Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts
Monday, 25 March 2013
Rasyad dan Riana - 2
"Yahoo Messenger Online"
"chacha accept your friend request"
Ia yang sedang menghabiskan waktu santai di dalam kamar dibuat penasaran oleh sebuah pesan yang masuk di pesan YM nya. chacha?sejak kapan aku menambahkan orang ini dalam kontakku?.
"Halo, salam kenal riana"
chacha, ia menyapa Riana. Sesaat lalu baru saja ia masuk dalam daftar kontak Riana, dan kini ia telah membuka percakapan. Tak ada salahnya, Riana pun membalas salam dari chacha.
"Halo chacha, salam kenal juga, ngomong-ngomong saya yang ngeadd kamu ya?"
bodoh, pertanyaan yang tidak masuk akal. Tentu saja Riana menyadari bahwa ialah yang menambahkan orang itu dalam daftar kontaknya, perkara kapan dan bagaimana ia menambahkan chacha di dalam pertemanan YM-nya, itulah yang harus ia cari tahu.
"haha. ya iya lah, aku kan hanya meng-approve saja. Jadi riana, kamu penggemar sheila juga?"
Pertanyaan chacha mengurungkan keinginan Riana yang penasaran tentang proses dirinya menambahkan orang itu dalam pertemanan, si orang ini tahu bahwa ia penggemar Sheila on 7.
"tahu darimana saya penggemar sheila?"
"simple, status YM kamu menceritakan semuanya. Siapa yang kamu tunggu di jakarta? kamu lagi di luar kota?"
Riana pun menyadari, status YM nya mengambil lirik lagu sheila. Tunggulah aku di jakartamu, tempat labuhan semua mimpiku.
"bukan siapa-siapa, orang yang nggak penting."
Riana pun kembali mengingat saat-saat itu, tatkala harapannya hanya tinggal angan kosong belaka. Orang itu menjauh pergi dan berjalan bersama yang lain. Status YM ini ternyata sudah sangat lama. Telah dua bulan berjalan dan chacha, orang ini membuatnya kembali mengenang cerita kelam yang ingin ia pendam selamanya.
"Saya lagi di jakarta, itu status sudah lama nggak diganti. btw, kamu ini cowok apa cewek sih? dari gaya nulisnya sih sepertinya cowok ya, "
"hoo,, itu status lama toh, hm.. kira-kira gimana? pantesnya cowok apa cewek?"
"lah.. terserah sih, tapi zaman sekarang, lagi trend cowok ke cewek-cewek an gitu loh. haha"
"haha..dasar.. iya, aku cowok"
"oh cowok toh, tapi kok namanya imut-imut gitu ya, chacha.. haha"
"ah seperti biasa, satu dari beberapa hal yang membuat saya malas memakai akun YM ini, maklum lah, nama asli saya bila dibikin imut dan manja ya bisa dibaca chacha, dan mari kita cukupkan pembahasan nama akun ini. seperti kata shakespeare, apalah arti sebuah nama akun YM. haha"
"yee. ngarang aja, shakespeare zaman kapan tuh.."
"Shakespeare zaman Facebook, shakespeare gaul.."
dan selanjutnya, Riana dan chacha larut dalam obrolan yang menyenangkan, sungguh menyenangkan.
--
"chacha is offline"
Beberapa minggu ini, sejak malam itu, chacha tak sekalipun muncul di daftar online kontaknya. Padahal Riana berharap, chacha dapat menemaninya bercerita setelah penatnya bekerja. Ia rindu, ada rasa yang kian tumbuh yang berharap lebih dari sekedar bercakap lewat dunia maya. Namun entah mengapa, chacha menghilang beberapa minggu ini. Riana pun berdiri dan mengambil sebuah buku dari dalam tasnya, buku tebal karya Chairil Anwar yang baru saja diberikan Pak Rasyad kepadanya. Sebuah perhatian dari pak Rasyad yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. ah seandainya kau ada cha, akan banyak cerita dariku tentang sikap pak Rasyad yang banyak berubah sejak aku meminjamkannya album-album sheila.
"chacha is online"
ah dia online. Tergambar jelas raut wajah sumringah dari gadis cantik berjilbab ini.
--
Dari kejauhan, janur kuning nampak melengkung di depan gedung pertemuan di daerah gatot subroto Jakarta Pusat. semoga ini yang terbaik untukmu ri. Perlahan mobil Rasyad memasuki pelataran depan gedung bidakara dan lambat laun menuju halaman parkir di belakang gedung.
Dengan setelan jas rapih, Sosok tegap nan gagah itupun memasuki gedung dengan perasaan yang campur aduk. Entah bagaimana caranya, iapun tak habis pikir dapat sepengecut ini. ah sudahlah, percuma semuanya sudah terjadi. Setelah menuliskan namanya di buku tamu ia pun menerima suvenir berupa gelas kecil yang bertuliskan dua inisial nama dari sang mempelai. "C dan R"
Tak tertahankan, iapun berbalik keluar, semoga kalian bahagia..Chacha dan Riana.
--
Rasyad dan Riana - 1
Sunday, 24 March 2013
Rasyad dan Riana - 1
"sign in"
"rianazahira is online"
Di tatapnya lekat monitor laptop yang ada di hadapannya. Akhirnya ia kembali. Senyum di wajahnya mengembang kala Riana menyapanya.
"Hai Cha, saran kamu kemarin benar-benar membantu, terima kasih yaa, dan aku heran, kenapa kamu tahu bahwa si bapak itu menyukai lagu-lagu sheila on 7? aku benar-benar tak habis pikir, kukira orang sekiller dia takkan tersentuh lagu-lagu romantis semacam sheila, ternyata ada sisi lain yang unik darinya"
"no problem ri, aku senang kamu bisa mengambil hati bosmu itu, lagipula tak terlalu sulit memperkirakan hal itu. Everybody love sheila, siapa yang tidak kenal sheila? apalagi kelahiran tahun 80-an dengan background kehidupan remaja yang sheila banget. so pasti, setidaknya dia bakal kenal lagu-lagu sheila, kecuali dia memang kuper yang sama sekali gak tau lagu-lagu sheila. haha"
Rasyad memandangi kembali album-album sheila yang ada di pojok ruangannya. Seorang gadis muda cantik nan energik meminjamkan album-album itu padanya. Terekam jelas saat gadis dengan sepotong kain panjang yang menutupi rambut dan kepalanya menyerahkan sekotak album dengan gugupnya. ah Riana, kapankah tiba saatnya.
"oh iya Cha, kira-kira Pak Rasyad masih marah denganku gak ya?"
Jeda yang cukup lama membuat Riana berpikir bahwa tak masuk akal menanyakan hal tersebut pada chacha, teman online yang baru dikenalnya 3 bulan ini. Ia sadar bahwa jawaban dari chacha pun nantinya sekedar bentuk afirmasi formalitas dari seorang teman chating, tapi entah mengapa, ia merasa nyaman saat bersama chacha. Ada kehangatan, kegembiraan, dan hal-hal unik yang dibicarakan saat bersamanya.
"Tenang ri, bosmu itu pasti cukup terkesan dengan usahamu meminjamkan sekotak album sheila itu. kurasa lambat laun insiden kopi pagi akan terlupa saat ia menikmati untaian lagu-lagu romantis dari sheila."
Rasyad pun tersenyum saat membayangkan kembali peristiwa pagi itu. Ia yang terburu-buru memasuki ruang kerja berpapasan dengan Riana yang sedang membawa seduhan kopi dari pantry. Sontak kecelakaan itupun tak terhindarkan. Baju putih Rasyad tak karuan hitamnya, ditambah dengan panasnya kopi di cangkir itu membuat emosi Rasyad tak tertahan.
"duh maaf pak maaf saya tidak sengaja, sini mari saya bersihkan"
"ah sudah-sudah, meeting saya jadi berantakan kalau begini.."
Dengan kemeja yang penuh dengan noda kopi ia pun coba mengingat gadis yang baru saja menabraknya. "tunggu, kamu anak baru itu kan?"
"eh iya pak, tapi sebenarnya saya sudah sebulan bekerja"
"kenapa saya baru melihat kamu sekarang? nanti temui saya di ruangan sehabis meeting makan siang. jam 2."
Terbayang sudah masa-masa kelam yang akan menantinya di perusahaan ini, duh habislah sudah.
Rasyad terbangun dari lamunannya, terdengar suara pesan masuk dari Riana.
"semoga cha, aku tak tahu, kurasa sampai akhir bulan ini saja aku menjadi karyawan di perusahaan itu. Kurasa aku tak cocok bekerja disana."
"eh tunggu, kurasa kaulihat dulu reaksi Pak Rasyad esok hari, kurasa ia sangat senang menerima pinjaman album-album sheila darimu"
Kekhawatiran mulai muncul, ia tak ingin Riana pergi begitu cepat. Setidaknya sampai saatnya tiba nanti.
"bukan cha, bukan karena Pak Rasyad saja, ada banyak hal, dan satu lagi, kenapa kau yakin bahwa Pak Rasyad yang kaku itu akan dengan senang hati menerima hadiahku?"
"eh, ya kurasa pemberianmu itu cukup signifikan mengubah penilaiannya padamu"
Rasyad semakin gugup, ia tak sanggup berpikir jernih, emosi dan rasa yang mulai merekah mulai mengacaukan degup jantungnya.
"sudah malam, aku off dulu ya. Assalamualaikum"
"oh iya, baiklah, waalaikumsalam"
"rianazahira is offline"
dan Rasyad pun kembali terpekur dalam penyesalan panjangnya. kenapa, kenapa aku begitu pengecut. Selama ini chacha kadung mengisi relung hati Riana, dan sebelum tatap muka yang diharapkan terjadi, Rasyad terlanjur muncul dan memberikan kesan tersendiri.
malampun makin larut dan terasa sangat panjang bagi Rasyad.
--
Rasyid dan Riana - 2
Monday, 4 March 2013
Imajinasi Manusia
Entah berapa banyak teori yang sekedar menjadi pro dan kontra dikalangan ilmuwan kala mereka membahas kemungkinan menjelajah waktu. Entah berapa banyak teori yang berbicara mengenai kemungkinan adanya makhluk asing cerdas di luar bumi yang sampai sekarang hanya jadi tema sentral para sineas hollywood.
Seperti itulah memang yang terjadi, jika kau tidak mampu menemukannya di kehidupan nyata dan sekedar imajinasi belaka maka ciptakanlah meski itu hanya dalam sebuah cerita dalam layar kaca, dan itu dengan tepat ditangkap oleh para kreator film di luar sana. Dari film tentang penjelajahan waktu seperti back to the future hingga independence day yang bercerita tentang alien yang menyerang bumi. Film yang memfasilitasi dengan tepat hasrat manusia akan imaji yang tak terbatas.
Satu hal yang pasti saat sebuah film begitu realistis menyajikan imajinasi, semua itu karena perkembangan teknologi yang makin pesat. Yang menjadikan imaji dalam angan tak lagi jadi halangan. Dengan berbagai visual effect teknologi serta beragam rancangan cerita yang ciamik membuat film serasa nyata. Sehingga ruang imaji dan kenyataan tak lagi jelas.
Maka kini sebuah imajinasi tidak lagi menjadi sesuatu yang sakral dan mewah. Karena ia dengan mudahnya terwujudkan dalam sebuah efek visual. Tak buruk memang, malah menjadi sesuatu yang hebat kala tiap imaji tersampaikan dengan sempurna dalam sebuah film. Tapi tiap kali sebuah film imaji tercipta maka tiap itu pula imaji telah mewujud dalam sebuah kenyataan semu, yang sekedar mewadahi keinginan manusia memenuhi hasrat imaji dengan bantuan teknologi tanpa peduli apakah cukup realistis dalam dunia nyata.
