Showing posts with label keadilan. Show all posts
Showing posts with label keadilan. Show all posts

Saturday, 18 May 2013

KPK dan Staf HRD

Sesaat, saya menghembuskan nafas dan memandang kembali CV dan surat lamaran yang teronggok manis di atas meja kerja. Beberapa lembar kertas yang bertuliskan nama, alamat, riwayat pekerjaan, dan pastinya sepucuk surat bahwa yang bersangkutan ingin melamar di perusahaan tempat saya bekerja.

Secara keseluruhan, idealnya, saya tak perlu 'galau' dengan sepucuk aplikasi lamaran kerja yang tadinya terbungkus rapi dalam amplop coklat besar. Karena memang yang namanya surat lamaran dalam amplop coklat bukan suatu hal yang baru bagi saya.

Bahkan kini beberapa tumpukan lamaran dalam amplop masih terbengkalai berdebu di sudut ruang kerja. (duh maaf ya para pelamar). Tapi kini yang membuat saya agak malas dan resah adalah sebuah tulisan kecil di pojok kiri atas surat lamaran si pelamar. Tertulis dengan tinta berwarna merah, "ref: Dirut". Alamak, tanda-tanda bakal diintervensi nih.

Karena memang biasanya, referensi atau calon dari si pejabat perusahaan, entah dia saudara jauhnya, atau cuma tetangga, hampir dipastikan berujung intervensi dan tekanan yang intinya adalah, "nih orang referensinya pejabat, mau gak mau harus diterima.". duh.. apa jadinya perusahaan kalau begini caranya. Kalau si pelamar sesuai kualifikasi, syukur alhamdulillah, tapi kalau jauh dari kualifikasi? psikotes jeblok, pengalaman nol, hasil tes kesehatan tidak fit. Apa tetap harus diterima?

hm.. ya sebenarnya sih mau dipaksakan atau tidak, tidak jadi masalah. Toh keputusan tetap ditangan para bos-bos itu, pimpinan yang terhormat. Saya hanya menjalankan pekerjaan sesuai prosedur dan keputusan diterima atau tidak kembali saya serahkan pada mereka.

Saya hanya menyajikan fakta dan silahkan para pembesar itu yang memutuskan. Saya serahkan hasil psikotesnya, hasil interview, dan hasil tes kesehatan. Silahkan ditimbang-timbang apakah layak atau tidak. Tapi sejauh ini memang pimpinan saya itu tak mau mengambil risiko, walau referensi pejabat tapi jika tidak memenuhi kualifikasi ya apa mau dikata. Syukurlah para pimpinan masih bisa bertindak rasional.


Wednesday, 3 April 2013

Trotoar Jalan



Sesekali mengarahkan pandang ke trotoar jalan mungkin saja memberi perspektif berbeda pada diri kita dalam melihat dunia. Tak melulu soal siapa dan bagaimana seseorang berpacu di keramaian jalan raya karena ada kalanya melambat berjalan di sebuah trotoar menjadi sesuatu yang menyenangkan tuk dilakukan.

Trotoar jalan kini memiliki banyak fungsi. Yang awalnya digunakan para pejalan kaki kini beralih peran menjadi tempat berjualan para pedagang, tempat berkumpulnya anak-anak jalanan, dan sesekali menjadi jalur lintasan motor saat kemacetan muncul di sepanjang jalan.

Tak mengapa jika kini fungsi utama trotoar lambat laun teralihkan, karena memang hanya trotoar jalan yang menerima mereka dengan kesediaan hati sepenuhnya. Dikala jaminan berusaha dan berniaga tak lagi jelas datangnya, merekapun mengaisnya di daerah tempat orang-orang memperhatikan mereka, di tempat orang-orang berlalu lalang. Dikala hangatnya keluarga dan rumah tempat bernaung tak lagi ada, trotoar jalan memberikan tempat bagi anak-anak jalanan menunjukkan keberadaan mereka. Di saat kemacetan parah mulai muncul di sepanjang jalan, trotoar pun menjadi alternative para pengendara motor yang frustasi dengan kondisi jalan yang semrawut.

