Showing posts with label kehidupan. Show all posts
Showing posts with label kehidupan. Show all posts

Wednesday, 16 September 2015

Mengakrabi Kematian

No one wants to die. Even people who want to go to heaven don't want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life's change agent. It clears out the old to make way for the new.

Mengutip perkataan Mbah Jobs di atas, sesungguhnya tak ada yang menginginkan kematian datang padanya. Bahkan orang yang katanya ingin masuk surga sekalipun, berpikir seribu kali jika ditanya mau mati sekarang atau tidak..? kecuali memang orang yang ingin sekali masuk surga dan sudah mempersiapkan diri untuk bekal sesudah mati yang mudah-mudahan mau dan ingin mati saat ini.

Siap mati bisa jadi baru satu masalah yang selesai dalam hidup seseorang. Permasalahan selanjutnya adalah keluarga dari anak, istri, orang tua, kakak, adik yang ditinggalkan. Bagaimana kehidupan mereka saat ditinggalkan nanti..? Nabi Ya'qub Alahissalam, menjelang sakaratul maut, memanggil seluruh anak-anaknya untuk berkumpul. Ada satu hal yang ingin ia wasiatkan kepada anak-anaknya.  Ya’qub AS bersabda:”Wahai anak-anakku, siapakah yang kau sembah setelahku? Maka anak-anak Ya’qub AS berkata: “Kami menembah Tuhanmu, Tuhan bapak-bapakmu (Ibrahim, Ismail dan Ishaq) yaitu Tuhan yang satu"

Perkataan nabi Ya'qub ini menyiratkan bahwa sesungguhnya bekal paling pokok yang idealnya ditinggalkan oleh seorang muslim pada kerabatnya adalah Tauhid, atau dengan kata lain keberserahan diri pada sang Robbul Alamin, tuhan semesta alam. Yang mudah-mudahan walaupun saat ditinggalkan oleh Si fulan, keluarganya dalam kondisi melarat, serba kekurangan, ataupun sebatang kara, insyaAllah Allah akan bantu untuk menggantikan peran si fulan.

Mengakrabkan diri Pada Kematian

Mengatakan bahwa "tenang saja, Allah akan menggantikan" memang lebih mudah diucapkan dibanding saat kita mengalami sendiri. Karena dulu sepertinya saya pernah mengatakan hal itu, entah cuma terbersit dalam hati atau sudah terucap. Tiga kali melihat kematian orang-orang yang Saya cintai membuat saya yakin perkataan di atas lebih sulit jika dialami secara nyata.

Desember 2014, pertama kalinya saya mengalami kematian orang yang saya cintai (baca:13 minggu itu ). Calon bayi di kandungan yang berusia masih 3 bulan, gugur karena jantungnya lemah. Maret 2015, keguguran kedua. Kali ini janin hampir tidak terlihat, karena ukurannya yang kecil. 3 bulan juga usianya, sama seperti kakaknya.

Ketiga kalinya bulan ini, 13 September 2015, adik kandung saya, Era Perkasa Lanomi, wafat di Jakarta, tepatnya di RS Pusat Otak Nasional Cawang, setelah 11 hari berjuang pasca operasi darurat pemasangan selang untuk mengeluarkan cairan di otak yang tersumbat akibat tumor yang membesar. Sebelumnya, almarhum sudah siap untuk operasi pengangkatan tumor, dan tinggal menunggu jadwal operasi, tapi Allah berkehendak lain, ia belum sempat melakukan operasi tersebut dan terlebih dulu dipanggil olehNya.

Ketiga kematian tersebut memiliki kesan dan rasa sakit yang berbeda, masing-masing memiliki porsi yang besar dalam menguras rasa penyesalan dan ketidakberdayaan. Sehingga ujung-ujungnya, memang harus dikembalikan pada Allah, innalillahi wa inna ilaihi rojiun, jika tidak..? mungkin saja frustasi, kesedihan berkepanjangan, depresi yang akhirnya menganggu ritme hidup.

Padahal jika kita akhirnya akan kembali padaNya, pasti tiap apa-apa yang diambilnya entah seorang hamba, harta, atau yang lain, akan ditempatkan dan dikumpulkan sesuai dengan fitrahnya. Harta yang halal, insyaAllah akan kembali pada si empunya, jika tidak di dunia, mudah2an di akhirat. Orang-orang baik, insyaAllah akan dikumpulkan dengan orang baik, jika tidak di dunia, mudah-mudahan di akhirat kelak.

Pada akhirnya tiga kali mengakrabkan diri pada kematian memberikan saya keyakinan bahwa jika memang tidak berjodoh dengan adik, dan calon anak saya di dunia ini, mudah-mudahan, insyaAllah, Allah robbul alamin memberikan saya kesempatan untuk bercerita dan bercengkrama lagi dengan mereka kelak di akhirat. Karena sesungguhnya dunia ini sepertinya makin tua, dan tidak lama lagi umurnya, karena sesungguhnya makin lama, tiap hari, ujung-ujungnya kita akan semakin dekat dengan kematian yang juga akan mendatangi kita.


Selamat jalan Adikku, Era Perkasa Lanomi. Kelak kita akan banyak bercerita di tempat yang tak ada lagi kesedihan dan kesakitan, InsyaAllah, mudah-mudahan jika Allah memberkati di surgaNya kelak. aamiin.  




Thursday, 7 November 2013

Erika Hapsari



Hm..

Oke, secara de facto dia adalah adik kelas saya, junior lah kalau orang-orang menyebutnya. Junior di kampus. Tapi kok ketika dulu di kampus saya jarang ngeliat dia ya??.. hm.. entah saya yang kurang gaul atau memang ruang lingkup aktivitas kami yang berbeda, dia lebih sering main ke pusgiwa dan saya ke student center psikologi, tapi yang jelas, namanya sudah cukup familiar di telinga saya. Erika Hapsari..

Yup, Erika Hapsari. Wanita anggun asal malang dengan wajah yang memancarkan binar keceriaan. Sejak email dari temannya (yang termasuk teman saya juga), tentang informasi dan profile dirinya masuk ke inbox saya, sayapun mengetahui tentang dirinya lebih jauh dari sekedar bahwa ia adalah mahasiswi yang smart dengan title Mahasiswa berprestasi dengan segudang aktivitas kemahasiswaan. Ah ternyata ia yang saya cari selama ini.

Profilenya saya baca berulang kali, berulang kali, dan berulang kali. Sungguh bahagia sekali bila anak saya nanti beribukan seorang wanita yang luar biasa seperti ini. Bismillah, dengan istikhoroh dan berbagai masukan dari banyak informan, sayapun bertekad, she is the one.

**
Saat itu pertengahan januari, seminggu setelah berkonsultasi dengan sang khaliq, sayapun memutuskan untuk bertemu dengannya. Di sebuah rumah makan ditemani oleh dua orang teman yang sekaligus pasangan suami istri. Disana saya bertatap muka langsung dengannya, bertanya lebih lanjut dan mengklarifikasi banyak hal. Hm.. sangat menyenangkan. Sayapun menyampaikan bahwa, “oke, kita masing-masing istikhoroh dulu, insyaAllah setelah itu kita akan saling mengabari”

Seminggu setelah pertemuan itu, sayapun kembali istikhoroh. Sungguh, untuk yang satu ini, dia yang insyaAllah terbaik sebagai pendamping hidup, saya serahkan sepenuhnya pada Allah. Biarlah sang khaliq yang memilihkan. Dan dengan bertawakal padaNya, sayapun memutuskan untuk melanjutkan proses ini. Tapi itu baru dari saya, sedangkan ia belum tahu seperti apa. Apakah bersedia untuk melanjutkan proses ini atau tidak. Awalnya rasa harap dan keinginan untuk bersamanya tak terlalu besar, biasa saja, tapi entah kenapa Allah seperti sudah menitipkan rasa itu pada saya. Dan rasa itu makin besar. Semoga ia menerima.