Jadi imaji tentunya tak dimaknai ala kadarnya dalam sebuah film dengan rancang efek visual luar biasa. Tapi lebih dari itu, imaji yang kan mengubah dunia walau mungkin masih sekedar angan manusia.
Friday, 15 February 2013
Togel dan Mimpi
Di kegelapan malam, Maman terbangun dari tidur sambil
menghela nafas panjang. Untuk kesekian kalinya, entah tiga kali atau mungkin
lebih, dalam seminggu ini ia bermimpi hal yang sama. Di sampingnya berbaring
seorang wanita gemuk paruh baya dengan polesan masker putih di wajah dan sebuah
jepitan rambut terpasang di kepala. Sosok itu nampak menikmati malam panjang
yang penuh dengkuran. Tapi Maman yakin bahwa ia terbangun bukan karena
dengkuran si Istri, tapi mimpi itu, mimpi yang sama beberapa hari ini yang
membuatnya terjaga.
Ia dengan segera beranjak dari ranjang kayunya, terdengar
bunyi reot yang menggema di keheningan malam. Ranjang ringkih ini, yang tak
pernah lelah membopong bobot tubuhnya dan sang istri, terlihat makin layak tuk
dipensiunkan. Ah tapi nantilah, urusan yang lain masih lebih penting dari
sekedar ranjang kasur, kalau istilah si istri
“jangan sok kaya, seenaknya gonta ganti barang, hidup kita
ini masih susah, nanti kalau sudah dapat kerjaan yang enak baru berpikir beli
yang baru”
Kalau sudah begini, ia pun hanya bisa meringis tanpa bisa
memprotes apapun. Keluh si istri sudah jadi santapan rutinnya tiap akhir bulan
yang akan semakin mereda seiring tanggal muda yang menjelang.
Di carinya buku itu yang didapatkannya dari penjual buku loak
di emperan jalan sekitaran pasar senen tadi siang.
“Bukunya bagus tuh mas, cara cepet kaya menurut primbon
jawa. Ada
tafsir mimpinya juga”
Matanya pun berbinar, ini jawaban dari mimpinya dua hari belakangan. Uang sepuluh ribu yang sedianya dibelikan rokok, direlakannya untuk
menyambut kesempatan menjadi kaya.
Dibukanya laci meja, lemari baju, tapi buku itu tak kunjung
ditemukan. Ia yakin, telah menyimpan buku itu baik-baik di antara tumpukan
baju-baju ini, tapi kenapa bisa lenyap begitu saja. Ah iapun ingat, buku itu
dipindahkannya ke lemari baju anaknya di kamar sebelah. Tentu saja sangat
riskan menyimpan buku itu di lemari baju yang mudah di temukan oleh si istri,
yang jika ditemukan akan memancing kembali protes pedas tentang apa yang
dilakukannya kini.
Ia pun mengendap berjalan memasuki kamar si anak yang hanya
dibatasi oleh sekat triplek dari sebuah kontrakan kecil di kawasan permukiman
pluit Jakarta
utara. Tempat tinggal yang sangat strategis, karena kemanapun kaki melangkah
semuanya serba dekat, dari kamar tidur ke kamar mandi dekat, dari kamar mandi
ke ruang tengah dekat. Tak terbayangkan tahun ini adalah tahun ke-limanya
menempati kontrakan petak ini, dari satu anak hingga kini tiga anak kecil
nampak tertidur pulas berhimpitan dalam ruang pengap ini. Dibukanya lemari baju
dari plastik dan mulai mencari buku itu. Nah, ini dia, tertera jelas sebuah kalimat di sampul
yang nampak menguning, sebuah tulisan yang tak dimengerti olehnya.
--
Pagi-pagi buta seperti biasanya, ia berangkat menuju gedung
perkantoran di daerah Sudirman. Bersama motor Honda butut yang dikendarai, ia
berangkat menembus dinginnya pagi, sembari berharap suatu saat dapat
mengistirahatkan si motor tua ini. Ah lagi-lagi ia teringat si istri dengan
berbagai omelannya, tapi tunggu dulu, hari ini akan berbeda, mimpi itu telah
datang tiga kali dan perasaannya mengatakan bahwa mimpi itu pertanda baik. Ia
pun berharap si Wahyu dapat menjelaskan apa arti mimpinya berdasarkan buku itu.
Di bawanya buku itu dalam tas kecil di punggungnya dan tak
sabar menanti perbincangan dengan salah seorang rekannya di Pantry kantor. Dengan
memakai seragam coklat yang mulai tampak lusuh, ia secara seksama menyiapkan
minuman dan membersihkan meja kerja karyawan di lantai 6. Setengah
jam berlalu dan tugasnya di pagi ini telah rampung, iapun mengisi waktu dengan
kembali melihat-lihat buku itu, gambar-gambarnya menarik dan beberapa halaman
nampak menguning dan lapuk dimakan usia.
“Yu, lu bisa bantuin gw gak? Tolong cari arti mimpi gw
semalem di buku ini.”
Wahyu yang baru saja datang dan belum sempat mengganti baju
nampak heran dengan kawannya yang satu ini.
“emang lu mimpi apaan?”
“Gw mimpi ketemu bapak-bapak tua, jenggot panjang sama
tongkat ditangannya. Tiga malem ini gw ketemu dia, kira-kira maksudnya apa tuh?”
Wahyu pun tak bisa menjawab, ia hanya dapat membantu temannya
mencarikan arti mimpi sang teman di dalam buku yang berjudul. “Primbon jawa
biar cepet Kaya”
“dalam buku ini gak ditulis apa arti persisnya, tapi
dibilang kalau lu ketemu orang tua kayak gitu, kemungkinan itu jin atau sejenisnya yang
bisa lu tanya apa aja”
“oh gitu, jadi gw bisa nanya nomor togel donk?”
Tawa lepas Wahyu terdengar dari ruang pantry.
“jadi lu masih sering masang togel, gila lu, udah ah gw mau
kerja, beres-beres ruang supporting dulu”
Dan Wahyu pun berlalu dari hadapan Maman. Nanti malem gw harus Tanya nomor togel sama si
orang tua itu.
--
Di malam harinya, ia bertekad untuk bertanya pada si orang
tua dalam mimpi. Ia pulang lebih awal untuk mempersiapkan semuanya. Si istri
yang menunggu si suami pulang yang berharap sedikit canda rayu di atas ranjang, terpaksa merengut kesal karena si suami telah tertidur pulas. Tak ada pilihan,
si istripun ikut menyusul si suami ke pulau kapuk.
Beberapa lama setelah 3 jam tertidur lelap, Maman pun
terbangun. Ia belum bertemu dengan si kakek tua. Ia pun berusaha kembali, namun
tak kunjung berhasil. Ah kenapa ini. Kenapa
orang tua itu tak datang juga. Maman kembali mencoba dan dengan sedikit doa
sebelum tidur, ia pun terlelap kembali.
Ia berada dalam ruang kosong berwarna putih, dari kejauhan
nampak datang dan semakin dekat sesosok kakek tua yang dinantinya. Nah itu orangnya, itu si kakek tua.
“kek, kira-kira nomor togel hari ini yang muncul apa ya?”
Si kakek hanya tersenyum, dan membalas pertanyaan itu dengan
berubah wujud menjadi 3 kucing kecil di dalam sebuah rumah, lambat laun, perlahan rumah
itupun menghilang dan seolah hangus berbentuk debu.. Maman terbangun dari mimpi
dan merasa bahwa 3 kucing kecil itu berarti angka 3 untuk nomor togel. Ia pun
berteriak girang yang sempat membangunkan istri dan tiga anaknya.
“kita bakal kaya, kita bakal kaya..”
Si istri nampak terganggu dan kembali mengeluarkan kata-kata
pedas yang tidak dihiraukan oleh Maman.
--
“Pak, sakelar listrik kita ini udah dari kemarin bermasalah,
mungkin karena air hujan yang merembes ke dalamnya, tolong dibetulin pak
gentengnya, takut nanti ada konsleting.”
“Hm..”
Maman hanya bergumam, ia tak memperhatikan apa yang
dikatakan si istri. Ia sibuk dengan kertas togel di tangannya. Nomor tiga, pasti keluar nomor tiga. Berulang-ulang
kata-kata itu berputar dalam benaknya, ia yakin kini saatnya ia menjadi kaya.
“Bapak ini, togel terus yang diurusin, rumah kita dulu di
urusin, baru togel, itu sakelar listrik kapan dibetulin”
“gak usah protes bu, kali ini pasti tembus, aku pergi dulu
ke tempat Bandar, doakan semoga tembus”
Dan si istri pun hanya melihat dari kejauhan ketika si suami
beranjak pergi dari rumah kontrakan mereka. Kapan
kowe sadar pak.
--
“cihuyy.. gw menangg.. gw menang..”
Maman bagai orang kesetanan. seratus juta di tangan dan
segera terbayang kasur baru, motor baru dan pastinya rumah baru untuk ketiga
anaknya yang tidak perlu tinggal di kamar pengap mereka lagi.
Suara halilintar sejenak menyadarkannya, hujan deras turun
membasahi daerah pluit. Jadi begini rasanya jadi orang kaya. Si
Midah harus tahu, dia kini menjadi suami dari juragan sembako. Terbayang berbagai
impian yang kan
ia wujudkan nanti bersama sang istri. Ingin segera ia mengabarkan pada anak dan
istrinya, tapi hujan deras masih mengguyur pluit dan ia terjebak di rumah Bandar
itu.
Hujan pun reda dan ia segera berlari keluar sembari membawa
sekoper penuh uang dari si Bandar. Beberapa orang nampak bersungut dan tak
menerima kegembiraan Maman. Maman tak ambil pusing, iapun tak peduli pada
orang-orang yang mungkin saja merampoknya nanti di jalan. Siapa berani macem-macem, golok gw udah siap melayang.
Di tengah keriangannya, terdengar sayup suara blangwir
pemadam kebakaran yang searah dengan jalan pulangnya. Rumah siapa yang kebakaran. Ia pun bergegas mempercepat langkahnya
menuju kontrakan. Api membesar, dari kejauhan terlihat daerah permukiman padat
pluit hangus terbakar api. Ya Allah,
Midah, anak-anak. Dari ujung jalan, terlihat berlari seorang wanita gemuk
dengan baju dasternya. “anak kita pak, anak kita terjebak di dalam rumah.”
Midah hanya menangis dan Maman pun teringat mimpinya semalam.
Ternyata itu arti sebenarnya..
Wednesday, 13 February 2013
Dua Orang, Beda Zaman, dan Sebuah Persamaan.
Kejadian itu terlampau lama berlalu, ia pun tak dapat menarik persis kenangan yang terendap jauh di dalam memorinya. Yang ia ingat, saat itu dirinya masih bocah ingusan yang diajak menonton aksi pamer kehebatan antara kaumnya dengan seorang manusia. Persis di samping ayahnya ia berdiri dan melihat dari kejauhan dua orang berhadapan di atas panggung. Ia pun mencoba mengingat-ingat suasana saat itu. Di tanah lapang nan tandus, di atas panggung itu, salah satu dari kaumnya berkata.
"Aku dapat segera membawa singgasana itu kehadapan anda yang mulia, sebelum anda beranjak berdiri dari singgasana anda kini"
Jelas terlihat dari kejauhan, ia nampak sangat percaya diri. Pancaran wajahnya penuh keyakinan dan seolah berkata bahwa takkan ada yang mampu menyaingi kekuatannya.
