanya gemes dan terkadang ingin mentoyor kepala sang komentator,aktivis idealis yang terkadang hanya bisa mengkritik karena memang lebih enak mengkritik dibandingkan berbicara praktek faktual di lapangan. Selamat memilih, dan semoga si komentator, aktivis, penggiat idealis tetap di jalan kebenaran

Sunday, 17 February 2013

Ngemil

Ada dua hal yang membuat pengemil sejati menghentikan aktivitas ngemilnya, pertama karena cemilannya habis, atau yang kedua karena dipaksa berhenti oleh orang lain. Dipaksa itu pun karena dua sebab, sungkan dengan si pemilik cemilan, atau karena si pemilik cemilan dengan terang-terangan meminta anda menghentikan aktivitas ngemil anda. Jelas terlihat dari sorot mata si pemilik yang seolah berkata.."Beli sendiri...minta mulu!"

Ngemil memang asyik, dan semakin asyik kalau cemilan itu punya orang lain. Biasanya jarang-jarang tukang ngemil membeli cemilan sendiri, kalaupun membeli sendiri pasti dihemat-hemat. Kalau bisa cemilan yang dibeli bisa bertahan sangat lama, selama mungkin sampai terkadang lupa kalau di kulkas ada cemilan yang menganggur. Tapi memang cemilan milik orang lain terlihat lebih enak, padahal cemilan punya sendiri yang ada di dalam kulkas sama dengan cemilan milik orang lain. Aneh, fakta pertama untuk cemilan.

Aktivitas ngemil itu mirip-mirip dengan orang yang terindikasi OCD (obsesive compulsive disorder). Tak tahan tuk tidak melakukan sesuatu berulang-ulang. Seolah tangan ini tak bisa berhenti untuk mengupas kulit kacang atau mengambil keripik yang ada di dalam bungkus cemilan. Sehingga jadi sesuatu yang aneh saat berhenti ngemil di tengah jalan, ada rasa gatal untuk kembali mengambil satu lagi cemilan dan melanjutkan lagi ngemilnya. Tapi itu cuma sensasi sesaat, beberapa menit menahan diri dari ngemil, tangan dan pikiran sudah bisa dikendalikan untuk berhenti ngemil. Aneh, fakta kedua untuk cemilan.

Biasanya antara jam sarapan ke jam makan siang ada jeda kosong yang terkadang agak tanggung kalau diisi dengan aktivitas makan berat. Maka ngemil pun jadi pilihan. Terasa menyenangkan memakan cemilan ringan sambil menunggu makan siang. Sehingga tak disangka waktupun berjalan cepat dan tak terasa bobot tubuh bertambah gemuk dan berat. Aneh, fakta ketiga untuk cemilan.

Ngemil itu menyenangkan jika masih ada cemilannya. Jika sudah habis, maka sesaat ada perasaan menyesal saat menghabiskan cemilan tanpa perencanaan yang matang. Padahal bisa saja cemilan itu dimakan nanti di saat-saat yang tepat untuk menemani bekerja, menonton atau aktivitas lainnya. Aneh, fakta keempat untuk cemilan.

Ngemil itu ibarat waktu senggang yang kita miliki. Sangat berharga tuk digunakan sampai-sampai beberapa orang rela mengambil hak orang lain untuk mendapatkannya. Entah bolos kerja, ataupun ijin pura-pura sakit. Sangat berharga hingga tak rela tuk dihabiskan oleh dan bersama orang lain. Waktu luang terkadang membuat kita tak bisa berhenti jika sudah menggunakannya. membuat kita lupa segala hal hingga berakibat buruk bagi diri dan kehidupan. Maka ketika ia pergi, waktu senggang telah hilang, hanya penyesalan yang tersisa karena tidak menggunakannya secara bijak.

Karena waktu luang merupakan nikmat..

Monday, 4 February 2013

#Nyinyir

Nyinyir, sayapun tak tahu persis apa kosa kata ini telah terdaftar secara resmi di KBBI atau belum. Tapi unik juga sih kalau mendengar kata ini, agak-agak lucu jika diucapkan, semacam ada rasa pedas bermakna keluhan bila mengaitkan kata ini untuk sebuah peristiwa atau kejadian yang menyebalkan.
"nih orang nyinyir aja, udah sono kerja.."
"nyinyir mulu lu, mendingan bantuin gw sini.."
"sial nih orang, bisanya nyinyir doank.."

Setelah saya cek di internet, ternyata nyinyir itu berarti mengulang-ulang perintah, atau dengan kata lain, cerewet. Sering kali kata ini saya dapatkan di internet, terutama twitter, kala seseorang dilihat cuma bisa ngomong doank, padahal kerja pun belum tentu bisa, kontribusi pun belum tentu ada. Dan mungkin fenomonena nyinyir sedang nge-trend sekarang ini, saat beberapa isu nasional sedang asyik tuk di-nyinyir-in.

Semua hal di-nyinyir-in. Jabat tangan menteri komunikasi dengan ibu negara Amerika Serikat, nyinyir. Pedagang stasiun yang bersusah payah membela hak-haknya, nyinyir. Perda larangan berboncengan dengan duduk mengangkang, nyinyir. FPI yang menegakkan nahi mungkar, nyinyir. Bahkan berprasangka baik terhadap partai yang terkena kasus korupsi pun di-nyinyir-in, Gila.. sekedar berprasangka baik saja di-nyinyir-in. duh.

Nyinyir itu asyik, puas rasanya saat mengomentari seseorang yang terkenal bersih dan alim ternyata tersangkut kasus korupsi. Nyinyir itu sarana melampiaskan emosi, saat suatu hal berjalan tidak sesuai dengan kehendak kita. Nyinyir itu mudah, cuma sekedar duduk santai mengeluh dan mengkritik segala hal yang tidak sesuai dengan pendapat kita, dimana disaat yang bersamaan orang-orang lain sibuk bekerja dan bertindak nyata.

