Showing posts with label tulisan. Show all posts
Showing posts with label tulisan. Show all posts

Tuesday, 8 December 2015

Kemampuan Mendengar & Kepimpinan



rahasiasemesta.com
Artikel ini sama seperti postingan saya sehari yang lalu. Merupakan hasil kolaborasi saya dengan Adik yang bekerja di LPS, Egi Hannany Hafsah, dalam rangka menyambut Ultah LPS di tahun 2014 yang lalu. Tapi saya agak lupa, artikel ini menang atau kalah ya, haha, well, tak apalah, semoga artikel ini bermanfaat.  
 ----
 
"Mendengarkan secara efektif membutuhkan lebih dari sekedar mendengarkan kata-kata yang disampaikan orang. Mendengarkan menuntut Anda menemukan makna dan pemahaman atas apa yang sedang dikatakan. Lagi pula, makna bukan terletak di dalam kata-kata, melainkan di dalam seseorang." - Herb Cohen, seorang negosiator terbaik dunia


Park Jung Soon mungkin takkan pernah menyangka bahwa sang anak, Yoo Ye-Un, yang masih berusia 5 tahun akan mampu membuat ratusan penonton terpukau dengan permainan pianonya. Menjadi sesuatu yang biasa saja bahwa saat ini banyak anak yang bahkan masih belia sudah mampu memainkan piano dengan handal. Tapi Yoo Ye-Un berbeda, ia seorang pianis tunanetra yang mungkin tak tahu wujud piano itu seperti apa.


Yoo Ye-Un lahir tanpa mengenal siapa orang tua kandungnya, ia ditinggalkan sejak kecil oleh mereka, entah apa penyebabnya. Orang tua angkatnya, Park Jung Soon yang mengasuhnya sejak kecil dan memperkenalkannya dengan alat musik piano. Ternyata Yoo Ye-Un sangat menyukai piano yang ia mainkan. Nada-nada yang ia tekan pada tuts piano merangsang bakatnya yang tak diduga dalam bermain piano.


Dengan mengandalkan intuisi dan pendengaran ia mampu memainkan secara sempurna karya-karya spektakuler dari komponis besar seperti Mozart, Chopin, maupun Beethoven hanya dengan sekali mendengar saja. Karena kehebatannya itu, sebuah acara pencarian bakat bertajuk Star King di sebuah televisi di Korea menobatkannya menjadi pemenang. Ia pun mendapatkan hadiah sebesar satu juta won atau setara dengan Rp 9,1 miliar.


Pemimpin yang “Mendengar”

Dari cerita tentang Yoo Yee-Un di atas, kita dapat mengetahui bahwa kemampuan mendengar yang dipadukan dengan bakat dalam memainkan piano bisa menghasilkan sesuatu yang indah. Memilah tangga nada yang sesuai pada tuts piano lalu mengolahnya  dengan permainan jari yang cepat tentu membutuhkan latihan dan keterampilan. Sama halnya dengan memimpin, butuh pemimpin yang terampil dan mau mendengar orang-orang yang dipimpinnya untuk menciptakan sesuatu yang luar biasa.


Kemampuan seorang pemimpin dalam mendengar merupakan salah satu karakteristik Servant Leadership. Menurut Robert K. Greenleaf dalam tulisannya yang berjudul The Servant as Leader. Servant-leadership adalah Kepemimpinan melayani, membuat tujuan-tujuan menjadi jelas dan menggulung lengan baju anda dan melakukan apa saja (yang baik) untuk menolong orang-orang agar menang. Dalam situasi itu, mereka tidak bekerja untuk anda, anda bekerja untuk mereka.


Di era modern saat ini, sudah tidak zamannya lagi pemimpin yang jauh dari rakyat ataupun orang yang dipimpinnya. Kini banyak pakar yang menganggap bahwa pemimpin yang ikut andil, turun bersama bawahannya menyelesaikan permasalahan adalah ciri pemimpin yang lebih kuat dan berhasil. Karakteristik utamanya antara lain, mau mendengar keluh kesah bawahan dan mau meluangkan waktu untuk duduk bersama mendiskusikan hal-hal yang menjadi persoalan mereka.



LPS dan Servant leadership

"We must be silent before we can listen. We must listen before we can learn. We must learn before we can prepare. We must prepare before we can serve. We must serve before we can lead,”- William Arthur Ward


Seorang servant-leader senantiasa berupaya untuk mengetahui kehendak  kelompoknya, dan dia mencoba untuk mengklarifikasi kehendak itu. Dia berupaya untuk mendengarkan apa saja yang dikatakan dan tidak dikatakan oleh orang-orang lain kepadanya. Seorang pendengar yang baik juga selalu mendengarkan suara di dalam batinnya, dan berupaya untuk memahami komunikasi yang disampaikan orang-orang lain lewat bahasa tubuh mereka, seperti ekspresi wajah dan sebagainya. Upaya mendengarkan harus disertai refleksi secara teratur demi tercapainya pertumbuhan sang servant-leader itu sendiri.