Lelaki dengan panggilan yang mulia nampak mematung dan berpikir sejenak, ia tidak mengatakan sepatah katapun. Ia menunggu seorang lagi, sang penantang yang terlihat berjalan ke tengah panggung, tatapannya teduh dengan sinar cahaya wajah yang tersirat jelas. Dengan santun dan merendah ia berkata.
"Wahai Raja, sesungguhnya tiada kekuatan, daya dan upaya melainkan atas kehendak dariNya. Maka atas izinNya, saya akan membawa singgasana itu sebelum anda mengedipkan mata"
Riuh rendah gemuruh percakapan nampak memenuhi seisi lapangan. Seolah tak ada satupun penonton yang percaya bahwa singgasana yang megah itu dapat berpindah secepat kilat sejauh ratusan kilometer dari daerah di ujung jazirah sana ke daerah bertandus ini. Ia lupa, sungguh lupa apa yang terjadi setelah itu. Ingatan ribuan tahunnya telah melapuk dan hanya menyisakan serpihan-serpihan kecil dari serangkaian puzzle kenangan. Yang jelas saat itu perwakilan kaumnya nampak harus mengakui kekalahan. Dengan sekejap mata, sebuah singgasana telah berdiri anggun di atas panggung. Manusia itu berhasil, ia sungguh hebat.
Ribuan tahun berlalu dan sekarang ia menemukan kembali dan melihat jelas persamaan diantara kedua manusia ini. Sungguh ia tak tahu persis apa sebenarnya yang membuatnya berpikir bahwa kedua orang ini memiliki kesamaan, ingatannya tak lagi setajam dulu. Gerak-gerik, tingkah laku dan sorotan mata teduh keduanya memang mirip, tapi bukan itu, ada hal lain yang membuatnya berpikir bahwa ada kesamaan diantara kedua orang ini. Semacam auara atau sejenisnya, entah apa sebenarnya.
Tetiba sejumput kenangan muncul dari relung ingatan terdalamnya.
Suara itu, bacaan itu yang sama persis seperti apa yang kudengar dari manusia yang ada di lapangan itu dulu.
Ia pun mencari dari mana suara merdu ini dibacakan. Diikutinya arah suara itu berasal dan sampailah ia di sebuah ruangan di lantai dua. Irama dan bacaan itu sungguh menarik hatinya..
ini, bacaan ini sungguh luar biasa. Terlihat sebuah kitab yang dibaca dengan khusyuk oleh sesosok manusia yang nampak berurai air mata membaca lembaran kertas yang ada dihadapannya.
Ternyata, mereka memiliki kitab yang sama.
Dan perlahan dirinya pun larut.
Sembari bergumam dalam hati ia berkata, Tak ada kata terlambat untuk sebuah kebenaran.
Monday, 11 February 2013
Tentang Saya
Tegar Hamzah Asadullah, Lahir di Jakarta 28
Desember 1986, ia anak pertama dari pasangan Edward J. Lanomi dan
Jusmarni. Dibesarkan di Bekasi tempat Ia memperoleh pendidikan dasar di
SD Negeri Bumi Bekasi Baru V, pendidikan menengah di SMP Negeri 16
Bekasi dan SMA Negeri 1 Bekasi.
Setelah tamat SMA pada tahun 2005, ia melanjutkan studinya di program studi psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia hingga memperoleh gelar Sarjana Psikologi pada tahun 2009 dengan skripsi yang berjudul "Hubungan Antara Social Dominance Orientation dengan Group Favoritism : Studi Pada Polisi Lalu Lintas Di Kota Jakarta"
Semasa kuliah ia aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan antara lain di FUSI Psikologi UI tahun 2006, Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Psikologi UI tahun 2007 dan 2008, serta menjadi bagian dari Program pembinaan mahasiswa PPSDMS Nurul Fikri tahun 2006-2008.
Ia pernah menjadi staf Divisi Human Capital bagian rekrutmen dan seleksi di Bank Syariah Mandiri dalam kurun waktu 2009-2011. Sebagai Recruitment & Placement Officer di PT Permodalan Nasional Madani (Persero) di tahun 2011-2013, dan kini sebagai Corporate Strategist di PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) sejak Agustus 2013.
Bila ada yang ingin berkorespondensi, bisa menghubungi saya lewat
Email : hamzahasadullah@gmail.com
Facebook : /tegar.asadullah
Twitter : @tegar_hamzah
Setelah tamat SMA pada tahun 2005, ia melanjutkan studinya di program studi psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia hingga memperoleh gelar Sarjana Psikologi pada tahun 2009 dengan skripsi yang berjudul "Hubungan Antara Social Dominance Orientation dengan Group Favoritism : Studi Pada Polisi Lalu Lintas Di Kota Jakarta"
Semasa kuliah ia aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan antara lain di FUSI Psikologi UI tahun 2006, Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Psikologi UI tahun 2007 dan 2008, serta menjadi bagian dari Program pembinaan mahasiswa PPSDMS Nurul Fikri tahun 2006-2008.
Ia pernah menjadi staf Divisi Human Capital bagian rekrutmen dan seleksi di Bank Syariah Mandiri dalam kurun waktu 2009-2011. Sebagai Recruitment & Placement Officer di PT Permodalan Nasional Madani (Persero) di tahun 2011-2013, dan kini sebagai Corporate Strategist di PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) sejak Agustus 2013.
Bila ada yang ingin berkorespondensi, bisa menghubungi saya lewat
Email : hamzahasadullah@gmail.com
Facebook : /tegar.asadullah
Twitter : @tegar_hamzah
Sunday, 3 February 2013
Operation High Level Part-2
Dua hari berselang, sejak Rian menghubungi Wandi, merekapun bertemu kembali dalam sebuah kafe di bilangan jakarta utara. Kejadian yang sempat memutus hubungan mereka itu berlangsung 13 tahun lalu, kala mereka masih awal meniti karir di dunia profesional. Wandi yang dulu duduk sebagai komisaris utama di sebuah perusahaan jasa konstruksi dikejutkan oleh kabar yang menyebutkan bahwa Rian selaku Direktur melanggar perjanjian terhadap rekanan mereka. Gedung yang sedianya selesai dalam jangka waktu 2 tahun dengan biaya 2,5 Milyar, hanya berjalan dan dikerjakan selama 3 bulan, selebihnya tidak ada kejelasan atas rencana pembangunan gedung itu. Singkat cerita, Rian divonis bersalah dan dijatuhi hukuman 5 tahun karena terbukti melakukan wan prestasi dan penggelapan atas uang yang disetorkan oleh rekanan perusahaan. Praktis hubungan merekapun renggang dan tak ada lagi kabar tentang Rian sejak saat itu.
Sekarang Wandi tak menyangka kembali bertemu dengan Rian. Sudah lebih dari 10 tahun dan kini banyak kisah yang terlewati oleh mereka berdua.
"Bagaimana kabarmu kini? kulihat partaimu sedang naik daun dan sepertinya jalur politik memang cocok denganmu." Rian membuka pembicaraan dengan sepotong basa-basi pertemenan, harapannya pertanyaan ini mungkin akan mencairkan suasana yang masih kaku diantara mereka. Terlihat jelas dari posisi Wandi yang masih menjaga jarak.
"Kabarku baik, syukurlah jalan politik ini membawaku pada sebuah optimisme akan sebuah perubahan, karena kurasa politik mau tak mau jadi jalan yang realistis bagiku kini. Lalu bagaimana denganmu? tak kudengar kabar lagi sejak kejadian 10 tahun lalu"
Rian menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya ke sofa, suara alunan musik dan kerlip cahaya lampu restoran jadi bumbu yang menambah pilu kisah yang dibawanya.
"Aku sedang merintis usaha baru, mungkin baru berjalan sebulan ini. Bergerak di bidang ekspor-impor bahan baku makanan, apapun itu, beras, ketela, kedelai, apa sajalah, yang penting halal, aku ingin memulai kembali, dari nol, aku ingin berubah. maafkan atas ulahku dulu, kuakui saat itu aku gelap mata, kenikmatan sesaat membawaku pada kesengsaraan. Semua orang meninggalkanku tak terkecuali keluarga terdekatku."
Getir kehidupan kawannya itu membuat Wandi Simpati. Ia telah berubah.
"tenang kawan, apapun yang terjadi di masa lalu jadikan sebuah pelajaran, yang jelas apa yang akan kau lakukan, itulah yang harus kau fokuskan."
"terima kasih Wan, kurasa hatiku sedikit lega saat menceritakan hal ini padamu. Semoga hubungan kita membaik kedepannya, oh ya, semoga kau tidak kapok berbisnis denganku. haha"
"insyaAllah kawan, semoga saja."
Dan tawa lepas mengiringi perpisahan mereka di malam itu.
Setitik harapan itu pun muncul. Misi masih panjang, semoga keparat-keparat itu menepati janji mereka.
--
5 hari sebelumnya.
Paket yang ditunggu itupun tiba. Rian dengan segera membuka paket yang bisa jadi merupakan satu-satunya cara menyelamatkan keluarganya. Paket itu dibungkus dengan plastik, nama pengirimnya tidak tertera dan jasa pengirimannya pun tak dikenal. Di dalamnya ada sebungkus amplop putih beserta beberapa dokumen seperti buku tabungan, berkas-berkas akte perjanjian, dan surat surat berharga lainnya. Sesaat iapun heran dengan isi paket ini, tapi dicobanya untuk membaca dulu secarik kertas yang nampak terbungkus rapat di dalam sebuah amplop.
"Tuan Rian Wiranegara, Salam hormat.
Saat anda membaca surat ini, kondisi putra dan istri anda baik-baik saja, mereka dirawat dengan sangat baik oleh staf kami. Di dalam paket ini ada beberapa tabungan, surat berharga, dan beberapa berkas pendirian Perusahaan yang akan anda kelola. Hidup anda akan berubah dan tentunya anak istri anda akan kembali ke pangkuan anda. Syaratnya adalah anda dapat bekerja sama dengan baik, menaati tiap instruksi dan perintah yang kami berikan. Jangan coba-coba lari karena sejak saat ini, tiap gerak gerik anda terawasi dengan ketat oleh agen kami. Dan tentunya, jangan sekali-kali melapor ke polisi karena percuma saja, karena tidak akan ada yang percaya pada cerita anda, dan sedikit banyak para petinggi polisi-polisi itu adalah orang-orang kami juga.
Mulai kini anda telah resmi bergabung dalam sebuah grand design dan rencana panjang untuk sebuah pengabdian. Selamat.
NB. setelah ini, buat perjanjian dengan Ruswandi Wahab. Ceritakan tentang usaha yang anda bangun, dan selanjutnya jangan pernah lepaskan diri dari lingkar kolega terdekatnya. Anda harus menjadi yang terdepan, terus upayakan agar anda menjadi orang kepercayaannya. Dalam dua pekan kedepan, jika anda berhasil melakukan tugas dengan baik, kami akan segera membebaskan keluarga anda.
Salam
Tak lama, Teleponnya berdering kembali, nomor yang sama dengan yang semalam.
"Halo tuan Rian, kurasa anda baru saja menerima dan membaca paket yang baru saja kami kirimkan. Jalankan tugas anda dengan baik. Karena mulai kini, hidup anda akan lebih dari cukup, dengan syarat seperti yang telah anda baca di surat itu."
Rian tak lagi dapat berpikir, ia bingung, kalut dan heran dengan kondisinya kini. "bagaimana dengan keluargaku..bagaimana keadaan mereka"
"oh ya, aku lupa, mereka baik-baik saja, dua pekan lagi, jika kau telah berhasil mendekati Ruswandi, kami akan mengembalikan anak dan istrimu. Kini kau fokuskan saja dengan tugas pertamamu. selanjutnya tunggu instruksi dari kami. Salam"
dan suara gagang telepon yang tertutup memutus percakapan mereka. Rian pun mulai paham, hidupnya kini takkan lagi sama.
