Showing posts with label kematian. Show all posts
Showing posts with label kematian. Show all posts

Wednesday, 16 September 2015

Mengakrabi Kematian

No one wants to die. Even people who want to go to heaven don't want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life's change agent. It clears out the old to make way for the new.

Mengutip perkataan Mbah Jobs di atas, sesungguhnya tak ada yang menginginkan kematian datang padanya. Bahkan orang yang katanya ingin masuk surga sekalipun, berpikir seribu kali jika ditanya mau mati sekarang atau tidak..? kecuali memang orang yang ingin sekali masuk surga dan sudah mempersiapkan diri untuk bekal sesudah mati yang mudah-mudahan mau dan ingin mati saat ini.

Siap mati bisa jadi baru satu masalah yang selesai dalam hidup seseorang. Permasalahan selanjutnya adalah keluarga dari anak, istri, orang tua, kakak, adik yang ditinggalkan. Bagaimana kehidupan mereka saat ditinggalkan nanti..? Nabi Ya'qub Alahissalam, menjelang sakaratul maut, memanggil seluruh anak-anaknya untuk berkumpul. Ada satu hal yang ingin ia wasiatkan kepada anak-anaknya.  Ya’qub AS bersabda:”Wahai anak-anakku, siapakah yang kau sembah setelahku? Maka anak-anak Ya’qub AS berkata: “Kami menembah Tuhanmu, Tuhan bapak-bapakmu (Ibrahim, Ismail dan Ishaq) yaitu Tuhan yang satu"

Perkataan nabi Ya'qub ini menyiratkan bahwa sesungguhnya bekal paling pokok yang idealnya ditinggalkan oleh seorang muslim pada kerabatnya adalah Tauhid, atau dengan kata lain keberserahan diri pada sang Robbul Alamin, tuhan semesta alam. Yang mudah-mudahan walaupun saat ditinggalkan oleh Si fulan, keluarganya dalam kondisi melarat, serba kekurangan, ataupun sebatang kara, insyaAllah Allah akan bantu untuk menggantikan peran si fulan.

Mengakrabkan diri Pada Kematian

Mengatakan bahwa "tenang saja, Allah akan menggantikan" memang lebih mudah diucapkan dibanding saat kita mengalami sendiri. Karena dulu sepertinya saya pernah mengatakan hal itu, entah cuma terbersit dalam hati atau sudah terucap. Tiga kali melihat kematian orang-orang yang Saya cintai membuat saya yakin perkataan di atas lebih sulit jika dialami secara nyata.

Desember 2014, pertama kalinya saya mengalami kematian orang yang saya cintai (baca:13 minggu itu ). Calon bayi di kandungan yang berusia masih 3 bulan, gugur karena jantungnya lemah. Maret 2015, keguguran kedua. Kali ini janin hampir tidak terlihat, karena ukurannya yang kecil. 3 bulan juga usianya, sama seperti kakaknya.

Ketiga kalinya bulan ini, 13 September 2015, adik kandung saya, Era Perkasa Lanomi, wafat di Jakarta, tepatnya di RS Pusat Otak Nasional Cawang, setelah 11 hari berjuang pasca operasi darurat pemasangan selang untuk mengeluarkan cairan di otak yang tersumbat akibat tumor yang membesar. Sebelumnya, almarhum sudah siap untuk operasi pengangkatan tumor, dan tinggal menunggu jadwal operasi, tapi Allah berkehendak lain, ia belum sempat melakukan operasi tersebut dan terlebih dulu dipanggil olehNya.

Ketiga kematian tersebut memiliki kesan dan rasa sakit yang berbeda, masing-masing memiliki porsi yang besar dalam menguras rasa penyesalan dan ketidakberdayaan. Sehingga ujung-ujungnya, memang harus dikembalikan pada Allah, innalillahi wa inna ilaihi rojiun, jika tidak..? mungkin saja frustasi, kesedihan berkepanjangan, depresi yang akhirnya menganggu ritme hidup.

Padahal jika kita akhirnya akan kembali padaNya, pasti tiap apa-apa yang diambilnya entah seorang hamba, harta, atau yang lain, akan ditempatkan dan dikumpulkan sesuai dengan fitrahnya. Harta yang halal, insyaAllah akan kembali pada si empunya, jika tidak di dunia, mudah2an di akhirat. Orang-orang baik, insyaAllah akan dikumpulkan dengan orang baik, jika tidak di dunia, mudah-mudahan di akhirat kelak.

