Showing posts with label curhatan. Show all posts
Showing posts with label curhatan. Show all posts

Tuesday, 2 April 2013

Polisi Tidur



Sungguh lucu melihat polisi tidur di tikungan jalan depan rumah nenek saya ini. Mungkin karena trauma dengan suara bising dari motor dan mobil yang melintas akhirnya mereka pun membuat polisi tidur sebanyak tujuh buah dengan jarak yang tak sampai 2 meter antara satu polisi tidur dengan polisi tidur yang lainnya. Sudah dapat dibayangkan bagaimana ungkapan hati para pengendara yang lewat di jalan itu, entah sumpah serapah, atau sejenak bersabar sepenuh hati, tapi yang jelas, melintas di jalan itu, sungguh sangat menyebalkan.

Mungkin bagi saya pribadi tak terlalu masalah mengendarai motor di jalur polisi tidur semacam itu, tapi apa jadinya jika ada beberapa diantara mereka yang melintas di sana dihadapkan pada kondisi terburu-buru, panik, atau mungkin diantara mereka ada ibu-ibu mengandung dan hamil tua. Entah mengapa, sedikit saja ketenangan mereka terganggu, membuat egoisme merajai akal pikiran dan tanpa pikir panjang membuat tanggul besar dengan jarak yang berdempetan.

Tapi bisa saja mereka yang memiliki rumah di sepanjang jalan itu, memiliki trauma tersendiri yang membuat mereka kalap dan membuat tanggul polisi tidur sebanyak itu. Karena mungkin sudah beberapa kali peringatan untuk tidak melaju cepat di di jalan itu hanya ditanggapi santai dan tak dianggap oleh para pengendara, padahal jelas-jelas papan peringatan telah menuliskan semuanya “jangan ngebut, hati-hati banyak anak kecil” tapi tetap saja hal itu tak ada pengaruhnya.

Maka tak heran, mereka pun meminta bantuan polisi, menghentikan laju kendaraan yang melaju cepat. Karena biasanya dinegeri ini yang namanya polisi memang identik dengan aktivitas memperlambat kendaraan yang melintas, jadi wajar saja jika tanggul tinggi sekalipun yang berfungsi tuk mengurangi kecepatan kendaraan dinamai dengan sebutan polisi tidur. Hehe.

Bah.. apapun alasannya, tetap saja yang namanya polisi tidur tak dapat seenaknya dibuat dan dibangun. Pertama, sudah ada peraturan yang mengatur tata cara mendirikan polisi tidur, hingga tak dapat sesuka hati membangun polisi tidur di tengah jalan (coba cek keputusan menteri perhubungan No.3 tahun 1994, silahkan googling). Lalu yang kedua, jalan di depan rumah anda bukan milik anda, ia milik umum yang kebetulan berada di depan rumah anda. Jadi sungguh mengherankan saat beberapa orang dengan santainya mendirikan polisi tidur seenak udelnya.

Mungkin pengaruh budaya, atau mungkin karakter, karena polisi tidur yang tak beraturan begitu banyak di kota ini. Mungkin masing-masing kita harus kembali merenung dan menginsyafi bahwa egoisme tak tertahankan membuahkan polisi tidur yang disebabkan oleh para pengendara egois yang tak tahu aturan dan kurang ajar.

Saturday, 23 March 2013

The Interview



Kalau saja di zaman mereka ada semacam talk show dari hati ke hati seperti Kick Andy, Just Alvin, atau Mata Najwa, tentunya tak ada rasa penasaran dan tanda tanya tentang hidup mereka. Tapi sayangnya zaman dulu tak ada interview mendalam semacam itu, hingga sayapun bertanya-tanya tentang mereka.

Seperti para pemuda Ashabul Kahfi. Bagaimana kiranya perasaan mereka saat lari dari kaumnya? Padahal mereka cuma sekelompok pemuda yang ingin menyelamatkan akidahnya. Bagaimana caranya mereguk keyakinan hingga bertekad untuk lari dan bersembunyi dalam gua? Disaat para pemuda zaman sekarang makin jauh dari semangat keislaman. Ah saya penasaran.

Lalu bagaimana dengan Nabi Khidir, benarkah beliau berumur ratusan tahun dan masih hidup hingga kini? Apa kiranya yang membuat beliau diberi anugerah berupa usia yang sangat panjang, lalu apa tanggapan beliau melihat kondisi umat ini jika beliau masih hidup sampai sekarang. Kira-kira apa perasaan beliau saat membunuh anak kecil yang disinyalir akan mengajak orang tuanya kepada kekafiran seperti yang diceritakan di surat Al Kahfi? Apakah beliau tak merasakan sesuatu saat membunuh anak itu? Ah saya penasaran.

Seperti Iskandar Zulkarnain, benarkah Alexander Agung itu adalah beliau dalam versi romawi? Lalu bagaimana caranya membuat tembok besar dari logam untuk mencegah Ya’juj dan Ma’juj keluar? Benarkah beliau memiliki tanduk di kepalanya? Karena zulkarnain berarti yang memiliki dua tanduk. Lalu bila dibandingkan dengan Nabi Sulaiman, seper berapanya kah kekayaan beliau dibandingkan sang nabi? Hehe. Benar-benar membuat saya penasaran.

Dan yang paling penting, tentang mereka yang telah pergi ratusan tahun lalu, apa sebenarnya motif Muawiyah saat berperang melawan Ali. Benarkah Cuma sekedar ingin menuntut balas pelaku pembunuhan Utsman? Padahal jelas-jelas setelah beliau menjadi khalifah, anak keturunannya yang meneruskan kekhalifahan. Ah sungguh tak sampai pikiran saya, padahal mereka yang berperang antara Ali dan Muawiyah adalah kaum muslimin, kenapa sampai berperang? Bagaimana kiranya perasaan rasul melihat para sahabatnya saling berperang pasca wafatnya beliau.

Mungkin jawabannya hanya ada di sana, sembari duduk bertelekan permadani di tepi telaga Al Kautsar, meminum airnya yang sangat nikmat. Berbincang hangat bersama beliau-beliau para pendahulu. Bertanya kepada Rasul, para sahabat, dan orang-orang shalih itu, semoga ada kesempatan. Semoga Allah merahmati saya dan kaum muslimin untuk menggapai tempat itu.

Wednesday, 20 March 2013

Enyahkan Moda Negeri Autopilot

Tiap orang di negeri ini sudah memiliki rencana sendiri-sendiri, bahkan untuk seorang kepala negara sekalipun. Tak ada yang namanya kolaborasi demi menggapai kesejahteraan bersama, yang ada malah individualisme demi menjaga kepentingan masing-masing. Untukmu usahamu, dan untukku usahaku, bagimu urusanmu, dan bagiku urusanku, selesai perkara. Persetan dengan harga bawang putih melambung tinggi, masa bodoh dengan mutilasi dan kejahatan yang makin keji, sing penting tahun depan agenda pemilu aman terkendali. ah sakit..

