Showing posts with label Tauhid.. Show all posts
Showing posts with label Tauhid.. Show all posts

Friday, 29 March 2013

Ular Tangga Kehidupan

Ada yang masih ingat permainan ular tangga? sebuah permainan dadu yang dimainkan oleh 2 orang atau lebih di sebuah papan bergambar ular dan tangga. Permainan dimulai dari kotak nomor 1 bertuliskan kata 'start' hingga berakhir di kotak nomor 100 yang berarti finish atau selesai. Lalu gambar tangga dan ular fungsinya apa? tangga dan ular adalah simbol bagi si pemain untuk naik ataupun turun dari kotak yang ditempatinya berdasarkan undian dadu. Jika seorang pemain berhenti di kotak yang terdapat tangganya, berarti 'orang-orang'-an si pemain naik tangga hingga kota di atasnya, dan sebaliknya kalau berhenti di kotak yang terdapat ularnya, berarti dia turun hingga kotak di bawahnya.

Permainan ini praktis tidak membutuhkan skill yang mumpuni, karena untuk memenangkan permainan hingga finish di kotak nomor 100 hanya ditentukan oleh nomor dadu yang dilemparkan keluar dari gelas kecil. Semakin besar nomor dadu yang keluar, semakin banyak langkah 'orang-orang'-an si pemain menuju garis finish. Selain itu, faktor keberuntungan juga menjadi salah satu aspek yang berperan besar dalam permainan, semakin sering menaiki tangga di dalam papan, semakin cepat pula menuju kotak finish kemenangan nomor 100. Sebaliknya, kalau terlalu sering berhenti di kotak yang terdapat gambar ular, otomatis semakin jauh dari garis finish karena harus turun ke kotak nomor yang lebih rendah dibawahnya.

Sekedar mengisi waktu luang dan bersantai sejenak dengan bermain ular tangga bersama teman dan orang terdekat memang cukup menyenangkan. Setidaknya menguji sejauh mana keberuntungan dan strategi kita dalam mengocok dadu berbuah kemenangan dalam permainan. Jika kita cukup beruntung, kita akan dengan mudahnya mendapatkan nomor dadu yang besar hingga dapat melangkah lebih banyak, ditambah lagi jika kita berhenti di kotak tangga, tentunya akan semakin cepat bagi kita mencapai finish dan kemenangan.

Tapi yang namanya permainan, kita tak selalu berada di atas, kadangkala harus jatuh dan berakhir dengan kekalahan. Beberapa orang ada yang bertekad menyelesaikan hingga garis finish walau sudah pasti kalah karena berada di urutan paling buncit, paling terakhir mencapai finish. Dan beberapa orang lainnya justru berhenti ditengah jalan, menyerah dan memutuskan untuk tidak melanjutkan permainan.

Serupa dengan ular tangga, kehidupan tak jauh berbeda dengan permainan ini. Kadangkala nasib baik menghampiri kita hingga mengantarkan kita menuju tujuan dan cita-cita yang selama ini diimpikan, namun sebaliknya kadangkala nasib buruk itu datang dan membuat kita jatuh sejadi-jadinya, kalah sehina-hinanya. Ada orang-orang yang konsisten melangkah sampai titik finish walau dengan berdarah-darah penuh penderitaan, dan ada pula yang berhenti ditengah jalan dan mengaku kalah tak ingin melanjutkan kehidupan.

Begitulah memang ular tangga versi manusia, selalu ada kompetisi, dan selalu ada aturan yang mengekang. Akan sangat berbeda jika ular tangga diperankan sendirian oleh seseorang dan ia menjadi pemain tunggal di dalam permainan. Tentunya akan lebih leluasa dan tak ada aturan yang membatasi. Mau melangkah berapapun tak ada yang protes dan mau naik turun kotak sebanyak apapun tak jadi masalah, karena si orang menjadi pemain tunggal.