Dan ternyata, ia bersedia untuk melanjutkan proses ini. Alhamdulillah, selanjutnya kamipun mulai membicarakan hal yang lebih detail via email atau sms terkait dengan proses menuju jenjang pernikahan. Dan entah kenapa, semuanya berjalan lancar dan cepat. Bulan januari kami bertemu, beberapa kali diskusi, akhirnya di penghujung januari ia ke rumah saya ditemani sahabatnya, bertemu dengan orang tua  yang tidak disangka, beliau berdua cocok dengannya.

“gimana kalau kak tegar februari ke sini aja, langsung ketemu orang tuaku, sekalian lamaran juga boleh, tapi klo bisa jangan sendiri, gak usah dua-duanya dateng juga gakpapa,”

Wuih.. dan akhirnya februari disuruh ke rumahnya langsung di malang. Malam itu pun, setelah dia mampir ke rumah saya, saya mencari tiket ke pesawat promo. Tak disangka, dapat yang murah dan untuk berdua. Pesawat tiger airways, dua juta untuk dua orang, PP JKT-SBY. Murah bangettt.. ternyata ada aja jalannya.

**
Sayapun berangkat bersama ayah, hanya berdua, bertandang ke rumahnya sekaligus lamaran. Kamipun hanya membawa beberapa buah tangan, tak banyak, tapi mudah2an bermanfaat. Disana ayah sayapun mengutarakan maksud kami datang ke malang, dan Alhamdulillah, kami diterima dengan baik dan lamaran sayapun ditanggapi dengan positif.

Selanjutnya kamipun membicarakan proses menuju pernikahan, dari urusan tanggal, prosesi pernikahan dan sebagainya. Sungguh banyak kalau diceritakan dalam satu tulisan, tapi intinya, kami berdua dimudahkan. Dengan kondisi saya yang tabungannya kurang (bahkan nyaris gak ada) dan masih belum bebas financial, Alhamdulillah ada saja rejeki yang datang. Hehe.

**
5 bulan dari hari pernikahan.
Kami menikah bulan Juni, di malang, dengan resepsi yang sungguh luar biasa. Saya bersyukur bahwa Allah telah menentukan jalan terbaik bagi kami berdua untuk berkumpul sebagai satu keluarga, insyaAllah hingga ke surga kelak. Aamiin.

Dan hingga detik ini, betapa bersyukurnya saya mendapatkan anugrah bidadari penyejuk mata seperti dirinya. Wanita dengan senyuman manis yang senantiasa ridho dengan kondisi suaminya, tak banyak mengeluh dan sangat menyayangi saya dan menerima keluarga saya layaknya keluarga sendiri.  Wanita dengan sosok tangguh, luar biasa, dan penyayang.

Wanita yang bisa berkata “uangku uang mas juga" 
Atau "istri harus bisa bantu suami”
Atau “uangnya di mas aja, aku bakal minta kok kalo kurang.”
Atau “insyaAllah rejeki gak kemana mas, usaha terus ya, insyaAllah ada jalan”
Dan banyak fragmen yang saya terekam jelas dalam memori.

Banyak hal yang akan kami tempuh di tahun-tahun mendatang, bahkan mungkin masih banyak yang perlu kami ketahui satu sama lain. Tapi insyaAllah, dengan ridho Allah, kami akan lalui jalan ini berdua bersama anak-anak kami nantinya. Aamiin.

Selamat hari lahir dek, semoga sehat selalu dalam menempuh jalan hidup ini bersamaku.

Teruntuk istriku tercinta.
Erika Hapsari
:)

Monday, 15 April 2013

Mari Menulis Lagi..!

Setelah seminggu berlalu (lebih kayaknya), sayapun menyadari bahwa menulis membangun konstruksi berpikir dari lesatan ide serta opini yang ada di kepala. Hal-hal semacam peristiwa, fenomena dan sebungkus informasi yang muncul menjadi stimulus yang asyik tuk diolah. Maka saat aktivitas menulis itu berhenti, ada semacam stagnansi dari sebuah proses perbaikan diri, dan itu sangat mengganggu.

Awalnya saya sekedar ingin melihat perbedaan antara menulis dengan berhenti menulis. Aktivitas yang biasanya dilakukan dibuat hilang untuk sesaat. Harapannya, saya menjadi lebih tahu, apa kiranya yang terjadi saat sesuatu itu hilang. Karena biasanya, yang namanya manusia, baru mulai menyadari hakikat sesuatu saat sesuatu itu sirna.

Dan sayapun sadar bahwa menulis menjadi sesuatu yang penting dalam hidup saya kini. Seminggu (lebih) stop menulis menjadi momen dimana saya dibuat tak berdaya dengan segala informasi yang berlalu lalang. Mengharuskan saya secara tidak langsung untuk menelan saja informasi tersebut tanpa ada hasrat tuk merespon yang biasanya dilakukan dengan cara menulis. Padahal belakangan ini banyak peristiwa dan fenomena yang perlu dikomentari.

Menulis juga menjadi alat bagi diri saya pribadi untuk berbagi ide yang mungkin bermanfaat. Cerdas bersama dengan berbagai komentar dan masukan yang berharga. Tak melulu soal banyaknya pengunjung yang membaca tapi lebih dari itu, semoga tulisan saya bermanfaat dan memberikan inspirasi, setidaknya bagi diri saya yang perlu diberi nasihat oleh dirinya sendiri agar menjadi lebih baik.

Maka kini menulis jadi semacam terapi, untuk saling menasihati dan memberikan inspirasi. Karena menulis adalah respon saat Allah memerintahkan kita untuk membaca.


Thursday, 4 April 2013

Harapan Di Atas Harapan

Selalu ada kesempatan tuk berharap. Karena hanya lewat harapan, tiap orang memiliki kesempatan mengais mimpi yang seringkali timbul dalam angan. Seperti saat seorang pengamen jalanan yang bermimpi menjadi seorang penyanyi profesional. Selalu ada harap ditiap usahanya, bahwa suatu saat bisa saja nasib baik berpihak padanya.

Hingga pengalamannya naik-turun angkot, bus kota, dan kereta tidak sia-sia karena tiap kesempatan mengamen adalah ajang unjuk gigi penampilan dan performanya di depan khalayak penumpang. Sampai suatu saat ajang pencarian bakat menjadi titik balik dalam hidupnya dan memang harapan kan selalu ada. Ia mendapat kemenangan berkat hasil usaha dan tentunya kegigihan dalam berharap.

Tapi memang, harapan dan kenyataan tak selalu berbanding lurus. Kadang kala semuanya berjalan mulus hingga tiap harapan yang terselip dalam mimpi dan doa berbuah manis, harapan itu terwujud. Namun tak sedikit pula yang harus merelakan dan mengikhlaskan diri saat harap yang diinginkan tak terwujud sempurna dalam kenyataan. Ternyata tiap usaha, tiap peluh yang keluar dalam usahanya menggapi mimpi tak tergapai indah.