Mungkin bagi beberapa orang mereka-mereka ini hanya mengganggu para pejalan kaki. Yang semestinya mendapatkan hak untuk dapat menikmati kenyamanan berjalan kaki. Tapi tak dapat dipungkiri saat berjalan kaki dan melambatkan diri seorang pejalan kaki dapat melihat dengan jernih kondisi yang ada disekitarnya. Mencoba memberi makna bahwa ternyata ada hal-hal terpinggirkan yang tak dapat ditangkap kala melajukan kendaraan di jalan raya yang serba cepat.

Jadi tak selamanya bersungut-sungut itu tepat, kala trotoar makin ramai dengan pedangang, anak-anak jalanan, atau bahkan pengendara motor yang nekat. Karena ternyata negeri ini belum dapat memberikan tempat bagi mereka hingga terpinggirkan sampai di tepi trotoar jalan.

Monday, 1 April 2013

Rahasia Umum



Ada hal-hal di dunia ini yang boleh dibicarakan di muka umum, dan ada hal-hal yang tabu diucapkan di depan khalayak ramai. Beberapa hal boleh diucapkan sesukanya, dan beberapa hal cukup diketahui saja, tanpa perlu diungkapkan lewat lisan. Terlebih saat hal tersebut disampaikan oleh seorang tokoh masyarakat, yang sepertinya wajar tuk diucapkan menjadi berbahaya saat dilisankan.

Seperti penyerangan LP Cebongan di Sleman Yogyakarta yang terjadi beberapa waktu lalu. Mungkin beberapa orang nampak menangkap bahwa bahwa inti permasalahannya adalah adanya upaya beberapa oknum TNI yang berupaya membalas dendam atas terbunuhnya rekan mereka oleh beberapa tahanan di LP tersebut.

Entah benar atau tidak, yang jelas kesan yang timbul seperti itu. Orang-orang bersenjata lengkap, terlatih, dengan gerakan komando khas tentara, itulah ungkapan beberapa saksi mata yang melihat langsung kejadian. Maka tak heran opini yang tergiring kini adalah TNI tak ubahnya preman jalanan yang membabi buta menghabisi lawan yang mengancam mereka.

Tapi sekali lagi, itu opini yang berkembang, dan bebas berkeliaran di tengah masyarakat. Sesuatu yang berbeda saat ada seorang tokoh, anggota TNI, atau anggota Polisi menyampaikan opininya di depan media. Tentunya mereka akan sangat berhati-hati dan tak mudah menyepakati informasi yang kini tersebar di masyarakat. Sebaliknya, mereka akan dengan basa basi politisi normatif mengatakan bahwa penyelidikan, investigasi lebih lanjut, praduga tak bersalah, merupakan hal-hal yang perlu dikedepankan.

Padahal akan sangat menarik jika beberapa tokoh menyuarakan apa yang kini berkembang. Setidaknya menyadarkan masyarakat bahwa sebesar apapun hukum dan peraturan di Negara ini melindungi mereka, tetap saja unsur dan benih premanisme masih mengakar di benak beberapa orang di Negara ini. Bahkan untuk sebuah instansi pelindung macam TNI dan Polri sekalipun.

Thursday, 28 March 2013

Melindungi Perempuan

Semakin menuanya zaman membuat saya berpikir betapa kasihannya orang tua yang memiliki anak perempuan. Bukan masalah gender, bukan, tapi lebih karena sulitnya melindungi si belahan jiwa dari tangan-tangan nakal yang ingin mengganggunya. Bahkan mereka yang dianggap dapat melindungi para perempuan juga tak selalu bisa diharapkan.

Padahal secara jelas dan sistematis, perlindungan dan peng-agungan terhadap perempuan sudah begitu tinggi di negara ini dan negara-negara lain. Entah berapa banyak fasilitas yang dikhususkan untuk perempuan, dari kereta khusus perempuan, gerbong kereta khusus perempuan, dan lain sebagainya. Tapi entah mengapa kekerasan dan pelecehan masih terjadi pada perempuan.