Sama halnya dengan Allah Ta'ala, si pemain tunggal dalam kehidupan, tak ada lawan dan tiada banding. Jika Ia telah berkata 'jadi' maka jadilah. Jika Ia memutuskan sesuatu maka terwujudlah. Maka tak heran akan sangat menyenangkan jika kita menjadi pion dan 'orang-orang'-an yang dimainkan olehnya, jika Ia senang kepada kita, betapa hidup ini akan penuh keberkahan dan ketenangan, karena sudah pasti kemenangan akan kita raih.

Sekarang tinggal kita yang memutuskan, berupaya ikut kompetisi ular tangga kehidupan bersama manusia lain tanpa ada andil Allah di dalamnya, atau berserah diri pada aturanNya dan melerakan hidup tuk 'dimainkan' olehNya. 

Karena tak ada pemain dan aturan yang dapat membatasiNya.

Wednesday, 27 March 2013

Populer di Mata Penghuni Langit

"Kau lihat Abdullah ? Sedekahnya di sore itu menjadi buah bibir diantara kita. Saat ia menyisihkan setengah gajinya untuk saudara-saudaranya di Rohingya dan Palestina. Padahal aku tahu persis bahwa saat itu ia butuh uang untuk mengobati ibunya yang sakit. ah..Semoga keberkahan selalu tercurah padanya."

"oh ya? kurasa beberapa hari ini Abdullah juga berhasil meraih simpatiNya saat ia sujud bersimpuh di gelapnya malam. Kau lihat betapa tangisannya menarik hatiku tuk menemani, semoga segala hajatnya terpenuhi."

Percakapan dua orang malaikat itupun di dengar oleh malaikat yang lain. Ia penasaran, siapa sebenarnya si Abdullah ini? Iapun turun ke langit dunia berusaha mencari sosok Abdullah yang kini menjadi trending topic diantara penghuni langit. Beberapa saat ia mencari dan akhirnya ia pun menemukan sosok itu. Seseorang yang terlihat mengayuh sepeda di pagi buta menuju tempatnya bekerja.

Nama Abdullah kini begitu populer dikalangan malaikat. Seorang cleaning service di sebuah perusahaan swasta di Jakarta yang tiap hari berjalan menembus dinginnya pagi. Secercah harapan selalu tersemat di hatinya, semoga usahanya di pagi itu berbuah ridho dan keberkahan dariNya. Berharap nafkah terbaik dan halal untuk keluarganya.

Pekerjaannya boleh saja kurang bergengsi, status bisa jadi tak sementereng manajer di perusahaan tempatnya bekerja, dan mungkin di mata manusia, sosoknya hanya dipandang sebelah mata. Tapi tak disangka lelaki paruh baya ini begitu menarik hati seorang malaikat untuk mengenalnya lebih jauh. 

"Assalamualaikum pak, boleh saya bantu?"
"oh ya, silahkan nak"
Tak sengaja, Abdullah berpapasan dengan seorang bapak tua yang membawa sekarung bahan belanjaan dari pasar tuk dijual kembali. Ia pun membantu bapak tua itu dengan senyuman dan wajah bersahabat. Dan tak berapa lama, berita tentang kebaikan Abdullah ini melesat cepat menuju langit. Malaikat ini pun tersenyum. Masya Allah, tak heran, jika ia begitu populer di langit. Assalamualaika ya Abdullah.

--

Boleh jadi tak seorangpun yang memandang kita, dan mungkin saja nama kita tak setenar selebritas yang muncul di televisi. Namun apalah artinya itu semua, popularitas di mata manusia, jika dibandingkan nama kita yang selalu disebut diantara penghuni langit dan menjadi buah bibir diantara para malaikat.

Karena ketenaran di dunia cuma sementara.

Thursday, 14 March 2013

Saat Usia Empat Puluh Tahun

Sebagian orang mengira hidup itu dimulai saat beranjak remaja di usia 17 tahun. Kala fisik sedang prima-primanya, saat romantika dan ketertarikan pada pasangan lawan jenis menjadi sesuatu yang menyenangkan tuk dijalani. Lalu ada sebagian lagi yang berkata bahwa usia puncak seseorang adalah saat ia beranjak menapaki usia 30 tahun. Saat kedewasaan berperan penuh, kala karir dan asmara telah terlihat jelas jalannya.