--
Di sudut ruang yang gelap, nampak tersulut sepuntung rokok yang menyala terang. Dengan seksama sosok itu mengawasi monitor yang ada di hadapannya, disana jelas terlihat sebuah kamar yang ditempati oleh seorang wanita dan anak kecil. Nina dan putranya Andi.
satu lagi agen yang baru bergabung, satu lagi peluru tajam siap digunakan. Tunggu saatnya tiba sampai mereka siap untuk ditembakan ke sasaran yang tepat.
Kini telah 205 orang telah tersebar di beberapa organisasi besar. Dari beragam latar belakang, dan beragam tujuan. Mungkin kini mereka tidak penting, dan mungkin tidak diperhitungkan, ah ia pun menyukainya, semakin mereka dianggap sepele, semakin tajam fungsi mereka, yang disaat nanti siap dihunuskan dan tepat sasaran menembus jantung lawan.
Sosok itu berjalan keluar dari ruang gelapnya dengan senyum merekah. Memakai baju dinas, dan baret hijau menutupi kepala. Dengan keyakinan penuh, ia naik ke lantai dasar, keluar dari sebuah rumah besar di daerah menteng jakarta pusat. Memacu mobilnya dan berperan kembali sebagai sosok yang ramah senyuman dengan sejuta pesona di hadapan media.
Bersiap untuk misi selanjutnya. beberapa tahun lagi, dan peluru-peluru itu siap ditembakkan.
Sekarang Wandi tak menyangka kembali bertemu dengan Rian. Sudah lebih dari 10 tahun dan kini banyak kisah yang terlewati oleh mereka berdua.
"Bagaimana kabarmu kini? kulihat partaimu sedang naik daun dan sepertinya jalur politik memang cocok denganmu." Rian membuka pembicaraan dengan sepotong basa-basi pertemenan, harapannya pertanyaan ini mungkin akan mencairkan suasana yang masih kaku diantara mereka. Terlihat jelas dari posisi Wandi yang masih menjaga jarak.
"Kabarku baik, syukurlah jalan politik ini membawaku pada sebuah optimisme akan sebuah perubahan, karena kurasa politik mau tak mau jadi jalan yang realistis bagiku kini. Lalu bagaimana denganmu? tak kudengar kabar lagi sejak kejadian 10 tahun lalu"
Rian menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya ke sofa, suara alunan musik dan kerlip cahaya lampu restoran jadi bumbu yang menambah pilu kisah yang dibawanya.
"Aku sedang merintis usaha baru, mungkin baru berjalan sebulan ini. Bergerak di bidang ekspor-impor bahan baku makanan, apapun itu, beras, ketela, kedelai, apa sajalah, yang penting halal, aku ingin memulai kembali, dari nol, aku ingin berubah. maafkan atas ulahku dulu, kuakui saat itu aku gelap mata, kenikmatan sesaat membawaku pada kesengsaraan. Semua orang meninggalkanku tak terkecuali keluarga terdekatku."
Getir kehidupan kawannya itu membuat Wandi Simpati. Ia telah berubah.
"tenang kawan, apapun yang terjadi di masa lalu jadikan sebuah pelajaran, yang jelas apa yang akan kau lakukan, itulah yang harus kau fokuskan."
"terima kasih Wan, kurasa hatiku sedikit lega saat menceritakan hal ini padamu. Semoga hubungan kita membaik kedepannya, oh ya, semoga kau tidak kapok berbisnis denganku. haha"
"insyaAllah kawan, semoga saja."
Dan tawa lepas mengiringi perpisahan mereka di malam itu.
Setitik harapan itu pun muncul. Misi masih panjang, semoga keparat-keparat itu menepati janji mereka.
--
5 hari sebelumnya.
Paket yang ditunggu itupun tiba. Rian dengan segera membuka paket yang bisa jadi merupakan satu-satunya cara menyelamatkan keluarganya. Paket itu dibungkus dengan plastik, nama pengirimnya tidak tertera dan jasa pengirimannya pun tak dikenal. Di dalamnya ada sebungkus amplop putih beserta beberapa dokumen seperti buku tabungan, berkas-berkas akte perjanjian, dan surat surat berharga lainnya. Sesaat iapun heran dengan isi paket ini, tapi dicobanya untuk membaca dulu secarik kertas yang nampak terbungkus rapat di dalam sebuah amplop.
"Tuan Rian Wiranegara, Salam hormat.
Saat anda membaca surat ini, kondisi putra dan istri anda baik-baik saja, mereka dirawat dengan sangat baik oleh staf kami. Di dalam paket ini ada beberapa tabungan, surat berharga, dan beberapa berkas pendirian Perusahaan yang akan anda kelola. Hidup anda akan berubah dan tentunya anak istri anda akan kembali ke pangkuan anda. Syaratnya adalah anda dapat bekerja sama dengan baik, menaati tiap instruksi dan perintah yang kami berikan. Jangan coba-coba lari karena sejak saat ini, tiap gerak gerik anda terawasi dengan ketat oleh agen kami. Dan tentunya, jangan sekali-kali melapor ke polisi karena percuma saja, karena tidak akan ada yang percaya pada cerita anda, dan sedikit banyak para petinggi polisi-polisi itu adalah orang-orang kami juga.
Mulai kini anda telah resmi bergabung dalam sebuah grand design dan rencana panjang untuk sebuah pengabdian. Selamat.
NB. setelah ini, buat perjanjian dengan Ruswandi Wahab. Ceritakan tentang usaha yang anda bangun, dan selanjutnya jangan pernah lepaskan diri dari lingkar kolega terdekatnya. Anda harus menjadi yang terdepan, terus upayakan agar anda menjadi orang kepercayaannya. Dalam dua pekan kedepan, jika anda berhasil melakukan tugas dengan baik, kami akan segera membebaskan keluarga anda.
Salam
Tak lama, Teleponnya berdering kembali, nomor yang sama dengan yang semalam.
"Halo tuan Rian, kurasa anda baru saja menerima dan membaca paket yang baru saja kami kirimkan. Jalankan tugas anda dengan baik. Karena mulai kini, hidup anda akan lebih dari cukup, dengan syarat seperti yang telah anda baca di surat itu."
Rian tak lagi dapat berpikir, ia bingung, kalut dan heran dengan kondisinya kini. "bagaimana dengan keluargaku..bagaimana keadaan mereka"
"oh ya, aku lupa, mereka baik-baik saja, dua pekan lagi, jika kau telah berhasil mendekati Ruswandi, kami akan mengembalikan anak dan istrimu. Kini kau fokuskan saja dengan tugas pertamamu. selanjutnya tunggu instruksi dari kami. Salam"
dan suara gagang telepon yang tertutup memutus percakapan mereka. Rian pun mulai paham, hidupnya kini takkan lagi sama.
--
Di sudut ruang yang gelap, nampak tersulut sepuntung rokok yang menyala terang. Dengan seksama sosok itu mengawasi monitor yang ada di hadapannya, disana jelas terlihat sebuah kamar yang ditempati oleh seorang wanita dan anak kecil. Nina dan putranya Andi.
satu lagi agen yang baru bergabung, satu lagi peluru tajam siap digunakan. Tunggu saatnya tiba sampai mereka siap untuk ditembakan ke sasaran yang tepat.
Kini telah 205 orang telah tersebar di beberapa organisasi besar. Dari beragam latar belakang, dan beragam tujuan. Mungkin kini mereka tidak penting, dan mungkin tidak diperhitungkan, ah ia pun menyukainya, semakin mereka dianggap sepele, semakin tajam fungsi mereka, yang disaat nanti siap dihunuskan dan tepat sasaran menembus jantung lawan.
Sosok itu berjalan keluar dari ruang gelapnya dengan senyum merekah. Memakai baju dinas, dan baret hijau menutupi kepala. Dengan keyakinan penuh, ia naik ke lantai dasar, keluar dari sebuah rumah besar di daerah menteng jakarta pusat. Memacu mobilnya dan berperan kembali sebagai sosok yang ramah senyuman dengan sejuta pesona di hadapan media.
Bersiap untuk misi selanjutnya. beberapa tahun lagi, dan peluru-peluru itu siap ditembakkan.
Saturday, 2 February 2013
Operation High Level - Part 1
"Jadi, kau bisa menolongku Wan?"
Pengalaman bersama orang ini mengingatkannya akan banyak hal, bahwa tak selamanya berbisnis dengan seorang teman akan berbuah manis. Tak tega rasanya menolak permintaan orang ini. Menelepon berkali-kali ke nomor hape-nya yang mungkin hanya beberapa orang saja yang tahu, Wakilnya, beberapa staf ahli, dan mungkin satu dua pimpinan. Dari mana orang ini tahu nomorku?
"Baik, apa yang bisa saya bantu"
disela rapat yang sedang di-skors, ia mengangkat telepon dari orang itu.
"jadi begini, aku ingin minta maaf terkait permasalahan dulu, sekalian memberi sesuatu untukmu, sebagai bentuk permintaan maaf dari seorang kawan"
orang diseberang sana berucap lirih, disertai harapan akan permintaan yang semoga terpenuhi.
"Tenang, itu kejadian lampau, kita sama-sama mafhum atas kesalahpahaman itu, tiap orang pernah melakukan kesalahan,saya sudah maafkan sejak dulu "
Ia berusaha meredam kenangan-kenangan buruk bersama orang ini, manipulasi, intrik dibelakang dirinya, pemalsuan berkas-berkas itu, ah semua itu seolah berputar kembali di benaknya.
Istighfar Wan, bersyukur akhirnya kau bisa lolos dari dakwaan.
"tapi aku bener-bener ingin memperbaiki kesalahan, bisa kita bertemu di kafe priok besok malam?"
"eh kafe priok? tempat apa itu?"
ada rasa curiga yang makin menyeruak dibenaknya, tapi.. Ah jangan terlalu berpikiran negatif.
"itu Wan, restoran yang baru dibuka di daerah Penjaringan jakarta utara, deket dengan rumahmu bukan? Tempat yang asyik untuk berdiskusi."
Wandi berpikir sesaat ketika mendengar ajakan orang ini. tak ada salahnya, anggap silaturahmi biasa.
"jadi bagaimana? kau bisa?"
"Eh, saya cek agenda dulu, kemungkinan besok malam ada rapat pimpinan di senayan. Nanti kalau oke saya kabari lagi nanti"
"oke, aku tunggu kabarnya, terima kasih "
"sama-sama, no problem. eh maaf saya tutup dulu, rapat akan dimulai, nanti saya hubungi lagi wassalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Orang itu menutup telepon. Di sebuah kamar kontrakan berukuran empat kali enam meter, ia terpekur sendiri, menyadari sebuah tindakan yang tak mungkin ditolaknya.
"Ingat, kalau ingin keluargamu selamat, ikuti perintah kami"
Suara misterius itu mengusik kedamaian yang baru dititinya kembali. Seminggu yang lalu selepas keluar dari bui, ia yang bertekad melanjutkan hidup yang tenang menyadari bahwa tak mudah tuk kembali pada jalan kebaikan. Baru beberapa saat bercengkrama bersama anaknya yang beranjak besar dan istri tercinta yang sangat dirindukan, ia menerima telepon dari seseorang.
"Dengan bapak Rian, bagaimana rasanya menghirup udara bebas? nikmat bukan?
"siapa kau?" Emosinya sedikit terpancing dengan perkataan orang ini.
"anda tak perlu tahu siapa kami, yang jelas sebuah tugas akan menanti anda. tunggu instruksi selanjutnya dari kami"
"hei, siapa ini"
dan sambungan telepon terputus. Orang gila, tak perlu dihiraukan.