Sebagian orang ada yang merelakan mimpinya pergi melayang, menyerah pada kondisi yang tak memihak dan menganggapnya sebagai nasib buruk. Harapannya putus, seolah tak tahu lagi bahwa terbentang banyak harap di tiap kesempatan yang datang. Lain hal dengan sebagian yang lain, dimana mereka menginsyafi bahwa selalu ada harap di tiap kondisi.

Karena harapan kan selalu ada, karena harapan tak mengenal kata menyerah. Harapan tertinggi yang sempurna atas segala jerih payah yang selama ini tak kunjung menuai hasil. Jika memang satu harap tak terwujud, masih ada harap yang lain, jika belum juga, harap itu masih ada, terus berharap sampai tak terhitung jumlahnya. Hingga nantinya, konsistensi berjuang dalam tiap harapan mencapai titik tertinggi, penilaian yang sempurna dari Tuhan semesta alam. Harapan di atas harapan.


Wednesday, 3 April 2013

Trotoar Jalan



Sesekali mengarahkan pandang ke trotoar jalan mungkin saja memberi perspektif berbeda pada diri kita dalam melihat dunia. Tak melulu soal siapa dan bagaimana seseorang berpacu di keramaian jalan raya karena ada kalanya melambat berjalan di sebuah trotoar menjadi sesuatu yang menyenangkan tuk dilakukan.

Trotoar jalan kini memiliki banyak fungsi. Yang awalnya digunakan para pejalan kaki kini beralih peran menjadi tempat berjualan para pedagang, tempat berkumpulnya anak-anak jalanan, dan sesekali menjadi jalur lintasan motor saat kemacetan muncul di sepanjang jalan.

Tak mengapa jika kini fungsi utama trotoar lambat laun teralihkan, karena memang hanya trotoar jalan yang menerima mereka dengan kesediaan hati sepenuhnya. Dikala jaminan berusaha dan berniaga tak lagi jelas datangnya, merekapun mengaisnya di daerah tempat orang-orang memperhatikan mereka, di tempat orang-orang berlalu lalang. Dikala hangatnya keluarga dan rumah tempat bernaung tak lagi ada, trotoar jalan memberikan tempat bagi anak-anak jalanan menunjukkan keberadaan mereka. Di saat kemacetan parah mulai muncul di sepanjang jalan, trotoar pun menjadi alternative para pengendara motor yang frustasi dengan kondisi jalan yang semrawut.

Mungkin bagi beberapa orang mereka-mereka ini hanya mengganggu para pejalan kaki. Yang semestinya mendapatkan hak untuk dapat menikmati kenyamanan berjalan kaki. Tapi tak dapat dipungkiri saat berjalan kaki dan melambatkan diri seorang pejalan kaki dapat melihat dengan jernih kondisi yang ada disekitarnya. Mencoba memberi makna bahwa ternyata ada hal-hal terpinggirkan yang tak dapat ditangkap kala melajukan kendaraan di jalan raya yang serba cepat.

Jadi tak selamanya bersungut-sungut itu tepat, kala trotoar makin ramai dengan pedangang, anak-anak jalanan, atau bahkan pengendara motor yang nekat. Karena ternyata negeri ini belum dapat memberikan tempat bagi mereka hingga terpinggirkan sampai di tepi trotoar jalan.

Tuesday, 2 April 2013

Polisi Tidur



Sungguh lucu melihat polisi tidur di tikungan jalan depan rumah nenek saya ini. Mungkin karena trauma dengan suara bising dari motor dan mobil yang melintas akhirnya mereka pun membuat polisi tidur sebanyak tujuh buah dengan jarak yang tak sampai 2 meter antara satu polisi tidur dengan polisi tidur yang lainnya. Sudah dapat dibayangkan bagaimana ungkapan hati para pengendara yang lewat di jalan itu, entah sumpah serapah, atau sejenak bersabar sepenuh hati, tapi yang jelas, melintas di jalan itu, sungguh sangat menyebalkan.

Mungkin bagi saya pribadi tak terlalu masalah mengendarai motor di jalur polisi tidur semacam itu, tapi apa jadinya jika ada beberapa diantara mereka yang melintas di sana dihadapkan pada kondisi terburu-buru, panik, atau mungkin diantara mereka ada ibu-ibu mengandung dan hamil tua. Entah mengapa, sedikit saja ketenangan mereka terganggu, membuat egoisme merajai akal pikiran dan tanpa pikir panjang membuat tanggul besar dengan jarak yang berdempetan.

Tapi bisa saja mereka yang memiliki rumah di sepanjang jalan itu, memiliki trauma tersendiri yang membuat mereka kalap dan membuat tanggul polisi tidur sebanyak itu. Karena mungkin sudah beberapa kali peringatan untuk tidak melaju cepat di di jalan itu hanya ditanggapi santai dan tak dianggap oleh para pengendara, padahal jelas-jelas papan peringatan telah menuliskan semuanya “jangan ngebut, hati-hati banyak anak kecil” tapi tetap saja hal itu tak ada pengaruhnya.

Maka tak heran, mereka pun meminta bantuan polisi, menghentikan laju kendaraan yang melaju cepat. Karena biasanya dinegeri ini yang namanya polisi memang identik dengan aktivitas memperlambat kendaraan yang melintas, jadi wajar saja jika tanggul tinggi sekalipun yang berfungsi tuk mengurangi kecepatan kendaraan dinamai dengan sebutan polisi tidur. Hehe.

Bah.. apapun alasannya, tetap saja yang namanya polisi tidur tak dapat seenaknya dibuat dan dibangun. Pertama, sudah ada peraturan yang mengatur tata cara mendirikan polisi tidur, hingga tak dapat sesuka hati membangun polisi tidur di tengah jalan (coba cek keputusan menteri perhubungan No.3 tahun 1994, silahkan googling). Lalu yang kedua, jalan di depan rumah anda bukan milik anda, ia milik umum yang kebetulan berada di depan rumah anda. Jadi sungguh mengherankan saat beberapa orang dengan santainya mendirikan polisi tidur seenak udelnya.

Mungkin pengaruh budaya, atau mungkin karakter, karena polisi tidur yang tak beraturan begitu banyak di kota ini. Mungkin masing-masing kita harus kembali merenung dan menginsyafi bahwa egoisme tak tertahankan membuahkan polisi tidur yang disebabkan oleh para pengendara egois yang tak tahu aturan dan kurang ajar.

Friday, 29 March 2013

Ular Tangga Kehidupan

Ada yang masih ingat permainan ular tangga? sebuah permainan dadu yang dimainkan oleh 2 orang atau lebih di sebuah papan bergambar ular dan tangga. Permainan dimulai dari kotak nomor 1 bertuliskan kata 'start' hingga berakhir di kotak nomor 100 yang berarti finish atau selesai. Lalu gambar tangga dan ular fungsinya apa? tangga dan ular adalah simbol bagi si pemain untuk naik ataupun turun dari kotak yang ditempatinya berdasarkan undian dadu. Jika seorang pemain berhenti di kotak yang terdapat tangganya, berarti 'orang-orang'-an si pemain naik tangga hingga kota di atasnya, dan sebaliknya kalau berhenti di kotak yang terdapat ularnya, berarti dia turun hingga kotak di bawahnya.

