Showing posts with label politik. Show all posts
Showing posts with label politik. Show all posts

Wednesday, 3 April 2013

Trotoar Jalan



Sesekali mengarahkan pandang ke trotoar jalan mungkin saja memberi perspektif berbeda pada diri kita dalam melihat dunia. Tak melulu soal siapa dan bagaimana seseorang berpacu di keramaian jalan raya karena ada kalanya melambat berjalan di sebuah trotoar menjadi sesuatu yang menyenangkan tuk dilakukan.

Trotoar jalan kini memiliki banyak fungsi. Yang awalnya digunakan para pejalan kaki kini beralih peran menjadi tempat berjualan para pedagang, tempat berkumpulnya anak-anak jalanan, dan sesekali menjadi jalur lintasan motor saat kemacetan muncul di sepanjang jalan.

Tak mengapa jika kini fungsi utama trotoar lambat laun teralihkan, karena memang hanya trotoar jalan yang menerima mereka dengan kesediaan hati sepenuhnya. Dikala jaminan berusaha dan berniaga tak lagi jelas datangnya, merekapun mengaisnya di daerah tempat orang-orang memperhatikan mereka, di tempat orang-orang berlalu lalang. Dikala hangatnya keluarga dan rumah tempat bernaung tak lagi ada, trotoar jalan memberikan tempat bagi anak-anak jalanan menunjukkan keberadaan mereka. Di saat kemacetan parah mulai muncul di sepanjang jalan, trotoar pun menjadi alternative para pengendara motor yang frustasi dengan kondisi jalan yang semrawut.

Mungkin bagi beberapa orang mereka-mereka ini hanya mengganggu para pejalan kaki. Yang semestinya mendapatkan hak untuk dapat menikmati kenyamanan berjalan kaki. Tapi tak dapat dipungkiri saat berjalan kaki dan melambatkan diri seorang pejalan kaki dapat melihat dengan jernih kondisi yang ada disekitarnya. Mencoba memberi makna bahwa ternyata ada hal-hal terpinggirkan yang tak dapat ditangkap kala melajukan kendaraan di jalan raya yang serba cepat.

Jadi tak selamanya bersungut-sungut itu tepat, kala trotoar makin ramai dengan pedangang, anak-anak jalanan, atau bahkan pengendara motor yang nekat. Karena ternyata negeri ini belum dapat memberikan tempat bagi mereka hingga terpinggirkan sampai di tepi trotoar jalan.

Monday, 1 April 2013

Rahasia Umum



Ada hal-hal di dunia ini yang boleh dibicarakan di muka umum, dan ada hal-hal yang tabu diucapkan di depan khalayak ramai. Beberapa hal boleh diucapkan sesukanya, dan beberapa hal cukup diketahui saja, tanpa perlu diungkapkan lewat lisan. Terlebih saat hal tersebut disampaikan oleh seorang tokoh masyarakat, yang sepertinya wajar tuk diucapkan menjadi berbahaya saat dilisankan.

Seperti penyerangan LP Cebongan di Sleman Yogyakarta yang terjadi beberapa waktu lalu. Mungkin beberapa orang nampak menangkap bahwa bahwa inti permasalahannya adalah adanya upaya beberapa oknum TNI yang berupaya membalas dendam atas terbunuhnya rekan mereka oleh beberapa tahanan di LP tersebut.

Entah benar atau tidak, yang jelas kesan yang timbul seperti itu. Orang-orang bersenjata lengkap, terlatih, dengan gerakan komando khas tentara, itulah ungkapan beberapa saksi mata yang melihat langsung kejadian. Maka tak heran opini yang tergiring kini adalah TNI tak ubahnya preman jalanan yang membabi buta menghabisi lawan yang mengancam mereka.

Tapi sekali lagi, itu opini yang berkembang, dan bebas berkeliaran di tengah masyarakat. Sesuatu yang berbeda saat ada seorang tokoh, anggota TNI, atau anggota Polisi menyampaikan opininya di depan media. Tentunya mereka akan sangat berhati-hati dan tak mudah menyepakati informasi yang kini tersebar di masyarakat. Sebaliknya, mereka akan dengan basa basi politisi normatif mengatakan bahwa penyelidikan, investigasi lebih lanjut, praduga tak bersalah, merupakan hal-hal yang perlu dikedepankan.

Padahal akan sangat menarik jika beberapa tokoh menyuarakan apa yang kini berkembang. Setidaknya menyadarkan masyarakat bahwa sebesar apapun hukum dan peraturan di Negara ini melindungi mereka, tetap saja unsur dan benih premanisme masih mengakar di benak beberapa orang di Negara ini. Bahkan untuk sebuah instansi pelindung macam TNI dan Polri sekalipun.

Wednesday, 20 March 2013

Enyahkan Moda Negeri Autopilot

Tiap orang di negeri ini sudah memiliki rencana sendiri-sendiri, bahkan untuk seorang kepala negara sekalipun. Tak ada yang namanya kolaborasi demi menggapai kesejahteraan bersama, yang ada malah individualisme demi menjaga kepentingan masing-masing. Untukmu usahamu, dan untukku usahaku, bagimu urusanmu, dan bagiku urusanku, selesai perkara. Persetan dengan harga bawang putih melambung tinggi, masa bodoh dengan mutilasi dan kejahatan yang makin keji, sing penting tahun depan agenda pemilu aman terkendali. ah sakit..

Sibuk, masing-masing kita sibuk dengan urusan pribadi dan kelompok kita. Karena memang pemimpin di negeri ini mengajarkan hal seperti itu. Tak sedikit gambaran yang kini terekam awak media menunjukkan bahwa presiden saja punya agenda khusus terhadap partainya. Mengambil porsi lebih besar hingga seringkali membuat saya bingung, ini presiden negara ataukah presiden partai. Tapi yasudahlah, toh tak terlalu banyak pengaruhnya, ada dan tiadanya sang presiden, masing-masing kita sudah terbiasa berjalan sendiri-sendiri.

Tapi terkadang, berjalan sendirian itu membosankan, dan tak jarang lebih melelahkan. Tak ada ucapan saling menguatkan, tak ada yang siap sedia memberikan bantuan. Semuanya diusahakan sendiri hingga lelah tak jarang melemahkan kekuatan. Padahal jika dipikir-pikir berjalan bersama itu mengasyikkan, saat tiap orang memiliki porsi untuk berkontribusi, hingga energi kian meninggi dan tak mudah jatuh dalam jurang frustasi. Tapi yang ada kini sebaliknya, energi itu telah habis dipakai oleh masing-masing individu, bahkan sebelum ia sempat bergabung menjadi satu.

Maka dari itu, idealnya memang kesadaran tuk bersama memadukan energi perlu dilestarikan sejak kini. Hingga nantinya energi itu tak habis tuk sekedar membereskan dilema politik yang seringkali tak berbuah manfaat apapun. Padahal masih banyak tugas-tugas yang harus diselesaikan dibandingkan berlarut-larut mengurus permasalahan politik yang tiada habisnya.

Cukup sudah 10 tahun ini moda autopilot berjalan. Saatnya memadukan energi tuk bersama berkolaborasi dengan sang pemimpin yang tidak hanya jualan pencitraan, tapi juga memiliki kesadaran tuk menyatukan energi individu di negeri ini, dalam sebuah kerja nyata demi mewujudkan cita-cita bersama. Negeri yang makmur dan sejahtera.

aamiin.

Tuesday, 19 March 2013

Berebut Suara diantara Partai Islam

Butuh waktu lama bagi saya untuk mencerna sikap yang ditampakkan oleh PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) dan PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Menolak keikutsertaan PBB (Partai Bulan Bintang) dalam pemilu. Sikap yang muncul seiring pengajuan banding petinggi PBB terhadap keputusan KPU yang tidak meloloskan mereka sebagai peserta Pemilu 2014. Apa karena bermaksud mendukung kerja KPU dengan menjalankan saja hasil verifikasi kelayakan partai tanpa sibuk dan repot-repot mengurus partai yang mengajukan banding, atau karena suara loyalis partai islam yang makin tergerus membuat PKB dan PPP ketakutan 'jatah' suara mereka menjadi berkurang.