Berkaca pada institusi kita tercinta, LPS, idealnya bisa menjadi sarana bagi tiap pimpinan untuk mengasah kemampuan servant leadership masing-masing. Dengan jumlah karyawan di LPS yang tidak terlalu banyak membuat masing-masing insan LPS harapannya sudah saling mengenal satu sama lain. Hal ini mempermudah tiap leader atau pimpinan di unit kerja dalam mengasah kemampuan mendengarnya untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa di LPS seperti kinerja yang semakin baik dan teamwork yang semakin kuat.


Ada beberapa hal yang dapat dilakukan para servant leader untuk meningkatkan kemampuan mendengar mereka, diantaranya


Pertama, tingkatkan kesabaran. Bersabar ketika seseorang sedang berbicara. Banyak orang yang cenderung mulai berbicara sebelum seseorang selesai berbicara. Biarkan orang tersebut menyelesaikan apa yang ingin disampaikannya baru kita berikan jawaban sesuai situasi dan kondisi yang ada.


Kedua, fokus pada pembicaraan orang lain. Terkadang secara tidak sadar, disaat orang sedang berbicara, kita membiarkan pikiran kita mengembara kesana kemari. Fokuskan pikiran kita sehingga kita dapat meningkatkan kemampuan mendengar kita.


Ketiga, berikan umpan balik. Memberikan umpan balik di saat mendengarkan lawan bicara juga penting untuk dilakukan. Kita dapat menganggukkan kepala atau mengatakan ‘Ya’ atau ‘tidak’ sebagai respon balik. Selain itu kita juga dapat memberikan kontak mata sebagai cara memberikan umpan balik.


Keempat, memberi saran di waktu yang tepat. Banyak orang yang cenderung untuk memberikan saran tanpa mendengarkan seluruh percakapan. Hal ini terkadang juga dapat menciptakan kebingungan dan kesalahpahaman. Memamahi apa yang dikatakan orang lain, dan kemudian bereaksi dengan memberi saran secara keseluruhan masalah dapat dilakukan di waktu yang tepat.


Kelima, perhatikan isyarat non verbal. Perhatikan isyarat non verbal seperti memperhatikan bahasa tubuh dan gerakan lainnya dari orang yang berbicara pada anda. Ini juga merupakan bagian dari kemampuan mendengarkan yang efektif.


Beberapa tips tersebut harapannya dapat mengasah kita ataupun pimpinan yang ada di LPS untuk dapat mengembangkan kemampuan mendengar. Karena dengan hal ini, kemampuan leadership tiap insan LPS akan terasah, hingga nantinya LPS dapat menghasilkan harmoni yang luar biasa layaknya permainan piano yang indah dengan pemimpin yang melayani sebagai komposernya.

Sumber
 




Monday, 7 December 2015

Buku Putih Pelindo II

Bagi saya yang dulu pernah merasakan aktivitas kemahasiswaan di kampus, mendengar kata dan bahasa 'Per-Politik-an' jadi sesuatu yang selalu menarik perhatian saya. Awalnya saya menganggap politik masih secara naif, dulu ketika mahasiswa dan terkadang saat ini ketika sudah bekerja. hehe. Dimana lawan dan kawan jelas terlihat, siapa yang mendukung kita dan bersama mencapai tujuan dapat dimaknai sebagai teman dan yang sebaliknya sebagai lawan. Tapi saat ini saya melihat bahasa per-Politik-an menjadi lebih rumit ketika menceburkan diri di dunia kerja.

Tiga kali bekerja sebagai pekerja (baca : buruh), dan ketiga-tiganya di BUMN atau anak perusahaan BUMN, memberikan saya pemahaman bahwa kepentingan Pribadi (karyawan), dan kepentingan manajemen (Direktur, Manajer, dll) tidak selalu berlawanan dan berseberangan, karena kadang kala kepentingan politikus kampret terhormat yang merasa sebagai Pejabat Negara dan Punya willingnes serta "kepedulian" terhadap perusahaan negara, jauh lebih menyebalkan dibandingkan tarik menarik kepentingan antara pekerja dan manajemen.