Sibuk, masing-masing kita sibuk dengan urusan pribadi dan kelompok kita. Karena memang pemimpin di negeri ini mengajarkan hal seperti itu. Tak sedikit gambaran yang kini terekam awak media menunjukkan bahwa presiden saja punya agenda khusus terhadap partainya. Mengambil porsi lebih besar hingga seringkali membuat saya bingung, ini presiden negara ataukah presiden partai. Tapi yasudahlah, toh tak terlalu banyak pengaruhnya, ada dan tiadanya sang presiden, masing-masing kita sudah terbiasa berjalan sendiri-sendiri.

Tapi terkadang, berjalan sendirian itu membosankan, dan tak jarang lebih melelahkan. Tak ada ucapan saling menguatkan, tak ada yang siap sedia memberikan bantuan. Semuanya diusahakan sendiri hingga lelah tak jarang melemahkan kekuatan. Padahal jika dipikir-pikir berjalan bersama itu mengasyikkan, saat tiap orang memiliki porsi untuk berkontribusi, hingga energi kian meninggi dan tak mudah jatuh dalam jurang frustasi. Tapi yang ada kini sebaliknya, energi itu telah habis dipakai oleh masing-masing individu, bahkan sebelum ia sempat bergabung menjadi satu.

Maka dari itu, idealnya memang kesadaran tuk bersama memadukan energi perlu dilestarikan sejak kini. Hingga nantinya energi itu tak habis tuk sekedar membereskan dilema politik yang seringkali tak berbuah manfaat apapun. Padahal masih banyak tugas-tugas yang harus diselesaikan dibandingkan berlarut-larut mengurus permasalahan politik yang tiada habisnya.

Cukup sudah 10 tahun ini moda autopilot berjalan. Saatnya memadukan energi tuk bersama berkolaborasi dengan sang pemimpin yang tidak hanya jualan pencitraan, tapi juga memiliki kesadaran tuk menyatukan energi individu di negeri ini, dalam sebuah kerja nyata demi mewujudkan cita-cita bersama. Negeri yang makmur dan sejahtera.

aamiin.

Wednesday, 13 March 2013

Sekelumit kisah si Calon Karyawan

Banyak harapan yang mungkin terbayang kala ia menerima telepon dari saya untuk mengikuti tahapan psikotes dan interview. Bermimpi akan sebuah perubahan dalam hidup kala nantinya berhasil melalui tahapan seleksi ini. Tak muluk-muluk, ia cuma ingin mendapatkan sebuah pekerjaan yang dapat menafkahi keluarganya. Mencoba bertahan dari kerasnya kehidupan yang kian menghimpit. Istri yang sakit, anak yang butuh susu, dan orang tua yang butuh bantuan. Beragam permasalahan dan semoga psikotes ini merupakan salah satu jalan tuk menyelesaikan semuanya.

Tapi terkadang jalan keluar yang terlihat luas membentang memiliki beberapa duri kecil yang siap menghadang. Mencoba menguji seberapa jauh tingkat kesabaran dan keuletannya dalam mencari solusi atas permasalahan hidup. Entah karena faktor usia atau karena faktor ketidakbiasaan dalam mengikuti tes psikologi, psikotes yang diikutinya bisa dibilang tak terlalu memuaskan. Di titik ini semuanya seolah kan berakhir. Namun tidak dihari ini, sepertinya Tuhan memberikannya satu kesempatan lagi.

Dalam seleksi di perusahan saya, psikotes memang menjadi pertimbangan utama. Namun saat hasilnya tak terlalu baik, kamipun dari SDM mencoba memberikan sedikit kelonggaran. Jika tidak terlalu jelek-jelek amat maka kamipun masih dapat mentolerir. Lagipula dari sisi keterbutuhan terhadap calon karyawan yang tinggi, ketersediaan jumlah calon karyawan yang minim, dan rata-rata usia pelamar yang sudah tidak lagi muda, maka tahap selanjutnya yakni interview dapat menjadi pertimbangan selain psikotes.

Maka terlihatlah sisi lainnya yang memang tak terlalu tergambarkan lewat psikotes. Skill dan kemampuannya dalam bidang marketing ternyata cukup mumpuni. Pengalaman yang lumayan di beberapa perusahaan sebelumnya memberikan sedikit keyakinan bagi kami untuk merekrut.

"Memang dari segi usia, saya sudah tidak muda lagi, tapi insyaAllah jika pekerjaan yang berhubungan dengan marketing. Saya akan dengan senang hati menjalaninya. Dan saya yakin dapat memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini"

Mendengar pengakuannya itu membuat saya tanpa ragu lagi memberikan rekomendasi bahwa si calon karyawan, layak direkrut.

Usia boleh kepala empat puluh kebawah, psikotes boleh saja tak memuaskan, tapi jika passion dan minat telah berbicara, semuanya seketika berubah. Karena hasrat, minat, dan passion ibarat bara api dalam sebuah lokomotif. Ialah tenaga, ialah pendorong bagi mereka yang fisiknya tak lagi sebugar dulu. Ialah jalan keluar sesungguhnya dari Rabb semesta alam.

Semoga berkah, semoga menjadi jalan keluar bagi peliknya permasalahan hidup. 

Sunday, 3 March 2013

Menulis di waktu kritis

Konsistensi kan teruji saat jemu dan peliknya problematika hidup menghampiri para penulis. Terlebih penulis yang dituntut menyelesaikan tulisan dalam kurun waktu tertentu. Jika tidak pandai-pandai mengelola energi dan antusiasme, mungkin telah banyak yang berguguran, apalagi seorang penulis yang hanya meluangkan waktu menulis di laman blognya, sudah sedikit yang membaca, dibayar pun tidak. hehe.

Tapi memang yang namanya konsistensi dalam menulis perlu ditumbuhkan dengan sebuah komitmen. Komitmen penuh kesadaran bahwa tulisan yang akan dibuat merupakan sebuah produk intelektual bermanfaat bagi orang banyak. Walau sekedar curhatan penuh kegalauan, walau keluh kesah penuh kegelisahan, tapi tetap yang namanya tulisan sedikit banyak berbuah inspirasi dan simpati dari para pembacanya.