Permainan ini praktis tidak membutuhkan skill yang mumpuni, karena untuk memenangkan permainan hingga finish di kotak nomor 100 hanya ditentukan oleh nomor dadu yang dilemparkan keluar dari gelas kecil. Semakin besar nomor dadu yang keluar, semakin banyak langkah 'orang-orang'-an si pemain menuju garis finish. Selain itu, faktor keberuntungan juga menjadi salah satu aspek yang berperan besar dalam permainan, semakin sering menaiki tangga di dalam papan, semakin cepat pula menuju kotak finish kemenangan nomor 100. Sebaliknya, kalau terlalu sering berhenti di kotak yang terdapat gambar ular, otomatis semakin jauh dari garis finish karena harus turun ke kotak nomor yang lebih rendah dibawahnya.

Sekedar mengisi waktu luang dan bersantai sejenak dengan bermain ular tangga bersama teman dan orang terdekat memang cukup menyenangkan. Setidaknya menguji sejauh mana keberuntungan dan strategi kita dalam mengocok dadu berbuah kemenangan dalam permainan. Jika kita cukup beruntung, kita akan dengan mudahnya mendapatkan nomor dadu yang besar hingga dapat melangkah lebih banyak, ditambah lagi jika kita berhenti di kotak tangga, tentunya akan semakin cepat bagi kita mencapai finish dan kemenangan.

Tapi yang namanya permainan, kita tak selalu berada di atas, kadangkala harus jatuh dan berakhir dengan kekalahan. Beberapa orang ada yang bertekad menyelesaikan hingga garis finish walau sudah pasti kalah karena berada di urutan paling buncit, paling terakhir mencapai finish. Dan beberapa orang lainnya justru berhenti ditengah jalan, menyerah dan memutuskan untuk tidak melanjutkan permainan.

Serupa dengan ular tangga, kehidupan tak jauh berbeda dengan permainan ini. Kadangkala nasib baik menghampiri kita hingga mengantarkan kita menuju tujuan dan cita-cita yang selama ini diimpikan, namun sebaliknya kadangkala nasib buruk itu datang dan membuat kita jatuh sejadi-jadinya, kalah sehina-hinanya. Ada orang-orang yang konsisten melangkah sampai titik finish walau dengan berdarah-darah penuh penderitaan, dan ada pula yang berhenti ditengah jalan dan mengaku kalah tak ingin melanjutkan kehidupan.

Begitulah memang ular tangga versi manusia, selalu ada kompetisi, dan selalu ada aturan yang mengekang. Akan sangat berbeda jika ular tangga diperankan sendirian oleh seseorang dan ia menjadi pemain tunggal di dalam permainan. Tentunya akan lebih leluasa dan tak ada aturan yang membatasi. Mau melangkah berapapun tak ada yang protes dan mau naik turun kotak sebanyak apapun tak jadi masalah, karena si orang menjadi pemain tunggal.

Sama halnya dengan Allah Ta'ala, si pemain tunggal dalam kehidupan, tak ada lawan dan tiada banding. Jika Ia telah berkata 'jadi' maka jadilah. Jika Ia memutuskan sesuatu maka terwujudlah. Maka tak heran akan sangat menyenangkan jika kita menjadi pion dan 'orang-orang'-an yang dimainkan olehnya, jika Ia senang kepada kita, betapa hidup ini akan penuh keberkahan dan ketenangan, karena sudah pasti kemenangan akan kita raih.

Sekarang tinggal kita yang memutuskan, berupaya ikut kompetisi ular tangga kehidupan bersama manusia lain tanpa ada andil Allah di dalamnya, atau berserah diri pada aturanNya dan melerakan hidup tuk 'dimainkan' olehNya. 

Karena tak ada pemain dan aturan yang dapat membatasiNya.

Wednesday, 27 March 2013

Populer di Mata Penghuni Langit

"Kau lihat Abdullah ? Sedekahnya di sore itu menjadi buah bibir diantara kita. Saat ia menyisihkan setengah gajinya untuk saudara-saudaranya di Rohingya dan Palestina. Padahal aku tahu persis bahwa saat itu ia butuh uang untuk mengobati ibunya yang sakit. ah..Semoga keberkahan selalu tercurah padanya."

"oh ya? kurasa beberapa hari ini Abdullah juga berhasil meraih simpatiNya saat ia sujud bersimpuh di gelapnya malam. Kau lihat betapa tangisannya menarik hatiku tuk menemani, semoga segala hajatnya terpenuhi."

Percakapan dua orang malaikat itupun di dengar oleh malaikat yang lain. Ia penasaran, siapa sebenarnya si Abdullah ini? Iapun turun ke langit dunia berusaha mencari sosok Abdullah yang kini menjadi trending topic diantara penghuni langit. Beberapa saat ia mencari dan akhirnya ia pun menemukan sosok itu. Seseorang yang terlihat mengayuh sepeda di pagi buta menuju tempatnya bekerja.

Nama Abdullah kini begitu populer dikalangan malaikat. Seorang cleaning service di sebuah perusahaan swasta di Jakarta yang tiap hari berjalan menembus dinginnya pagi. Secercah harapan selalu tersemat di hatinya, semoga usahanya di pagi itu berbuah ridho dan keberkahan dariNya. Berharap nafkah terbaik dan halal untuk keluarganya.

Pekerjaannya boleh saja kurang bergengsi, status bisa jadi tak sementereng manajer di perusahaan tempatnya bekerja, dan mungkin di mata manusia, sosoknya hanya dipandang sebelah mata. Tapi tak disangka lelaki paruh baya ini begitu menarik hati seorang malaikat untuk mengenalnya lebih jauh. 

"Assalamualaikum pak, boleh saya bantu?"
"oh ya, silahkan nak"
Tak sengaja, Abdullah berpapasan dengan seorang bapak tua yang membawa sekarung bahan belanjaan dari pasar tuk dijual kembali. Ia pun membantu bapak tua itu dengan senyuman dan wajah bersahabat. Dan tak berapa lama, berita tentang kebaikan Abdullah ini melesat cepat menuju langit. Malaikat ini pun tersenyum. Masya Allah, tak heran, jika ia begitu populer di langit. Assalamualaika ya Abdullah.

--

Boleh jadi tak seorangpun yang memandang kita, dan mungkin saja nama kita tak setenar selebritas yang muncul di televisi. Namun apalah artinya itu semua, popularitas di mata manusia, jika dibandingkan nama kita yang selalu disebut diantara penghuni langit dan menjadi buah bibir diantara para malaikat.

Karena ketenaran di dunia cuma sementara.

Tuesday, 26 March 2013

Anti Mubazir Makanan

Kalau anda penggemar masakan padang seperti saya tentu tak asing lagi dengan fenomena unik yang ada di restoran nasi padang. Fenomena itu terkait dengan porsi nasi yang diberikan oleh si penjual. Jika anda makan di tempat, biasanya anda hanya akan diberikan satu centong nasi dari si uda penjual nasi padang, dan bila anda merasa kurang anda bisa meminta satu centong tambahan lagi kepada si pelayan. Berbeda saat anda membawa pulang nasi padang. Porsi nasinya lebih banyak dibandingkan anda memakan di tempat. Kenapa ya?

