Selalu ada kesempatan tuk berharap. Karena hanya lewat harapan, tiap orang memiliki kesempatan mengais mimpi yang seringkali timbul dalam angan. Seperti saat seorang pengamen jalanan yang bermimpi menjadi seorang penyanyi profesional. Selalu ada harap ditiap usahanya, bahwa suatu saat bisa saja nasib baik berpihak padanya.
Hingga pengalamannya naik-turun angkot, bus kota, dan kereta tidak sia-sia karena tiap kesempatan mengamen adalah ajang unjuk gigi penampilan dan performanya di depan khalayak penumpang. Sampai suatu saat ajang pencarian bakat menjadi titik balik dalam hidupnya dan memang harapan kan selalu ada. Ia mendapat kemenangan berkat hasil usaha dan tentunya kegigihan dalam berharap.
Tapi memang, harapan dan kenyataan tak selalu berbanding lurus. Kadang kala semuanya berjalan mulus hingga tiap harapan yang terselip dalam mimpi dan doa berbuah manis, harapan itu terwujud. Namun tak sedikit pula yang harus merelakan dan mengikhlaskan diri saat harap yang diinginkan tak terwujud sempurna dalam kenyataan. Ternyata tiap usaha, tiap peluh yang keluar dalam usahanya menggapi mimpi tak tergapai indah.
Sebagian orang ada yang merelakan mimpinya pergi melayang, menyerah pada kondisi yang tak memihak dan menganggapnya sebagai nasib buruk. Harapannya putus, seolah tak tahu lagi bahwa terbentang banyak harap di tiap kesempatan yang datang. Lain hal dengan sebagian yang lain, dimana mereka menginsyafi bahwa selalu ada harap di tiap kondisi.
Karena harapan kan selalu ada, karena harapan tak mengenal kata menyerah. Harapan tertinggi yang sempurna atas segala jerih payah yang selama ini tak kunjung menuai hasil. Jika memang satu harap tak terwujud, masih ada harap yang lain, jika belum juga, harap itu masih ada, terus berharap sampai tak terhitung jumlahnya. Hingga nantinya, konsistensi berjuang dalam tiap harapan mencapai titik tertinggi, penilaian yang sempurna dari Tuhan semesta alam. Harapan di atas harapan.
Showing posts with label perjuangan. Show all posts
Showing posts with label perjuangan. Show all posts
Thursday, 4 April 2013
Tuesday, 12 March 2013
Berani Jujur Hebat
Tiap orang pasti punya masa-masa kelam saat sekolah dulu, termasuk saya. Saya yang dulu bisa dibilang berprestasi ketika SD dan SMP pernah sesekali mencontek dan itu menjadi buah penyesalan yang tak kunjung hilang bahkan hingga kini. Tapi penyesalan tinggal penyesalan, maka selepas SD, sayapun tak pernah lagi mencontek, walau sekedar melihat rumus-rumus dari buku yang diselipkan dibawah meja atau melirik mencari jawaban dari teman semeja. Mencontek bagaikan cacat yang takkan hilang dari pikiran meski sudah lama berlalu.
Mencontek itu ibarat debu yang menempel di sebuah cermin yang bersih dan cemerlang. Awalnya mungkin tak terlihat dan tak berpengaruh banyak pada si cermin, tapi semakin lama bila debu itu tak dibersihkan dan dibiarkan menumpuk banyak, maka cermin yang tadinya mampu merefleksikan benda yang dihadapkan padanya dengan baik, ternyata menjadi buram dan tak elok lagi tuk digunakan. Mungkin awalnya tak terasa, tapi karena dibiarkan menumpuk, semakin lama membuat buram mata hati. Hingga perilaku mencontek akan menjadi kebiasaan dan menganggap bahwa mencontek itu hal yang wajar.
Tapi ya, tentunya akan ada banyak alasan dibalik tindakan mencontek, bahkan mungkin ada yang menganggap terlalu serius jika memvonis orang-orang yang mencontek, anak-anak kecil itu, tak menjunjung nilai kejujuran. Menganggap bahwa tindakan mencontek mereka sekedar menyelamatkan diri dari omelan orang tua, dan cemoohan teman sekelas. Karena biasanya mencontek ada dan terjadi saat munculnya kesempatan dan dalam kondisi yang kepepet.
Sehingga tak heran sayapun sempat kecewa saat memergoki salah seorang kawan saya yang berprestasi, selalu juara kelas, tiba-tiba mencontek. Pura-pura melihat kebawah meja padahal disana ada buku yang terselip. Sungguh kecewa saya dibuatnya, orang yang awalnya saya kagumi ternyata bisa juga mencontek karena sebab kepepet dan terpaksa, menyelamatkan diri dan reputasinya agar tak turun dimata teman dan guru-guru.
Jadi memang awalnya mungkin bila belum terbiasa akan terasa sebuah rasa penyesalan di dada dan merasa was-was serta khawatir bila ketahuan mencontek. Tapi jika dibiarkan terus berlanjut, akan terasa bahwa mencontek itu asyik. Tak butuh usaha, cukup bermodal kemampuan melirik dan berpura-pura saja, dan simsalabim, nilaipun sempurna.
Tapi memang tidak mencontek itu tidaklah mudah. Harus siap belajar serta memahami mata pelajaran dengan baik. Jika tidak, maka bersiaplah merasakan nilai yang buruk, omelan orang tua, dan ejekan teman-teman. Namun yang namanya kejujuran pasti berbuah manis, jika anda tidak terbiasa mencontek sejak kecil, niscaya nasib anda kelak setidaknya akan baik-baik saja dan tenang selalu. Tidak ada kemungkinan menjadi koruptor, tukang selingkuh, dan tukang fitnah, hidup anda akan damai dan penuh keberkahan.
Karena jujur itu hebat.
Mencontek itu ibarat debu yang menempel di sebuah cermin yang bersih dan cemerlang. Awalnya mungkin tak terlihat dan tak berpengaruh banyak pada si cermin, tapi semakin lama bila debu itu tak dibersihkan dan dibiarkan menumpuk banyak, maka cermin yang tadinya mampu merefleksikan benda yang dihadapkan padanya dengan baik, ternyata menjadi buram dan tak elok lagi tuk digunakan. Mungkin awalnya tak terasa, tapi karena dibiarkan menumpuk, semakin lama membuat buram mata hati. Hingga perilaku mencontek akan menjadi kebiasaan dan menganggap bahwa mencontek itu hal yang wajar.
Tapi ya, tentunya akan ada banyak alasan dibalik tindakan mencontek, bahkan mungkin ada yang menganggap terlalu serius jika memvonis orang-orang yang mencontek, anak-anak kecil itu, tak menjunjung nilai kejujuran. Menganggap bahwa tindakan mencontek mereka sekedar menyelamatkan diri dari omelan orang tua, dan cemoohan teman sekelas. Karena biasanya mencontek ada dan terjadi saat munculnya kesempatan dan dalam kondisi yang kepepet.
Sehingga tak heran sayapun sempat kecewa saat memergoki salah seorang kawan saya yang berprestasi, selalu juara kelas, tiba-tiba mencontek. Pura-pura melihat kebawah meja padahal disana ada buku yang terselip. Sungguh kecewa saya dibuatnya, orang yang awalnya saya kagumi ternyata bisa juga mencontek karena sebab kepepet dan terpaksa, menyelamatkan diri dan reputasinya agar tak turun dimata teman dan guru-guru.
Jadi memang awalnya mungkin bila belum terbiasa akan terasa sebuah rasa penyesalan di dada dan merasa was-was serta khawatir bila ketahuan mencontek. Tapi jika dibiarkan terus berlanjut, akan terasa bahwa mencontek itu asyik. Tak butuh usaha, cukup bermodal kemampuan melirik dan berpura-pura saja, dan simsalabim, nilaipun sempurna.
Tapi memang tidak mencontek itu tidaklah mudah. Harus siap belajar serta memahami mata pelajaran dengan baik. Jika tidak, maka bersiaplah merasakan nilai yang buruk, omelan orang tua, dan ejekan teman-teman. Namun yang namanya kejujuran pasti berbuah manis, jika anda tidak terbiasa mencontek sejak kecil, niscaya nasib anda kelak setidaknya akan baik-baik saja dan tenang selalu. Tidak ada kemungkinan menjadi koruptor, tukang selingkuh, dan tukang fitnah, hidup anda akan damai dan penuh keberkahan.
Karena jujur itu hebat.
Friday, 8 March 2013
Generasi Anti Galau
Tiap zaman memiliki ceritanya masing-masing yang mungkin tak lagi bisa didapatkan di kemudian hari. Ketika dulu saat dimana usia saya beranjak 5 tahun, dunia hiburan anak-anak tidak kehabisan stock barang yang dapat dijual kepada konsumen mereka, bocah-bocah yang masih lugu dan lucu. Penyanyi-penyanyi seperti Bondan Prakoso, Enno Lerian, Ria Enes & Susan, dan lain sebagainya merupakan pengisi waktu luang dan masa kecil yang pas dipasangkan dengan anak-anak yang hidup dalam dunia keceriaan, kesenangan, riang gembira dan pastinya sesuai dengan masa tumbuh kembangnya.
Banyak yang lupa bahwa masa keemasan seorang anak berada di kisaran usia 0-5 tahun. Saat dimana kemampuan otak anak dalam menyerap informasi sangatlah tinggi. Semua jenis informasi dapat dengan mudah terserap, otak mereka sedang berkembang menuntut adanya asupan gizi berupa kualitas pengetahuan yang berharga. Maka begitu pentingnya peran orang tua di masa ini untuk memastikan bahwa hal yang baik lah yang diserap oleh anak-anak mereka. Sehingga bisa saja kualitas seorang anak nantinya di masa depan sedikit banyak bergantung dari bagaimana masa-masa golden age ini diisi. Tapi kini nampaknya banyak orang tua yang tak terlalu mempedulikan masa-masa keemasan ini hingga terkadang lalai membiarkan buah hatinya menyerap informasi yang justru lambat laun mempengaruhi karakternya kelak.
Jika masa itu diisi dengan pengalaman moral berharga, dialog kekeluargaan yang hangat, penanaman nilai-nilai prinsipil yang penting maka jadilah mereka, anak-anak itu nantinya, seorang yang kuat karakternya, tajam pemikirannya, dan lembut hatinya. Hingga tak heran jika kelak mereka tumbuh berkembang sebagai seorang manusia yang sholih dan mensholihkan lingkungannya, seorang manusia yang hebat dan menghebatkan manusia lainnya.
Jadi sangatlah miris melihat kini masa-masa keemasan itu diisi dengan informasi dan tayangan hiburan yang jauh dari nilai-nilai luhur dan kuat. Hiburan yang tak lagi membicarakan masalah keceriaan hari, aktivitas membantu teman-teman, mengenal lingkungan sekitar serta budayanya seperti lagu-lagu Enno Lerian, Bondan Prakoso, dan Trio Kwek-kwek. Tapi justru penuh dengan kegelisahan, percintaan yang tak kunjung ada habisnya, kesenduan ditinggal kekasih, dan berbagai hiburan yang tak lain belum cocok dalam masa tumbuh kembang mereka. Saat dimana mereka lebih membutuhkan fondasi yang kuat macam nilai-nilai moral dan karakter yang kuat dibandingkan membiarkan mereka terbangun dari fondasi yang lemah macam lagu-lagu galau dan sendu.
Dunia, dan kehidupan dimasa mendatang tak membutuhkan calon-calon pemimpin dan penerus yang cengeng dan kerap meratapi nasib. Hidup makin keras dan siapkan calon penerus kita untuk siap menghadapinya. Bangun karakter yang kuat dan hebat pada diri-diri mereka, hingga nantinya mereka siap menaklukan dunia.
Banyak yang lupa bahwa masa keemasan seorang anak berada di kisaran usia 0-5 tahun. Saat dimana kemampuan otak anak dalam menyerap informasi sangatlah tinggi. Semua jenis informasi dapat dengan mudah terserap, otak mereka sedang berkembang menuntut adanya asupan gizi berupa kualitas pengetahuan yang berharga. Maka begitu pentingnya peran orang tua di masa ini untuk memastikan bahwa hal yang baik lah yang diserap oleh anak-anak mereka. Sehingga bisa saja kualitas seorang anak nantinya di masa depan sedikit banyak bergantung dari bagaimana masa-masa golden age ini diisi. Tapi kini nampaknya banyak orang tua yang tak terlalu mempedulikan masa-masa keemasan ini hingga terkadang lalai membiarkan buah hatinya menyerap informasi yang justru lambat laun mempengaruhi karakternya kelak.
Jika masa itu diisi dengan pengalaman moral berharga, dialog kekeluargaan yang hangat, penanaman nilai-nilai prinsipil yang penting maka jadilah mereka, anak-anak itu nantinya, seorang yang kuat karakternya, tajam pemikirannya, dan lembut hatinya. Hingga tak heran jika kelak mereka tumbuh berkembang sebagai seorang manusia yang sholih dan mensholihkan lingkungannya, seorang manusia yang hebat dan menghebatkan manusia lainnya.
