Banyak harapan yang mungkin terbayang kala ia menerima telepon dari saya untuk mengikuti tahapan psikotes dan interview. Bermimpi akan sebuah perubahan dalam hidup kala nantinya berhasil melalui tahapan seleksi ini. Tak muluk-muluk, ia cuma ingin mendapatkan sebuah pekerjaan yang dapat menafkahi keluarganya. Mencoba bertahan dari kerasnya kehidupan yang kian menghimpit. Istri yang sakit, anak yang butuh susu, dan orang tua yang butuh bantuan. Beragam permasalahan dan semoga psikotes ini merupakan salah satu jalan tuk menyelesaikan semuanya.
Tapi terkadang jalan keluar yang terlihat luas membentang memiliki beberapa duri kecil yang siap menghadang. Mencoba menguji seberapa jauh tingkat kesabaran dan keuletannya dalam mencari solusi atas permasalahan hidup. Entah karena faktor usia atau karena faktor ketidakbiasaan dalam mengikuti tes psikologi, psikotes yang diikutinya bisa dibilang tak terlalu memuaskan. Di titik ini semuanya seolah kan berakhir. Namun tidak dihari ini, sepertinya Tuhan memberikannya satu kesempatan lagi.
Dalam seleksi di perusahan saya, psikotes memang menjadi pertimbangan utama. Namun saat hasilnya tak terlalu baik, kamipun dari SDM mencoba memberikan sedikit kelonggaran. Jika tidak terlalu jelek-jelek amat maka kamipun masih dapat mentolerir. Lagipula dari sisi keterbutuhan terhadap calon karyawan yang tinggi, ketersediaan jumlah calon karyawan yang minim, dan rata-rata usia pelamar yang sudah tidak lagi muda, maka tahap selanjutnya yakni interview dapat menjadi pertimbangan selain psikotes.
Maka terlihatlah sisi lainnya yang memang tak terlalu tergambarkan lewat psikotes. Skill dan kemampuannya dalam bidang marketing ternyata cukup mumpuni. Pengalaman yang lumayan di beberapa perusahaan sebelumnya memberikan sedikit keyakinan bagi kami untuk merekrut.
"Memang dari segi usia, saya sudah tidak muda lagi, tapi insyaAllah jika pekerjaan yang berhubungan dengan marketing. Saya akan dengan senang hati menjalaninya. Dan saya yakin dapat memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini"
Mendengar pengakuannya itu membuat saya tanpa ragu lagi memberikan rekomendasi bahwa si calon karyawan, layak direkrut.
Usia boleh kepala empat puluh kebawah, psikotes boleh saja tak memuaskan, tapi jika passion dan minat telah berbicara, semuanya seketika berubah. Karena hasrat, minat, dan passion ibarat bara api dalam sebuah lokomotif. Ialah tenaga, ialah pendorong bagi mereka yang fisiknya tak lagi sebugar dulu. Ialah jalan keluar sesungguhnya dari Rabb semesta alam.
Semoga berkah, semoga menjadi jalan keluar bagi peliknya permasalahan hidup.
Showing posts with label tauhid. Show all posts
Showing posts with label tauhid. Show all posts
Wednesday, 13 March 2013
Tuesday, 12 March 2013
Berani Jujur Hebat
Tiap orang pasti punya masa-masa kelam saat sekolah dulu, termasuk saya. Saya yang dulu bisa dibilang berprestasi ketika SD dan SMP pernah sesekali mencontek dan itu menjadi buah penyesalan yang tak kunjung hilang bahkan hingga kini. Tapi penyesalan tinggal penyesalan, maka selepas SD, sayapun tak pernah lagi mencontek, walau sekedar melihat rumus-rumus dari buku yang diselipkan dibawah meja atau melirik mencari jawaban dari teman semeja. Mencontek bagaikan cacat yang takkan hilang dari pikiran meski sudah lama berlalu.
Mencontek itu ibarat debu yang menempel di sebuah cermin yang bersih dan cemerlang. Awalnya mungkin tak terlihat dan tak berpengaruh banyak pada si cermin, tapi semakin lama bila debu itu tak dibersihkan dan dibiarkan menumpuk banyak, maka cermin yang tadinya mampu merefleksikan benda yang dihadapkan padanya dengan baik, ternyata menjadi buram dan tak elok lagi tuk digunakan. Mungkin awalnya tak terasa, tapi karena dibiarkan menumpuk, semakin lama membuat buram mata hati. Hingga perilaku mencontek akan menjadi kebiasaan dan menganggap bahwa mencontek itu hal yang wajar.
Tapi ya, tentunya akan ada banyak alasan dibalik tindakan mencontek, bahkan mungkin ada yang menganggap terlalu serius jika memvonis orang-orang yang mencontek, anak-anak kecil itu, tak menjunjung nilai kejujuran. Menganggap bahwa tindakan mencontek mereka sekedar menyelamatkan diri dari omelan orang tua, dan cemoohan teman sekelas. Karena biasanya mencontek ada dan terjadi saat munculnya kesempatan dan dalam kondisi yang kepepet.
Sehingga tak heran sayapun sempat kecewa saat memergoki salah seorang kawan saya yang berprestasi, selalu juara kelas, tiba-tiba mencontek. Pura-pura melihat kebawah meja padahal disana ada buku yang terselip. Sungguh kecewa saya dibuatnya, orang yang awalnya saya kagumi ternyata bisa juga mencontek karena sebab kepepet dan terpaksa, menyelamatkan diri dan reputasinya agar tak turun dimata teman dan guru-guru.
Jadi memang awalnya mungkin bila belum terbiasa akan terasa sebuah rasa penyesalan di dada dan merasa was-was serta khawatir bila ketahuan mencontek. Tapi jika dibiarkan terus berlanjut, akan terasa bahwa mencontek itu asyik. Tak butuh usaha, cukup bermodal kemampuan melirik dan berpura-pura saja, dan simsalabim, nilaipun sempurna.
Tapi memang tidak mencontek itu tidaklah mudah. Harus siap belajar serta memahami mata pelajaran dengan baik. Jika tidak, maka bersiaplah merasakan nilai yang buruk, omelan orang tua, dan ejekan teman-teman. Namun yang namanya kejujuran pasti berbuah manis, jika anda tidak terbiasa mencontek sejak kecil, niscaya nasib anda kelak setidaknya akan baik-baik saja dan tenang selalu. Tidak ada kemungkinan menjadi koruptor, tukang selingkuh, dan tukang fitnah, hidup anda akan damai dan penuh keberkahan.
Karena jujur itu hebat.
Mencontek itu ibarat debu yang menempel di sebuah cermin yang bersih dan cemerlang. Awalnya mungkin tak terlihat dan tak berpengaruh banyak pada si cermin, tapi semakin lama bila debu itu tak dibersihkan dan dibiarkan menumpuk banyak, maka cermin yang tadinya mampu merefleksikan benda yang dihadapkan padanya dengan baik, ternyata menjadi buram dan tak elok lagi tuk digunakan. Mungkin awalnya tak terasa, tapi karena dibiarkan menumpuk, semakin lama membuat buram mata hati. Hingga perilaku mencontek akan menjadi kebiasaan dan menganggap bahwa mencontek itu hal yang wajar.
Tapi ya, tentunya akan ada banyak alasan dibalik tindakan mencontek, bahkan mungkin ada yang menganggap terlalu serius jika memvonis orang-orang yang mencontek, anak-anak kecil itu, tak menjunjung nilai kejujuran. Menganggap bahwa tindakan mencontek mereka sekedar menyelamatkan diri dari omelan orang tua, dan cemoohan teman sekelas. Karena biasanya mencontek ada dan terjadi saat munculnya kesempatan dan dalam kondisi yang kepepet.
Sehingga tak heran sayapun sempat kecewa saat memergoki salah seorang kawan saya yang berprestasi, selalu juara kelas, tiba-tiba mencontek. Pura-pura melihat kebawah meja padahal disana ada buku yang terselip. Sungguh kecewa saya dibuatnya, orang yang awalnya saya kagumi ternyata bisa juga mencontek karena sebab kepepet dan terpaksa, menyelamatkan diri dan reputasinya agar tak turun dimata teman dan guru-guru.
Jadi memang awalnya mungkin bila belum terbiasa akan terasa sebuah rasa penyesalan di dada dan merasa was-was serta khawatir bila ketahuan mencontek. Tapi jika dibiarkan terus berlanjut, akan terasa bahwa mencontek itu asyik. Tak butuh usaha, cukup bermodal kemampuan melirik dan berpura-pura saja, dan simsalabim, nilaipun sempurna.
Tapi memang tidak mencontek itu tidaklah mudah. Harus siap belajar serta memahami mata pelajaran dengan baik. Jika tidak, maka bersiaplah merasakan nilai yang buruk, omelan orang tua, dan ejekan teman-teman. Namun yang namanya kejujuran pasti berbuah manis, jika anda tidak terbiasa mencontek sejak kecil, niscaya nasib anda kelak setidaknya akan baik-baik saja dan tenang selalu. Tidak ada kemungkinan menjadi koruptor, tukang selingkuh, dan tukang fitnah, hidup anda akan damai dan penuh keberkahan.
Karena jujur itu hebat.
Friday, 8 March 2013
Generasi Anti Galau
Tiap zaman memiliki ceritanya masing-masing yang mungkin tak lagi bisa didapatkan di kemudian hari. Ketika dulu saat dimana usia saya beranjak 5 tahun, dunia hiburan anak-anak tidak kehabisan stock barang yang dapat dijual kepada konsumen mereka, bocah-bocah yang masih lugu dan lucu. Penyanyi-penyanyi seperti Bondan Prakoso, Enno Lerian, Ria Enes & Susan, dan lain sebagainya merupakan pengisi waktu luang dan masa kecil yang pas dipasangkan dengan anak-anak yang hidup dalam dunia keceriaan, kesenangan, riang gembira dan pastinya sesuai dengan masa tumbuh kembangnya.
Banyak yang lupa bahwa masa keemasan seorang anak berada di kisaran usia 0-5 tahun. Saat dimana kemampuan otak anak dalam menyerap informasi sangatlah tinggi. Semua jenis informasi dapat dengan mudah terserap, otak mereka sedang berkembang menuntut adanya asupan gizi berupa kualitas pengetahuan yang berharga. Maka begitu pentingnya peran orang tua di masa ini untuk memastikan bahwa hal yang baik lah yang diserap oleh anak-anak mereka. Sehingga bisa saja kualitas seorang anak nantinya di masa depan sedikit banyak bergantung dari bagaimana masa-masa golden age ini diisi. Tapi kini nampaknya banyak orang tua yang tak terlalu mempedulikan masa-masa keemasan ini hingga terkadang lalai membiarkan buah hatinya menyerap informasi yang justru lambat laun mempengaruhi karakternya kelak.
Jika masa itu diisi dengan pengalaman moral berharga, dialog kekeluargaan yang hangat, penanaman nilai-nilai prinsipil yang penting maka jadilah mereka, anak-anak itu nantinya, seorang yang kuat karakternya, tajam pemikirannya, dan lembut hatinya. Hingga tak heran jika kelak mereka tumbuh berkembang sebagai seorang manusia yang sholih dan mensholihkan lingkungannya, seorang manusia yang hebat dan menghebatkan manusia lainnya.
Jadi sangatlah miris melihat kini masa-masa keemasan itu diisi dengan informasi dan tayangan hiburan yang jauh dari nilai-nilai luhur dan kuat. Hiburan yang tak lagi membicarakan masalah keceriaan hari, aktivitas membantu teman-teman, mengenal lingkungan sekitar serta budayanya seperti lagu-lagu Enno Lerian, Bondan Prakoso, dan Trio Kwek-kwek. Tapi justru penuh dengan kegelisahan, percintaan yang tak kunjung ada habisnya, kesenduan ditinggal kekasih, dan berbagai hiburan yang tak lain belum cocok dalam masa tumbuh kembang mereka. Saat dimana mereka lebih membutuhkan fondasi yang kuat macam nilai-nilai moral dan karakter yang kuat dibandingkan membiarkan mereka terbangun dari fondasi yang lemah macam lagu-lagu galau dan sendu.
Dunia, dan kehidupan dimasa mendatang tak membutuhkan calon-calon pemimpin dan penerus yang cengeng dan kerap meratapi nasib. Hidup makin keras dan siapkan calon penerus kita untuk siap menghadapinya. Bangun karakter yang kuat dan hebat pada diri-diri mereka, hingga nantinya mereka siap menaklukan dunia.
Banyak yang lupa bahwa masa keemasan seorang anak berada di kisaran usia 0-5 tahun. Saat dimana kemampuan otak anak dalam menyerap informasi sangatlah tinggi. Semua jenis informasi dapat dengan mudah terserap, otak mereka sedang berkembang menuntut adanya asupan gizi berupa kualitas pengetahuan yang berharga. Maka begitu pentingnya peran orang tua di masa ini untuk memastikan bahwa hal yang baik lah yang diserap oleh anak-anak mereka. Sehingga bisa saja kualitas seorang anak nantinya di masa depan sedikit banyak bergantung dari bagaimana masa-masa golden age ini diisi. Tapi kini nampaknya banyak orang tua yang tak terlalu mempedulikan masa-masa keemasan ini hingga terkadang lalai membiarkan buah hatinya menyerap informasi yang justru lambat laun mempengaruhi karakternya kelak.
Jika masa itu diisi dengan pengalaman moral berharga, dialog kekeluargaan yang hangat, penanaman nilai-nilai prinsipil yang penting maka jadilah mereka, anak-anak itu nantinya, seorang yang kuat karakternya, tajam pemikirannya, dan lembut hatinya. Hingga tak heran jika kelak mereka tumbuh berkembang sebagai seorang manusia yang sholih dan mensholihkan lingkungannya, seorang manusia yang hebat dan menghebatkan manusia lainnya.
Jadi sangatlah miris melihat kini masa-masa keemasan itu diisi dengan informasi dan tayangan hiburan yang jauh dari nilai-nilai luhur dan kuat. Hiburan yang tak lagi membicarakan masalah keceriaan hari, aktivitas membantu teman-teman, mengenal lingkungan sekitar serta budayanya seperti lagu-lagu Enno Lerian, Bondan Prakoso, dan Trio Kwek-kwek. Tapi justru penuh dengan kegelisahan, percintaan yang tak kunjung ada habisnya, kesenduan ditinggal kekasih, dan berbagai hiburan yang tak lain belum cocok dalam masa tumbuh kembang mereka. Saat dimana mereka lebih membutuhkan fondasi yang kuat macam nilai-nilai moral dan karakter yang kuat dibandingkan membiarkan mereka terbangun dari fondasi yang lemah macam lagu-lagu galau dan sendu.
Dunia, dan kehidupan dimasa mendatang tak membutuhkan calon-calon pemimpin dan penerus yang cengeng dan kerap meratapi nasib. Hidup makin keras dan siapkan calon penerus kita untuk siap menghadapinya. Bangun karakter yang kuat dan hebat pada diri-diri mereka, hingga nantinya mereka siap menaklukan dunia.
Thursday, 7 March 2013
What doesnt kill you makes you taubah
Sebelumnya hidup hanya dipandang enteng olehnya. Dengan kondisi fisik yang prima dan finansial yang kuat membuatnya merasa jumawa. Seolah dunia tergenggam erat di tangan dan sebebas mungkin dikendalikannya sesuka hati. Tak ada yang namanya kekhawatiran yang ada hanya kepuasan mereguk kenikmatan yang dianugerahkan padanya. Maka hidup sekedar dimaknai dalam lingkup kesenangan diri, tak peduli bagaimana kondisi sekitar yang jelas dirinya dapat bersenang-senang, terlebih kini dimana aturan Tuhan pun diabaikan saat keterlenaan dunia memabukkannya.
