Semalam ada kicauan menarik dari salah seorang tweeps di twitterland. Rangkaian kultwitnya ditanggapi beragam dari followernya yang mayoritas merasa 'kegerahan' dengan berbagai opininya, kali ini tentang #miras. Tak banyak tweet beliau yang saya baca, hanya sebagian saja dan itu sudah membuat jidat saya mengkerut, tak heran, alur berpikir khas "sepilis" (sekularisme, pluralisme, liberalisme). Beberapa opininya coba saya tanggapi di tulisan kali ini.
Yang pertama mengenai regulasi miras, menurutnya dalam hal ini kita (baca: masyarakat) harus melepaskan diri dari soal pilihan moral, maka saat umat islam percaya miras haram, itu pilihan moral mereka. Jadi saat membicarakan regulasi miras, maka isu utamanya adalah public safety, bukan urusan halal-haram. Hm.. membaca tweet beliau ini, kok saya menjadi tersenyum ya. Ada beberapa point menarik dari pernyataan beliau ini.
Pertama mengenai apa itu sebenarnya halal haram dan apa maksud beliau tentang 'pilihan moral'. Halal haram itu masuk dalam kategori rule, peraturan, syariah, jalan yang harus ditempuh, dipatuhi dan tidak sekedar simbol moral-immoral belaka. Karena halal itu adalah sesuatu yang boleh dilakukan, dan haram adalah hal yang dilarang untuk dilakukan. Definisi yang beririsan dengan definisi regulasi yang hakikatnya sama dengan apa yang beliau maksudkan, yaitu sama-sama peraturan yang harus dipatuhi. Jadi ada semacam kerancuan berpikir saat beliau memposisikan halal-haram diluar definisi regulasi.
Kedua mengenai term 'mereka' yang beliau tujukan kepada umat muslim. Sebuah statement yang secara tidak langsung menegaskan bahwa beliau berada di posisi outgroup. Tidak masuk bagian dari umat islam, dan tidak ikut-ikutan dengan pilihan halal-haram umat islam. Sebuah pernyataan yang 'wow' yang menyadarkan saya bahwa tak heran beliau begitu mudahnya membuat hal-hal kontroversial karena memang tak ada beban sebagai seorang ingroup, umat islam.
Tweet kedua yang saya cermati adalah mengenai turunnya ayat Alquran yang mengatur tentang khamr. Dalam Alquran memang Allah tidak serta merta melarang pengharaman Khamr, akan tetapi dilakukan secara perlahan satu persatu. Dari pelarangan menjauhi shalat saat mabuk, sampai pengharaman mutlak untuk dikonsumsi.
Yang menarik adalah cara pandang beliau yang menganggap bahwa pelarangan khamr yang perlahan hanya terjadi dalam konteks pertikaian sosial seperti yang tersirat dalam surah Al Maidah 90-91. Jadi kalau tidak menimbulkan pertikaian sosial, khamr boleh-boleh saja dikonsumsi, dan menariknya beliau mengambil contoh dari barat sana saat khamr ternyata tidak menghalangi kemajuan suatu bangsa. Karena banyak bangsa-bangsa yang melegalisasi khamr dan membudayakannya, lebih maju dari berbagai aspek.
Duh.. kok saya semakin tersenyum membaca jalan berpikir beliau ya. Pertama, pengharaman khamr perlahan mengandung hikmah bahwa yang namanya dakwah memang harus dilakukan perlahan, tidak langsung diharamkan. Yang ada jika itu dilakukan, dakwah malah tak berhasil dan orang-orang tersebut terlanjur kabur.