Jadi sangatlah miris melihat kini masa-masa keemasan itu diisi dengan informasi dan tayangan hiburan yang jauh dari nilai-nilai luhur dan kuat. Hiburan yang tak lagi membicarakan masalah keceriaan hari, aktivitas membantu teman-teman, mengenal lingkungan sekitar serta budayanya seperti lagu-lagu Enno Lerian, Bondan Prakoso, dan Trio Kwek-kwek. Tapi justru penuh dengan kegelisahan, percintaan yang tak kunjung ada habisnya, kesenduan ditinggal kekasih, dan berbagai hiburan yang tak lain belum cocok dalam masa tumbuh kembang mereka. Saat dimana mereka lebih membutuhkan fondasi yang kuat macam nilai-nilai moral dan karakter yang kuat dibandingkan membiarkan mereka terbangun dari fondasi yang lemah macam lagu-lagu galau dan sendu.
Dunia, dan kehidupan dimasa mendatang tak membutuhkan calon-calon pemimpin dan penerus yang cengeng dan kerap meratapi nasib. Hidup makin keras dan siapkan calon penerus kita untuk siap menghadapinya. Bangun karakter yang kuat dan hebat pada diri-diri mereka, hingga nantinya mereka siap menaklukan dunia.
Wednesday, 6 March 2013
Antara Tahta dan Popularitas
Ada pepatah Arab kuno yang mengatakan bahwa, jika kalian ingin terkenal, kencingi sumur zam-zam, niscaya kalian akan masyhur seantero Jazirah Arab. Bukan saja populer di tanah Arab, anda bahkan dikenal oleh orang-orang di penjuru dunia, dimana ternyata ada orang yang berani mengencingi sumur zam-zam yang disucikan umat muslim, sesuatu yang tak lazim, nekat, dan pastinya baru pertama kali terjadi.
Itu kalau berbicara mengenai ke-terkenal-an semata, sesuatu yang memang mudah dilakukan asal memiliki nyali yang besar. Tapi tentunya bukan terkenal seperti itu yang anda inginkan. Karena menjadi populer dengan cara seperti itu tak lain cuma memberikan anda kesengsaraan walau mungkin nama dan wajah anda terpampang manis di media massa.
Maka cara aman, lazim dan umum (seperti menjadi artis, memiliki prestasi dll) untuk menjadi terkenal adalah satu-satunya jalan jika anda ingin menikmati berbagai keuntungan atas kepopuleran anda. Wajah yang kerap menghiasi laman surat kabar dan citra yang terus disorot lewat layar kaca. Sesuatu yang dilakukan bukan dengan cara ekstrim yang bertentangan dengan aturan dan norma yang berlaku.
Selanjutnya saat anda telah menjadi populer dengan cara aman maka kini tergantung anda mengarahkannya. Jika sekedar mengisi rubrik di dalam surat kabar itu biasa dan sangat mudah. Tapi cobalah untuk berfokus pada 3 hal yang memang dituju manusia di dunia, harta, tahta, dan cinta. Karena tiga hal itu yang mayoritas dikejar oleh para tokoh-tokoh terkenal yang sukses.
Biasanya seorang yang terkenal dengan jalur menjadi artis atau dengan sebuah prestasi yang diraih akan secara tidak langsung mendapatkan dua hal yang menjadi tujuan manusia. Harta dan cinta. Mereka mudah menggaet wanita dan harta kan mengalir dengan sendirinya ke pundi-pundi tabungan mereka. Saat mereka diikat kontrak tuk berperan dalam sebuah film atau sekedar mendapat bayaran dari sebuah prestasi yang mereka miliki. Karena siapa yang bisa menolak berdekatan dengan seseorang yang populer dan memiliki banyak simpanan harta, nyaris tak ada dan itulah mengapa tiap orang berharap tuk menjadi terkenal.
Kini saat dua hal itu, harta dan cinta telah di dapat, mayoritas kaum populis kan beranjak ke tujuan selanjutnya, tahta yang akan melengkapi kesempurnaan mereka. Harta ada, cintapun dimiliki, maka tak heran tahta yang menjadi sasaran berikutnya. Jadi sangatlah relevan jika sekarang ini kita lihat kaum-kaum populer semacam artis, olahragawan, tokoh-tokoh masyarakat berbondong-bondong menceburkan diri ke jalur politik. Entah dengan menjadi calon anggota legislatif atau sekedar mencoba peruntungan sebagai calon kepala/wakil kepala daerah. Semua hal yang dapat dilakukan agar tujuan selanjutnya tercapai, menggapai tahta tuk meggenapi dua hal lainnya.
Mungkin itulah mengapa saat ini orang-orang terkenal bersaing mendapatkan tahta, sehingga jangan kaget jika kelak pemangku kekuasaan dan tahta dipegang oleh orang-orang populer. Yang mungkin sekedar memenuhi hasratnya dalam melengkapi kesempurnaan yang telah ia dapatkan sebelumnya, harta dan cinta. Padahal tahta tak hanya perkara obsesi buta yang hendak dicapai, tapi lebih dari itu, ia adalah sebuah amanah yang membutuhkan kompetensi dan profesionalitas tuk mengelolanya. Agar tatanan masyarakat yang dipangku dan diperintah olehnya menjadi lebih baik dan sejahtera.
Semoga kelak para kaum populer itu menyadari bahwa keberhasilan mereka nantinya meraih tahta tak serta merta membuat mereka layak, karena memimpin dan mengelola tahta butuh otak dan skill yang tidak sekedar mengandalkan ke-terkenal-an belaka.
Itu kalau berbicara mengenai ke-terkenal-an semata, sesuatu yang memang mudah dilakukan asal memiliki nyali yang besar. Tapi tentunya bukan terkenal seperti itu yang anda inginkan. Karena menjadi populer dengan cara seperti itu tak lain cuma memberikan anda kesengsaraan walau mungkin nama dan wajah anda terpampang manis di media massa.
Maka cara aman, lazim dan umum (seperti menjadi artis, memiliki prestasi dll) untuk menjadi terkenal adalah satu-satunya jalan jika anda ingin menikmati berbagai keuntungan atas kepopuleran anda. Wajah yang kerap menghiasi laman surat kabar dan citra yang terus disorot lewat layar kaca. Sesuatu yang dilakukan bukan dengan cara ekstrim yang bertentangan dengan aturan dan norma yang berlaku.
Selanjutnya saat anda telah menjadi populer dengan cara aman maka kini tergantung anda mengarahkannya. Jika sekedar mengisi rubrik di dalam surat kabar itu biasa dan sangat mudah. Tapi cobalah untuk berfokus pada 3 hal yang memang dituju manusia di dunia, harta, tahta, dan cinta. Karena tiga hal itu yang mayoritas dikejar oleh para tokoh-tokoh terkenal yang sukses.
Biasanya seorang yang terkenal dengan jalur menjadi artis atau dengan sebuah prestasi yang diraih akan secara tidak langsung mendapatkan dua hal yang menjadi tujuan manusia. Harta dan cinta. Mereka mudah menggaet wanita dan harta kan mengalir dengan sendirinya ke pundi-pundi tabungan mereka. Saat mereka diikat kontrak tuk berperan dalam sebuah film atau sekedar mendapat bayaran dari sebuah prestasi yang mereka miliki. Karena siapa yang bisa menolak berdekatan dengan seseorang yang populer dan memiliki banyak simpanan harta, nyaris tak ada dan itulah mengapa tiap orang berharap tuk menjadi terkenal.
Kini saat dua hal itu, harta dan cinta telah di dapat, mayoritas kaum populis kan beranjak ke tujuan selanjutnya, tahta yang akan melengkapi kesempurnaan mereka. Harta ada, cintapun dimiliki, maka tak heran tahta yang menjadi sasaran berikutnya. Jadi sangatlah relevan jika sekarang ini kita lihat kaum-kaum populer semacam artis, olahragawan, tokoh-tokoh masyarakat berbondong-bondong menceburkan diri ke jalur politik. Entah dengan menjadi calon anggota legislatif atau sekedar mencoba peruntungan sebagai calon kepala/wakil kepala daerah. Semua hal yang dapat dilakukan agar tujuan selanjutnya tercapai, menggapai tahta tuk meggenapi dua hal lainnya.
Mungkin itulah mengapa saat ini orang-orang terkenal bersaing mendapatkan tahta, sehingga jangan kaget jika kelak pemangku kekuasaan dan tahta dipegang oleh orang-orang populer. Yang mungkin sekedar memenuhi hasratnya dalam melengkapi kesempurnaan yang telah ia dapatkan sebelumnya, harta dan cinta. Padahal tahta tak hanya perkara obsesi buta yang hendak dicapai, tapi lebih dari itu, ia adalah sebuah amanah yang membutuhkan kompetensi dan profesionalitas tuk mengelolanya. Agar tatanan masyarakat yang dipangku dan diperintah olehnya menjadi lebih baik dan sejahtera.
Semoga kelak para kaum populer itu menyadari bahwa keberhasilan mereka nantinya meraih tahta tak serta merta membuat mereka layak, karena memimpin dan mengelola tahta butuh otak dan skill yang tidak sekedar mengandalkan ke-terkenal-an belaka.
Saturday, 2 March 2013
Kemungkinan Terbaik dan Terburuk
Ekstrimnya adalah cuma ada dua kemungkinan bagi manusia kelak jika mereka telah pergi dari dunia ini. Hatta kemungkinan terbaik yaitu masuk surga, ataupun kemungkinan terburuk yakni masuk neraka. Di dua tempat itu manusia kan berlabuh dan menyaksikan bekas amalnya semasa di dunia.
Tapi dua kemungkinan itu adalah kemungkinan ekstrimnya, sedangkan kenyataan yang berlaku di kehidupan kini, tiap manusia memiliki dua kemungkinan saat ia memilih melakukan sesuatu.
Kemungkinan terbaik pasti terjadi kala manusia secara bertahap dan seksama meniti syarat-syarat munculnya kemungkinan itu. Berusaha semaksimal mungkin, berkomitmen tinggi pada pilihan yang telah diputuskan, dan yang terakhir berdoa pada Sang Maha penentu dan pemegang mutlak kehidupan.
Tentunya kemungkinan terbaik ini yang selama ini dicari oleh tiap orang. Kala mereka memutuskan pilihan dan simsalabim, hal terbaik mereka peroleh. Tapi selalu berharap akan datangnya kemungkinan terbaik kadang melenakan manusia tuk menyadari realita bahwa tak selamanya hidup itu sesuai dengan rencana.
Mungkin saja semua rencana itu, dari usaha maksimal, komitmen yang tinggi, hingga doa yang tiada putus tak selamanya berbuah hasil terbaik. Bisa saja yang terjadi justru sebaliknya, kemungkinan terburuk yang malah muncul. Mungkin tak sampai kemungkinan terburuk yang terjadi, karena antara kemungkinan terbaik dan terburuk terbentang sebuah garis kontinum yang bernama kemungkinan baik, agak baik, kurang baik, agak buruk, dan terburuk. Tapi biasanya, seseorang akan lebih tenang kala ia siap menerima kemungkinan terburuk yang bakal terjadi pada dirinya.
Tak selamanya kemungkinan terburuk itu menyakitkan. Ya mungkin untuk beberapa saat, kemungkinan terburuk sangat pahit terasa, tapi selebihnya kemungkinan terburuk kan terasa manis kala nilai-nilai kebenaran dipegang teguh dalam proses yang dijalankan. Tak ada penyesalan saat anda, saya, kita gagal dalam mengusung misi tuk mencapai kemungkinan terbaik kala kita tetap konsisten pada nilai-nilai kebenaran yang kita pegang. Karena kita yakin bahwa setidaknya kesetiaan pada nilai kebenaran dan integritas kan jadi saksi dihadapan Tuhan dan manusia bahwa kita bukan manusia tercela. Yang rela mengorbankan kebahagiaan dan ketenangan jiwa tuk sekedar kebahagiaan dunia yang sementara.
Maka sayapun berpikir, ada kalanya manusia itu harus belajar bersiap menerima konsekuensi terburuk pada apa yang ia lakukan. Setidaknya kerelaan hati dan keikhlasan menerima segala kemungkinan buruk akan membuat manusia lebih menghargai konsistensi dalam memegang kebenaran pada proses menjalankan pilihan yang diputuskan. Karena kebahagiaan sesungguhnya bukanlah terletak pada kemungkinan terbaik ataupun terburuk yang akan didapatkan, tapi terletak pada keteguhan dalam memegang kebenaran dan nilai luhur ketuhanan pada tiap langkah usaha yang diperbuat.
Tapi dua kemungkinan itu adalah kemungkinan ekstrimnya, sedangkan kenyataan yang berlaku di kehidupan kini, tiap manusia memiliki dua kemungkinan saat ia memilih melakukan sesuatu.
Kemungkinan terbaik pasti terjadi kala manusia secara bertahap dan seksama meniti syarat-syarat munculnya kemungkinan itu. Berusaha semaksimal mungkin, berkomitmen tinggi pada pilihan yang telah diputuskan, dan yang terakhir berdoa pada Sang Maha penentu dan pemegang mutlak kehidupan.
Tentunya kemungkinan terbaik ini yang selama ini dicari oleh tiap orang. Kala mereka memutuskan pilihan dan simsalabim, hal terbaik mereka peroleh. Tapi selalu berharap akan datangnya kemungkinan terbaik kadang melenakan manusia tuk menyadari realita bahwa tak selamanya hidup itu sesuai dengan rencana.
