Perjalanan ke luar kota memberikan saya banyak pengalaman baru yang menyenangkan. Sesuatu yang seringkali tak dijumpai di wilayah domisili saya berada, dalam hal ini Jakarta dan Bekasi. Dimana sajian kedua kota itu sekarang tidak jauh-jauh dari kemacetan dan kepenatan. Fiuh..
Tapi berbeda dengan keadaan di luar sana. Di kota-kota yang jauh dari wilayah Jabodetabek. Di sana semuanya berjalan damai, tak ada huru-hara di pagi hari demi menghindari kemacetan karena kondisi jalan yang relatif lengang, tak ada wajah-wajah penuh noda karena polusi belum mencemari udara sekitar. Semuanya berjalan teratur dan penuh harmoni. Keadaan yang saya rindukan terutama saat bertandang ke sebuah kota, kota Malang.
Malang kota yang indah dan penuh pesona. Kota yang dirancang dengan beragam keunikan, bangunan bangunannya yang artistik, dan wisata-wisatanya yang menarik. Kota yang tepat untuk beristirahat dan menghabiskan masa tua karena irama kehidupannya yang selaras dengan alam. Sungguh damai.
Kesan itulah yang benar-benar saya tangkap kala pesawat saya berlabuh di bandara Abdurrahman Saleh dua tahun lalu, bandara yang menjaga kesederhanaannya dan tak terlampau peduli akan gegap gempita modernitas. Sayapun beranjak meninggalkan bandara yang berada di kompleks angkatan udara menuju penginapan. Teringat jelas kala melintasi jalan-jalan kota malang, kesan bersahabat yang berpadu indah antara manusia dan alam.
Kesan sentimentil kini datang lagi saat hari ini saya menyempatkan singgah kembali ke kota ini. Teringat ketika dulu sempat bertemu dengan Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan selepas mereka berlatih bersama Persema Malang. Sebuah pertemuan di lobi Hotel Regent yang tak diduga. Lalu saat aura kota Malang yang mistis dan dingin mulai menampakkan wujudnya membuat saya merasa dibayangi oleh sebentuk makhluk halus yang sepertinya telah lama mendiami kamar hotel nomor 243.
Banyak hal yang menjadikan Malang penuh kenangan. Terlebih lagi sekarang, ketika kali kedua saya bertandang kembali ke kota ini. Yang sepertinya akan meninggalkan kenangan cukup berkesan.
Sampai jumpa di sana..
Showing posts with label ayah. Show all posts
Showing posts with label ayah. Show all posts
Friday, 22 February 2013
Tuesday, 22 January 2013
The Good Old Time
Konsol game pertama yang saya miliki adalah nintendo atau lebih dikenal dengan nama NES 16 bit (Nintendo Entertainment System). Perkenalan awal saya dengan NES adalah saat saya melihat teman se-TK memainkan game super mario bros dengan asyiknya. wuih.. jadi kepengen main juga, sayapun diajaknya bermain dan seketika itu pula saya langsung jatuh hati pada konsol game ini. Love at the first sight.hehe
Kisahpun berlanjut, dengan merengek dan memohon pada ayah, serta berjanji untuk mendapatkan nilai raport yang bagus di tahun itu, sayapun berhasil meyakinkan ayah untuk membeli konsol game NES. Yess. Sepertinya masa kecil yang penuh imajinasi telah dimulai.hehe Benar saja, game-game itu membawa perubahan berarti bagi saya. Bocah lelaki berumur 6 tahun dengan dunianya yang berkisar antara sekolah, lapangan bermain, dan rumah, diajak menjelajah ke dunia yang penuh petualangan.
Suatu waktu saya berperan sebagai seorang tukang pipa, dan suatu kali berperan menjadi tentara elit pemberantas alien. Walau si tukang pipa tak selalu berhasil menyelamatkan sang putri, walau si tentara tak kunjung berhasil membasmi alien. Ah sungguh menyenangkan, ternyata dunia tidak hanya sekedar permainan petak umpet, kelereng, atau galasin. hehe.
Tapi memang, tidak dipungkiri, permainan petak umpet, galasin, dan kelereng turut melatih kemampuan saya bersosialisasi, berempati, dan belajar bekerja sama. Semua hal yang mungkin kurang didapatkan dari konsol game. Namun, melalui game konsol inilah saya diajak bermimpi, berpetualang untuk menyelesaikan suatu tugas apalagi saat memainkan game petualangan. Alangkah gembiranya saat berhasil menamatkan sebuah misi. Ada kebanggaan tersendiri, Ternyata saya bisa loh.