Maka tak heran, sayapun yakin setidaknya tulisan yang saya buat menjadi cara bagi saya untuk menceramahi diri dalam sebuah inner dialogue. Bahwa diri ini perlu dimotivasi dan diberi vitamin oleh dirinya sendiri, karena mau tak mau musuh terbesar dan terberat dari diri manusia adalah diri mereka sendiri. Jadi setidaknya saya sedikit yakin bahwa diri ini akan lebih suka mendengar dirinya berbicara dibandingkan orang lain. Walau tentu saja saya tidak memungkiri bahwa nasihat dan simpati, dari orang lain dalam hal ini pembaca akan lebih memperkuat percakapan antara saya dan diri saya.

Maka disinilah saya berada, menulis di penghujung hari tuk membuktikan sebuah komitmen bahwa janji tuk menulis harus terus ditepati sebisa mungkin, walau ide tak lagi ada, walau semangat tak lagi membara. Karena menulis adalah nasihat, bagi kita dan terutama bagi diri saya pribadi.

Tuesday, 19 February 2013

Rumah Sakit Berbisnis

Seorang teman pernah berkata bahwa di masa mendatang bisnis kesehatan merupakan salah satu dari beberapa bisnis yang memiliki prospek cerah. Kesehatan beberapa tahun lagi adalah isu yang jadi tema utama selain isu energi dan properti. Pertambahan penduduk yang melonjak beberapa dekade terakhir mau tak mau meningkatkan pemakaian energi dan pastinya permintaan akan kebutuhan properti serta yang tak kalah penting kesadaran untuk menjadi sehat.

Ketiganya bersinergi dan menjelma menjadi momok yang menakutkan belakangan ini. Kuota energi dalam hal ini BBM yang katanya makin menipis memaksa pemerintah melakukan penghematan yang merupakan upaya dalam menjaga stabilitas energi. Sehingga tak heran kekhawatiran datangnya krisis energi membuat pemerintah kini mengupayakan pengembangan energi alternatif yang berbasis lingkungan dan dapat diperbarui.

Properti juga tak jauh beda. Harga tanah semakin naik seiring berjalannya waktu. Bahkan terkadang kenaikannya terasa tak logis karena bisa berkali-kali lipat dari harga awalnya. Jika tahun ini misalnya harga sebuah rumah 'hanya' 180 juta, maka jangan heran jika setahun lagi harganya melonjak tajam menjadi 500 juta. Tak tanggung-tanggung dan kadang tak manusiawi bagi manusia-manusia indonesia yang umumnya berada di level ekonomi middle low.

Dua isu itu telah berkembang cukup intens beberapa waktu ini yang mungkin tak seheboh isu kesehatan yang gaungnya masih terdengar biasa-biasa saja. Tapi sebuah kejadian beberapa saat lalu membuat isu kesehatan sepertinya layak untuk diberikan perhatian, isu yang terkait akses dan jaminan kesehatan bagi tiap orang.

Anggaplah dengan kondisi lingkungan yang tak lagi seramah dulu, dan jenis makanan yang makin berbahaya tuk dikonsumsi, menjadikan prosentase orang sehat di indonesia makin rendah. Anggaplah ada seseorang yang harus diopname di rumah sakit karena sebuah penyakit kronis, membutuhkan uang kira-kira 500 ribu hingga 1 juta rupiah dalam semalam. Jadi setidaknya jika di rumah sakit itu terdapat 20 kamar dengan fasilitas standar-standar saja, maka dalam semalam rumah sakit itu bisa meraup minimum 20 juta. wow.. bisnis yang menggiurkan. Ditambah dengan sponsor dari produk obat-obatan dan tender dengan para pemasok alat-alat kesehatan membuat beban biaya gedung dan gaji karyawan (dokter, perawat, dll) menjadi tak terlalu berarti. Toh pemasukan pasti lebih besar dari pengeluaran.

Gambaran di atas memang menjelaskan betapa prospektifnya bisnis kesehatan atau lebih khususnya bisnis rumah sakit. Namun, isu kesehatan yang sensitif dengan aspek kemanusiaan mengakibatkan para pelaku bisnis rumah sakit terkadang berbenturan dengan etika kemanusiaan. Sehingga walaupun ini merupakan bisnis, tapi tetap nyawa pasien menjadi nomor satu, jadi idealnya walau si calon pasien tak mampu membayar, rumah sakit tetap dapat mengutamakan pasien bagaimana pun kondisi ekonominya. Begitu yang saya tahu terutama di banyak negara di dunia.

Tapi ironisnya di sini, di Indonesia, sudah jadi rahasia umum jika rumah sakit hanya mau melayani saat si pasien sudah membayar sejumlah uang sebagai uang muka. Banyak, bukan satu-dua kasus saja dimana rumah sakit tega menelantarkan pasiennya jika keluarga si pasien tak mampu menyiapkan sejumlah uang untuk biaya perawatan. Seperti saat teman saya harus memiliki deposit 5 juta dan menyetorkannya kepada pihak rumah sakit saat Ibunya mengalami kecelakaan. Padahal kondisi ekonominya saat itu tidak memungkinkan tapi berkat bantuan teman-temannya, ia dapat memenuhi permintaan rumah sakit itu. duh..

Lalu baru-baru ini ada kasus terhangat dimana seorang pasien, bayi yang baru berumur beberapa hari, akhirnya meninggal karena tak mendapatkan kamar di rumah sakit. Oke kalau memang itu alasannya, tapi saya yakin jika kondisi orang tua si pasien lebih baik dari sisi ekonomi dan kedudukan, setidaknya Dera (nama pasien) tak perlu mengemis di rumah sakit kelas bawah dan dapat secepatnya mendapatkan perawatan di rumah sakit ternama yang sepertinya tak mungkin kamarnya penuh semuanya.

Banyak hal memang, yang menjadi penyebab wafatnya Dera dan banyak juga yang berargumen, "kenapa tidak dibawa ke rumah sakit internasional saja semacam Carolus, RSPP, yang pastinya punya persediaan kamar". Mencari alasan memang mudah, tapi mindset yang terbentuk di benak orang-orang dengan level ekonomi menengah ke bawah, masih jelas tertanam bahwa yang namanya rumah sakit mahal harus membayar dulu baru dilayani, dan itu memang kenyataan seperti yang saya jelaskan di atas.

Terlepas dari berbagai perdebatan yang mungkin muncul, kasus ini jelas-jelas telah memakan korban. Hingga harapannya kesalahan yang sama tak lagi terulang, sebuah evaluasi yang menyeluruh dari pihak-pihak yang berkepentingan. Sayapun berpikir, betapa beruntungnya Airlangga sebagai cucu dari orang nomor satu di negeri ini. Ketika ia sakit, serentak fasilitas nomor satu tersedia. Perhatianpun sepenuhnya tercurah agar ia dapat sembuh dan sehat seperti sedia kala. Padahal jika dipikir-pikir Dera dan Airlangga memiliki hak yang sama untuk hidup dan menjadi sehat, tapi karena mungkin nasib Dera tak semujur Airlangga yang lahir di keluarga presiden membuat Dera harus kembali cepat pada sang pencipta. Fiuh...