Seperti saat Jyoti, perempuan muda berusia 23 tahun, menjadi korban pemerkosaan dari 5 orang pemabuk di sebuah distrik di India. Padahal saat itu malam belum terlalu larut dan Jyoti juga pergi bersama temannya. Namun tak disangka orang-orang itu tetap nekat melakukan aksinya. Nampaknya ancaman hukuman dan sanksi berat tak cukup mencegah mereka untuk bertindak biadab. Hingga nasib tragis mengakhiri hidup Jyoti, ia meninggal beberapa pekan setelah kejadian di sebuah rumah sakit di Singapura. Peristiwa ini menyadarkan mata dunia bahwa ancaman terhadap perempuan sewaktu-waktu dapat terjadi.

Maka perlindungan terhadap perempuan tak sekedar dengan cara yang terkesan pasif seperti menyediakan fasilitas yang dapat menjaga mereka. Tapi lebih dari itu, perlindungan itupun hendaknya dilakukan secara proaktif dengan melibatkan banyak pihak. Dari sisi hukum yang diatur dalam sebuah negara, sayapun sangat mengapresiasi presiden korea yang baru, Park Heu Gyeun yang mengambil langkah preventif dengan cara melarang tiap wanita di korea mengenakan rok mini di ruang publik.

Mungkin ada beberapa feminis yang berpendapat bahwa aturan ini mengekang kebebasan berekspresi seorang wanita, dan mungkin ada yang menganggap bahwa negara terlalu ikut campur terhadap privasi seseorang. Tapi memang kenyataannya dengan mengenakan rok mini, menurut saya pribadi, wanita tersebut secara tidak langsung mengobjekkan dirinya untuk dilihat dan berusaha menarik perhatian orang lain, terlebih bagi pria bejat tak bermoral yang sewaktu-waktu kehilangan akal dan berusaha melecehkan si wanita. Bila aturan pertama tadi kurang melindungi, Park Heu Gyeun mengambil langkah selanjutnya yang boleh jadi membuat para pria bejat itu berpikir ribuan kali untuk melecehkan perempuan, mengebiri mereka yang terbukti melakukan tindak pemerkosaan.

Langkah berani yang dilakukan Gyeun membuat saya berpikir bahwa sebenarnya syariat Islam telah jauh-jauh hari mengenal aturan-aturan itu. Dari urusan menjaga dan menutup aurat, hingga hukuman rajam bagi para pezina. Tapi entah mengapa giliran Islam yang menyuarakan, berbagai tudingan dan sentimen negatif serentak muncul tuk menentang. duh.

Memang benar yang dikatakan Rasul kita tercinta, barang siapa seorang ayah dapat mendidik dan menjaga putrinya dengan baik hingga ia dewasa, niscaya jaminannya surga. Karena memang tak mudah mendidik, melindungi, dan menjaga perempuan di zaman yang makin menua ini.

Saturday, 16 March 2013

Dibalik Ruang Sidang

Ruangan itu makin terasa mencekam, pendingin udara seolah tak hentinya menghembuskan aura ketakutan yang tak kunjung hilang dari pikirannya.

Oh tolonglah, aku tidak bersalah, bukan aku yang melakukannya. Bodohnya aku, kalau saja bukan karena orang itu. Ah.. sial

“Berdasarkan bukti-bukti yang ada jelas terlihat bahwa Saudara Rios terlibat dalam pembunuhan yang terjadi pada..”

“mohon maaf yang mulia tapi saya rasa pernyataan yang disampaikan penuntut sudah terlalu jauh dan...”
Terdengar suara ketukan palu yang menggema di seluruh ruang sidang.

“Harap tenang.. kepada kuasa hukum terdakwa diharapkan untuk menunggu pernyataan dari penuntut umum selesai dibacakan.”
Hakim pun kembali menyandarkan tubuhnya di atas kursi singgasana sidang, jelas terlihat raut wajah penuh keletihan darinya.