Di kantor pertama, anak perusahaan BUMN perbankan yang bergerak di keuangan syariah, kepentingan para politikus samar terlihat, entah karena saya yang masih cupu atau mereka-mereka yang ogah berurusan dengan Compliance dan Manajemen risiko yang rigid dari industri perbankan sehingga paling-paling intervensi mereka sebatas menempatkan kolega dan kerabatnya untuk bekerja di perusahaan ini.

Di kantor kedua, kurang lebih sama dengan perusahaan pertama, bergerak di bidang atau jasa keuangan Mikro, perusahaan BUMN yang tergolong masih baru (berdiri tahun 1999). Disini pun para politikus itu juga tak jauh-jauh dari menempatkan kolega dan kerabatnya. Mungkin bedanya karena pimpinan tertinggi di perusahaan ini punya ketergantungan dan usaha 'jilat-menjilat' agar (katanya) BUMN ini bisa survive di tengah gempuran pemain industri keuangan mikro lainnya, maka dari itu memfasilitasi para politikus itu jadi suatu keharusan. (nb. pengalaman pribadi saat ngubek-ngubek CV yang udah sekian tahun terkubur di tumpukan CV lama, hanya karena dia, katanya, anak pejabat.. Bah..!)

Di kantor Ketiga, BUMN yang bergerak di bidang jasa kepelabuhanan, yang sering orang sangka sebagai Pelni, padahal beda jauh. Disini para politikus itu bermain lebih liar dan tak karuan. Tak cukup sekedar menempatkan kolega, kerabat, kerabit, dan lain sebagainya, tapi sudah sampai level mengontrol fungsi dan peran Manajemen (direksi). Bisa dilihat saat Serikat pekerja di perusahaan ini yang ternyata juga punya bekingan orang-orang penting di negeri ini, jadi tidak hanya Direkturnya saja (RJ. Lino) yang punya bekingan sekelas JK, SW, dan SD, tapi serikat pekerjanya juga punya bekingan.

Terlepas dari siapa yang salah, dan siapa yang punya kepentingan, kisruh di perusahaan saya yang ketiga ini, sudah di titik menyebalkan dan mengkhawatirkan, terutama bagi para pekerjanya. Sekedar memberikan fakta yang berimbang, saya sampaikan link mengenai Buku Putih Pelindo II yang semoga dapat memberikan view berbeda dari khalayak sekalian.
Nb. : hanya Indosat dan sekarang Pelindo II, BUMN yang mengeluarkan Buku Putih terkait kisruh perusahan mereka

fiuh..!

Link Download Buku Putih Pelindo II


Tuesday, 30 December 2014

Worklife Balance on IPC



Artikel ketiga yang secara de facto saya kirimkan ke majalah kantor, IPC News, tapi berhubung artikel yang ini tidak mencantumkan saya sebagai penulis, ya jadilah cuma terhitung 2 kali saya menulis di IPC News.

**
Worklife Balance on IPC

“I left management position with a monthly 8 digit salary” – Agus, Taxi Driver and A Former Journalist


Artikel di situs www.wearejakarta.com beberapa waktu lalu tentang Pak Agus, seorang executive manager di sebuah perusahaan yang banting setir menjadi supir taxi mungkin dapat menjadi perhatian bagi kita semua akan pentingnya worklife balance. Ia meninggalkan posisi jabatan tersebut karena ia begitu merindukan keluarganya. Istrinya wafat 5 tahun lalu saat ia berada ribuan mil jauhnya dari rumah. Hal itu sungguh menghancurkan hatinya, di saat sang istri membutuhkan kehadirannya, ia tak dapat menemani.

Tahun lalu, anak bungsunya mencoba untuk bunuh diri. Anaknya marah karena Ia tak henti-hentinya  bekerja yang membuat mereka jarang bertemu. Ia tahu bahwa anaknya hanya ingin menarik perhatiannya dan tahu bahwa ia tak dapat mengabaikan hal ini. Saat itu ia mencintai karirnya, tapi ia tak lagi menikmati pekerjaannya. Karena menurutnya, pekerjaannya membuat ia jauh dari orang-orang yang dicintainya. Pilihan karir yang diambilnya kini memang berat, tapi baginya hal ini sebanding dengan apa yang didapatkannya sekarang, dekat dengan orang-orang yang dicintainya.

Tentunya bila dibandingkan posisi kita kini sebagai pegawai IPC, kejadian yang serupa dengan pak Agus ini sangatlah jarang terjadi, atau mungkin hampir tak ada sama sekali. Tapi hal ini bisa saja terjadi bila insan IPC tidak pandai-pandai dalam menjaga worklife balance yang ada pada diri mereka.

Worklife balance..?