Keesokan harinya, ia yang terbangun di kontrakan kecil di daerah Slipi jakarta pusat, menyadari sesuatu. Istri dan anaknya belum kembali sedari pagi. Kalau tak salah pergi ke pasar seperti pagi yang lalu-lalu. Ia beranjak keluar dari kamar dan menuju pintu depan kontrakan. Matahari mulai meninggi dan sedikitpun tak ada tanda kehadiran anak dan istrinya. Kemana mereka, sampai sekarang belum kembali juga. Kekhawatiran dan ketakutan mulai berkecamuk di dadanya. Pikiran-pikiran negatif sesekali muncul saat ia teringat kembali sosok yang menghubunginya tadi malam.
Lamunannya pecah oleh suara dering telepon. nomor yang semalam.
"Halo, siapa ini?"
"Halo juga bapak Rian, siap untuk menerima tugas?"
"Kau gila, sinting, apa maksudmu dengan tugas" kata-kata pedas tak mampu lagi ditahannya, orang ini ingin mencari gara-gara.
"Hei kawan, tenanglah sedikit, suara kerasmu bisa membangunkan anakmu yang sedang tertidur, ia nampak pulas dipangkuan ibunya."
Seketika perkataan orang ini bagai menyengatnya, ia terpaku, Nina, Andi.
"apa yang kalian lakukan terhadap keluargaku, tolong, jangan sakiti mereka, silahkan, apa yang harus kulakukan, tapi tolong jangan libatkan mereka."
Sosok diseberang sana tertawa. "Sudah paham dengan kondisimu kini? baik ini yang harus kau lakukan. Dua hari ini, kau hubungi nomor yang akan kukirimkan lewat SMS. itu nomor Ruswandi Wahab, pasti kau mengenalnya. Ajak dia, bujuk dia sampai dia mau bertemu denganmu. Besok kau buka sebuah paket yang kami kirimkan ke rumahmu lalu ikuti instruksi yang ada di dalam paket itu, kau mengerti?"
ia mencerna perkataan orang itu yang serasa bertabrakan di otaknya, entah terlalu cepat atau dirinya yang terlampau kalut. "eh tapi aku sudah tak ingin lagi mengganggu Wandi, terlebih atas apa yang kulakukan padanya dulu."
"Kau bodoh atau idiot?? kau belum sadar nyawa keluargamu jadi taruhannya."
"baik baik, oke, kuturuti keinginanmu, tapi tolong, aku ingin berbicara dengan mereka sebentar saja"
sosok diseberang sana memberikan gagang telepon pada Nina.
"ayah, aku takut,"
"tenang sayang, semua akan baik2 saja"
"jangan tinggalkan kami, aku.."
Orang itupun mengambil gagang telepon dan berbicara kembali pada Rian. "Oke cukup, jadi sudah jelas? jangan main-main atau kau takkan bertemu mereka lagi selamanya." dan di seberang sana suara telepon tertutup terdengar memilukan. "tunggu tunggu, jangan kau.." dan Rian pun hanya tertunduk lesu. Tak disangka, begitu sulitnya tuk kembali lurus.
-cont'd
foto : http://osmd.files.wordpress.com/2012/03/dilema.jpg
Pengalaman bersama orang ini mengingatkannya akan banyak hal, bahwa tak selamanya berbisnis dengan seorang teman akan berbuah manis. Tak tega rasanya menolak permintaan orang ini. Menelepon berkali-kali ke nomor hape-nya yang mungkin hanya beberapa orang saja yang tahu, Wakilnya, beberapa staf ahli, dan mungkin satu dua pimpinan. Dari mana orang ini tahu nomorku?
"Baik, apa yang bisa saya bantu"
disela rapat yang sedang di-skors, ia mengangkat telepon dari orang itu.
"jadi begini, aku ingin minta maaf terkait permasalahan dulu, sekalian memberi sesuatu untukmu, sebagai bentuk permintaan maaf dari seorang kawan"
orang diseberang sana berucap lirih, disertai harapan akan permintaan yang semoga terpenuhi.
"Tenang, itu kejadian lampau, kita sama-sama mafhum atas kesalahpahaman itu, tiap orang pernah melakukan kesalahan,saya sudah maafkan sejak dulu "
Ia berusaha meredam kenangan-kenangan buruk bersama orang ini, manipulasi, intrik dibelakang dirinya, pemalsuan berkas-berkas itu, ah semua itu seolah berputar kembali di benaknya.
Istighfar Wan, bersyukur akhirnya kau bisa lolos dari dakwaan.
"tapi aku bener-bener ingin memperbaiki kesalahan, bisa kita bertemu di kafe priok besok malam?"
"eh kafe priok? tempat apa itu?"
ada rasa curiga yang makin menyeruak dibenaknya, tapi.. Ah jangan terlalu berpikiran negatif.
"itu Wan, restoran yang baru dibuka di daerah Penjaringan jakarta utara, deket dengan rumahmu bukan? Tempat yang asyik untuk berdiskusi."
Wandi berpikir sesaat ketika mendengar ajakan orang ini. tak ada salahnya, anggap silaturahmi biasa.
"jadi bagaimana? kau bisa?"
"Eh, saya cek agenda dulu, kemungkinan besok malam ada rapat pimpinan di senayan. Nanti kalau oke saya kabari lagi nanti"
"oke, aku tunggu kabarnya, terima kasih "
"sama-sama, no problem. eh maaf saya tutup dulu, rapat akan dimulai, nanti saya hubungi lagi wassalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Orang itu menutup telepon. Di sebuah kamar kontrakan berukuran empat kali enam meter, ia terpekur sendiri, menyadari sebuah tindakan yang tak mungkin ditolaknya.
"Ingat, kalau ingin keluargamu selamat, ikuti perintah kami"
Suara misterius itu mengusik kedamaian yang baru dititinya kembali. Seminggu yang lalu selepas keluar dari bui, ia yang bertekad melanjutkan hidup yang tenang menyadari bahwa tak mudah tuk kembali pada jalan kebaikan. Baru beberapa saat bercengkrama bersama anaknya yang beranjak besar dan istri tercinta yang sangat dirindukan, ia menerima telepon dari seseorang.
"Dengan bapak Rian, bagaimana rasanya menghirup udara bebas? nikmat bukan?
"siapa kau?" Emosinya sedikit terpancing dengan perkataan orang ini.
"anda tak perlu tahu siapa kami, yang jelas sebuah tugas akan menanti anda. tunggu instruksi selanjutnya dari kami"
"hei, siapa ini"
dan sambungan telepon terputus. Orang gila, tak perlu dihiraukan.
Keesokan harinya, ia yang terbangun di kontrakan kecil di daerah Slipi jakarta pusat, menyadari sesuatu. Istri dan anaknya belum kembali sedari pagi. Kalau tak salah pergi ke pasar seperti pagi yang lalu-lalu. Ia beranjak keluar dari kamar dan menuju pintu depan kontrakan. Matahari mulai meninggi dan sedikitpun tak ada tanda kehadiran anak dan istrinya. Kemana mereka, sampai sekarang belum kembali juga. Kekhawatiran dan ketakutan mulai berkecamuk di dadanya. Pikiran-pikiran negatif sesekali muncul saat ia teringat kembali sosok yang menghubunginya tadi malam.
Lamunannya pecah oleh suara dering telepon. nomor yang semalam.
"Halo, siapa ini?"
"Halo juga bapak Rian, siap untuk menerima tugas?"
"Kau gila, sinting, apa maksudmu dengan tugas" kata-kata pedas tak mampu lagi ditahannya, orang ini ingin mencari gara-gara.
"Hei kawan, tenanglah sedikit, suara kerasmu bisa membangunkan anakmu yang sedang tertidur, ia nampak pulas dipangkuan ibunya."
Seketika perkataan orang ini bagai menyengatnya, ia terpaku, Nina, Andi.
"apa yang kalian lakukan terhadap keluargaku, tolong, jangan sakiti mereka, silahkan, apa yang harus kulakukan, tapi tolong jangan libatkan mereka."
Sosok diseberang sana tertawa. "Sudah paham dengan kondisimu kini? baik ini yang harus kau lakukan. Dua hari ini, kau hubungi nomor yang akan kukirimkan lewat SMS. itu nomor Ruswandi Wahab, pasti kau mengenalnya. Ajak dia, bujuk dia sampai dia mau bertemu denganmu. Besok kau buka sebuah paket yang kami kirimkan ke rumahmu lalu ikuti instruksi yang ada di dalam paket itu, kau mengerti?"
ia mencerna perkataan orang itu yang serasa bertabrakan di otaknya, entah terlalu cepat atau dirinya yang terlampau kalut. "eh tapi aku sudah tak ingin lagi mengganggu Wandi, terlebih atas apa yang kulakukan padanya dulu."
"Kau bodoh atau idiot?? kau belum sadar nyawa keluargamu jadi taruhannya."
"baik baik, oke, kuturuti keinginanmu, tapi tolong, aku ingin berbicara dengan mereka sebentar saja"
sosok diseberang sana memberikan gagang telepon pada Nina.
"ayah, aku takut,"
"tenang sayang, semua akan baik2 saja"
"jangan tinggalkan kami, aku.."
Orang itupun mengambil gagang telepon dan berbicara kembali pada Rian. "Oke cukup, jadi sudah jelas? jangan main-main atau kau takkan bertemu mereka lagi selamanya." dan di seberang sana suara telepon tertutup terdengar memilukan. "tunggu tunggu, jangan kau.." dan Rian pun hanya tertunduk lesu. Tak disangka, begitu sulitnya tuk kembali lurus.
-cont'd
foto : http://osmd.files.wordpress.com/2012/03/dilema.jpg
Sunday, 27 January 2013
Wanita - Tak Tergapai
Butuh waktu lama bagi Rizka untuk menyadari bahwa tinggal menyisakan beberapa menit lagi sebelum Anton bertandang ke rumahnya. Dilihatnya kembali diri yang nampak mematung di depan cermin. Kini ia bak supermodel, rambut lurus tergerai, eye shadow, gincu merah muda, dan polesan bedak putih yang kini nampak agak menebal.
Diusapnya kembali wajahnya untuk meratakan bedak yang terlihat menumpuk di beberapa sisi. Ia pun menatap kembali wajahnya di depan cermin yang mulai bosan dengan tingkah laku Rizka. Tak puas, ia pun kembali memoles beberapa sisi wajahnya dengan bedak putih yang dirasanya belum menutupi beberapa flek hitam yang mulai bermunculan di bawah kelopak mata.
Ia terdiam sesaat, menyadari betapa menyedihkannya orang yang kini berdiri di depan cermin. Pontang panting tuk sekedar mendapatkan apa yang sedari dulu ia anggap sesuatu yang mudah. Lihat dirinya, Wanita cantik paruh baya dengan senyuman manis layaknya Dian Sastro, dan tatapan mata teduh si cantik Zaskia Mecca.
Tak ada yang kurang darinya, postur tinggi badan semampai dengan kesehatan yang prima. Terlahir dari keluarga terpandang anak dari pejabat di salah satu perusahaan milik negara. Pesona dirinya pun makin lengkap dengan berbagai titel yang nampak elegan tersandang di depan dan belakang namanya, Prof. Dr. dr. Rizka Aziza, Sp.BP.
Ah tidak, 10 menit lagi. Ia pun segera mengganti daster yang dipakainya sedari pagi dengan gaun indah pemberian Anton. Tapi tunggu, dimana gaunnya kini? ia pun berdesis keluh, ah sial, kamarku seperti kapal pecah. Handuk dan pakaian bekas pakai kemarin, masih tergeletak di atas kasur dengan selimut dan bantal tak karuan. Terlihat pula beberapa alat kosmetik, sendal, dan hair dryer masih teronggok tak jelas di atas lantai.