Pada akhirnya tiga kali mengakrabkan diri pada kematian memberikan saya keyakinan bahwa jika memang tidak berjodoh dengan adik, dan calon anak saya di dunia ini, mudah-mudahan, insyaAllah, Allah robbul alamin memberikan saya kesempatan untuk bercerita dan bercengkrama lagi dengan mereka kelak di akhirat. Karena sesungguhnya dunia ini sepertinya makin tua, dan tidak lama lagi umurnya, karena sesungguhnya makin lama, tiap hari, ujung-ujungnya kita akan semakin dekat dengan kematian yang juga akan mendatangi kita.


Selamat jalan Adikku, Era Perkasa Lanomi. Kelak kita akan banyak bercerita di tempat yang tak ada lagi kesedihan dan kesakitan, InsyaAllah, mudah-mudahan jika Allah memberkati di surgaNya kelak. aamiin.  




Saturday, 23 March 2013

The Interview



Kalau saja di zaman mereka ada semacam talk show dari hati ke hati seperti Kick Andy, Just Alvin, atau Mata Najwa, tentunya tak ada rasa penasaran dan tanda tanya tentang hidup mereka. Tapi sayangnya zaman dulu tak ada interview mendalam semacam itu, hingga sayapun bertanya-tanya tentang mereka.

Seperti para pemuda Ashabul Kahfi. Bagaimana kiranya perasaan mereka saat lari dari kaumnya? Padahal mereka cuma sekelompok pemuda yang ingin menyelamatkan akidahnya. Bagaimana caranya mereguk keyakinan hingga bertekad untuk lari dan bersembunyi dalam gua? Disaat para pemuda zaman sekarang makin jauh dari semangat keislaman. Ah saya penasaran.

Lalu bagaimana dengan Nabi Khidir, benarkah beliau berumur ratusan tahun dan masih hidup hingga kini? Apa kiranya yang membuat beliau diberi anugerah berupa usia yang sangat panjang, lalu apa tanggapan beliau melihat kondisi umat ini jika beliau masih hidup sampai sekarang. Kira-kira apa perasaan beliau saat membunuh anak kecil yang disinyalir akan mengajak orang tuanya kepada kekafiran seperti yang diceritakan di surat Al Kahfi? Apakah beliau tak merasakan sesuatu saat membunuh anak itu? Ah saya penasaran.

Seperti Iskandar Zulkarnain, benarkah Alexander Agung itu adalah beliau dalam versi romawi? Lalu bagaimana caranya membuat tembok besar dari logam untuk mencegah Ya’juj dan Ma’juj keluar? Benarkah beliau memiliki tanduk di kepalanya? Karena zulkarnain berarti yang memiliki dua tanduk. Lalu bila dibandingkan dengan Nabi Sulaiman, seper berapanya kah kekayaan beliau dibandingkan sang nabi? Hehe. Benar-benar membuat saya penasaran.

Dan yang paling penting, tentang mereka yang telah pergi ratusan tahun lalu, apa sebenarnya motif Muawiyah saat berperang melawan Ali. Benarkah Cuma sekedar ingin menuntut balas pelaku pembunuhan Utsman? Padahal jelas-jelas setelah beliau menjadi khalifah, anak keturunannya yang meneruskan kekhalifahan. Ah sungguh tak sampai pikiran saya, padahal mereka yang berperang antara Ali dan Muawiyah adalah kaum muslimin, kenapa sampai berperang? Bagaimana kiranya perasaan rasul melihat para sahabatnya saling berperang pasca wafatnya beliau.

Mungkin jawabannya hanya ada di sana, sembari duduk bertelekan permadani di tepi telaga Al Kautsar, meminum airnya yang sangat nikmat. Berbincang hangat bersama beliau-beliau para pendahulu. Bertanya kepada Rasul, para sahabat, dan orang-orang shalih itu, semoga ada kesempatan. Semoga Allah merahmati saya dan kaum muslimin untuk menggapai tempat itu.