Nyinyir itu budaya, karena sejak dulu leluhur kita memang terkenal sebagai seorang pujangga yang jago bersilat lidah. Sehingga banyak yang beralasan bahwa nyinyir adalah faktor keturunan. Benar juga sih, tapi saat nyinyir hanya bisa berdampak negatif, membuat orang emosi, dan memancing permusuhan, nyinyir tidak lebih dari aktivitas yang penuh kesia-siaan. Apalagi nyinyir-nya sudah sampai tingkatan ghibah, wah itu sudah masuk zona merah..

Meski begitu, kita patut berterima kasih karena nyinyir pula yang membuat Indonesia menduduki peringkat 5 pengguna twitter terbanyak di dunia, saat apapun dikicaukan. Sehingga setidaknya ada yang bisa dibanggakan dari negeri ini walau sekedar nyinyir lewat twitter-an.

*tidak lebih baik dari orang-orang yang nyinyir
*otokritik untuk pribadi penulis.

foto : http://soeloehmelajoe.files.wordpress.com/2012/06/cerewet.jpg?w=600

Saturday, 2 February 2013

Operation High Level - Part 1

"Jadi, kau bisa menolongku Wan?"
Pengalaman bersama orang ini mengingatkannya akan banyak hal, bahwa tak selamanya berbisnis dengan seorang teman akan berbuah manis. Tak tega rasanya menolak permintaan orang ini. Menelepon berkali-kali ke nomor hape-nya yang mungkin hanya beberapa orang saja yang tahu, Wakilnya, beberapa staf ahli, dan mungkin satu dua pimpinan. Dari mana orang ini tahu nomorku?

"Baik, apa yang bisa saya bantu"
disela rapat yang sedang di-skors, ia mengangkat telepon dari orang itu.
"jadi begini, aku ingin minta maaf terkait permasalahan dulu, sekalian memberi sesuatu untukmu, sebagai bentuk permintaan maaf dari seorang kawan"
orang diseberang sana berucap lirih, disertai harapan akan permintaan yang semoga terpenuhi.
"Tenang, itu kejadian lampau, kita sama-sama mafhum atas kesalahpahaman itu, tiap orang pernah melakukan kesalahan,saya sudah maafkan sejak dulu "
Ia berusaha meredam kenangan-kenangan buruk bersama orang ini, manipulasi, intrik dibelakang dirinya, pemalsuan berkas-berkas itu, ah semua itu seolah berputar kembali di benaknya.
Istighfar Wan, bersyukur akhirnya kau bisa lolos dari dakwaan.

"tapi aku bener-bener ingin memperbaiki kesalahan, bisa kita bertemu di kafe priok besok malam?"
"eh kafe priok? tempat apa itu?"
ada rasa curiga yang makin menyeruak dibenaknya, tapi.. Ah jangan terlalu berpikiran negatif.
"itu Wan, restoran yang baru dibuka di daerah Penjaringan jakarta utara, deket dengan rumahmu bukan? Tempat yang asyik untuk berdiskusi." 
Wandi berpikir sesaat ketika mendengar ajakan orang ini. tak ada salahnya, anggap silaturahmi biasa.

"jadi bagaimana? kau bisa?"
"Eh, saya cek agenda dulu, kemungkinan besok malam ada rapat pimpinan di senayan. Nanti kalau oke saya kabari lagi nanti"
"oke, aku tunggu kabarnya, terima kasih "
"sama-sama, no problem. eh maaf saya tutup dulu, rapat akan dimulai, nanti saya hubungi lagi wassalamualaikum"
"Waalaikumsalam"

Orang itu menutup telepon. Di sebuah kamar kontrakan berukuran empat kali enam meter, ia terpekur sendiri, menyadari sebuah tindakan yang tak mungkin ditolaknya.
"Ingat, kalau ingin keluargamu selamat, ikuti perintah kami"
Suara misterius itu mengusik kedamaian yang baru dititinya kembali. Seminggu yang lalu selepas keluar dari bui, ia yang bertekad melanjutkan hidup yang tenang menyadari bahwa tak mudah tuk kembali pada jalan kebaikan. Baru beberapa saat bercengkrama bersama anaknya yang beranjak besar dan istri tercinta yang sangat dirindukan,  ia menerima telepon dari seseorang.
"Dengan bapak Rian, bagaimana rasanya menghirup udara bebas? nikmat bukan?
"siapa kau?" Emosinya sedikit terpancing dengan perkataan orang ini.
"anda tak perlu tahu siapa kami, yang jelas sebuah tugas akan menanti anda. tunggu instruksi selanjutnya dari kami"
"hei, siapa ini"
dan sambungan telepon terputus. Orang gila, tak perlu dihiraukan.

Keesokan harinya, ia yang terbangun di kontrakan kecil di daerah Slipi jakarta pusat, menyadari sesuatu. Istri dan anaknya belum kembali sedari pagi. Kalau tak salah pergi ke pasar seperti pagi yang lalu-lalu. Ia beranjak keluar dari kamar dan menuju pintu depan kontrakan. Matahari mulai meninggi dan sedikitpun tak ada tanda kehadiran anak dan istrinya. Kemana mereka, sampai sekarang belum kembali juga. Kekhawatiran dan ketakutan mulai berkecamuk di dadanya. Pikiran-pikiran negatif sesekali muncul saat ia teringat kembali sosok yang menghubunginya tadi malam.

Lamunannya pecah oleh suara dering telepon. nomor yang semalam. 
"Halo, siapa ini?"
"Halo juga bapak Rian, siap untuk menerima tugas?"
"Kau gila, sinting, apa maksudmu dengan tugas" kata-kata pedas tak mampu lagi ditahannya, orang ini ingin mencari gara-gara.
"Hei kawan, tenanglah sedikit, suara kerasmu bisa membangunkan anakmu yang sedang tertidur, ia nampak pulas dipangkuan ibunya."
Seketika perkataan orang ini bagai menyengatnya, ia terpaku, Nina, Andi. 
"apa yang kalian lakukan terhadap keluargaku, tolong, jangan sakiti mereka, silahkan, apa yang harus kulakukan, tapi tolong jangan libatkan mereka."
Sosok diseberang sana tertawa. "Sudah paham dengan kondisimu kini? baik ini yang harus kau lakukan. Dua hari ini, kau hubungi nomor yang akan kukirimkan lewat SMS. itu nomor Ruswandi Wahab, pasti kau mengenalnya. Ajak dia, bujuk dia sampai dia mau bertemu denganmu. Besok kau buka sebuah paket yang kami kirimkan ke rumahmu lalu ikuti instruksi yang ada di dalam paket itu, kau mengerti?"