Istilah worklife balance pertama kali di populerkan di inggris di akhir tahun 1970-an untuk mendeskripsikan keseimbangan antara pekerjaan di kantor dan kehidupan pribadi. Isu ini muncul saat banyak pekerja di waktu itu yang memiliki konflik antara mereka dan keluarganya terutama dengan anak-anak dikarenakan waktu kerja yang panjang sehingga mereka hanya memiliki waktu yang sedikit dengan keluarga.

Sedangkan untuk situasi dan kondisi saat ini, isu tentang worklife balance semakin kompleks seiring dengan tuntutan pekerjaan serta ambisi yang beragam dari tiap pekerja. Sekarang perusahaan tak lagi semonoton di tahun 1970-an. Pekerja kini tak sekedar melakukan pekerjaan rutin dan sama tiap harinya akan tetapi telah berkembang sedemikin rupa menjadi pekerjaan yang lintas ruang dan multi peran. Saat ini seorang pekerja dapat berinteraksi dengan seseorang yang berada ribuan mil jauhnya dari tempat kerjanya melalui jaringan internet, dan saat ini seorang pekerja dituntut untuk dapat melaksanakan peran sebagai staff dan manajer secara bersamaan yang membutuhkan kemampuan klerikal dan leadership sekaligus.

Ambisi tiap pekerja turut menjadi bagian dari isu worklife balance. Selain tuntutan pekerjaan yang tinggi, ambisi yang besar untuk mencapai karir setinggi mungkin membuat waktu antara kehidupan pribadi dan pekerjaan di kantor menjadi tak seimbang. Sehingga mau tak mau demi karir yang cemerlang, sebagian orang mengorbankan kehidupan pribadinya untuk waktu bekerja yang lebih di kantor.

Namun apakah dengan menyeimbangkan waktu secara seimbang antara pekerjaan di kantor dengan kehidupan pribadi membuat worklife balance tercapai? Mungkin saja, akan tetapi hidup kita tidaklah sekaku itu, dimana tiap detailnya waktu kita diseimbangkan dan terprogram dengan seksama. Tentunya hidup kita akan lebih nyaman bila segala sesuatunya lebih mengalir.

Worklife balance juga berbeda di tiap fase perkembangan karir yang kita jalani, tidak dapat disamakan. Tentunya worklife balance ketika sebelum menikah berbeda setelah kita menikah. Sebelum menikah mungkin saja kita dapat sebebas mungkin untuk bekerja di kantor sampai larut malam, bekerja tanpa kenal lelah. tapi setelah menikah, seringkali bekerja hingga larut malam juga tidaklah baik bagi kehidupan rumah tangga kita.

Untuk itu, worklife balance tidak sekedar berfokus pada cara kita mengatur jadwal sehari-hari, atau menyamakan worklife balance untuk setiap orang di semua tingkatan karir. Tapi lebih dari itu, worklife balance sebenarnya adalah bagaimana caranya kita mengisi hari-hari dengan pencapaian dan kepuasan dalam bekerja dan kehidupan pribadi.

Mewujudkan IPC Worklife Balance

Menurut situs www. worklifebalance.com, kehidupan yang seimbang antara pekerjaan di kantor dan kehidupan pribadi adalah tentang bagaimana kita mengisi hari dengan pencapaian dan kepuasan. Pencapaian serta prestasi yang dicapai di kantor ataupun di kehidupan pribadi dan juga kepuasan dalam menjalani keduanya.

Sehingga dengan mencapai target tertentu serta kepuasan dalam melakukannya menjadikan hari kita di tempat kerja dapat lebih nyaman dan kitapun lebih menikmati pekerjaan di kantor. Ditambah dengan melakukan hal yang sama di dalam kehidupan pribadi, seperti melakukan aktivitas bersama keluarga, jalan-jalan ke suatu tempat yang belum pernah disinggahi, membuat kehidupan kita secara keseluruhan menjadi seimbang.

Ada beberapa tips yang mungkin dapat kita lakukan dalam mewujudkan worklife balance. Pertama, selalu upayakan untuk pulang tepat waktu dari kantor dengan syarat, pekerjaan kita telah selesai, dan tidak ada meeting mendadak. Untuk itu perlu adanya manajemen waktu yang baik dalam bekerja hingga lebih efektif dan efisien dalam memanfaatkan waktu. Dengan pulang tepat waktu, kehidupan kita bersama keluarga dapat dioptimalkan dengan secepat mungkin kita hadir bersama mereka.

Kedua, berpartisipasi dalam kegiatan kantor, di luar jam kerja. Ada kalanya disaat kita bekerja, muncul rasa suntuk dan bosan yang mungkin timbul akibat pekerjaan yang berulang kita lakukan. Untuk itu kita perlu variasi yang membuat kita dapat mengisi kembali energi kita dalam bekerja dengan melakukan kegiatan menyenangkan yang diselenggarakan oleh kantor setelah jam kerja. Contohnya adalah aktivitas bermain futsal bersama teman-teman kantor. Untuk hal ini, IPC secara rutin menyelenggarakannya dan karyawan secara antusias menyambutnya.