Tapi sebagian besar berpendapat, dan ini yang paling populer, Life begin in fourty. Hidup dimulai saat usia beranjak empat puluh tahun. Kalau istilah saudara saya, "kalau mau lurus, lurus sekalian. Kalau mau bejat, bejat sekalian". Sebegitu besarnya dampak dan pengaruh masa-masa usia menjelang 40 tahun hingga terkadang perlu sebuah peristiwa ataupun momen yang spektakuler untuk mengalihkan seseorang dari satu jalan keburukan kepada jalan kebaikan.

Seperti peristiwa yang dialami saudara saya ini. Suami dari sepupu saya. Hidupnya jika dideskripsikan adalah hidup yang tak jelas arahnya, tak tahu harus kemana dan berbuat apa. Hidup tak tenang, keluarga yang tak pernah damai, dan rumah yang hanya jadi tempat singgah sementara karena memang tak ada kehangatan dibawah atap rumah yang ditempatinya. Diperparah lagi dengan ibadah yang tak kunjung mengalami perbaikan, menambah beratnya hidup dan peliknya permasalahan yang dialaminya. Kekhawatiran semakin memuncak dikala usianya kini yang berusia 39 tahun, perbaikan belum terlihat sama sekali dari dirinya. Hanya doa yang mampu kami, keluarga panjatkan, semoga hidayah itu cepat datang.

Dan sampailah suatu ketika, sebuah peristiwa yang tak terduga dialami olehnya. Saat dimana nyawa seolah di ujung tanduk dan hampir terenggut. Tubuhnya lemas tak terduga, tak ada tenaga dan nafasnya sesak seolah tak ada lagi oksigen yang dapat dihirup. Kondisi kritis yang hanya mampu dibantu dengan doa-doa dari kami keluarganya, semoga ia mendapatkan kesempatan kedua. Ya, semoga saja.

Sepertinya, doa-doa itupun dijawab olehNya dengan kondisinya yang membaik, sungguh membaik. Masa-masa kritis telah berlalu dan mungkin ini cara Allah menyadarkannya dan menjadi kado tak terlupakan di usianya yang menjelang 40 tahun di bulan April nanti. Kini semuanya berubah, kehidupan rumah tangga tenang dan damai, rizqi pun halal walaupun sedikit yang penting berkah, dan yang paling penting, ibadah semakin membaik.

Semoga kau selalu istiqomah bang..

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".
QS Al Ahqof ayat 15

Monday, 11 March 2013

Antara Ikhtiar dan Hasil usaha

Rabb semesta alam memberikan tools bernama ikhtiar agar manusia menggapai hasil yang diimpikannya. Ikhtiar tersebut terbagi dua, ada yang berupa doa dan ada yang berupa usaha. Keduanya berpadu dan saling melengkapi satu sama lain, masing-masing tak dapat berjalan sendiri-sendiri. Kalaupun ada yang mampu menggapai hasil dengan salah satu jenis ikhtiar saja, dapat dipastikan hasil yang didapatkan belum tentu maksimal. Entah disebut beruntung dengan bermodal doa saja, entah disebut sombong dengan menafikan andil tuhan tanpa bermodal doa dan hanya mengandalkan usaha saja.

Diantara ikhtiar yang diupayakan dan hasil yang diinginkan terdapat sebuah ruang, dimana manusia tak mampu memegang kendali apapun atas apa yang direncanakan dan diusahakannya. Di ruang itulah manusia menyadari bahwa sebaik-baiknya mereka berusaha dan sekeras-kerasnya mereka berdoa ada sebuah kekuatan yang menentukan hasil akhirnya. Maka di ruang inilah manusia bersikap, melapangkan hati atas segala hasil yang nantinya mereka dapatkan, atau merasa was-was dan khawatir atas segala capaian yang mereka harapkan.