Dibukanya lemari pakaian yang masih menyisakan beberapa pakaian layak pakai. Duh, terserah lah. Ia pun asal mengambil beberapa helai pakaian, rok panjang berwarna hitam dipadu blouse berwarna pink. Dipakainya dengan tergesa, dan simsalabim, 20 menit persiapan yang penuh kekacauan. Semoga kali ini tak seperti cerita yang sudah-sudah.
--
"Rizkaa.. Anton sudah datang, cepat turun nak.."
Suara seorang wanita terdengar lantang dari bawah. Mama yang selalu mengeluhkan atas segala yang sudah Ia lakukan.
"nduk..mbok jadi perempuan itu jangan terlalu ngoyo, biasa aja, sudahlah, cukup sampai disini. sekarang fokus untuk yang lain."
Sedari dulu, bahkan sejak ia melanjutkan ke tingkatan strata tiga. Nasihat sang ibu tak lebih dari angin lalu yang sekedar menjadi ketakutan sesaat para orang tua. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, Ia cantik, terpandang dengan segala keindahan seorang wanita yang berkumpul anggun pada dirinya. Tak sulit tuk sekedar mencari lelaki, kerlingan mata sesaat pada sang Adam cukup membuat pria manapun bertekuk lutut di hadapannya. Jadi tak ada alasan tuk takut.
Ia makin asyik dengan dunianya. Gelar akademis tertinggi dari universitas ternama. Guru besar dengan spesialisasi di bidang kedokteran yang mumpuni. Ia kini tinggi, hingga tak sanggup lagi tergapai oleh siapapun. Profesor cantik, Dokter pintar, terpandang dan dari keluarga kaya. Ah wanita mana yang mampu menyainginya kini. Sesaat setelah penganugerahan gelar guru besar, sesuatu nampak hinggap di hatinya, sesuatu yang kosong dan tak mampu dimaknai. Apalagi yang harus kukejar. Sorak sorai selamat dari rekan-rekan seprofesinya terasa hambar. Ia memasang wajah datar dengan tatapan nanar.
"Wah Rizka, selamat yaaa.."
dr. Rini sahabat baiknya datang dengan kedua putra yang lucu dan menggemaskan, di belakangnya nampak sang suami sedang menggendong anak ketiga mereka, putri kecil yang cantik.
"eh iya, makasih ya rin"
Satu per satu, rekan sejawat yang hadir dengan pasangannya masing-masing menyadarkannya akan satu hal. Mama, kau benar.
Wandi, Ridwan, Ali, Mike, orang-orang yang dulu hadir tanpa diminta oleh dirinya. Menyapanya tiap pagi, membawakan minuman untuknya ketika ia terduduk lelah di ruangan dosen. Mereka yang begitu perhatian pada dirinya. Sinyal-sinyal itu, ah untuk pertama kalinya, ia merasa sangat bodoh. Harusnya Ia tahu maksud itu. Tak ada sesuatu yang cuma-cuma, ada sebongkah harapan dari mereka terhadapnya. Tapi kini, setelah 10 tahun berjalan, satu per satu mereka mundur teratur. Dan kini disinilah ia berada, dalam relung angan-angan yang memuai, hilang dan lepas.
--
Anton, pria setengah abad dan perut buncit yang kerap kali menganggu pandangannya. Sorot mata sang ibu tak lagi dihiraukan oleh Rizka, sorot mata penuh harap yang seolah tak mempersoalkan lagi siapa yang kini hendak meminang putrinya.
Sebegitu pasrahnya kah ibu?
Dulu, Satu per satu lelaki tampan dan berpendidikan nampak memandang terlalu tinggi dirinya, Ia masih saja dianggap tak tergapai. Padahal Aku dengan senang hati menerima. Tapi kenapa, Ada apa dengan kalian??
Anton memang bukan yang pertama, dan pastinya, setelah ia memandang kembali pada sosok pria tua dihadapannya. Ia berketetapan hati, Kau bukan yang terakhir.
nampak gurat kekecewaan dari wajah sang ibu.
Diusapnya kembali wajahnya untuk meratakan bedak yang terlihat menumpuk di beberapa sisi. Ia pun menatap kembali wajahnya di depan cermin yang mulai bosan dengan tingkah laku Rizka. Tak puas, ia pun kembali memoles beberapa sisi wajahnya dengan bedak putih yang dirasanya belum menutupi beberapa flek hitam yang mulai bermunculan di bawah kelopak mata.
Ia terdiam sesaat, menyadari betapa menyedihkannya orang yang kini berdiri di depan cermin. Pontang panting tuk sekedar mendapatkan apa yang sedari dulu ia anggap sesuatu yang mudah. Lihat dirinya, Wanita cantik paruh baya dengan senyuman manis layaknya Dian Sastro, dan tatapan mata teduh si cantik Zaskia Mecca.
Tak ada yang kurang darinya, postur tinggi badan semampai dengan kesehatan yang prima. Terlahir dari keluarga terpandang anak dari pejabat di salah satu perusahaan milik negara. Pesona dirinya pun makin lengkap dengan berbagai titel yang nampak elegan tersandang di depan dan belakang namanya, Prof. Dr. dr. Rizka Aziza, Sp.BP.
Ah tidak, 10 menit lagi. Ia pun segera mengganti daster yang dipakainya sedari pagi dengan gaun indah pemberian Anton. Tapi tunggu, dimana gaunnya kini? ia pun berdesis keluh, ah sial, kamarku seperti kapal pecah. Handuk dan pakaian bekas pakai kemarin, masih tergeletak di atas kasur dengan selimut dan bantal tak karuan. Terlihat pula beberapa alat kosmetik, sendal, dan hair dryer masih teronggok tak jelas di atas lantai.
Dibukanya lemari pakaian yang masih menyisakan beberapa pakaian layak pakai. Duh, terserah lah. Ia pun asal mengambil beberapa helai pakaian, rok panjang berwarna hitam dipadu blouse berwarna pink. Dipakainya dengan tergesa, dan simsalabim, 20 menit persiapan yang penuh kekacauan. Semoga kali ini tak seperti cerita yang sudah-sudah.
--
"Rizkaa.. Anton sudah datang, cepat turun nak.."
Suara seorang wanita terdengar lantang dari bawah. Mama yang selalu mengeluhkan atas segala yang sudah Ia lakukan.
"nduk..mbok jadi perempuan itu jangan terlalu ngoyo, biasa aja, sudahlah, cukup sampai disini. sekarang fokus untuk yang lain."
Sedari dulu, bahkan sejak ia melanjutkan ke tingkatan strata tiga. Nasihat sang ibu tak lebih dari angin lalu yang sekedar menjadi ketakutan sesaat para orang tua. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, Ia cantik, terpandang dengan segala keindahan seorang wanita yang berkumpul anggun pada dirinya. Tak sulit tuk sekedar mencari lelaki, kerlingan mata sesaat pada sang Adam cukup membuat pria manapun bertekuk lutut di hadapannya. Jadi tak ada alasan tuk takut.
Ia makin asyik dengan dunianya. Gelar akademis tertinggi dari universitas ternama. Guru besar dengan spesialisasi di bidang kedokteran yang mumpuni. Ia kini tinggi, hingga tak sanggup lagi tergapai oleh siapapun. Profesor cantik, Dokter pintar, terpandang dan dari keluarga kaya. Ah wanita mana yang mampu menyainginya kini. Sesaat setelah penganugerahan gelar guru besar, sesuatu nampak hinggap di hatinya, sesuatu yang kosong dan tak mampu dimaknai. Apalagi yang harus kukejar. Sorak sorai selamat dari rekan-rekan seprofesinya terasa hambar. Ia memasang wajah datar dengan tatapan nanar.
"Wah Rizka, selamat yaaa.."
dr. Rini sahabat baiknya datang dengan kedua putra yang lucu dan menggemaskan, di belakangnya nampak sang suami sedang menggendong anak ketiga mereka, putri kecil yang cantik.
"eh iya, makasih ya rin"
Satu per satu, rekan sejawat yang hadir dengan pasangannya masing-masing menyadarkannya akan satu hal. Mama, kau benar.
Wandi, Ridwan, Ali, Mike, orang-orang yang dulu hadir tanpa diminta oleh dirinya. Menyapanya tiap pagi, membawakan minuman untuknya ketika ia terduduk lelah di ruangan dosen. Mereka yang begitu perhatian pada dirinya. Sinyal-sinyal itu, ah untuk pertama kalinya, ia merasa sangat bodoh. Harusnya Ia tahu maksud itu. Tak ada sesuatu yang cuma-cuma, ada sebongkah harapan dari mereka terhadapnya. Tapi kini, setelah 10 tahun berjalan, satu per satu mereka mundur teratur. Dan kini disinilah ia berada, dalam relung angan-angan yang memuai, hilang dan lepas.
--
Anton, pria setengah abad dan perut buncit yang kerap kali menganggu pandangannya. Sorot mata sang ibu tak lagi dihiraukan oleh Rizka, sorot mata penuh harap yang seolah tak mempersoalkan lagi siapa yang kini hendak meminang putrinya.
Sebegitu pasrahnya kah ibu?
Dulu, Satu per satu lelaki tampan dan berpendidikan nampak memandang terlalu tinggi dirinya, Ia masih saja dianggap tak tergapai. Padahal Aku dengan senang hati menerima. Tapi kenapa, Ada apa dengan kalian??
Anton memang bukan yang pertama, dan pastinya, setelah ia memandang kembali pada sosok pria tua dihadapannya. Ia berketetapan hati, Kau bukan yang terakhir.
nampak gurat kekecewaan dari wajah sang ibu.
Monday, 21 January 2013
Move On
Sesekali ku melihat laman profilenya kembali. Tak sering,
hanya saat dunia ini kurasa begitu sempit. Ah bodohnya aku, keadaan takkan
mengubah apapun. Ia, kenangan itu, dan berbagai lakunya. Suatu kali terasa
sangat manis, namun tak sedikit pula rasa pahit menghinggap, kadang-kadang
candanya menyakitkan tapi sedetik itu pula Ia bergegas menghiburku dengan
tingkah konyolnya. Ah, masa-masa itu.
Waktu berlalu cepat, pukul dua dini hari dan belum satupun
paperku tersentuh. Ah..padahal besok paper
ini harus dikumpulkan. Kuhela nafas dan sejenak kumatikan laptop yang
semalaman ini menjelajah laman facebooknya. Suara kursi yang berdecit,
terdengar jelas dikeheningan malam. Akupun beranjak pergi, berjalan menjauhi
meja kerja yang penuh dengan kertas dan buku-buku tebal. Air wudhu akan menenangkanku.
Gemericik suara air berjatuhan menyeka dan membasuh wajahku,
telinga, tangan, dan kaki. Kamar besar dengan fasilitas nomor wahid, kantorku
memang royal. Padahal jarak dengan tempat tinggalku tak seberapa jauh. Beberapa
kali ku memaksa Pak Idris untuk membiarkanku pulang dan tidak perlu menginap di
hotel ini dan nampaknya usahaku tak berhasil. Dengan alasan efisiensi waktu dan
jadwal kegiatan yang padat, maka disinilah kuberada, dalam Training yang tak jauh berbeda dari biasanya.
Kuambil baju kurung itu, mukena hijau pemberian ibu.
Kusimpan dalam tas ransel yang sesekali kuperhatikan, ia terlihat kumuh,
ternyata tas pemberiannya ini masih layak kusandang. Perlahan kupakai mukena
yang menutupi rambutku. Kurapihkan beberapa rambut yang nampak keluar dari
baliknya. Akupun bersiap untuk menghadap Tuhan, semoga ada sepercik ketenangan yang Ia berikan, Allahu Akbar.