“terima kasih yang mulia, peristiwa pembunuhan yang terjadi pada malam 10 Agustus 2012 merenggut nyawa dua orang korban berinisial NA dan PA, 29 tahun dan 32 tahun, warga di daerah Penjaringan Jakarta Utara. Motif pembunuhan berdasarkan keterangan dari dua orang saksi memperlihatkan bahwa terdakwa memiliki permasalahan dengan salah seorang korban dalam hal hutang piutang. Selain itu terdakwa juga dianggap memiliki dendam yang diakibatkan oleh pertikaian mengenai pengelolaan lahan parkir illegal. Ditambah lagi terdakwa yang saat itu berada di TKP terindikasi menggunakan obat-obatan terlarang sejenis heroin dan dalam pengaruh alkohol berdasarkan hasil tes urin. Di TKP juga ditemukan sepucuk senjata yang diduga dipakai oleh terdakwa untuk menembak korban. Berdasarkan fakta dan bukti yang ada maka tersangka terancam dijerat dengan pasal...”

Pernyataan panjang lebar dari jaksa penuntut umum nampak terdengar sayup-sayup di telinganya. Rios tak mempedulikannya, yang terbayang dalam benaknya kini adalah jeruji penjara yang akan ditempatinya beberapa puluh tahun kedepan. Sebuah kemungkinan yang tak lain membunuh harapannya untuk hidup.
Sidang ditunda setelah pembacaan pembelaan yang cukup panjang dari kuasa hukumnya. Tak satupun uraian kata pembelaan dari sang pengacara yang terekam dalam pikirannya. Semuanya bagaikan mimpi buruk, berulang kali ia berusaha tuk terjaga dari tidur panjang tapi kenyataan berbicara sebaliknya, ini bukan mimpi, ini sebuah realita yang harus dihadapinya. Sembari menuju ruang tahanan, ia berjalan didampingi kuasa hukumnya yang terus memberikan angin segar optimisme,  kondisi kalut dan ketakutan membuatnya hanya menganggukkan kepala mendengar pernyataan dari pengacaranya.

“Tenangkan dirimu, kau tak perlu berbicara banyak, kurasa pernyataanmu kemarin cukup menggambarkan situasi sebenarnya saat itu. Jangan terpancing dengan pernyataan mereka, jawab sesuai apa yang terjadi. Mereka tidak punya cukup bukti untuk menjeratmu, keterangan dua saksi itupun meragukan, satu orang dinyatakan memiliki masalah mental, kebenaran pernyataannya diragukan, sedangkan yang lain memiliki catatan kejahatan yang mengerikan dan kurasa dari hal itu saja kita dapat melihat kualitas kesaksiannya. Lihat? Dua orang saksi dan sebuah bukti yang lemah. Kita lihat putusan sidang besok. Semoga yang terbaik.”

Hanya kalimat terakhir yang terekam di benak Rios. Semoga yang terbaik.  Ya, semoga yang terbaik.

--

Rios kembali berjalan memasuki ruang sidang yang akan memutuskan nasibnya kelak. Persidangan yang berlarut-larut dan kondisi sel yang mengerikan membuatnya frustasi. Ia pun kerap kali mengutuki kebodohannya yang tak sengaja datang mengunjungi rumah seorang kawan lama. Kawan itu pun menawarinya dengan berbagai 'barang baru' dan 'segar', heroin itu dan alkohol yang terhampar bebas di dalam ruangan penuh dentuman lagu pesta. Ia terus menolak tawaran dari kawannya itu, alkohol dan obat-obatan telah lama ditinggalkannya, ia kini bersih. Tapi entah bagaimana sebotol softdrink dari si kawan membuat kepalanya sedikit pusing. oh tidak, ada apa ini.

Beberapa orang nampak meninggalkan ruangan yang menyisakan dirinya, kawannya dan seseorang yang tak dikenalinya yang terlihat makin mabuk. Dalam kondisi setengah sadar, ia pun sempat mendengar adu mulut diantara kedua orang itu yang samar-samar terlihat olehnya saling memegang dan mengarahkan senjata, dan tak lama setelah itu iapun terjatuh tak sadarkan diri diiringi suara letusan senapan.