Kedua, mengenai pertikaian sosial yang disebabkan oleh khamr. Memang benar bahwa yang namanya khamr bisa memancing emosi dan perkelahian antar kelompok, karena akal sedang kehilangan kendalinya. Tapi itu tidak serta merta menjadi sebuah indikasi bahwa negara yang melegalisasi dan membudayakan miras dimana disana tidak terjadi konflik sosial dianggap lebih maju dan membuat pengharaman atas khamr menjadi hilang. Karena tak ada korelasinya antara budaya miras, penghalalan khamr, dengan kemajuan suatu bangsa. Duh.. cara berpikir yang aneh.
Lalu tweet lainnya mengenai Alquran dan Hadits yang tidak mengatur sanksi mengenai peminum miras, serta beberapa orang sahabat yang menjadi peminum khamr sebelum masuk islam. Seolah-olah karena tidak adanya sanksi dan budaya sebagian sahabat (sebelum islam datang) sebagai peminum khamr membuat pemakluman bagi perkara keharamannya. Pernyataan yang seakan menjadi pembenaran khamr.
Tapi perlu kita ingat,walaupun sebagian sahabat dulunya peminum khamr, tapi sejak turunnya wahyu yang melarangnya, serta merta para sahabat langsung meninggalkannya. Bahkan menurut sebagian riwayat, jalan-jalan di kota madinah penuh dengan genangan khamr yang dibuang. Selain itu, walaupun tidak ada sanksi tertulis dalam Al Quran dan Sunnnah tentang sanksi peminum khamr, tapi di zaman sahabat sanksi tentang meminum khamr telah diatur.
Contohnya saat Umar menerapkan hukuman cambuk bagi anaknya yang meminum Khamr. Jadi meskipun tidak tertulis secara eksplisit dalam Quran dan Sunnah, para sahabat telah berijtihad dalam menentukan sanksi bagi peminum khamr. Karena para sahabat adalah sebaik-baik Ulama sepeninggal Rasul, karena mereka paling memahami Quran dan Sunnah. Akan sangat sulit menyatukan pandangan jika si pembuat tweet tidak mengakui ijtihad para sahabat. gak bakal ketemu ujungnya.
Tapi memang khamr tidak dilegalkan di dunia, tapi di surga sana. Karena di surga sana, khamr jadi minuman yang halal dan disajikan bagi para penghuni surga. Mungkin itu sebabnya mereka, sepilis-sepilis itu, menghalalkan khamr, karena bisa jadi dunia bagaikan surga bagi mereka. Jadi gak usah heran kalau kelakuan mereka seperti itu.
Showing posts with label liberal. Show all posts
Showing posts with label liberal. Show all posts
Tuesday, 16 April 2013
Tuesday, 5 March 2013
Ngeyel dan Skeptis
Kini tak lagi ada batasan tentang apa dan bagaimana sebuah bentuk pertanyaan patut dilontarkan. Perkara apakah urusan tersebut sudah jelas ataukah masih jadi perdebatan yang terpenting adalah bagaimana simbol skeptisme macam pertanyaan-pertanyaan kritis dapat menjadi sebuah tradisi dalam suatu komunitas. Sehingga sebuah kelompok dikatakan memiliki tatanan masyarakat berkebudayaan saat orang-orang di dalamnya dengan leluasa melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis yang kadung dimaknai (terlalu) positif.
Kadang kala tak selamanya berbagai pertanyaan yang muncul memang ditujukan untuk memperjelas sebuah fenomena, atau sekedar menjawab ketidaktahuan seseorang tentang sesuatu. Karena tak jarang pertanyaan yang muncul merupakan cara dan mekanisme yang dapat dijadikan argumen oleh seseorang untuk menghindar dari sebuah kewajiban dan menyerang sebuah nilai yang diaggap berlawanan dengan dirinya.
Mungkin kita masih ingat saat kecil dulu, di mana seringkali kita melontarkan berbagai alasan untuk menghindarkan diri dari kewajiban yang ada di dalam rumah. Misalnya saat kita diminta untuk membersihkan halaman depan. Dengan kondisi halaman depan yang kotor dan penuh dengan dedaunan memaksa kita memutar otak tuk mencari alasan agar tetap bisa menonton tayangan TV favorit di ruang tamu yang nyaman. Maka kita pun seringkali memunculkan banyak pertanyaan untuk itu, dalam rangka menghindari kewajiban membersihkan halaman.