Usianya masih tergolong muda, 40 tahun. Untuk ukuran seorang ayah yang sudah memiliki anak berusia 15 dan 11 tahun, fisiknya masih terbilang prima. Tapi entah mengapa, beragam kemudahan dunia seolah tak memberikannya ketenangan. Rumah tangga yang tak pernah sepi dari pertengkaran, dan keresahan yang kerap menghampiri. Ketiadaan alternatif solusi membuatnya makin larut dalam kesenangan yang membutakan, membuatnya makin jauh dari Tuhan yang justru menambah peliknya persoalan yang dihadapinya.
Entah tiga bulan, atau mungkin dua bulan yang lalu, tubuhnya lunglai tak bertenaga. Dirinya yang sedang mengendarai sepeda motor tiba-tiba saja terjatuh tanpa ada kekuatan tuk menopang tubuh dan berat motor. Awalnya tak ada kesan khusus dari peristiwa yang dialaminya, menganggap hal itu dikarenakan kondisi tubuhnya yang tidak fit. Perlahan, sebuah kejadian yang bisa jadi sebuah alarm peringatan hanya dianggap angin lalu olehnya, maka kini satu per satu beragam penyakit mempreteli kesehatannya.
Kesehatan yang menurun memaksanya untuk mengurangi aktivitas yang secara tak langsung membatasi dirinya dalam bekerja. Tak ada perubahan berarti di ragam usaha yang dilakukan agar dirinya kembali prima, dan tak terasa tidak ada lagi pemasukan keuangan akibat kondisinya yang menganggur. Tubuhnya pun makin ringkih, beragam penyakit mulai terdiagnosis menyerang dirinya. Gangguan ginjal, hati, dan penyakit gatal eksim di kaki membuatnya merana, tak ada lagi kesenangan yang dulu dinikmati, kini hanya keputusasaan yang makin menjadi.
Puncaknya seminggu yang lalu. Tubuhnya terkapar tak berdaya di tempat tidur tanpa ada tenaga tuk bergerak. Tubuhnya lumpuh tanpa tahu apa sebabnya. Dada sesak dan lambat laun kesadaran pun perlahan hilang. Ia dengan segera dibawa ke ke UGD rumah sakit. Dokter pun belum dapat mendiagnosis apa penyakit yang dideritanya, kamar ICU yang penuh dan ruang UGD yang minim peralatan membuatnya dirawat seadanya. Kondisinya makin kritis saat perlahan denyut jantung dan nafasnya menurun. Suasana saat itu sungguh sangat mencekam. Si istri yang setia mendampingi hanya dapat menguatkan dan meminta si suami tetap kuat dan terus berusaha melawan sakitnya.
"Ayo pa, ingat adek, ingat abang. kamu sayang kan sama mereka berdua. jangan pergi. tolong jangan pergi"
Si istri hanya menangis di tengah usaha dokter memberi pertolongan.
Seluruh keluarga berdoa untuk kesembuhannya. Tak ada lagi harapan kecuali meminta sang Khaliq memperpanjang usianya, karena tiap orang sangat mengetahui bagaimana hidupnya semasa sehat dulu. Semoga ada setitik keajaiban untuknya. Semoga ada kesempatan kedua baginya. Dengan lafadz tahlil, tahmid, tasbih dari si istri yang setia mendampingi di sisinya, ia pun mencoba mengikuti ucapan-ucapan yang dibimbing sang istri. Kalimat-kalimat yang dulu pernah diabaikannya yang kini menjadi satu-satunya harapan agar Tuhan berbaik hati padanya.
--
2 minggu kemudian
Wajah sumringah terpancar jelas dari raut mukanya. Ia tampak lebih segar dari biasanya, dan yang pasti ada semacam cahaya yang jelas terlihat dari dirinya.
"Jangan lupa ingatkan aku ya, takut lupa kalau sudah bekerja"
Sang istri hanya mengangguk pelan disertai senyuman, tanda kebahagiaan bahwa si suami telah banyak berubah.
"Iya insyaAllah pa, jangan lupa bawa sajadah ya. dimanapun kamu sempat, luangkan waktu disela-sela kesibukan"
Disertai kecup manis dikening sang istri, ia pun pergi melangkah, disertai harapan dari sebuah kehidupan baru. Kesempatan kedua dariNya. Semoga Istiqomah.
Usianya masih tergolong muda, 40 tahun. Untuk ukuran seorang ayah yang sudah memiliki anak berusia 15 dan 11 tahun, fisiknya masih terbilang prima. Tapi entah mengapa, beragam kemudahan dunia seolah tak memberikannya ketenangan. Rumah tangga yang tak pernah sepi dari pertengkaran, dan keresahan yang kerap menghampiri. Ketiadaan alternatif solusi membuatnya makin larut dalam kesenangan yang membutakan, membuatnya makin jauh dari Tuhan yang justru menambah peliknya persoalan yang dihadapinya.
Entah tiga bulan, atau mungkin dua bulan yang lalu, tubuhnya lunglai tak bertenaga. Dirinya yang sedang mengendarai sepeda motor tiba-tiba saja terjatuh tanpa ada kekuatan tuk menopang tubuh dan berat motor. Awalnya tak ada kesan khusus dari peristiwa yang dialaminya, menganggap hal itu dikarenakan kondisi tubuhnya yang tidak fit. Perlahan, sebuah kejadian yang bisa jadi sebuah alarm peringatan hanya dianggap angin lalu olehnya, maka kini satu per satu beragam penyakit mempreteli kesehatannya.
Kesehatan yang menurun memaksanya untuk mengurangi aktivitas yang secara tak langsung membatasi dirinya dalam bekerja. Tak ada perubahan berarti di ragam usaha yang dilakukan agar dirinya kembali prima, dan tak terasa tidak ada lagi pemasukan keuangan akibat kondisinya yang menganggur. Tubuhnya pun makin ringkih, beragam penyakit mulai terdiagnosis menyerang dirinya. Gangguan ginjal, hati, dan penyakit gatal eksim di kaki membuatnya merana, tak ada lagi kesenangan yang dulu dinikmati, kini hanya keputusasaan yang makin menjadi.
Puncaknya seminggu yang lalu. Tubuhnya terkapar tak berdaya di tempat tidur tanpa ada tenaga tuk bergerak. Tubuhnya lumpuh tanpa tahu apa sebabnya. Dada sesak dan lambat laun kesadaran pun perlahan hilang. Ia dengan segera dibawa ke ke UGD rumah sakit. Dokter pun belum dapat mendiagnosis apa penyakit yang dideritanya, kamar ICU yang penuh dan ruang UGD yang minim peralatan membuatnya dirawat seadanya. Kondisinya makin kritis saat perlahan denyut jantung dan nafasnya menurun. Suasana saat itu sungguh sangat mencekam. Si istri yang setia mendampingi hanya dapat menguatkan dan meminta si suami tetap kuat dan terus berusaha melawan sakitnya.
"Ayo pa, ingat adek, ingat abang. kamu sayang kan sama mereka berdua. jangan pergi. tolong jangan pergi"
Si istri hanya menangis di tengah usaha dokter memberi pertolongan.
Seluruh keluarga berdoa untuk kesembuhannya. Tak ada lagi harapan kecuali meminta sang Khaliq memperpanjang usianya, karena tiap orang sangat mengetahui bagaimana hidupnya semasa sehat dulu. Semoga ada setitik keajaiban untuknya. Semoga ada kesempatan kedua baginya. Dengan lafadz tahlil, tahmid, tasbih dari si istri yang setia mendampingi di sisinya, ia pun mencoba mengikuti ucapan-ucapan yang dibimbing sang istri. Kalimat-kalimat yang dulu pernah diabaikannya yang kini menjadi satu-satunya harapan agar Tuhan berbaik hati padanya.
--
2 minggu kemudian
Wajah sumringah terpancar jelas dari raut mukanya. Ia tampak lebih segar dari biasanya, dan yang pasti ada semacam cahaya yang jelas terlihat dari dirinya.
"Jangan lupa ingatkan aku ya, takut lupa kalau sudah bekerja"
Sang istri hanya mengangguk pelan disertai senyuman, tanda kebahagiaan bahwa si suami telah banyak berubah.
"Iya insyaAllah pa, jangan lupa bawa sajadah ya. dimanapun kamu sempat, luangkan waktu disela-sela kesibukan"
Disertai kecup manis dikening sang istri, ia pun pergi melangkah, disertai harapan dari sebuah kehidupan baru. Kesempatan kedua dariNya. Semoga Istiqomah.
Thursday, 14 February 2013
27 Tahun Pernikahan.
Dua puluh tujuh tahun memang bukan waktu yang singkat dan bukan pula waktu yang lama untuk hitungan sebuah pernikahan. Angka yang masih standar jika dibandingkan dengan kakek-nenek kita dulu. Tapi kini dengan fenomena kawin-cerai yang merajalela, angka dua puluh tujuh tahun jadi sebuah kebanggaan bagi mereka berdua. Apalagi jika melihat proses mereka bertemu dan menetapkan hati tuk menikah. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan oleh orang-orang zaman sekarang.
Mereka bukan aktivis rohis kampus, bukan pula anak dari seorang ustadz yang mafhum dengan proses taaruf. Si lelaki hanya lulusan SAA yang nyaris masuk FKUI kalau bukan karena kondisi waktu itu yang tak memihaknya. Sedangkan si perempuan cuma lulusan madrasah aliyah di Sumatera Barat yang mungkin tak pernah membayangkan bakal menghabiskan sebagian hidupnya di tanah jawa. Mereka hanya dua insan biasa yang berharap sesuatu yang sederhana, semoga dia jodoh saya.
Mereka bertemu setelah si lelaki melihat foto si perempuan yang ditunjukkan oleh sang ibu.
"Gimana? Mau? Dia itu anak salah seorang kerabat kita di kampung, orangnya baik, sholehah, ramah dan.. cantik"
Ia tak bisa menjawab saat itu juga. Ia butuh sebuah saran.
"Tunggu ya bu, istikhoroh dulu. 3 hari lagi semoga sudah ada jawabannya"
Tiga hari kemudian, setelah konsultasi yang panjang ia pun menetapkan hati. Semoga ini yang terbaik.
"Ya sudah bu, coba ajak orangnya kesini, ke jakarta"
Perjalanan si perempuan menuju Jakarta ternyata tak mudah. Ketiadaan maskapai penerbangan murah di kala itu membuatnya menggunakan kapal laut yang memakan waktu 3 hari perjalanan. Sesampainya di Jakarta ia pun akhirnya bertemu dengan si lelaki. Mereka berbincang panjang dan lama ditemani oleh orang tua masing-masing. Singkat kata dan akhirnya keesokan harinya merekapun menikah.
Hah? Cepat sekali..! Gak takut salah milih tuh? Emang udah cinta? Ah paling juga gak lama. dan berbagai pertanyaan yang mungkin muncul setelah membaca cerita mereka. Tiap orang memang memiliki penilaian masing-masing. Tapi jika disimak dari track record keluarga mereka hingga kini, sepertinya mereka memang berjodoh. Alhamdulillah Rumah tangga mereka baik-baik saja hingga sekarang. Materi yang cukup, suasana rumah yang damai, nyaman serta bahagia dengan anak-anak yang beranjak dewasa. Tiga orang anak, Alhamdulillah 2 orang lulusan UI yang telah bekerja di perusahaan milik negara, dan satu orang lagi si bungsu yang masih kuliah di UNPAD.
Hm..Sekali waktu saya pernah menanyakan hal yang serupa kepada si lelaki.
"Emang waktu itu saat memutuskan menikah, udah cinta?"
Si lelaki pun hanya tersenyum dan berkata
"kalau memang sudah istikhoroh dan niat karenaNya semata, insyaAllah Dia yang maha pemberi Cinta akan memberikannya ke dalam hati kita kok"
Baiklah.. nampaknya saya harus banyak berguru pada mereka.
Barakallah Pak, Bu.. semoga langgeng hingga surgaNya.
Mereka bukan aktivis rohis kampus, bukan pula anak dari seorang ustadz yang mafhum dengan proses taaruf. Si lelaki hanya lulusan SAA yang nyaris masuk FKUI kalau bukan karena kondisi waktu itu yang tak memihaknya. Sedangkan si perempuan cuma lulusan madrasah aliyah di Sumatera Barat yang mungkin tak pernah membayangkan bakal menghabiskan sebagian hidupnya di tanah jawa. Mereka hanya dua insan biasa yang berharap sesuatu yang sederhana, semoga dia jodoh saya.
Mereka bertemu setelah si lelaki melihat foto si perempuan yang ditunjukkan oleh sang ibu.
"Gimana? Mau? Dia itu anak salah seorang kerabat kita di kampung, orangnya baik, sholehah, ramah dan.. cantik"
Ia tak bisa menjawab saat itu juga. Ia butuh sebuah saran.
"Tunggu ya bu, istikhoroh dulu. 3 hari lagi semoga sudah ada jawabannya"
Tiga hari kemudian, setelah konsultasi yang panjang ia pun menetapkan hati. Semoga ini yang terbaik.
"Ya sudah bu, coba ajak orangnya kesini, ke jakarta"
Perjalanan si perempuan menuju Jakarta ternyata tak mudah. Ketiadaan maskapai penerbangan murah di kala itu membuatnya menggunakan kapal laut yang memakan waktu 3 hari perjalanan. Sesampainya di Jakarta ia pun akhirnya bertemu dengan si lelaki. Mereka berbincang panjang dan lama ditemani oleh orang tua masing-masing. Singkat kata dan akhirnya keesokan harinya merekapun menikah.
Hah? Cepat sekali..! Gak takut salah milih tuh? Emang udah cinta? Ah paling juga gak lama. dan berbagai pertanyaan yang mungkin muncul setelah membaca cerita mereka. Tiap orang memang memiliki penilaian masing-masing. Tapi jika disimak dari track record keluarga mereka hingga kini, sepertinya mereka memang berjodoh. Alhamdulillah Rumah tangga mereka baik-baik saja hingga sekarang. Materi yang cukup, suasana rumah yang damai, nyaman serta bahagia dengan anak-anak yang beranjak dewasa. Tiga orang anak, Alhamdulillah 2 orang lulusan UI yang telah bekerja di perusahaan milik negara, dan satu orang lagi si bungsu yang masih kuliah di UNPAD.
Hm..Sekali waktu saya pernah menanyakan hal yang serupa kepada si lelaki.
"Emang waktu itu saat memutuskan menikah, udah cinta?"
Si lelaki pun hanya tersenyum dan berkata
"kalau memang sudah istikhoroh dan niat karenaNya semata, insyaAllah Dia yang maha pemberi Cinta akan memberikannya ke dalam hati kita kok"
Baiklah.. nampaknya saya harus banyak berguru pada mereka.
Barakallah Pak, Bu.. semoga langgeng hingga surgaNya.
Wednesday, 13 February 2013
Dua Orang, Beda Zaman, dan Sebuah Persamaan.
Kejadian itu terlampau lama berlalu, ia pun tak dapat menarik persis kenangan yang terendap jauh di dalam memorinya. Yang ia ingat, saat itu dirinya masih bocah ingusan yang diajak menonton aksi pamer kehebatan antara kaumnya dengan seorang manusia. Persis di samping ayahnya ia berdiri dan melihat dari kejauhan dua orang berhadapan di atas panggung. Ia pun mencoba mengingat-ingat suasana saat itu. Di tanah lapang nan tandus, di atas panggung itu, salah satu dari kaumnya berkata.