ia mencerna perkataan orang itu yang serasa bertabrakan di otaknya, entah terlalu cepat atau dirinya yang terlampau kalut. "eh tapi aku sudah tak ingin lagi mengganggu Wandi, terlebih atas apa yang kulakukan padanya dulu."
"Kau bodoh atau idiot?? kau belum sadar nyawa keluargamu jadi taruhannya."
"baik baik, oke, kuturuti keinginanmu, tapi tolong, aku ingin berbicara dengan mereka sebentar saja"
sosok diseberang sana memberikan gagang telepon pada Nina.
"ayah, aku takut,"
"tenang sayang, semua akan baik2 saja"
"jangan tinggalkan kami, aku.."
Orang itupun mengambil gagang telepon dan berbicara kembali pada Rian. "Oke cukup, jadi sudah jelas? jangan main-main atau kau takkan bertemu mereka lagi selamanya." dan di seberang sana suara telepon tertutup terdengar memilukan. "tunggu tunggu, jangan kau.." dan Rian pun hanya tertunduk lesu. Tak disangka, begitu sulitnya tuk kembali lurus.

-cont'd

foto : http://osmd.files.wordpress.com/2012/03/dilema.jpg

Monday, 21 January 2013

Move On



Sesekali ku melihat laman profilenya kembali. Tak sering, hanya saat dunia ini kurasa begitu sempit. Ah bodohnya aku, keadaan takkan mengubah apapun. Ia, kenangan itu, dan berbagai lakunya. Suatu kali terasa sangat manis, namun tak sedikit pula rasa pahit menghinggap, kadang-kadang candanya menyakitkan tapi sedetik itu pula Ia bergegas menghiburku dengan tingkah konyolnya. Ah, masa-masa itu.

Waktu berlalu cepat, pukul dua dini hari dan belum satupun paperku tersentuh. Ah..padahal besok paper ini harus dikumpulkan. Kuhela nafas dan sejenak kumatikan laptop yang semalaman ini menjelajah laman facebooknya. Suara kursi yang berdecit, terdengar jelas dikeheningan malam. Akupun beranjak pergi, berjalan menjauhi meja kerja yang penuh dengan kertas dan buku-buku tebal. Air wudhu akan menenangkanku.

Gemericik suara air berjatuhan menyeka dan membasuh wajahku, telinga, tangan, dan kaki. Kamar besar dengan fasilitas nomor wahid, kantorku memang royal. Padahal jarak dengan tempat tinggalku tak seberapa jauh. Beberapa kali ku memaksa Pak Idris untuk membiarkanku pulang dan tidak perlu menginap di hotel ini dan nampaknya usahaku tak berhasil. Dengan alasan efisiensi waktu dan jadwal kegiatan yang padat, maka disinilah kuberada, dalam Training yang tak jauh berbeda dari biasanya.

Kuambil baju kurung itu, mukena hijau pemberian ibu. Kusimpan dalam tas ransel yang sesekali kuperhatikan, ia terlihat kumuh, ternyata tas pemberiannya ini masih layak kusandang. Perlahan kupakai mukena yang menutupi rambutku. Kurapihkan beberapa rambut yang nampak keluar dari baliknya. Akupun bersiap untuk menghadap Tuhan, semoga ada sepercik ketenangan yang Ia berikan, Allahu Akbar.

----

“Tidak, bukan itu, tidak ada alasan apapun. Bukan karena kau, ini karena, karena bukan sekarang,”
“lalu apa karena keluargamu, kau lihat, aku sudah banyak berubah, ada yang berbeda dariku.”
Dan ia pun memandangku seolah tak ada lagi yang sanggup ia bantah. Jilbab yang kini menjulur panjang dan baju kurung itu.
“Tapi, ah..pokoknya kita pisah sekarang.”
Ia berlalu meninggalkanku.

---

“Allahu Akbar Allahu Akbar”
Suara adzan subuh membangunkanku dari bayangan itu, kejadian 15 tahun lalu. Kerap kali muncul di saat seperti ini. Kuperbaiki wudhuku dan segera ku kembali menghadapNya. Ya Rabb, kenapa bayangannya terus muncul, tak adakah cara melupakannya.
“sudahlah Din, tak ada guna kau mengingatnya terus, semua sudah terjadi dan saatnya kau berjalan pergi, meninggalkannya dalam kenangan”
“Kau bodoh, seolah tak ada lelaki lain di dunia ini”
“lihat lah Andi, kurang apa lagi, Seorang Direktur, tampan, walau duda, tapi perawakannya masih seperti bujangan.”
Serta beragam nasihat dari orang-orang terdekatku. Ada yang terus membujukku untuk melangkah lagi dengan jejak yang baru, dan ada yang terang-terangan menganggapku tolol karena terus mengingatnya. Mereka semua tak tahu, tak ada yang tahu  perasaanku.

Lamunan itu sedikit memperlambatku, jam di dinding kamar menunjukkan pukul setengah enam pagi. Akupun bergegas merapihkan sajadahku dan mukena yang nampak kusut setelah semalaman kupakai tidur. Segera ku rapihkan buku-buku di meja dan mulai menuliskan paper yang tertunda semalaman. Tak kupikirkan lagi bagus atau tidak paper yang kutulis ini, yang ada dipikiranku, Semoga hari ini ada sesuatu yang berbeda, dari info yang kudapat, pembicara kali ini seorang trainer yang menyenangkan. Desas-desus mengenai ketampanannya cukup membuatku tertarik dan menambah semangatku untuk mengikuti sesi training pagi ini. Semoga hari ini ada sesuatu yang berbeda.