"Loh ma, itu sapu lidi nya mana? emang bisa pake sapu lidi yang ini? yang ini kan kekecilan"
"Ma, kalau halaman yang itu juga harus dibersihkan? disitu ada genangan air, jadi percuma juga untuk disapu"
Serta berbagai pertanyaan dan argumen yang bertujuan tuk menghindar dari kewajiban.
Atau mungkin saat kita bermain bersama teman-teman di bangku SD, dimana seringkali lontaran pertanyaan yang muncul bertujuan untuk menyerang seseorang yang tidak kita sukai. Misalnya saat seorang anak memamerkan mainan barunya membuat kita melontarkan berbagai pertanyaan meledek yang menyiratkan ketidaksukaan kita padanya.
"emang itu buatan mana? ah paling buatan cina"
"mobilnya bisa apa aja? ah paling maju mundur doank"
Dan beragam pertanyaan yang bernada negatif mengenai orang yang tidak kita sukai.
Beberapa orang terutama para tetua menyebut tingkah laku ini bernama ngeyel. Sulit tuk menerima kebenaran dan kenyataan walau itu sudah jelas-jelas terlihat. Walau mungkin kebenaran sudah jelas tergambar tapi tetap saja karena ada keinginan tuk menghindar dari kewajiban dan tidak menyukai sesuatu, maka terlontarlah pertanyaan yang terkesan kritis dan berbobot.
Maka kini jadi sesuatu yang unik kala beragam pertanyaan yang terlihat kritis jadi terkesan ngeyel kala mempertanyakan dan memperdebatkan sesuatu yang telah jelas-jelas kebenarannya. Macam golongan munafik zaman rasul yang kerap kali melontarkan alasan dan pertanyaan terhadap sesuatu yang sudah mutlak hukumnya.
Jadi memang tak selamanya lontaran kritik terlihat keren dimata orang-orang. Karena salah-salah gaya kita yang terkesan elegan dengan pertanyaan yang menusuk tajam malah membuat kita tak ubahnya orang-orang skeptis yang tak lebih dari sekelompok manusia yang sukanya ngeyel.
Kadang kala tak selamanya berbagai pertanyaan yang muncul memang ditujukan untuk memperjelas sebuah fenomena, atau sekedar menjawab ketidaktahuan seseorang tentang sesuatu. Karena tak jarang pertanyaan yang muncul merupakan cara dan mekanisme yang dapat dijadikan argumen oleh seseorang untuk menghindar dari sebuah kewajiban dan menyerang sebuah nilai yang diaggap berlawanan dengan dirinya.
Mungkin kita masih ingat saat kecil dulu, di mana seringkali kita melontarkan berbagai alasan untuk menghindarkan diri dari kewajiban yang ada di dalam rumah. Misalnya saat kita diminta untuk membersihkan halaman depan. Dengan kondisi halaman depan yang kotor dan penuh dengan dedaunan memaksa kita memutar otak tuk mencari alasan agar tetap bisa menonton tayangan TV favorit di ruang tamu yang nyaman. Maka kita pun seringkali memunculkan banyak pertanyaan untuk itu, dalam rangka menghindari kewajiban membersihkan halaman.
"Loh ma, itu sapu lidi nya mana? emang bisa pake sapu lidi yang ini? yang ini kan kekecilan"
"Ma, kalau halaman yang itu juga harus dibersihkan? disitu ada genangan air, jadi percuma juga untuk disapu"
Serta berbagai pertanyaan dan argumen yang bertujuan tuk menghindar dari kewajiban.