"Aku dapat segera membawa singgasana itu kehadapan anda yang mulia, sebelum anda beranjak berdiri dari singgasana anda kini"
Jelas terlihat dari kejauhan, ia nampak sangat percaya diri. Pancaran wajahnya penuh keyakinan dan seolah berkata bahwa takkan ada yang mampu menyaingi kekuatannya.
Lelaki dengan panggilan yang mulia nampak mematung dan berpikir sejenak, ia tidak mengatakan sepatah katapun. Ia menunggu seorang lagi, sang penantang yang terlihat berjalan ke tengah panggung, tatapannya teduh dengan sinar cahaya wajah yang tersirat jelas. Dengan santun dan merendah ia berkata.
"Wahai Raja, sesungguhnya tiada kekuatan, daya dan upaya melainkan atas kehendak dariNya. Maka atas izinNya, saya akan membawa singgasana itu sebelum anda mengedipkan mata"
Riuh rendah gemuruh percakapan nampak memenuhi seisi lapangan. Seolah tak ada satupun penonton yang percaya bahwa singgasana yang megah itu dapat berpindah secepat kilat sejauh ratusan kilometer dari daerah di ujung jazirah sana ke daerah bertandus ini. Ia lupa, sungguh lupa apa yang terjadi setelah itu. Ingatan ribuan tahunnya telah melapuk dan hanya menyisakan serpihan-serpihan kecil dari serangkaian puzzle kenangan. Yang jelas saat itu perwakilan kaumnya nampak harus mengakui kekalahan. Dengan sekejap mata, sebuah singgasana telah berdiri anggun di atas panggung. Manusia itu berhasil, ia sungguh hebat.
Ribuan tahun berlalu dan sekarang ia menemukan kembali dan melihat jelas persamaan diantara kedua manusia ini. Sungguh ia tak tahu persis apa sebenarnya yang membuatnya berpikir bahwa kedua orang ini memiliki kesamaan, ingatannya tak lagi setajam dulu. Gerak-gerik, tingkah laku dan sorotan mata teduh keduanya memang mirip, tapi bukan itu, ada hal lain yang membuatnya berpikir bahwa ada kesamaan diantara kedua orang ini. Semacam auara atau sejenisnya, entah apa sebenarnya.
Tetiba sejumput kenangan muncul dari relung ingatan terdalamnya.
Suara itu, bacaan itu yang sama persis seperti apa yang kudengar dari manusia yang ada di lapangan itu dulu.
Ia pun mencari dari mana suara merdu ini dibacakan. Diikutinya arah suara itu berasal dan sampailah ia di sebuah ruangan di lantai dua. Irama dan bacaan itu sungguh menarik hatinya..
ini, bacaan ini sungguh luar biasa. Terlihat sebuah kitab yang dibaca dengan khusyuk oleh sesosok manusia yang nampak berurai air mata membaca lembaran kertas yang ada dihadapannya.
Ternyata, mereka memiliki kitab yang sama.
Dan perlahan dirinya pun larut.
Sembari bergumam dalam hati ia berkata, Tak ada kata terlambat untuk sebuah kebenaran.
Tuesday, 12 February 2013
Martir
Seandainya Muhammad Bouazizi melihat dan mengetahui bagaimana orang-orang mengenangnya, mungkin saja ia akan bangga dengan apa yang terjadi pasca dirinya wafat. Revolusi timur tengah 2 tahun terakhir tak pelak adalah bukti atas aksi yang dilakukan olehnya. Sarjana Muda yang bekerja keras menghidupi keluarga dengan berjualan sayur keliling. Kondisi yang miris saat tingkat pengangguran yang cukup tinggi memaksa seorang pemuda mengacuhkan gelar sarjananya untuk pekerjaan yang tak lain merupakan pilihan satu-satunya. Impiannya sederhana, dapat membeli mobil pick-up dan tak lagi bersusah payah berkeliling dengan memakai gerobak sayurnya yang terlihat makin ringkih.
Tapi takdir sang khaliq berkata lain, sebelum impiannya tarwujud, para polisi Tunisia yang gagah itu mengambil gerobak sayur yang menjadi satu-satunya penopang hidup keluarganya. Dengan alasan melanggar izin usaha, Bouazizi dipaksa untuk menebus gerobaknya yang senilai dengan jumlah penghasilannya selama sehari, 10 dinar. Namun Bouazizi hanya punya 7 Dollar, tak sebanding dengan nilai yang diminta para polisi itu. Iapun menghampiri polisi-polisi itu dan meminta kebijaksanaan mereka, tapi sayang justru pukulan dan hinaan yang didapatkannya. Mendapatkan perlakuan semena-mena, ia pun melapor ke pejabat wilayah setempat, dan kembali tak ada tanggapan positif dari para pejabat itu.
Bahkan pejabat pun tak bisa berbuat apa-apa, jadi kemana lagi ia mesti mengadu? sedang keluarganya menunggu dengan sebuah harapan. Ia pun berjalan menuju gedung putih tempat para penguasa itu duduk manis diantara tangis rakyat serupa dirinya. Ia membakar diri, menjadi martir atas ketidak adilan yang selama ini berkerak menjadi-jadi di sebuah negeri bernama Tunisia. Semua tersadar, rakyat yang tertidur mulai terjaga akan ketidakberesan pemimpin mereka. Aksi Bouazizi bagai sebuah klimaks, titik kulminasi atas mandulnya pisau keadilan. Hingga tak heran efek dari sebuah aksi yang datangnya dari jerit kemarahan rakyat berbuah revolusi panjang, berturut-turut Mesir, Libya dan beberapa negara timur tengah mengalami hal yang sama. Martir Bouazizi menjadi momentum perubahan.
--
Tak ada yang benar-benar berharap menjadi martir. Martir adalah konsekuensi atas usaha mereka dalam memperjuangkan apa yang mereka yakini. Mungkin Muhammad Toha tak pernah mengira bahwa aksinya dalam meledakkan gudang amunisi Belanda di kota Bandung akan memicu perlawanan para pejuang di beberapa daerah di nusantara. Atau saat Arif Rachman Hakim yang tak pernah menduga bahwa namanya akan diabadikan sebagai nama masjid di FKUI atas perjuangannya yang berujung maut.
Martir ibarat pemicu atas sebuah perubahan, ia tak sekedar aksi heroik beberapa oknum yang ingin disebut sebagai pahlawan. Tapi lebih dari itu, Martir adalah akumulasi dari sekumpulan momen, aksi, dan konsistensi dalam berjuang yang diakhiri dengan pengorbanan tak ternilai. Sehingga menjadi martir tak lebih dari sebuah takdir yang kan datang kepada orang-orang yang terpanggil, mereka yang memaknai arti perjuangan lebih dari apapun bahkan melebihi nyawa mereka sendiri.
Martir berarti saksi, menjadi saksi atas segala usaha yang mereka perjuangkan, menjadi syahid jika seorang muslim menyebutnya. Di hadapan Tuhannya mereka bersaksi dengan raga berkalang tanah dan jiwa berselimut ketenangan, bahwa perjuangan tertinggi telah mereka gapai. Saat tak ada satupun pengorbanan yang sebanding dengan nyawa yang tercerabut dari tubuh bersimbah luka.
Maka tak heran jika syahid adalah cita tertinggi dari seorang muslim bila kehidupan mulia tak jua diperoleh.
isy kariman, aumut syahidan. Hidup mulia atau mati syahid.
Tapi takdir sang khaliq berkata lain, sebelum impiannya tarwujud, para polisi Tunisia yang gagah itu mengambil gerobak sayur yang menjadi satu-satunya penopang hidup keluarganya. Dengan alasan melanggar izin usaha, Bouazizi dipaksa untuk menebus gerobaknya yang senilai dengan jumlah penghasilannya selama sehari, 10 dinar. Namun Bouazizi hanya punya 7 Dollar, tak sebanding dengan nilai yang diminta para polisi itu. Iapun menghampiri polisi-polisi itu dan meminta kebijaksanaan mereka, tapi sayang justru pukulan dan hinaan yang didapatkannya. Mendapatkan perlakuan semena-mena, ia pun melapor ke pejabat wilayah setempat, dan kembali tak ada tanggapan positif dari para pejabat itu.
Bahkan pejabat pun tak bisa berbuat apa-apa, jadi kemana lagi ia mesti mengadu? sedang keluarganya menunggu dengan sebuah harapan. Ia pun berjalan menuju gedung putih tempat para penguasa itu duduk manis diantara tangis rakyat serupa dirinya. Ia membakar diri, menjadi martir atas ketidak adilan yang selama ini berkerak menjadi-jadi di sebuah negeri bernama Tunisia. Semua tersadar, rakyat yang tertidur mulai terjaga akan ketidakberesan pemimpin mereka. Aksi Bouazizi bagai sebuah klimaks, titik kulminasi atas mandulnya pisau keadilan. Hingga tak heran efek dari sebuah aksi yang datangnya dari jerit kemarahan rakyat berbuah revolusi panjang, berturut-turut Mesir, Libya dan beberapa negara timur tengah mengalami hal yang sama. Martir Bouazizi menjadi momentum perubahan.
--
Tak ada yang benar-benar berharap menjadi martir. Martir adalah konsekuensi atas usaha mereka dalam memperjuangkan apa yang mereka yakini. Mungkin Muhammad Toha tak pernah mengira bahwa aksinya dalam meledakkan gudang amunisi Belanda di kota Bandung akan memicu perlawanan para pejuang di beberapa daerah di nusantara. Atau saat Arif Rachman Hakim yang tak pernah menduga bahwa namanya akan diabadikan sebagai nama masjid di FKUI atas perjuangannya yang berujung maut.
Martir ibarat pemicu atas sebuah perubahan, ia tak sekedar aksi heroik beberapa oknum yang ingin disebut sebagai pahlawan. Tapi lebih dari itu, Martir adalah akumulasi dari sekumpulan momen, aksi, dan konsistensi dalam berjuang yang diakhiri dengan pengorbanan tak ternilai. Sehingga menjadi martir tak lebih dari sebuah takdir yang kan datang kepada orang-orang yang terpanggil, mereka yang memaknai arti perjuangan lebih dari apapun bahkan melebihi nyawa mereka sendiri.
Martir berarti saksi, menjadi saksi atas segala usaha yang mereka perjuangkan, menjadi syahid jika seorang muslim menyebutnya. Di hadapan Tuhannya mereka bersaksi dengan raga berkalang tanah dan jiwa berselimut ketenangan, bahwa perjuangan tertinggi telah mereka gapai. Saat tak ada satupun pengorbanan yang sebanding dengan nyawa yang tercerabut dari tubuh bersimbah luka.
Maka tak heran jika syahid adalah cita tertinggi dari seorang muslim bila kehidupan mulia tak jua diperoleh.
isy kariman, aumut syahidan. Hidup mulia atau mati syahid.
Saturday, 9 February 2013
Menjadi Spesial
Konon katanya di negara sebesar India dan China, dengan penduduk
lebih dari 1 milyar jiwa, membuat seseorang yang lahir dan tinggal di sana
harus pintar-pintar dalam mengolah kehidupan. Kalau sekedar bertahan hidup tentunya tak
perlu susah-susah, hanya bermodal pakaian lusuh dan wajah memelas, seseorang
dapat hidup disana, tapi kalau ingin lebih dari itu seseorang harus menjadi
menonjol dan berbeda dari yang lain.
Tingkat persaingan di sana sangat tinggi hingga memerlukan kerja
ekstra keras untuk mencapai posisi yang aman dan nyaman di negara penduduk
terpadat. Maka tak heran orang tua di sana mendidik anak-anaknya dengan
pendidikan yang keras dan sedini mungkin menanamkan jiwa kompetisi ke dalam
kognisi dan alam bawah sadar anak-anak mereka. “Jika kau melihat orang lain
melakukan sesuatu, lampaui usaha mereka, kalau orang lain mendapat nilai A, kau
harus mendapat nilai A+ jika perlu.” Maka tak heran warga negara keturunan
india dan china sangatlah menonjol di berbagai belahan bumi manapun, karena menjadi
kompetitif dan spesial telah tertanam sejak kecil di dalam diri mereka.
Menjadi spesial tak kurang merupakan hal yang wajar di dalam
sebuah komunitas yang padat. Tiap orang berlomba menunjukkan keahlian mereka
agar dilirik dan dipandang istimewa hingga nantinya mendapatkan tempat khusus
dengan berbagai keuntungan. Jadi merupakan hal yang wajar saat saya mendengar
cerita dari teman-teman yang ikut konferensi di luar negeri ataupun kuliah
lintas benua bahwa yang namanya warga keturunan india dan china sangatlah aktif
dan menonjol dalam diskusi ataupun aktivitas akademik, walau mungkin bahasa
inggris nya pun seadanya,dan apa yang disampaikannya pun biasa saja.
Dampaknya pun mulai terlihat saat ini kala ratusan pemuda
india dan china mulai menempati posisi strategis di instansi-instansi ternama
di dunia, dari bidang software engineering sampai kedokteran, luar biasa
banyaknya. Jelas terlihat kini bahwa menjadi spesial dan istimewa adalah jalan
untuk menuju kesuksesan. Memang banyak yang berhasil diantara ratusan pemuda india dan
china yang sukses, tapi tak sedikit pula yang akhirnya jatuh dalam jurang
frustasi dan depresi. Fiuh.. tak mudah memang menjadi spesial saat ini, apalagi
di hadapan dan pandangan manusia. Takkan ada habisnya, karena tolok ukurnya pun
terkadang subjektif, tak adil dan tak jelas, yang ada justru kita lah yang akan
kelelahan.
Tapi mungkin akan berbeda saat ukuran spesial di mata sang pencipta, yang saya yakini mampu memberikan tolok ukur yang fair dan objektif. Sayapun kembali teringat pada banyak kisah di dalam Alquran,
Saat Allah menceritakan beberapa sifat orang-orang mukmin. Mereka orang-orang
yang dianugerahi kemudahan di dunia dan kenikmatan abadi di akhirat.
Orang-orang yang jauh lambungnya dari tempat tidur saat kebanyakan orang lain
terlelap, menyungkur dan sujud di hadapan Rabb semesta alam. Masya Allah,
ternyata merekalah orang-orang yang spesial sebenarnya. Diantara jutaan dan milyaran manusia di dunia, merekalah
orang-orang yang diberi kemudahan, doa-doanya terkabul dan mendapat perhatian
khusus dari sang khaliq. Apalagi namanya kalau bukan spesial saat Allah
memperhatikan kita, saat kita meminta dan Ia pun segera memberi, padahal orang-orang di
bumi ini luar biasa banyak.
Memang tidak mudah menjadi spesial dihadapanNya, maka dari
itu perlu usaha ekstra untuk mencapainya. Jika seseorang menjadi spesial di hadapan bos
dan pimpinan dengan sering-sering memperlihatkan diri dan melakukan hal yang istimewa
di hadapannya, maka begitu pula dengan Allah. Jadi sering-seringlah menghadiri dan memperlihatkan diri
dalam meeting yang dihelat olehNya, Meeting spesial,
meeting romantis di sepertiga malam terakhir, dan meeting usaha di waktu dhuha.
Cukup dirutinkan dan mudah-mudahan Allah melihat dan memperhatikan kita
diantara milyaran manusia di bumi ini.
*karena menjadi spesial di mataNya lebih berharga dari
apapun.
Friday, 8 February 2013
Sendal Jepit
Salah satu perangkat bepergian yang saya upayakan untuk selalu dibawa adalah sendal jepit. Praktis, santai dan tidak perlu khawatir kalau hilang (hehe). Sewaktu-waktu butuh aktivitas yang ringkas dan cepat, seperti ke kamar mandi ataupun berwudhu, cukup mengeluarkan sendal jepit dan seketika dapat digunakan, tidak perlu repot-repot.