Tapi apapun itu, kekhawatiran terpecahnya suara loyalis partai berbasis keislaman nampak jelas terlihat. Trend yang ada memang menunjukkan bahwa suara partai islam tak pernah beranjak dari dulu, selalu saja dibawah bayang-bayang partai nasionalis macam Demokrat, Golkar, dan PDIP. Ditambah beberapa kasus yang melibatkan petinggi partai Islam membuat kepercayaan publik kembali menurun. Padahal jika dipikir-pikir partai nasionalis pun bisa dikatakan lebih parah dalam urusan kasus korupsi.

Namun publik tak mau susah-susah berpikir kritis untuk hal semacam itu, yang mereka tahu, lebih baik sekalian saja memilih partai nasionalis yang tidak membawa embel-embel agama, daripada memilih partai Islam yang ketahuan cacatnya. Karena wajar saja jika partai nasionalis melakukan kesalahan karena mereka kumpulan manusia yang tak sempurna, tapi tidak dengan partai yang membawa-bawa agama, mereka seharusnya lurus dan tak boleh ada cela, jadi sekali saja berbuat salah, selamanya akan sulit dimaafkan. Duh.. logika yang aneh.

Belajar dari kemenangan partai berbasis keislaman di Mesir dan Turki, idealnya suara yang dibidik tak lagi terpusat pada loyalis partai islam (pemuda, masyarakat muslim konservatif, dan semacamnya) yang mau tidak mau, pasti memilih partai Islam, apapun itu. Karena ternyata peluang suara yang lebih besar terletak di luar kelompok itu, yang seharusnya memilih partai islam karena sebagian besar mereka adalah muslim. Tapi kenyataannya, entah karena kadung tak menyukai partai yang membawa-bawa agama atau karena mereka memiliki pandangan lain terkait fenomena partai islam, suara mereka justru sebagian besar diambil oleh partai-partai nasionalis.

Nampaknya paradigma yang melekat di benak petinggi PKB dan PPP masih sama, meraih dan berebut suara loyalis partai islam tanpa punya keinginan tuk merebut suara mayoritas muslim bahkan non-muslim yang berada diluar sana. Entah karena malas untuk berusaha lebih profesional dan amanah, atau karena sudah merasa nyaman dengan basis masa yang fanatik, membuat mereka cenderung berfokus dalam pencitraan partai tanpa usaha nyata tuk menjadikan partai islam terlihat lebih keren dimata para pemilih. Hingga ketakutan itupun berujung pada penolakan mereka terhadap keikutsertaan PBB, saudara mereka sendiri, dalam pemilu kali ini.

Tapi untungnya PTUN berpendapat lain, PBB dinyatakan lolos verfikasi dan KPU pun menerima putusan tersebut tanpa melakukan banding lagi. Jadi, Selamat kepada PBB, semoga keikutsertaan anda menambah gairah kompetisi, fastabiqul khoirot diantara partai-partai Islam. Dan kepada PKB dan PPP, terima sajalah keputusan PTUN, toh sepertinya keikutsertaan PBB tak sesignifikan itu mempengaruhi suara anda, karena memang suara anda segitu-gitu saja.

Monday, 18 March 2013

Si Akun Tiga Macan

Lucu juga melihat lakon yang kini diperankan salah satu akun di dunia maya, akun twitter trio macan yang cukup menghebohkan beberapa waktu belakangan ini. Entah bagaimana caranya tiap kali si macan berkicau, selalu saja ada informasi terselubung yang tak diketahui tiap orang terkait apa yang ia sampaikan. Ada dua kemungkinan cara si macan hingga dapat membeberkan informasi semacam itu, pertama, memiliki informan terpercaya di tiap lapis jaringan penguasa di negeri ini atau yang kedua, itu semua sekedar dugaan berujung prasangka yang tak dapat dipertanggung jawabkan.

Untuk kemungkinan pertama, beberapa orang menyebut akun twitter ini memang dikelola oleh beberapa orang dekat dari penguasa negeri ini. Sila di cek siapa-siapa saja mereka melalui mbah google, yang jelas akses informasi si macan memang lumayan besar. Sedangkan untuk kemungkinan kedua juga tak kalah besar kemungkinannya. Berbagai informasi yang memojokkan seseorang atau instansi rentan disalahartikan, apalagi informasi itu berasal dari sebuah akun anonim yang tak dapat dijamin kredibilitasnya. Maka bisa jadi fitnah yang lebih banyak dibandingkan akurasi informasinya.

Tapi memang si macan ini punya skill mengolah informasi yang ciamik, mengaitkannya dengan kondisi faktual yang terjadi dengan posisioning yang jelas sebagai seorang pemegang informasi penting. Jadi tak heran dengan berita kontroversi yang diolah dalam dialektika konspirasi membuat akun ini berjaya di kalangan tweeps yang haus informasi. Karena kecenderungan yang kini terjadi di kalangan netter, tak penting seberapa besar validitas berita tersebut, yang utama adalah bagaimana berita itu mampu memancing keingintahuan orang-orang.

Melihat kenyataan ini, tentunya bagi seorang terpelajar seperti anda, atau kita, hendaknya tak serta merta mempercayai tweet-tweet yang dituliskan dalam akun tersebut. Berbagai klaim dan kesaksian yang diungkapkan oleh si macan tak perlu terlalu ditanggapi serius, santai saja, karena toh informasi yang ada memang belum tentu valid. Anggap saja apa-apa yang dituliskan sekedar pengaya informasi yang telah kita miliki dan tak perlu terlalu reaktif menanggapinya.

Lucunya adalah, beberapa kalangan aktivis yang dulu sangat membenci si macan, seolah berterima kasih padanya karena membela kelompok mereka yang selama ini 'dizalimi' oleh sekelompok orang. Padahal dulu jelas-jelas si aktivis ini terang-terangan meragukan dan tak menyukai si akun ini. duh.. Jadi jelas memang, tak penting dari siapa informasi itu datang, selama ia mendukung kelompok anda, ketahuilah bahwa mereka adalah teman yang patut dipercaya.

Saturday, 16 March 2013

Dibalik Ruang Sidang

Ruangan itu makin terasa mencekam, pendingin udara seolah tak hentinya menghembuskan aura ketakutan yang tak kunjung hilang dari pikirannya.

Oh tolonglah, aku tidak bersalah, bukan aku yang melakukannya. Bodohnya aku, kalau saja bukan karena orang itu. Ah.. sial

“Berdasarkan bukti-bukti yang ada jelas terlihat bahwa Saudara Rios terlibat dalam pembunuhan yang terjadi pada..”

“mohon maaf yang mulia tapi saya rasa pernyataan yang disampaikan penuntut sudah terlalu jauh dan...”
Terdengar suara ketukan palu yang menggema di seluruh ruang sidang.

“Harap tenang.. kepada kuasa hukum terdakwa diharapkan untuk menunggu pernyataan dari penuntut umum selesai dibacakan.”
Hakim pun kembali menyandarkan tubuhnya di atas kursi singgasana sidang, jelas terlihat raut wajah penuh keletihan darinya.

“terima kasih yang mulia, peristiwa pembunuhan yang terjadi pada malam 10 Agustus 2012 merenggut nyawa dua orang korban berinisial NA dan PA, 29 tahun dan 32 tahun, warga di daerah Penjaringan Jakarta Utara. Motif pembunuhan berdasarkan keterangan dari dua orang saksi memperlihatkan bahwa terdakwa memiliki permasalahan dengan salah seorang korban dalam hal hutang piutang. Selain itu terdakwa juga dianggap memiliki dendam yang diakibatkan oleh pertikaian mengenai pengelolaan lahan parkir illegal. Ditambah lagi terdakwa yang saat itu berada di TKP terindikasi menggunakan obat-obatan terlarang sejenis heroin dan dalam pengaruh alkohol berdasarkan hasil tes urin. Di TKP juga ditemukan sepucuk senjata yang diduga dipakai oleh terdakwa untuk menembak korban. Berdasarkan fakta dan bukti yang ada maka tersangka terancam dijerat dengan pasal...”