Atau mungkin saat kita bermain bersama teman-teman di bangku SD, dimana seringkali lontaran pertanyaan yang muncul bertujuan untuk menyerang seseorang yang tidak kita sukai. Misalnya saat seorang anak memamerkan mainan barunya membuat kita melontarkan berbagai pertanyaan meledek yang menyiratkan ketidaksukaan kita padanya.
"emang itu buatan mana? ah paling buatan cina"
"mobilnya bisa apa aja? ah paling maju mundur doank"
Dan beragam pertanyaan yang bernada negatif mengenai orang yang tidak kita sukai.
Beberapa orang terutama para tetua menyebut tingkah laku ini bernama ngeyel. Sulit tuk menerima kebenaran dan kenyataan walau itu sudah jelas-jelas terlihat. Walau mungkin kebenaran sudah jelas tergambar tapi tetap saja karena ada keinginan tuk menghindar dari kewajiban dan tidak menyukai sesuatu, maka terlontarlah pertanyaan yang terkesan kritis dan berbobot.
Maka kini jadi sesuatu yang unik kala beragam pertanyaan yang terlihat kritis jadi terkesan ngeyel kala mempertanyakan dan memperdebatkan sesuatu yang telah jelas-jelas kebenarannya. Macam golongan munafik zaman rasul yang kerap kali melontarkan alasan dan pertanyaan terhadap sesuatu yang sudah mutlak hukumnya.
Jadi memang tak selamanya lontaran kritik terlihat keren dimata orang-orang. Karena salah-salah gaya kita yang terkesan elegan dengan pertanyaan yang menusuk tajam malah membuat kita tak ubahnya orang-orang skeptis yang tak lebih dari sekelompok manusia yang sukanya ngeyel.
Tuesday, 26 February 2013
Tempo dan PKS
Mereka ditempa dalam tekanan yang sama. Tumbuh dan berkembang di dalam pusaran hebat konstelasi represi orde baru. Tak banyak yang mengira bahwa kehidupan yang keras justru membawa mereka pada sebuah peran yang dimainkan apik, sejak dulu bahkan hingga kini.Yang satu melalui jalur pergerakan berbasis ideologi keagamaan, dan satunya lagi identik dengan kritik mencerahkan bagi para pencari kebenaran.
Tempo dan PKS, dua institusi yang lahir dari rahim yang sama bernama reformasi. Perbedaan patron dan perspektif dalam berjuang menjadikan mereka silih berganti memainkan porsi perannya masing-masing. Membuat mereka menjadi simbol atas tercapainya cita-cita demokrasi negeri ini. Idealnya, sebuah keyakinan kerap mengemuka, bahwa tak lain mereka datang dari sebuah momen yang sama dan hendaknya masing-masing saling memaklumi bahwa tak ada yang luput dari kesalahan.
Tapi yang ada kini sungguh mengecewakan, satu sama lain bagai berlomba saling menjatuhkan. Tak penting siapa yang lebih dulu memulai, tapi yang jelas sungguh menyedihkan melihat anak kandung reformasi melupakan hakikat perjuangan yang dulu mereka dengungkan. Entah mencari ketenaraan semata atau sekedar mencari sensasi sesaat tapi yang jelas perseteruan keduanya membawa kembali kenyataan pahit bahwa uang berada dibalik ini semua.
Ada yang bilang Tempo dalam hal ini media cetaknya, makin tergerus oleh pesaing yang kian beragam. Baik dari sesama media cetak ataupun media internet yang mampu menawarkan pemberitaan faktual terkini. Tempo pun diberitakan mengalami kerugian yang cukup signifikan di tahun 2012 lalu. Yang lambat laun mimpi buruk kebangkrutan kian tergambar layaknya media-media raksasa di eropa dan amerika sana yang telah gulung tikar terlebih dulu.