Thursday, 14 March 2013

Saat Usia Empat Puluh Tahun

Sebagian orang mengira hidup itu dimulai saat beranjak remaja di usia 17 tahun. Kala fisik sedang prima-primanya, saat romantika dan ketertarikan pada pasangan lawan jenis menjadi sesuatu yang menyenangkan tuk dijalani. Lalu ada sebagian lagi yang berkata bahwa usia puncak seseorang adalah saat ia beranjak menapaki usia 30 tahun. Saat kedewasaan berperan penuh, kala karir dan asmara telah terlihat jelas jalannya.

Tapi sebagian besar berpendapat, dan ini yang paling populer, Life begin in fourty. Hidup dimulai saat usia beranjak empat puluh tahun. Kalau istilah saudara saya, "kalau mau lurus, lurus sekalian. Kalau mau bejat, bejat sekalian". Sebegitu besarnya dampak dan pengaruh masa-masa usia menjelang 40 tahun hingga terkadang perlu sebuah peristiwa ataupun momen yang spektakuler untuk mengalihkan seseorang dari satu jalan keburukan kepada jalan kebaikan.

Seperti peristiwa yang dialami saudara saya ini. Suami dari sepupu saya. Hidupnya jika dideskripsikan adalah hidup yang tak jelas arahnya, tak tahu harus kemana dan berbuat apa. Hidup tak tenang, keluarga yang tak pernah damai, dan rumah yang hanya jadi tempat singgah sementara karena memang tak ada kehangatan dibawah atap rumah yang ditempatinya. Diperparah lagi dengan ibadah yang tak kunjung mengalami perbaikan, menambah beratnya hidup dan peliknya permasalahan yang dialaminya. Kekhawatiran semakin memuncak dikala usianya kini yang berusia 39 tahun, perbaikan belum terlihat sama sekali dari dirinya. Hanya doa yang mampu kami, keluarga panjatkan, semoga hidayah itu cepat datang.

Dan sampailah suatu ketika, sebuah peristiwa yang tak terduga dialami olehnya. Saat dimana nyawa seolah di ujung tanduk dan hampir terenggut. Tubuhnya lemas tak terduga, tak ada tenaga dan nafasnya sesak seolah tak ada lagi oksigen yang dapat dihirup. Kondisi kritis yang hanya mampu dibantu dengan doa-doa dari kami keluarganya, semoga ia mendapatkan kesempatan kedua. Ya, semoga saja.

Sepertinya, doa-doa itupun dijawab olehNya dengan kondisinya yang membaik, sungguh membaik. Masa-masa kritis telah berlalu dan mungkin ini cara Allah menyadarkannya dan menjadi kado tak terlupakan di usianya yang menjelang 40 tahun di bulan April nanti. Kini semuanya berubah, kehidupan rumah tangga tenang dan damai, rizqi pun halal walaupun sedikit yang penting berkah, dan yang paling penting, ibadah semakin membaik.

Semoga kau selalu istiqomah bang..

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".
QS Al Ahqof ayat 15

Thursday, 7 March 2013

What doesnt kill you makes you taubah

Sebelumnya hidup hanya dipandang enteng olehnya. Dengan kondisi fisik yang prima dan finansial yang kuat membuatnya merasa jumawa. Seolah dunia tergenggam erat di tangan dan sebebas mungkin dikendalikannya sesuka hati. Tak ada yang namanya kekhawatiran yang ada hanya kepuasan mereguk kenikmatan yang dianugerahkan padanya. Maka hidup sekedar dimaknai dalam lingkup kesenangan diri, tak peduli bagaimana kondisi sekitar yang jelas dirinya dapat bersenang-senang, terlebih kini dimana aturan Tuhan pun diabaikan saat keterlenaan dunia memabukkannya.

Usianya masih tergolong muda, 40 tahun. Untuk ukuran seorang ayah yang sudah memiliki anak berusia 15 dan 11 tahun, fisiknya masih terbilang prima. Tapi entah mengapa, beragam kemudahan dunia seolah tak memberikannya ketenangan. Rumah tangga yang tak pernah sepi dari pertengkaran, dan keresahan yang kerap menghampiri. Ketiadaan alternatif solusi membuatnya makin larut dalam kesenangan yang membutakan, membuatnya makin jauh dari Tuhan yang justru menambah peliknya persoalan yang dihadapinya.