--

“Baik rekan-rekan, tugas kalian harap dikumpulkan di meja depan” Panitia pun berjalan mengelilingi kelas, memperhatikan kami yang sibuk mengumpulkan paper ke meja depan. Akupun sedikit terhambat dengan peniti rusak yang lepas dari jilbabku. Setelah kukumpulkan paperku ke depan, akupun menyerah, Ah kuganti saja peniti ini, percuma jika kupaksakan, Akupun sibuk mencari dan merogoh tas ranselku, di saat sibuk mencari, kudengar sayup suara yang akrab di telinga. Suara itu.
“Selamat pagi mas dan mbak sekalian, Apa kabar hari ini..?? ah nampaknya masih belum focus, masih pada ngantuk ya? yuk kita stretching dulu, biar kita lebih semangat”
Dia. Itu dia.

--

Aku tahu, ia menyadari kehadiranku di ruangan ini. Tapi ah, seberapa keras kau berusaha, tatapan matamu takkan mampu menutupi kegelisahanmu. Akupun berusaha tenang, dan berlagak tak tahu akan kehadiranmu. Sesekali perasaan membuncah itu muncul, oh tidak, setelah 15 tahun lamanya dan perasaan itu tetap sama.

“Ibu Dina, ada yang mau ditanyakan tentang pembahasan di sesi ini?” ia memecah lamunan yang membuatku salah tingkah. “eh tidak, tidak ada Pak.” Ia pun tersenyum dan nampak melanjutkan kembali pembahasannya. Akupun mencoba fokus, tak boleh seperti ini. Ia telah hilang, telah pergi. Saatnya kau melangkah Din.

Sesinya pun berakhir, tak jelas apa yang kurasakan kini, antara kesal, benci, marah, dendam, rindu, ah semuanya teraduk di sini, dalam dada yang makin cepat berdetak. “Din, bisa kita bicara sebentar” ia memanggilku, kini tanpa panggilan Ibu.

Ia nampak serius menyiapkan diri untuk berbicara denganku. Rambutnya yang kini memutih dan berapa kerutan di dahi. Hal sama yang mungkin juga terjadi padaku. “maafkan aku, telah lama ingin kusampaikan langsung, tapi aku takut. Aku takut dan menyesal meninggalkanmu dengan sebuah harapan. Maafkan aku.”

Ketulusan nampak jelas berbicara dari binar matanya. Akupun tersenyum, dan entah kenapa dada ini kembali lapang. Semuanya nampak lepas dan terbebas. “iya,” dan akupun meninggalkannya, Terima kasih Tuhan. Mungkin ini jawabnya.

Love is trembling happiness.  - Kahlil Gibran

Thursday, 17 January 2013

Edisi #banjir

Sruput kopi pagi edisi #banjir
Benhil, 17 Januari 2013, 15.14

Saat tulisan ini dibuat saya sudah mengungsi ke kantor. Berenang dengan pelampung, dibantu oleh tim evakuasi. Di sini saya sementara waktu berbenah untuk nantinya kembali lagi ke petamburan. Di kantor pun sepi,pimpinan cabang mengambil kebijakan untuk meliburkan kantor hari ini,karena kondisi yang tidak memungkinkan. Listrik mati dan banjir menghadang dimana-mana. Untungnya air pam masih hidup sehingga sayapun berkesempatan untuk mandi dan membersihkan diri.

Hari ini saya belajar banyak kawan, betapa rahmat Allah seketika dapat berubah menjadi bencana. Hujan yang seyogyanya membawa saripati kehidupan lambat laun jadi sesuatu yang mengerikan,terutama bagi penduduk petamburan.

Tidak melulu masalah sampah dan drainase yang bermasalah, karena dua hal itu sudah pasti menjadi penyebab banjir di jakarta. Tapi di luar itu mindset dan perilaku penduduknya yang sebenarnya perlu diperbaiki. Karena jika hal itu telah beres,masalah banjir pun insyaAllah akan cepat tertangani.

Mindset penduduk jakarta khususnya petamburan,adalah mindset 'yang penting hidup gw nyaman,dan persetan dengan yang lain'. Jadi tak heran lahan yang semestinya jadi jalur pembuangan air kotor (got) dibangun permukiman, dan itu terjadi persis di depan rumah nenek saya. Bantaran sungai ciliwung yang seharusnya jadi daerah resapan air,dijadikan tempat pemancingan.

Perilaku orang-orangnya pun tak jauh beda,yang mungkin membuat Sang Khaliq geregetan. Ah tak perlu lah saya buka perilaku orang-orangnya,karena mau tidak mau saat ini sayapun menjadi bagian dari mereka yang belum bisa memberikan banyak perubahan berarti.

Banjir kali ini bukan semata sebuah siklus 5 tahunan. Ada banyak maksud dan sepercik pelajaran di sana. Setidaknya membuat kami sadar bahwa manusia itu lemah dan kecil, perlu bantuan sesama dan pastinya bantuan dari Yang maha pemberi pertolongan.


*ditulis lewat hape, repost dari Facebook saya.
 

Thursday, 3 January 2013

Spongebob dan Kebodohan kita

Mari kita awali pagi ini dengan menonton Spongebob, serial kesayangan kita (kita??), eh maksudnya saya :p. Sejak tinggal di petamburan, dan jarak ke kantor hanya beberapa kilometer saja, saya pun masih sempat menonton Spongebob dan tayangan itu menjadi alternatif (satu-satunya) tontonan yang enak dilihat diantara tayangan berbau gosip, alay, dan gak jelas lainnya.

Saya suka Spongebob, tiap episodenya mencerminkan sifat dan perilaku satir manusia yang terkadang luput dari pandangan mata. Yang terkadang membuat kita terpingkal-pingkal menertawakan kebodohan spongebob yang ternyata juga kita lakukan.

Misalnya saat ia beralih profesi menjadi penjaga pantai dengan berbekal tanda putih di hidung. Dengan style penjaga pantai yang pas dan kepercayaan diri tinggi, ia pun berlagak menjadi penjaga pantai yang populer di mata orang-orang, dan bodohnya, Larry (lobster berbadan besar, si bos penjaga pantai) percaya saja. Padahal spongebob berenang pun tidak bisa. Duh.. mirip kita sekali yang terkadang membohongi diri sendiri untuk sekedar mencari perhatian orang, menjadi populer, padahal kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita lakukan.