Sandal jepit swallow adalah merk yang paling sering saya lihat diantara merk-merk sandal jepit lainnya. Lembaran karet berbentuk tapak kaki manusia yang dikaitkan dengan tali karet berbentuk huruf 'V'. Sandal jepit ini paling populer karena selain murah, masyarakat kadung mengasosiakan sandal jepit dengan merk swallow, walau mungkin masih banyak sandal jepit dengan merk selain swallow yang lebih berkualitas, tapi karena terlanjur cinta ya swallow tetap jadi yang utama. Namun dengar-dengar swallow kini tak lagi memproduksi sendal, karena pabriknya terbakar beberapa tahun lalu. kasian.
Perannya yang terkesan remeh, ringkas dan tak penting menjadikan sendal jepit sebuah simbol yang lekat dengan aktivitas non-formal (aktivitas yang tidak resmi dan tidak terstruktur dengan aturan). Padahal jika dicermati lebih jauh, hakikat sebuah alat adalah fungsinya, pemaknaan tentang baik-buruk, rapi-tidak rapi, dan formal-non formal hanya sebatas urusan kebiasaan yang ada pada satu komunitas. Misalnya sepatu pantofel yang dianggap formal. Jangan kira kita tidak boleh memakai sepatu pantofel disaat mendaki gunung, boleh saja memang tapi ya biasanya orang-orang akan memakai sendal gunung untuk mempermudah pendakian. Karena secara fungsi memakai sepatu pantofel akan melindungi kaki kita apapun jenis alas kakinya.
Maka jadi sesuatu yang mengherankan saat instansi formal macam kantor pemerintahan yang melayani urusan masyarakat melarang seseorang memakai sendal jepit ketika meminta pelayanan mereka. Baiklah saya tahu bahwa tiap orang mesti menaati tata krama dan adat istiadat yang berlaku di suatu daerah, dimana bumi dipijak disitu langit di junjung, saya tahu itu. Tapi akan jadi sebuah lelucon saat sandal jepit menjadi ukuran dalam melayani.
Ada yang bilang, "instansi pemerintah mengharuskan memakai pakaian formil agar terlihat rapi", ukuran formal-non formal, rapi-tidak rapi sesuatu yang sifatnya relatif, dan hanya sekedar masalah kebiasaan, karena sesuatu yang sifatnya masih debatable semestinya dikembalikan lagi pada fungsinya. Seperti misalnya urusan menutup aurat, itu masalah yang sudah mutlak dan tak perlu lagi diperdebatkan, karena jelas-jelas hampir semua kalangan melarang seseorang bertelanjang ria untuk mengurus KTP, berbeda dengan urusan formil-non formil yang ukurannya masih relatif.
Tapi memang urusan-urusan seperti ini (formal non-formal, rapi-tidak rapi) terlanjur menghegemoni alat berpikir masyarakat indonesia. Seolah tak ada lagi ruang dalam mendiskusikan kembali makna fungsi dan persyaratan dalam ukuran melayani. Mindsetnya kadung tercampur dan sulit membedakan mana yang esensi dan mana yang sekedar simbol belaka. Sehingga pokok pelayanan seperti profesionalisme, ramah, dan bebas dari unsur KKN menjadi tertutupi untuk urusan remeh temeh macam sendal jepit ini.
Memang yang namanya sendal jepit hanya sekedar alas kaki yang tak seindah sepatu pantofel atau sepatu olahraga, bentuknya pun kurang ergonomis dan safety, tapi setidaknya jangan menilai seseorang hanya melalui alas kakinya, karena ukuran kualitas tak sekedar dilihat dari sepatu atau sandal yang dipakainya, bahkan tak sedikit yang memakai sepatu indah nan gagah yang justru bergelimang keburukan, pernah lihat koruptor memakai sendal jepit? hehe.. kalau saya sih belum pernah melihatnya, yang saya sering lihat malah sendal jepit dipakai oleh orang-orang yang ingin beribadah, berwudhu, mencari nafkah di pelosok pasar. Orang-orang yang menyiratkan makna kesederhanaan dan pengorbanan.
"Sesungguhnya Allah SWT. tidak melihat pada rupa dan hartamu, akan tetapi Allah SWT. melihat pada hati dan amal-amalmu." (HR. Muslim)
Sandal jepit swallow adalah merk yang paling sering saya lihat diantara merk-merk sandal jepit lainnya. Lembaran karet berbentuk tapak kaki manusia yang dikaitkan dengan tali karet berbentuk huruf 'V'. Sandal jepit ini paling populer karena selain murah, masyarakat kadung mengasosiakan sandal jepit dengan merk swallow, walau mungkin masih banyak sandal jepit dengan merk selain swallow yang lebih berkualitas, tapi karena terlanjur cinta ya swallow tetap jadi yang utama. Namun dengar-dengar swallow kini tak lagi memproduksi sendal, karena pabriknya terbakar beberapa tahun lalu. kasian.
Perannya yang terkesan remeh, ringkas dan tak penting menjadikan sendal jepit sebuah simbol yang lekat dengan aktivitas non-formal (aktivitas yang tidak resmi dan tidak terstruktur dengan aturan). Padahal jika dicermati lebih jauh, hakikat sebuah alat adalah fungsinya, pemaknaan tentang baik-buruk, rapi-tidak rapi, dan formal-non formal hanya sebatas urusan kebiasaan yang ada pada satu komunitas. Misalnya sepatu pantofel yang dianggap formal. Jangan kira kita tidak boleh memakai sepatu pantofel disaat mendaki gunung, boleh saja memang tapi ya biasanya orang-orang akan memakai sendal gunung untuk mempermudah pendakian. Karena secara fungsi memakai sepatu pantofel akan melindungi kaki kita apapun jenis alas kakinya.
Maka jadi sesuatu yang mengherankan saat instansi formal macam kantor pemerintahan yang melayani urusan masyarakat melarang seseorang memakai sendal jepit ketika meminta pelayanan mereka. Baiklah saya tahu bahwa tiap orang mesti menaati tata krama dan adat istiadat yang berlaku di suatu daerah, dimana bumi dipijak disitu langit di junjung, saya tahu itu. Tapi akan jadi sebuah lelucon saat sandal jepit menjadi ukuran dalam melayani.
Ada yang bilang, "instansi pemerintah mengharuskan memakai pakaian formil agar terlihat rapi", ukuran formal-non formal, rapi-tidak rapi sesuatu yang sifatnya relatif, dan hanya sekedar masalah kebiasaan, karena sesuatu yang sifatnya masih debatable semestinya dikembalikan lagi pada fungsinya. Seperti misalnya urusan menutup aurat, itu masalah yang sudah mutlak dan tak perlu lagi diperdebatkan, karena jelas-jelas hampir semua kalangan melarang seseorang bertelanjang ria untuk mengurus KTP, berbeda dengan urusan formil-non formil yang ukurannya masih relatif.
Tapi memang urusan-urusan seperti ini (formal non-formal, rapi-tidak rapi) terlanjur menghegemoni alat berpikir masyarakat indonesia. Seolah tak ada lagi ruang dalam mendiskusikan kembali makna fungsi dan persyaratan dalam ukuran melayani. Mindsetnya kadung tercampur dan sulit membedakan mana yang esensi dan mana yang sekedar simbol belaka. Sehingga pokok pelayanan seperti profesionalisme, ramah, dan bebas dari unsur KKN menjadi tertutupi untuk urusan remeh temeh macam sendal jepit ini.
Memang yang namanya sendal jepit hanya sekedar alas kaki yang tak seindah sepatu pantofel atau sepatu olahraga, bentuknya pun kurang ergonomis dan safety, tapi setidaknya jangan menilai seseorang hanya melalui alas kakinya, karena ukuran kualitas tak sekedar dilihat dari sepatu atau sandal yang dipakainya, bahkan tak sedikit yang memakai sepatu indah nan gagah yang justru bergelimang keburukan, pernah lihat koruptor memakai sendal jepit? hehe.. kalau saya sih belum pernah melihatnya, yang saya sering lihat malah sendal jepit dipakai oleh orang-orang yang ingin beribadah, berwudhu, mencari nafkah di pelosok pasar. Orang-orang yang menyiratkan makna kesederhanaan dan pengorbanan.
"Sesungguhnya Allah SWT. tidak melihat pada rupa dan hartamu, akan tetapi Allah SWT. melihat pada hati dan amal-amalmu." (HR. Muslim)
Thursday, 7 February 2013
Haqqul Yakin
Di atas langit masih ada langit, di atas
cahaya masih ada cahaya, dan di atas yakin masih ada tingkatan yang lebih
tinggi yakni haqqul yakin. Hm.. agak sulit memang untuk menggambarkan tentang
haqqul yakin, tapi contoh sederhananya seperti ini. Anda seumur-umur tak pernah
mendengar bahwa ada Negara yang bernama Mauritania
lalu tiba-tiba ada seorang teman yang memberikan informasi bahwa memang
ada Negara yang bernama Mauritania,
terletak di Afrika sana
di bagian paling barat afrika.
Negara yang mayoritas warganya beragama Islam
dan sangat taat dalam menjalankan syariat. Mungkin diawal anda tidak begitu
yakin karena baru mendengar dari teman anda. Orang yang setara dengan anda dan
sama-sama masih kuliah. Ditambah lagi itu untuk pertama kalinya anda mendengar
nama Negara Mauritania.
Lalu keesokan harinya, ada sebuah seminar
di kampus anda. Yang menjadi pembicaranya adalah professor, doctor, dan pakar
di bidangnya, mereka membahas tentang Mauritania. Setelah anda mendengar penjelasan mereka
tentang Mauritania,
kira-kira bagaimana tingkat keyakinan anda kini tentang Negara Mauritania? Menurut
saya anda akan sedikit yakin dengan beberapa informasi tentang Mauritania yang
telah disampaikan sebelumnya oleh teman anda.
Tak berapa lama, seorang dosen menawarkan
anda sebuah perjalanan ke Mauritania
selama satu minggu karena anda dianggap sangat antusias dalam mengikuti seminar
kemarin. Fasilitas, akomodasi transportasi dan seluruh biaya ditanggung oleh kampus. Singkat
cerita, anda pun berangkat ke Mauritania.
Terbang dengan maskapai penerbangan terbaik dan akhirnya sampai di bandara Mauritania.
Anda pun menginap di hotel bintang lima dan diajak berkeliling kota
Mauritania.
Bahkan anda pun diajak menemui menteri pendidikan dan membahas perkembangan
keilmuan di Negara tersebut. Maka asumsi saya, sampai di tahap ini, anda akan
benar-benar yakin dengan apa yang disampaikan dulu oleh teman anda, bahwa
memang ada Negara yang bernama Mauritania.
Anda pun kembali ke Indonesia dan lalu menceritakan tentang Mauritania
kepada orang-orang. Anda begitu bersemangat dan mencoba meyakinkan orang-orang
bahwa memang ada Negara yang bernama Mauritania. Tapi tiba-tiba satu
teman anda datang dan mengatakan “ah bohong, tidak ada itu Negara yang bernama Mauritania”. Dengan
keyakinan penuh, anda pun menyangkal perkataannya.
Namun tak lama, satu orang teman anda datang lagi mengatakan hal yang sama, lalu datang lagi, datang lagi, sehingga ada ratusan orang yang mengatakan bahwa “Mauritania itu tidak ada”, bahkan professor pun ikut menentang anda. Tapi saya yakin, walau ratusan, bahkan ribuan orang tidak mempercayai anda, anda akan tetap teguh mengatakan bahwa Negara Mauritania itu ada karena anda telah mengalami sendiri perjalanan dan meresapi sendiri pengalaman ke Negara Mauritania.
Dan itulah arti haqqul yakin, sepenuh-penuhnya keyakinan yang kebal terhadap tentangan dan halangan sebesar apapun walau harus mengorbankan nyawa sekalipun. Keyakinan yang datang karena meresapi makna perjalanan terhadap apa yang diyakini. Tak sekedar ritual dan aktivitas kosong belaka, tapi turut merasakan sendiri sensasi dan kenikmatannya.
Namun tak lama, satu orang teman anda datang lagi mengatakan hal yang sama, lalu datang lagi, datang lagi, sehingga ada ratusan orang yang mengatakan bahwa “Mauritania itu tidak ada”, bahkan professor pun ikut menentang anda. Tapi saya yakin, walau ratusan, bahkan ribuan orang tidak mempercayai anda, anda akan tetap teguh mengatakan bahwa Negara Mauritania itu ada karena anda telah mengalami sendiri perjalanan dan meresapi sendiri pengalaman ke Negara Mauritania.
Dan itulah arti haqqul yakin, sepenuh-penuhnya keyakinan yang kebal terhadap tentangan dan halangan sebesar apapun walau harus mengorbankan nyawa sekalipun. Keyakinan yang datang karena meresapi makna perjalanan terhadap apa yang diyakini. Tak sekedar ritual dan aktivitas kosong belaka, tapi turut merasakan sendiri sensasi dan kenikmatannya.
Tuesday, 5 February 2013
Brotherhood
Satu-satunya hal yang membuat saya merasa terhubung dengan orang lain, di luar keluarga, di luar teman-teman, dan di luar negara ini adalah ikatan sebagai sesama muslim. Ada semacam sinyal yang menjadikan saya merasa connect dan langsung tune in dengan mereka. Bagai kawan ataupun kerabat yang terpisah jauh dan bertemu lagi setelah sekian lama. Ada rasa kerinduan, ada rasa penasaran dan ingin berbagi banyak hal ketika berjumpa.
Mungkin itu yang kerap kali saya rasakan ketika membaca berita tentang seorang muslim, bertemu dan berinteraksi dengan mereka. Entahlah, mungkin itu hanya sensasi kelekatan dalam sebuah komunitas, yang tak lebih dari kebanggaan atas satu pandangan yang sama dalam beragama. Tapi jika benar cuma sekedar rasa sesaat, tapi kenapa ada orang yang rela memberikan sebagian harta dan bahkan jiwanya untuk membela sesama muslim?, bagi saya mengorbankan harta dan jiwa bukan hal yang main-main, itu sudah diluar nalar kemanusiaan yang cuma bisa dilakukan bila ada keyakinan mutlak tentang apa yang mereka percaya.
Nalar dan logika manusia memiliki mekanisme kerja yang sistematis agar menjamin keamanan dan kenyamanan manusia di dunia ini. Banyak hitung-hitungan dan pertimbangan yang bermain saat seseorang memilih untuk melakukan sesuatu.
Bagaimana nasib keluarga saya kelak, kalau saya membagi sebagian harta ini dengan mereka?
Lalu nanti saya tinggal dimana kalau sebagian rumah ini saya berikan kepada mereka?
Waduh.. bisa-bisa saya mati kalau ikut perang kesana?
Dan berbagai pertanyaan yang sering kali muncul saat manusia diminta mengorbankan sesuatu yang ia miliki.
Tapi semua pertanyaan itu jadi sesuatu hal yang kecil saat keyakinan jadi pertimbangan utama. Keyakinan akan sebuah ganjaran yang telah dijanjikan oleh Tuhan semesta alam. Saat dunia seisinya tak sebanding dengan nikmat yang akan jadi pengganti atas keikhlasan berkorban untuk sesama saudara seiman dan seakidah.