Mungkin saja semua rencana itu, dari usaha maksimal, komitmen yang tinggi, hingga doa yang tiada putus tak selamanya berbuah hasil terbaik. Bisa saja yang terjadi justru sebaliknya, kemungkinan terburuk yang malah muncul. Mungkin tak sampai kemungkinan terburuk yang terjadi, karena antara kemungkinan terbaik dan terburuk terbentang sebuah garis kontinum yang bernama kemungkinan baik, agak baik, kurang baik, agak buruk, dan terburuk. Tapi biasanya, seseorang akan lebih tenang kala ia siap menerima kemungkinan terburuk yang bakal terjadi pada dirinya.
Tak selamanya kemungkinan terburuk itu menyakitkan. Ya mungkin untuk beberapa saat, kemungkinan terburuk sangat pahit terasa, tapi selebihnya kemungkinan terburuk kan terasa manis kala nilai-nilai kebenaran dipegang teguh dalam proses yang dijalankan. Tak ada penyesalan saat anda, saya, kita gagal dalam mengusung misi tuk mencapai kemungkinan terbaik kala kita tetap konsisten pada nilai-nilai kebenaran yang kita pegang. Karena kita yakin bahwa setidaknya kesetiaan pada nilai kebenaran dan integritas kan jadi saksi dihadapan Tuhan dan manusia bahwa kita bukan manusia tercela. Yang rela mengorbankan kebahagiaan dan ketenangan jiwa tuk sekedar kebahagiaan dunia yang sementara.
Maka sayapun berpikir, ada kalanya manusia itu harus belajar bersiap menerima konsekuensi terburuk pada apa yang ia lakukan. Setidaknya kerelaan hati dan keikhlasan menerima segala kemungkinan buruk akan membuat manusia lebih menghargai konsistensi dalam memegang kebenaran pada proses menjalankan pilihan yang diputuskan. Karena kebahagiaan sesungguhnya bukanlah terletak pada kemungkinan terbaik ataupun terburuk yang akan didapatkan, tapi terletak pada keteguhan dalam memegang kebenaran dan nilai luhur ketuhanan pada tiap langkah usaha yang diperbuat.
Wednesday, 20 February 2013
Sambal Kehidupan
Pencinta sambal mungkin tahu persis bahwa kebanyakan mereka menikmati sambal karena sensasi pedasnya. Memberi warna berbeda pada makanan yang disajikan. Sehingga ada semacam greget yang menggelitik lidah dan terkadang jika kadarnya berlebihan memberi sensasi panas di mulut. Tapi anehnya meski panas dan membuat lidah tak nyaman, tetap saja kebanyakan orang tidak kapok menyantap sambal. Bahkan makin ketagihan untuk mencoba sambal yang lebih pedas.
Mungkin itu sebabnya ada istilah tobat sambal yang begitu populer. Saat seseorang mengaku kepedasan dan tak lagi-lagi mencoba sambal, tapi keesokannya malah kembali menyantapnya. Yang jika dianalogikan dengan kehidupan manusia, saat seseorang mengaku kapok berbuat sesuatu tapi malah melakukan lagi di hari berikutnya.
Sayapun berpikir adakah sebuah efek yang ditimbulkan oleh sambal sehingga walaupun pedas dan membuat lidah kepanasan, sambal tetap jadi pilihan dalam menemani santap makanan. Oh mungkin karena sambal menjadikan nafsu makan seseorang menjadi tinggi. Begitu lahap menyantap makanan agar sensasi pedas cepat hilang dengan cara menutupinya lewat makanan. Atau mungkin menjadikan sambal sebagai alternatif rasa untuk makanan-makanan yang terasa hambar. Daripada mubazir tak termakan maka dipakailah sambal untuk memberi rasa.
Mungkin sambal itu ibarat masalah dalam hidup. Yang terkadang membuat kita kapok tapi malah kembali datang menghampiri. Ada beberapa orang yang memang benar-benar kapok dan tak mau-mau lagi terbelit masalah, namun sebagian lagi menyikapi masalah layaknya pencinta sambal. Tak kapok-kapok menyantap masalah walau itu pedas dan bahkan ingin mencoba yang lebih perih menyengat. Karena ia yakin hidup itu akan menjadi lebih berwarna saat sensasi rasa pedas permasalahan membuat kehidupan tak lagi terasa hambar. Membuat semangatnya dalam menjalani kehidupan layaknya penggemar sambal yang memiliki nafsu makan yang besar.
Jadi memang sesekali tak apa jika sambal kehidupan menghampiri, karena ia tak sekedar masalah tapi lebih dari itu, ia pemberi rasa dalam menjalani hidup yang mungkin datar-datar saja.
Mungkin itu sebabnya ada istilah tobat sambal yang begitu populer. Saat seseorang mengaku kepedasan dan tak lagi-lagi mencoba sambal, tapi keesokannya malah kembali menyantapnya. Yang jika dianalogikan dengan kehidupan manusia, saat seseorang mengaku kapok berbuat sesuatu tapi malah melakukan lagi di hari berikutnya.
Sayapun berpikir adakah sebuah efek yang ditimbulkan oleh sambal sehingga walaupun pedas dan membuat lidah kepanasan, sambal tetap jadi pilihan dalam menemani santap makanan. Oh mungkin karena sambal menjadikan nafsu makan seseorang menjadi tinggi. Begitu lahap menyantap makanan agar sensasi pedas cepat hilang dengan cara menutupinya lewat makanan. Atau mungkin menjadikan sambal sebagai alternatif rasa untuk makanan-makanan yang terasa hambar. Daripada mubazir tak termakan maka dipakailah sambal untuk memberi rasa.
Mungkin sambal itu ibarat masalah dalam hidup. Yang terkadang membuat kita kapok tapi malah kembali datang menghampiri. Ada beberapa orang yang memang benar-benar kapok dan tak mau-mau lagi terbelit masalah, namun sebagian lagi menyikapi masalah layaknya pencinta sambal. Tak kapok-kapok menyantap masalah walau itu pedas dan bahkan ingin mencoba yang lebih perih menyengat. Karena ia yakin hidup itu akan menjadi lebih berwarna saat sensasi rasa pedas permasalahan membuat kehidupan tak lagi terasa hambar. Membuat semangatnya dalam menjalani kehidupan layaknya penggemar sambal yang memiliki nafsu makan yang besar.
Jadi memang sesekali tak apa jika sambal kehidupan menghampiri, karena ia tak sekedar masalah tapi lebih dari itu, ia pemberi rasa dalam menjalani hidup yang mungkin datar-datar saja.
Monday, 18 February 2013
Tidur..
Sungguh kasihan jika melihat kondisi saudari saya ini. Bertahun-tahun berumah tangga dan sudah dikaruniai dua orang anak, hidupnya terbilang masih kurang dari sisi materi. Rumah masih mengontrak, anak sakit-sakitan dan pekerjaan si suami yang masih sama sebagai pengantar barang setelah 15 tahun bekerja, sehingga otomatis penghasilan pun masih sama setelah bertahun-tahun lamanya, kalaupun ada kenaikan tentunya tidak signifikan dengan inflasi keuangan yang gila-gilaan seperti sekarang.
Materi memang bukan segala-galanya tapi setidaknya materi merupakan cerminan akan sebuah kesungguhan dan ketekunan dalam bekerja. Bekerja yang tidak melulu bersifat duniawi tapi juga ukhrowi atau spiritual. Karena filosofinya, materi akan ikut secara sendirinya saat sisi immateri yaitu spiritual dan religiusitas diperbaiki. "perbaikilah akhiratmu niscaya dunia akan menghamba padamu." begitu kira-kira bunyinya. Tapi masalahnya adalah dari sisi ini pun si Saudari ini tak kunjung membenahinya. Sudah tahu hidupnya sangat berat, meminta padaNya pun masih seringkali lalai. Sudah tahu permasalahan banyak, mengiba padaNya pun masih seringkali lupa.
Suatu saat, Ibnu Abbas RA pernah menegur salah seorang anaknya.yang tertidur di dalam waktu subuh. "Bangunlah, engkau tidur saat rejeki dibagi-bagikan". Asumsi saya adalah, si anak ini kembali tidur sesaat setelah selesai mendirikan sholat subuh. Karena hampir tidak mungkin anak seorang sahabat tidak di didik untuk sholat subuh. Itu baru tertidur sehabis sholat subuh dan tarafnya sudah sangat tidak dianjurkan, apalagi tertidur dan melewatkan sholat subuh. Lebih parah lagi. Dan itu yang terjadi pagi ini, saat saya melihat, si saudari ini dan suaminya dengan tenangnya melewatkan sholat subuh, dan hanya mengangguk iya kala diingatkan untuk sholat. fiuh..
Tidur itu nikmat, dan ia rahmat dari sang pencipta bagi hamba-hambaNya yang lelah saat terjaga. Tidur itu pertanda bahwa tubuh ini harus beristirahat sejenak untuk disegarkan kembali melalui mekanisme ketidaksadaran hingga relaksasi perlahan di kala tidur menambah energi seseorang ketika ia bangun nanti. Tidur itu cara mudah melarikan diri dari persoalan. Cukup tertidur maka dengan segera masalah anda seolah hilang. Tapi itu hanya sesaat, setelah bangun barulah anda menyadari kembali bahwa masalah anda masih sama dan belum beranjak pergi. Ironisnya hal ini seringkali dijadikan sarana utama bagi beberapa orang untuk mengobati masalahnya.
Mungkin itu yang dilakukan saudari saya ini. Kala mengetahui bahwa anak-anak sakit, uang belanja menipis, dan otak pun serasa penuh dengan masalah, tidur pun jadi sarana instan dalam menyelesaikan persoalan. Seolah berharap masalah akan berakhir saat ia bangun nanti. Mungkin tidak sebegitunya, tak sampai berharap bahwa masalahnya akan selesai, hanya ingin jeda sesaat dan mengulur waktu dalam kesendirian.
Tiap orang memang punya alasannya masing-masing untuk tidur dan menyelesaikan permasalahannya. Tinggal dilihat sejauh mana apakah cara itu efektif atau tidak dalam menyelesaikan masalah. Logikanya, dengan nasib yang tak kunjung berubah sekian tahun lamanya, idealnya ada sebentuk inovasi dalam berbuat, dan bertingkah laku. Ada sebuah bentuk perbaikan saat tahu bahwa cara lama, seperti tidur, mengeluh, bermalas-malasan, tidak juga memberikan hasil. Tapi memang hal itu sepertinya belum sampai, sebuah kesadaran untuk melakukan revolusi dalam hidup. Entah sampai kapan hanya Allah yang tahu.
Semoga Rahmat dan HidayahNya meliputimu sist..
Materi memang bukan segala-galanya tapi setidaknya materi merupakan cerminan akan sebuah kesungguhan dan ketekunan dalam bekerja. Bekerja yang tidak melulu bersifat duniawi tapi juga ukhrowi atau spiritual. Karena filosofinya, materi akan ikut secara sendirinya saat sisi immateri yaitu spiritual dan religiusitas diperbaiki. "perbaikilah akhiratmu niscaya dunia akan menghamba padamu." begitu kira-kira bunyinya. Tapi masalahnya adalah dari sisi ini pun si Saudari ini tak kunjung membenahinya. Sudah tahu hidupnya sangat berat, meminta padaNya pun masih seringkali lalai. Sudah tahu permasalahan banyak, mengiba padaNya pun masih seringkali lupa.
Suatu saat, Ibnu Abbas RA pernah menegur salah seorang anaknya.yang tertidur di dalam waktu subuh. "Bangunlah, engkau tidur saat rejeki dibagi-bagikan". Asumsi saya adalah, si anak ini kembali tidur sesaat setelah selesai mendirikan sholat subuh. Karena hampir tidak mungkin anak seorang sahabat tidak di didik untuk sholat subuh. Itu baru tertidur sehabis sholat subuh dan tarafnya sudah sangat tidak dianjurkan, apalagi tertidur dan melewatkan sholat subuh. Lebih parah lagi. Dan itu yang terjadi pagi ini, saat saya melihat, si saudari ini dan suaminya dengan tenangnya melewatkan sholat subuh, dan hanya mengangguk iya kala diingatkan untuk sholat. fiuh..
Tidur itu nikmat, dan ia rahmat dari sang pencipta bagi hamba-hambaNya yang lelah saat terjaga. Tidur itu pertanda bahwa tubuh ini harus beristirahat sejenak untuk disegarkan kembali melalui mekanisme ketidaksadaran hingga relaksasi perlahan di kala tidur menambah energi seseorang ketika ia bangun nanti. Tidur itu cara mudah melarikan diri dari persoalan. Cukup tertidur maka dengan segera masalah anda seolah hilang. Tapi itu hanya sesaat, setelah bangun barulah anda menyadari kembali bahwa masalah anda masih sama dan belum beranjak pergi. Ironisnya hal ini seringkali dijadikan sarana utama bagi beberapa orang untuk mengobati masalahnya.
Mungkin itu yang dilakukan saudari saya ini. Kala mengetahui bahwa anak-anak sakit, uang belanja menipis, dan otak pun serasa penuh dengan masalah, tidur pun jadi sarana instan dalam menyelesaikan persoalan. Seolah berharap masalah akan berakhir saat ia bangun nanti. Mungkin tidak sebegitunya, tak sampai berharap bahwa masalahnya akan selesai, hanya ingin jeda sesaat dan mengulur waktu dalam kesendirian.