Keesokan harinya ia pun terbangun dengan sebuah kenyataan bahwa dirinya dijebak, entah apa yang terjadi dan siapa yang melakukan semua ini. Tiba-tiba beberapa dakwaan telah sampai padanya dengan tuduhan melakukan tindak pidana pembunuhan dan penggunaan obat-obatan terlarang. Dua tahun sudah dan ia tetap pada keyakinannya bahwa ia tak bersalah, tak pernah terbayangkan dalam pikirannya menghilangkan nyawa seseorang dan ia tahu, ia takkan mampu melakukannya bahkan kepada orang yang sangat dibencinya.

Pintu ruang sidang berwarna coklat tua membangunkannya dari lamunan, tak terasa jarak dari ruang sidang dan sel tahanan yang jauh, cukup membuatnya mengenang kembali rekaman peristiwa naasnya ini. Disinilah ia berada sekarang, persidangan yang membawanya pada sebuah kenyataan.
Tuhan, aku telah berjanji padaMu, dan kepadaMu lah kini aku berharap.

--

15 tahun berjalan

"Terima kasih tuan.. kau sangat baik."
Gadis kecil itu nampak riang menerima bunga pemberiannya, tapi tidak dengan wanita disamping anak itu. Nampak jelas terlihat sorot mata penuh rasa jijik. Tak apa, toh bukan sekali ini saja ia menerima perlakuan seperti itu.

"Rios, saatnya tiba.."
seorang berbadan besar nampak berdiri disampingnya. Membantu membereskan barang dan pernak-pernik bunga yang dijualnya untuk diangkut kembali kedalam mobil.  Terlihat warna sirine yang menyala dari mobil itu yang kan membawanya kembali.
15 tahun berjalan, dan masih banyak waktu tuk memahami hidup ini.

Tuesday, 12 March 2013

Berani Jujur Hebat

Tiap orang pasti punya masa-masa kelam saat sekolah dulu, termasuk saya. Saya yang dulu bisa dibilang berprestasi ketika SD dan SMP pernah sesekali mencontek dan itu menjadi buah penyesalan yang tak kunjung hilang bahkan hingga kini. Tapi penyesalan tinggal penyesalan, maka selepas SD, sayapun tak pernah lagi mencontek, walau sekedar melihat rumus-rumus dari buku yang diselipkan dibawah meja atau melirik mencari jawaban dari teman semeja. Mencontek bagaikan cacat yang takkan hilang dari pikiran meski sudah lama berlalu.

Mencontek itu ibarat debu yang menempel di sebuah cermin yang bersih dan cemerlang. Awalnya mungkin tak terlihat dan tak berpengaruh banyak pada si cermin, tapi semakin lama bila debu itu tak dibersihkan dan dibiarkan menumpuk banyak, maka cermin yang tadinya mampu merefleksikan benda yang dihadapkan padanya dengan baik, ternyata menjadi buram dan tak elok lagi tuk digunakan. Mungkin awalnya tak terasa, tapi karena dibiarkan menumpuk, semakin lama membuat buram mata hati. Hingga perilaku mencontek akan menjadi kebiasaan dan menganggap bahwa mencontek itu hal yang wajar.

Tapi ya, tentunya akan ada banyak alasan dibalik tindakan mencontek, bahkan mungkin ada yang menganggap terlalu serius jika memvonis orang-orang yang mencontek, anak-anak kecil itu, tak menjunjung nilai kejujuran. Menganggap bahwa tindakan mencontek mereka sekedar menyelamatkan diri dari omelan orang tua, dan cemoohan teman sekelas. Karena biasanya mencontek ada dan terjadi saat munculnya kesempatan dan dalam kondisi yang kepepet.

Sehingga tak heran sayapun sempat kecewa saat memergoki salah seorang kawan saya yang berprestasi, selalu juara kelas, tiba-tiba mencontek. Pura-pura melihat kebawah meja padahal disana ada buku yang terselip. Sungguh kecewa saya dibuatnya, orang yang awalnya saya kagumi ternyata bisa juga mencontek karena sebab kepepet dan terpaksa, menyelamatkan diri dan reputasinya agar tak turun dimata teman dan guru-guru.