--
Pengorbanan dan kerelaan dalam membantu sesama muslim cuma sebagian dari rasa keterikatan dalam berislam. Lebih dari itu, rasa keakraban jadi sesuatu yang menarik ketika berinteraksi dengan muslim yang baru saja kita kenal. Misalnya saat kita membaca biografi Syeikh Fatih Seferagic. MasyaAllah, kita seolah ikut merasakan kegembiraan karena masih ada pemuda islam di luar sana, di negeri serba hedonis dan sekuler, mampu mempertahankan keyakinannya dan bahkan mampu menghafalkan Alquran. Kita pun dengan mudahnya meng-akrabkan diri dengan memberi salam dan mengucapkan apresiasi atas usaha beliau dalam menjaga keistiqomahannya. Sila di cek di facebook beliau bila tidak percaya, saat muslim-muslimah berbondong-bondong memberikan salam hangat persaudaraan.
Atau saat muslim di Perancis membuat sebuah komik kartun yang membahas peristiwa menarik dalam keseharian mereka di negara sekuler. Nama komiknya "The Muslim Show", coba di cari Fans Page-nya di Facebook. Sungguh memberikan wawasan tersendiri bahwa tiap muslim di tiap negara memiliki tantangan yang berbeda dalam bersyariat islam. Sehingga keakraban sebagai sesama muslim membuat kita tidak sungkan untuk memberikan support, nasihat, dan kepedulian kepada mereka yang tinggal di sana. Walau kadang kala, hanya sekedar komentar-komentar yang mungkin tak terlalu banyak membantu.
Keakraban dan kerelaan berkorban terhadap sesama muslim membuat saya bersyukur karena diberi nikmat keimanan dan keislaman. Karena dua hal itu adalah nikmat yang kadang terlupa oleh kita.
Alhamdulillâhilladzi allafa baina qulubina, fa-ashbahna bi-ni'matihi ikhwâna.
foto : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZ4ynLHtHZWmEVeP3wYq1lDxZmz7Tih0TlhWDKnUS-SBFSv5sbn2LqWtQrCgZNQSK1fwOSCSEvdOw8WXi7g9nBHXJjTomfolZhARjHUet19GZKf6neA_fzSTe0E6_crYVJgZC7l0Y2bb0/s1600/ukhuwah123.jpg
Mungkin itu yang kerap kali saya rasakan ketika membaca berita tentang seorang muslim, bertemu dan berinteraksi dengan mereka. Entahlah, mungkin itu hanya sensasi kelekatan dalam sebuah komunitas, yang tak lebih dari kebanggaan atas satu pandangan yang sama dalam beragama. Tapi jika benar cuma sekedar rasa sesaat, tapi kenapa ada orang yang rela memberikan sebagian harta dan bahkan jiwanya untuk membela sesama muslim?, bagi saya mengorbankan harta dan jiwa bukan hal yang main-main, itu sudah diluar nalar kemanusiaan yang cuma bisa dilakukan bila ada keyakinan mutlak tentang apa yang mereka percaya.
Nalar dan logika manusia memiliki mekanisme kerja yang sistematis agar menjamin keamanan dan kenyamanan manusia di dunia ini. Banyak hitung-hitungan dan pertimbangan yang bermain saat seseorang memilih untuk melakukan sesuatu.
Bagaimana nasib keluarga saya kelak, kalau saya membagi sebagian harta ini dengan mereka?
Lalu nanti saya tinggal dimana kalau sebagian rumah ini saya berikan kepada mereka?
Waduh.. bisa-bisa saya mati kalau ikut perang kesana?
Dan berbagai pertanyaan yang sering kali muncul saat manusia diminta mengorbankan sesuatu yang ia miliki.
Tapi semua pertanyaan itu jadi sesuatu hal yang kecil saat keyakinan jadi pertimbangan utama. Keyakinan akan sebuah ganjaran yang telah dijanjikan oleh Tuhan semesta alam. Saat dunia seisinya tak sebanding dengan nikmat yang akan jadi pengganti atas keikhlasan berkorban untuk sesama saudara seiman dan seakidah.
--
Pengorbanan dan kerelaan dalam membantu sesama muslim cuma sebagian dari rasa keterikatan dalam berislam. Lebih dari itu, rasa keakraban jadi sesuatu yang menarik ketika berinteraksi dengan muslim yang baru saja kita kenal. Misalnya saat kita membaca biografi Syeikh Fatih Seferagic. MasyaAllah, kita seolah ikut merasakan kegembiraan karena masih ada pemuda islam di luar sana, di negeri serba hedonis dan sekuler, mampu mempertahankan keyakinannya dan bahkan mampu menghafalkan Alquran. Kita pun dengan mudahnya meng-akrabkan diri dengan memberi salam dan mengucapkan apresiasi atas usaha beliau dalam menjaga keistiqomahannya. Sila di cek di facebook beliau bila tidak percaya, saat muslim-muslimah berbondong-bondong memberikan salam hangat persaudaraan.
Atau saat muslim di Perancis membuat sebuah komik kartun yang membahas peristiwa menarik dalam keseharian mereka di negara sekuler. Nama komiknya "The Muslim Show", coba di cari Fans Page-nya di Facebook. Sungguh memberikan wawasan tersendiri bahwa tiap muslim di tiap negara memiliki tantangan yang berbeda dalam bersyariat islam. Sehingga keakraban sebagai sesama muslim membuat kita tidak sungkan untuk memberikan support, nasihat, dan kepedulian kepada mereka yang tinggal di sana. Walau kadang kala, hanya sekedar komentar-komentar yang mungkin tak terlalu banyak membantu.
Keakraban dan kerelaan berkorban terhadap sesama muslim membuat saya bersyukur karena diberi nikmat keimanan dan keislaman. Karena dua hal itu adalah nikmat yang kadang terlupa oleh kita.
Alhamdulillâhilladzi allafa baina qulubina, fa-ashbahna bi-ni'matihi ikhwâna.
foto : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZ4ynLHtHZWmEVeP3wYq1lDxZmz7Tih0TlhWDKnUS-SBFSv5sbn2LqWtQrCgZNQSK1fwOSCSEvdOw8WXi7g9nBHXJjTomfolZhARjHUet19GZKf6neA_fzSTe0E6_crYVJgZC7l0Y2bb0/s1600/ukhuwah123.jpg
Monday, 28 January 2013
Masjid-masjid di sini
Dulu, 20 tahun yang lampau, mesjid bagi saya adalah arena bermain tempat dimana bebas berlari sepuas-puasnya. Tentunya dikala masjid masih kosong dan sholat belum didirikan, karena berlarian dan berteriak ditengah jamaah yang sedang sholat, siap-siap saja menerima jeweran dari Datuk penjaga masjid yang garangnya minta ampun dan ditakuti bocah-bocah. Ah tapi saya tidak pernah kapok, jeweran tak sebanding dengan keasyikan berlari dan bermain di dalam lapangnya masjid.
Itu dulu, kala saya tak tahu apa makna berkumpulnya manusia dengan beragam penampilan dalam sebuah barisan. Sekarang, paling tidak saya mengetahui bahwa berbarisnya mereka bukannya tanpa maksud. Ada ketundukan disana, kesetaraan, dan kekompakan. Tua-Muda, Kaya-Miskin, Ganteng-Jelek (eh..), semuanya berharap untuk satu tujuan, keridhoanNya dan keberkahan dariNya.
Lain daripada itu, Masjid adalah tempat yang paling homy bagi saya. Menerima dengan tangan terbuka tiap muslim yang ingin kembali padaNya, bahkan lebih dari itu, menerima siapa saja yang membutuhkan tempat bernaung dan berlindung. Momen ini terlihat jelas jika bulan Ramadhan datang. Tiap-tiap masjid biasanya mengadakan ifthor berjamaah untuk shoimin (orang yang berpuasa) yang ingin berbuka. Sepertinya tak pernah sekalipun saya lihat ada registrasi siapa-siapa saja yang ingin berbuka disana, membayar sekian dulu baru bisa ikut berbuka. Ah tidak kawan, Islam yang rahmatan lil 'Alamin terlihat jelas saat itu, siapa saja bisa ikut berbuka, diterima dengan senyuman dan hangatnya persahabatan.
Atau ketika saya terlampau larut untuk pulang, kendaraan tak lagi ada, dan pulsa di hape pun nihil. Daerah yang asing dan nampak jauh dari orang-orang yang saya kenal. Ah, yasudahlah, mari kita cari masjid. Syarat mencari mesjid di negeri ini cukup mudah, cukup berjalan beberapa langkah ke sebuah perkampungan dan permukiman, maka anda dengan segera akan melihat sebuah bangunan dengan atap berkubah berlambang bintang bulan, Saya loncati pagar dan coba membuka pintu masjid, ternyata dikunci, tak apa masih ada halaman masjid berlantai putih. Sampai saya tertidur lelah hingga fajar menjelang, dan suara muadzin membangunkan saya.
Bersyukurnya lahir di negeri ini, terlepas dari banyaknya persoalan yang membelitnya, karena masjidnya banyak dan begitu menjamur. Tapi mungkin sekarang, masjid sekedar pelengkap eksistensi muslim di suatu daerah, ia tak lebih dari sarana berkumpulnya masyarakat dalam parade keagamaan. Padahal dulu, di zaman rasul, masjid memiliki fungsi yang sentral dan strategis. Tempat dimana akhlaq dibangun dan ilmu disampaikan. Hingga Rasul pernah bersabda, "aku akan membakar rumah orang muslim yang tidak berangkat sholat berjamaah", walau hal itu tidak pernah terwujud karena tiap muslim ketika itu selalu sholat berjamaah, bahkan seorang munafik sekalipun.
Begitulah, masjid disini dengan berbagai problematikanya. Masjid yang menjadi kebanggaan tapi tak pernah ada yang mau mengisinya dengan padatnya sholat berjamaah. Padahal di dua sholat, saat Shubuh dan Isya, ada pertanda dan seleksi mana muslim yang mukmin dan mana yang munafik. Bahkan Sholat subuh berjamaah menjadi tolok ukur kebangkitan Islam, dimana Islam akan bangkit dan berjaya kembali saat jamaah Sholat Subuh menyamai jamaah sholat Jum'at.
'Rabbij'alni muqimash-shalati wa min dzurriyati, rabbana wa taqabbal du'a'.
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami & anak cucu kami orang-orang yg tetap mendirikan sholat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doa kami.'
foto : http://www.csrc.or.id/foto_berita/89masjid.jpg
Itu dulu, kala saya tak tahu apa makna berkumpulnya manusia dengan beragam penampilan dalam sebuah barisan. Sekarang, paling tidak saya mengetahui bahwa berbarisnya mereka bukannya tanpa maksud. Ada ketundukan disana, kesetaraan, dan kekompakan. Tua-Muda, Kaya-Miskin, Ganteng-Jelek (eh..), semuanya berharap untuk satu tujuan, keridhoanNya dan keberkahan dariNya.
Lain daripada itu, Masjid adalah tempat yang paling homy bagi saya. Menerima dengan tangan terbuka tiap muslim yang ingin kembali padaNya, bahkan lebih dari itu, menerima siapa saja yang membutuhkan tempat bernaung dan berlindung. Momen ini terlihat jelas jika bulan Ramadhan datang. Tiap-tiap masjid biasanya mengadakan ifthor berjamaah untuk shoimin (orang yang berpuasa) yang ingin berbuka. Sepertinya tak pernah sekalipun saya lihat ada registrasi siapa-siapa saja yang ingin berbuka disana, membayar sekian dulu baru bisa ikut berbuka. Ah tidak kawan, Islam yang rahmatan lil 'Alamin terlihat jelas saat itu, siapa saja bisa ikut berbuka, diterima dengan senyuman dan hangatnya persahabatan.
Atau ketika saya terlampau larut untuk pulang, kendaraan tak lagi ada, dan pulsa di hape pun nihil. Daerah yang asing dan nampak jauh dari orang-orang yang saya kenal. Ah, yasudahlah, mari kita cari masjid. Syarat mencari mesjid di negeri ini cukup mudah, cukup berjalan beberapa langkah ke sebuah perkampungan dan permukiman, maka anda dengan segera akan melihat sebuah bangunan dengan atap berkubah berlambang bintang bulan, Saya loncati pagar dan coba membuka pintu masjid, ternyata dikunci, tak apa masih ada halaman masjid berlantai putih. Sampai saya tertidur lelah hingga fajar menjelang, dan suara muadzin membangunkan saya.
Bersyukurnya lahir di negeri ini, terlepas dari banyaknya persoalan yang membelitnya, karena masjidnya banyak dan begitu menjamur. Tapi mungkin sekarang, masjid sekedar pelengkap eksistensi muslim di suatu daerah, ia tak lebih dari sarana berkumpulnya masyarakat dalam parade keagamaan. Padahal dulu, di zaman rasul, masjid memiliki fungsi yang sentral dan strategis. Tempat dimana akhlaq dibangun dan ilmu disampaikan. Hingga Rasul pernah bersabda, "aku akan membakar rumah orang muslim yang tidak berangkat sholat berjamaah", walau hal itu tidak pernah terwujud karena tiap muslim ketika itu selalu sholat berjamaah, bahkan seorang munafik sekalipun.
Begitulah, masjid disini dengan berbagai problematikanya. Masjid yang menjadi kebanggaan tapi tak pernah ada yang mau mengisinya dengan padatnya sholat berjamaah. Padahal di dua sholat, saat Shubuh dan Isya, ada pertanda dan seleksi mana muslim yang mukmin dan mana yang munafik. Bahkan Sholat subuh berjamaah menjadi tolok ukur kebangkitan Islam, dimana Islam akan bangkit dan berjaya kembali saat jamaah Sholat Subuh menyamai jamaah sholat Jum'at.
'Rabbij'alni muqimash-shalati wa min dzurriyati, rabbana wa taqabbal du'a'.
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami & anak cucu kami orang-orang yg tetap mendirikan sholat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doa kami.'
foto : http://www.csrc.or.id/foto_berita/89masjid.jpg
Saturday, 26 January 2013
Ketika pahitnya kesalahan, berbuah manis.
Tidak semua kesalahan yang kita perbuat berujung pahitnya kegagalan, seolah tak lagi ada harapan atas apa yang kita usahakan. Awalnya mungkin kita mengira, "ah kalau tahu bakal gagal seperti ini, sedari awal takkan pernah saya lakukan." atau mungkin "ya ampun setelah sejauh ini, dan semuanya sia-sia saja". Tapi ternyata sang khaliq punya aturan main sendiri, bersama kesulitan selalu ada kemudahan, dan tak semua yang dipandang baik oleh kita, baik juga menurutNya, yang mungkin dipandang buruk oleh kita, mungkin saja baik menurutNya.
Seperti saat Rasulullah menyetujui draft perjanjian hudaibiyah yang merugikan kaum muslimin. Tiap warga mekah yang lari ke madinah harus dikembalikan bila diminta oleh keluarganya yang berasal dari kafir Quraisy, dan bila ada warga madinah yang pindah ke mekah, maka Kafir Quraisy mekah tidak wajib mengembalikan mereka ke madinah. Perjanjian yang nyatanya sangat merugikan kaum muslimin, dan hampir sebagian besar sahabat saat itu tidak sepakat dengan isi perjanjian hudaibiyah. Tapi Rasul tahu, ada hikmah dibalik perjanjian ini. Ternyata benar, perjanjian ini malah berbalik menguntungkan kaum muslimin.
Mereka (kaum muslimin yang lari dari mekah) dengan sangat terpaksa harus kembali ke mekah dan menerima kenyataan bahwa mungkin nasib naas mau tak mau harus mereka terima. Namun mereka tidak menyerah, mereka memberontak, kabur dari orang-orang yang membawa mereka dan memilih bertahan di perbatasan antara mekah-madinah. Semakin lama, makin banyak yang bertahan diperbatasan itu dan seiring berjalannya waktu kekuatan mereka menjadi lebih besar.