Ketiga, sesekali menghubungi keluarga ataupun teman dekat di kala waktu senggang saat bekerja. Waktu kita yang sebagian besar di kantor, membuat interaksi dengan keluarga ataupun sahabat menjadi lebih sedikit. Untuk mensiasati hal ini, menghubungi mereka via telepon ataupun media sosial di internet membuat kita tetap terhubung dengan kehidupan sosial di luar sana.

Mungkin itu beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mewujudkan worklife balance. Memang tak mudah tapi tidak mustahil untuk dilakukan. Dengan fasilitas yang diberikan oleh IPC dari sarana dan prasarana yang mumpuni seperti ruang kerja yang baik dan telah direnovasi, kultur kerja yang dinamis dan bersahabat, serta pilihan dalam menyalurkan hobi seperti futsal, bulutangkis, dan lainnya, harapannya para karyawan dapat menggapai worklife balance yang dapat menjadikan tiap insan IPC pribadi yang paripurna. 

Thursday, 2 January 2014

Review 2013 ; Sruput Kopi Pagi.

Hai Netter..

Lama tak jumpa dan menyapa kalian. Rindu rasanya menulis lagi dan berbagi ide serta cerita lewat laman ini. Karena jujur saja, menyalurkan isi kepala lewat tulisan di blog ini sedikit banyak merupakan cara saya untuk mengobati ketidakpuasan tentang banyak hal. Setidaknya yang membaca laman ini, mungkin saja, mendapatkan perspektif baru dan syukur-syukur tergugah dengan tulisan-tulisan saya.. (tsah..).

Ngomong-ngomong.. sudah setahun lamanya (sejak 2013) saya mencanangkan sebuah rubrik di laman ini. Sruput Kopi Pagi. Sebagai media untuk berbagi gagasan dan uneg-uneg di kepala yang terbit setiap hari. Awalnya saya berencana untuk menuliskannya secara konsisten setiap pagi, selama tahun 2013. Tapi apa daya..Satu dan lain hal (baca: banyak hal) menjadikan Sruput kopi pagi hanya bertahan sampai bulan April 2013. haha.

Dan berikut statistiknya selamat tahun 2013.


Dari statistik tersebut terlihat bahwa, beberapa kata kunci di satu postingan saya tentang sebuah tulisan menjadi hits dan banyak dicari para netter. antara lain: Job Fair, Melamar Pekerjaan, Togel-Mimpi, Haqqul yakin, Hafidz Quran, FPI, dan KPK.

Hasil statistik tersebut cukup mengejutkan bagi saya karena laman ini sudah sejak April tidak di update sama sekali. Tapi justru sejak bulan April, karena postingan saya menggunakan kata kunci Togel, Mimpi, Jobfair, dan sebagainya, membuat laman ini di akses tiap harinya rata-rata 40-50 view perhari. Lumayan bagi ukuran blog tidak terkenal dan jarang sekali di update. Hehe..

Anyway.. Semoga saja postingan-postingan tersebut memberikan manfaat bagi netter yang membacanya. Karena memang bukan tujuan saya untuk menjadi terkenal lewat blog ini, hm.. baiklah, mungkin itu tujuan lainnya..haha.. tapi memang berbagi lewat laman di dunia maya memang menyenangkan, dan semoga di tahun ini, laman ini bisa tetap di update..

:)


Monday, 15 April 2013

Mari Menulis Lagi..!

Setelah seminggu berlalu (lebih kayaknya), sayapun menyadari bahwa menulis membangun konstruksi berpikir dari lesatan ide serta opini yang ada di kepala. Hal-hal semacam peristiwa, fenomena dan sebungkus informasi yang muncul menjadi stimulus yang asyik tuk diolah. Maka saat aktivitas menulis itu berhenti, ada semacam stagnansi dari sebuah proses perbaikan diri, dan itu sangat mengganggu.

Awalnya saya sekedar ingin melihat perbedaan antara menulis dengan berhenti menulis. Aktivitas yang biasanya dilakukan dibuat hilang untuk sesaat. Harapannya, saya menjadi lebih tahu, apa kiranya yang terjadi saat sesuatu itu hilang. Karena biasanya, yang namanya manusia, baru mulai menyadari hakikat sesuatu saat sesuatu itu sirna.