Mereka yang melapangkan hati dan berpikir positif atas segala hasil yang nantinya mereka dapatkan, baik itu hasil yang sesuai harapan atau hasil yang buruk, memiliki tingkat kebahagiaan yang berlipat dan ketenangan dalam jumlah maksimum, tak ada rasa sesal karena ia yakin tugas manusia adalah berusaha dan selebihnya serahkan pada yang maha kuasa untuk segala hasilnya.

Sedangkan mereka yang seringkali khawatir akan hasil yang mereka harap-harapkan, selalu diliputi ketidaknyamanan dalam menunggu hasil, mood yang buruk dan kemarahan yang kadang muncul sesekali. Maka tak mengenakkan menunggu dengan kondisi seperti ini, sudah hasilnya belum pasti didapatkan, pikiranpun terbebani dengan rasa was-was yang semakin menjadi.

Maka menunggu di sebuah ruang, antara ikhtiar dan hasil, ibarat duduk manis menunggu nomor antrian. Percuma juga merasa was-was dan khawatir toh nantinya kita akan mendapatkan hasil sesuai nomor antrian. Jadi duduk manis dengan penuh ketenangan sembari membaca dan melakukan hal-hal yang kita sukai merupakan sesuatu yang asyik untuk kita lakukan dalam menunggu nomor antrian. Hingga nantinya apapun hasil dari antrian yang kita tunggu-tunggu, tak membuat kita merasa kecewa karena setidaknya usaha, doa dan keikhlasan hati padaNya jadi sesuatu yang berharga saat kita melangkah menuju ruang antrian, ruang tunggu antara ikhtar dan hasil.

Monday, 25 February 2013

Debit - Kredit Dalam PandanganNya



Keseimbangan dan keadilan telah termaktub dalam sunnahNya. Melingkupi tiap hela nafas dari makhluk ciptaanNya. Banyak yang menyangka bahwa keadilan adalah barang mahal, apalagi di negeri ini, dimana keadilan bagai mutiara yang sulit dicari. Mesti menyelam lebih jauh tuk mendapatkannya, di lautan penuh manipulasi dan kedzoliman. Tapi tidak bagiNya, dimana mekanisme keadilan telah berjalan sedemikian rupa bagaikan debet kredit dalam laporan keuangan.

Debit kredit dalam pandanganNya berlangsung tiap saat. Kala manusia melakukan kesalahan di debet satu kebaikan, dan di kredit satu keburukan atau dengan kata lain, berkurang satu pahala, dan bertambah satu dosa. Tapi menariknya, begitu manusia melakukan kebaikan, justru di kredit dengan 10-100 kebaikan dan di debet semua keburukan. Unik, dan Cuma terjadi dalam hitung-hitungan sang Khaliq.

Maka jangan heran, lingkup keadilannya menguntungkan tiap orang, bahkan untuk seorang yang paling dibenci sekalipun. Seandainya memang keburukan si orang itu sangatlah besar, dan seolah tak ada lagi ruang kebaikan pada dirinya, ia pun masih punya kesempatan tuk mendapatkan kebaikan atau di kreditnya pahala ke dalam tabungan amalnya.

Hal yang mungkin saja terjadi setiap hari, tiap saat. Kala manusia, membicarakan keburukan seseorang dan perlahan kebaikan si manusia berpindah kepada orang itu. Kebaikan yang di debit dari si manusia dan di kredit kepada si orang yang dibenci. Maka terkadang saya berpikir, sungguh beruntung mereka yang dibenci, dan merugilah mereka yang terlalu membenci hingga lisan tak mampu lagi menahan omongan dan berkuranglah tabungan masa depan.

Fenomena unik dan menarik sebagai bentuk kompensasi dan kebaikan sang khaliq pada makhlukNya yang dibenci oleh makhlukNya yang lain. Sehingga mungkin saja suatu saat, ketika kebaikannya terus bertambah dikarenakan banyaknya kebaikan yang dikredit lebih besar dari yang didebet, maka saat itulah mungkin hidayah telah masuk. Dan begitu pula sebaliknya, ketika seseorang yang baik terus di debit kebaikannya hingga suatu titik dimana keburukannya lah yang dikredit, maka saat itulah mungkin hidayah telah pergi darinya. Na’udzubillah.