Tiap orang memang punya alasannya masing-masing untuk tidur dan menyelesaikan permasalahannya. Tinggal dilihat sejauh mana apakah cara itu efektif atau tidak dalam menyelesaikan masalah. Logikanya, dengan nasib yang tak kunjung berubah sekian tahun lamanya, idealnya ada sebentuk inovasi dalam berbuat, dan bertingkah laku. Ada sebuah bentuk perbaikan saat tahu bahwa cara lama, seperti tidur, mengeluh, bermalas-malasan, tidak juga memberikan hasil. Tapi memang hal itu sepertinya belum sampai, sebuah kesadaran untuk melakukan revolusi dalam hidup. Entah sampai kapan hanya Allah yang tahu.
Semoga Rahmat dan HidayahNya meliputimu sist..
Labels:
cerita,
islam,
kerja,
opini,
perjuangan,
persaudaraan
Saturday, 16 February 2013
Kesempatan Kedua
Tak ada orang yang luput dari kesalahan, karena fitrahnya manusia memang seringkali lupa. Jadi tak heran pintu pertaubatan dan perbaikan selalu terbuka hingga hari akhir nanti. Harapannya ialah, yang bersalah akan menghapus kekhilafan mereka dengan kebaikan sebagaimana air yang membersihkan noda yang terlanjur mengotori indahnya sehelai kain putih. Hingga nantinya tak ada lagi bekas noda dan kain itu kembali bersih seperti sedia kala.
Kesempatan bertaubat selalu ada tapi seringkali manusia yang lain terlanjur menghakimi dengan mengatakan bahwa yang bersalah takkan ada harapan untuk kembali kepada kebaikan. Kecewa memang, saat kita melihat orang yang kita kagumi melakukan sebuah kesalahan, serasa kebaikan yang ia lakukan dulu tak ada nilainya lagi dimata kita. Tapi mungkin seringkali kita lupa bahwa manusia yang masih hidup memang rentan melakukan kesalahan.
Abdullah Ibnu Mas'ud pernah berkata belajarlah dan ambil hikmah dari orang yang telah mati, karena orang yang masih hidup belum aman dari fitnah. Maka sangatlah naif saat kita terlalu mengagungkan seseorang karena belum tentu si orang itu akan konsisten pada kebaikan, yang patut kita lakukan adalah mendoakan semoga si orang tetap istiqomah hingga ajal menjemput, karena setelah wafatlah baru kita layak menilai seseorang secara utuh.
Sayapun teringat dengan salah seorang tokoh islam yang syahid di medan perang, namanya adalah Thulaihah Al Assad, Thulaihah dari suku Assad. Kalau kita menyimak kisah hidupnya, mungkin kesan pertama kita adalah, Thulaihah takkan punya kesempatan untuk menjadi orang baik. Bagaimana tidak? ia mengaku mendapatkan wahyu dari Allah dan mengaku sebagai Rasul sepeninggal Rasulullah. Iapun sempat berperang melawan Khalid sebelum akhirnya kabur dan menetap di Syam. Coba kita lihat, keburukan apa yang kurang darinya? mengaku nabi, menghapus syariat zakat, dan menghapus beberapa gerakan sholat. Semuanya lengkap.
Tapi yang namanya kehidupan adalah rahasia ilahi. Thulaihah pun bertaubat dan bersungguh-sungguh ingin melunasi kesalahan-kesalahannya di masa lampau. Hingga Abu bakar pun menerima permintaan maaf Thulaihah dan bahkan menganjurkan Khalid bin Walid untuk meminta saran kepada Thulaihah karena ia mengerti betul mengenai wilayah Syam. Meski tak mendapatkan jabatan apapun semasa Khalifah Abu Bakar dan Umar, Thulaihah tak mempermasalahkannya, yang ia tahu, ia harus menunjukkan bahwa ia benar-benar bukan pengkhianat dan telah insyaf sejadi-jadinya.
Maka dengan gagah berani Thulaihah mengikuti berbagai peperangan, diantaranya yang cukup masyhur adalah saat ia berhasil menawan dua pimpinan pasukan persia dan membawanya kepada panglima perang Qadisiyah kala itu, Saad bin Abi Waqqash. Seorang pimpinan persia itu pun mengaku kagum dengan Thulaihah.
"baru kali ini saya melihat seseorang yang sendirian menyerbu pasukan seolah dirinya bagaikan seribu orang." Atas kekaguman terhadap keberaniannya, panglima itupun menyatakan masuk islam dan berperang bersama pasukan muslimin.
Dan puncak kesungguhannya untuk memperbaiki kesalahan adalah saat peperangan Nahawan melawan pasukan persia. Ia kembali pada Rabbnya dengan husnul khotimah sebagai syahid. Titik balik yang sempurna untuk seorang yang bersungguh dalam memperbaiki diri.
Sungguh, kisah Thulaihah memberikan kita banyak hikmah bahwa tiap orang punya kesempatan untuk memperbaiki diri sebesar apapun kesalahannya, tak peduli bagaimana ia dulu tapi yang kita lihat adalah kesungguhannya untuk menutupi khilaf diri di masa kini
Karena Allah maha penerima Taubat.
Kesempatan bertaubat selalu ada tapi seringkali manusia yang lain terlanjur menghakimi dengan mengatakan bahwa yang bersalah takkan ada harapan untuk kembali kepada kebaikan. Kecewa memang, saat kita melihat orang yang kita kagumi melakukan sebuah kesalahan, serasa kebaikan yang ia lakukan dulu tak ada nilainya lagi dimata kita. Tapi mungkin seringkali kita lupa bahwa manusia yang masih hidup memang rentan melakukan kesalahan.
Abdullah Ibnu Mas'ud pernah berkata belajarlah dan ambil hikmah dari orang yang telah mati, karena orang yang masih hidup belum aman dari fitnah. Maka sangatlah naif saat kita terlalu mengagungkan seseorang karena belum tentu si orang itu akan konsisten pada kebaikan, yang patut kita lakukan adalah mendoakan semoga si orang tetap istiqomah hingga ajal menjemput, karena setelah wafatlah baru kita layak menilai seseorang secara utuh.
Sayapun teringat dengan salah seorang tokoh islam yang syahid di medan perang, namanya adalah Thulaihah Al Assad, Thulaihah dari suku Assad. Kalau kita menyimak kisah hidupnya, mungkin kesan pertama kita adalah, Thulaihah takkan punya kesempatan untuk menjadi orang baik. Bagaimana tidak? ia mengaku mendapatkan wahyu dari Allah dan mengaku sebagai Rasul sepeninggal Rasulullah. Iapun sempat berperang melawan Khalid sebelum akhirnya kabur dan menetap di Syam. Coba kita lihat, keburukan apa yang kurang darinya? mengaku nabi, menghapus syariat zakat, dan menghapus beberapa gerakan sholat. Semuanya lengkap.
Tapi yang namanya kehidupan adalah rahasia ilahi. Thulaihah pun bertaubat dan bersungguh-sungguh ingin melunasi kesalahan-kesalahannya di masa lampau. Hingga Abu bakar pun menerima permintaan maaf Thulaihah dan bahkan menganjurkan Khalid bin Walid untuk meminta saran kepada Thulaihah karena ia mengerti betul mengenai wilayah Syam. Meski tak mendapatkan jabatan apapun semasa Khalifah Abu Bakar dan Umar, Thulaihah tak mempermasalahkannya, yang ia tahu, ia harus menunjukkan bahwa ia benar-benar bukan pengkhianat dan telah insyaf sejadi-jadinya.
Maka dengan gagah berani Thulaihah mengikuti berbagai peperangan, diantaranya yang cukup masyhur adalah saat ia berhasil menawan dua pimpinan pasukan persia dan membawanya kepada panglima perang Qadisiyah kala itu, Saad bin Abi Waqqash. Seorang pimpinan persia itu pun mengaku kagum dengan Thulaihah.
"baru kali ini saya melihat seseorang yang sendirian menyerbu pasukan seolah dirinya bagaikan seribu orang." Atas kekaguman terhadap keberaniannya, panglima itupun menyatakan masuk islam dan berperang bersama pasukan muslimin.
Dan puncak kesungguhannya untuk memperbaiki kesalahan adalah saat peperangan Nahawan melawan pasukan persia. Ia kembali pada Rabbnya dengan husnul khotimah sebagai syahid. Titik balik yang sempurna untuk seorang yang bersungguh dalam memperbaiki diri.
Sungguh, kisah Thulaihah memberikan kita banyak hikmah bahwa tiap orang punya kesempatan untuk memperbaiki diri sebesar apapun kesalahannya, tak peduli bagaimana ia dulu tapi yang kita lihat adalah kesungguhannya untuk menutupi khilaf diri di masa kini
Karena Allah maha penerima Taubat.
Tuesday, 12 February 2013
Martir
Seandainya Muhammad Bouazizi melihat dan mengetahui bagaimana orang-orang mengenangnya, mungkin saja ia akan bangga dengan apa yang terjadi pasca dirinya wafat. Revolusi timur tengah 2 tahun terakhir tak pelak adalah bukti atas aksi yang dilakukan olehnya. Sarjana Muda yang bekerja keras menghidupi keluarga dengan berjualan sayur keliling. Kondisi yang miris saat tingkat pengangguran yang cukup tinggi memaksa seorang pemuda mengacuhkan gelar sarjananya untuk pekerjaan yang tak lain merupakan pilihan satu-satunya. Impiannya sederhana, dapat membeli mobil pick-up dan tak lagi bersusah payah berkeliling dengan memakai gerobak sayurnya yang terlihat makin ringkih.
Tapi takdir sang khaliq berkata lain, sebelum impiannya tarwujud, para polisi Tunisia yang gagah itu mengambil gerobak sayur yang menjadi satu-satunya penopang hidup keluarganya. Dengan alasan melanggar izin usaha, Bouazizi dipaksa untuk menebus gerobaknya yang senilai dengan jumlah penghasilannya selama sehari, 10 dinar. Namun Bouazizi hanya punya 7 Dollar, tak sebanding dengan nilai yang diminta para polisi itu. Iapun menghampiri polisi-polisi itu dan meminta kebijaksanaan mereka, tapi sayang justru pukulan dan hinaan yang didapatkannya. Mendapatkan perlakuan semena-mena, ia pun melapor ke pejabat wilayah setempat, dan kembali tak ada tanggapan positif dari para pejabat itu.
Bahkan pejabat pun tak bisa berbuat apa-apa, jadi kemana lagi ia mesti mengadu? sedang keluarganya menunggu dengan sebuah harapan. Ia pun berjalan menuju gedung putih tempat para penguasa itu duduk manis diantara tangis rakyat serupa dirinya. Ia membakar diri, menjadi martir atas ketidak adilan yang selama ini berkerak menjadi-jadi di sebuah negeri bernama Tunisia. Semua tersadar, rakyat yang tertidur mulai terjaga akan ketidakberesan pemimpin mereka. Aksi Bouazizi bagai sebuah klimaks, titik kulminasi atas mandulnya pisau keadilan. Hingga tak heran efek dari sebuah aksi yang datangnya dari jerit kemarahan rakyat berbuah revolusi panjang, berturut-turut Mesir, Libya dan beberapa negara timur tengah mengalami hal yang sama. Martir Bouazizi menjadi momentum perubahan.
--
Tak ada yang benar-benar berharap menjadi martir. Martir adalah konsekuensi atas usaha mereka dalam memperjuangkan apa yang mereka yakini. Mungkin Muhammad Toha tak pernah mengira bahwa aksinya dalam meledakkan gudang amunisi Belanda di kota Bandung akan memicu perlawanan para pejuang di beberapa daerah di nusantara. Atau saat Arif Rachman Hakim yang tak pernah menduga bahwa namanya akan diabadikan sebagai nama masjid di FKUI atas perjuangannya yang berujung maut.
Martir ibarat pemicu atas sebuah perubahan, ia tak sekedar aksi heroik beberapa oknum yang ingin disebut sebagai pahlawan. Tapi lebih dari itu, Martir adalah akumulasi dari sekumpulan momen, aksi, dan konsistensi dalam berjuang yang diakhiri dengan pengorbanan tak ternilai. Sehingga menjadi martir tak lebih dari sebuah takdir yang kan datang kepada orang-orang yang terpanggil, mereka yang memaknai arti perjuangan lebih dari apapun bahkan melebihi nyawa mereka sendiri.
Martir berarti saksi, menjadi saksi atas segala usaha yang mereka perjuangkan, menjadi syahid jika seorang muslim menyebutnya. Di hadapan Tuhannya mereka bersaksi dengan raga berkalang tanah dan jiwa berselimut ketenangan, bahwa perjuangan tertinggi telah mereka gapai. Saat tak ada satupun pengorbanan yang sebanding dengan nyawa yang tercerabut dari tubuh bersimbah luka.
Maka tak heran jika syahid adalah cita tertinggi dari seorang muslim bila kehidupan mulia tak jua diperoleh.
isy kariman, aumut syahidan. Hidup mulia atau mati syahid.