Dan sayapun sadar bahwa menulis menjadi sesuatu yang penting dalam hidup saya kini. Seminggu (lebih) stop menulis menjadi momen dimana saya dibuat tak berdaya dengan segala informasi yang berlalu lalang. Mengharuskan saya secara tidak langsung untuk menelan saja informasi tersebut tanpa ada hasrat tuk merespon yang biasanya dilakukan dengan cara menulis. Padahal belakangan ini banyak peristiwa dan fenomena yang perlu dikomentari.

Menulis juga menjadi alat bagi diri saya pribadi untuk berbagi ide yang mungkin bermanfaat. Cerdas bersama dengan berbagai komentar dan masukan yang berharga. Tak melulu soal banyaknya pengunjung yang membaca tapi lebih dari itu, semoga tulisan saya bermanfaat dan memberikan inspirasi, setidaknya bagi diri saya yang perlu diberi nasihat oleh dirinya sendiri agar menjadi lebih baik.

Maka kini menulis jadi semacam terapi, untuk saling menasihati dan memberikan inspirasi. Karena menulis adalah respon saat Allah memerintahkan kita untuk membaca.


Sunday, 24 March 2013

Rasyad dan Riana - 1


"sign in"
"rianazahira is online"

Di tatapnya lekat monitor laptop yang ada di hadapannya. Akhirnya ia kembali. Senyum di wajahnya mengembang kala Riana menyapanya.

"Hai Cha, saran kamu kemarin benar-benar membantu, terima kasih yaa, dan aku heran, kenapa kamu tahu bahwa si bapak itu menyukai lagu-lagu sheila on 7? aku benar-benar tak habis pikir, kukira orang sekiller dia takkan tersentuh lagu-lagu romantis semacam sheila, ternyata ada sisi lain yang unik darinya"

"no problem ri, aku senang kamu bisa mengambil hati bosmu itu, lagipula tak terlalu sulit memperkirakan hal itu. Everybody love sheila, siapa yang tidak kenal sheila? apalagi kelahiran tahun 80-an dengan background kehidupan remaja yang sheila banget. so pasti, setidaknya dia bakal kenal lagu-lagu sheila, kecuali dia memang kuper yang sama sekali gak tau lagu-lagu sheila. haha"

Rasyad memandangi kembali album-album sheila yang ada di pojok ruangannya. Seorang gadis muda cantik nan energik meminjamkan album-album itu padanya. Terekam jelas saat gadis dengan sepotong kain panjang yang menutupi rambut dan kepalanya menyerahkan sekotak album dengan gugupnya. ah Riana, kapankah tiba saatnya.

"oh iya Cha, kira-kira Pak Rasyad masih marah denganku gak ya?"
Jeda yang cukup lama membuat Riana berpikir bahwa tak masuk akal menanyakan hal tersebut pada chacha, teman online yang baru dikenalnya 3 bulan ini. Ia sadar bahwa jawaban dari chacha pun nantinya sekedar bentuk afirmasi formalitas dari seorang teman chating, tapi entah mengapa, ia merasa nyaman saat bersama chacha. Ada kehangatan, kegembiraan, dan hal-hal unik yang dibicarakan saat bersamanya.

"Tenang ri, bosmu itu pasti cukup terkesan dengan usahamu meminjamkan sekotak album sheila itu. kurasa lambat laun insiden kopi pagi akan terlupa saat ia menikmati untaian lagu-lagu romantis dari sheila."
Rasyad pun tersenyum saat membayangkan kembali peristiwa pagi itu. Ia yang terburu-buru memasuki ruang kerja berpapasan dengan Riana yang sedang membawa seduhan kopi dari pantry. Sontak kecelakaan itupun tak terhindarkan. Baju putih Rasyad tak karuan hitamnya, ditambah dengan panasnya kopi di cangkir itu membuat emosi Rasyad tak tertahan.

"duh maaf pak maaf saya tidak sengaja, sini mari saya bersihkan"
"ah sudah-sudah, meeting saya jadi berantakan kalau begini.."
Dengan kemeja yang penuh dengan noda kopi ia pun coba mengingat gadis yang baru saja menabraknya. "tunggu, kamu anak baru itu kan?"
"eh iya pak, tapi sebenarnya saya sudah sebulan bekerja"
"kenapa saya baru melihat kamu sekarang? nanti temui saya di ruangan sehabis meeting makan siang. jam 2."
 Terbayang sudah masa-masa kelam yang akan menantinya di perusahaan ini, duh habislah sudah. 