Saturday, 19 January 2013

Haters gonna hate

Jagat maya tak henti memunculkan sensasi dan memaksa kita mencermati kembali apa-apa yang terjadi di sana. Selalu ada hal-hal unik yang sayang jika kita lewatkan begitu saja, salah satunya adalah komentar-komentar para user di internet yang kadang kala lebih menarik dibandingkan isu dan berita utamanya (main topic).

Jika kita membuka kaskus, detikcom, youtube dan forum dunia maya lainnya kita akan mendapatkan banyak komentator yang berkicau, ada kalanya dengan bahasa yang santun, tapi tak sedikit pula yang menggunakan kata-kata offensif dan emosional. Terkadang komentar tersebut memang benar adanya, yang mungkin mewakili hasrat terpendam dari lubuk hati terdalam para netter. Walaupun sebagian besar user yang berkomentar dengan bahasa-bahasa itu tak mencantumkan identitas asli mereka.

Ada banyak hal yang mungkin menyebabkan hal ini, bisa karena takut citra dirinya tercemar dan membuat dirinya dianggap buruk oleh teman dan kerabatnya yang membaca, atau mungkin mereka ingin memposisikan diri pada profil baru yang mereka ciptakan kembali, berbeda dengan profil mereka di dunia nyata. Di dunia nyata mungkin mereka hanya seorang anak pemalu dengan kacamata besar dan jerawat penuh menyesaki wajah (konstruk sosial di kalangan anak muda bagi seseorang yang kuper). Tak seorangpun yang melirik dan menyadari kehadiran mereka. Tapi di dunia maya, mereka seorang yang percaya diri dengan ucapan-ucapannya, punya argumen meyakinkan dan tak segan berdebat tentang suatu hal walaupun sekedar pembicaraan sepele. Mereka didaulat menjadi seorang pemimpin, disegani dan dihormati, kehadirannya diperhitungkan. Berbeda sangat dengan dunia nyata.

Tapi tak semua user seperti itu, mungkin cuma sebagian kecil saja. Karena sepertinya kini tiap orang sudah nyaman dengan diri mereka yang ada di dunia nyata sehingga tak perlu lagi menciptakan profil baru yang berbeda di dunia maya (bukti keberhasilan training pengembangan diri dan motivasi). Yang mungkin sering kita jumpai sekarang adalah identitas palsu dan anonim yang hanya dipergunakan untuk sekedar membalas sebuah berita atau posting di internet. Membuat mereka lebih aman dan nyaman dalam mengomentari sesuatu.

Modus anonim dan identitas palsu ini cenderung efektif dan instan menjadikan seseorang berbeda dengan dirinya di dunia nyata. Hal-hal yang sebelumnya cuma bisa disimpan dalam hati yang akan membuat mereka dipersepsikan buruk dengan komentar yang offensif dan emosional dapat disalurkan tanpa tekanan dan beban. Walau menurut saya hal itu merupakan sebuah penyakit, benih hipokrit yang berpotensi menjalar dan menulari orang tersebut. Di luar berkata A dan mendukung B tapi di dalam hati berkata B dan mendukung A. Di luar menyukai A tapi di dalam hati membenci A.

Tapi memang, jagat maya kini memberikan perspektif  baru mengenai cara manusia berinteraksi dan membangun karakter. Ya kalau menurut saya yang paling ideal adalah percantik diri sebaik-baiknya hingga tak segan menyuarakan dan berpendapat tentang suatu hal walau dianggap offensif dan emosional, serta tak ragu untuk menampilkan diri (show off) di hadapan orang-orang. Apa yang kita tunjukkan adalah apa yang ada pada diri dan hati kita, tak perlu minder dan takut terhadap persepsi orang kebanyakan. Kalaulah kita tetap dimusuhi dan dijauhi atas usaha dalam membangun kualitas diri, atas segala perkataan dan tindakan hebat yang kita lakukan, santai saja, karena kita memang tidak bisa memuaskan semua orang karena kita memang bukan alat pemuas.hehe

Haters always gonna hate.

foto : http://mboke.files.wordpress.com/2011/07/tutup-kuping.jpg

Thursday, 17 January 2013

Edisi #banjir

Sruput kopi pagi edisi #banjir
Benhil, 17 Januari 2013, 15.14

Saat tulisan ini dibuat saya sudah mengungsi ke kantor. Berenang dengan pelampung, dibantu oleh tim evakuasi. Di sini saya sementara waktu berbenah untuk nantinya kembali lagi ke petamburan. Di kantor pun sepi,pimpinan cabang mengambil kebijakan untuk meliburkan kantor hari ini,karena kondisi yang tidak memungkinkan. Listrik mati dan banjir menghadang dimana-mana. Untungnya air pam masih hidup sehingga sayapun berkesempatan untuk mandi dan membersihkan diri.

Hari ini saya belajar banyak kawan, betapa rahmat Allah seketika dapat berubah menjadi bencana. Hujan yang seyogyanya membawa saripati kehidupan lambat laun jadi sesuatu yang mengerikan,terutama bagi penduduk petamburan.

Tidak melulu masalah sampah dan drainase yang bermasalah, karena dua hal itu sudah pasti menjadi penyebab banjir di jakarta. Tapi di luar itu mindset dan perilaku penduduknya yang sebenarnya perlu diperbaiki. Karena jika hal itu telah beres,masalah banjir pun insyaAllah akan cepat tertangani.

Mindset penduduk jakarta khususnya petamburan,adalah mindset 'yang penting hidup gw nyaman,dan persetan dengan yang lain'. Jadi tak heran lahan yang semestinya jadi jalur pembuangan air kotor (got) dibangun permukiman, dan itu terjadi persis di depan rumah nenek saya. Bantaran sungai ciliwung yang seharusnya jadi daerah resapan air,dijadikan tempat pemancingan.

Perilaku orang-orangnya pun tak jauh beda,yang mungkin membuat Sang Khaliq geregetan. Ah tak perlu lah saya buka perilaku orang-orangnya,karena mau tidak mau saat ini sayapun menjadi bagian dari mereka yang belum bisa memberikan banyak perubahan berarti.