Kehadiran mereka ternyata merugikan kafilah Quraisy yang melintasi perbatasan mekah-madinah, dimana barang dagangan yang mereka bawa seringkali dirampok dan diamankan oleh kaum muslimin yang bertahan disana. Melihat kondisi ini, kafir Quraisy pun tak tahan, justru kerugian makin besar mereka terima akibat perjanjian ini, sampai akhirnya merekapun membatalkan sendiri perjanjian yang mereka ajukan dulu. Ternyata sesuatu yang awalnya dirasa pahit berbuah manis dikemudian hari.
Contoh lainnya, ada yang tahu Post-it? lembaran kertas kecil dengan lem perekat yang lemah. Sangat membantu para karyawan untuk menuliskan note singkat, reminder tugas, dan hal-hal terkait pekerjaan di kantor. Ternyata post-itu pun ditemukan atas sebuah kesalahan, sesuatu yang mungkin awalnya tidak diharapkan oleh sang penemu, Dr Spencer Silver.
Sang doktor yang terobsesi menciptakan lem perekat paling kuat justru menemukan hal yang sebaliknya, lem yang mudah terlepas dan tidak terekat sempurna. Mulanya, Spencer mengira ia telah gagal, sampai suatu ketika, seseorang berkata padanya, "hei, lem ini sungguh keren kawan, aku dapat dengan mudah menempelkan kertas, melepasnya, dan menempelkannya kembali, sesuatu yang tidak dapat dilakukan lem-lem pada umumnya, kau jenius Spencer". dan ternyata, boom, ia telah menemukan sesuatu yang hebat, sesuatu yang membuatnya populer seantero dunia, sesuatu yang mungkin tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Satu lagi contoh lain ketika kesalahan berbuah keberhasilan.
Ah ternyata tak selamanya kesalahan yang kita perbuat berakhir buruk, ada hal positif yang mungkin luput dari pandangan mata dan jernihnya pemikiran. Seperti yang saya alami kini, sebuah kesalahan besar yang ada dalam novel sempat membuat saya uring-uringan, ah kesalahan ini nampaknya tak bisa ditolerir, para editor itu akan mempertanyakannya dan novel saya pasti gagal terbit. Namun, sebuah komentar dari seorang kawan menyadarkan saya, "kenapa kesalahan itu gak diperbaiki aja di novel lanjutannya?".
Aha, brilian, kesalahan krusial di novel pertama, justru memberi saya ide untuk membuat sekuel kedua dari novel tersebut. Sesuatu yang awalnya tidak diperkirakan, karena sedikitpun saya tidak memiliki ide untuk meneruskan novel ini menjadi sebuah sekuel. Novel kedua yang merupakan jawaban atas tanda tanya dan kesalahan yang ada di novel pertama, sesuatu yang mungkin menarik si penerbit untuk kembali menerbitkan novel yang kedua ini (ngarep banget. hehe).
Jadi tak selamanya kesalahan yang kita perbuat berbuah pahit, karena sesuatu yang kita usahakan dan kita hasilkan pastilah berharga dan bernilai, ia merupakan hasil dari sebuah tindakan nyata. Kini tergantung bagaimana kita memaknai dan memandang hasil pekerjaan kita, karena sesungguhnya tak ada satupun yang sia-sia atas segala upaya yang kita lakukan.
Seperti saat Rasulullah menyetujui draft perjanjian hudaibiyah yang merugikan kaum muslimin. Tiap warga mekah yang lari ke madinah harus dikembalikan bila diminta oleh keluarganya yang berasal dari kafir Quraisy, dan bila ada warga madinah yang pindah ke mekah, maka Kafir Quraisy mekah tidak wajib mengembalikan mereka ke madinah. Perjanjian yang nyatanya sangat merugikan kaum muslimin, dan hampir sebagian besar sahabat saat itu tidak sepakat dengan isi perjanjian hudaibiyah. Tapi Rasul tahu, ada hikmah dibalik perjanjian ini. Ternyata benar, perjanjian ini malah berbalik menguntungkan kaum muslimin.
Mereka (kaum muslimin yang lari dari mekah) dengan sangat terpaksa harus kembali ke mekah dan menerima kenyataan bahwa mungkin nasib naas mau tak mau harus mereka terima. Namun mereka tidak menyerah, mereka memberontak, kabur dari orang-orang yang membawa mereka dan memilih bertahan di perbatasan antara mekah-madinah. Semakin lama, makin banyak yang bertahan diperbatasan itu dan seiring berjalannya waktu kekuatan mereka menjadi lebih besar.
Kehadiran mereka ternyata merugikan kafilah Quraisy yang melintasi perbatasan mekah-madinah, dimana barang dagangan yang mereka bawa seringkali dirampok dan diamankan oleh kaum muslimin yang bertahan disana. Melihat kondisi ini, kafir Quraisy pun tak tahan, justru kerugian makin besar mereka terima akibat perjanjian ini, sampai akhirnya merekapun membatalkan sendiri perjanjian yang mereka ajukan dulu. Ternyata sesuatu yang awalnya dirasa pahit berbuah manis dikemudian hari.
Contoh lainnya, ada yang tahu Post-it? lembaran kertas kecil dengan lem perekat yang lemah. Sangat membantu para karyawan untuk menuliskan note singkat, reminder tugas, dan hal-hal terkait pekerjaan di kantor. Ternyata post-itu pun ditemukan atas sebuah kesalahan, sesuatu yang mungkin awalnya tidak diharapkan oleh sang penemu, Dr Spencer Silver.
Sang doktor yang terobsesi menciptakan lem perekat paling kuat justru menemukan hal yang sebaliknya, lem yang mudah terlepas dan tidak terekat sempurna. Mulanya, Spencer mengira ia telah gagal, sampai suatu ketika, seseorang berkata padanya, "hei, lem ini sungguh keren kawan, aku dapat dengan mudah menempelkan kertas, melepasnya, dan menempelkannya kembali, sesuatu yang tidak dapat dilakukan lem-lem pada umumnya, kau jenius Spencer". dan ternyata, boom, ia telah menemukan sesuatu yang hebat, sesuatu yang membuatnya populer seantero dunia, sesuatu yang mungkin tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Satu lagi contoh lain ketika kesalahan berbuah keberhasilan.
Ah ternyata tak selamanya kesalahan yang kita perbuat berakhir buruk, ada hal positif yang mungkin luput dari pandangan mata dan jernihnya pemikiran. Seperti yang saya alami kini, sebuah kesalahan besar yang ada dalam novel sempat membuat saya uring-uringan, ah kesalahan ini nampaknya tak bisa ditolerir, para editor itu akan mempertanyakannya dan novel saya pasti gagal terbit. Namun, sebuah komentar dari seorang kawan menyadarkan saya, "kenapa kesalahan itu gak diperbaiki aja di novel lanjutannya?".
Aha, brilian, kesalahan krusial di novel pertama, justru memberi saya ide untuk membuat sekuel kedua dari novel tersebut. Sesuatu yang awalnya tidak diperkirakan, karena sedikitpun saya tidak memiliki ide untuk meneruskan novel ini menjadi sebuah sekuel. Novel kedua yang merupakan jawaban atas tanda tanya dan kesalahan yang ada di novel pertama, sesuatu yang mungkin menarik si penerbit untuk kembali menerbitkan novel yang kedua ini (ngarep banget. hehe).
Jadi tak selamanya kesalahan yang kita perbuat berbuah pahit, karena sesuatu yang kita usahakan dan kita hasilkan pastilah berharga dan bernilai, ia merupakan hasil dari sebuah tindakan nyata. Kini tergantung bagaimana kita memaknai dan memandang hasil pekerjaan kita, karena sesungguhnya tak ada satupun yang sia-sia atas segala upaya yang kita lakukan.
Friday, 18 January 2013
Edisi #Banjir jilid 2
Sruput kopi pagi edisi banjir - 2
Benhil, 18 Januari 2013 - 13.30
Sampai sekarang saya masih mengingat jelas beberapa komentar di blog saya terkait pembahasan mengenai pedagang di stasiun pondok cina. Banyak yang pro dengan aksi blokir rel kemarin, dan tidak sedikit pula yang kontra. Yang pro sepertinya sangat paham mengenai kondisi yang terjadi di lapangan, preman galak dengan kesewenangannya dan aparat pekak dengan ketuliannya. Sedang yang kontra lebih dikarenakan terganggunya hak mereka sebagai pengguna jasa layanan KRL, sebuah musibah yang menimpa para penumpang.
Sebagai orang yang sangat mendukung aksi tersebut maka dengan ini saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan anda, para penumpang yang budiman. Namun izinkanlah saya mengutip sebuah ayat dalam Al Quran.
"Tidak ada satupun musibah yang ada di bumi dan pada dirimu melainkan telah tertulis dalam 'lauhul mahfudz' sebelum kami menciptakan dirimu. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah" - Al Hadid : 22.
Susah dan senang, nikmat dan musibah yang terjadi pada anda dan diri saya sepenuhnya merupakan sebuah kehendak yang telah digariskan oleh sang maha kuasa. Termasuk ketika pemblokiran terjadi dan perjalanan anda terganggu. Manusia memang dapat mengubah takdir dan berusaha untuk mendapatkan yang terbaik bagi dirinya dengan jalan usaha dan doa. Tapi sekali lagi, hak prerogratif ada pada tanganNya. Bukan karena pedagang yang memblokir rel kereta, tapi karena memang itu telah dikehendaki olehNya. Tak jadi soal apa dan siapa penyebabnya, kalau perjalanan anda memang ditakdirkan terganggu, mau bagaimanapun anda berusaha, anda tidak akan mampu menolaknya.
Mau bukti? Bagi yang tempo hari mengatakan "ah ini demo bikin gw susah aja, gw jadi pulang terlambat nih, padahal anak gw udah nunggu di rumah, merengek minta susu, dasar gak punya otak", coba kemaren naik kereta ke arah jakarta, apa reaksi anda? Ada yang bisa protes? Silahkan yang mau protes dengan dzat yang menurunkan hujan, silahkan gugat yang menjadikan hujan kemarin begitu deras dan membuat KRL lumpuh total karena banjir. Masih mau protes?
Jadi jangan separah itulah menggugat para pedagang di stasiun. Mereka cuma minta sedikit, sebuah keadilan, itu saja. Toh ternyata penyebabnya bukan karena para pedagang, tapi karena Allah yang menghendaki. Masih ngeyel juga? Baiklah..buka surat Albaqoroh ayat 6, silahkan cari dan baca sendiri, semoga anda dan saya tidak masuk golongan itu. Amin.
- karena Allah maha kuasa
foto : http://www.anneahira.com/images/kereta-api-indonesia.jpg
Benhil, 18 Januari 2013 - 13.30
Sampai sekarang saya masih mengingat jelas beberapa komentar di blog saya terkait pembahasan mengenai pedagang di stasiun pondok cina. Banyak yang pro dengan aksi blokir rel kemarin, dan tidak sedikit pula yang kontra. Yang pro sepertinya sangat paham mengenai kondisi yang terjadi di lapangan, preman galak dengan kesewenangannya dan aparat pekak dengan ketuliannya. Sedang yang kontra lebih dikarenakan terganggunya hak mereka sebagai pengguna jasa layanan KRL, sebuah musibah yang menimpa para penumpang.
Sebagai orang yang sangat mendukung aksi tersebut maka dengan ini saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan anda, para penumpang yang budiman. Namun izinkanlah saya mengutip sebuah ayat dalam Al Quran.
"Tidak ada satupun musibah yang ada di bumi dan pada dirimu melainkan telah tertulis dalam 'lauhul mahfudz' sebelum kami menciptakan dirimu. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah" - Al Hadid : 22.
Susah dan senang, nikmat dan musibah yang terjadi pada anda dan diri saya sepenuhnya merupakan sebuah kehendak yang telah digariskan oleh sang maha kuasa. Termasuk ketika pemblokiran terjadi dan perjalanan anda terganggu. Manusia memang dapat mengubah takdir dan berusaha untuk mendapatkan yang terbaik bagi dirinya dengan jalan usaha dan doa. Tapi sekali lagi, hak prerogratif ada pada tanganNya. Bukan karena pedagang yang memblokir rel kereta, tapi karena memang itu telah dikehendaki olehNya. Tak jadi soal apa dan siapa penyebabnya, kalau perjalanan anda memang ditakdirkan terganggu, mau bagaimanapun anda berusaha, anda tidak akan mampu menolaknya.
Mau bukti? Bagi yang tempo hari mengatakan "ah ini demo bikin gw susah aja, gw jadi pulang terlambat nih, padahal anak gw udah nunggu di rumah, merengek minta susu, dasar gak punya otak", coba kemaren naik kereta ke arah jakarta, apa reaksi anda? Ada yang bisa protes? Silahkan yang mau protes dengan dzat yang menurunkan hujan, silahkan gugat yang menjadikan hujan kemarin begitu deras dan membuat KRL lumpuh total karena banjir. Masih mau protes?
Jadi jangan separah itulah menggugat para pedagang di stasiun. Mereka cuma minta sedikit, sebuah keadilan, itu saja. Toh ternyata penyebabnya bukan karena para pedagang, tapi karena Allah yang menghendaki. Masih ngeyel juga? Baiklah..buka surat Albaqoroh ayat 6, silahkan cari dan baca sendiri, semoga anda dan saya tidak masuk golongan itu. Amin.
- karena Allah maha kuasa
foto : http://www.anneahira.com/images/kereta-api-indonesia.jpg
Wednesday, 16 January 2013
Si Ulil (U besar) dan si ulil (u kecil)
Bagi saya ulil itu kreatif, banyak akalnya, dan pantang menyerah. Tapi ada kalanya Si ulil ini keterlaluan tingkahnya, ngeyel, inkonsisten dan yang paling penting tidak kapok-kapok walau berkali-kali kena semprot si Komo, Dompu dan Belu gegara usilnya keterlaluan. Eh, ini saya sedang membicarakan ulil di serial Komo loh ya, drama boneka kreasi Kak Seto, bukan membicarakan Ulil yang satunya lagi. :p
Sosok ulil (ulat usil) ini kadung melekat di pikiran saya jika mendengar kata Ulil. Maka ketika beranjak besar dan melek keislaman, mendengar nama Ulil asosiasi sayapun langsung tertuju pada ulat usil iseng yang ada di serial Si Komo, eh tapi ternyata bukan Ulil yang itu, ada Ulil yang lain rupanya. Pria kelahiran Pati 46 tahun silam yang kini menjabat sebagai Ketua Divisi Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan DPP Partainya Angelina Sondakh (eh dia masih terdaftar anggota partai kan ya? hehe) dan tak lupa penggiat serta founding father JIL (Jaringan Ib.. eh Islam Liberal).
Sayapun tak sepenuhnya keliru menyamakan ulil (U kecil) dengan Ulil (U besar), ada beberapa kesamaan diantara mereka berdua. Keduanya sama-sama kreatif dan banyak akalnya. Kalau ulil selalu memiliki ide kreatif untuk mengakali si Komo, Ulil pun tak jauh beda, ia coba menyegarkan umat dengan sebuah ide tentang arti kebebasan, Liberal, segala hal patut dan bebas dipertanyakan termasuk dalam hal simbol-simbol keislaman fundamental, maka tak heran Alquran dan Haditspun perlu diaktualisasikan sesuai perkembangan zaman, kreatif bukan?
ulil dan Ulil sama-sama pantang menyerah. Tiap episode, si ulil selalu tampil dengan semangat baru walau berkali-kali pula kena batunya sendiri karena keisengannya. Begitu juga dengan Ulil, pantang menyerah membela ide-ide islam liberalnya, walau berkali-kali dipatahkan oleh para Ulama dan para penggiat, aktivis #IndonesiatanpaJIL. Padahal kebenaran itu nampak nyata tapi entah mengapa hidayah itu seperti belum sampai padanya.