Jadi memang awalnya mungkin bila belum terbiasa akan terasa sebuah rasa penyesalan di dada dan merasa was-was serta khawatir bila ketahuan mencontek. Tapi jika dibiarkan terus berlanjut, akan terasa bahwa mencontek itu asyik. Tak butuh usaha, cukup bermodal kemampuan melirik dan berpura-pura saja, dan simsalabim, nilaipun sempurna.

Tapi memang tidak mencontek itu tidaklah mudah. Harus siap belajar serta memahami mata pelajaran dengan baik. Jika tidak, maka bersiaplah merasakan nilai yang buruk, omelan orang tua, dan ejekan teman-teman. Namun yang namanya kejujuran pasti berbuah manis, jika anda tidak terbiasa mencontek sejak kecil, niscaya nasib anda kelak setidaknya akan baik-baik saja dan tenang selalu. Tidak ada kemungkinan menjadi koruptor, tukang selingkuh, dan tukang fitnah, hidup anda akan damai dan penuh keberkahan.

Karena jujur itu hebat.

Wednesday, 6 March 2013

Antara Tahta dan Popularitas

Ada pepatah Arab kuno yang mengatakan bahwa, jika kalian ingin terkenal, kencingi sumur zam-zam, niscaya kalian akan masyhur seantero Jazirah Arab. Bukan saja populer di tanah Arab, anda bahkan dikenal oleh orang-orang di penjuru dunia, dimana ternyata ada orang yang berani mengencingi sumur zam-zam yang disucikan umat muslim, sesuatu yang tak lazim, nekat, dan pastinya baru pertama kali terjadi.

Itu kalau berbicara mengenai ke-terkenal-an semata, sesuatu yang memang mudah dilakukan asal memiliki nyali yang besar. Tapi tentunya bukan terkenal seperti itu yang anda inginkan. Karena menjadi populer dengan cara seperti itu tak lain cuma memberikan anda kesengsaraan walau mungkin nama dan wajah anda terpampang manis di media massa.

Maka cara aman, lazim dan umum (seperti menjadi artis, memiliki prestasi dll) untuk menjadi terkenal adalah satu-satunya jalan jika anda ingin menikmati berbagai keuntungan atas kepopuleran anda. Wajah yang kerap menghiasi laman surat kabar dan citra yang terus disorot lewat layar kaca. Sesuatu yang dilakukan bukan dengan cara ekstrim yang bertentangan dengan aturan dan norma yang berlaku.

Selanjutnya saat anda telah  menjadi populer dengan cara aman maka kini tergantung anda mengarahkannya. Jika sekedar mengisi rubrik di dalam surat kabar itu biasa dan sangat mudah. Tapi cobalah untuk berfokus pada 3 hal yang memang dituju manusia di dunia, harta, tahta, dan cinta. Karena tiga hal itu yang mayoritas dikejar oleh para tokoh-tokoh terkenal yang sukses.

Biasanya seorang yang terkenal dengan jalur menjadi artis atau dengan sebuah prestasi yang diraih akan secara tidak langsung mendapatkan dua hal yang menjadi tujuan manusia. Harta dan cinta. Mereka mudah menggaet wanita dan harta kan mengalir dengan sendirinya ke pundi-pundi tabungan mereka. Saat mereka diikat kontrak tuk berperan dalam sebuah film atau sekedar mendapat bayaran dari sebuah prestasi yang mereka miliki. Karena siapa yang bisa menolak berdekatan dengan seseorang yang populer dan memiliki banyak simpanan harta, nyaris tak ada dan itulah mengapa tiap orang berharap tuk menjadi terkenal.