Rasyad terbangun dari lamunannya, terdengar suara pesan masuk dari Riana.
"semoga cha, aku tak tahu, kurasa sampai akhir bulan ini saja aku menjadi karyawan di perusahaan itu. Kurasa aku tak cocok bekerja disana."
"eh tunggu, kurasa kaulihat dulu reaksi Pak Rasyad esok hari, kurasa ia sangat senang menerima pinjaman album-album sheila darimu"
Kekhawatiran mulai muncul, ia tak ingin Riana pergi begitu cepat. Setidaknya sampai saatnya tiba nanti.
"bukan cha, bukan karena Pak Rasyad saja, ada banyak hal, dan satu lagi, kenapa kau yakin bahwa Pak Rasyad yang kaku itu akan dengan senang hati menerima hadiahku?"
"eh, ya kurasa pemberianmu itu cukup signifikan mengubah penilaiannya padamu"
Rasyad semakin gugup, ia tak sanggup berpikir jernih, emosi dan rasa yang mulai merekah mulai mengacaukan degup jantungnya.

"sudah malam, aku off dulu ya. Assalamualaikum"
"oh iya, baiklah, waalaikumsalam"

"rianazahira is offline"

dan Rasyad pun kembali terpekur dalam penyesalan panjangnya. kenapa, kenapa aku begitu pengecut. Selama ini chacha kadung mengisi relung hati Riana, dan sebelum tatap muka yang diharapkan terjadi, Rasyad terlanjur muncul dan memberikan kesan tersendiri.


malampun makin larut dan terasa sangat panjang bagi Rasyad.
--

Rasyid dan Riana - 2

Tuesday, 19 March 2013

Berebut Suara diantara Partai Islam

Butuh waktu lama bagi saya untuk mencerna sikap yang ditampakkan oleh PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) dan PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Menolak keikutsertaan PBB (Partai Bulan Bintang) dalam pemilu. Sikap yang muncul seiring pengajuan banding petinggi PBB terhadap keputusan KPU yang tidak meloloskan mereka sebagai peserta Pemilu 2014. Apa karena bermaksud mendukung kerja KPU dengan menjalankan saja hasil verifikasi kelayakan partai tanpa sibuk dan repot-repot mengurus partai yang mengajukan banding, atau karena suara loyalis partai islam yang makin tergerus membuat PKB dan PPP ketakutan 'jatah' suara mereka menjadi berkurang.

Tapi apapun itu, kekhawatiran terpecahnya suara loyalis partai berbasis keislaman nampak jelas terlihat. Trend yang ada memang menunjukkan bahwa suara partai islam tak pernah beranjak dari dulu, selalu saja dibawah bayang-bayang partai nasionalis macam Demokrat, Golkar, dan PDIP. Ditambah beberapa kasus yang melibatkan petinggi partai Islam membuat kepercayaan publik kembali menurun. Padahal jika dipikir-pikir partai nasionalis pun bisa dikatakan lebih parah dalam urusan kasus korupsi.

Namun publik tak mau susah-susah berpikir kritis untuk hal semacam itu, yang mereka tahu, lebih baik sekalian saja memilih partai nasionalis yang tidak membawa embel-embel agama, daripada memilih partai Islam yang ketahuan cacatnya. Karena wajar saja jika partai nasionalis melakukan kesalahan karena mereka kumpulan manusia yang tak sempurna, tapi tidak dengan partai yang membawa-bawa agama, mereka seharusnya lurus dan tak boleh ada cela, jadi sekali saja berbuat salah, selamanya akan sulit dimaafkan. Duh.. logika yang aneh.

Belajar dari kemenangan partai berbasis keislaman di Mesir dan Turki, idealnya suara yang dibidik tak lagi terpusat pada loyalis partai islam (pemuda, masyarakat muslim konservatif, dan semacamnya) yang mau tidak mau, pasti memilih partai Islam, apapun itu. Karena ternyata peluang suara yang lebih besar terletak di luar kelompok itu, yang seharusnya memilih partai islam karena sebagian besar mereka adalah muslim. Tapi kenyataannya, entah karena kadung tak menyukai partai yang membawa-bawa agama atau karena mereka memiliki pandangan lain terkait fenomena partai islam, suara mereka justru sebagian besar diambil oleh partai-partai nasionalis.

Nampaknya paradigma yang melekat di benak petinggi PKB dan PPP masih sama, meraih dan berebut suara loyalis partai islam tanpa punya keinginan tuk merebut suara mayoritas muslim bahkan non-muslim yang berada diluar sana. Entah karena malas untuk berusaha lebih profesional dan amanah, atau karena sudah merasa nyaman dengan basis masa yang fanatik, membuat mereka cenderung berfokus dalam pencitraan partai tanpa usaha nyata tuk menjadikan partai islam terlihat lebih keren dimata para pemilih. Hingga ketakutan itupun berujung pada penolakan mereka terhadap keikutsertaan PBB, saudara mereka sendiri, dalam pemilu kali ini.