Atau mungkin saat fanatismenya terhadap ubur-ubur, krabby patty, dan kulit kerang ajaib menjadi tontonan seru. Ah, terkadang kita pun sepertinya, gaya lebay dan lucu spongebob membuat kita tak terlalu mawas bahwa kita sewaktu-waktu fanatik tak jelas pada suatu hal. Tengoklah kini saat konser band kesayangan kita manggung di jakarta, yang rela membuat kita antri berjam-jam dibawah guyuran hujan. Yang kalau dipikir-pikir sama saja dengan Spongebob, tapi beda subjek yang di fanatisme kan.

Menertawakan diri sekali-kali itu perlu, setidaknya membuat kita tahu bahwa kebodohan adalah hal yang wajar dalam kadar tertentu. Sehingga hidup tak melulu tentang hal ini dan itu yang tak kenal waktu. Dan menonton spongebob membuat kita sedikit bersyukur, bahwa hidup kita tidak dikelilingi Teman yang idiot, tetangga yang menyebalkan, rekan kerja yang cuek, bos yang pelit, dan setidaknya kita lebih beruntung dari spongebob karena telah berhasil di jenjang akademis, tidak sepertinya yang tak pernah lulus kursus mengemudi dan membuat gurunya frustasi. hehe.

*melanjutkan nonton..menyeruput kopi..

gambar diunduh dari : http://voices.washingtonpost.com/answer-sheet/talking-out-of-school/spongebob-speaks-exclusive-int.html

Monday, 24 December 2012

Dilema. #1



Sebaris sms itu masuk dan membuatku bingung. Akupun terduduk sekejap menyadari bahwa sepertinya kakak ini tidak main-main.
“Ani, udah siap? Saya mau serius dengan Ani”
Tak perlu kutanya lagi apa maksudnya dengan ‘siap’. Usia dewasa muda dengan frase ‘serius’ serta pertanyaan tentang kesiapan, tak lebih dari pembahasan tentang pernikahan.

Siang itu matahari tak jauh beda dengan kemarin. Sinar teriknya menambah cucuran keringat setelah kubaca sms darinya. Ia, duh.. akupun baru mengenalnya, setidaknya belum sampai 2 tahun. Tapi memang beberapa kali kami sempat berinteraksi dan itupun tak lebih dari sekedar pembicaraan biasa lewat media sosial.

Akupun ingat saat pertama kali menyapanya. Eh.. tunggu, ia atau aku dulu ya? Entahlah, yang jelas kamipun berbincang dan di akhir pembicaraan akupun baru menyadari. Ternyata aku salah menyapa orang..ups. untung saja dia tak tahu. :p tapi sepertinya ia tak menyadari hal itu karena setelahnya, beberapa kali kami bertemu dalam obrolan ringan yang tak pernah direncanakan.

Oh ya, ketika itu bulan Ramadhan, dan kami sekeluarga berangkat mudik lebih awal untuk menghindari ganasnya jalur pantura. Dan tebak apa yang terjadi? Ternyata tidak terlalu berpengaruh, jalur pantura tetap padat, padahal kami berangkat H-5 lebaran. Syukurlah, mobil kami dilengkapi pendingin ruangan, kalau tidak, ya ampun, sudah tentu jilbabku sudah penuh dengan peluh keringat. Akupun berusaha membunuh kebosanan dengan membuka facebook dan fasilitas chatnya via smartphone. Dan tak lama, kakak itupun menyapaku.
“Assalamualaikum An, lagi dimana?”
“di mobil kak, lagi otw ke jawa, duh macet”
“hoo.. mudik kemana?”
“ke pasuruan kak.”
“oh.. disana oleh-olehnya apa ya? Saya titip oleh2 yak. Haha”
“hm.. ada sih kak, paling kerupuk2 gitu doank. Hehe. Boleh, insyaAllah, nanti gimana ngasihnya kak?”
“hoo.. nanti kita ketemu aja, di kampus saya atau kampus Ani.”
“eh.. jangan ya kak, nanti saya titip aja dimana gitu..”
“eh iya deh.. maaf ya, nanti kita liat lagi gimana caranya”
“sip deh kak.. eh iya kak, udahan dulu yak, ada yang mau dikerjain. Assalamualaikum”
“walaikumsalam”
Ya Robb, bukannya tidak mau bertemu dengannya, tapi sepertinya pertemuan khusus berdua itu, masih agak janggal bagiku. Dan akupun berniat, aku akan membeli oleh-oleh untuk kakak itu.

Kenanganku pun kembali berputar, sembari keluar dari kamar, akupun mengingat kembali saat ia pertama kali bekerja di sebuah anak perusahaan BUMN. Perusahaan yang cukup besar kurasa. Akupun senang saat tahu bahwa tak sampai 3 bulan ia menganggur dan berhasil mendapat pekerjaan yang sesuai dengan background pendidikannya.
“Selamat kak. Sukses selalu :) ”, sekilas pesan itu pun tertulis di dinding facebooknya, dan ia hanya membalas dengan senyuman dan ucapan terima kasih. Dan kurasa sejak itu kami pun jarang berinteraksi. Sekedar menyapa lewat facebook, ataupun terkadang lewat SMS.

Kini dia mengirim SMS untuk sebuah permintaan yang sesungguhnya berat bagiku. Ah, kenapa, tak ada alasan kuat aku menolaknya. Ia ikhwan yang baik, tokoh di kampusnya, dengan beragam prestasi yang terbilang ‘wow’. Tapi.. bismillah. Akupun membalas sms-nya.
“saya istikhoroh dulu ya kak, saya mesti nanya bapak, ibu, dan Mbak Liqo dulu”
“Oke, saya tunggu ya.”
Dan akupun meminta petunjuk padaNya. Semoga yang terbaik.

*bersambung

Sunday, 9 December 2012

Petamburan : antara FPI, Debt Collector, dan Para Jawara


Saya tidak ingat persis kapan pastinya saya mulai tinggal di petamburan Jakarta pusat, rumah almarhumah nenek. Sepengetahuan saya, sejak bapak beberapa kali bolak-balik Bekasi-Petamburan untuk mengajar Olin (anak sepupu saya alias keponakan saya) dalam persiapannya menghadapi UN SD yang tinggal dua bulan lagi. Olin itu unik, gak pernah belajar, tapi nilai ulangannya bagus-bagus (baca:standar), entah dia nyontek atau emang jenius. Tapi memang setiap diberikan soal-soal matematika, dia selalu pusing dan ujung-ujungnya bapak juga yang menyelesaikan. halah.