Pernyataan panjang lebar dari jaksa penuntut umum nampak terdengar sayup-sayup di telinganya. Rios tak mempedulikannya, yang terbayang dalam benaknya kini adalah jeruji penjara yang akan ditempatinya beberapa puluh tahun kedepan. Sebuah kemungkinan yang tak lain membunuh harapannya untuk hidup.
Sidang ditunda setelah pembacaan pembelaan yang cukup panjang dari kuasa hukumnya. Tak satupun uraian kata pembelaan dari sang pengacara yang terekam dalam pikirannya. Semuanya bagaikan mimpi buruk, berulang kali ia berusaha tuk terjaga dari tidur panjang tapi kenyataan berbicara sebaliknya, ini bukan mimpi, ini sebuah realita yang harus dihadapinya. Sembari menuju ruang tahanan, ia berjalan didampingi kuasa hukumnya yang terus memberikan angin segar optimisme,  kondisi kalut dan ketakutan membuatnya hanya menganggukkan kepala mendengar pernyataan dari pengacaranya.

“Tenangkan dirimu, kau tak perlu berbicara banyak, kurasa pernyataanmu kemarin cukup menggambarkan situasi sebenarnya saat itu. Jangan terpancing dengan pernyataan mereka, jawab sesuai apa yang terjadi. Mereka tidak punya cukup bukti untuk menjeratmu, keterangan dua saksi itupun meragukan, satu orang dinyatakan memiliki masalah mental, kebenaran pernyataannya diragukan, sedangkan yang lain memiliki catatan kejahatan yang mengerikan dan kurasa dari hal itu saja kita dapat melihat kualitas kesaksiannya. Lihat? Dua orang saksi dan sebuah bukti yang lemah. Kita lihat putusan sidang besok. Semoga yang terbaik.”

Hanya kalimat terakhir yang terekam di benak Rios. Semoga yang terbaik.  Ya, semoga yang terbaik.

--

Rios kembali berjalan memasuki ruang sidang yang akan memutuskan nasibnya kelak. Persidangan yang berlarut-larut dan kondisi sel yang mengerikan membuatnya frustasi. Ia pun kerap kali mengutuki kebodohannya yang tak sengaja datang mengunjungi rumah seorang kawan lama. Kawan itu pun menawarinya dengan berbagai 'barang baru' dan 'segar', heroin itu dan alkohol yang terhampar bebas di dalam ruangan penuh dentuman lagu pesta. Ia terus menolak tawaran dari kawannya itu, alkohol dan obat-obatan telah lama ditinggalkannya, ia kini bersih. Tapi entah bagaimana sebotol softdrink dari si kawan membuat kepalanya sedikit pusing. oh tidak, ada apa ini.

Beberapa orang nampak meninggalkan ruangan yang menyisakan dirinya, kawannya dan seseorang yang tak dikenalinya yang terlihat makin mabuk. Dalam kondisi setengah sadar, ia pun sempat mendengar adu mulut diantara kedua orang itu yang samar-samar terlihat olehnya saling memegang dan mengarahkan senjata, dan tak lama setelah itu iapun terjatuh tak sadarkan diri diiringi suara letusan senapan.

Keesokan harinya ia pun terbangun dengan sebuah kenyataan bahwa dirinya dijebak, entah apa yang terjadi dan siapa yang melakukan semua ini. Tiba-tiba beberapa dakwaan telah sampai padanya dengan tuduhan melakukan tindak pidana pembunuhan dan penggunaan obat-obatan terlarang. Dua tahun sudah dan ia tetap pada keyakinannya bahwa ia tak bersalah, tak pernah terbayangkan dalam pikirannya menghilangkan nyawa seseorang dan ia tahu, ia takkan mampu melakukannya bahkan kepada orang yang sangat dibencinya.

Pintu ruang sidang berwarna coklat tua membangunkannya dari lamunan, tak terasa jarak dari ruang sidang dan sel tahanan yang jauh, cukup membuatnya mengenang kembali rekaman peristiwa naasnya ini. Disinilah ia berada sekarang, persidangan yang membawanya pada sebuah kenyataan.
Tuhan, aku telah berjanji padaMu, dan kepadaMu lah kini aku berharap.

--

15 tahun berjalan

"Terima kasih tuan.. kau sangat baik."
Gadis kecil itu nampak riang menerima bunga pemberiannya, tapi tidak dengan wanita disamping anak itu. Nampak jelas terlihat sorot mata penuh rasa jijik. Tak apa, toh bukan sekali ini saja ia menerima perlakuan seperti itu.

"Rios, saatnya tiba.."
seorang berbadan besar nampak berdiri disampingnya. Membantu membereskan barang dan pernak-pernik bunga yang dijualnya untuk diangkut kembali kedalam mobil.  Terlihat warna sirine yang menyala dari mobil itu yang kan membawanya kembali.
15 tahun berjalan, dan masih banyak waktu tuk memahami hidup ini.

Sunday, 10 March 2013

Anas, Anis, dan Kemampuan Artikulatif

Mencermati geliat berpolitik dua orang ini sungguh menarik. Yang satu kerap tenang dengan gayanya yang elegan, dan yang satu lagi gemar meracik kata lewat pidato dan ucapan-ucapannya yang membangkitkan semangat. Keduanya memiliki nama yang mirip-mirip, yang satu Anis, dan yang satunya lagi Anas.

Kini keduanya dihadapkan pada medan tantangan baru yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Bila yang satu turun dari kursi ketua partai, yang satu lagi justru naik menjadi presiden partai. Yang satu berjuang melepaskan diri dari jerat dugaan korupsi yang menimpanya, yang satu lagi berjuang tuk menyelamatkan partai yang ditinggalkan sang presiden, tersangka dugaan korupsi pula.

Terlepas dari kontroversi yang menyelimuti keduanya, saya melihat ada semacam kesamaan diantara mereka, bahwa keduanya cerdas dalam mengartikulasikan sebuah kata dalam konteks permasalahan yang mereka hadapi. Ada dua hal yang yang setidaknya merupakan efek dari penggunaan kata yang tepat dan cerdas dalam lingkup komunikasi dua arah.

Pertama, anda akan terlihat meyakinkan walau mungkin dalam kondisi yang terjepit, dan yang kedua, anda akan terlihat cerdas hingga memunculkan rasa segan dari lawan anda dan simpati dari pendukung anda. Terlihat jelas saat keduanya memberikan keterangan pers di depan awak media. Tutur kata yang tepat dengan membawa frase 'taubat nasional', 'tak ada lagi waktu beristirahat, saatnya terus bekerja', menjadikan Anis sosok yang terlihat meyakinkan di depan para kadernya yang serta merta menyambutnya bak pahlawan, membangkitkan asa yang sempat tenggelam dari partai ini.

Sedangkan Anas memiliki gaya yang sedikit berbeda dengan Anis, tak selalu sering mengumbar kata, tapi beberapa frasenya menarik untuk disimak. Seperti kala dicecar dengan pertanyaan seputar kasus korupsi hambalang, ia pun sampai berucap, 'satu rupiah Anas korupsi hambalang, gantung anas di monas'. Atau seperti saat melepas jabatannya sebagai ketua partai, ia pun berkata 'dengan melepas jaket ini, saya menjadi bebas dan merdeka, ini baru halaman pertama dari sebuah buku'. Dua buah statement dari Anas yang bisa jadi sebuah sinyal perlawanan kepada lawan-lawan politiknya, bahwa ucapannya bukan omong kosong belaka.

Mereka (Anas dan Anis) berhasil mengolah kata dengan baik hingga melahirkan dua efek yang saya sebutkan tadi di atas, terlihat meyakinkan dan terlihat cerdas, tak peduli seberapa banyak orang yang menghakimi anda jika anda tepat dalam memakai kata-kata, anda akan selalu menang, membuat segan lawan anda dan meraih simpati pendukung anda.