Ada beberapa pendapat tentang fenomena ini, ada yang bilang karena menghemat ongkos cuci piring. Jadi tak perlu repot-repot lagi mencuci piring dan menghabiskan jatah sabun. Tapi pendapat ini sepertinya terlalu berlebihan, selain karena proses mencuci piring yang tergolong simple dan nggak ribet, harga sabun cuci piringpun tak semahal itu hingga perlu dihemat-hemat sedemikian rupa. Kesannya orang padang pelit banget. hehe. Sayapun lebih setuju dengan pendapat selanjutnya ini, karena takut makanannya bersisa.

Jadi memang orang-orang kita ini adalah orang-orang yang cenderung sering menyisakan lauk dan nasi di piringnya, padahal nasi dan lauk itu masih layak untuk dimakan. Alasannya bisa berbagai macam, dan yang paling sering adalah karena sudah kenyang, karena nasi dan lauknya kebanyakan. Maka dari itu, untuk menghindari praktek-praktek menyisakan makanan dari para costumer-nya, si uda penjual nasi padang pun mengambil kebijakan untuk memberikan porsi yang sedikit saja ke piring yang disajikan hingga kemungkinan makanan yang bersisa menjadi kecil, toh harganya tetap sama jika menambah nasi ataupun tidak.

Sayapun melihat bahwa budaya yang ditanamkan kepada saya di dalam keluarga juga tak jauh beda dengan si uda penjual nasi padang. Bahwa makanan sekecil dan sesedikit apapun harus dihabiskan, karena salah-salah masuk kategori mubazir, karena mubazir temannya setan. Penekanan nilai yang sampai kini tertanam di benak saya dan adik-adik.

Mubazir tak sekedar ancamannya saja yang keras, tapi mubazir juga mengindikasikan tingkat kesyukuran seseorang terhadap nikmat yang diperolehnya, dalam hal ini makanan. Kalau ia selalu menghabiskan makanan yang disajikan setidaknya ia orang yang mampu mengungkapkan nikmat dengan cara sepatutnya. Sedangkan yang kerap menyisakan dan menyianyiakan makanan bisa jadi kurang bersyukur dengan nikmat makanan yang diperolehnya. Bersyukurlah, niscaya nikmat dariNya akan ditambahkan kepada mereka yang bersyukur.

Tapi memang menyisakan makanan bagi orang-orang kita masih terkesan biasa saja. Padahal jika dikumpulkan makanan sisa itu dari piring-piring mereka, niscaya akan terkumpul satu piring penuh nasi dan lauk, yang sangat berharga bagi mereka yang membutuhkan. Saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Ditambah lagi kita-kita ini kurang menyadari bahwa yang namanya keberkahan makanan tak ada satupun yang tahu dimana letaknya, apakah di awal kita menyantap makanan, ataukah di butir terakhir nasi yang ada di piring kita. Sehingga nantinya makanan yang berkah berbuah manfaat bagi kita, energi dan nutrisi yang bertambah dan tak berakibat buruk bagi kita seperti tekanan darah tinggi, kolesterol, jantung, dan berbagai penyakit lainnya.


Monday, 25 March 2013

Rasyad dan Riana - 2


"Yahoo Messenger Online"
"chacha accept your friend request"

Ia yang sedang menghabiskan waktu santai di dalam kamar dibuat penasaran oleh sebuah pesan yang masuk di pesan YM nya. chacha?sejak kapan aku menambahkan orang ini dalam kontakku?. 

"Halo, salam kenal riana"
chacha, ia menyapa Riana. Sesaat lalu baru saja ia masuk dalam daftar kontak Riana, dan kini ia telah membuka percakapan. Tak ada salahnya, Riana pun membalas salam dari chacha.

"Halo chacha, salam kenal juga, ngomong-ngomong saya yang ngeadd kamu ya?"
bodoh, pertanyaan yang tidak masuk akal. Tentu saja Riana menyadari bahwa ialah yang menambahkan orang itu dalam daftar kontaknya, perkara kapan dan bagaimana ia menambahkan chacha di dalam pertemanan YM-nya, itulah yang harus ia cari tahu.

"haha. ya iya lah, aku kan hanya meng-approve saja. Jadi riana, kamu penggemar sheila juga?"
Pertanyaan chacha mengurungkan keinginan Riana yang penasaran tentang proses dirinya menambahkan orang itu dalam pertemanan, si orang ini tahu bahwa ia penggemar Sheila on 7.

"tahu darimana saya penggemar sheila?"

"simple, status YM kamu menceritakan semuanya. Siapa yang kamu tunggu di jakarta? kamu lagi di luar kota?"
Riana pun menyadari, status YM nya mengambil lirik lagu sheila. Tunggulah aku di jakartamu, tempat labuhan semua mimpiku.

"bukan siapa-siapa, orang yang nggak penting."
Riana pun kembali mengingat saat-saat itu, tatkala harapannya hanya tinggal angan kosong belaka. Orang itu menjauh pergi dan berjalan bersama yang lain. Status YM ini ternyata sudah sangat lama. Telah dua bulan berjalan dan chacha, orang ini membuatnya kembali mengenang cerita kelam yang ingin ia pendam selamanya.

"Saya lagi di jakarta, itu status sudah lama nggak diganti. btw, kamu ini cowok apa cewek sih? dari gaya nulisnya sih sepertinya cowok ya, "

"hoo,, itu status lama toh, hm.. kira-kira gimana? pantesnya cowok apa cewek?"

"lah.. terserah sih, tapi zaman sekarang, lagi trend cowok ke cewek-cewek an gitu loh. haha"

"haha..dasar.. iya, aku cowok"

"oh cowok toh, tapi kok namanya imut-imut gitu ya, chacha.. haha"

"ah seperti biasa, satu dari beberapa hal yang membuat saya malas memakai akun YM ini, maklum lah, nama asli saya bila dibikin imut dan manja ya bisa dibaca chacha, dan mari kita cukupkan pembahasan nama akun ini. seperti kata shakespeare, apalah arti sebuah nama akun YM. haha"

"yee. ngarang aja, shakespeare zaman kapan tuh.."

"Shakespeare zaman Facebook, shakespeare gaul.."

dan selanjutnya, Riana dan chacha larut dalam obrolan yang menyenangkan, sungguh menyenangkan.

--

"chacha is offline"

Beberapa minggu ini, sejak malam itu, chacha tak sekalipun muncul di daftar online kontaknya. Padahal Riana berharap, chacha dapat menemaninya bercerita setelah penatnya bekerja. Ia rindu, ada rasa yang kian tumbuh yang berharap lebih dari sekedar bercakap lewat dunia maya. Namun entah mengapa, chacha menghilang beberapa minggu ini. Riana pun berdiri dan mengambil sebuah buku dari dalam tasnya, buku tebal karya Chairil Anwar yang baru saja diberikan Pak Rasyad kepadanya. Sebuah perhatian dari pak Rasyad yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. ah seandainya kau ada cha, akan banyak cerita dariku tentang sikap pak Rasyad yang banyak berubah sejak aku meminjamkannya album-album sheila.

"chacha is online"
ah dia online. Tergambar jelas raut wajah sumringah dari gadis cantik berjilbab ini.

--

Dari kejauhan, janur kuning nampak melengkung di depan gedung pertemuan di daerah gatot subroto Jakarta Pusat. semoga ini yang terbaik untukmu ri. Perlahan mobil Rasyad memasuki pelataran depan gedung bidakara dan lambat laun menuju halaman parkir di belakang gedung.