Banjir kali ini bukan semata sebuah siklus 5 tahunan. Ada banyak maksud dan sepercik pelajaran di sana. Setidaknya membuat kami sadar bahwa manusia itu lemah dan kecil, perlu bantuan sesama dan pastinya bantuan dari Yang maha pemberi pertolongan.


*ditulis lewat hape, repost dari Facebook saya.
 

Tuesday, 15 January 2013

Panas : antara pedagang, mahasiswa, dan penumpang kereta

Tidak biasanya, kemarin cuaca sungguh panas seharian. Dari jakarta hingga depok sinar hangat menyinari kedua wilayah itu. Padahal beberapa hari sebelumnya hujan secara merata mengguyur jakarta dan daerah sekitarnya. Tapi kemarin tidak biasanya, seperti ada maksud yang ingin disampaikan, ada hikmah di balik ini.

Panas menyengat dan orang-orang mulai berdatangan. Stasiun pondok Cina mulai sesak dengan massa yang bercampur. Mahasiswa, pedagang, dan orang-orang berbadan besar dengan linggis di tangan. Terik matahari tidak tertahankan lagi, provokasi orang-orang berbadan besar itu nampak menyulut emosi sebagian pedagang.

Bagaimana tidak?? sumber penghidupan mereka dihancurkan, kios yang selama ini menjadi penopang nyawa dibongkar paksa. Tak ada tawar menawar, hanya linggis dan parang yang berbicara. Sedangkan rekan-rekan mahasiswa tak mampu lagi meredakan amarah dan emosi pedagang, hingga tak kuasa menahan mereka memblokir rel kereta.

Suasana sungguh kacau kawan, polisi pun tak punya nyali. Beberapa orang terkena pukulan bahkan linggis, pedagang dan mahasiswa pun hanya bisa meringis. Panas, ya betul, saat itu sungguh panas, karena memang sudah saatnya kita panas melihat kedzoliman yang sudah jelas. Jika kau lihat kedzholiman, ubah dengan tanganmu, bila tidak, dengan ucapanmu, dan yang terakhir jika kau tak mampu maka cukup dengan hatimu, karena itu selemah lemahnya iman. Dan kami jelas-jelas masih kuat beriman.

Panas hari kemarin diganti oleh sang Khaliq dengan Hujan seharian di hari esok, seolah tahu sudah saatnya mengguyur hati dengan kesejukan. Biarlah kini semuanya terendapkan dulu dengan Rahmat turunnya hujan. Biarlah guyurannya sementara waktu menghapus perih yang dirasa. Jika semua telah kembali tenang, bergerak pun lebih lega tuk dilakukan.

Panas kemarin mengundang panas semua orang, tidak hanya pedagang, para penumpang yang terlunta turut merasakan, emosi mereka tersulut. Tapi setidaknya panas kami berbeda kawan, karena panas kami jelas punya maksud dan tertulis jelas dalam syariat.

Untuk Kalian yang terus berjuang.

Thursday, 10 January 2013

Karena Tiap Orang Punya Impian

Lelaki di hadapannya kini menunggu, pria paruh baya yang sesekali menggerakkan dan menggoyangkan pulpen yang tergenggam di jarinya. "Jadi apa itu passion?" Lelaki itu kembali mengulang pertanyaan, dan ia pun tak kunjung menemukan jawaban yang pas untuk diucapkan. Sesi interview dengan Senior Manajer ini memang telah disiapkannya jauh-jauh hari, beragam kemungkinan pertanyaan dan jawaban telah disiapkannya sejak awal, tapi pertanyaan yang satu ini tak pernah terpikirkan olehnya yang kini membuatnya termenung beberapa saat. Duh jawaban apa yang kira-kira diinginkan bapak ini.

"eh.. passion itu adalah saat kita bersemangat untuk melakukan sesuatu dan tak memikirkan lagi seberapa lelah kita saat itu". Harap-harap cemas, iapun menunggu respon dari si Bapak.
"hm.. oke, jawabanmu menarik, dan intinya memang sama dengan apa yang saya pikirkan. Sederhana, Passion itu adalah saat kamu senang melakukan sesuatu dan rela tidak dibayar untuk itu. Tadi kamu bilang hobi kamu menulis dan kamu pun sudah membuat satu buku, benar ? dan kamu rela tidak dibayar kalau untuk menulis, iya kan?" Lelaki itu membuka kembali berkas CV yang ada di mejanya.
"iya benar pak"
"dan kamu tadi, begitu bersemangat menceritakan tentang buku kamu, bagaimana kamu membuatnya, apa isi bukumu, novel yang bercerita tentang pengkhianatan dan romantisme. Kamu gak sadar bahwa itu passion kamu?"
Ia pun sejenak meresap perkataan si Bapak itu, ya memang benar passion saya adalah menulis, menulis cerita, cerpen, novel. lalu kenapa?. 

"benar pak, saya pun menyadari, Passion saya ada di bidang itu, menulis, merangkai kata, menguntai makna dari sebuah pengalaman ke dalam bentuk frase yang saling mengait satu sama lain, saya memang senang menulis dan saya pun bermimpi untuk menjadi penulis besar"
Dan seketika si bapak itu pun membetulkan posisi duduk dan terlihat antusias dengan jawabannya itu. "nah, kalau begitu kenapa kamu melamar ke perusahaan ini? kamu pasti tahu bahwa pekerjaan kamu ini, kalau kamu diterima, adalah pekerjaan yang tak ada sangkut pautnya dengan kreativitas kamu menulis. Pekerjaannya monoton, strict to the rule dan tidak ada yang namanya improvisasi. Apa kamu bakal tahan bekerja dengan kondisi seperti itu? yang ada kalau kamu terpaksa, pekerjaan kamu nantinya malah tidak optimal."

Iapun berusaha memaknai perkataan si bapak ini. Tapi saya harus mendapatkan pekerjaan ini pak, saya sangat butuh itu, tolong terima saya. Di benaknya kini tergambar beberapa orang adiknya yang menunggu kabar gembira darinya, masa depan mereka kini tergantung di tangannya. "tapi, saya berjanji akan bekerja seoptimal mungkin dan seprofesional mungkin. saya berjanji"

Lelaki itu tersenyum, pria paruh baya yang kini seolah menjadi penentu nasib seorang gadis, fresh graduate dari sebuah universitas ternama. "baik, saya akan pegang ucapan kamu, dan saya pun bertanya bukan karena ingin menghalangi kamu dengan passion kamu, impian kamu, tapi karena saya tak ingin impian kamu tergerus dengan rutinitas di kantor ini nantinya. Jangan pernah lepaskan impianmu walau nanti diterima di kantor ini , mengerti? karena passion adalah ruh bagi orang-orang yang memiliki impian."