Entah tiga bulan, atau mungkin dua bulan yang lalu, tubuhnya lunglai tak bertenaga. Dirinya yang sedang mengendarai sepeda motor tiba-tiba saja terjatuh tanpa ada kekuatan tuk menopang tubuh dan berat motor. Awalnya tak ada kesan khusus dari peristiwa yang dialaminya, menganggap hal itu dikarenakan kondisi tubuhnya yang tidak fit. Perlahan, sebuah kejadian yang bisa jadi sebuah alarm peringatan hanya dianggap angin lalu olehnya, maka kini satu per satu beragam penyakit mempreteli kesehatannya.

Kesehatan yang menurun memaksanya untuk mengurangi aktivitas yang secara tak langsung membatasi dirinya dalam bekerja. Tak ada perubahan berarti di ragam usaha yang dilakukan agar dirinya kembali prima, dan tak terasa tidak ada lagi pemasukan keuangan akibat kondisinya yang menganggur. Tubuhnya pun makin ringkih, beragam penyakit mulai terdiagnosis menyerang dirinya. Gangguan ginjal, hati, dan penyakit gatal eksim di kaki membuatnya merana, tak ada lagi kesenangan yang dulu dinikmati, kini hanya keputusasaan yang makin menjadi.

Puncaknya seminggu yang lalu. Tubuhnya terkapar tak berdaya di tempat tidur tanpa ada tenaga tuk bergerak. Tubuhnya lumpuh tanpa tahu apa sebabnya. Dada sesak dan lambat laun kesadaran pun perlahan hilang. Ia dengan segera dibawa ke ke UGD rumah sakit. Dokter pun belum dapat mendiagnosis apa penyakit yang dideritanya, kamar ICU yang penuh dan ruang UGD yang minim peralatan membuatnya dirawat seadanya. Kondisinya makin kritis saat perlahan denyut jantung dan nafasnya menurun. Suasana saat itu sungguh sangat mencekam. Si istri yang setia mendampingi hanya dapat menguatkan dan meminta si suami tetap kuat dan terus berusaha melawan sakitnya.
"Ayo pa, ingat adek, ingat abang. kamu sayang kan sama mereka berdua. jangan pergi. tolong jangan pergi"
Si istri hanya menangis di tengah usaha dokter memberi pertolongan.

Seluruh keluarga berdoa untuk kesembuhannya. Tak ada lagi harapan kecuali meminta sang Khaliq memperpanjang usianya, karena tiap orang sangat mengetahui bagaimana hidupnya semasa sehat dulu. Semoga ada setitik keajaiban untuknya. Semoga ada kesempatan kedua baginya. Dengan lafadz tahlil, tahmid, tasbih dari si istri yang setia mendampingi di sisinya, ia pun mencoba mengikuti ucapan-ucapan yang dibimbing sang istri. Kalimat-kalimat yang dulu pernah diabaikannya yang kini menjadi satu-satunya harapan agar Tuhan berbaik hati padanya.

--

2 minggu kemudian

Wajah sumringah terpancar jelas dari raut mukanya. Ia tampak lebih segar dari biasanya, dan yang pasti ada semacam cahaya yang jelas terlihat dari dirinya.
"Jangan lupa ingatkan aku ya, takut lupa kalau sudah bekerja"
Sang istri hanya mengangguk pelan disertai senyuman, tanda kebahagiaan bahwa si suami telah banyak berubah.
"Iya insyaAllah pa, jangan lupa bawa sajadah ya. dimanapun kamu sempat, luangkan waktu disela-sela kesibukan"
Disertai kecup manis dikening sang istri, ia pun pergi melangkah, disertai harapan dari sebuah kehidupan baru. Kesempatan kedua dariNya. Semoga Istiqomah.

Tuesday, 19 February 2013

Rumah Sakit Berbisnis

Seorang teman pernah berkata bahwa di masa mendatang bisnis kesehatan merupakan salah satu dari beberapa bisnis yang memiliki prospek cerah. Kesehatan beberapa tahun lagi adalah isu yang jadi tema utama selain isu energi dan properti. Pertambahan penduduk yang melonjak beberapa dekade terakhir mau tak mau meningkatkan pemakaian energi dan pastinya permintaan akan kebutuhan properti serta yang tak kalah penting kesadaran untuk menjadi sehat.