Dan kini saat usia beranjak dewasa, sayapun masih bermimpi untuk dapat berpetualang seperti di dalam game yang saya mainkan. Membawa lagi keasyikan dan keseruan di dalamnya. Menjelajah tempat yang asing dengan berbagai tantangan yang tak terduga. Menyelesaikan suatu misi dengan beragam teka tekinya. Ah nampaknya sensasi berpetualang yang sebenarnya saya cari.
Berpetualang di dunia yang tak hanya berada di dalam TV dan konsol game. Mencari keseruan hidup dan menciptakan ragam warna di dalamnya. Berpergian dan merencanakan sendiri petualangan yang saya inginkan. Mungkin hidup tak semeriah dan seseru game konsol, tapi setidaknya saya bisa membumbuinya dengan sedikit aroma keceriaan dan beberapa tetes pedasnya tantangan. Mari sejenak keluar dari penatnya rutinitas dan resapi aneka rasa kehidupan.
*saatnya cuti dan merencanakan liburan
Kisahpun berlanjut, dengan merengek dan memohon pada ayah, serta berjanji untuk mendapatkan nilai raport yang bagus di tahun itu, sayapun berhasil meyakinkan ayah untuk membeli konsol game NES. Yess. Sepertinya masa kecil yang penuh imajinasi telah dimulai.hehe Benar saja, game-game itu membawa perubahan berarti bagi saya. Bocah lelaki berumur 6 tahun dengan dunianya yang berkisar antara sekolah, lapangan bermain, dan rumah, diajak menjelajah ke dunia yang penuh petualangan.
Suatu waktu saya berperan sebagai seorang tukang pipa, dan suatu kali berperan menjadi tentara elit pemberantas alien. Walau si tukang pipa tak selalu berhasil menyelamatkan sang putri, walau si tentara tak kunjung berhasil membasmi alien. Ah sungguh menyenangkan, ternyata dunia tidak hanya sekedar permainan petak umpet, kelereng, atau galasin. hehe.
Tapi memang, tidak dipungkiri, permainan petak umpet, galasin, dan kelereng turut melatih kemampuan saya bersosialisasi, berempati, dan belajar bekerja sama. Semua hal yang mungkin kurang didapatkan dari konsol game. Namun, melalui game konsol inilah saya diajak bermimpi, berpetualang untuk menyelesaikan suatu tugas apalagi saat memainkan game petualangan. Alangkah gembiranya saat berhasil menamatkan sebuah misi. Ada kebanggaan tersendiri, Ternyata saya bisa loh.
Dan kini saat usia beranjak dewasa, sayapun masih bermimpi untuk dapat berpetualang seperti di dalam game yang saya mainkan. Membawa lagi keasyikan dan keseruan di dalamnya. Menjelajah tempat yang asing dengan berbagai tantangan yang tak terduga. Menyelesaikan suatu misi dengan beragam teka tekinya. Ah nampaknya sensasi berpetualang yang sebenarnya saya cari.
Berpetualang di dunia yang tak hanya berada di dalam TV dan konsol game. Mencari keseruan hidup dan menciptakan ragam warna di dalamnya. Berpergian dan merencanakan sendiri petualangan yang saya inginkan. Mungkin hidup tak semeriah dan seseru game konsol, tapi setidaknya saya bisa membumbuinya dengan sedikit aroma keceriaan dan beberapa tetes pedasnya tantangan. Mari sejenak keluar dari penatnya rutinitas dan resapi aneka rasa kehidupan.
*saatnya cuti dan merencanakan liburan
Friday, 11 January 2013
Si Bungsu
Sembilan belas tahun lalu, pagi hari di bulan januari. Kala
itu saya ingat persis, saya baru saja selesai sholat shubuh, dan itu di jam enam
pagi. :p . Maklum, anak SD kelas 1 yang baru belajar sholat, masih tahap
penyesuaian (banyak alesan). Selesai tahiyat terakhir, saya pun mendengar
sayup-sayup suara ibu yang meringis, memegang perutnya yang membesar.
“duh..sakit pa”, Ayahku dengan sigap menyadari kondisi ini, istrinya akan
segera melahirkan anak ketiganya.