Tempo berusaha memutar otak, dan akhirnya ditemukan satu jawaban, mengkritik habis-habisan sebuah organisasi yang lahir dari sebuah perubahan yang selama ini dicitrakan pro pembaharuan oleh mereka yang terkenal dengan pemberitaan tajam dan membuka wawasan baru. Maka diputuskanlah, membawa PKS sebagai tumbalnya.
Hasilnya pun lumayan, sedikit banyak orang-orang kembali tertarik membeli majalah itu dan oplah pun perlahan meningkat. Counter balance dari orang-orang pro PKS pun menambah rasa yang makin menegaskan bahwa isu yang diusung Tempo memang selalu menarik apabila membawa-bawa saudara reformasinya dalam pemberitaan.
Maka dsinilah semuanya bermuara, bisnis yang perlahan menggerus cita-cita yang digaungkan sejak lama. Tapi ya, itulah realita yang ada, tinggal kini bagaimana kita menyikapinya. Apakah turut terjun dalam polemik yang ada, atau membiarkannya berlalu sampai kebenaran yang akhirnya berbicara.
Tempo dan PKS, dua institusi yang lahir dari rahim yang sama bernama reformasi. Perbedaan patron dan perspektif dalam berjuang menjadikan mereka silih berganti memainkan porsi perannya masing-masing. Membuat mereka menjadi simbol atas tercapainya cita-cita demokrasi negeri ini. Idealnya, sebuah keyakinan kerap mengemuka, bahwa tak lain mereka datang dari sebuah momen yang sama dan hendaknya masing-masing saling memaklumi bahwa tak ada yang luput dari kesalahan.
Tapi yang ada kini sungguh mengecewakan, satu sama lain bagai berlomba saling menjatuhkan. Tak penting siapa yang lebih dulu memulai, tapi yang jelas sungguh menyedihkan melihat anak kandung reformasi melupakan hakikat perjuangan yang dulu mereka dengungkan. Entah mencari ketenaraan semata atau sekedar mencari sensasi sesaat tapi yang jelas perseteruan keduanya membawa kembali kenyataan pahit bahwa uang berada dibalik ini semua.
Ada yang bilang Tempo dalam hal ini media cetaknya, makin tergerus oleh pesaing yang kian beragam. Baik dari sesama media cetak ataupun media internet yang mampu menawarkan pemberitaan faktual terkini. Tempo pun diberitakan mengalami kerugian yang cukup signifikan di tahun 2012 lalu. Yang lambat laun mimpi buruk kebangkrutan kian tergambar layaknya media-media raksasa di eropa dan amerika sana yang telah gulung tikar terlebih dulu.
Tempo berusaha memutar otak, dan akhirnya ditemukan satu jawaban, mengkritik habis-habisan sebuah organisasi yang lahir dari sebuah perubahan yang selama ini dicitrakan pro pembaharuan oleh mereka yang terkenal dengan pemberitaan tajam dan membuka wawasan baru. Maka diputuskanlah, membawa PKS sebagai tumbalnya.
Hasilnya pun lumayan, sedikit banyak orang-orang kembali tertarik membeli majalah itu dan oplah pun perlahan meningkat. Counter balance dari orang-orang pro PKS pun menambah rasa yang makin menegaskan bahwa isu yang diusung Tempo memang selalu menarik apabila membawa-bawa saudara reformasinya dalam pemberitaan.
Maka dsinilah semuanya bermuara, bisnis yang perlahan menggerus cita-cita yang digaungkan sejak lama. Tapi ya, itulah realita yang ada, tinggal kini bagaimana kita menyikapinya. Apakah turut terjun dalam polemik yang ada, atau membiarkannya berlalu sampai kebenaran yang akhirnya berbicara.