Ketiganya bersinergi dan menjelma menjadi momok yang menakutkan belakangan ini. Kuota energi dalam hal ini BBM yang katanya makin menipis memaksa pemerintah melakukan penghematan yang merupakan upaya dalam menjaga stabilitas energi. Sehingga tak heran kekhawatiran datangnya krisis energi membuat pemerintah kini mengupayakan pengembangan energi alternatif yang berbasis lingkungan dan dapat diperbarui.

Properti juga tak jauh beda. Harga tanah semakin naik seiring berjalannya waktu. Bahkan terkadang kenaikannya terasa tak logis karena bisa berkali-kali lipat dari harga awalnya. Jika tahun ini misalnya harga sebuah rumah 'hanya' 180 juta, maka jangan heran jika setahun lagi harganya melonjak tajam menjadi 500 juta. Tak tanggung-tanggung dan kadang tak manusiawi bagi manusia-manusia indonesia yang umumnya berada di level ekonomi middle low.

Dua isu itu telah berkembang cukup intens beberapa waktu ini yang mungkin tak seheboh isu kesehatan yang gaungnya masih terdengar biasa-biasa saja. Tapi sebuah kejadian beberapa saat lalu membuat isu kesehatan sepertinya layak untuk diberikan perhatian, isu yang terkait akses dan jaminan kesehatan bagi tiap orang.

Anggaplah dengan kondisi lingkungan yang tak lagi seramah dulu, dan jenis makanan yang makin berbahaya tuk dikonsumsi, menjadikan prosentase orang sehat di indonesia makin rendah. Anggaplah ada seseorang yang harus diopname di rumah sakit karena sebuah penyakit kronis, membutuhkan uang kira-kira 500 ribu hingga 1 juta rupiah dalam semalam. Jadi setidaknya jika di rumah sakit itu terdapat 20 kamar dengan fasilitas standar-standar saja, maka dalam semalam rumah sakit itu bisa meraup minimum 20 juta. wow.. bisnis yang menggiurkan. Ditambah dengan sponsor dari produk obat-obatan dan tender dengan para pemasok alat-alat kesehatan membuat beban biaya gedung dan gaji karyawan (dokter, perawat, dll) menjadi tak terlalu berarti. Toh pemasukan pasti lebih besar dari pengeluaran.

Gambaran di atas memang menjelaskan betapa prospektifnya bisnis kesehatan atau lebih khususnya bisnis rumah sakit. Namun, isu kesehatan yang sensitif dengan aspek kemanusiaan mengakibatkan para pelaku bisnis rumah sakit terkadang berbenturan dengan etika kemanusiaan. Sehingga walaupun ini merupakan bisnis, tapi tetap nyawa pasien menjadi nomor satu, jadi idealnya walau si calon pasien tak mampu membayar, rumah sakit tetap dapat mengutamakan pasien bagaimana pun kondisi ekonominya. Begitu yang saya tahu terutama di banyak negara di dunia.

Tapi ironisnya di sini, di Indonesia, sudah jadi rahasia umum jika rumah sakit hanya mau melayani saat si pasien sudah membayar sejumlah uang sebagai uang muka. Banyak, bukan satu-dua kasus saja dimana rumah sakit tega menelantarkan pasiennya jika keluarga si pasien tak mampu menyiapkan sejumlah uang untuk biaya perawatan. Seperti saat teman saya harus memiliki deposit 5 juta dan menyetorkannya kepada pihak rumah sakit saat Ibunya mengalami kecelakaan. Padahal kondisi ekonominya saat itu tidak memungkinkan tapi berkat bantuan teman-temannya, ia dapat memenuhi permintaan rumah sakit itu. duh..

Lalu baru-baru ini ada kasus terhangat dimana seorang pasien, bayi yang baru berumur beberapa hari, akhirnya meninggal karena tak mendapatkan kamar di rumah sakit. Oke kalau memang itu alasannya, tapi saya yakin jika kondisi orang tua si pasien lebih baik dari sisi ekonomi dan kedudukan, setidaknya Dera (nama pasien) tak perlu mengemis di rumah sakit kelas bawah dan dapat secepatnya mendapatkan perawatan di rumah sakit ternama yang sepertinya tak mungkin kamarnya penuh semuanya.