Akhirnya sayapun jadi sering menginap di petamburan sambil menemani bapak. Karena sering menginap dan merasakan bagaimana enaknya rumah yang dekat dengan kantor (cuma 10 menit. wehehe), akhirnya diputuskanlah bahwa saya akan tinggal di petamburan kalau hari kerja dan kembali ke bekasi tiap week end. horay, hemat ongkos, dan gak capek pula. hehe.

Petamburan itu nama kelurahan di kecamatan Tanah Abang, daerah yang dikenal dengan pusat grosirnya. Dari pasar Tanah Abang ke rumah nenekpun tergolong dekat, cuma berjalan kaki sekitar 2 kilometer, itupun kalau lagi gak males, karena biasanya orang-orang ingin yang praktis dan nyaman, maka tersedialah tukang-tukang ojek dan bajaj yang siap mengantar.

Petamburan terletak persis di sebelah bantaran sungai ciliwung. Daerah yang memanjang dari depan museum tekstil jakarta sampai pintu air. Permukimannya padat, tak teratur dan tidak rapi lah pokoknya. Jalan-jalannya kecil dan sulit dilewati kendaraan, maka tak heran karena daerah resapan air yang nyaris tidak ada membuat banjir jadi sesuatu yang akrab disana. Tapi karena letaknya yang strategis, dekat dengan Jalan protokol (sudirman-thamrin) dan pusat grosir terbesar se-asia tenggara, maka penduduknya pun enggan pindah dari sana, walau kerap kali harus merasakan kiriman banjir dari bogor.

Petamburan itu tempatnya para jawara (kalau tidak mau dibilang tempatnya para preman). Jadi jangan heran kalau debt collector pun enggan datang kesana. Banyak debt collector yang memiliki nasib tak mengenakkan ketika menagih ke daerah ini, entah diteriaki maling dan jadi bulan-bulanan warga, atau bernasib lebih baik karena berhasil kabur dari kejaran dan amukan warga. Tapi terkadang ada juga debt collector yang beruntung, berhasil nagih dan keluar dengan selamat, mungkin itu cuma satu diantara puluhan debt collector yang terpilih karena sering sedekah dan berbuat baik. hehe. oh iya, karena daerah tempat para jawara, prosentase pencurian motor di daerah ini tergolong rendah, coba saja parkir motor di depan rumah semalaman, pagi harinya motor kita dijamin masih utuh, mungkin orang-orang akan berpikir puluhan kali kalau mau macam-macam ditempat ini, salah-salah nyawanya bisa lewat karena dikeroyok warga.

Di tempat ini pun terdapat basis dari salah satu ormas Islam yang kini sering jadi sorotan. FPI. Disini, FPI jadi semacam buffer yang menyeimbangkan potensi fasad warga petamburan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Tengok saja sebagian simpatisannya yang kalau diperhatikan jauh dari nilai-nilai Islam, Muka sangar dan serem, badan tatoan, dan sholat pun jarang-jarang. Tapi saat isu-isu sentimen negatif tentang Islam merebak, mereka paling depan membela. Istilahnya, gw emang jarang sholat, tapi klo nabi dan agama gw dihina, tunggu dulu, hadepin gw klo berani. Wuih.. luar biasa.

Sudah hampir setengah tahun saya tinggal disini dan selalu ada fenomena unik yang terekam pandang dan tersimpan dalam benak. Seperti saat saya mengetahui bahwa tiap selasa dan kamis, selalu ada bazar yang menutupi jalan utama menuju petamburan, dan itu sangat mengganggu karena saya harus memutar jauh kalau mau pulang..Argh.. Bazar itu menjual beragam barang dagangan dari makanan, pakaian, alat-alat rumah tangga dan berbagai macam benda yang gak dijual bebas di pasaran (eh ini ciyus loh..). Atau ketika saya mengetahui bahwa hingga kini telah puluhan anak muda yang mati karena narkoba saking sulitnya tempat itu terjamah tangan aparat..duh.

Allahu'alam.

Friday, 19 October 2012

First Flight

Penjernihan II, Jakarta Pusat

18 Oktober 2012, 11.30

Waktu dzuhur di bulan ini lebih cepat dari biasanya. Kini pukul 11.45 sudah masuk Dzuhur. Jam di ruang SDM sudah menunjukkan pukul 11.30, 15 menit menuju dzuhur. Akupun bersiap, merapihkan meja (jangan dibayangkan bahwa benar-benar rapih tertata dengan indah, ini cuma sekedar membetulkan letaknya aja), lalu mengecek email kantor sebentar. Hm. Tak ada email baru. Baiklah, akupun segera beranjak dari kursi sebelum terhenti pada sebuah status menarik di Facebook temanku.

Hoo.. dia sekarang sedang berada di Padang, perasaan baru beberapa hari yang lalu dia kembali dari palembang. Sekarang aktivitasnya lebih sering di luar kota, enaknya bisa jalan-jalan. Hehe. Akupun kembali teringat saat dulu masih di kantor yang lama. Kalau tidak salah pertama kalinya diriku keluar kota itu bulan Desember 2009.

Setelah 2 bulan yang penuh dengan pekerjaan klerikal dan printilan administrasi, tibalah di akhir tahun 2009, diriku mulai merasakan pekerjaan yang sedikit berbau psikologi. Yup, mulai saat itu aku mulai menjadi tester psikotes. Yuhuu.. dan pekerjaan pertama ku sebagai seorang rekruter adalah mengadakan psikotes di luar kota, dan kota pertama yang kusambangi saat itu adalah Semarang.

Hm...oke, jujur, saat itu aku sedikit nervous. Untuk pertama kalinya mengadakan psikotes di luar kota (alhamdulillah dibantu teman-teman kantor cabang), dan ditambah lagi, ini untuk pertama kalinya diriku naik pesawat terbang.. (haha, norak banget dah, udah tua gini baru naek pesawat). Syukurlah, di penerbanganku yang pertama ini kantorku bekerja sama dengan maskapai terbang terbaik negeri ini, setidaknya mengurangi ketakutan seorang penumpang pemula. Hehe.