Sedikit berbeda dengan partai di seberang sana dimana para kandidatnya bertarung dalam pemilihan kepala daerah. Sudah kalah (di versi perhitungan cepat), tak cerdas pula dalam menyikapi keadaan, tak elok dalam mengartikulasikan pendapatnya. Tak perlu saya sampaikan disini apa-apa saja kelakuan mereka dalam pilkada disana. Tapi yang jelas sebuah pepatah nampak perlu dijadikan renungan bagi kita semua
"lebih baik diam dan terlihat bodoh, daripada banyak omong dan bodohnya keliatan."

Salam.

Saturday, 9 March 2013

Demokrasi Melodrama Ala PDIP

Di negeri ini, Indonesia tercinta, siapa yang teraniaya dimasa lalu niscaya mendapatkan simpati lebih banyak dimasa depan. Kesengsaraan, ketidak adilan yang mereka terima dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai pembenaran untuk mendukung mereka yang teraniaya. Agar nantinya mereka yang dizalimi bisa bangkit kembali dan berjuang melawan ketidakadilan yang menimpa mereka. Sungguh mengharukan dan sangat melodramatis, pantas jika di negeri ini tayangan sinetron sangat laku dipasaran.

Beberapa contoh melodrama dari mereka yang teraniaya terlihat jelas beberapa tahun ini. Untuk yang baru saja terjadi seperti kasus Jokowi dan Dahlan Iskan. Saat Jokowi dibilang 'bodoh' oleh gubernur jawa tengah dan saat Dahlan Iskan seolah di 'bully' oleh anggota DPR. Untuk kasus Jokowi terjadi saat ia tak bersedia mereklamasi Pabrik Es Saripetojo untuk dijadikan Mall sesuai dengan perintah sang gubernur. Sehingga saking kesalnya, terlontarlah kata-kata 'bodoh' dari mulut si Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, kepada Jokowi yang dianggap tak tahu apa-apa mengenai masalah reklamasi ini.

Sedangkan kasus Dahlan Iskan berlatar belakang keteguhan Dahlan yang tak mau jika BUMN hanya dijadikan Sapi perah oleh beberapa oknum anggota dewan, hingga membuat anggota DPR meradang karena Dahlan berbicara terlalu banyak dengan mengatakan bahwa ia telah mengantongi nama-nama anggota yang memeras direksi BUMN. Kedua tokoh tadi merespon dengan cara yang mirip-mirip, act like a victim, berperilaku sebagai korban yang ujungnya mendapatkan dukungan dari masyarakat dengan dukungan media.

Gaya Dahlan dan Jokowi sesungguhnya tak asing lagi di negeri ini. SBY dan Megawati telah lama mengadaptasi gaya penokohan seperti ini. Seperti saat SBY seolah dizalimi dengan dipecat sebagai menteri oleh presiden saat itu, dan saat Megawati seolah dianiaya oleh pendukung PDI versi Suryadi lewat peristiwa 27 juli 1996. Kedua tokoh ini telah secara apik mengolah emosi dan simpati masyarakat untuk sebuah daya dorong dan dukungan yang bermanfaat nantinya ketika mereka menokohkan diri dalam pemilu. Terbukti jelas saat SBY dan Demokratnya memenangkan Pemilu 2009 dan saat PDIP serta Megawati memenangkan Pemilu tahun 1999.

Tak ada yang salah dari demokrasi melodrama macam ini, sah-sah saja selama masih dalam koridor yang wajar. Bahkan sangat cerdik karena dapat melihat sebuah celah tuk mendapatkan dukungan walau lewat sebuah drama pencitraan. Untuk sekarang dan sampai seterusnya demokrasi melodrama nampak masih mendominasi ruang berpolitik di negeri ini, bahkan hingga kini saat pilkada di beberapa daerah telah berjalan beberapa waktu lalu.

Demokrasi melodrama tak melulu mengenai siapa yang disakiti dan dipojokkan, karena kini demokrasi melodrama telah bertransformasi secara unik di sebuah partai yang lahir lewat demokrasi macam ini, PDIP dan Ketumnya Megawati. Dimana Mindset melodrama nampak masih tertanam kuat dibenak para pengikutnya yang kemarin bertarung di Pilkada Jabar dan Sumut. Intinya satu, telah terjadi kecurangan dan mereka terzalimi hingga kalah dalam versi hitung cepat.

Wacana melodrama apa daya telah terlanjur mengemuka. Hingga masyarakat mulai jengah dan melihat adanya ketidakcerdasan dari mereka yang menggugat hasil pemilukada. Boleh-boleh saja mengklaim menang seperti pasangan PDIP di Sumut yang mengatakan telah memenangkan pilkada dengan prosentase 32 persen berdasarkan hasil perhitungan manual mereka, atau seperti Oneng di Jabar yang sepertinya akan menggugat hingga level MK.

Tapi coba setidaknya imbangi cara demokrasi melodrama yang masih tradisional dengan konteks kekinian yang lebih scientific dan ilmiah. Kalau memang mau mengklaim menang, coba belajar ilmu statistik dulu dan memahami dulu apa itu yang namanya quickcount, seberapa besar validitasnya dan seberapa reliabel hasilnya. Kalau memang mau menggugat hingga MK, coba jangan emosional dulu dan siapkan data serta informasi tertulis yang valid yang tidak sekedar omongan saksi dari satu-dua orang. Sertakan etika politisi yang berilmu karena sekarang sudah tak zamannya lagi mengedepankan emosi belaka saat berdemokrasi.

Yasudahlah, gregetan saya melihat mereka-mereka ini... Singkat kata, selamat berjuang. Mari buka-bukaan hingga MK, jangan anarkis dan bawa-bawa preman. Negeri ini sudah cukup merasakan dampak kerusuhan yang mengatasnamakan demokrasi.

Wednesday, 6 March 2013

Antara Tahta dan Popularitas

Ada pepatah Arab kuno yang mengatakan bahwa, jika kalian ingin terkenal, kencingi sumur zam-zam, niscaya kalian akan masyhur seantero Jazirah Arab. Bukan saja populer di tanah Arab, anda bahkan dikenal oleh orang-orang di penjuru dunia, dimana ternyata ada orang yang berani mengencingi sumur zam-zam yang disucikan umat muslim, sesuatu yang tak lazim, nekat, dan pastinya baru pertama kali terjadi.

Itu kalau berbicara mengenai ke-terkenal-an semata, sesuatu yang memang mudah dilakukan asal memiliki nyali yang besar. Tapi tentunya bukan terkenal seperti itu yang anda inginkan. Karena menjadi populer dengan cara seperti itu tak lain cuma memberikan anda kesengsaraan walau mungkin nama dan wajah anda terpampang manis di media massa.

Maka cara aman, lazim dan umum (seperti menjadi artis, memiliki prestasi dll) untuk menjadi terkenal adalah satu-satunya jalan jika anda ingin menikmati berbagai keuntungan atas kepopuleran anda. Wajah yang kerap menghiasi laman surat kabar dan citra yang terus disorot lewat layar kaca. Sesuatu yang dilakukan bukan dengan cara ekstrim yang bertentangan dengan aturan dan norma yang berlaku.

Selanjutnya saat anda telah  menjadi populer dengan cara aman maka kini tergantung anda mengarahkannya. Jika sekedar mengisi rubrik di dalam surat kabar itu biasa dan sangat mudah. Tapi cobalah untuk berfokus pada 3 hal yang memang dituju manusia di dunia, harta, tahta, dan cinta. Karena tiga hal itu yang mayoritas dikejar oleh para tokoh-tokoh terkenal yang sukses.