Seketika wajahnya cerah kembali, tak disangka bahwa si Bapak justru mendukungnya. "terima kasih pak, saya akan tetap menjaga passion saya. terima kasih atas supportnya". ia pun hanya dapat mengucap terima kasih. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. "Oke, besok kamu datang lagi kesini, pukul 9 bertemu dengan ibu Mira untuk menandatangani kontrak kerja."
"baik pak, terima kasih banyak, saya mohon permisi."
Lelaki itu memandang dengan senyuman, sosok gadis yang baru saja meninggalkan ruangannya. Karena tiap orang punya hak mengejar mimpinya.

  

Wednesday, 9 January 2013

Tentang Rokok

"Rokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin" - Pemerintah

Ya ya, peringatan itu sudah seringkali kita baca di tiap bungkus rokok di negeri ini, dan nampaknya gak terlalu ngaruh ya. Industri rokok makin berkembang yang menyebabkan pasarnya pun makin meluas. Tidak hanya menjangkau orang dewasa, kinipun anak kecil, bocah-bocah SD dan SMP itu sesekali terlihat membakar puntung rokok dengan asyiknya di sudut-sudut jalan. aih..

Saya bukan perokok walau tak memungkiri pernah juga ngerokok. :p , ah tapi itu dulu pas SD (eh apa SMP ya? lupa), itupun gak sampai sekali hisap saya sudah batuk tidak karuan. ah gak lagi-lagi deh. Teman-teman sayapun sampai mengatakan "ah cemen lo gar, cupu deh gitu doank batuk-batuk". Ya ya, apa kata kalian deh.
"ya walau batuk-batuk dan gak berhasil dibujuk temen buat ngerokok tapi keluarga lo ngelarang juga kan?," Eh tapi serius deh, kalau dikatakan saya tidak merokok sampai sekarang karena lingkungan yang tidak merokok, itupun salah juga. Karena dari keluarga bapak dan keluarga ibu,semuanya perokok (untuk yang laki-laki dan sepertinya saya anomali dalam keluarga. hehe.)

Saya bukan perokok dan tahu persis bagaimana lingkungan pendidikan serta pergaulan mengajarkan saya tentang rokok, saya paham betul akan hal itu. Sejak SMA ikut rohis, di rumah sesekali mengikuti taklim dari saudara-saudara kita yang salafi, dan ketika di kampus bergabung dengan teman-teman halaqoh, saya tahu persis akan hal itu. Yang intinya mengatakan bahwa rokok itu haram. Ya tapi mau bagaimana lagi, ayah sayapun merokok dan masa iya di depan beliau bilang begini. "Pak, Rokok itu haram, nanti bapak masuk neraka" kualat saya nanti.

Suatu kali saya pernah bertanya pada ayah,
"Pa, kenapa kok masih ngerokok, bukannya udah jelas ya peringatannya?".
Untungnya, alhamdulillah saya diberikan ayah yang demokratis dan terbuka, mendengar pertanyaan itu tidak serta merta marah dan menganggap anaknya kurang ajar, beliau pun menjawab dengan santai.
"karena memang pengen aja". Sebuah jawaban yang unik, emang pengen aja.
"Jadi papa bisa berhenti ngerokok langsung dan gak kecanduan?",
"iya, bisa berhenti langsung dan gak kecanduan, papa juga ngerokok gak sampai dimasukin ke paru-paru, sampai kerongkongan aja"
"lah emang bisa?"
"bisa donk"
Dan saya pun malas untuk bertanya lebih lanjut.

Saya bukan perokok dan tidak sampai menghukumi bahwa merokok itu haram. Karena berdasarkan observasi pada ayah dan beberapa saudara, saya mengambil kesimpulan, Rokok haram kala si orang itu udah sakit, batuk-batuk, tapi tetap merokok. Rokok haram kala dihisap di tempat umum dan mengganggu orang lain. Rokok haram kala si orang itu lebih mementingkan rokok dari uang sekolah anaknya dan kebutuhan sehari-hari keluarganya.
Dan semoga ayah sehat selalu. Aamiin..

Thursday, 3 January 2013

Spongebob dan Kebodohan kita

Mari kita awali pagi ini dengan menonton Spongebob, serial kesayangan kita (kita??), eh maksudnya saya :p. Sejak tinggal di petamburan, dan jarak ke kantor hanya beberapa kilometer saja, saya pun masih sempat menonton Spongebob dan tayangan itu menjadi alternatif (satu-satunya) tontonan yang enak dilihat diantara tayangan berbau gosip, alay, dan gak jelas lainnya.

Saya suka Spongebob, tiap episodenya mencerminkan sifat dan perilaku satir manusia yang terkadang luput dari pandangan mata. Yang terkadang membuat kita terpingkal-pingkal menertawakan kebodohan spongebob yang ternyata juga kita lakukan.

Misalnya saat ia beralih profesi menjadi penjaga pantai dengan berbekal tanda putih di hidung. Dengan style penjaga pantai yang pas dan kepercayaan diri tinggi, ia pun berlagak menjadi penjaga pantai yang populer di mata orang-orang, dan bodohnya, Larry (lobster berbadan besar, si bos penjaga pantai) percaya saja. Padahal spongebob berenang pun tidak bisa. Duh.. mirip kita sekali yang terkadang membohongi diri sendiri untuk sekedar mencari perhatian orang, menjadi populer, padahal kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita lakukan.

Atau mungkin saat fanatismenya terhadap ubur-ubur, krabby patty, dan kulit kerang ajaib menjadi tontonan seru. Ah, terkadang kita pun sepertinya, gaya lebay dan lucu spongebob membuat kita tak terlalu mawas bahwa kita sewaktu-waktu fanatik tak jelas pada suatu hal. Tengoklah kini saat konser band kesayangan kita manggung di jakarta, yang rela membuat kita antri berjam-jam dibawah guyuran hujan. Yang kalau dipikir-pikir sama saja dengan Spongebob, tapi beda subjek yang di fanatisme kan.

Menertawakan diri sekali-kali itu perlu, setidaknya membuat kita tahu bahwa kebodohan adalah hal yang wajar dalam kadar tertentu. Sehingga hidup tak melulu tentang hal ini dan itu yang tak kenal waktu. Dan menonton spongebob membuat kita sedikit bersyukur, bahwa hidup kita tidak dikelilingi Teman yang idiot, tetangga yang menyebalkan, rekan kerja yang cuek, bos yang pelit, dan setidaknya kita lebih beruntung dari spongebob karena telah berhasil di jenjang akademis, tidak sepertinya yang tak pernah lulus kursus mengemudi dan membuat gurunya frustasi. hehe.