----
“Tidak, bukan itu, tidak ada alasan apapun. Bukan karena
kau, ini karena, karena bukan sekarang,”
“lalu apa karena keluargamu, kau lihat, aku sudah banyak
berubah, ada yang berbeda dariku.”
Dan ia pun memandangku seolah tak ada lagi yang sanggup ia
bantah. Jilbab yang kini menjulur panjang dan baju kurung itu.
“Tapi, ah..pokoknya kita pisah sekarang.”
Ia berlalu meninggalkanku.
---
“Allahu Akbar Allahu Akbar”
Suara adzan subuh membangunkanku dari bayangan itu, kejadian
15 tahun lalu. Kerap kali muncul di saat seperti ini. Kuperbaiki wudhuku dan
segera ku kembali menghadapNya. Ya Rabb,
kenapa bayangannya terus muncul, tak adakah cara melupakannya.
“sudahlah Din, tak ada guna kau mengingatnya terus, semua
sudah terjadi dan saatnya kau berjalan pergi, meninggalkannya dalam kenangan”
“Kau bodoh, seolah tak ada lelaki lain di dunia ini”
“lihat lah Andi, kurang apa lagi, Seorang Direktur, tampan, walau
duda, tapi perawakannya masih seperti bujangan.”
Serta beragam nasihat dari orang-orang terdekatku. Ada yang terus membujukku
untuk melangkah lagi dengan jejak yang baru, dan ada yang terang-terangan
menganggapku tolol karena terus mengingatnya. Mereka semua tak tahu, tak ada yang tahu perasaanku.
Lamunan itu sedikit memperlambatku, jam di dinding kamar
menunjukkan pukul setengah enam pagi. Akupun bergegas merapihkan sajadahku dan
mukena yang nampak kusut setelah semalaman kupakai tidur. Segera ku rapihkan
buku-buku di meja dan mulai menuliskan paper yang tertunda semalaman. Tak
kupikirkan lagi bagus atau tidak paper yang kutulis ini, yang ada dipikiranku, Semoga
hari ini ada sesuatu yang berbeda, dari info yang kudapat, pembicara kali ini
seorang trainer yang menyenangkan. Desas-desus mengenai ketampanannya
cukup membuatku tertarik dan menambah semangatku untuk mengikuti sesi training
pagi ini. Semoga hari ini ada sesuatu
yang berbeda.
--
“Baik rekan-rekan, tugas kalian harap dikumpulkan di meja
depan” Panitia pun berjalan mengelilingi kelas, memperhatikan kami yang sibuk
mengumpulkan paper ke meja depan. Akupun sedikit terhambat dengan peniti rusak
yang lepas dari jilbabku. Setelah kukumpulkan paperku ke depan, akupun menyerah,
Ah kuganti saja peniti ini, percuma jika kupaksakan, Akupun sibuk mencari dan
merogoh tas ranselku, di saat sibuk mencari, kudengar sayup suara yang akrab di
telinga. Suara itu.
“Selamat pagi mas dan mbak sekalian, Apa kabar hari ini..??
ah nampaknya masih belum focus, masih pada ngantuk ya? yuk kita stretching
dulu, biar kita lebih semangat”
Dia. Itu dia.
--
Aku tahu, ia menyadari kehadiranku di ruangan ini. Tapi ah,
seberapa keras kau berusaha, tatapan matamu takkan mampu menutupi
kegelisahanmu. Akupun berusaha tenang, dan berlagak tak tahu akan kehadiranmu.
Sesekali perasaan membuncah itu muncul, oh tidak, setelah 15 tahun lamanya dan
perasaan itu tetap sama.
“Ibu Dina, ada yang mau ditanyakan tentang pembahasan di
sesi ini?” ia memecah lamunan yang membuatku salah tingkah. “eh tidak, tidak
ada Pak.” Ia pun tersenyum dan nampak melanjutkan kembali pembahasannya. Akupun
mencoba fokus, tak boleh seperti ini. Ia telah hilang, telah pergi. Saatnya kau
melangkah Din.
Sesinya pun berakhir, tak jelas apa yang kurasakan kini,
antara kesal, benci, marah, dendam, rindu, ah semuanya teraduk di sini, dalam
dada yang makin cepat berdetak. “Din, bisa kita bicara sebentar” ia
memanggilku, kini tanpa panggilan Ibu.
Ia nampak serius menyiapkan diri untuk berbicara denganku. Rambutnya
yang kini memutih dan berapa kerutan di dahi. Hal sama yang mungkin juga
terjadi padaku. “maafkan aku, telah lama ingin kusampaikan langsung, tapi aku
takut. Aku takut dan menyesal meninggalkanmu dengan sebuah harapan. Maafkan
aku.”
Ketulusan nampak jelas berbicara dari binar matanya. Akupun
tersenyum, dan entah kenapa dada ini kembali lapang. Semuanya nampak lepas dan
terbebas. “iya,” dan akupun meninggalkannya, Terima kasih Tuhan. Mungkin ini jawabnya.
Love is trembling happiness.
- Kahlil Gibran
Thursday, 10 January 2013
Karena Tiap Orang Punya Impian
Lelaki di hadapannya kini menunggu, pria paruh baya yang sesekali menggerakkan dan menggoyangkan pulpen yang tergenggam di jarinya. "Jadi apa itu passion?" Lelaki itu kembali mengulang pertanyaan, dan ia pun tak kunjung menemukan jawaban yang pas untuk diucapkan. Sesi interview dengan Senior Manajer ini memang telah disiapkannya jauh-jauh hari, beragam kemungkinan pertanyaan dan jawaban telah disiapkannya sejak awal, tapi pertanyaan yang satu ini tak pernah terpikirkan olehnya yang kini membuatnya termenung beberapa saat. Duh jawaban apa yang kira-kira diinginkan bapak ini.
"eh.. passion itu adalah saat kita bersemangat untuk melakukan sesuatu dan tak memikirkan lagi seberapa lelah kita saat itu". Harap-harap cemas, iapun menunggu respon dari si Bapak.
"hm.. oke, jawabanmu menarik, dan intinya memang sama dengan apa yang saya pikirkan. Sederhana, Passion itu adalah saat kamu senang melakukan sesuatu dan rela tidak dibayar untuk itu. Tadi kamu bilang hobi kamu menulis dan kamu pun sudah membuat satu buku, benar ? dan kamu rela tidak dibayar kalau untuk menulis, iya kan?" Lelaki itu membuka kembali berkas CV yang ada di mejanya.
"iya benar pak"
"dan kamu tadi, begitu bersemangat menceritakan tentang buku kamu, bagaimana kamu membuatnya, apa isi bukumu, novel yang bercerita tentang pengkhianatan dan romantisme. Kamu gak sadar bahwa itu passion kamu?"
Ia pun sejenak meresap perkataan si Bapak itu, ya memang benar passion saya adalah menulis, menulis cerita, cerpen, novel. lalu kenapa?.
"benar pak, saya pun menyadari, Passion saya ada di bidang itu, menulis, merangkai kata, menguntai makna dari sebuah pengalaman ke dalam bentuk frase yang saling mengait satu sama lain, saya memang senang menulis dan saya pun bermimpi untuk menjadi penulis besar"
Dan seketika si bapak itu pun membetulkan posisi duduk dan terlihat antusias dengan jawabannya itu. "nah, kalau begitu kenapa kamu melamar ke perusahaan ini? kamu pasti tahu bahwa pekerjaan kamu ini, kalau kamu diterima, adalah pekerjaan yang tak ada sangkut pautnya dengan kreativitas kamu menulis. Pekerjaannya monoton, strict to the rule dan tidak ada yang namanya improvisasi. Apa kamu bakal tahan bekerja dengan kondisi seperti itu? yang ada kalau kamu terpaksa, pekerjaan kamu nantinya malah tidak optimal."
Iapun berusaha memaknai perkataan si bapak ini. Tapi saya harus mendapatkan pekerjaan ini pak, saya sangat butuh itu, tolong terima saya. Di benaknya kini tergambar beberapa orang adiknya yang menunggu kabar gembira darinya, masa depan mereka kini tergantung di tangannya. "tapi, saya berjanji akan bekerja seoptimal mungkin dan seprofesional mungkin. saya berjanji"
Lelaki itu tersenyum, pria paruh baya yang kini seolah menjadi penentu nasib seorang gadis, fresh graduate dari sebuah universitas ternama. "baik, saya akan pegang ucapan kamu, dan saya pun bertanya bukan karena ingin menghalangi kamu dengan passion kamu, impian kamu, tapi karena saya tak ingin impian kamu tergerus dengan rutinitas di kantor ini nantinya. Jangan pernah lepaskan impianmu walau nanti diterima di kantor ini , mengerti? karena passion adalah ruh bagi orang-orang yang memiliki impian."
Seketika wajahnya cerah kembali, tak disangka bahwa si Bapak justru mendukungnya. "terima kasih pak, saya akan tetap menjaga passion saya. terima kasih atas supportnya". ia pun hanya dapat mengucap terima kasih. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. "Oke, besok kamu datang lagi kesini, pukul 9 bertemu dengan ibu Mira untuk menandatangani kontrak kerja."
"baik pak, terima kasih banyak, saya mohon permisi."
Lelaki itu memandang dengan senyuman, sosok gadis yang baru saja meninggalkan ruangannya. Karena tiap orang punya hak mengejar mimpinya.
"eh.. passion itu adalah saat kita bersemangat untuk melakukan sesuatu dan tak memikirkan lagi seberapa lelah kita saat itu". Harap-harap cemas, iapun menunggu respon dari si Bapak.
"hm.. oke, jawabanmu menarik, dan intinya memang sama dengan apa yang saya pikirkan. Sederhana, Passion itu adalah saat kamu senang melakukan sesuatu dan rela tidak dibayar untuk itu. Tadi kamu bilang hobi kamu menulis dan kamu pun sudah membuat satu buku, benar ? dan kamu rela tidak dibayar kalau untuk menulis, iya kan?" Lelaki itu membuka kembali berkas CV yang ada di mejanya.
"iya benar pak"
"dan kamu tadi, begitu bersemangat menceritakan tentang buku kamu, bagaimana kamu membuatnya, apa isi bukumu, novel yang bercerita tentang pengkhianatan dan romantisme. Kamu gak sadar bahwa itu passion kamu?"
Ia pun sejenak meresap perkataan si Bapak itu, ya memang benar passion saya adalah menulis, menulis cerita, cerpen, novel. lalu kenapa?.
"benar pak, saya pun menyadari, Passion saya ada di bidang itu, menulis, merangkai kata, menguntai makna dari sebuah pengalaman ke dalam bentuk frase yang saling mengait satu sama lain, saya memang senang menulis dan saya pun bermimpi untuk menjadi penulis besar"
Dan seketika si bapak itu pun membetulkan posisi duduk dan terlihat antusias dengan jawabannya itu. "nah, kalau begitu kenapa kamu melamar ke perusahaan ini? kamu pasti tahu bahwa pekerjaan kamu ini, kalau kamu diterima, adalah pekerjaan yang tak ada sangkut pautnya dengan kreativitas kamu menulis. Pekerjaannya monoton, strict to the rule dan tidak ada yang namanya improvisasi. Apa kamu bakal tahan bekerja dengan kondisi seperti itu? yang ada kalau kamu terpaksa, pekerjaan kamu nantinya malah tidak optimal."