Dengan setelan jas rapih, Sosok tegap nan gagah itupun memasuki gedung dengan perasaan yang campur aduk. Entah bagaimana caranya, iapun tak habis pikir dapat sepengecut ini. ah sudahlah, percuma semuanya sudah terjadi. Setelah menuliskan namanya di buku tamu ia pun menerima suvenir berupa gelas kecil yang bertuliskan dua inisial nama dari sang mempelai. "C dan R"

Tak tertahankan, iapun berbalik keluar, semoga kalian bahagia..Chacha dan Riana.

--

Rasyad dan Riana - 1

Saturday, 23 March 2013

The Interview



Kalau saja di zaman mereka ada semacam talk show dari hati ke hati seperti Kick Andy, Just Alvin, atau Mata Najwa, tentunya tak ada rasa penasaran dan tanda tanya tentang hidup mereka. Tapi sayangnya zaman dulu tak ada interview mendalam semacam itu, hingga sayapun bertanya-tanya tentang mereka.

Seperti para pemuda Ashabul Kahfi. Bagaimana kiranya perasaan mereka saat lari dari kaumnya? Padahal mereka cuma sekelompok pemuda yang ingin menyelamatkan akidahnya. Bagaimana caranya mereguk keyakinan hingga bertekad untuk lari dan bersembunyi dalam gua? Disaat para pemuda zaman sekarang makin jauh dari semangat keislaman. Ah saya penasaran.

Lalu bagaimana dengan Nabi Khidir, benarkah beliau berumur ratusan tahun dan masih hidup hingga kini? Apa kiranya yang membuat beliau diberi anugerah berupa usia yang sangat panjang, lalu apa tanggapan beliau melihat kondisi umat ini jika beliau masih hidup sampai sekarang. Kira-kira apa perasaan beliau saat membunuh anak kecil yang disinyalir akan mengajak orang tuanya kepada kekafiran seperti yang diceritakan di surat Al Kahfi? Apakah beliau tak merasakan sesuatu saat membunuh anak itu? Ah saya penasaran.

Seperti Iskandar Zulkarnain, benarkah Alexander Agung itu adalah beliau dalam versi romawi? Lalu bagaimana caranya membuat tembok besar dari logam untuk mencegah Ya’juj dan Ma’juj keluar? Benarkah beliau memiliki tanduk di kepalanya? Karena zulkarnain berarti yang memiliki dua tanduk. Lalu bila dibandingkan dengan Nabi Sulaiman, seper berapanya kah kekayaan beliau dibandingkan sang nabi? Hehe. Benar-benar membuat saya penasaran.

Dan yang paling penting, tentang mereka yang telah pergi ratusan tahun lalu, apa sebenarnya motif Muawiyah saat berperang melawan Ali. Benarkah Cuma sekedar ingin menuntut balas pelaku pembunuhan Utsman? Padahal jelas-jelas setelah beliau menjadi khalifah, anak keturunannya yang meneruskan kekhalifahan. Ah sungguh tak sampai pikiran saya, padahal mereka yang berperang antara Ali dan Muawiyah adalah kaum muslimin, kenapa sampai berperang? Bagaimana kiranya perasaan rasul melihat para sahabatnya saling berperang pasca wafatnya beliau.

Mungkin jawabannya hanya ada di sana, sembari duduk bertelekan permadani di tepi telaga Al Kautsar, meminum airnya yang sangat nikmat. Berbincang hangat bersama beliau-beliau para pendahulu. Bertanya kepada Rasul, para sahabat, dan orang-orang shalih itu, semoga ada kesempatan. Semoga Allah merahmati saya dan kaum muslimin untuk menggapai tempat itu.

Thursday, 21 March 2013

Selamat Hari Lahir Kawan..!

Ada rasa canggung saat bertemu kembali dengannya, untuk kali pertama sejak ia menikah beberapa bulan lalu. Saat itu hari ahad yang indah dan ia bersama sang istri menemaniku untuk sebuah pertemuan yang bersejarah, paling tidak bagi diriku pribadi.

Tapi perasaan kaku dan canggung itu hanya sesaat, seiring datangnya makanan dan minuman di rumah makan itu, kamipun kembali tergelak dalam tawa dan pertemuan yang hangat seperti dulu. Ah kawan, tak terasa waktu berlalu begitu cepat, dengan dirimu kini yang menjadi calon ayah serta ksatria cilik dikandungan istrimu ternyata banyak cerita yang telah terjadi, membuatku kembali terkenang masa-masa sekolah dulu.

Kami satu sekolah saat SD dulu, di SDN Bumi Bekasi Baru V, dan kalau tidak salah pertama kali kami bertemu saat kelas 3 atau 4 SD, akupun lupa-lupa ingat. Tapi yang jelas, pertemuan pertamaku dengannya tak mengenakkan, entah seperti apa detailnya, tapi yang jelas bukan sesuatu yang menyenangkan. Seiring berjalannya waktu, di kelas dan sekolah itu, ternyata kami memiliki banyak persamaan.

Sama-sama menyukai diskusi, bermain bola, dan bersaing untuk mendapatkan nilai ulangan yang lebih tinggi saat kelas 6 dulu. haha. Dengan kelas yang padat, hampir 50 orang lebih, maka satu meja diisi oleh 3 orang, dan saat itu aku, dia, serta temanku yang satunya lagi, Carlos Siregar, saling berlomba mendapatkan nilai ulangan yang lebih tinggi, dan entah mengapa itu hal yang sangat mengasyikkan, saat belajar memang terasa menyenangkan.

Kamipun lulus dan takdir membawa cerita baru bahwa kami berada di SMP yang kembali sama. Di masa SMP ini bakat dan cahayanya makin terlihat. Ia menjadi Ketua OSIS dengan prestasi akademik yang juga mumpuni. Berbeda denganku yang tak lebih dari sekedar siswa hilir mudik dari rumah ke sekolah. hehe. Di kelas 1 dan 2 yang berbeda, kamipun di kelas yang sama lagi di kelas 3. Dan akupun bersyukur, setidaknya pengalaman 2 tahun di SMP tidak sia-sia karena di kelas 3 kamipun satu kelas lagi, karena bertukar pengalaman dan pikiran dengannya sangat menyenangkan.

Satu pemikiran dan pemahaman tentang bagaimana SMA yang bagus itu, kamipun kembali berkumpul di SMA yang sama, SMA 1 Bekasi. Dan kamipun sepakat, atau setidaknya saya pribadi sepakat, bahwa masa SMA bisa jadi masa yang tak begitu menyenangkan dibandingkan ketika SD dan SMP dulu. Maka tak heran, kamipun lebih banyak menghabiskan waktu di organisasi, dibandingkan bergelut dalam bidang akademis. Tapi mau tak mau, ujung-ujungnya, akademis adalah tujuan akhir, dan tak terasa kamipun berada di penghujung masa putih abu-abu.

Awalnya kami ragu, bisakah menembus PTN, tapi alhamdulilla, Allah memperlihatkan kuasanya dengan meluluskan kami di PTN, dan tak disangka di PTN yang sama dan fakultas yang sama, walaupun sempat setahun ia menghabiskan waktu di bandung sana. Dan memang sepertinya kampusnya dulu tak cukup besar tuk menampung visi dan cita-citanya yang waah. Di kampus UI ini, kualitasnya sebagai individu jelas terlihat, pemikiran yang tajam, kemampuan menulis yang ciamik, dan konsistensi dalam memegang nilai-nilai prinsipil membuat sinarnya kian terlihat jelas.