*melanjutkan nonton..menyeruput kopi..

gambar diunduh dari : http://voices.washingtonpost.com/answer-sheet/talking-out-of-school/spongebob-speaks-exclusive-int.html

Tuesday, 1 January 2013

Master Plan 2013

http://muntr.org/v4/wp-content/uploads/2011/10/the-future.jpg
Barang siapa yang harinya sama saja maka dia telah lalai, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka dia terlaknat, barang siapa yang tidak mendapatkan tambahan maka dia dalam kerugian, barangsiapa yang dalam kerugian maka kematian lebih baik baginya. (Iqtidha’ul ‘Ilmi Al ‘Amal, No. 196)

Masyhur dikalangan aktivis, hadits yang saya tuliskan di atas. Ya memang untuk memacu seseorang berbuat lebih baik dalam hidupnya, kadang kala perlu dipecut dengan kata-kata membangun seperti itu. hm.. Hadits tersebut Dhoif, bahkan maudhu', tapi tenang dulu, kita tak membahas derajat hadits itu, tapi saya coba membawa kawan-kawan pada sebuah realitas bahwa hidup sejatinya harus lebih baik dari hari ke hari.

Di awal tahun seperti sekarang, sangat mainstream melihat orang-orang menyusun resolusinya, walau mungkin kalau kata temen saya, ngapain solusi diulang terus tiap tahun, yang ada kita perlu revolusi. Ya ya, terlepas dari apa makna resolusi ataupun revolusi, seseorang harus mengetahui apa yang ingin dicapainya di tahun yang baru, setidaknya itu membantunya mengarahkan energi untuk melakukan sesuatu, sehingga tidak berantakan dan grasak grusuk nabrak sana sini.

Dan salah satu resolusi eh.. rencana saya di tahun yang baru ini adalah nikah menerbitkan novel saya bagaimanapun caranya. Entah itu todong langsung ke editornya (ups..) atau sepahit-pahitnya self publishing (yoshh..#mengencangkan ikat kepala), lalu selanjutnya adalah nikah menyelesaikan satu novel lagi, genrenya tetap sama, thriller dengan bumbu romantisme di dalamnya (aih mati..). dan yang terakhir nikah mencoba menulis satu hari satu tulisan di blog tercintah ini. Sepertinya menulis memang jadi terapi yang paling tepat bagi saya untuk menyelesaikan problem selain membaca kitabullah. Ditambah lagi, dengan menulis saya mencoba berbagi inspirasi, pengetahuan, dan kebaikan yang mungkin bermanfaat bagi yang membacanya karena klo kata mas Jamil Azzaini, buat resolusi yang bermanfaat buat orang sekitar, jangan egois. #nah loh..

Sip, itu gambaran umumnya, ya mudah-mudahan tidak terlalu mengawang, dan tidak terlalu membumi, tengah-tengah saja, moderat klo kata pak Musoli. Dan rencana itu sifatnya pleksibel, klo ada kesempatan mungkin ditambahkan, misalnya seperti nikah membahagiakan orang tua dengan cara membahagiakan dan bertanggung pada anak orang lain.. :p 
tapi insyaAllah secara garis besar, tiga hal itu yang jadi fokus utama.

Bismillah.
 

Sunday, 30 December 2012

Dilema #2



Aku tak sanggup bertanya pada Bapak. Serasa ada sesuatu yang naik dari perutku setiap kali ingin memulai membicarakan tentang hal ini. Kami sekeluarga dalam perjalanan pulang menuju Jakarta. Nampaknya bapak sedang sibuk menyetir dan tidak bisa diganggu, ah aku semakin tak sanggup membicarakan hal ini. Si kakak pun sepertinya sudah lama menunggu. Sesaat kemudian, sebuah SMS masuk ke hape ku.

“jadi gimana? Sudah ada jawaban dari bapak?”
“belum kak, setiap saya mau ngomong tentang ini, perut saya tiba-tiba mules. Duh..”
“hm.. yaudah, saya aja yang sms bapak, tolong kirim nomornya ya”

Hah? Seriusan nih orang? Wah.. nantangin ya. Akupun mengirimkan nomer bapak padanya.

“ini nomernya kak. 0816xxxxx. Tapi jangan di sms sekarang ya kak, bapak lagi nyupir takutnya keganggu, soalnya bapak sensitive klo ada sms yang gak jelas dari siapa, biasa ditawarin kartu kredit. Hehe”
“sip.. oke”

Coba kita lihat, apakah si kakak itu berani mencoba menghubungi bapak langsung. Ada semacam keraguan, sepertinya ia akan berpikir puluhan kali kalau ingin mengirim sms langsung ke orang tua ku.

Beberapa saat kemudian, bapak memanggilku. 
“An, ini ada yang sms siapa ya? Temen Ani ya?”
“hah? Temen Ani? Siapa pak? Ngapain juga ada yang sms bapak” 
akupun tak sadar, bahwa sebelumnya ada seseorang yang meminta nomor bapak dan akan menghubunginya. Dan ternyata, ya Ampun, si kakak yang mengirimkan sms dengan tulisan yang sangat lugas.

“Assalamualaikum pak, Saya Adi, temannya Ani, saya ingin mencoba serius untuk taaruf menuju pernikahan dengan anak bapak. Kalau bapak mengizinkan, saya akan coba mengirimkan CV saya lewat email. Terima kasih pak”

Ya salam, ini orang serius ya, dan bapak pun hanya terdiam, akupun salah tingkah, ah tak tahulah.

“bapak akan balas SMSnya, nanti kamu baca lagi. Kalau ada yang mau ditambahkan tambahkan saja” bapak pun hanya berkata singkat padaku. Ah biarlah, ikuti saja kemana proses ini akan berjalan.

Sepekan berlalu, dan ia telah mengirimkan CV nya padaku lewat email. Oh ya, ia juga mengirimkan Proposal nikahnya. Ah niat sekali.. akupun membaca dan terpaku dengan CV dan proposalnya. Apa lagi yang bisa membuatku menolaknya. Tapi.. ah selalu ada gundah, mungkin karena orang itu. Tapi.. sudahlah. Akupun membalas SMSnya

“CV dan proposalnya sudah saya baca kak, masya Allah, saya masih gak percaya, kenapa saya kak, seharusnya ada yang lebih baik dari saya”
“Gak An, insyaAllah saya udah berpikir matang, dan memang, sepertinya Ani orang yang tepat.”