Tapi untungnya PTUN berpendapat lain, PBB dinyatakan lolos verfikasi dan KPU pun menerima putusan tersebut tanpa melakukan banding lagi. Jadi, Selamat kepada PBB, semoga keikutsertaan anda menambah gairah kompetisi, fastabiqul khoirot diantara partai-partai Islam. Dan kepada PKB dan PPP, terima sajalah keputusan PTUN, toh sepertinya keikutsertaan PBB tak sesignifikan itu mempengaruhi suara anda, karena memang suara anda segitu-gitu saja.

Friday, 1 March 2013

Mari Mem-Bebek

Pastinya saya sangat bersyukur pada Allah atas segala limpahan rahmatNya hingga kini. Dimana saya ditakdirkan untuk dapat bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki hasrat dalam hidupnya. Sesuatu yang membuat mereka tak sekedar hidup tapi juga memiliki sesuatu untuk dapat mengisi kehidupan. Apapun itu, dari sekedar mimpi tuk bekerja di perusahaan bonafid sampai menjadi pemimpin nasional di masa mendatang. Angan dan hasrat yang membuat kehidupan lebih menarik.

Seperti saat orang-orang di sekitar saya berlomba-lomba menulis di blog. Saya yang saat itu menjadi penonton, tertarik juga tuk melakukan hal yang sama, dan jadilah saya seorang blogger dimana sesuai sekali dengan aktivitas menulis tiap bulan yang ada di asrama. Hasrat tuk menulis pun sedikit banyak terbangun dari aktivitas ini.

Waktu pun berjalan dan sampailah saya di suatu momen dimana tiap orang di asrama saling memacu diri tuk menulis di koran. Satu dua orang teman di asrama berhasil. Semangat dan hasrat mereka begitu besar terlihat. Ah saya pun tak mau kalah, aura kesuksesan begitu terasa saat mereka berhasil menembus media massa, dan sayapun ingin seperti itu. Akhirnya sayapun mencoba, sekali, dua kali, gagal terus. Ah tak apa, terus mencoba, dan tibalah saat itu, tulisan sayapun tembus ke media. Kali ini serius, saya benar-benar tak menyangka bakal berhasil, tapi kenyataan memang seperti itu, saya memang berhasil. Dan itu menambah keyakinan saya bahwa tak selamanya jadi follower itu merugikan. Untuk beberapa hal, ternyata membebek itu perlu.

Dulu seorang dosen di kampus pernah berkata bahwa lulus kuliah itu mudah, cukup ikuti arus yang sedang berjalan saja, niscaya kita akan lulus dengan sendirinya. Saat orang-orang sibuk belajar, kita pun ikut belajar, saat bersiap untuk ujian, kita pun bersiap-siap. Saat orang-orang mengambil SKS yang banyak, kita pun melakukan hal yang sama, saat orang-orang mengambil SP, kita pun juga ikutan, bahkan saat orang-orang membuat skripsi, kita pun juga ikut-kikutan membuat skripsi. Sampai akhirnya saat orang lulus, kita pun ikutan lulus. :p

Maka kali ini pun saya melakukan hal yang sama. Saat teman-teman, rekan di sekeliling saya banyak yang berkecimpung di dunia kepenulisan, dan beberapa ada yang telah menerbitkan buku. Sayapun tertarik melakukan hal yang sama. Mulai membuat buku walau sekedar naskah fiksi. Karena harus saya akui, saya lebih banyak melahap buku-buku fiksi dibandingkan buku-buku non-fiksi, ditambah lagi karena saya lebih senang menyantap buku-buku thriller konspirasi karangan Dan Brown dan Es Ito maka buku saya ini pun tak jauh berbeda dengan apa yang sering saya baca. Memang benar, Kalian adalah apa yang kalian baca. hehe.

Jadi beruntunglah orang-orang yang hidup di lingkaran dan lingkungan orang-orang yang berkarya. Karena setidaknya ada sesuatu yang sebenarnya dapat mereka tiru dan ikuti dari hasil kerja orang-orang itu. Sungguh beruntung saat anda, kita, saya dapat mencontoh bisnis yang sedang di kembangkan oleh salah seorang kawan, atau mendaftarkan diri menjadi relawan di sebuah rumah singgah untuk mengajar adik-adik yang butuh uluran kepedulian atau apa pun itu yang jelas ada hasrat, angan, dan keinginan yang dapat kita lakukan tuk menjadi sesuatu yang beda, sesuatu yang lebih bernilai dari sekedar manusia yang bernafas.

Karena membebek tak selamanya buruk.