Dan tak terasa akupun terbangun dari lamunan saat ia datang. Ah semoga dua sahabatku ini, menjadi jalan bagiku bertemu takdir masa depanku. Dan ternyata sejauh ini memang benar, mereka berdua yang menjadi perpanjangan tangan sang kuasa untuk diriku dan dirinya. Terima kasih.

Barakallah kawan, Jati Nantiasa Ahmad, Suami dari Dea Adhicita dan ayah dari Ksatria. Selamat hari lahir,  semoga limpahan rahmat selalu tercurah pada keluarga kecil kalian.

Thursday, 14 March 2013

Saat Usia Empat Puluh Tahun

Sebagian orang mengira hidup itu dimulai saat beranjak remaja di usia 17 tahun. Kala fisik sedang prima-primanya, saat romantika dan ketertarikan pada pasangan lawan jenis menjadi sesuatu yang menyenangkan tuk dijalani. Lalu ada sebagian lagi yang berkata bahwa usia puncak seseorang adalah saat ia beranjak menapaki usia 30 tahun. Saat kedewasaan berperan penuh, kala karir dan asmara telah terlihat jelas jalannya.

Tapi sebagian besar berpendapat, dan ini yang paling populer, Life begin in fourty. Hidup dimulai saat usia beranjak empat puluh tahun. Kalau istilah saudara saya, "kalau mau lurus, lurus sekalian. Kalau mau bejat, bejat sekalian". Sebegitu besarnya dampak dan pengaruh masa-masa usia menjelang 40 tahun hingga terkadang perlu sebuah peristiwa ataupun momen yang spektakuler untuk mengalihkan seseorang dari satu jalan keburukan kepada jalan kebaikan.

Seperti peristiwa yang dialami saudara saya ini. Suami dari sepupu saya. Hidupnya jika dideskripsikan adalah hidup yang tak jelas arahnya, tak tahu harus kemana dan berbuat apa. Hidup tak tenang, keluarga yang tak pernah damai, dan rumah yang hanya jadi tempat singgah sementara karena memang tak ada kehangatan dibawah atap rumah yang ditempatinya. Diperparah lagi dengan ibadah yang tak kunjung mengalami perbaikan, menambah beratnya hidup dan peliknya permasalahan yang dialaminya. Kekhawatiran semakin memuncak dikala usianya kini yang berusia 39 tahun, perbaikan belum terlihat sama sekali dari dirinya. Hanya doa yang mampu kami, keluarga panjatkan, semoga hidayah itu cepat datang.

Dan sampailah suatu ketika, sebuah peristiwa yang tak terduga dialami olehnya. Saat dimana nyawa seolah di ujung tanduk dan hampir terenggut. Tubuhnya lemas tak terduga, tak ada tenaga dan nafasnya sesak seolah tak ada lagi oksigen yang dapat dihirup. Kondisi kritis yang hanya mampu dibantu dengan doa-doa dari kami keluarganya, semoga ia mendapatkan kesempatan kedua. Ya, semoga saja.

Sepertinya, doa-doa itupun dijawab olehNya dengan kondisinya yang membaik, sungguh membaik. Masa-masa kritis telah berlalu dan mungkin ini cara Allah menyadarkannya dan menjadi kado tak terlupakan di usianya yang menjelang 40 tahun di bulan April nanti. Kini semuanya berubah, kehidupan rumah tangga tenang dan damai, rizqi pun halal walaupun sedikit yang penting berkah, dan yang paling penting, ibadah semakin membaik.

Semoga kau selalu istiqomah bang..

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".
QS Al Ahqof ayat 15

Wednesday, 13 March 2013

Sekelumit kisah si Calon Karyawan

Banyak harapan yang mungkin terbayang kala ia menerima telepon dari saya untuk mengikuti tahapan psikotes dan interview. Bermimpi akan sebuah perubahan dalam hidup kala nantinya berhasil melalui tahapan seleksi ini. Tak muluk-muluk, ia cuma ingin mendapatkan sebuah pekerjaan yang dapat menafkahi keluarganya. Mencoba bertahan dari kerasnya kehidupan yang kian menghimpit. Istri yang sakit, anak yang butuh susu, dan orang tua yang butuh bantuan. Beragam permasalahan dan semoga psikotes ini merupakan salah satu jalan tuk menyelesaikan semuanya.

Tapi terkadang jalan keluar yang terlihat luas membentang memiliki beberapa duri kecil yang siap menghadang. Mencoba menguji seberapa jauh tingkat kesabaran dan keuletannya dalam mencari solusi atas permasalahan hidup. Entah karena faktor usia atau karena faktor ketidakbiasaan dalam mengikuti tes psikologi, psikotes yang diikutinya bisa dibilang tak terlalu memuaskan. Di titik ini semuanya seolah kan berakhir. Namun tidak dihari ini, sepertinya Tuhan memberikannya satu kesempatan lagi.

Dalam seleksi di perusahan saya, psikotes memang menjadi pertimbangan utama. Namun saat hasilnya tak terlalu baik, kamipun dari SDM mencoba memberikan sedikit kelonggaran. Jika tidak terlalu jelek-jelek amat maka kamipun masih dapat mentolerir. Lagipula dari sisi keterbutuhan terhadap calon karyawan yang tinggi, ketersediaan jumlah calon karyawan yang minim, dan rata-rata usia pelamar yang sudah tidak lagi muda, maka tahap selanjutnya yakni interview dapat menjadi pertimbangan selain psikotes.

Maka terlihatlah sisi lainnya yang memang tak terlalu tergambarkan lewat psikotes. Skill dan kemampuannya dalam bidang marketing ternyata cukup mumpuni. Pengalaman yang lumayan di beberapa perusahaan sebelumnya memberikan sedikit keyakinan bagi kami untuk merekrut.

"Memang dari segi usia, saya sudah tidak muda lagi, tapi insyaAllah jika pekerjaan yang berhubungan dengan marketing. Saya akan dengan senang hati menjalaninya. Dan saya yakin dapat memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini"

Mendengar pengakuannya itu membuat saya tanpa ragu lagi memberikan rekomendasi bahwa si calon karyawan, layak direkrut.

Usia boleh kepala empat puluh kebawah, psikotes boleh saja tak memuaskan, tapi jika passion dan minat telah berbicara, semuanya seketika berubah. Karena hasrat, minat, dan passion ibarat bara api dalam sebuah lokomotif. Ialah tenaga, ialah pendorong bagi mereka yang fisiknya tak lagi sebugar dulu. Ialah jalan keluar sesungguhnya dari Rabb semesta alam.

Semoga berkah, semoga menjadi jalan keluar bagi peliknya permasalahan hidup. 

Monday, 11 March 2013

Antara Ikhtiar dan Hasil usaha

Rabb semesta alam memberikan tools bernama ikhtiar agar manusia menggapai hasil yang diimpikannya. Ikhtiar tersebut terbagi dua, ada yang berupa doa dan ada yang berupa usaha. Keduanya berpadu dan saling melengkapi satu sama lain, masing-masing tak dapat berjalan sendiri-sendiri. Kalaupun ada yang mampu menggapai hasil dengan salah satu jenis ikhtiar saja, dapat dipastikan hasil yang didapatkan belum tentu maksimal. Entah disebut beruntung dengan bermodal doa saja, entah disebut sombong dengan menafikan andil tuhan tanpa bermodal doa dan hanya mengandalkan usaha saja.