Dengan segera, ayah membawa ibu ke bidan terdekat, saat itu,
syukur Alhamdulillah, jarak klinik bidan ke rumah kami sangat dekat, hanyak
berjarak tidak lebih dari seratus meter, dekat sekali ya. Dan sayapun hanya
melongo menyaksikan ibu yang menahan sakit, dan ayah yang membereskan perlengkapan
melahirkan, padahal saat itu saya sedang ujian caturwulan (cawu) dua (dulu
cawu, belum semester). Akhirnya, dengan merengek ingin menemani ibu, ayahpun
meminta izin kepada wali kelas, agar saya dapat mengikuti ujian susulan
beberapa hari lagi. Dan wali kelas sayapun menyetujui. Horay..
Bersama ayah dan adik, saya menunggu di sebuah rumah kecil
tipe 36 yang disulap menjadi klinik bidan. Ruang tamu depan dirancang ulang
menjadi ruang tunggu dan kamar-kamarnya menjadi bilik bagi pasien. Lama kami
menanti, sejak pagi hari sampai menjelang sore. Kondisi ibu pun masih sama, di bilik
pasien dengan suara nafasnya yang menggebu, sesekali terdengar suara si bidan
yang meminta ibu menarik dan membuang nafas secara teratur.
Pukul tiga atau empat sore (saya agak lupa) di hari rabu, tangisan bayi
yang keras membuat kami berucap syukur, terutama ayah yang sedari tadi nampak
khawatir dengan kondisi ibu yang telah lama berada di bilik pasieen. Akhirnya
ia lahir, bayi laki-laki dengan tatapan matanya yang bulat dan tajam. Dengan
segera ayah mengambilnya dari tangan bidan dan mengadzankannya. Si adik
laki-laki telah lahir.
--
Satu hal yang paling saya ingat tentang dirinya saat masih
balita, terlalu nempel dengan ibu.
Hehe. Iya betul, kemana saja ibu pergi, pasti dia selalu ikut, bahkan hingga
menjelang SMP, tapi ah itu bagian kecil dari kelucuan dan kenangan yang
tersimpan tentang dirinya. Saya ingat juga sedari bayi, selalu mencubit
pipi gembulnya yang lambat laun makin menyusut, ternyata ia memiliki bakat
kurus seperti ayah. Huhu.
Jenjang akademis sejak TK,
SD hingga SMA dilaluinya di
Bekasi. Dan dengan gayanya yang santai dan easy
going membuatnya agak berbeda dengan abang serta kakaknya. Ia tak terlalu
keras dalam belajar, tapi tak terlampau santai juga, tengah-tengah saja. Maka
tak heran prestasi akademiknya pun biasa-biasa saja. Sedikit pengecualian
ketika SMP yang terbilang sukses, termasuk salah satu siswa dengan Nilai ujian
terbaik di SMP.
Ia orang yang supel dan gampang bergaul, emosinya pun tak
terlalu meledak ketika marah, dan tak terlampau frustasi ketika sedih. Maka
ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa ia dan adik sepupu saya yang seusia
dengannya tidak lulus di SMA Negeri, kondisi mentalnya sedikit jatuh. Saat itu
kebijakan dinas pendidikan kota
Bekasi, mensyaratkan bahwa ujian masuk SMA dilakukan dengan tes dan hanya satu
pilihan. Bila gagal dalam tes, maka dengan sangat terpaksa, harus mencari SMA
lain (Baca: SMA Swasta).
Maka dengan nilai Ujian nasional yang sangat bagus dan
keyakinan dalam mengerjakan ujian masuk SMA, ia pun optimis menembus SMA Negeri
yang gradenya pun biasa saja. Tapi takdir berbicara lain, ia dan saudara
sepupunya gagal menembus SMA Negeri dan dengan berbesar hati harus meneruskan
pendidikan di SMA Swasta.
--
Saya bertekad dan selalu mencamkan pada dirinya bahwa “lu
boleh di SMA swasta yang baru berdiri 3 tahun, yang masih dipandang sebelah
mata, tapi lu harus bisa buktikan kepada mereka, kepada orang-orang, bahwa lu
bisa nembus PTN kayak abang dan kakak lu, buat mereka takjub, dan kalo lu bisa
tembus di PTN, wuih.. lu lebih hebat dari abang dan kakak lu yang dari SMA
Negeri.”
Motivasi itu terkadang hanya bertahan beberapa lama, setelah
itu seringkali menghilang, Tak mudah memang karena lingkungan di sekolah pun
sama sekali tidak mendukung. Anak-anaknya yang malas, sering membolos, dan
tanpa motivasi, satu kelas pun tidak sampai 20 orang. Tapi Alhamdulillah
sedikit demi sedikit kami sekeluarga dapat meyakinkannya bahwa ia bisa, dan
InsyaAllah bisa. Kami pun bertekad bahwa membuatnya menembus PTN adalah proyek
keluarga.