Biasanya seorang yang terkenal dengan jalur menjadi artis atau dengan sebuah prestasi yang diraih akan secara tidak langsung mendapatkan dua hal yang menjadi tujuan manusia. Harta dan cinta. Mereka mudah menggaet wanita dan harta kan mengalir dengan sendirinya ke pundi-pundi tabungan mereka. Saat mereka diikat kontrak tuk berperan dalam sebuah film atau sekedar mendapat bayaran dari sebuah prestasi yang mereka miliki. Karena siapa yang bisa menolak berdekatan dengan seseorang yang populer dan memiliki banyak simpanan harta, nyaris tak ada dan itulah mengapa tiap orang berharap tuk menjadi terkenal.

Kini saat dua hal itu, harta dan cinta telah di dapat, mayoritas kaum populis kan beranjak ke tujuan selanjutnya, tahta yang akan melengkapi kesempurnaan mereka. Harta ada, cintapun dimiliki, maka tak heran tahta yang menjadi sasaran berikutnya. Jadi sangatlah relevan jika sekarang ini kita lihat kaum-kaum populer semacam artis, olahragawan, tokoh-tokoh masyarakat berbondong-bondong menceburkan diri ke jalur politik. Entah dengan menjadi calon anggota legislatif atau sekedar mencoba peruntungan sebagai calon kepala/wakil kepala daerah. Semua hal yang dapat dilakukan agar tujuan selanjutnya tercapai, menggapai tahta tuk meggenapi dua hal lainnya.

Mungkin itulah mengapa saat ini orang-orang terkenal bersaing mendapatkan tahta, sehingga jangan kaget jika kelak pemangku kekuasaan dan tahta dipegang oleh orang-orang populer. Yang mungkin sekedar memenuhi hasratnya dalam melengkapi kesempurnaan yang telah ia dapatkan sebelumnya, harta dan cinta. Padahal tahta tak hanya perkara obsesi buta yang hendak dicapai, tapi lebih dari itu, ia adalah sebuah amanah yang membutuhkan kompetensi dan profesionalitas tuk mengelolanya. Agar tatanan masyarakat yang dipangku dan diperintah olehnya menjadi lebih baik dan sejahtera.

Semoga kelak para kaum populer itu menyadari bahwa keberhasilan mereka nantinya meraih tahta tak serta merta membuat mereka layak, karena memimpin dan mengelola tahta butuh otak dan skill yang tidak sekedar mengandalkan ke-terkenal-an belaka.

Tuesday, 26 February 2013

Tempo dan PKS

Mereka ditempa dalam tekanan yang sama. Tumbuh dan berkembang di dalam pusaran hebat konstelasi represi orde baru. Tak banyak yang mengira bahwa kehidupan yang keras justru membawa mereka pada sebuah peran yang dimainkan apik, sejak dulu bahkan hingga kini.Yang satu melalui jalur pergerakan berbasis ideologi keagamaan, dan satunya lagi identik dengan kritik mencerahkan bagi para pencari kebenaran.

Tempo dan PKS, dua institusi yang lahir dari rahim yang sama bernama reformasi. Perbedaan patron dan perspektif dalam berjuang menjadikan mereka silih berganti memainkan porsi perannya masing-masing. Membuat mereka menjadi simbol atas tercapainya cita-cita demokrasi negeri ini. Idealnya, sebuah keyakinan kerap mengemuka, bahwa tak lain mereka datang dari sebuah momen yang sama dan hendaknya masing-masing saling memaklumi bahwa tak ada yang luput dari kesalahan.

Tapi yang ada kini sungguh mengecewakan, satu sama lain bagai berlomba saling menjatuhkan. Tak penting siapa yang lebih dulu memulai, tapi yang jelas sungguh menyedihkan melihat anak kandung reformasi melupakan hakikat perjuangan yang dulu mereka dengungkan. Entah mencari ketenaraan semata atau sekedar mencari sensasi sesaat tapi yang jelas perseteruan keduanya membawa kembali kenyataan pahit bahwa uang berada dibalik ini semua.

Ada yang bilang Tempo dalam hal ini media cetaknya, makin tergerus oleh pesaing yang kian beragam. Baik dari sesama media cetak ataupun media internet yang mampu menawarkan pemberitaan faktual terkini. Tempo pun diberitakan mengalami kerugian yang cukup signifikan di tahun 2012 lalu. Yang lambat laun mimpi buruk kebangkrutan kian tergambar layaknya media-media raksasa di eropa dan amerika sana yang telah gulung tikar terlebih dulu.

Tempo berusaha memutar otak, dan akhirnya ditemukan satu jawaban, mengkritik habis-habisan sebuah organisasi yang lahir dari sebuah perubahan yang selama ini dicitrakan pro pembaharuan oleh mereka yang terkenal dengan pemberitaan tajam dan membuka wawasan baru. Maka diputuskanlah, membawa PKS sebagai tumbalnya.

Hasilnya pun lumayan, sedikit banyak orang-orang kembali tertarik membeli majalah itu dan oplah pun perlahan meningkat. Counter balance dari orang-orang pro PKS pun menambah rasa yang makin menegaskan bahwa isu yang diusung Tempo memang selalu menarik apabila membawa-bawa saudara reformasinya dalam pemberitaan.

Maka dsinilah semuanya bermuara, bisnis yang perlahan menggerus cita-cita yang digaungkan sejak lama. Tapi ya, itulah realita yang ada, tinggal kini bagaimana kita menyikapinya. Apakah turut terjun dalam polemik yang ada, atau membiarkannya berlalu sampai kebenaran yang akhirnya berbicara.

Sunday, 24 February 2013

Memilih : Dilema Sang Idealis

Menjadi idealis itu terkadang makan hati, apalagi jika sang idealis terjun ke ranah praktis. Banyak hal yang tadinya indah diucapkan dengan penuh keyakinan menjadi hambar dan tak berarti kala menyentuh ranah aplikasi. Semua rencana dan gagasan seringkali berbenturan dengan realita lapangan. Entah berkaitan dengan birokrasinya atau mindset orang-orangnya.

Dari dulu bahkan hingga sekarang tiap orang punya opini masing-masing yang berkaitan dengan pengelolaan sistem pemerintahan yang tepat. Sebuah sistem yang berorientasi melayani masyarakat dan mensejahterakan mereka. Ada yang bilang hal seideal itu dapat terwujud bila pemimpin yang memegang kendali muncul dari kalangan idealis. Yang terbiasa membicarakan hal yang sepatutnya di dalam sebuah pemerintahan. Tapi ada juga yang berkata bahwa konsep idealitas tak sepenuhnya cocok dengan kondisi faktual yang bersifat relatif dan kompleks. Sehingga terkadang seorang idealis mau tak mau harus mampu berkompromi dan memiliki rentang toleransi yang besar terhadap hal yang tidak ideal.


Maka jadi sesuatu yang unik saat seorang aktivis,penggiat gerakan, dan komentator pemerintahan yang identik dengan konsep idealitas mencalonkan diri sebagai kandidat kepala daerah. Dimana posisi itu jelas-jelas kadung dipersepsi dengan kesemrawutan birokrasi dan pola berpikir. Maka jika tidak yakin mampu berkompromi dan mengubah kekusutan itu, yang ada justru cibiran dan kekecewaan kepada sang idealis.


Tapi ya semuanya kembali kepada para aktivis,komentator,dan penggiat yang idealis. Kalau memang merasa mampu silahkan mencoba, tak ada salahnya dan akan menjadi capaian yang luar biasa saat berhasil. Tapi bagi saya pribadi, menjadi aktivis, penggiat dan komentator yang idealis hendaknya membuat mereka menyadari bahwa pilihan profesi yang tepat memang hal-hal yang berbau idealis,yang jauh dari kesan negatif.


Seperti saat komentator sepakbola menjadi pelatih, atau saat penggiat anti korupsi menjadi pimpinan KPK. Karena setidaknya jika mereka gagal disana, tak ada kekecewaan karena nilai-nilai idealitas tak tergerus dan tetap terjaga. Berbeda saat mereka sang aktivis,penggiat, dan komentator idealis turun dalam kubangan lumpur seperti pilkada, capaian keberhasilan belum pasti, malah nilai-nilai dalam kritik idealis yang selama ini mereka agungkan berbenturan dengan fakta kompromi di lapangan,yang serba semrawut.