Diantara ikhtiar yang diupayakan dan hasil yang diinginkan terdapat sebuah ruang, dimana manusia tak mampu memegang kendali apapun atas apa yang direncanakan dan diusahakannya. Di ruang itulah manusia menyadari bahwa sebaik-baiknya mereka berusaha dan sekeras-kerasnya mereka berdoa ada sebuah kekuatan yang menentukan hasil akhirnya. Maka di ruang inilah manusia bersikap, melapangkan hati atas segala hasil yang nantinya mereka dapatkan, atau merasa was-was dan khawatir atas segala capaian yang mereka harapkan.

Mereka yang melapangkan hati dan berpikir positif atas segala hasil yang nantinya mereka dapatkan, baik itu hasil yang sesuai harapan atau hasil yang buruk, memiliki tingkat kebahagiaan yang berlipat dan ketenangan dalam jumlah maksimum, tak ada rasa sesal karena ia yakin tugas manusia adalah berusaha dan selebihnya serahkan pada yang maha kuasa untuk segala hasilnya.

Sedangkan mereka yang seringkali khawatir akan hasil yang mereka harap-harapkan, selalu diliputi ketidaknyamanan dalam menunggu hasil, mood yang buruk dan kemarahan yang kadang muncul sesekali. Maka tak mengenakkan menunggu dengan kondisi seperti ini, sudah hasilnya belum pasti didapatkan, pikiranpun terbebani dengan rasa was-was yang semakin menjadi.

Maka menunggu di sebuah ruang, antara ikhtiar dan hasil, ibarat duduk manis menunggu nomor antrian. Percuma juga merasa was-was dan khawatir toh nantinya kita akan mendapatkan hasil sesuai nomor antrian. Jadi duduk manis dengan penuh ketenangan sembari membaca dan melakukan hal-hal yang kita sukai merupakan sesuatu yang asyik untuk kita lakukan dalam menunggu nomor antrian. Hingga nantinya apapun hasil dari antrian yang kita tunggu-tunggu, tak membuat kita merasa kecewa karena setidaknya usaha, doa dan keikhlasan hati padaNya jadi sesuatu yang berharga saat kita melangkah menuju ruang antrian, ruang tunggu antara ikhtar dan hasil.

Thursday, 7 March 2013

What doesnt kill you makes you taubah

Sebelumnya hidup hanya dipandang enteng olehnya. Dengan kondisi fisik yang prima dan finansial yang kuat membuatnya merasa jumawa. Seolah dunia tergenggam erat di tangan dan sebebas mungkin dikendalikannya sesuka hati. Tak ada yang namanya kekhawatiran yang ada hanya kepuasan mereguk kenikmatan yang dianugerahkan padanya. Maka hidup sekedar dimaknai dalam lingkup kesenangan diri, tak peduli bagaimana kondisi sekitar yang jelas dirinya dapat bersenang-senang, terlebih kini dimana aturan Tuhan pun diabaikan saat keterlenaan dunia memabukkannya.

Usianya masih tergolong muda, 40 tahun. Untuk ukuran seorang ayah yang sudah memiliki anak berusia 15 dan 11 tahun, fisiknya masih terbilang prima. Tapi entah mengapa, beragam kemudahan dunia seolah tak memberikannya ketenangan. Rumah tangga yang tak pernah sepi dari pertengkaran, dan keresahan yang kerap menghampiri. Ketiadaan alternatif solusi membuatnya makin larut dalam kesenangan yang membutakan, membuatnya makin jauh dari Tuhan yang justru menambah peliknya persoalan yang dihadapinya.

Entah tiga bulan, atau mungkin dua bulan yang lalu, tubuhnya lunglai tak bertenaga. Dirinya yang sedang mengendarai sepeda motor tiba-tiba saja terjatuh tanpa ada kekuatan tuk menopang tubuh dan berat motor. Awalnya tak ada kesan khusus dari peristiwa yang dialaminya, menganggap hal itu dikarenakan kondisi tubuhnya yang tidak fit. Perlahan, sebuah kejadian yang bisa jadi sebuah alarm peringatan hanya dianggap angin lalu olehnya, maka kini satu per satu beragam penyakit mempreteli kesehatannya.

Kesehatan yang menurun memaksanya untuk mengurangi aktivitas yang secara tak langsung membatasi dirinya dalam bekerja. Tak ada perubahan berarti di ragam usaha yang dilakukan agar dirinya kembali prima, dan tak terasa tidak ada lagi pemasukan keuangan akibat kondisinya yang menganggur. Tubuhnya pun makin ringkih, beragam penyakit mulai terdiagnosis menyerang dirinya. Gangguan ginjal, hati, dan penyakit gatal eksim di kaki membuatnya merana, tak ada lagi kesenangan yang dulu dinikmati, kini hanya keputusasaan yang makin menjadi.

Puncaknya seminggu yang lalu. Tubuhnya terkapar tak berdaya di tempat tidur tanpa ada tenaga tuk bergerak. Tubuhnya lumpuh tanpa tahu apa sebabnya. Dada sesak dan lambat laun kesadaran pun perlahan hilang. Ia dengan segera dibawa ke ke UGD rumah sakit. Dokter pun belum dapat mendiagnosis apa penyakit yang dideritanya, kamar ICU yang penuh dan ruang UGD yang minim peralatan membuatnya dirawat seadanya. Kondisinya makin kritis saat perlahan denyut jantung dan nafasnya menurun. Suasana saat itu sungguh sangat mencekam. Si istri yang setia mendampingi hanya dapat menguatkan dan meminta si suami tetap kuat dan terus berusaha melawan sakitnya.
"Ayo pa, ingat adek, ingat abang. kamu sayang kan sama mereka berdua. jangan pergi. tolong jangan pergi"
Si istri hanya menangis di tengah usaha dokter memberi pertolongan.

Seluruh keluarga berdoa untuk kesembuhannya. Tak ada lagi harapan kecuali meminta sang Khaliq memperpanjang usianya, karena tiap orang sangat mengetahui bagaimana hidupnya semasa sehat dulu. Semoga ada setitik keajaiban untuknya. Semoga ada kesempatan kedua baginya. Dengan lafadz tahlil, tahmid, tasbih dari si istri yang setia mendampingi di sisinya, ia pun mencoba mengikuti ucapan-ucapan yang dibimbing sang istri. Kalimat-kalimat yang dulu pernah diabaikannya yang kini menjadi satu-satunya harapan agar Tuhan berbaik hati padanya.

--

2 minggu kemudian

Wajah sumringah terpancar jelas dari raut mukanya. Ia tampak lebih segar dari biasanya, dan yang pasti ada semacam cahaya yang jelas terlihat dari dirinya.
"Jangan lupa ingatkan aku ya, takut lupa kalau sudah bekerja"
Sang istri hanya mengangguk pelan disertai senyuman, tanda kebahagiaan bahwa si suami telah banyak berubah.
"Iya insyaAllah pa, jangan lupa bawa sajadah ya. dimanapun kamu sempat, luangkan waktu disela-sela kesibukan"
Disertai kecup manis dikening sang istri, ia pun pergi melangkah, disertai harapan dari sebuah kehidupan baru. Kesempatan kedua dariNya. Semoga Istiqomah.