Semuanya sudah siap, tiket pesawat, perlengkapan psikotes, dan penginapan di semarang. Akupun dengan setelan yakin membawa koper dan berpamitan dengan teman-teman di kantor (berangkat dari kantor siang hari, pesawat jam 5 sore).
”eh gar, lo bisa berangkat sendiri kan? Gak bakal nyasar kan? Hehe..pokoknya nanti lo tinggal masuk bandara aja terus lo cari tempat check in” petuah salah seorang kawanku hanya kutanggapi dengan senyuman dan acungan jempol.. 
”sipp, tenang aja mbak”, akupun menimpali nasihatnya dengan nada penuh keyakinan, nasihatnya hanya lewat berlalu begitu saja dari pikiranku.

Di bandara, akupun berjalan memasuki pintu gerbang pemeriksaan bagasi. Dengan langkah penuh kebanggaan, akupun berjalan mendorong tas koper menuju ruang tunggu bandara. Ah, masih lama ternyata, akupun berbalik arah menuju tempat makan di serambi bandara. Tujuanku saat itu sebenarnya hanya ingin menghabiskan waktu dan menikmati suasana bandara, karena waktu penerbangan masih sekitar 2 jam lagi.

Waktu berjalan cepat, tak terasa jadwal penerbanganku tinggal setengah jam lagi. Ah akupun segera berlari menuju ruang tunggu bandara. Fiuh. Akhirnya sampai juga. Akupun menunjukkan tiketku pada petugas pemeriksa di ruang tunggu bandara.
”eh maaf pak, boarding passnya bisa?” eh. Akupun bingung,
”loh mbak, ini tiket saya”
”maaf pak, bapak harus check in dulu untuk mengambil boarding pass dan membayar pajak. Cepat ya pak, tinggal 20 menit lagi.”
Aih mak, mati. Akupun segera berlari menuju counter check in. Ah syukurlah masih sempat. Dengan nafas yang terengah-engah, aku menunjukkan tiket dan KTP ku, akhirnya boarding pass sudah di tangan dan aku pun kembali berlari menuju ruang tunggu dan kuserahkan benda itu pada petugas yang nampak menungguku dengan pandangan kesal. Gini nih jadinya kalau terlalu PD, keliatan noraknya, padahal tadi sudah diingatkan oleh teman kantorku. Untung gak ketinggalan pesawat.

Akupun tersenyum ketika mengingat kembali kejadian itu. Ah.. masa-masa itu, eh sudah waktunya dzuhur. Teman-teman di kantor sudah banyak yang berangkat ke mushola. Ah. Terlambat lagi.

#dan petualangan pun dimulai.

Tuesday, 16 October 2012

Kartu Istimewa



Penjernihan II, Jakarta Pusat.
15 Oktober 2012, Pukul 17.10

Fiuh.. akhirnya, berkas psikotes terakhir di hari ini. Kulayangkan pandang ke arah belakang mejaku, ke arah jam dinding yang berdetak perlahan di tembok ruang SDM. Pukul 5 sore, setengah jam lagi jika ingin pulang tenggo (teng langsung go). Tapi.. ah, pulang tenggo, sesuatu yang sangat jarang kunikmati beberapa bulan ini. Sejak tinggal di rumah nenek di daerah petamburan Jakarta pusat, rasanya pulang malam jadi sesuatu yang biasa saja. Jarak yang dekat antara rumah dan kantor sedikit banyak mengurangi tingkat kecemasan dan ketegangan urat syaraf yang beberapa tahun ini kurasakan sebagai seorang komuter. Hingga aku pun lebih banyak menghabiskan waktu sore di kantor sampai senja berganti gelap.

Kantorku berbentuk rumah, ya betul, rumah. Rumah yang disulap menjadi kantor dengan berbagai perangkatnya. Jadi sedikit banyak, aura kehangatan sebuah ‘rumah’ masih tersisa dari kantorku ini. Membuat kami, para karyawan, menjadi lebih nyaman berada disana. Di halaman belakang, ada sebidang tanah, tak luas memang, tapi cukup asri dan hijau tuk sekedar mendinginkan pandang. Tentunya hal ini jadi sesuatu yang menyegarkan mata setelah seharian menatap layar monitor.

Aku berada disana, beranjak dari ruang SDM menuju beberapa kursi yang berbaris rapih di samping halaman. Ah segarnya. Sejenak kurasakan aroma rumput basah sisa hujan di sore hari merambat di sekujur tubuhku, kuhirup sejadi-jadinya. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang masih memberikan ku kesempatan menikmati RahmatNya.

“Permisi Mas Tegar, jadi nitip nasi bungkus mas?” suara Jaka, Office Boy di kantorku, perlahan menyadarkanku dari lamunan.
“oh iya, saya titip nasi uduk pecel lele saja ya,” aku pun mengeluarkan dompet dan memberikan beberapa lembar uang puluhan ribu padanya.
“baik pak, “ ia pun berlalu dan akupun masih memegang dompet yang sedari tadi masih terbuka. Saat itu, pandang ku terpaku pada sebuah kartu di dalam dompet. Ah, kartu ini. Akupun tersenyum melihatnya.

Akupun memegangnya dan memandangnya lekat. Kartu ini, kartu yang dulu nampak sangat prestisius berada di dompetku. Kartu yang menandakan bahwa anda telah menaiki dan berjalan, berwisata, dan terbang bersama maskapai udara terbaik di negeri ini selama puluhan kali. Sehingga anda layak mendapat beberapa keuntungan termasuk free ride selama millage (jarak terbang) anda telah memenuhi syarat.

Ah itu dulu. Saat dimana sepertinya hidup terasa istimewa. Tapi tidak, itu hidup yang jauh dari kata istimewa. Tidak ada pengabdian, tidak ada pengorbanan, dan tidak ada kekhusyukan. Semuanya hampa dan yang ada hanya kekosongan.