Banyak hal memang, yang menjadi penyebab wafatnya Dera dan banyak juga yang berargumen, "kenapa tidak dibawa ke rumah sakit internasional saja semacam Carolus, RSPP, yang pastinya punya persediaan kamar". Mencari alasan memang mudah, tapi mindset yang terbentuk di benak orang-orang dengan level ekonomi menengah ke bawah, masih jelas tertanam bahwa yang namanya rumah sakit mahal harus membayar dulu baru dilayani, dan itu memang kenyataan seperti yang saya jelaskan di atas.

Terlepas dari berbagai perdebatan yang mungkin muncul, kasus ini jelas-jelas telah memakan korban. Hingga harapannya kesalahan yang sama tak lagi terulang, sebuah evaluasi yang menyeluruh dari pihak-pihak yang berkepentingan. Sayapun berpikir, betapa beruntungnya Airlangga sebagai cucu dari orang nomor satu di negeri ini. Ketika ia sakit, serentak fasilitas nomor satu tersedia. Perhatianpun sepenuhnya tercurah agar ia dapat sembuh dan sehat seperti sedia kala. Padahal jika dipikir-pikir Dera dan Airlangga memiliki hak yang sama untuk hidup dan menjadi sehat, tapi karena mungkin nasib Dera tak semujur Airlangga yang lahir di keluarga presiden membuat Dera harus kembali cepat pada sang pencipta. Fiuh...

Saturday, 16 February 2013

Kesempatan Kedua

Tak ada orang yang luput dari kesalahan, karena fitrahnya manusia memang seringkali lupa. Jadi tak heran pintu pertaubatan dan perbaikan selalu terbuka hingga hari akhir nanti. Harapannya ialah, yang bersalah akan menghapus kekhilafan mereka dengan kebaikan sebagaimana air yang membersihkan noda yang terlanjur mengotori indahnya sehelai kain putih. Hingga nantinya tak ada lagi bekas noda dan kain itu kembali bersih seperti sedia kala.

Kesempatan bertaubat selalu ada tapi seringkali manusia yang lain terlanjur menghakimi dengan mengatakan bahwa yang bersalah takkan ada harapan untuk kembali kepada kebaikan. Kecewa memang, saat kita melihat orang yang kita kagumi melakukan sebuah kesalahan, serasa kebaikan yang ia lakukan dulu tak ada nilainya lagi dimata kita. Tapi mungkin seringkali kita lupa bahwa manusia yang masih hidup memang rentan melakukan kesalahan.

Abdullah Ibnu Mas'ud pernah berkata belajarlah dan ambil hikmah dari orang yang telah mati, karena orang yang masih hidup belum aman dari fitnah. Maka sangatlah naif saat kita terlalu mengagungkan seseorang karena belum tentu si orang itu akan konsisten pada kebaikan, yang patut kita lakukan adalah mendoakan semoga si orang tetap istiqomah hingga ajal menjemput, karena setelah wafatlah baru kita layak menilai seseorang secara utuh.

Sayapun teringat dengan salah seorang tokoh islam yang syahid di medan perang, namanya adalah Thulaihah Al Assad, Thulaihah dari suku Assad. Kalau kita menyimak kisah hidupnya, mungkin kesan pertama kita adalah, Thulaihah takkan punya kesempatan untuk menjadi orang baik. Bagaimana tidak? ia mengaku mendapatkan wahyu dari Allah dan mengaku sebagai Rasul sepeninggal Rasulullah. Iapun sempat berperang melawan Khalid sebelum akhirnya kabur dan menetap di Syam. Coba kita lihat, keburukan apa yang kurang darinya? mengaku nabi, menghapus syariat zakat, dan menghapus beberapa gerakan sholat. Semuanya lengkap.

Tapi yang namanya kehidupan adalah rahasia ilahi. Thulaihah pun bertaubat dan bersungguh-sungguh ingin melunasi kesalahan-kesalahannya di masa lampau. Hingga Abu bakar pun menerima permintaan maaf Thulaihah dan bahkan menganjurkan Khalid bin Walid untuk meminta saran kepada Thulaihah karena ia mengerti betul mengenai wilayah Syam. Meski tak mendapatkan jabatan apapun semasa Khalifah Abu Bakar dan Umar, Thulaihah tak mempermasalahkannya, yang ia tahu, ia harus menunjukkan bahwa ia benar-benar bukan pengkhianat dan telah insyaf sejadi-jadinya.