Keduanya pun tidak pernah kapok walau berkali-kali terkena sentilan. ulil yang selalu bertahan di tiap episode atas segala keisengannya, dan Ulil yang tetap bertahan atas segala ide-ide kreatifnya, terakhir saya lihat di timeline twitter, ia pun menyadari kesalahannya yang mengatakan bahwa Islam gagap dalam menghadapi kasus perkosaan. Ia pun sempat menantang @syarifbaraja (salah satu tweeps) untuk membawa literatur fikih klasik dalam Islam yang membahas tentang kasus perkosaan, yang seketika dijawab oleh @benjameel dengan al muntaqa syarhu al muwatha' juz 5 halaman 268 kitab hudud, bab ma jaa fil mugtshibah (tentang perkosaan). Ulil sepertinya kaget (walau saya gak tau juga dia beneran kaget apa nggak) karena ada yang bisa mejawab tantangannya.
Terakhir, khusus untuk mas Ulil (untuk ulil si komo, sudah cukup kayaknya. hehe), menjadi skeptis dan serba relatif itu cenderung mudah, anda tinggal mempertanyakan saja segala sesuatunya karena tidak ada satupun yang sifatnya mutlak benar bagi anda. Sedangkan menjadi cerdas dengan segala kemampuan untuk menerima kebenaran yang datangnya dari fitrah kemanusiaan, anugerah Rabb semesta alam, itu yang sulit, perlu hidayah. Ibarat menghancurkan bangunan, tanpa perlu skill, anda dapat menjadi penghancur yang baik, tapi menjadi seorang kuli dengan jerih payah keringat dalam membangun, itu yang tak mudah.
Segitu aja ya mas Ulil, mohon maaf kalau ada salah-salah kata.. #masihbelajar.
foto: http://blog.trisakti.ac.id/masjid/files/2012/08/hidayah.jpg
Sosok ulil (ulat usil) ini kadung melekat di pikiran saya jika mendengar kata Ulil. Maka ketika beranjak besar dan melek keislaman, mendengar nama Ulil asosiasi sayapun langsung tertuju pada ulat usil iseng yang ada di serial Si Komo, eh tapi ternyata bukan Ulil yang itu, ada Ulil yang lain rupanya. Pria kelahiran Pati 46 tahun silam yang kini menjabat sebagai Ketua Divisi Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan DPP Partainya Angelina Sondakh (eh dia masih terdaftar anggota partai kan ya? hehe) dan tak lupa penggiat serta founding father JIL (Jaringan Ib.. eh Islam Liberal).
Sayapun tak sepenuhnya keliru menyamakan ulil (U kecil) dengan Ulil (U besar), ada beberapa kesamaan diantara mereka berdua. Keduanya sama-sama kreatif dan banyak akalnya. Kalau ulil selalu memiliki ide kreatif untuk mengakali si Komo, Ulil pun tak jauh beda, ia coba menyegarkan umat dengan sebuah ide tentang arti kebebasan, Liberal, segala hal patut dan bebas dipertanyakan termasuk dalam hal simbol-simbol keislaman fundamental, maka tak heran Alquran dan Haditspun perlu diaktualisasikan sesuai perkembangan zaman, kreatif bukan?
ulil dan Ulil sama-sama pantang menyerah. Tiap episode, si ulil selalu tampil dengan semangat baru walau berkali-kali pula kena batunya sendiri karena keisengannya. Begitu juga dengan Ulil, pantang menyerah membela ide-ide islam liberalnya, walau berkali-kali dipatahkan oleh para Ulama dan para penggiat, aktivis #IndonesiatanpaJIL. Padahal kebenaran itu nampak nyata tapi entah mengapa hidayah itu seperti belum sampai padanya.
Keduanya pun tidak pernah kapok walau berkali-kali terkena sentilan. ulil yang selalu bertahan di tiap episode atas segala keisengannya, dan Ulil yang tetap bertahan atas segala ide-ide kreatifnya, terakhir saya lihat di timeline twitter, ia pun menyadari kesalahannya yang mengatakan bahwa Islam gagap dalam menghadapi kasus perkosaan. Ia pun sempat menantang @syarifbaraja (salah satu tweeps) untuk membawa literatur fikih klasik dalam Islam yang membahas tentang kasus perkosaan, yang seketika dijawab oleh @benjameel dengan al muntaqa syarhu al muwatha' juz 5 halaman 268 kitab hudud, bab ma jaa fil mugtshibah (tentang perkosaan). Ulil sepertinya kaget (walau saya gak tau juga dia beneran kaget apa nggak) karena ada yang bisa mejawab tantangannya.
Terakhir, khusus untuk mas Ulil (untuk ulil si komo, sudah cukup kayaknya. hehe), menjadi skeptis dan serba relatif itu cenderung mudah, anda tinggal mempertanyakan saja segala sesuatunya karena tidak ada satupun yang sifatnya mutlak benar bagi anda. Sedangkan menjadi cerdas dengan segala kemampuan untuk menerima kebenaran yang datangnya dari fitrah kemanusiaan, anugerah Rabb semesta alam, itu yang sulit, perlu hidayah. Ibarat menghancurkan bangunan, tanpa perlu skill, anda dapat menjadi penghancur yang baik, tapi menjadi seorang kuli dengan jerih payah keringat dalam membangun, itu yang tak mudah.
Segitu aja ya mas Ulil, mohon maaf kalau ada salah-salah kata.. #masihbelajar.
foto: http://blog.trisakti.ac.id/masjid/files/2012/08/hidayah.jpg
Sunday, 13 January 2013
Mati Muda
"Kematian itu nomor cabut, bukan nomor urut, siapa yang sudah dicabut ya dia yang meninggal lebih dulu, bukan urutan umur. - Ust. Yusuf Mansur"
Tanggal ini dan entah mengapa sejak kepergiannya 3 tahun lalu membuatku selalu mengunjungi laman Facebooknya setiap tahun. Dua puluh delapan desember, dan tiap orang mengucapkan selamat untukku. Ah bertambah lagi usiaku, oh ya tak lupa, akupun juga mengucapkan selamat untuknya. Selamat ya qi, baik-baik disana, semoga Jannah menjadi tempat kembalimu.
Ia telah pergi 3 tahun lalu, dan membuatku berpikir betapa umur manusia tidak ada yang tahu. Usianya baru 19 tahun, dengan masa depan yang masih terbentang luas. Banyak mimpi-mimpi yang mungkin belum terangkai. Tapi apa mau dikata, cukup sekian jatah hidupnya di dunia.
"loh kenapa dia duluan yang pergi, dia kan masih muda, kenapa gak orang yang sudah tua saja yang duluan." Ya betul, kenapa dia duluan, padahal masih muda..
Mati muda, jadi sesuatu yang lebih mengejutkan dibandingkan kematian di usia senja. Mendengar orang-orang tua meninggal memang membuat kita bersedih, tapi terkadang terbesit pikiran "mungkin sudah waktunya, beliau sudah sepuh, usianya pun sudah lanjut." tapi mati muda berbeda, Dikala orang-orang seusianya masih sibuk mengejar cita-cita, ia sudah berhenti mengejar cita-cita. Dikala orang-orang seusianya sibuk membicarakan masa depan, ia sudah sampai di masa depannya.
Mungkin Allah punya rencana lebih baik untuk mereka, tak ingin mereka terlampau jauh menghabiskan sisa hidup di dunia dengan kesia-siaan. Mungkin Allah sudah rindu dengan mereka, dan tak ingin mereka lama-lama di dunia. Mungkin Allah menganggap tugas mereka sudah paripurna, dan tak perlu lagi mengerjakan sesuatu yang diluar kemampuan mereka.
Mungkin bekal mereka sudah cukup hingga tak perlu lagi menunggu lama-lama. Mungkin bekal kita masih kurang jadi Allah masih memberikan jatah hidup di dunia.
“Ini barisan tak bergenderang-berpalu/Kepercayaan tanda menyerbu/Sekali Berarti/Sudah itu mati.” - Chairil Anwar, mati muda, 26 tahun.
Tanggal ini dan entah mengapa sejak kepergiannya 3 tahun lalu membuatku selalu mengunjungi laman Facebooknya setiap tahun. Dua puluh delapan desember, dan tiap orang mengucapkan selamat untukku. Ah bertambah lagi usiaku, oh ya tak lupa, akupun juga mengucapkan selamat untuknya. Selamat ya qi, baik-baik disana, semoga Jannah menjadi tempat kembalimu.
Ia telah pergi 3 tahun lalu, dan membuatku berpikir betapa umur manusia tidak ada yang tahu. Usianya baru 19 tahun, dengan masa depan yang masih terbentang luas. Banyak mimpi-mimpi yang mungkin belum terangkai. Tapi apa mau dikata, cukup sekian jatah hidupnya di dunia.
"loh kenapa dia duluan yang pergi, dia kan masih muda, kenapa gak orang yang sudah tua saja yang duluan." Ya betul, kenapa dia duluan, padahal masih muda..
Mati muda, jadi sesuatu yang lebih mengejutkan dibandingkan kematian di usia senja. Mendengar orang-orang tua meninggal memang membuat kita bersedih, tapi terkadang terbesit pikiran "mungkin sudah waktunya, beliau sudah sepuh, usianya pun sudah lanjut." tapi mati muda berbeda, Dikala orang-orang seusianya masih sibuk mengejar cita-cita, ia sudah berhenti mengejar cita-cita. Dikala orang-orang seusianya sibuk membicarakan masa depan, ia sudah sampai di masa depannya.
Mungkin Allah punya rencana lebih baik untuk mereka, tak ingin mereka terlampau jauh menghabiskan sisa hidup di dunia dengan kesia-siaan. Mungkin Allah sudah rindu dengan mereka, dan tak ingin mereka lama-lama di dunia. Mungkin Allah menganggap tugas mereka sudah paripurna, dan tak perlu lagi mengerjakan sesuatu yang diluar kemampuan mereka.
Mungkin bekal mereka sudah cukup hingga tak perlu lagi menunggu lama-lama. Mungkin bekal kita masih kurang jadi Allah masih memberikan jatah hidup di dunia.
“Ini barisan tak bergenderang-berpalu/Kepercayaan tanda menyerbu/Sekali Berarti/Sudah itu mati.” - Chairil Anwar, mati muda, 26 tahun.
Monday, 7 January 2013
Si Anak Kedua
Ia lebih muda dari saya, hm..dua tahun perbedaan usia kami. Ia anak kedua dari tiga bersaudara, Ia adik sekaligus kakak. Sewaktu kelahirannya keluarga kami sedang dalam masa-masa berjuang. Ayah tengah mengikuti aktivitas keagamaan yang mengharuskan beliau untuk Iktikaf selama sebulan di daerah Bayah Banten (50 KM ke arah utara Serang), sedangkan Ibu yang pergi ditinggalkan Ayah mau tak mau kembali ke kampung halamannya di Padang Panjang sana agar ada yang menjaga dan mengurus beliau yang sedang hamil.
Kelahirannya tanpa dihadiri Ayah, ketidaktersediaan Handphone dan alat komunikasi saat itu membuat Ibu tidak dapat menghubungi Ayah untuk mengabarkan bahwa putri pertamanya telah lahir. Tapi Ibu tak patah arang, beliau ingin mempertemukan Ayah dengan putrinya, maka seminggu setelah Putrinya lahir Ibu segera berkemas untuk kembali ke Jakarta walaupun berulang kali diingatkan bahwa Putrinya baru berusia tujuh hari dan sangat riskan untuk dibawa berjalan jauh. Ibu kadang kala berwatak keras, Ia tak mengindahkan himbauan Nenek dan meyakinkan keluarga di kampung bahwa Ia memang harus pulang. Berbekal beberapa emas yang sengaja di berikan Ayah sebagai bekal selama tinggal di kampung, Ibu pun menjual emas itu untuk membeli tiket dan perbekalan selama perjalanan.
Selama di atas Kapal menggunakan jalur laut, Ibu dan satu orang adiknya yang ikut menemani terus memanjatkan doa agar perjalanan Kami lancar dan tak ada gangguan mengingat putrinya baru berusia seminggu. Alhamdulillah, tidak ada masalah selama di Kapal dan kamipun sampai di pelabuhan. Saat itu entah kabar dari mana, ayah sudah menunggu kami di pelabuhan, mungkin ibu yang mengabari, tapi lewat apa? ah mungkin feeling seorang Ayah.
Ayah yang terpaksa berhenti bekerja untuk pergi ke Banten mengajak kami untuk pulang disertai perasaan was was dari Ibu, bagaimana nasib kami kelak? ayah kan sudah berhenti bekerja? Tapi entah mengapa raut wajah optimisme selalu terpancar dari matanya. Dan tak lama, 10 menit setelah meninggalkan pelabuhan, dalam kondisi berjalan kaki menggandeng kami bertiga, ayah tak sengaja bertemu dengan rekan sekerjanya dulu di kantor.
"Eh Do, gimana kabar? udah dapet kerjaan lu?"
"eh elu jar, Alhamdulillah baik, iya, insyaAllah segera dapet yang baru." Ayah pun sedikit tertawa yang mungkin merupakan caranya menutupi kekhawatiran.
"Kebetulan do, Pak Andi dari kemarin nyariin lu, dia bilang kalo lu belom dapet kerja, dateng lagi aja ke kantor, pas banget ketemu lo di sini, dari kemarin gw cariin eh akhirnya ketemu disini"
"ah beneran lo? alhamdulillah yaudah besok insyaAllah gw dateng ke kantor"
Dan cerita pun berlanjut, akhirnya Ayah mendapatkan lagi pekerjaannya yang dulu, disertai dengan beberapa kenaikan benefit yang lebih tinggi dari sebelumnya. Mungkin ini Rezeki dari Allah melaluinya, Janji Allah tidak salah, ternyata tiap anak punya Rezekinya masing-masing.
--
23 Tahun kemudian
Ia sosok yang pantang menyerah, ulet, cerdas dan penuh dengan keyakinan, iya betul, keyakinan. Saat akan memulai kuliah, ia hanya berbekal keyakinan bahwa bila Allah menghendaki niscaya ia akan diterima di fakultas dan jurusan dengan grade tertinggi saat itu. Usaha hanya bagian dari sunatullah yang harus dipenuhi karena selebihnya Allah yang punya peranan. Terbukti, iapun diterima di tempat kuliah yang diidamkannya.
Lulus dengan predikat Cumlaude, IPK 3,7 dari perguruan tinggi mentereng dan jurusan nomor wahid. Harusnya dengan sangat mudah ia dapat diterima di kantor manapun sesuai keinginannya. Tapi ternyata tidak, ia tak ingin gegabah dalam memilih pekerjaan. Sempat menganggur selama beberapa bulan, ia pun diterima di sebuah perusahaan konsultan Asing di daerah kuningan jakarta. Namun, karena kebijakan perusahaan yang mengharuskan hanya satu orang saja yang menempati posisi sebagai junior accounting, ia pun dengan ikhlas menerima kenyataan untuk diputus kontrak. Sebuah kondisi yang membuat saya sedih mengingat ia adalah salah satu lulusan terbaik di kampus, tapi tetap, wajah ketenangan terpancar dari wajahnya. Ia tetap optimis, pasti ada skenario terbaik dari Allah.
Selang 6 bulan kemudian, ia mengikuti seleksi di salah satu lembaga keuangan ternama di negeri ini. Seleksinya ketat, dari 500 orang yang mengikuti tes, hanya 40 orang yang lolos ke tahap berikutnya, dan alhamdulillah ia menjadi bagian dari 40 orang itu. Dari 40 orang diseleksi lagi hingga 12 kandidat dan hingga yang terakhir 4 kandidat. Dan tak disangka, ia menjadi bagian dari 4 orang yang terakhir.