Sinis? Tidak juga, saya hanya gemes dan terkadang ingin mentoyor kepala sang komentator,aktivis idealis yang terkadang hanya bisa mengkritik karena memang lebih enak mengkritik dibandingkan berbicara praktek faktual di lapangan. Selamat memilih, dan semoga si komentator, aktivis, penggiat idealis tetap di jalan kebenaran

Wednesday, 6 February 2013

Dukun dan Wartawan

Bukan cuma sekali, bahkan tiap kali saya membaca dan menonton media massa, yang ada isinya hanya pelintiran sana-sini. Entah itu kata-kata narasumbernya yang diolah menjadi tendensius atau data yang diambil terlalu prematur untuk ditayangkan. Mungkin karena kebutuhan, atau mungkin gagah-gagahan hingga tiap sajian berita yang disuguhkan hanya mengejar kecepatan publikasi tanpa mengindahkan keakuratan. Sehingga terkesan penuh prasangka dan keraguan.

Padahal menurut hemat saya, pemirsa yang membaca dan menonton tayangan berita memiliki hak untuk mendapatkan informasi akurat yang tidak sekedar heboh dan membangkitkan minat tuk disimak. Karena seringkali mindset yang kini terbentuk dalam masyarakat, yang namanya berita dan berlabel berita menyajikan informasi yang netral, bebas dari prasangka dan tak terikat dengan kepentingan apapun. Hingga nantinya diharapkan berita tersebut dapat menjadi rujukan bagi pemirsa dalam mengambil sebuah sikap, entah melakukan sesuatu, atau sekedar diam saja sambil menyimpan baik-baik tiap detil informasi yang sewaktu-waktu dapat digunakan tuk bertindak.

Tapi kini yang berkembang justru sebaliknya, pelintiran isi berita yang disebabkan oleh kurang akuratnya informasi yang didapatkan menjadikan berita tak ubahnya ajang kreatifitas para wartawannya. Saat informasi yang didapatkan sedikit, dan deadline penayangan berita semakin dekat membuat wartawan membumbui informasi seadanya dengan sejumput asumsi-asumsi umum, dan setetes ambiguitas penulisan. Hingga berita itu kini menjelma utuh menjadi seikat informasi yang penuh prasangka.

Saya kembali teringat dengan sebuah hadit dari Rasulullah yang kurang lebih bunyinya seperti ini.
Dari Aisyah radiyallahuanha, beliau bertanya pada Rasulullah tentang berita yang disampaikan oleh para dukun;
"Ya Rasulullah.. tapi kadang-kadang para dukun itu menyampaikan berita yang benar"
Rasulullah Sholallahu Alaiyhi wa Sallam menjawab;
"Benar, berita itu memang dicuri oleh jin (dari langit) dan dia menyampaikannya kepada para dukun dengan benar! Hanya saja dukun itu menambahkan berita itu dengan seratus kebohongan" (H.R. Muslim)

Dalam hadits itu Rasulullah memberitahukan bahwa jin memang memberitakan dan menyampaikan sesuatu dengan benar atas apa yang mereka dengar dari langit , tapi karena mungkin informasi yang diberikan sedikit dan nantinya malah tak berguna sama sekali, maka para dukun itu tak segan menambahkan bumbu-bumbu kebohongan di dalam berita yang mereka dapatkan. Mirip-mirip memang dengan wartawan bedanya kalau wartawan membungkusnya dengan elegan dan mungkin tanpa kebohongan, hanya sekedar asumsi dan tendesi penulisan. Sedangkan dukun jelas-jelas membungkus berita dengan kebohongan. Walau mungkin tetap saja keduanya mirip-mirip.

Memang tidak semua wartawan seperti itu, masih banyak wartawan baik yang menjunjung tinggi nilai-nilai jurnalisme. Yang teguh memegang erat asas objektif, akurat dan seimbang. Namun memang tidak dapat dipungkiri trend yang kini berkembang tengah menyertai wartawan-wartawan yang mirip dukun itu hingga suatu saat ada media massa yang sudi memfasilitasi wartawan jujur dan baik itu.

*karena jurnalisme adalah corong kebenaran.

foto : http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/02/13287696551388440093.jpg

Sunday, 3 February 2013

Operation High Level Part-2

Dua hari berselang, sejak Rian menghubungi Wandi, merekapun bertemu kembali dalam sebuah kafe di bilangan jakarta utara. Kejadian yang sempat memutus hubungan mereka itu berlangsung 13 tahun lalu, kala mereka masih awal meniti karir di dunia profesional. Wandi yang dulu duduk sebagai komisaris utama di sebuah perusahaan jasa konstruksi dikejutkan oleh kabar yang menyebutkan bahwa Rian selaku Direktur melanggar perjanjian terhadap rekanan mereka. Gedung yang sedianya selesai dalam jangka waktu 2 tahun dengan biaya 2,5 Milyar, hanya berjalan dan dikerjakan selama 3 bulan, selebihnya tidak ada kejelasan atas rencana pembangunan gedung itu. Singkat cerita, Rian divonis bersalah dan dijatuhi hukuman 5 tahun karena terbukti melakukan wan prestasi dan penggelapan atas uang yang disetorkan oleh rekanan perusahaan. Praktis hubungan merekapun renggang dan tak ada lagi kabar tentang Rian sejak saat itu.

Sekarang Wandi tak menyangka kembali bertemu dengan Rian. Sudah lebih dari 10 tahun dan kini banyak kisah yang terlewati oleh mereka berdua.
"Bagaimana kabarmu kini? kulihat partaimu sedang naik daun dan sepertinya jalur politik memang cocok denganmu." Rian membuka pembicaraan dengan sepotong basa-basi pertemenan, harapannya pertanyaan ini mungkin akan mencairkan suasana yang masih kaku diantara mereka. Terlihat jelas dari posisi Wandi yang masih menjaga jarak.
"Kabarku baik, syukurlah jalan politik ini membawaku pada sebuah optimisme akan sebuah perubahan, karena kurasa politik mau tak mau jadi jalan yang realistis bagiku kini. Lalu bagaimana denganmu? tak kudengar kabar lagi sejak kejadian 10 tahun lalu"

Rian menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya ke sofa, suara alunan musik dan kerlip cahaya lampu restoran jadi bumbu yang menambah pilu kisah yang dibawanya.
"Aku sedang merintis usaha baru, mungkin baru berjalan sebulan ini. Bergerak di bidang ekspor-impor bahan baku makanan, apapun itu, beras, ketela, kedelai, apa sajalah, yang penting halal, aku ingin memulai kembali, dari nol, aku ingin berubah. maafkan atas ulahku dulu, kuakui saat itu aku gelap mata, kenikmatan sesaat membawaku pada kesengsaraan. Semua orang meninggalkanku tak terkecuali keluarga terdekatku."
Getir kehidupan kawannya itu membuat Wandi Simpati. Ia telah berubah.
"tenang kawan, apapun yang terjadi di masa lalu jadikan sebuah pelajaran, yang jelas apa yang akan kau lakukan, itulah yang harus kau fokuskan."
"terima kasih Wan, kurasa hatiku sedikit lega saat menceritakan hal ini padamu. Semoga hubungan kita membaik kedepannya, oh ya, semoga kau tidak kapok berbisnis denganku. haha"
"insyaAllah kawan, semoga saja."
Dan tawa lepas mengiringi perpisahan mereka di malam itu.
Setitik harapan itu pun muncul. Misi masih panjang, semoga keparat-keparat itu menepati janji mereka.

--

5 hari sebelumnya.
Paket yang ditunggu itupun tiba. Rian dengan segera membuka paket yang bisa jadi merupakan satu-satunya cara menyelamatkan keluarganya. Paket itu dibungkus dengan plastik, nama pengirimnya tidak tertera dan jasa pengirimannya pun tak dikenal. Di dalamnya ada sebungkus amplop putih beserta beberapa dokumen seperti buku tabungan, berkas-berkas akte perjanjian, dan surat surat berharga lainnya. Sesaat iapun heran dengan isi paket ini, tapi dicobanya untuk membaca dulu secarik kertas yang nampak terbungkus rapat di dalam sebuah amplop.