Maka dengan gagah berani Thulaihah mengikuti berbagai peperangan, diantaranya yang cukup masyhur adalah saat ia berhasil menawan dua pimpinan pasukan persia dan membawanya kepada panglima perang Qadisiyah kala itu, Saad bin Abi Waqqash. Seorang pimpinan persia itu pun mengaku kagum dengan Thulaihah.
"baru kali ini saya melihat seseorang yang sendirian menyerbu pasukan seolah dirinya bagaikan seribu orang." Atas kekaguman terhadap keberaniannya, panglima itupun menyatakan masuk islam dan berperang bersama pasukan muslimin.

Dan puncak kesungguhannya untuk memperbaiki kesalahan adalah saat peperangan Nahawan melawan pasukan persia. Ia kembali pada Rabbnya dengan husnul khotimah sebagai syahid. Titik balik yang sempurna untuk seorang yang bersungguh dalam memperbaiki diri.

Sungguh, kisah Thulaihah memberikan kita banyak hikmah bahwa tiap orang punya kesempatan untuk memperbaiki diri sebesar apapun kesalahannya, tak peduli bagaimana ia dulu tapi yang kita lihat adalah kesungguhannya untuk menutupi khilaf diri di masa kini

Karena Allah maha penerima Taubat.

Tuesday, 12 February 2013

Martir

Seandainya Muhammad Bouazizi melihat dan mengetahui bagaimana orang-orang mengenangnya, mungkin saja ia akan bangga dengan apa yang terjadi pasca dirinya wafat. Revolusi timur tengah 2 tahun terakhir tak pelak adalah bukti atas aksi yang dilakukan olehnya. Sarjana Muda yang bekerja keras menghidupi keluarga dengan berjualan sayur keliling. Kondisi yang miris saat tingkat pengangguran yang cukup tinggi memaksa seorang pemuda mengacuhkan gelar sarjananya untuk pekerjaan yang tak lain merupakan pilihan satu-satunya. Impiannya sederhana, dapat membeli mobil pick-up dan tak lagi bersusah payah berkeliling dengan memakai gerobak sayurnya yang terlihat makin ringkih.

Tapi takdir sang khaliq berkata lain, sebelum impiannya tarwujud, para polisi Tunisia yang gagah itu mengambil gerobak sayur yang menjadi satu-satunya penopang hidup keluarganya. Dengan alasan melanggar izin usaha, Bouazizi dipaksa untuk menebus gerobaknya yang senilai dengan jumlah penghasilannya selama sehari, 10 dinar. Namun Bouazizi hanya punya 7 Dollar, tak sebanding dengan nilai yang diminta para polisi itu. Iapun menghampiri polisi-polisi itu dan meminta kebijaksanaan mereka, tapi sayang justru pukulan dan hinaan yang didapatkannya. Mendapatkan perlakuan semena-mena, ia pun melapor ke pejabat wilayah setempat, dan kembali tak ada tanggapan positif dari para pejabat itu.

Bahkan pejabat pun tak bisa berbuat apa-apa, jadi kemana lagi ia mesti mengadu? sedang keluarganya menunggu dengan sebuah harapan. Ia pun berjalan menuju gedung putih tempat para penguasa itu duduk manis diantara tangis rakyat serupa dirinya. Ia membakar diri, menjadi martir atas ketidak adilan yang selama ini berkerak menjadi-jadi di sebuah negeri bernama Tunisia. Semua tersadar, rakyat yang tertidur mulai terjaga akan ketidakberesan pemimpin mereka. Aksi Bouazizi bagai sebuah klimaks, titik kulminasi atas mandulnya pisau keadilan. Hingga tak heran efek dari sebuah aksi yang datangnya dari jerit kemarahan rakyat berbuah revolusi panjang, berturut-turut Mesir, Libya dan beberapa negara timur tengah mengalami hal yang sama. Martir Bouazizi menjadi momentum perubahan.