Tapi takdir sang khaliq berkata lain, sebelum impiannya tarwujud, para polisi Tunisia yang gagah itu mengambil gerobak sayur yang menjadi satu-satunya penopang hidup keluarganya. Dengan alasan melanggar izin usaha, Bouazizi dipaksa untuk menebus gerobaknya yang senilai dengan jumlah penghasilannya selama sehari, 10 dinar. Namun Bouazizi hanya punya 7 Dollar, tak sebanding dengan nilai yang diminta para polisi itu. Iapun menghampiri polisi-polisi itu dan meminta kebijaksanaan mereka, tapi sayang justru pukulan dan hinaan yang didapatkannya. Mendapatkan perlakuan semena-mena, ia pun melapor ke pejabat wilayah setempat, dan kembali tak ada tanggapan positif dari para pejabat itu.
Bahkan pejabat pun tak bisa berbuat apa-apa, jadi kemana lagi ia mesti mengadu? sedang keluarganya menunggu dengan sebuah harapan. Ia pun berjalan menuju gedung putih tempat para penguasa itu duduk manis diantara tangis rakyat serupa dirinya. Ia membakar diri, menjadi martir atas ketidak adilan yang selama ini berkerak menjadi-jadi di sebuah negeri bernama Tunisia. Semua tersadar, rakyat yang tertidur mulai terjaga akan ketidakberesan pemimpin mereka. Aksi Bouazizi bagai sebuah klimaks, titik kulminasi atas mandulnya pisau keadilan. Hingga tak heran efek dari sebuah aksi yang datangnya dari jerit kemarahan rakyat berbuah revolusi panjang, berturut-turut Mesir, Libya dan beberapa negara timur tengah mengalami hal yang sama. Martir Bouazizi menjadi momentum perubahan.
--
Tak ada yang benar-benar berharap menjadi martir. Martir adalah konsekuensi atas usaha mereka dalam memperjuangkan apa yang mereka yakini. Mungkin Muhammad Toha tak pernah mengira bahwa aksinya dalam meledakkan gudang amunisi Belanda di kota Bandung akan memicu perlawanan para pejuang di beberapa daerah di nusantara. Atau saat Arif Rachman Hakim yang tak pernah menduga bahwa namanya akan diabadikan sebagai nama masjid di FKUI atas perjuangannya yang berujung maut.
Martir ibarat pemicu atas sebuah perubahan, ia tak sekedar aksi heroik beberapa oknum yang ingin disebut sebagai pahlawan. Tapi lebih dari itu, Martir adalah akumulasi dari sekumpulan momen, aksi, dan konsistensi dalam berjuang yang diakhiri dengan pengorbanan tak ternilai. Sehingga menjadi martir tak lebih dari sebuah takdir yang kan datang kepada orang-orang yang terpanggil, mereka yang memaknai arti perjuangan lebih dari apapun bahkan melebihi nyawa mereka sendiri.
Martir berarti saksi, menjadi saksi atas segala usaha yang mereka perjuangkan, menjadi syahid jika seorang muslim menyebutnya. Di hadapan Tuhannya mereka bersaksi dengan raga berkalang tanah dan jiwa berselimut ketenangan, bahwa perjuangan tertinggi telah mereka gapai. Saat tak ada satupun pengorbanan yang sebanding dengan nyawa yang tercerabut dari tubuh bersimbah luka.
Maka tak heran jika syahid adalah cita tertinggi dari seorang muslim bila kehidupan mulia tak jua diperoleh.
isy kariman, aumut syahidan. Hidup mulia atau mati syahid.
Sunday, 10 February 2013
Film Aksi Beladiri
Salah satu aktivitas masa kecil yang masih saya lakukan hingga kini adalah menonton film kungfu di layar kaca. Beberapa stasiun TV nasional kerap memutar film-film aksi memukau aktor laga china dan hongkong dalam memamerkan gerak lincah nan indah dalam bertarung. Entah kenapa saya sangat menikmati gaya berkelahi mereka, aksi mereka dalam memainkan senjata bela diri, kemampuan mereka dalam meliukkan dan menggerakkan tubuh dalam sebuah aksi pertarungan. Gerakan mereka sungguh tertata dan presisi, seolah tahu kapan si lawan akan memukul dan kapan harus bertahan dari serangan.
Agak berbeda ketika menonton aksi pertarungan di film hollywood ataupun bollywood. Gaya berkelahinya brutal, dan sama sekali tak menarik tuk disimak. Cuma berbekal kekuatan dan nyali, pertarungan pun terjadi sebatas emosi dan nafsu tuk menyerang. Tak ada yang namanya gerakan meliuk, memutar dan akrobatik. Pertarungan hanya sekedar memukul dan menendang yang berujung pada babak belur di wajah si petarung. Kalau bukan karena jalan ceritanya yang menarik dan efek visualnya yang memukau, mungkin sudah lama saya tinggalkan film-film itu.
Kalau film silat agak mirip dengan film kungfu cina, ada semacam rasa seni dalam berkelahi. Walau tak seasyik ketika menonton aksi jagoan kungfu, petarung silat tak kalah memukau dari aksi jagoan kungfu. Sebut saja si pitung, si buta dari goa hantu, wiro sableng, dan banyak film aksi silat yang cukup melegenda, ditambah lagi saat ini telah muncul genre terbaru dari film aksi milik anak bangsa yang mengangkat seni beladiri silat, The Raid dan Merantau yang mendunia membangkitkan kembali gairah perfilman indonesia yang sempat dikerubuti film hantu dan mesum tak jelas, dan tentunya kembali mengingatkan masyarakat bahwa Seni beladiri Silat tak kalah dari Seni beladiri lainnya.
Dua beladiri ini memiliki nilai-nilai filosofi yang menarik tuk disimak. Adanya falsafah dalam mengendalikan emosi dan nafsu angkara menjadikan beladiri ini tak sekedar ajang unjuk kekuatan. Lebih dari itu si petarung harus terlebih dahulu menaklukan musuh di dalam dirinya sebelum menaklukan lawan yang ada di hadapannya. Maka tak heran seringkali kita lihat bahwa petarung yang lebih tenang dan pintar mengelola emosi yang justru lebih unggul.
Yang paling menarik saat menonton film-film yang penuh dengan aksi tarung adalah kita tidak pernah tahu siapa yang menang hingga film aksi itu berakhir. Besar tubuh, wajah garang dan sederet keunggulan fisik lainnya tak jadi jaminan dalam sebuah pertarungan. Daya tahan dan konsentrasi yang justru berperan besar dalam menentukan siapa yang akan jadi pemenang. Sehingga tak heran yang memenangkan pertarungan mungkin saja si kecil yang tak diperhitungkan.
Maka saya pun melihat, hidup itu tak jauh berbeda dengan film beladiri. Takkan ada yang tahu siapa yang kan jadi pemenang di akhir episode, yang berhasil meraih sukses beberapa puluh tahun lagi. Tinggal kita lihat saja nanti mereka yang paling mampu dalam mengendalikan diri, emosi, daya tahan dan konsentrasi maka dialah yang jadi pemenang sejati.
Agak berbeda ketika menonton aksi pertarungan di film hollywood ataupun bollywood. Gaya berkelahinya brutal, dan sama sekali tak menarik tuk disimak. Cuma berbekal kekuatan dan nyali, pertarungan pun terjadi sebatas emosi dan nafsu tuk menyerang. Tak ada yang namanya gerakan meliuk, memutar dan akrobatik. Pertarungan hanya sekedar memukul dan menendang yang berujung pada babak belur di wajah si petarung. Kalau bukan karena jalan ceritanya yang menarik dan efek visualnya yang memukau, mungkin sudah lama saya tinggalkan film-film itu.
Kalau film silat agak mirip dengan film kungfu cina, ada semacam rasa seni dalam berkelahi. Walau tak seasyik ketika menonton aksi jagoan kungfu, petarung silat tak kalah memukau dari aksi jagoan kungfu. Sebut saja si pitung, si buta dari goa hantu, wiro sableng, dan banyak film aksi silat yang cukup melegenda, ditambah lagi saat ini telah muncul genre terbaru dari film aksi milik anak bangsa yang mengangkat seni beladiri silat, The Raid dan Merantau yang mendunia membangkitkan kembali gairah perfilman indonesia yang sempat dikerubuti film hantu dan mesum tak jelas, dan tentunya kembali mengingatkan masyarakat bahwa Seni beladiri Silat tak kalah dari Seni beladiri lainnya.
Dua beladiri ini memiliki nilai-nilai filosofi yang menarik tuk disimak. Adanya falsafah dalam mengendalikan emosi dan nafsu angkara menjadikan beladiri ini tak sekedar ajang unjuk kekuatan. Lebih dari itu si petarung harus terlebih dahulu menaklukan musuh di dalam dirinya sebelum menaklukan lawan yang ada di hadapannya. Maka tak heran seringkali kita lihat bahwa petarung yang lebih tenang dan pintar mengelola emosi yang justru lebih unggul.
Yang paling menarik saat menonton film-film yang penuh dengan aksi tarung adalah kita tidak pernah tahu siapa yang menang hingga film aksi itu berakhir. Besar tubuh, wajah garang dan sederet keunggulan fisik lainnya tak jadi jaminan dalam sebuah pertarungan. Daya tahan dan konsentrasi yang justru berperan besar dalam menentukan siapa yang akan jadi pemenang. Sehingga tak heran yang memenangkan pertarungan mungkin saja si kecil yang tak diperhitungkan.
Maka saya pun melihat, hidup itu tak jauh berbeda dengan film beladiri. Takkan ada yang tahu siapa yang kan jadi pemenang di akhir episode, yang berhasil meraih sukses beberapa puluh tahun lagi. Tinggal kita lihat saja nanti mereka yang paling mampu dalam mengendalikan diri, emosi, daya tahan dan konsentrasi maka dialah yang jadi pemenang sejati.
Friday, 8 February 2013
Sendal Jepit
Salah satu perangkat bepergian yang saya upayakan untuk selalu dibawa adalah sendal jepit. Praktis, santai dan tidak perlu khawatir kalau hilang (hehe). Sewaktu-waktu butuh aktivitas yang ringkas dan cepat, seperti ke kamar mandi ataupun berwudhu, cukup mengeluarkan sendal jepit dan seketika dapat digunakan, tidak perlu repot-repot.
Sandal jepit swallow adalah merk yang paling sering saya lihat diantara merk-merk sandal jepit lainnya. Lembaran karet berbentuk tapak kaki manusia yang dikaitkan dengan tali karet berbentuk huruf 'V'. Sandal jepit ini paling populer karena selain murah, masyarakat kadung mengasosiakan sandal jepit dengan merk swallow, walau mungkin masih banyak sandal jepit dengan merk selain swallow yang lebih berkualitas, tapi karena terlanjur cinta ya swallow tetap jadi yang utama. Namun dengar-dengar swallow kini tak lagi memproduksi sendal, karena pabriknya terbakar beberapa tahun lalu. kasian.
Perannya yang terkesan remeh, ringkas dan tak penting menjadikan sendal jepit sebuah simbol yang lekat dengan aktivitas non-formal (aktivitas yang tidak resmi dan tidak terstruktur dengan aturan). Padahal jika dicermati lebih jauh, hakikat sebuah alat adalah fungsinya, pemaknaan tentang baik-buruk, rapi-tidak rapi, dan formal-non formal hanya sebatas urusan kebiasaan yang ada pada satu komunitas. Misalnya sepatu pantofel yang dianggap formal. Jangan kira kita tidak boleh memakai sepatu pantofel disaat mendaki gunung, boleh saja memang tapi ya biasanya orang-orang akan memakai sendal gunung untuk mempermudah pendakian. Karena secara fungsi memakai sepatu pantofel akan melindungi kaki kita apapun jenis alas kakinya.
Maka jadi sesuatu yang mengherankan saat instansi formal macam kantor pemerintahan yang melayani urusan masyarakat melarang seseorang memakai sendal jepit ketika meminta pelayanan mereka. Baiklah saya tahu bahwa tiap orang mesti menaati tata krama dan adat istiadat yang berlaku di suatu daerah, dimana bumi dipijak disitu langit di junjung, saya tahu itu. Tapi akan jadi sebuah lelucon saat sandal jepit menjadi ukuran dalam melayani.
Ada yang bilang, "instansi pemerintah mengharuskan memakai pakaian formil agar terlihat rapi", ukuran formal-non formal, rapi-tidak rapi sesuatu yang sifatnya relatif, dan hanya sekedar masalah kebiasaan, karena sesuatu yang sifatnya masih debatable semestinya dikembalikan lagi pada fungsinya. Seperti misalnya urusan menutup aurat, itu masalah yang sudah mutlak dan tak perlu lagi diperdebatkan, karena jelas-jelas hampir semua kalangan melarang seseorang bertelanjang ria untuk mengurus KTP, berbeda dengan urusan formil-non formil yang ukurannya masih relatif.
Tapi memang urusan-urusan seperti ini (formal non-formal, rapi-tidak rapi) terlanjur menghegemoni alat berpikir masyarakat indonesia. Seolah tak ada lagi ruang dalam mendiskusikan kembali makna fungsi dan persyaratan dalam ukuran melayani. Mindsetnya kadung tercampur dan sulit membedakan mana yang esensi dan mana yang sekedar simbol belaka. Sehingga pokok pelayanan seperti profesionalisme, ramah, dan bebas dari unsur KKN menjadi tertutupi untuk urusan remeh temeh macam sendal jepit ini.