Wednesday, 16 January 2013
Si Ulil (U besar) dan si ulil (u kecil)
Bagi saya ulil itu kreatif, banyak akalnya, dan pantang menyerah. Tapi ada kalanya Si ulil ini keterlaluan tingkahnya, ngeyel, inkonsisten dan yang paling penting tidak kapok-kapok walau berkali-kali kena semprot si Komo, Dompu dan Belu gegara usilnya keterlaluan. Eh, ini saya sedang membicarakan ulil di serial Komo loh ya, drama boneka kreasi Kak Seto, bukan membicarakan Ulil yang satunya lagi. :p
Sosok ulil (ulat usil) ini kadung melekat di pikiran saya jika mendengar kata Ulil. Maka ketika beranjak besar dan melek keislaman, mendengar nama Ulil asosiasi sayapun langsung tertuju pada ulat usil iseng yang ada di serial Si Komo, eh tapi ternyata bukan Ulil yang itu, ada Ulil yang lain rupanya. Pria kelahiran Pati 46 tahun silam yang kini menjabat sebagai Ketua Divisi Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan DPP Partainya Angelina Sondakh (eh dia masih terdaftar anggota partai kan ya? hehe) dan tak lupa penggiat serta founding father JIL (Jaringan Ib.. eh Islam Liberal).
Sayapun tak sepenuhnya keliru menyamakan ulil (U kecil) dengan Ulil (U besar), ada beberapa kesamaan diantara mereka berdua. Keduanya sama-sama kreatif dan banyak akalnya. Kalau ulil selalu memiliki ide kreatif untuk mengakali si Komo, Ulil pun tak jauh beda, ia coba menyegarkan umat dengan sebuah ide tentang arti kebebasan, Liberal, segala hal patut dan bebas dipertanyakan termasuk dalam hal simbol-simbol keislaman fundamental, maka tak heran Alquran dan Haditspun perlu diaktualisasikan sesuai perkembangan zaman, kreatif bukan?
ulil dan Ulil sama-sama pantang menyerah. Tiap episode, si ulil selalu tampil dengan semangat baru walau berkali-kali pula kena batunya sendiri karena keisengannya. Begitu juga dengan Ulil, pantang menyerah membela ide-ide islam liberalnya, walau berkali-kali dipatahkan oleh para Ulama dan para penggiat, aktivis #IndonesiatanpaJIL. Padahal kebenaran itu nampak nyata tapi entah mengapa hidayah itu seperti belum sampai padanya.
Keduanya pun tidak pernah kapok walau berkali-kali terkena sentilan. ulil yang selalu bertahan di tiap episode atas segala keisengannya, dan Ulil yang tetap bertahan atas segala ide-ide kreatifnya, terakhir saya lihat di timeline twitter, ia pun menyadari kesalahannya yang mengatakan bahwa Islam gagap dalam menghadapi kasus perkosaan. Ia pun sempat menantang @syarifbaraja (salah satu tweeps) untuk membawa literatur fikih klasik dalam Islam yang membahas tentang kasus perkosaan, yang seketika dijawab oleh @benjameel dengan al muntaqa syarhu al muwatha' juz 5 halaman 268 kitab hudud, bab ma jaa fil mugtshibah (tentang perkosaan). Ulil sepertinya kaget (walau saya gak tau juga dia beneran kaget apa nggak) karena ada yang bisa mejawab tantangannya.
Terakhir, khusus untuk mas Ulil (untuk ulil si komo, sudah cukup kayaknya. hehe), menjadi skeptis dan serba relatif itu cenderung mudah, anda tinggal mempertanyakan saja segala sesuatunya karena tidak ada satupun yang sifatnya mutlak benar bagi anda. Sedangkan menjadi cerdas dengan segala kemampuan untuk menerima kebenaran yang datangnya dari fitrah kemanusiaan, anugerah Rabb semesta alam, itu yang sulit, perlu hidayah. Ibarat menghancurkan bangunan, tanpa perlu skill, anda dapat menjadi penghancur yang baik, tapi menjadi seorang kuli dengan jerih payah keringat dalam membangun, itu yang tak mudah.