--

Tak ada yang benar-benar berharap menjadi martir. Martir adalah konsekuensi atas usaha mereka dalam memperjuangkan apa yang mereka yakini. Mungkin Muhammad Toha tak pernah mengira bahwa aksinya dalam meledakkan gudang amunisi Belanda di kota Bandung akan memicu perlawanan para pejuang di beberapa daerah di nusantara. Atau saat Arif Rachman Hakim yang tak pernah menduga bahwa namanya akan diabadikan sebagai nama masjid di FKUI atas perjuangannya yang berujung maut.

Martir ibarat pemicu atas sebuah perubahan, ia tak sekedar aksi heroik beberapa oknum yang ingin disebut sebagai pahlawan. Tapi lebih dari itu, Martir adalah akumulasi dari sekumpulan momen, aksi, dan konsistensi dalam berjuang yang diakhiri dengan pengorbanan tak ternilai. Sehingga menjadi martir tak lebih dari sebuah takdir yang kan datang kepada orang-orang yang terpanggil, mereka yang memaknai arti perjuangan lebih dari apapun bahkan melebihi nyawa mereka sendiri.

Martir berarti saksi, menjadi saksi atas segala usaha yang mereka perjuangkan, menjadi syahid jika seorang muslim menyebutnya. Di hadapan Tuhannya mereka bersaksi dengan raga berkalang tanah dan jiwa berselimut ketenangan, bahwa perjuangan tertinggi telah mereka gapai. Saat tak ada satupun pengorbanan yang sebanding dengan nyawa yang tercerabut dari tubuh bersimbah luka.

Maka tak heran jika syahid adalah cita tertinggi dari seorang muslim bila kehidupan mulia tak jua diperoleh.

isy kariman, aumut syahidan. Hidup mulia atau mati syahid.
 

Sunday, 13 January 2013

Mati Muda

"Kematian itu nomor cabut, bukan nomor urut, siapa yang sudah dicabut ya dia yang meninggal lebih dulu, bukan urutan umur. - Ust. Yusuf Mansur"

Tanggal ini dan entah mengapa sejak kepergiannya 3 tahun lalu membuatku selalu mengunjungi laman Facebooknya setiap tahun. Dua puluh delapan desember, dan tiap orang mengucapkan selamat untukku. Ah bertambah lagi usiaku, oh ya tak lupa, akupun juga mengucapkan selamat untuknya. Selamat ya qi, baik-baik disana, semoga Jannah menjadi tempat kembalimu.

Ia telah pergi 3 tahun lalu, dan membuatku berpikir betapa umur manusia tidak ada yang tahu. Usianya baru 19 tahun, dengan masa depan yang masih terbentang luas. Banyak mimpi-mimpi yang mungkin belum terangkai. Tapi apa mau dikata, cukup sekian jatah hidupnya di dunia.
"loh kenapa dia duluan yang pergi, dia kan masih muda, kenapa gak orang yang sudah tua saja yang duluan." Ya betul, kenapa dia duluan, padahal masih muda..

Mati muda, jadi sesuatu yang lebih mengejutkan dibandingkan kematian di usia senja. Mendengar orang-orang tua meninggal memang membuat kita bersedih, tapi terkadang terbesit pikiran "mungkin sudah waktunya, beliau sudah sepuh, usianya pun sudah lanjut." tapi mati muda berbeda, Dikala orang-orang seusianya masih sibuk mengejar cita-cita, ia sudah berhenti mengejar cita-cita. Dikala orang-orang seusianya sibuk membicarakan masa depan, ia sudah sampai di masa depannya.

Mungkin Allah punya rencana lebih baik untuk mereka, tak ingin mereka terlampau jauh menghabiskan sisa hidup di dunia dengan kesia-siaan. Mungkin Allah sudah rindu dengan mereka, dan tak ingin mereka lama-lama di dunia. Mungkin Allah menganggap tugas mereka sudah paripurna, dan tak perlu lagi mengerjakan sesuatu yang diluar kemampuan mereka.

Mungkin bekal mereka sudah cukup hingga tak perlu lagi menunggu lama-lama. Mungkin bekal kita masih kurang jadi Allah masih memberikan jatah hidup di dunia. 

“Ini barisan tak bergenderang-berpalu/Kepercayaan tanda menyerbu/Sekali Berarti/Sudah itu mati.” - Chairil Anwar, mati muda, 26 tahun.