"Tuan Rian Wiranegara, Salam hormat.
Saat anda membaca surat ini, kondisi putra dan istri anda baik-baik saja, mereka dirawat dengan sangat baik oleh staf kami. Di dalam paket ini ada beberapa tabungan, surat berharga, dan beberapa berkas pendirian Perusahaan yang akan anda kelola. Hidup anda akan berubah dan tentunya anak istri anda akan kembali ke pangkuan anda. Syaratnya adalah anda dapat bekerja sama dengan baik, menaati tiap instruksi dan perintah yang kami berikan. Jangan coba-coba lari karena sejak saat ini, tiap gerak gerik anda terawasi dengan ketat oleh agen kami. Dan tentunya, jangan sekali-kali melapor ke polisi karena percuma saja, karena tidak akan ada yang percaya pada cerita anda, dan sedikit banyak para petinggi polisi-polisi itu adalah orang-orang kami juga.
Mulai kini anda telah resmi bergabung dalam sebuah grand design dan rencana panjang untuk sebuah pengabdian. Selamat.
NB. setelah ini, buat perjanjian dengan Ruswandi Wahab. Ceritakan tentang usaha yang anda bangun, dan selanjutnya jangan pernah lepaskan diri dari lingkar kolega terdekatnya. Anda harus menjadi yang terdepan, terus upayakan agar anda menjadi orang kepercayaannya. Dalam dua pekan kedepan, jika anda berhasil melakukan tugas dengan baik, kami akan segera membebaskan keluarga anda. 
Salam

Tak lama, Teleponnya berdering kembali, nomor yang sama dengan yang semalam.
"Halo tuan Rian, kurasa anda baru saja menerima dan membaca paket yang baru saja kami kirimkan. Jalankan tugas anda dengan baik. Karena mulai kini, hidup anda akan lebih dari cukup, dengan syarat seperti yang telah anda baca di surat itu."
Rian tak lagi dapat berpikir, ia bingung, kalut dan heran dengan kondisinya kini. "bagaimana dengan keluargaku..bagaimana keadaan mereka"
"oh ya, aku lupa, mereka baik-baik saja, dua pekan lagi, jika kau telah berhasil mendekati Ruswandi, kami akan mengembalikan anak dan istrimu. Kini kau fokuskan saja dengan tugas pertamamu. selanjutnya tunggu instruksi dari kami. Salam"
dan suara gagang telepon yang tertutup memutus percakapan mereka. Rian pun mulai paham, hidupnya kini takkan lagi sama.

--

Di sudut ruang yang gelap, nampak tersulut sepuntung rokok yang menyala terang. Dengan seksama sosok itu mengawasi monitor yang ada di hadapannya, disana jelas terlihat sebuah kamar yang ditempati oleh seorang wanita dan anak kecil. Nina dan putranya Andi.
satu lagi agen yang baru bergabung, satu lagi peluru tajam siap digunakan. Tunggu saatnya tiba sampai mereka siap untuk ditembakan ke sasaran yang tepat.
Kini telah 205 orang telah tersebar di beberapa organisasi besar. Dari beragam latar belakang, dan beragam tujuan. Mungkin kini mereka tidak penting, dan mungkin tidak diperhitungkan, ah ia pun menyukainya, semakin mereka dianggap sepele, semakin tajam fungsi mereka, yang disaat nanti siap dihunuskan dan tepat sasaran menembus jantung lawan.
Sosok itu berjalan keluar dari ruang gelapnya dengan senyum merekah. Memakai baju dinas, dan baret hijau menutupi kepala. Dengan keyakinan penuh, ia naik ke lantai dasar, keluar dari sebuah rumah besar di daerah menteng jakarta pusat. Memacu mobilnya dan berperan kembali sebagai sosok yang ramah senyuman dengan sejuta pesona di hadapan media.
Bersiap untuk misi selanjutnya. beberapa tahun lagi, dan peluru-peluru itu siap ditembakkan.
 

Saturday, 2 February 2013

Operation High Level - Part 1

"Jadi, kau bisa menolongku Wan?"
Pengalaman bersama orang ini mengingatkannya akan banyak hal, bahwa tak selamanya berbisnis dengan seorang teman akan berbuah manis. Tak tega rasanya menolak permintaan orang ini. Menelepon berkali-kali ke nomor hape-nya yang mungkin hanya beberapa orang saja yang tahu, Wakilnya, beberapa staf ahli, dan mungkin satu dua pimpinan. Dari mana orang ini tahu nomorku?

"Baik, apa yang bisa saya bantu"
disela rapat yang sedang di-skors, ia mengangkat telepon dari orang itu.
"jadi begini, aku ingin minta maaf terkait permasalahan dulu, sekalian memberi sesuatu untukmu, sebagai bentuk permintaan maaf dari seorang kawan"
orang diseberang sana berucap lirih, disertai harapan akan permintaan yang semoga terpenuhi.
"Tenang, itu kejadian lampau, kita sama-sama mafhum atas kesalahpahaman itu, tiap orang pernah melakukan kesalahan,saya sudah maafkan sejak dulu "
Ia berusaha meredam kenangan-kenangan buruk bersama orang ini, manipulasi, intrik dibelakang dirinya, pemalsuan berkas-berkas itu, ah semua itu seolah berputar kembali di benaknya.
Istighfar Wan, bersyukur akhirnya kau bisa lolos dari dakwaan.

"tapi aku bener-bener ingin memperbaiki kesalahan, bisa kita bertemu di kafe priok besok malam?"
"eh kafe priok? tempat apa itu?"
ada rasa curiga yang makin menyeruak dibenaknya, tapi.. Ah jangan terlalu berpikiran negatif.
"itu Wan, restoran yang baru dibuka di daerah Penjaringan jakarta utara, deket dengan rumahmu bukan? Tempat yang asyik untuk berdiskusi." 
Wandi berpikir sesaat ketika mendengar ajakan orang ini. tak ada salahnya, anggap silaturahmi biasa.

"jadi bagaimana? kau bisa?"
"Eh, saya cek agenda dulu, kemungkinan besok malam ada rapat pimpinan di senayan. Nanti kalau oke saya kabari lagi nanti"
"oke, aku tunggu kabarnya, terima kasih "
"sama-sama, no problem. eh maaf saya tutup dulu, rapat akan dimulai, nanti saya hubungi lagi wassalamualaikum"
"Waalaikumsalam"

Orang itu menutup telepon. Di sebuah kamar kontrakan berukuran empat kali enam meter, ia terpekur sendiri, menyadari sebuah tindakan yang tak mungkin ditolaknya.
"Ingat, kalau ingin keluargamu selamat, ikuti perintah kami"
Suara misterius itu mengusik kedamaian yang baru dititinya kembali. Seminggu yang lalu selepas keluar dari bui, ia yang bertekad melanjutkan hidup yang tenang menyadari bahwa tak mudah tuk kembali pada jalan kebaikan. Baru beberapa saat bercengkrama bersama anaknya yang beranjak besar dan istri tercinta yang sangat dirindukan,  ia menerima telepon dari seseorang.
"Dengan bapak Rian, bagaimana rasanya menghirup udara bebas? nikmat bukan?
"siapa kau?" Emosinya sedikit terpancing dengan perkataan orang ini.
"anda tak perlu tahu siapa kami, yang jelas sebuah tugas akan menanti anda. tunggu instruksi selanjutnya dari kami"
"hei, siapa ini"
dan sambungan telepon terputus. Orang gila, tak perlu dihiraukan.