Iapun berusaha memaknai perkataan si bapak ini. Tapi saya harus mendapatkan pekerjaan ini pak, saya sangat butuh itu, tolong terima saya. Di benaknya kini tergambar beberapa orang adiknya yang menunggu kabar gembira darinya, masa depan mereka kini tergantung di tangannya. "tapi, saya berjanji akan bekerja seoptimal mungkin dan seprofesional mungkin. saya berjanji"
Lelaki itu tersenyum, pria paruh baya yang kini seolah menjadi penentu nasib seorang gadis, fresh graduate dari sebuah universitas ternama. "baik, saya akan pegang ucapan kamu, dan saya pun bertanya bukan karena ingin menghalangi kamu dengan passion kamu, impian kamu, tapi karena saya tak ingin impian kamu tergerus dengan rutinitas di kantor ini nantinya. Jangan pernah lepaskan impianmu walau nanti diterima di kantor ini , mengerti? karena passion adalah ruh bagi orang-orang yang memiliki impian."
Seketika wajahnya cerah kembali, tak disangka bahwa si Bapak justru mendukungnya. "terima kasih pak, saya akan tetap menjaga passion saya. terima kasih atas supportnya". ia pun hanya dapat mengucap terima kasih. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. "Oke, besok kamu datang lagi kesini, pukul 9 bertemu dengan ibu Mira untuk menandatangani kontrak kerja."
"baik pak, terima kasih banyak, saya mohon permisi."
Lelaki itu memandang dengan senyuman, sosok gadis yang baru saja meninggalkan ruangannya. Karena tiap orang punya hak mengejar mimpinya.
Sunday, 30 December 2012
Dilema #2
Aku tak sanggup bertanya pada Bapak.
Serasa ada sesuatu yang naik dari perutku setiap kali ingin memulai
membicarakan tentang hal ini. Kami sekeluarga dalam perjalanan pulang menuju
Jakarta. Nampaknya bapak sedang sibuk menyetir dan tidak bisa diganggu, ah aku
semakin tak sanggup membicarakan hal ini. Si kakak pun sepertinya sudah lama
menunggu. Sesaat kemudian, sebuah SMS masuk ke hape ku.
“jadi gimana? Sudah ada jawaban dari
bapak?”
“belum kak, setiap saya mau ngomong
tentang ini, perut saya tiba-tiba mules. Duh..”
“hm.. yaudah, saya aja yang sms
bapak, tolong kirim nomornya ya”
Hah? Seriusan nih orang? Wah..
nantangin ya. Akupun mengirimkan nomer bapak padanya.
“ini nomernya kak. 0816xxxxx. Tapi
jangan di sms sekarang ya kak, bapak lagi nyupir takutnya keganggu, soalnya
bapak sensitive klo ada sms yang gak jelas dari siapa, biasa ditawarin kartu
kredit. Hehe”
“sip.. oke”
Coba kita lihat, apakah si kakak itu
berani mencoba menghubungi bapak langsung. Ada semacam keraguan, sepertinya ia
akan berpikir puluhan kali kalau ingin mengirim sms langsung ke orang tua ku.
Beberapa saat kemudian, bapak
memanggilku.
“An, ini ada yang sms siapa ya? Temen Ani ya?”
“hah? Temen Ani? Siapa pak? Ngapain
juga ada yang sms bapak”
akupun tak sadar, bahwa sebelumnya ada seseorang yang
meminta nomor bapak dan akan menghubunginya. Dan ternyata, ya Ampun, si kakak
yang mengirimkan sms dengan tulisan yang sangat lugas.
“Assalamualaikum pak, Saya Adi, temannya
Ani, saya ingin mencoba serius untuk taaruf menuju pernikahan dengan anak
bapak. Kalau bapak mengizinkan, saya akan coba mengirimkan CV saya lewat email.
Terima kasih pak”
Ya salam, ini orang serius ya, dan
bapak pun hanya terdiam, akupun salah tingkah, ah tak tahulah.
“bapak akan balas SMSnya, nanti kamu
baca lagi. Kalau ada yang mau ditambahkan tambahkan saja” bapak pun hanya
berkata singkat padaku. Ah biarlah, ikuti saja kemana proses ini akan berjalan.
Sepekan berlalu, dan ia telah
mengirimkan CV nya padaku lewat email. Oh ya, ia juga mengirimkan Proposal
nikahnya. Ah niat sekali.. akupun membaca dan terpaku dengan CV dan
proposalnya. Apa lagi yang bisa membuatku menolaknya. Tapi.. ah selalu ada
gundah, mungkin karena orang itu. Tapi.. sudahlah. Akupun membalas SMSnya
“CV dan proposalnya sudah saya baca
kak, masya Allah, saya masih gak percaya, kenapa saya kak, seharusnya ada yang
lebih baik dari saya”
“Gak An, insyaAllah saya udah
berpikir matang, dan memang, sepertinya Ani orang yang tepat.”
Duh.. akupun tak tahu lagi harus
membalas apa. Bapak ku pun ikut membaca proposalnya pula. Ah sepertinya ia
begitu tertarik dengan si kakak ini. Terlihat jelas dari pancaran wajahnya,
senyumnya menyiratkan bahwa pemuda ini orang yang tepat untuk putrinya. Aku
juga mengirimkan CV ku padanya, CV yang biasa saja, itupun aku contek formatnya
dari CV yang ia kirim, hehe.
“An.. coba bilang ke dia, kalau
misalkan bisa, hari sabtu nanti datang ke rumah. Kamu kasih alamat ke dia ya”
Hah? Ke rumah? Secepat ini kah? Ya
ampun. Akupun mengirimkan SMS padanya meminta agar dia bisa datang ke rumah.
Sesuai dugaanku, ia pun menyanggupinya. Rumah ku di daerah tangerang banten
memang lumayan jauh, dan semoga si kakak ini tidak tersesat.
Pertemuan itu dan
pertemuan-pertemuan selanjutnya, semuanya berjalan lancar. Orang tuanya pun
sudah datang bersilaturahmi ke rumah. Tapi, ah selalu ada tapi, gundah ini
selalu menyertai. Bayangan orang itu masih terekam jelas di benakku.
Berhari-hari, akupun jarang membalas sms Kak Adi. Akupun tak tahu apa yang
terjadi padaku. Selalu ada keraguan dan semuanya bermuara pada orang itu.
Baiklah, kurasa semuanya harus menjadi jelas, aku harus mengatakan yang
sebenarnya pada kak Adi.
“sebenarnya, saya udah punya pilihan
sendiri kak. Tapi jujur, ini murni karena kedekatan, minat dan kesenangan kami
yang sama. Ia satu fakultas dengan saya, seangkatan dengan saya. Dan kemaren
saya blom bisa memberi tahu kak Adi karena sayapun bingung, orang tua saya
lebih menyukai kak Adi dibandingkan dengan calon saya ini. Karena menurut
bapak, kak Adi adalah figure ideal untuk seorang suami, sayapun sadar sih kak,
tapi saya sudah memutuskan, saya akan coba dengan calon saya sendiri”
Fiuh.. ah ada rasa sesal, tapi satu
sisi, akupun lega. Semoga ini yang terbaik untuk kami. Kak Adi pun menerima
dengan senyuman, setidaknya itu yang tertulis dalam sebaris pesan SMS darinya.
“semoga Kak Adi dipertemukan dengan
orang yang lebih baik”
“insyaAllah An, InsyaAllah,
begitupula dengan Ani”
Ya Rabb..
*bersambung
Monday, 24 December 2012
Dilema. #1
Sebaris sms itu masuk dan membuatku
bingung. Akupun terduduk sekejap menyadari bahwa sepertinya kakak ini tidak
main-main.
“Ani, udah siap? Saya mau serius
dengan Ani”
Tak perlu kutanya lagi apa maksudnya
dengan ‘siap’. Usia dewasa muda dengan frase ‘serius’ serta pertanyaan tentang
kesiapan, tak lebih dari pembahasan tentang pernikahan.
Siang itu matahari tak jauh beda
dengan kemarin. Sinar teriknya menambah cucuran keringat setelah kubaca sms
darinya. Ia, duh.. akupun baru mengenalnya, setidaknya belum sampai 2 tahun.
Tapi memang beberapa kali kami sempat berinteraksi dan itupun tak lebih dari
sekedar pembicaraan biasa lewat media sosial.
Akupun ingat saat pertama kali
menyapanya. Eh.. tunggu, ia atau aku dulu ya? Entahlah, yang jelas kamipun
berbincang dan di akhir pembicaraan akupun baru menyadari. Ternyata aku salah
menyapa orang..ups. untung saja dia tak tahu. :p tapi sepertinya ia tak
menyadari hal itu karena setelahnya, beberapa kali kami bertemu dalam obrolan
ringan yang tak pernah direncanakan.
Oh ya, ketika itu bulan Ramadhan,
dan kami sekeluarga berangkat mudik lebih awal untuk menghindari ganasnya jalur
pantura. Dan tebak apa yang terjadi? Ternyata tidak terlalu berpengaruh, jalur
pantura tetap padat, padahal kami berangkat H-5 lebaran. Syukurlah, mobil kami
dilengkapi pendingin ruangan, kalau tidak, ya ampun, sudah tentu jilbabku sudah
penuh dengan peluh keringat. Akupun berusaha membunuh kebosanan dengan membuka
facebook dan fasilitas chatnya via smartphone. Dan tak lama, kakak itupun
menyapaku.
“Assalamualaikum An, lagi dimana?”
“di mobil kak, lagi otw ke jawa, duh
macet”
“hoo.. mudik kemana?”
“ke pasuruan kak.”
“oh.. disana oleh-olehnya apa ya?
Saya titip oleh2 yak. Haha”
“hm.. ada sih kak, paling kerupuk2
gitu doank. Hehe. Boleh, insyaAllah, nanti gimana ngasihnya kak?”
“hoo.. nanti kita ketemu aja, di
kampus saya atau kampus Ani.”
“eh.. jangan ya kak, nanti saya
titip aja dimana gitu..”
“eh iya deh.. maaf ya, nanti kita
liat lagi gimana caranya”
“sip deh kak.. eh iya kak, udahan
dulu yak, ada yang mau dikerjain. Assalamualaikum”
“walaikumsalam”
Ya Robb, bukannya tidak mau bertemu
dengannya, tapi sepertinya pertemuan khusus berdua itu, masih agak janggal
bagiku. Dan akupun berniat, aku akan membeli oleh-oleh untuk kakak itu.
Kenanganku pun kembali berputar,
sembari keluar dari kamar, akupun mengingat kembali saat ia pertama kali
bekerja di sebuah anak perusahaan BUMN. Perusahaan yang cukup besar kurasa.
Akupun senang saat tahu bahwa tak sampai 3 bulan ia menganggur dan berhasil
mendapat pekerjaan yang sesuai dengan background pendidikannya.
“Selamat kak. Sukses selalu :) ”, sekilas pesan itu
pun tertulis di dinding facebooknya, dan ia hanya membalas dengan senyuman dan
ucapan terima kasih. Dan kurasa sejak itu kami pun jarang berinteraksi. Sekedar
menyapa lewat facebook, ataupun terkadang lewat SMS.
Kini dia mengirim SMS untuk sebuah
permintaan yang sesungguhnya berat bagiku. Ah, kenapa, tak ada alasan kuat aku
menolaknya. Ia ikhwan yang baik, tokoh di kampusnya, dengan beragam prestasi
yang terbilang ‘wow’. Tapi.. bismillah. Akupun membalas sms-nya.
“saya istikhoroh dulu ya kak, saya
mesti nanya bapak, ibu, dan Mbak Liqo dulu”
“Oke, saya tunggu ya.”
Dan akupun meminta petunjuk padaNya.
Semoga yang terbaik.
*bersambung
Subscribe to:
Posts (Atom)