Duh.. akupun tak tahu lagi harus membalas apa. Bapak ku pun ikut membaca proposalnya pula. Ah sepertinya ia begitu tertarik dengan si kakak ini. Terlihat jelas dari pancaran wajahnya, senyumnya menyiratkan bahwa pemuda ini orang yang tepat untuk putrinya. Aku juga mengirimkan CV ku padanya, CV yang biasa saja, itupun aku contek formatnya dari CV yang ia kirim, hehe.

“An.. coba bilang ke dia, kalau misalkan bisa, hari sabtu nanti datang ke rumah. Kamu kasih alamat ke dia ya”

Hah? Ke rumah? Secepat ini kah? Ya ampun. Akupun mengirimkan SMS padanya meminta agar dia bisa datang ke rumah. Sesuai dugaanku, ia pun menyanggupinya. Rumah ku di daerah tangerang banten memang lumayan jauh, dan semoga si kakak ini tidak tersesat.

Pertemuan itu dan pertemuan-pertemuan selanjutnya, semuanya berjalan lancar. Orang tuanya pun sudah datang bersilaturahmi ke rumah. Tapi, ah selalu ada tapi, gundah ini selalu menyertai. Bayangan orang itu masih terekam jelas di benakku. Berhari-hari, akupun jarang membalas sms Kak Adi. Akupun tak tahu apa yang terjadi padaku. Selalu ada keraguan dan semuanya bermuara pada orang itu. Baiklah, kurasa semuanya harus menjadi jelas, aku harus mengatakan yang sebenarnya pada kak Adi.

“sebenarnya, saya udah punya pilihan sendiri kak. Tapi jujur, ini murni karena kedekatan, minat dan kesenangan kami yang sama. Ia satu fakultas dengan saya, seangkatan dengan saya. Dan kemaren saya blom bisa memberi tahu kak Adi karena sayapun bingung, orang tua saya lebih menyukai kak Adi dibandingkan dengan calon saya ini. Karena menurut bapak, kak Adi adalah figure ideal untuk seorang suami, sayapun sadar sih kak, tapi saya sudah memutuskan, saya akan coba dengan calon saya sendiri”

Fiuh.. ah ada rasa sesal, tapi satu sisi, akupun lega. Semoga ini yang terbaik untuk kami. Kak Adi pun menerima dengan senyuman, setidaknya itu yang tertulis dalam sebaris pesan SMS darinya.

“semoga Kak Adi dipertemukan dengan orang yang lebih baik”
“insyaAllah An, InsyaAllah, begitupula dengan Ani”
Ya Rabb..

*bersambung

Monday, 24 December 2012

Dilema. #1



Sebaris sms itu masuk dan membuatku bingung. Akupun terduduk sekejap menyadari bahwa sepertinya kakak ini tidak main-main.
“Ani, udah siap? Saya mau serius dengan Ani”
Tak perlu kutanya lagi apa maksudnya dengan ‘siap’. Usia dewasa muda dengan frase ‘serius’ serta pertanyaan tentang kesiapan, tak lebih dari pembahasan tentang pernikahan.

Siang itu matahari tak jauh beda dengan kemarin. Sinar teriknya menambah cucuran keringat setelah kubaca sms darinya. Ia, duh.. akupun baru mengenalnya, setidaknya belum sampai 2 tahun. Tapi memang beberapa kali kami sempat berinteraksi dan itupun tak lebih dari sekedar pembicaraan biasa lewat media sosial.

Akupun ingat saat pertama kali menyapanya. Eh.. tunggu, ia atau aku dulu ya? Entahlah, yang jelas kamipun berbincang dan di akhir pembicaraan akupun baru menyadari. Ternyata aku salah menyapa orang..ups. untung saja dia tak tahu. :p tapi sepertinya ia tak menyadari hal itu karena setelahnya, beberapa kali kami bertemu dalam obrolan ringan yang tak pernah direncanakan.

Oh ya, ketika itu bulan Ramadhan, dan kami sekeluarga berangkat mudik lebih awal untuk menghindari ganasnya jalur pantura. Dan tebak apa yang terjadi? Ternyata tidak terlalu berpengaruh, jalur pantura tetap padat, padahal kami berangkat H-5 lebaran. Syukurlah, mobil kami dilengkapi pendingin ruangan, kalau tidak, ya ampun, sudah tentu jilbabku sudah penuh dengan peluh keringat. Akupun berusaha membunuh kebosanan dengan membuka facebook dan fasilitas chatnya via smartphone. Dan tak lama, kakak itupun menyapaku.
“Assalamualaikum An, lagi dimana?”
“di mobil kak, lagi otw ke jawa, duh macet”
“hoo.. mudik kemana?”
“ke pasuruan kak.”
“oh.. disana oleh-olehnya apa ya? Saya titip oleh2 yak. Haha”
“hm.. ada sih kak, paling kerupuk2 gitu doank. Hehe. Boleh, insyaAllah, nanti gimana ngasihnya kak?”
“hoo.. nanti kita ketemu aja, di kampus saya atau kampus Ani.”
“eh.. jangan ya kak, nanti saya titip aja dimana gitu..”
“eh iya deh.. maaf ya, nanti kita liat lagi gimana caranya”
“sip deh kak.. eh iya kak, udahan dulu yak, ada yang mau dikerjain. Assalamualaikum”
“walaikumsalam”
Ya Robb, bukannya tidak mau bertemu dengannya, tapi sepertinya pertemuan khusus berdua itu, masih agak janggal bagiku. Dan akupun berniat, aku akan membeli oleh-oleh untuk kakak itu.

Kenanganku pun kembali berputar, sembari keluar dari kamar, akupun mengingat kembali saat ia pertama kali bekerja di sebuah anak perusahaan BUMN. Perusahaan yang cukup besar kurasa. Akupun senang saat tahu bahwa tak sampai 3 bulan ia menganggur dan berhasil mendapat pekerjaan yang sesuai dengan background pendidikannya.
“Selamat kak. Sukses selalu :) ”, sekilas pesan itu pun tertulis di dinding facebooknya, dan ia hanya membalas dengan senyuman dan ucapan terima kasih. Dan kurasa sejak itu kami pun jarang berinteraksi. Sekedar menyapa lewat facebook, ataupun terkadang lewat SMS.

Kini dia mengirim SMS untuk sebuah permintaan yang sesungguhnya berat bagiku. Ah, kenapa, tak ada alasan kuat aku menolaknya. Ia ikhwan yang baik, tokoh di kampusnya, dengan beragam prestasi yang terbilang ‘wow’. Tapi.. bismillah. Akupun membalas sms-nya.
“saya istikhoroh dulu ya kak, saya mesti nanya bapak, ibu, dan Mbak Liqo dulu”
“Oke, saya tunggu ya.”
Dan akupun meminta petunjuk padaNya. Semoga yang terbaik.

*bersambung