Segitu aja ya mas Ulil, mohon maaf kalau ada salah-salah kata.. #masihbelajar.
foto: http://blog.trisakti.ac.id/masjid/files/2012/08/hidayah.jpg
Sosok ulil (ulat usil) ini kadung melekat di pikiran saya jika mendengar kata Ulil. Maka ketika beranjak besar dan melek keislaman, mendengar nama Ulil asosiasi sayapun langsung tertuju pada ulat usil iseng yang ada di serial Si Komo, eh tapi ternyata bukan Ulil yang itu, ada Ulil yang lain rupanya. Pria kelahiran Pati 46 tahun silam yang kini menjabat sebagai Ketua Divisi Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan DPP Partainya Angelina Sondakh (eh dia masih terdaftar anggota partai kan ya? hehe) dan tak lupa penggiat serta founding father JIL (Jaringan Ib.. eh Islam Liberal).
Sayapun tak sepenuhnya keliru menyamakan ulil (U kecil) dengan Ulil (U besar), ada beberapa kesamaan diantara mereka berdua. Keduanya sama-sama kreatif dan banyak akalnya. Kalau ulil selalu memiliki ide kreatif untuk mengakali si Komo, Ulil pun tak jauh beda, ia coba menyegarkan umat dengan sebuah ide tentang arti kebebasan, Liberal, segala hal patut dan bebas dipertanyakan termasuk dalam hal simbol-simbol keislaman fundamental, maka tak heran Alquran dan Haditspun perlu diaktualisasikan sesuai perkembangan zaman, kreatif bukan?
ulil dan Ulil sama-sama pantang menyerah. Tiap episode, si ulil selalu tampil dengan semangat baru walau berkali-kali pula kena batunya sendiri karena keisengannya. Begitu juga dengan Ulil, pantang menyerah membela ide-ide islam liberalnya, walau berkali-kali dipatahkan oleh para Ulama dan para penggiat, aktivis #IndonesiatanpaJIL. Padahal kebenaran itu nampak nyata tapi entah mengapa hidayah itu seperti belum sampai padanya.
Keduanya pun tidak pernah kapok walau berkali-kali terkena sentilan. ulil yang selalu bertahan di tiap episode atas segala keisengannya, dan Ulil yang tetap bertahan atas segala ide-ide kreatifnya, terakhir saya lihat di timeline twitter, ia pun menyadari kesalahannya yang mengatakan bahwa Islam gagap dalam menghadapi kasus perkosaan. Ia pun sempat menantang @syarifbaraja (salah satu tweeps) untuk membawa literatur fikih klasik dalam Islam yang membahas tentang kasus perkosaan, yang seketika dijawab oleh @benjameel dengan al muntaqa syarhu al muwatha' juz 5 halaman 268 kitab hudud, bab ma jaa fil mugtshibah (tentang perkosaan). Ulil sepertinya kaget (walau saya gak tau juga dia beneran kaget apa nggak) karena ada yang bisa mejawab tantangannya.
Terakhir, khusus untuk mas Ulil (untuk ulil si komo, sudah cukup kayaknya. hehe), menjadi skeptis dan serba relatif itu cenderung mudah, anda tinggal mempertanyakan saja segala sesuatunya karena tidak ada satupun yang sifatnya mutlak benar bagi anda. Sedangkan menjadi cerdas dengan segala kemampuan untuk menerima kebenaran yang datangnya dari fitrah kemanusiaan, anugerah Rabb semesta alam, itu yang sulit, perlu hidayah. Ibarat menghancurkan bangunan, tanpa perlu skill, anda dapat menjadi penghancur yang baik, tapi menjadi seorang kuli dengan jerih payah keringat dalam membangun, itu yang tak mudah.
Segitu aja ya mas Ulil, mohon maaf kalau ada salah-salah kata.. #masihbelajar.
foto: http://blog.trisakti.ac.id/masjid/files/2012/08/hidayah.jpg
Subscribe to:
Posts (Atom)