Kamis minggu lalu, ia secara resmi menandatangani kontrak kerja dengan benefit yang jujur, sayapun iri mendengarnya, kalaulah dituliskan disini, mungkin terasa berlebihan tapi memang benefit ini sesuai dengan seleksinya yang ketat dan nama besar institusinya. Ah ternyata janji Allah tidak salah, barang siapa yang yakin padaNya, maka ia akan menunjukkan jalannya. Oh iya, ia masih harus mengikuti seleksi terakhir, yaitu Medical Check Up, semoga tidak ada masalah. Mohon doanya teman-teman.
foto : http://www.fotografer.net/galeri/galerix.php?id=1675676&i=3&tup=1&uf=237422&page=2
Kelahirannya tanpa dihadiri Ayah, ketidaktersediaan Handphone dan alat komunikasi saat itu membuat Ibu tidak dapat menghubungi Ayah untuk mengabarkan bahwa putri pertamanya telah lahir. Tapi Ibu tak patah arang, beliau ingin mempertemukan Ayah dengan putrinya, maka seminggu setelah Putrinya lahir Ibu segera berkemas untuk kembali ke Jakarta walaupun berulang kali diingatkan bahwa Putrinya baru berusia tujuh hari dan sangat riskan untuk dibawa berjalan jauh. Ibu kadang kala berwatak keras, Ia tak mengindahkan himbauan Nenek dan meyakinkan keluarga di kampung bahwa Ia memang harus pulang. Berbekal beberapa emas yang sengaja di berikan Ayah sebagai bekal selama tinggal di kampung, Ibu pun menjual emas itu untuk membeli tiket dan perbekalan selama perjalanan.
Selama di atas Kapal menggunakan jalur laut, Ibu dan satu orang adiknya yang ikut menemani terus memanjatkan doa agar perjalanan Kami lancar dan tak ada gangguan mengingat putrinya baru berusia seminggu. Alhamdulillah, tidak ada masalah selama di Kapal dan kamipun sampai di pelabuhan. Saat itu entah kabar dari mana, ayah sudah menunggu kami di pelabuhan, mungkin ibu yang mengabari, tapi lewat apa? ah mungkin feeling seorang Ayah.
Ayah yang terpaksa berhenti bekerja untuk pergi ke Banten mengajak kami untuk pulang disertai perasaan was was dari Ibu, bagaimana nasib kami kelak? ayah kan sudah berhenti bekerja? Tapi entah mengapa raut wajah optimisme selalu terpancar dari matanya. Dan tak lama, 10 menit setelah meninggalkan pelabuhan, dalam kondisi berjalan kaki menggandeng kami bertiga, ayah tak sengaja bertemu dengan rekan sekerjanya dulu di kantor.
"Eh Do, gimana kabar? udah dapet kerjaan lu?"
"eh elu jar, Alhamdulillah baik, iya, insyaAllah segera dapet yang baru." Ayah pun sedikit tertawa yang mungkin merupakan caranya menutupi kekhawatiran.
"Kebetulan do, Pak Andi dari kemarin nyariin lu, dia bilang kalo lu belom dapet kerja, dateng lagi aja ke kantor, pas banget ketemu lo di sini, dari kemarin gw cariin eh akhirnya ketemu disini"
"ah beneran lo? alhamdulillah yaudah besok insyaAllah gw dateng ke kantor"
Dan cerita pun berlanjut, akhirnya Ayah mendapatkan lagi pekerjaannya yang dulu, disertai dengan beberapa kenaikan benefit yang lebih tinggi dari sebelumnya. Mungkin ini Rezeki dari Allah melaluinya, Janji Allah tidak salah, ternyata tiap anak punya Rezekinya masing-masing.
--
23 Tahun kemudian
Ia sosok yang pantang menyerah, ulet, cerdas dan penuh dengan keyakinan, iya betul, keyakinan. Saat akan memulai kuliah, ia hanya berbekal keyakinan bahwa bila Allah menghendaki niscaya ia akan diterima di fakultas dan jurusan dengan grade tertinggi saat itu. Usaha hanya bagian dari sunatullah yang harus dipenuhi karena selebihnya Allah yang punya peranan. Terbukti, iapun diterima di tempat kuliah yang diidamkannya.
Lulus dengan predikat Cumlaude, IPK 3,7 dari perguruan tinggi mentereng dan jurusan nomor wahid. Harusnya dengan sangat mudah ia dapat diterima di kantor manapun sesuai keinginannya. Tapi ternyata tidak, ia tak ingin gegabah dalam memilih pekerjaan. Sempat menganggur selama beberapa bulan, ia pun diterima di sebuah perusahaan konsultan Asing di daerah kuningan jakarta. Namun, karena kebijakan perusahaan yang mengharuskan hanya satu orang saja yang menempati posisi sebagai junior accounting, ia pun dengan ikhlas menerima kenyataan untuk diputus kontrak. Sebuah kondisi yang membuat saya sedih mengingat ia adalah salah satu lulusan terbaik di kampus, tapi tetap, wajah ketenangan terpancar dari wajahnya. Ia tetap optimis, pasti ada skenario terbaik dari Allah.
Selang 6 bulan kemudian, ia mengikuti seleksi di salah satu lembaga keuangan ternama di negeri ini. Seleksinya ketat, dari 500 orang yang mengikuti tes, hanya 40 orang yang lolos ke tahap berikutnya, dan alhamdulillah ia menjadi bagian dari 40 orang itu. Dari 40 orang diseleksi lagi hingga 12 kandidat dan hingga yang terakhir 4 kandidat. Dan tak disangka, ia menjadi bagian dari 4 orang yang terakhir.
Kamis minggu lalu, ia secara resmi menandatangani kontrak kerja dengan benefit yang jujur, sayapun iri mendengarnya, kalaulah dituliskan disini, mungkin terasa berlebihan tapi memang benefit ini sesuai dengan seleksinya yang ketat dan nama besar institusinya. Ah ternyata janji Allah tidak salah, barang siapa yang yakin padaNya, maka ia akan menunjukkan jalannya. Oh iya, ia masih harus mengikuti seleksi terakhir, yaitu Medical Check Up, semoga tidak ada masalah. Mohon doanya teman-teman.
foto : http://www.fotografer.net/galeri/galerix.php?id=1675676&i=3&tup=1&uf=237422&page=2
Sunday, 6 January 2013
Persiapan jadi Orang Besar
Apa jadinya ya, jika orang-orang populer semisal Obama, SBY, Jimi Hendrix, John Lennon, dan lainnya tidak memiliki foto-foto masa kecil atau dokumentasi kehidupan mereka dalam bentuk gambar. Tentunya biografi ataupun liputan mengenai perjuangan mereka merintis karir dan ketenaran menjadi hambar. Betul, Hambar, karena tidak ada semacam bukti otentik keberadaan mereka saat kecil hingga mereka dewasa dan mencapai kesuksesan.
Sebenarnya tidak perlu gambar ataupun foto diri, gambar tempat, lukisan, dan bangunan dimana mereka lahir, berkembang dan berjuang sebenarnya cukup untuk sebuah bukti ke-sejarahah-an. Seperti misalnya orang-orang zaman dahulu yang foto pun belum ditemukan, semacam Jenghis Khan, Alexander The Great, Umar Bin Khattab, Rasulullah Muhammad dan orang-orang besar lainnya. Walau foto diri mereka tak ada, setidaknya saksi sejarah peninggalan mereka masih tersimpan hingga kini, baik dalam bentuk gambar ataupun bangunan.
Maka sayapun berpikir bahwa memang pendokumentasian bukti-bukti kehidupan menjadi sangat penting, karena seseorang tidak akan pernah tahu bagaimana nasib dan takdir Tuhan membawanya kelak. Siapa tahu si Udin yang dulunya sering bermain bersama dengan kita eh, tau tau jadi populer lewat Youtube, atau misalnya si Anto yang dulu sering di bully di sekolah tidak tahunya bakal menjadi salah seorang Menteri di Jajaran kabinet Indonesia bersatu 2030. Nasib orang tidak ada yang tahu bukan? Sehingga ketika mereka dilacak dan diliput dalam sebuah biografi ataupun media setidaknya ada yang bisa dijadikan bahan pemberitaan.
Jadi kalau bisa dan memungkinkan, maka siapkanlah diri kita sejak saat ini untuk menjadi orang yang besar dan populer. Janganlah terlalu mengecilkan diri dengan ucapan serta tindakan sugestif yang menegaskan bahwa kita tak ada bakat menjadi orang besar dan populer. "duh, kan saya kerja di perusahaan kecil, gaji pas-pasan apply beasiswa juga gak tembus-tembus".. hei Kawan, itu tidak jadi alasan, anggap saja posisi kita saat ini merupakan bumbu manis yang dapat kita ceritakan nantinya saat kita menjadi orang besar, sebuah perjuangan menuju takdir terbaik. Sehingga nantinya kita dapat memperlihatkan foto kita, rumah kita, dan cerita kita saat merintis dan berjuang menjadi orang besar kepada dunia.
Yang lebih super lagi adalah saat kita mempersiapkan generasi penerus kita menjadi orang yang besar dan berpengaruh, wuih.. itu lebih dahsyat kawan, memposisikan diri sebagai orang tua dari seorang revolusioner dan pembaharu negeri ini bukan sesuatu yang kecil dan main-main apalagi sekedar impian, itu sebuah keniscayaan. Maka sejak kecil, foto-foto, mainan yang dimainkannya, tempat tidur yang dipakainya, rumah yang ditempatinya sebisa mungkin terdokumentasikan secara apik dan anggap suatu saat kelak, kita akan didatangi media untuk diwawancarai dalam rangka meliput seorang yang terkenal dan hebat yaitu anak kita.
Kita dan bagaimana anak keturunan kita kelak tergantung sejauh mana kita memposisikan diri saat ini dalam menjalani kehidupan. Setidaknya walau belum jadi orang besar, persiapan foto, dokumentasi, dan bukti sejarah tentang keberadaan kita jadi sesuatu yang menyenangkan untuk kita lakukan. Apalagi yang sudah dikaruniai Anak, lebih menyenangkan lagi, sambil dilihat itu foto-foto mereka, sambil didoakan semoga kelak ia akan menjadi orang yang berguna dan bermanfaat bagi Agama dan bangsanya. Amin.
*sibuk ngumpulin foto-foto waktu kecil, persiapan wawancara sama awak media. haha.
Sebenarnya tidak perlu gambar ataupun foto diri, gambar tempat, lukisan, dan bangunan dimana mereka lahir, berkembang dan berjuang sebenarnya cukup untuk sebuah bukti ke-sejarahah-an. Seperti misalnya orang-orang zaman dahulu yang foto pun belum ditemukan, semacam Jenghis Khan, Alexander The Great, Umar Bin Khattab, Rasulullah Muhammad dan orang-orang besar lainnya. Walau foto diri mereka tak ada, setidaknya saksi sejarah peninggalan mereka masih tersimpan hingga kini, baik dalam bentuk gambar ataupun bangunan.
Maka sayapun berpikir bahwa memang pendokumentasian bukti-bukti kehidupan menjadi sangat penting, karena seseorang tidak akan pernah tahu bagaimana nasib dan takdir Tuhan membawanya kelak. Siapa tahu si Udin yang dulunya sering bermain bersama dengan kita eh, tau tau jadi populer lewat Youtube, atau misalnya si Anto yang dulu sering di bully di sekolah tidak tahunya bakal menjadi salah seorang Menteri di Jajaran kabinet Indonesia bersatu 2030. Nasib orang tidak ada yang tahu bukan? Sehingga ketika mereka dilacak dan diliput dalam sebuah biografi ataupun media setidaknya ada yang bisa dijadikan bahan pemberitaan.
Jadi kalau bisa dan memungkinkan, maka siapkanlah diri kita sejak saat ini untuk menjadi orang yang besar dan populer. Janganlah terlalu mengecilkan diri dengan ucapan serta tindakan sugestif yang menegaskan bahwa kita tak ada bakat menjadi orang besar dan populer. "duh, kan saya kerja di perusahaan kecil, gaji pas-pasan apply beasiswa juga gak tembus-tembus".. hei Kawan, itu tidak jadi alasan, anggap saja posisi kita saat ini merupakan bumbu manis yang dapat kita ceritakan nantinya saat kita menjadi orang besar, sebuah perjuangan menuju takdir terbaik. Sehingga nantinya kita dapat memperlihatkan foto kita, rumah kita, dan cerita kita saat merintis dan berjuang menjadi orang besar kepada dunia.
Yang lebih super lagi adalah saat kita mempersiapkan generasi penerus kita menjadi orang yang besar dan berpengaruh, wuih.. itu lebih dahsyat kawan, memposisikan diri sebagai orang tua dari seorang revolusioner dan pembaharu negeri ini bukan sesuatu yang kecil dan main-main apalagi sekedar impian, itu sebuah keniscayaan. Maka sejak kecil, foto-foto, mainan yang dimainkannya, tempat tidur yang dipakainya, rumah yang ditempatinya sebisa mungkin terdokumentasikan secara apik dan anggap suatu saat kelak, kita akan didatangi media untuk diwawancarai dalam rangka meliput seorang yang terkenal dan hebat yaitu anak kita.
Kita dan bagaimana anak keturunan kita kelak tergantung sejauh mana kita memposisikan diri saat ini dalam menjalani kehidupan. Setidaknya walau belum jadi orang besar, persiapan foto, dokumentasi, dan bukti sejarah tentang keberadaan kita jadi sesuatu yang menyenangkan untuk kita lakukan. Apalagi yang sudah dikaruniai Anak, lebih menyenangkan lagi, sambil dilihat itu foto-foto mereka, sambil didoakan semoga kelak ia akan menjadi orang yang berguna dan bermanfaat bagi Agama dan bangsanya. Amin.
*sibuk ngumpulin foto-foto waktu kecil, persiapan wawancara sama awak media. haha.
Tuesday, 1 January 2013
Master Plan 2013
![]() |
| http://muntr.org/v4/wp-content/uploads/2011/10/the-future.jpg |
Masyhur dikalangan aktivis, hadits yang saya tuliskan di atas. Ya memang untuk memacu seseorang berbuat lebih baik dalam hidupnya, kadang kala perlu dipecut dengan kata-kata membangun seperti itu. hm.. Hadits tersebut Dhoif, bahkan maudhu', tapi tenang dulu, kita tak membahas derajat hadits itu, tapi saya coba membawa kawan-kawan pada sebuah realitas bahwa hidup sejatinya harus lebih baik dari hari ke hari.
Di awal tahun seperti sekarang, sangat mainstream melihat orang-orang menyusun resolusinya, walau mungkin kalau kata temen saya, ngapain solusi diulang terus tiap tahun, yang ada kita perlu revolusi. Ya ya, terlepas dari apa makna resolusi ataupun revolusi, seseorang harus mengetahui apa yang ingin dicapainya di tahun yang baru, setidaknya itu membantunya mengarahkan energi untuk melakukan sesuatu, sehingga tidak berantakan dan grasak grusuk nabrak sana sini.
Dan salah satu resolusi eh.. rencana saya di tahun yang baru ini adalah
Sip, itu gambaran umumnya, ya mudah-mudahan tidak terlalu mengawang, dan tidak terlalu membumi, tengah-tengah saja, moderat klo kata pak Musoli. Dan rencana itu sifatnya pleksibel, klo ada kesempatan mungkin ditambahkan, misalnya seperti
tapi insyaAllah secara garis besar, tiga hal itu yang jadi fokus utama.
Bismillah.
Subscribe to:
Posts (Atom)