Memang yang namanya sendal jepit hanya sekedar alas kaki yang tak seindah sepatu pantofel atau sepatu olahraga, bentuknya pun kurang ergonomis dan safety, tapi setidaknya jangan menilai seseorang hanya melalui alas kakinya, karena ukuran kualitas tak sekedar dilihat dari sepatu atau sandal yang dipakainya, bahkan tak sedikit yang memakai sepatu indah nan gagah yang justru bergelimang keburukan, pernah lihat koruptor memakai sendal jepit? hehe.. kalau saya sih belum pernah melihatnya, yang saya sering lihat malah sendal jepit dipakai oleh orang-orang yang ingin beribadah, berwudhu, mencari nafkah di pelosok pasar. Orang-orang yang menyiratkan makna kesederhanaan dan pengorbanan.
"Sesungguhnya Allah SWT. tidak melihat pada rupa dan hartamu, akan tetapi Allah SWT. melihat pada hati dan amal-amalmu." (HR. Muslim)
Sandal jepit swallow adalah merk yang paling sering saya lihat diantara merk-merk sandal jepit lainnya. Lembaran karet berbentuk tapak kaki manusia yang dikaitkan dengan tali karet berbentuk huruf 'V'. Sandal jepit ini paling populer karena selain murah, masyarakat kadung mengasosiakan sandal jepit dengan merk swallow, walau mungkin masih banyak sandal jepit dengan merk selain swallow yang lebih berkualitas, tapi karena terlanjur cinta ya swallow tetap jadi yang utama. Namun dengar-dengar swallow kini tak lagi memproduksi sendal, karena pabriknya terbakar beberapa tahun lalu. kasian.
Perannya yang terkesan remeh, ringkas dan tak penting menjadikan sendal jepit sebuah simbol yang lekat dengan aktivitas non-formal (aktivitas yang tidak resmi dan tidak terstruktur dengan aturan). Padahal jika dicermati lebih jauh, hakikat sebuah alat adalah fungsinya, pemaknaan tentang baik-buruk, rapi-tidak rapi, dan formal-non formal hanya sebatas urusan kebiasaan yang ada pada satu komunitas. Misalnya sepatu pantofel yang dianggap formal. Jangan kira kita tidak boleh memakai sepatu pantofel disaat mendaki gunung, boleh saja memang tapi ya biasanya orang-orang akan memakai sendal gunung untuk mempermudah pendakian. Karena secara fungsi memakai sepatu pantofel akan melindungi kaki kita apapun jenis alas kakinya.
Maka jadi sesuatu yang mengherankan saat instansi formal macam kantor pemerintahan yang melayani urusan masyarakat melarang seseorang memakai sendal jepit ketika meminta pelayanan mereka. Baiklah saya tahu bahwa tiap orang mesti menaati tata krama dan adat istiadat yang berlaku di suatu daerah, dimana bumi dipijak disitu langit di junjung, saya tahu itu. Tapi akan jadi sebuah lelucon saat sandal jepit menjadi ukuran dalam melayani.
Ada yang bilang, "instansi pemerintah mengharuskan memakai pakaian formil agar terlihat rapi", ukuran formal-non formal, rapi-tidak rapi sesuatu yang sifatnya relatif, dan hanya sekedar masalah kebiasaan, karena sesuatu yang sifatnya masih debatable semestinya dikembalikan lagi pada fungsinya. Seperti misalnya urusan menutup aurat, itu masalah yang sudah mutlak dan tak perlu lagi diperdebatkan, karena jelas-jelas hampir semua kalangan melarang seseorang bertelanjang ria untuk mengurus KTP, berbeda dengan urusan formil-non formil yang ukurannya masih relatif.
Tapi memang urusan-urusan seperti ini (formal non-formal, rapi-tidak rapi) terlanjur menghegemoni alat berpikir masyarakat indonesia. Seolah tak ada lagi ruang dalam mendiskusikan kembali makna fungsi dan persyaratan dalam ukuran melayani. Mindsetnya kadung tercampur dan sulit membedakan mana yang esensi dan mana yang sekedar simbol belaka. Sehingga pokok pelayanan seperti profesionalisme, ramah, dan bebas dari unsur KKN menjadi tertutupi untuk urusan remeh temeh macam sendal jepit ini.
Memang yang namanya sendal jepit hanya sekedar alas kaki yang tak seindah sepatu pantofel atau sepatu olahraga, bentuknya pun kurang ergonomis dan safety, tapi setidaknya jangan menilai seseorang hanya melalui alas kakinya, karena ukuran kualitas tak sekedar dilihat dari sepatu atau sandal yang dipakainya, bahkan tak sedikit yang memakai sepatu indah nan gagah yang justru bergelimang keburukan, pernah lihat koruptor memakai sendal jepit? hehe.. kalau saya sih belum pernah melihatnya, yang saya sering lihat malah sendal jepit dipakai oleh orang-orang yang ingin beribadah, berwudhu, mencari nafkah di pelosok pasar. Orang-orang yang menyiratkan makna kesederhanaan dan pengorbanan.
"Sesungguhnya Allah SWT. tidak melihat pada rupa dan hartamu, akan tetapi Allah SWT. melihat pada hati dan amal-amalmu." (HR. Muslim)
Sunday, 3 February 2013
Operation High Level Part-2
Dua hari berselang, sejak Rian menghubungi Wandi, merekapun bertemu kembali dalam sebuah kafe di bilangan jakarta utara. Kejadian yang sempat memutus hubungan mereka itu berlangsung 13 tahun lalu, kala mereka masih awal meniti karir di dunia profesional. Wandi yang dulu duduk sebagai komisaris utama di sebuah perusahaan jasa konstruksi dikejutkan oleh kabar yang menyebutkan bahwa Rian selaku Direktur melanggar perjanjian terhadap rekanan mereka. Gedung yang sedianya selesai dalam jangka waktu 2 tahun dengan biaya 2,5 Milyar, hanya berjalan dan dikerjakan selama 3 bulan, selebihnya tidak ada kejelasan atas rencana pembangunan gedung itu. Singkat cerita, Rian divonis bersalah dan dijatuhi hukuman 5 tahun karena terbukti melakukan wan prestasi dan penggelapan atas uang yang disetorkan oleh rekanan perusahaan. Praktis hubungan merekapun renggang dan tak ada lagi kabar tentang Rian sejak saat itu.
Sekarang Wandi tak menyangka kembali bertemu dengan Rian. Sudah lebih dari 10 tahun dan kini banyak kisah yang terlewati oleh mereka berdua.
"Bagaimana kabarmu kini? kulihat partaimu sedang naik daun dan sepertinya jalur politik memang cocok denganmu." Rian membuka pembicaraan dengan sepotong basa-basi pertemenan, harapannya pertanyaan ini mungkin akan mencairkan suasana yang masih kaku diantara mereka. Terlihat jelas dari posisi Wandi yang masih menjaga jarak.
"Kabarku baik, syukurlah jalan politik ini membawaku pada sebuah optimisme akan sebuah perubahan, karena kurasa politik mau tak mau jadi jalan yang realistis bagiku kini. Lalu bagaimana denganmu? tak kudengar kabar lagi sejak kejadian 10 tahun lalu"
Rian menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya ke sofa, suara alunan musik dan kerlip cahaya lampu restoran jadi bumbu yang menambah pilu kisah yang dibawanya.
"Aku sedang merintis usaha baru, mungkin baru berjalan sebulan ini. Bergerak di bidang ekspor-impor bahan baku makanan, apapun itu, beras, ketela, kedelai, apa sajalah, yang penting halal, aku ingin memulai kembali, dari nol, aku ingin berubah. maafkan atas ulahku dulu, kuakui saat itu aku gelap mata, kenikmatan sesaat membawaku pada kesengsaraan. Semua orang meninggalkanku tak terkecuali keluarga terdekatku."
Getir kehidupan kawannya itu membuat Wandi Simpati. Ia telah berubah.
"tenang kawan, apapun yang terjadi di masa lalu jadikan sebuah pelajaran, yang jelas apa yang akan kau lakukan, itulah yang harus kau fokuskan."
"terima kasih Wan, kurasa hatiku sedikit lega saat menceritakan hal ini padamu. Semoga hubungan kita membaik kedepannya, oh ya, semoga kau tidak kapok berbisnis denganku. haha"
"insyaAllah kawan, semoga saja."
Dan tawa lepas mengiringi perpisahan mereka di malam itu.
Setitik harapan itu pun muncul. Misi masih panjang, semoga keparat-keparat itu menepati janji mereka.
--
5 hari sebelumnya.
Paket yang ditunggu itupun tiba. Rian dengan segera membuka paket yang bisa jadi merupakan satu-satunya cara menyelamatkan keluarganya. Paket itu dibungkus dengan plastik, nama pengirimnya tidak tertera dan jasa pengirimannya pun tak dikenal. Di dalamnya ada sebungkus amplop putih beserta beberapa dokumen seperti buku tabungan, berkas-berkas akte perjanjian, dan surat surat berharga lainnya. Sesaat iapun heran dengan isi paket ini, tapi dicobanya untuk membaca dulu secarik kertas yang nampak terbungkus rapat di dalam sebuah amplop.
"Tuan Rian Wiranegara, Salam hormat.
Saat anda membaca surat ini, kondisi putra dan istri anda baik-baik saja, mereka dirawat dengan sangat baik oleh staf kami. Di dalam paket ini ada beberapa tabungan, surat berharga, dan beberapa berkas pendirian Perusahaan yang akan anda kelola. Hidup anda akan berubah dan tentunya anak istri anda akan kembali ke pangkuan anda. Syaratnya adalah anda dapat bekerja sama dengan baik, menaati tiap instruksi dan perintah yang kami berikan. Jangan coba-coba lari karena sejak saat ini, tiap gerak gerik anda terawasi dengan ketat oleh agen kami. Dan tentunya, jangan sekali-kali melapor ke polisi karena percuma saja, karena tidak akan ada yang percaya pada cerita anda, dan sedikit banyak para petinggi polisi-polisi itu adalah orang-orang kami juga.
Mulai kini anda telah resmi bergabung dalam sebuah grand design dan rencana panjang untuk sebuah pengabdian. Selamat.
NB. setelah ini, buat perjanjian dengan Ruswandi Wahab. Ceritakan tentang usaha yang anda bangun, dan selanjutnya jangan pernah lepaskan diri dari lingkar kolega terdekatnya. Anda harus menjadi yang terdepan, terus upayakan agar anda menjadi orang kepercayaannya. Dalam dua pekan kedepan, jika anda berhasil melakukan tugas dengan baik, kami akan segera membebaskan keluarga anda.
Salam
Tak lama, Teleponnya berdering kembali, nomor yang sama dengan yang semalam.
"Halo tuan Rian, kurasa anda baru saja menerima dan membaca paket yang baru saja kami kirimkan. Jalankan tugas anda dengan baik. Karena mulai kini, hidup anda akan lebih dari cukup, dengan syarat seperti yang telah anda baca di surat itu."
Rian tak lagi dapat berpikir, ia bingung, kalut dan heran dengan kondisinya kini. "bagaimana dengan keluargaku..bagaimana keadaan mereka"
"oh ya, aku lupa, mereka baik-baik saja, dua pekan lagi, jika kau telah berhasil mendekati Ruswandi, kami akan mengembalikan anak dan istrimu. Kini kau fokuskan saja dengan tugas pertamamu. selanjutnya tunggu instruksi dari kami. Salam"
dan suara gagang telepon yang tertutup memutus percakapan mereka. Rian pun mulai paham, hidupnya kini takkan lagi sama.
--
Di sudut ruang yang gelap, nampak tersulut sepuntung rokok yang menyala terang. Dengan seksama sosok itu mengawasi monitor yang ada di hadapannya, disana jelas terlihat sebuah kamar yang ditempati oleh seorang wanita dan anak kecil. Nina dan putranya Andi.
satu lagi agen yang baru bergabung, satu lagi peluru tajam siap digunakan. Tunggu saatnya tiba sampai mereka siap untuk ditembakan ke sasaran yang tepat.
Kini telah 205 orang telah tersebar di beberapa organisasi besar. Dari beragam latar belakang, dan beragam tujuan. Mungkin kini mereka tidak penting, dan mungkin tidak diperhitungkan, ah ia pun menyukainya, semakin mereka dianggap sepele, semakin tajam fungsi mereka, yang disaat nanti siap dihunuskan dan tepat sasaran menembus jantung lawan.
Sosok itu berjalan keluar dari ruang gelapnya dengan senyum merekah. Memakai baju dinas, dan baret hijau menutupi kepala. Dengan keyakinan penuh, ia naik ke lantai dasar, keluar dari sebuah rumah besar di daerah menteng jakarta pusat. Memacu mobilnya dan berperan kembali sebagai sosok yang ramah senyuman dengan sejuta pesona di hadapan media.
Bersiap untuk misi selanjutnya. beberapa tahun lagi, dan peluru-peluru itu siap ditembakkan.
Sekarang Wandi tak menyangka kembali bertemu dengan Rian. Sudah lebih dari 10 tahun dan kini banyak kisah yang terlewati oleh mereka berdua.