Menjelang akhir tahun ajaran di kelas tiga, ia pun mulai
memilih kemana ia akan meneruskan studi. Dengan perhitungan dan persiapan yang
matang, ia pun memilih salah satu fakultas di Universitas negeri di bandung. Gradenya lumayan
tinggi, tapi sepertinya masih terkejar, walau dari hasil Try Out baru sekali
atau dua kali dia dapat menembus nilai fakultas itu. Ah.. bismillah, insyaAllah
kalau Allah menghendaki semuanya mungkin.
Beberapa bulan kemudian setelah Tes SNMPTN yang lumayan
sulit dan dengan kebijakannya yang aneh (kuota hanya 30 %) ia yakin sudah
memberikan usaha yang terbaik, kini saatnya bertawakal dengan hasilnya. Saat
itu bulan juni 2011, dan ia harap-harap cemas menunggu hasil. Karena sejauh ini
ia belum ada cadangan untuk melanjutkan kuliah. Pukul enam sore, dibukanya
situs SNMPTN, dan ternyata belum ada. Baik, mungkin nanti setelah sholat
maghrib.
Setelah sholat maghrib, iapun kembali membuka internet
dengan disaksikan oleh seluruh anggota keluarga. Sebuah momen yang tak
terlupakan, sebuah proyek bersama dari kami sekeluarga. Dan akhirnya di layar
monitor pun tertulis.
“selamat anda diterima di Fakultas Hukum”
Sontak kami sekeluarga berucap syukur, Alhamdulillah, semoga
ini yang terbaik baginya dan bagi kami sekeluarga.
--
Ia kini duduk di semester tiga bersama dengan saudara
sepupunya yang juga lulus di fakultas dan universitas yang sama (Alhamdulillah),
IPK nya lumayan bagus (setidaknya lebih baik dari saya. Hehe), dan aktivitasnya
pun beragam dari aktivitas di asrama pembinaan hingga Lingkar studi
keilmuannya.
Sungguh sebuah pencapaian yang manis.
Semoga lancar disana dik, beri yang terbaik bagi lingkungan
dan orang-orang sekitarmu..
Wednesday, 9 January 2013
Tentang Rokok
"Rokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin" - Pemerintah
Ya ya, peringatan itu sudah seringkali kita baca di tiap bungkus rokok di negeri ini, dan nampaknya gak terlalu ngaruh ya. Industri rokok makin berkembang yang menyebabkan pasarnya pun makin meluas. Tidak hanya menjangkau orang dewasa, kinipun anak kecil, bocah-bocah SD dan SMP itu sesekali terlihat membakar puntung rokok dengan asyiknya di sudut-sudut jalan. aih..
Saya bukan perokok walau tak memungkiri pernah juga ngerokok. :p , ah tapi itu dulu pas SD (eh apa SMP ya? lupa), itupun gak sampai sekali hisap saya sudah batuk tidak karuan. ah gak lagi-lagi deh. Teman-teman sayapun sampai mengatakan "ah cemen lo gar, cupu deh gitu doank batuk-batuk". Ya ya, apa kata kalian deh.
"ya walau batuk-batuk dan gak berhasil dibujuk temen buat ngerokok tapi keluarga lo ngelarang juga kan?," Eh tapi serius deh, kalau dikatakan saya tidak merokok sampai sekarang karena lingkungan yang tidak merokok, itupun salah juga. Karena dari keluarga bapak dan keluarga ibu,semuanya perokok (untuk yang laki-laki dan sepertinya saya anomali dalam keluarga. hehe.)
Saya bukan perokok dan tahu persis bagaimana lingkungan pendidikan serta pergaulan mengajarkan saya tentang rokok, saya paham betul akan hal itu. Sejak SMA ikut rohis, di rumah sesekali mengikuti taklim dari saudara-saudara kita yang salafi, dan ketika di kampus bergabung dengan teman-teman halaqoh, saya tahu persis akan hal itu. Yang intinya mengatakan bahwa rokok itu haram. Ya tapi mau bagaimana lagi, ayah sayapun merokok dan masa iya di depan beliau bilang begini. "Pak, Rokok itu haram, nanti bapak masuk neraka" kualat saya nanti.
Suatu kali saya pernah bertanya pada ayah,
"Pa, kenapa kok masih ngerokok, bukannya udah jelas ya peringatannya?".