Kini saat dua hal itu, harta dan cinta telah di dapat, mayoritas kaum populis kan beranjak ke tujuan selanjutnya, tahta yang akan melengkapi kesempurnaan mereka. Harta ada, cintapun dimiliki, maka tak heran tahta yang menjadi sasaran berikutnya. Jadi sangatlah relevan jika sekarang ini kita lihat kaum-kaum populer semacam artis, olahragawan, tokoh-tokoh masyarakat berbondong-bondong menceburkan diri ke jalur politik. Entah dengan menjadi calon anggota legislatif atau sekedar mencoba peruntungan sebagai calon kepala/wakil kepala daerah. Semua hal yang dapat dilakukan agar tujuan selanjutnya tercapai, menggapai tahta tuk meggenapi dua hal lainnya.

Mungkin itulah mengapa saat ini orang-orang terkenal bersaing mendapatkan tahta, sehingga jangan kaget jika kelak pemangku kekuasaan dan tahta dipegang oleh orang-orang populer. Yang mungkin sekedar memenuhi hasratnya dalam melengkapi kesempurnaan yang telah ia dapatkan sebelumnya, harta dan cinta. Padahal tahta tak hanya perkara obsesi buta yang hendak dicapai, tapi lebih dari itu, ia adalah sebuah amanah yang membutuhkan kompetensi dan profesionalitas tuk mengelolanya. Agar tatanan masyarakat yang dipangku dan diperintah olehnya menjadi lebih baik dan sejahtera.

Semoga kelak para kaum populer itu menyadari bahwa keberhasilan mereka nantinya meraih tahta tak serta merta membuat mereka layak, karena memimpin dan mengelola tahta butuh otak dan skill yang tidak sekedar mengandalkan ke-terkenal-an belaka.

Monday, 25 February 2013

Debit - Kredit Dalam PandanganNya



Keseimbangan dan keadilan telah termaktub dalam sunnahNya. Melingkupi tiap hela nafas dari makhluk ciptaanNya. Banyak yang menyangka bahwa keadilan adalah barang mahal, apalagi di negeri ini, dimana keadilan bagai mutiara yang sulit dicari. Mesti menyelam lebih jauh tuk mendapatkannya, di lautan penuh manipulasi dan kedzoliman. Tapi tidak bagiNya, dimana mekanisme keadilan telah berjalan sedemikian rupa bagaikan debet kredit dalam laporan keuangan.

Debit kredit dalam pandanganNya berlangsung tiap saat. Kala manusia melakukan kesalahan di debet satu kebaikan, dan di kredit satu keburukan atau dengan kata lain, berkurang satu pahala, dan bertambah satu dosa. Tapi menariknya, begitu manusia melakukan kebaikan, justru di kredit dengan 10-100 kebaikan dan di debet semua keburukan. Unik, dan Cuma terjadi dalam hitung-hitungan sang Khaliq.

Maka jangan heran, lingkup keadilannya menguntungkan tiap orang, bahkan untuk seorang yang paling dibenci sekalipun. Seandainya memang keburukan si orang itu sangatlah besar, dan seolah tak ada lagi ruang kebaikan pada dirinya, ia pun masih punya kesempatan tuk mendapatkan kebaikan atau di kreditnya pahala ke dalam tabungan amalnya.

Hal yang mungkin saja terjadi setiap hari, tiap saat. Kala manusia, membicarakan keburukan seseorang dan perlahan kebaikan si manusia berpindah kepada orang itu. Kebaikan yang di debit dari si manusia dan di kredit kepada si orang yang dibenci. Maka terkadang saya berpikir, sungguh beruntung mereka yang dibenci, dan merugilah mereka yang terlalu membenci hingga lisan tak mampu lagi menahan omongan dan berkuranglah tabungan masa depan.

Fenomena unik dan menarik sebagai bentuk kompensasi dan kebaikan sang khaliq pada makhlukNya yang dibenci oleh makhlukNya yang lain. Sehingga mungkin saja suatu saat, ketika kebaikannya terus bertambah dikarenakan banyaknya kebaikan yang dikredit lebih besar dari yang didebet, maka saat itulah mungkin hidayah telah masuk. Dan begitu pula sebaliknya, ketika seseorang yang baik terus di debit kebaikannya hingga suatu titik dimana keburukannya lah yang dikredit, maka saat itulah mungkin hidayah telah pergi darinya. Na’udzubillah.