"Bagaimana kabarmu kini? kulihat partaimu sedang naik daun dan sepertinya jalur politik memang cocok denganmu." Rian membuka pembicaraan dengan sepotong basa-basi pertemenan, harapannya pertanyaan ini mungkin akan mencairkan suasana yang masih kaku diantara mereka. Terlihat jelas dari posisi Wandi yang masih menjaga jarak.
"Kabarku baik, syukurlah jalan politik ini membawaku pada sebuah optimisme akan sebuah perubahan, karena kurasa politik mau tak mau jadi jalan yang realistis bagiku kini. Lalu bagaimana denganmu? tak kudengar kabar lagi sejak kejadian 10 tahun lalu"
Rian menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya ke sofa, suara alunan musik dan kerlip cahaya lampu restoran jadi bumbu yang menambah pilu kisah yang dibawanya.
"Aku sedang merintis usaha baru, mungkin baru berjalan sebulan ini. Bergerak di bidang ekspor-impor bahan baku makanan, apapun itu, beras, ketela, kedelai, apa sajalah, yang penting halal, aku ingin memulai kembali, dari nol, aku ingin berubah. maafkan atas ulahku dulu, kuakui saat itu aku gelap mata, kenikmatan sesaat membawaku pada kesengsaraan. Semua orang meninggalkanku tak terkecuali keluarga terdekatku."
Getir kehidupan kawannya itu membuat Wandi Simpati. Ia telah berubah.
"tenang kawan, apapun yang terjadi di masa lalu jadikan sebuah pelajaran, yang jelas apa yang akan kau lakukan, itulah yang harus kau fokuskan."
"terima kasih Wan, kurasa hatiku sedikit lega saat menceritakan hal ini padamu. Semoga hubungan kita membaik kedepannya, oh ya, semoga kau tidak kapok berbisnis denganku. haha"
"insyaAllah kawan, semoga saja."
Dan tawa lepas mengiringi perpisahan mereka di malam itu.
Setitik harapan itu pun muncul. Misi masih panjang, semoga keparat-keparat itu menepati janji mereka.
--
5 hari sebelumnya.
Paket yang ditunggu itupun tiba. Rian dengan segera membuka paket yang bisa jadi merupakan satu-satunya cara menyelamatkan keluarganya. Paket itu dibungkus dengan plastik, nama pengirimnya tidak tertera dan jasa pengirimannya pun tak dikenal. Di dalamnya ada sebungkus amplop putih beserta beberapa dokumen seperti buku tabungan, berkas-berkas akte perjanjian, dan surat surat berharga lainnya. Sesaat iapun heran dengan isi paket ini, tapi dicobanya untuk membaca dulu secarik kertas yang nampak terbungkus rapat di dalam sebuah amplop.
"Tuan Rian Wiranegara, Salam hormat.
Saat anda membaca surat ini, kondisi putra dan istri anda baik-baik saja, mereka dirawat dengan sangat baik oleh staf kami. Di dalam paket ini ada beberapa tabungan, surat berharga, dan beberapa berkas pendirian Perusahaan yang akan anda kelola. Hidup anda akan berubah dan tentunya anak istri anda akan kembali ke pangkuan anda. Syaratnya adalah anda dapat bekerja sama dengan baik, menaati tiap instruksi dan perintah yang kami berikan. Jangan coba-coba lari karena sejak saat ini, tiap gerak gerik anda terawasi dengan ketat oleh agen kami. Dan tentunya, jangan sekali-kali melapor ke polisi karena percuma saja, karena tidak akan ada yang percaya pada cerita anda, dan sedikit banyak para petinggi polisi-polisi itu adalah orang-orang kami juga.
Mulai kini anda telah resmi bergabung dalam sebuah grand design dan rencana panjang untuk sebuah pengabdian. Selamat.
NB. setelah ini, buat perjanjian dengan Ruswandi Wahab. Ceritakan tentang usaha yang anda bangun, dan selanjutnya jangan pernah lepaskan diri dari lingkar kolega terdekatnya. Anda harus menjadi yang terdepan, terus upayakan agar anda menjadi orang kepercayaannya. Dalam dua pekan kedepan, jika anda berhasil melakukan tugas dengan baik, kami akan segera membebaskan keluarga anda.
Salam
Tak lama, Teleponnya berdering kembali, nomor yang sama dengan yang semalam.
"Halo tuan Rian, kurasa anda baru saja menerima dan membaca paket yang baru saja kami kirimkan. Jalankan tugas anda dengan baik. Karena mulai kini, hidup anda akan lebih dari cukup, dengan syarat seperti yang telah anda baca di surat itu."
Rian tak lagi dapat berpikir, ia bingung, kalut dan heran dengan kondisinya kini. "bagaimana dengan keluargaku..bagaimana keadaan mereka"
"oh ya, aku lupa, mereka baik-baik saja, dua pekan lagi, jika kau telah berhasil mendekati Ruswandi, kami akan mengembalikan anak dan istrimu. Kini kau fokuskan saja dengan tugas pertamamu. selanjutnya tunggu instruksi dari kami. Salam"
dan suara gagang telepon yang tertutup memutus percakapan mereka. Rian pun mulai paham, hidupnya kini takkan lagi sama.
--
Di sudut ruang yang gelap, nampak tersulut sepuntung rokok yang menyala terang. Dengan seksama sosok itu mengawasi monitor yang ada di hadapannya, disana jelas terlihat sebuah kamar yang ditempati oleh seorang wanita dan anak kecil. Nina dan putranya Andi.
satu lagi agen yang baru bergabung, satu lagi peluru tajam siap digunakan. Tunggu saatnya tiba sampai mereka siap untuk ditembakan ke sasaran yang tepat.
Kini telah 205 orang telah tersebar di beberapa organisasi besar. Dari beragam latar belakang, dan beragam tujuan. Mungkin kini mereka tidak penting, dan mungkin tidak diperhitungkan, ah ia pun menyukainya, semakin mereka dianggap sepele, semakin tajam fungsi mereka, yang disaat nanti siap dihunuskan dan tepat sasaran menembus jantung lawan.
Sosok itu berjalan keluar dari ruang gelapnya dengan senyum merekah. Memakai baju dinas, dan baret hijau menutupi kepala. Dengan keyakinan penuh, ia naik ke lantai dasar, keluar dari sebuah rumah besar di daerah menteng jakarta pusat. Memacu mobilnya dan berperan kembali sebagai sosok yang ramah senyuman dengan sejuta pesona di hadapan media.
Bersiap untuk misi selanjutnya. beberapa tahun lagi, dan peluru-peluru itu siap ditembakkan.
Friday, 1 February 2013
Politik itu Kotor (katanya)
Ada
adagium yang mengatakan Politik itu kotor, jadi Agama yang bersih dan suci tak
usahlah ikut-ikutan berpolitik, nanti malah merusak citra dan mencoreng
nilai-nilai Agama itu sendiri. Maka tak heran di barat sana, dimana kesucian simbol-simbol keagamaan
dijunjung tinggi, mengharamkan Agama ikut campur dalam urusan Negara. Ia
terpisah dan jadi urusan pribadi masing-masing individu, biarkan Agama tetap
steril dan biarkan kaum sekuler yang berkubang dalam kotornya perpolitikan.
Dalam taraf tertentu, mindset sekulerisme nampak diterima
dengan baik di sebagian Negara muslim, tak terkecuali di Indonesia. Oke,
saya tahu Indonesia
bukan Negara sekuler karena jelas terlihat, nilai-nilai relijiusitas tidak
sekedar menjadi urusan masing-masing individu, tapi telah menjadi bagian dari
kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dimana tokoh-tokoh agama merupakan tonggak berdirinya Negara
ini dan mewarnai sendi kehidupannya. Walau mungkin tetap harus diakui, Negara
ini mau tidak mau berlandaskan pancasila yang tidak secara tegas menjadikan
agama sebagai landasan bernegara meski di sila pertama pancasila tertulis jelas
kata-kata Tuhan di sana.
Maka tidak heran dengan ambigunya nilai-nilai yang
dituliskan dalam pancasila membuat aplikasi kongkret ideologi ini merupakan
tafsiran masing-masing kelompok, entah kelompok agamis, kelompok banci ataupun
kelompok sekuler. Yang agamis mengatakan bahwa berpolitik dan bernegara juga
merupakan bagian dari beragama, ada tanggung jawab kemanusiaan dan amanah tuhan
disana, sehingga ikut andil di dalamnya merupakan sebuah bentuk keharusan.
Yang banci mengatakan ada hal-hal yang secara alami tak
dapat dicampuri agama hingga tak selamanya berpolitik itu cocok dengan konsep
keagamaan, jadi tak usahlah meributkan cara agama dalam bernegara karena memang
tak selamanya agama itu cocok dengan kehidupan (?).
Sedangkan yang
terakhir, yang sekuler mengatakan bahwa politik itu nature nya memang kotor, menghalalkan segala cara untuk mencapai
tujuan, jadi takkan pernah cocok dengan agama yang secara jelas menyatakan
bahwa kebaikan dan keburukan selamanya takkan bersatu. Jadi biarkan sekulerisme
bekerja dan silahkan para tokoh agama duduk manis menjalankan nilai-nilai
rohani.
--
Dan kini nampak jelas terlihat, politik memang dimaknai
kotor oleh sebagian masyarakat negeri ini. Termakan isu yang memang secara
sistematis menempatkan politik tak jauh dari pemakluman akan sebuah kebusukan.
Tak apalah kotor dan bau-bau sedikit, toh wajar saja bukan kalau politik itu
memang tengik? Jadi tak usah heran jika melihat ada politikus yang terjerat
kasus hukum karena memang itu sudah nature
nya. Ya dihujat sedikit dan dicela sesekali tak apalah, toh rakyat cepat lupa
lagipula kami bukan dari kelompok agama, jadi wajarlah melakukan salah, kami
bukan manusia suci.
Standar politik yang terlampau rendah jadi sesuatu yang
lumrah. Sampai-sampai jika ada yang keluar dari mainstream yang ada seolah
dipaksa untuk turun bersama dalam kubangan yang sama. Maka tak sepatutnya jika ada
kelompok agamis berpolitik yang bersih, partai yang profesional, kader yang peduli
dan perilaku yang membangun, karena itu semua bukan sesuatu yang wajar untuk
sebuah laku yang bernama politik di negeri ini. Politik harus tetap pada
maqomnya, sesuatu yang kotor dan busuk, dan
jika ada yang membelot, selayaknya tuk ditempatkan kembali sesuai dengan posisi
sebenarnya meski itu dari kelompok agamis sekalipun.
Maka tak heran, apapun dilakukan demi menempatkan kembali
sebuah organ politik yang bersih pada posisi yang selayaknya bersama para
kubangers, entah dengan pembunuhan karakter ataupun opini yang menyudutkan.
Syaratnya mudah, cari saja satu cela dari mereka dan ungkapkanlah seramai
mungkin, hingga seolah tak tersisa lagi kebaikan yang ada pada mereka.
Sakit, kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat
negeri ini sekarang. Ketika klaim bersih dan jargon professional takkan pernah
tersandang untuk sebuah institusi politik meski ia berasal dari kelompok agama.
Karena sekali saja mengaku bersih, ketika itu pula puluhan, ribuan bahkan
jutaan orang akan berbondong-bondong mencari tahu kesalahan anda dan dengan
bangga mengatakan.. “tuh kan, gw bilang juga
apa, make ngaku-ngaku bersih dan anti korupsi sih, make bawa-bawa agama sih,
sekarang baru ketauan kan??”
Ah negeriku..
Foto : http://fc06.deviantart.net/fs70/f/2011/330/2/e/sejuk_by_karman87-d4hbq2l.jpg
Wednesday, 30 January 2013
Pemuda ganteng Hafidz Quran
X : "is Fatih engaged?"
Y :"he is not got married and not engaged sister !:))"
Z : "who is be him wife i m so sure shes is very lucky girl"
Sepotong percakapan dari banyaknya komentar yang saya perhatikan di laman fanspage Fatih Seferagic. Pemuda dengan suara, masyaAllah, serupa dengan Syaikh Misyari Rashid. Coba lihat tautan berikut, dimana beliau membaca akhir surah Al Baqoroh.
Lihat? bacaan yang mengagumkan, membuat merinding dan hati bergetar. Ketakjubanpun bertambah saat saya membaca profil dirinya. Pemuda 17 tahun keturunan Jerman berkebangsaan Bosnia, sejak usia 4 tahun tinggal di negeri paman sam. Mulai menghafal di usia 9 tahun dan tuntas di usia 12 tahun (wooww..12 tahun men), dan ia melakukannya di sebuah negara yang identik dengan hedonisme dan pergaulan bebas.
Membaca profilnya, jujur, membuat saya iri. Masih muda, semenjak dini hafidz quran, dan yang tak kalah penting, Ganteng.. haha. (mungkin itu beberapa hal yang melatar belakangi dialog tiga orang wanita di laman facebook Fatih yang saya tuliskan di atas) dan setidaknya itu, tentang gantengnya, berhasil memunculkan tanggapan beberapa orang di laman facebook teman saya saat ia membagi tautan tentang profil beliau. Ya betul, kegantengan seolah jadi nilai plus sendiri saat pemuda ini menjadi hafidz quran. Apa karena jarang-jarang pemuda ganteng, tinggal di negara sekuler, menjadi hafidz quran? nampaknya memang jarang, dan bahkan hampir tak ada.