Keesokan harinya, ia yang terbangun di kontrakan kecil di daerah Slipi jakarta pusat, menyadari sesuatu. Istri dan anaknya belum kembali sedari pagi. Kalau tak salah pergi ke pasar seperti pagi yang lalu-lalu. Ia beranjak keluar dari kamar dan menuju pintu depan kontrakan. Matahari mulai meninggi dan sedikitpun tak ada tanda kehadiran anak dan istrinya. Kemana mereka, sampai sekarang belum kembali juga. Kekhawatiran dan ketakutan mulai berkecamuk di dadanya. Pikiran-pikiran negatif sesekali muncul saat ia teringat kembali sosok yang menghubunginya tadi malam.

Lamunannya pecah oleh suara dering telepon. nomor yang semalam. 
"Halo, siapa ini?"
"Halo juga bapak Rian, siap untuk menerima tugas?"
"Kau gila, sinting, apa maksudmu dengan tugas" kata-kata pedas tak mampu lagi ditahannya, orang ini ingin mencari gara-gara.
"Hei kawan, tenanglah sedikit, suara kerasmu bisa membangunkan anakmu yang sedang tertidur, ia nampak pulas dipangkuan ibunya."
Seketika perkataan orang ini bagai menyengatnya, ia terpaku, Nina, Andi. 
"apa yang kalian lakukan terhadap keluargaku, tolong, jangan sakiti mereka, silahkan, apa yang harus kulakukan, tapi tolong jangan libatkan mereka."
Sosok diseberang sana tertawa. "Sudah paham dengan kondisimu kini? baik ini yang harus kau lakukan. Dua hari ini, kau hubungi nomor yang akan kukirimkan lewat SMS. itu nomor Ruswandi Wahab, pasti kau mengenalnya. Ajak dia, bujuk dia sampai dia mau bertemu denganmu. Besok kau buka sebuah paket yang kami kirimkan ke rumahmu lalu ikuti instruksi yang ada di dalam paket itu, kau mengerti?"

ia mencerna perkataan orang itu yang serasa bertabrakan di otaknya, entah terlalu cepat atau dirinya yang terlampau kalut. "eh tapi aku sudah tak ingin lagi mengganggu Wandi, terlebih atas apa yang kulakukan padanya dulu."
"Kau bodoh atau idiot?? kau belum sadar nyawa keluargamu jadi taruhannya."
"baik baik, oke, kuturuti keinginanmu, tapi tolong, aku ingin berbicara dengan mereka sebentar saja"
sosok diseberang sana memberikan gagang telepon pada Nina.
"ayah, aku takut,"
"tenang sayang, semua akan baik2 saja"
"jangan tinggalkan kami, aku.."
Orang itupun mengambil gagang telepon dan berbicara kembali pada Rian. "Oke cukup, jadi sudah jelas? jangan main-main atau kau takkan bertemu mereka lagi selamanya." dan di seberang sana suara telepon tertutup terdengar memilukan. "tunggu tunggu, jangan kau.." dan Rian pun hanya tertunduk lesu. Tak disangka, begitu sulitnya tuk kembali lurus.

-cont'd

foto : http://osmd.files.wordpress.com/2012/03/dilema.jpg

Friday, 1 February 2013

Politik itu Kotor (katanya)



Ada adagium yang mengatakan Politik itu kotor, jadi Agama yang bersih dan suci tak usahlah ikut-ikutan berpolitik, nanti malah merusak citra dan mencoreng nilai-nilai Agama itu sendiri. Maka tak heran di barat sana, dimana kesucian simbol-simbol keagamaan dijunjung tinggi, mengharamkan Agama ikut campur dalam urusan Negara. Ia terpisah dan jadi urusan pribadi masing-masing individu, biarkan Agama tetap steril dan biarkan kaum sekuler yang berkubang dalam kotornya perpolitikan.

Dalam taraf tertentu, mindset sekulerisme nampak diterima dengan baik di sebagian Negara muslim, tak terkecuali di Indonesia. Oke, saya tahu Indonesia bukan Negara sekuler karena jelas terlihat, nilai-nilai relijiusitas tidak sekedar menjadi urusan masing-masing individu, tapi telah menjadi bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dimana tokoh-tokoh agama merupakan tonggak berdirinya Negara ini dan mewarnai sendi kehidupannya. Walau mungkin tetap harus diakui, Negara ini mau tidak mau berlandaskan pancasila yang tidak secara tegas menjadikan agama sebagai landasan bernegara meski di sila pertama pancasila tertulis jelas kata-kata Tuhan di sana.

Maka tidak heran dengan ambigunya nilai-nilai yang dituliskan dalam pancasila membuat aplikasi kongkret ideologi ini merupakan tafsiran masing-masing kelompok, entah kelompok agamis, kelompok banci ataupun kelompok sekuler. Yang agamis mengatakan bahwa berpolitik dan bernegara juga merupakan bagian dari beragama, ada tanggung jawab kemanusiaan dan amanah tuhan disana, sehingga ikut andil di dalamnya merupakan sebuah bentuk keharusan.

Yang banci mengatakan ada hal-hal yang secara alami tak dapat dicampuri agama hingga tak selamanya berpolitik itu cocok dengan konsep keagamaan, jadi tak usahlah meributkan cara agama dalam bernegara karena memang tak selamanya agama itu cocok dengan kehidupan (?).

 Sedangkan yang terakhir, yang sekuler mengatakan bahwa politik itu nature nya memang kotor, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, jadi takkan pernah cocok dengan agama yang secara jelas menyatakan bahwa kebaikan dan keburukan selamanya takkan bersatu. Jadi biarkan sekulerisme bekerja dan silahkan para tokoh agama duduk manis menjalankan nilai-nilai rohani.

--

Dan kini nampak jelas terlihat, politik memang dimaknai kotor oleh sebagian masyarakat negeri ini. Termakan isu yang memang secara sistematis menempatkan politik tak jauh dari pemakluman akan sebuah kebusukan. Tak apalah kotor dan bau-bau sedikit, toh wajar saja bukan kalau politik itu memang tengik? Jadi tak usah heran jika melihat ada politikus yang terjerat kasus hukum karena memang itu sudah nature nya. Ya dihujat sedikit dan dicela sesekali tak apalah, toh rakyat cepat lupa lagipula kami bukan dari kelompok agama, jadi wajarlah melakukan salah, kami bukan manusia suci.

Standar politik yang terlampau rendah jadi sesuatu yang lumrah. Sampai-sampai jika ada yang keluar dari mainstream yang ada seolah dipaksa untuk turun bersama dalam kubangan yang sama. Maka tak sepatutnya jika ada kelompok agamis berpolitik yang bersih, partai yang profesional, kader yang peduli dan perilaku yang membangun, karena itu semua bukan sesuatu yang wajar untuk sebuah laku yang bernama politik di negeri ini. Politik harus tetap pada maqomnya, sesuatu yang kotor dan busuk,  dan jika ada yang membelot, selayaknya tuk ditempatkan kembali sesuai dengan posisi sebenarnya meski itu dari kelompok agamis sekalipun.

Maka tak heran, apapun dilakukan demi menempatkan kembali sebuah organ politik yang bersih pada posisi yang selayaknya bersama para kubangers, entah dengan pembunuhan karakter ataupun opini yang menyudutkan. Syaratnya mudah, cari saja satu cela dari mereka dan ungkapkanlah seramai mungkin, hingga seolah tak tersisa lagi kebaikan yang ada pada mereka.

Sakit, kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat negeri ini sekarang. Ketika klaim bersih dan jargon professional takkan pernah tersandang untuk sebuah institusi politik meski ia berasal dari kelompok agama. Karena sekali saja mengaku bersih, ketika itu pula puluhan, ribuan bahkan jutaan orang akan berbondong-bondong mencari tahu kesalahan anda dan dengan bangga mengatakan.. “tuh kan, gw bilang juga apa, make ngaku-ngaku bersih dan anti korupsi sih, make bawa-bawa agama sih, sekarang baru ketauan kan??”

Ah negeriku..

Foto : http://fc06.deviantart.net/fs70/f/2011/330/2/e/sejuk_by_karman87-d4hbq2l.jpg