Untungnya, alhamdulillah saya diberikan ayah yang demokratis dan terbuka, mendengar pertanyaan itu tidak serta merta marah dan menganggap anaknya kurang ajar, beliau pun menjawab dengan santai.
"karena memang pengen aja". Sebuah jawaban yang unik, emang pengen aja.
"Jadi papa bisa berhenti ngerokok langsung dan gak kecanduan?",
"iya, bisa berhenti langsung dan gak kecanduan, papa juga ngerokok gak sampai dimasukin ke paru-paru, sampai kerongkongan aja"
"lah emang bisa?"
"bisa donk"
Dan saya pun malas untuk bertanya lebih lanjut.
Saya bukan perokok dan tidak sampai menghukumi bahwa merokok itu haram. Karena berdasarkan observasi pada ayah dan beberapa saudara, saya mengambil kesimpulan, Rokok haram kala si orang itu udah sakit, batuk-batuk, tapi tetap merokok. Rokok haram kala dihisap di tempat umum dan mengganggu orang lain. Rokok haram kala si orang itu lebih mementingkan rokok dari uang sekolah anaknya dan kebutuhan sehari-hari keluarganya.
Dan semoga ayah sehat selalu. Aamiin..
Ya ya, peringatan itu sudah seringkali kita baca di tiap bungkus rokok di negeri ini, dan nampaknya gak terlalu ngaruh ya. Industri rokok makin berkembang yang menyebabkan pasarnya pun makin meluas. Tidak hanya menjangkau orang dewasa, kinipun anak kecil, bocah-bocah SD dan SMP itu sesekali terlihat membakar puntung rokok dengan asyiknya di sudut-sudut jalan. aih..
Saya bukan perokok walau tak memungkiri pernah juga ngerokok. :p , ah tapi itu dulu pas SD (eh apa SMP ya? lupa), itupun gak sampai sekali hisap saya sudah batuk tidak karuan. ah gak lagi-lagi deh. Teman-teman sayapun sampai mengatakan "ah cemen lo gar, cupu deh gitu doank batuk-batuk". Ya ya, apa kata kalian deh.
"ya walau batuk-batuk dan gak berhasil dibujuk temen buat ngerokok tapi keluarga lo ngelarang juga kan?," Eh tapi serius deh, kalau dikatakan saya tidak merokok sampai sekarang karena lingkungan yang tidak merokok, itupun salah juga. Karena dari keluarga bapak dan keluarga ibu,semuanya perokok (untuk yang laki-laki dan sepertinya saya anomali dalam keluarga. hehe.)
Saya bukan perokok dan tahu persis bagaimana lingkungan pendidikan serta pergaulan mengajarkan saya tentang rokok, saya paham betul akan hal itu. Sejak SMA ikut rohis, di rumah sesekali mengikuti taklim dari saudara-saudara kita yang salafi, dan ketika di kampus bergabung dengan teman-teman halaqoh, saya tahu persis akan hal itu. Yang intinya mengatakan bahwa rokok itu haram. Ya tapi mau bagaimana lagi, ayah sayapun merokok dan masa iya di depan beliau bilang begini. "Pak, Rokok itu haram, nanti bapak masuk neraka" kualat saya nanti.
Suatu kali saya pernah bertanya pada ayah,
"Pa, kenapa kok masih ngerokok, bukannya udah jelas ya peringatannya?".
Untungnya, alhamdulillah saya diberikan ayah yang demokratis dan terbuka, mendengar pertanyaan itu tidak serta merta marah dan menganggap anaknya kurang ajar, beliau pun menjawab dengan santai.
"karena memang pengen aja". Sebuah jawaban yang unik, emang pengen aja.
"Jadi papa bisa berhenti ngerokok langsung dan gak kecanduan?",
"iya, bisa berhenti langsung dan gak kecanduan, papa juga ngerokok gak sampai dimasukin ke paru-paru, sampai kerongkongan aja"
"lah emang bisa?"
"bisa donk"
Dan saya pun malas untuk bertanya lebih lanjut.
Saya bukan perokok dan tidak sampai menghukumi bahwa merokok itu haram. Karena berdasarkan observasi pada ayah dan beberapa saudara, saya mengambil kesimpulan, Rokok haram kala si orang itu udah sakit, batuk-batuk, tapi tetap merokok. Rokok haram kala dihisap di tempat umum dan mengganggu orang lain. Rokok haram kala si orang itu lebih mementingkan rokok dari uang sekolah anaknya dan kebutuhan sehari-hari keluarganya.
Dan semoga ayah sehat selalu. Aamiin..
Subscribe to:
Posts (Atom)