Kumasukkan lagi kartu itu ke dalam dompet. Biar dia jadi penanda dan pengingat, bahwa bila suatu saat kugunakan kembali kartu itu, dan mendapat keistimewaan darinya. Aku telah menjadi pribadi yang lebih baik dan berisi. Yang tak hanya terlingkupi kemewahan sesaat, namun ada kepuasan akan arti pengabdian disana, kekhusyukan didalamnya dan ketaatan padaNya.

Amiin ya robb.


Sunday, 30 September 2012

Gak jauh-jauh..



Sabtu kemarin saya berkesempatan menjadi saksi pernikahan dua orang sahabat saya. Mohammad Ghozali dan Farah Zubaidillah. Diawali dengan perkenalan dan proses pernikahan tanpa pacaran (baca: taaruf), mereka akhirnya berjodoh. Saya sejujurnya penasaran dengan perasaan mereka masing-masing. Ya betul, perasaan mereka bahwa ternyata jodohnya gak jauh-jauh amat. Sama-sama dari bekasi, sekolah di SMP, SMA, dan bahkan perguruan tinggi yang sama. Padahal mungkin salah seorang dari mereka pernah berpikir bahwa jodoh mereka si anu, atau si dia yang dulu mungkin sempat singgah di hati masing-masing.

Kalau dari saya sendiri pengen juga kayak mereka, dapet pasangan yang gak jauh-jauh (maksud lo dari psikologi juga gar?? :p), hm.. ya gak gitu juga maksudnya, gak jauh akidahnya dari akidah islam yang lurus, akhlaqnya gak jauh beda seperti Fatimah, kecerdasannya gak jauh beda dari Aisyah, dan keteguhan hatinya gak jauh beda seperti Asiyah, dan gak jauh kayak saya kuliahnya, di psikologi juga (haha. Tetep.. )

Anyway, tiap orang memang cenderung nyari jodoh yang gak jauh-jauh dari lingkaran mereka. Faktor kedekatan dan familiaritas jadi dua faktor yang mempengaruhi seseorang memilih pasangan. Semakin dekat dan semakin familiar dua calon pasangan, semakin sedikit keraguan dan waktu untuk saling mengenal diantara kedua calon pasangan. Jadi gak lama-lama untuk saling bercerita kalau dulu..

”oh jadi si anu temen kamu juga? Dia kan satu kelas sama aku..”
“oh jadi kamu yang dateng telat terus di setrap guru di lapangan itu ya?”
“oh jadi dia temen kamu ya? Dia kan adek kelas saya, dulu saya sempet naksir dia tuh..hehe”

Dan dialog serta cerita lainnya. Pembahasan yang gak jauh-jauh membuat kondisi yang nyaman diantara kedua calon pasangan.

Tapi memang, idealnya, seorang wanita dinikahi gak jauh-jauh dari 4 hal, seperti yang disabdakan Rasul kita yang mulia. Karena kecantikannya, hartanya, keturunannya, dan agamanya.  Dan sebaik-baiknya pilihan adalah.. ya betul, gak jauh-jauh dari agamanya. Pilih yang agamanya baik. Karena dengan itu, sebuah keluarga pencetak generasi rabbani akan terbangun dan terbina.

Semoga jodoh saya gak jauh-jauh amat..maksudnya, gak jauh2 dari apa yang disabdakan Rasul. Hehe. Amiin..

Sunday, 8 April 2012

Citra

Bapak Presiden tidak usah mengotori tangannya. Biarlah para babu dan kacung di bawah yang melakukan pekerjaan kotor ini. Bapak presiden terlampau putih, dan suci, untuk sekedar dinodai oleh perkara koalisi dan urusan depak mendepak. Bapak presiden harus tetap terlihat wibawa, cinta damai, dan bijaksana.

Orang orang sedari kemarin terus berkicau. Media massa dan elektronik tak hentinya memberitakan ihwal pencoretan salah satu anggota koalisi. Dari politikus oposisi, ring satu presiden, hingga pengamat terus membahas kemungkinan reshuffle kabinet, dan komposisi baru koalisi. Herannya, yang diomongin (baca : partai yang mau dicoret) gak pernah hadir atau mungkin gak pernah diundang dalam acara-acara itu. acara talkshow politik yang isinya cuma ngalor ngidul gak jelas.

Saya tau, atau mungkin beberapa diantara kita tau, mendepak partai itu dari koalisi, yang langsung diputuskan dan dibacakan oleh bapak presiden di depan khalayak ramai justru akan menaikkan pamor si partai itu. Yang secara koleratif akan menurunkan citra dari bapak presiden. "wong mendukung rakyat dengan menolak kenaikan bbm kok di depak dari koalisi. dasar presiden gak memihak rakyat" ya mungkin itu curahan hati ataupun opini yang akan beredar jika itu terjadi.

Si bapak presiden sebenernya sudah gerah dengan manuver manuver dari partai koalisi ini. Bukan sekali saja partai ini dianggap membangkang, beberapa kejadian sebelumnya menegaskan bahwa ia dan partai ini tidak sejalan. Manuver terakhir terkait penolakan kenaikan BBM nampaknya disuarakan sebagai tanda 'pengusiran' partai ini dari koalisi. Namun bapak presiden masih galau, gundah dan gelisah. ia tidak berani mengumumkan sendiri pencoretan partai itu dari koalisi, yang akhirnya disuarakan oleh orang orang sekitarnya.

Kicauan, desakan dan dorongan agar si partai ini mengundurkan diri dari koalisi terus di suarakan oleh orang orang di sekitar bapak presiden. semakin lama, kicauan itu semakin keras dan kurang sopan. ini sebenarnya siapa sih ketua koalisinya? duh.. mungkin ini sengaja, agar si partai dengan sendirinya mundur dari koalisi dan si bapak presiden tidak perlu mengumumkan secara langsung pencoretan si partai. sehingga selamatlah citranya di depan khalayak.

duh. citra citra. betapa kau dipuja oleh bapak presiden negeri ini. Strategi ini mungkin akan terus berlanjut, dan tekanan kepada partai itu, akan terus bertubi tubi datang. Tapi saya melihat, partai ini takkan mundur hingga si bapak presiden bersuara.

Jadi kita lihat saja sampai mana drama ini akan berlanjut. Mana yang lebih kuat, si partai ataukah bapak presiden.