Kecenderungannya mungkin seperti ini, pemuda ganteng punya daya pikat dan beberapa kemudahan dalam beberapa hal. Disenangi banyak orang (karena adem kali ya klo diliat), dan mudah untuk menggaet lawan jenis. Kedua hal tersebut anggaplah hal yang wajar jika dilakukan di zaman ini, televisi dan sinetron menegaskannya dengan profil anak muda keren yang dengan mudahnya memikat hati perempuan dan lalu mempermainkannya.
Tapi hal ini jadi sesuatu yang unik saat Fatih Seferagic memperlihatkannya pada kita. Bahwa masih ada pemuda, berusia 17 tahun, tinggal di amerika, (loh gantengnya mana?), ya ya, ganteng juga dan ia Hafidz Quran. Akan berbeda saat ada pemuda dengan paras biasa-biasa saja, tinggal di Indonesia (negeri muslim terbesar), usia 25 tahun, dan baru menghafal beberapa surah juz 'Amma (ini gw banget kayaknya). Karena mungkin, entah ya, godaan dan ujian si pemuda Indonesia itu tidak sebesar Fatih yang tinggal di amerika, usia 17 tahun, ganteng pula, eh malah berhasil menghafalkan Quran di sana. Tak cuma menghafal Quran, beliau juga fasih dalam menjelaskan kata per kata, secara tekstual dan kontekstual, beberapa ayat dalam Al Quran dan menafsirkannya dalam sebuah bentuk penjelasan yang komprehensif. Tautan ini contohnya
Semoga beliau istiqomah sekuat Yusuf dalam menghamba dan bertaqwa padaNya. Semoga Allah menjaga beliau selalu, sebagaimana beliau menjaga firman-firmanNya.
Amin.
Karena saat ini sulit mencari tauladan bagi remaja
Y :"he is not got married and not engaged sister !:))"
Z : "who is be him wife i m so sure shes is very lucky girl"
Sepotong percakapan dari banyaknya komentar yang saya perhatikan di laman fanspage Fatih Seferagic. Pemuda dengan suara, masyaAllah, serupa dengan Syaikh Misyari Rashid. Coba lihat tautan berikut, dimana beliau membaca akhir surah Al Baqoroh.
Lihat? bacaan yang mengagumkan, membuat merinding dan hati bergetar. Ketakjubanpun bertambah saat saya membaca profil dirinya. Pemuda 17 tahun keturunan Jerman berkebangsaan Bosnia, sejak usia 4 tahun tinggal di negeri paman sam. Mulai menghafal di usia 9 tahun dan tuntas di usia 12 tahun (wooww..12 tahun men), dan ia melakukannya di sebuah negara yang identik dengan hedonisme dan pergaulan bebas.
Membaca profilnya, jujur, membuat saya iri. Masih muda, semenjak dini hafidz quran, dan yang tak kalah penting, Ganteng.. haha. (mungkin itu beberapa hal yang melatar belakangi dialog tiga orang wanita di laman facebook Fatih yang saya tuliskan di atas) dan setidaknya itu, tentang gantengnya, berhasil memunculkan tanggapan beberapa orang di laman facebook teman saya saat ia membagi tautan tentang profil beliau. Ya betul, kegantengan seolah jadi nilai plus sendiri saat pemuda ini menjadi hafidz quran. Apa karena jarang-jarang pemuda ganteng, tinggal di negara sekuler, menjadi hafidz quran? nampaknya memang jarang, dan bahkan hampir tak ada.
Kecenderungannya mungkin seperti ini, pemuda ganteng punya daya pikat dan beberapa kemudahan dalam beberapa hal. Disenangi banyak orang (karena adem kali ya klo diliat), dan mudah untuk menggaet lawan jenis. Kedua hal tersebut anggaplah hal yang wajar jika dilakukan di zaman ini, televisi dan sinetron menegaskannya dengan profil anak muda keren yang dengan mudahnya memikat hati perempuan dan lalu mempermainkannya.
Tapi hal ini jadi sesuatu yang unik saat Fatih Seferagic memperlihatkannya pada kita. Bahwa masih ada pemuda, berusia 17 tahun, tinggal di amerika, (loh gantengnya mana?), ya ya, ganteng juga dan ia Hafidz Quran. Akan berbeda saat ada pemuda dengan paras biasa-biasa saja, tinggal di Indonesia (negeri muslim terbesar), usia 25 tahun, dan baru menghafal beberapa surah juz 'Amma (ini gw banget kayaknya). Karena mungkin, entah ya, godaan dan ujian si pemuda Indonesia itu tidak sebesar Fatih yang tinggal di amerika, usia 17 tahun, ganteng pula, eh malah berhasil menghafalkan Quran di sana. Tak cuma menghafal Quran, beliau juga fasih dalam menjelaskan kata per kata, secara tekstual dan kontekstual, beberapa ayat dalam Al Quran dan menafsirkannya dalam sebuah bentuk penjelasan yang komprehensif. Tautan ini contohnya
Semoga beliau istiqomah sekuat Yusuf dalam menghamba dan bertaqwa padaNya. Semoga Allah menjaga beliau selalu, sebagaimana beliau menjaga firman-firmanNya.
Amin.
Karena saat ini sulit mencari tauladan bagi remaja
Sunday, 20 January 2013
Antara yang Memimpin dan yang Dipimpin
"karena saat itu Abu Bakar, Umar dan Utsman memimpin orang-orang seperti aku, sedangkan saat ini aku memimpin orang-orang seperti kalian" Ali bin Abi Thalib, saat ditanya mengapa kondisi begitu mengenaskan di masa kepemimpinannya.
Sesuatu yang dipilih hakikatnya memiliki kesamaan dengan yang memilih atau paling tidak, ada sebuah preferensi, hal menarik yang membuat ia dipilih oleh yang memilih. Contohnya ketika kita memilih obat batuk dengan merek A. Kita meminum obat batuk A karena cocok dengan batuk yang kita alami, sesederhana itu. Contoh lainnya ketika kita memilih shampoo dengan merek B. Kita memakai shampoo B karena sesuai dengan jenis rambut kita yang berminyak dan mudah rontok, maka kita pun memilih shampoo B. Maka semua hal dipilih karena sesuai dengan yang memilih. Biasanya seperti itu.
Sama halnya saat kita memilih pemimpin. Kalau yang menjadi pemimpin, orang yang dipilih menjadi pemimpin adalah seorang yang gemar menipu, pintar memanipulasi, egois dan tidak peka, mungkin saja yang memilih pun tidak jauh berbeda dengan yang dipilih. Jadi bagi saya tidak perlu lah kita terlalu mengkritik, menghujat dan menghina para wakil rakyat yang belum sesuai dengan harapan kita, yang masih saja akrab dengan manipulasi, korupsi, dan hipokrisme. Karena bisa jadi kita tak jauh berbeda dengan mereka.
Tapi bagaimanapun saya paham dengan kondisi rakyat saat ini Tak lagi mempan dengan nasihat dan petuah seperti apa yang saya tuliskan di atas. Kesulitan dan kerasnya hidup membuat kata-kata manis tak lagi mampu meredam kemarahan mereka kepada para pemimpinnya. Namun, apa lagi yang dapat kita lakukan? selalu menghujat dengan kata-kata kasar dan mengeluh atas perilaku para wakil rakyat? apa hal itu dapat mengubah keadaan? panggil saya jika cara itu berhasil memperbaiki kondisi, saya akan mendukung anda sepenuhnya, tapi kenyataannya belum bukan?
Mengapa kita memilih sistem demokrasi dalam memilih pemimpin? karena kita dapat memilih secara transparan, adil, dan terbuka orang-orang terbaik yang ada di tengah-tengah kita sebagai seorang pemimpin. Kalau yang terpilih justru orang-orang yang buruk? ada dua kemungkinan, kita yang belum bijak dalam memilih pemimpin, atau kitalah yang memang buruk sehingga tak heran pemimpin yang terpilihpun buruk.
"Normatif, pasti akhirnya menyuruh rakyat untuk memperbaiki dirinya terlebih dulu, basi bro..." Ya ya, apapun itu, bagaimanapun reaksi kita, meluapkan kemarahan atau sekedar berkeluh kesah, keadaannya akan tetap sama, rakyat dengan kesengsaraannya, dan wakil rakyat dengan perilakunya. Tapi setidaknya, bergerak terus dalam memperbaiki diri, lebih baik dan bermanfaat dibandingkan diam membisu dan pasrah menerima takdir.
Nobody can give you freedom. Nobody can give you equality or justice or anything. If you're a man, you take it. - Malcolm X
foto : http://mimadrasahmerdeka.files.wordpress.com/2009/10/pemimpin-untuk-rakyat.jpg
Sesuatu yang dipilih hakikatnya memiliki kesamaan dengan yang memilih atau paling tidak, ada sebuah preferensi, hal menarik yang membuat ia dipilih oleh yang memilih. Contohnya ketika kita memilih obat batuk dengan merek A. Kita meminum obat batuk A karena cocok dengan batuk yang kita alami, sesederhana itu. Contoh lainnya ketika kita memilih shampoo dengan merek B. Kita memakai shampoo B karena sesuai dengan jenis rambut kita yang berminyak dan mudah rontok, maka kita pun memilih shampoo B. Maka semua hal dipilih karena sesuai dengan yang memilih. Biasanya seperti itu.
Sama halnya saat kita memilih pemimpin. Kalau yang menjadi pemimpin, orang yang dipilih menjadi pemimpin adalah seorang yang gemar menipu, pintar memanipulasi, egois dan tidak peka, mungkin saja yang memilih pun tidak jauh berbeda dengan yang dipilih. Jadi bagi saya tidak perlu lah kita terlalu mengkritik, menghujat dan menghina para wakil rakyat yang belum sesuai dengan harapan kita, yang masih saja akrab dengan manipulasi, korupsi, dan hipokrisme. Karena bisa jadi kita tak jauh berbeda dengan mereka.
Tapi bagaimanapun saya paham dengan kondisi rakyat saat ini Tak lagi mempan dengan nasihat dan petuah seperti apa yang saya tuliskan di atas. Kesulitan dan kerasnya hidup membuat kata-kata manis tak lagi mampu meredam kemarahan mereka kepada para pemimpinnya. Namun, apa lagi yang dapat kita lakukan? selalu menghujat dengan kata-kata kasar dan mengeluh atas perilaku para wakil rakyat? apa hal itu dapat mengubah keadaan? panggil saya jika cara itu berhasil memperbaiki kondisi, saya akan mendukung anda sepenuhnya, tapi kenyataannya belum bukan?
Mengapa kita memilih sistem demokrasi dalam memilih pemimpin? karena kita dapat memilih secara transparan, adil, dan terbuka orang-orang terbaik yang ada di tengah-tengah kita sebagai seorang pemimpin. Kalau yang terpilih justru orang-orang yang buruk? ada dua kemungkinan, kita yang belum bijak dalam memilih pemimpin, atau kitalah yang memang buruk sehingga tak heran pemimpin yang terpilihpun buruk.
"Normatif, pasti akhirnya menyuruh rakyat untuk memperbaiki dirinya terlebih dulu, basi bro..." Ya ya, apapun itu, bagaimanapun reaksi kita, meluapkan kemarahan atau sekedar berkeluh kesah, keadaannya akan tetap sama, rakyat dengan kesengsaraannya, dan wakil rakyat dengan perilakunya. Tapi setidaknya, bergerak terus dalam memperbaiki diri, lebih baik dan bermanfaat dibandingkan diam membisu dan pasrah menerima takdir.
Nobody can give you freedom. Nobody can give you equality or justice or anything. If you're a man, you take it. - Malcolm X
foto : http://mimadrasahmerdeka.files.wordpress.com/2009/10/pemimpin-untuk-rakyat.jpg
Friday, 18 January 2013
Edisi #Banjir jilid 2
Sruput kopi pagi edisi banjir - 2
Benhil, 18 Januari 2013 - 13.30
Sampai sekarang saya masih mengingat jelas beberapa komentar di blog saya terkait pembahasan mengenai pedagang di stasiun pondok cina. Banyak yang pro dengan aksi blokir rel kemarin, dan tidak sedikit pula yang kontra. Yang pro sepertinya sangat paham mengenai kondisi yang terjadi di lapangan, preman galak dengan kesewenangannya dan aparat pekak dengan ketuliannya. Sedang yang kontra lebih dikarenakan terganggunya hak mereka sebagai pengguna jasa layanan KRL, sebuah musibah yang menimpa para penumpang.
Sebagai orang yang sangat mendukung aksi tersebut maka dengan ini saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan anda, para penumpang yang budiman. Namun izinkanlah saya mengutip sebuah ayat dalam Al Quran.
"Tidak ada satupun musibah yang ada di bumi dan pada dirimu melainkan telah tertulis dalam 'lauhul mahfudz' sebelum kami menciptakan dirimu. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah" - Al Hadid : 22.
Susah dan senang, nikmat dan musibah yang terjadi pada anda dan diri saya sepenuhnya merupakan sebuah kehendak yang telah digariskan oleh sang maha kuasa. Termasuk ketika pemblokiran terjadi dan perjalanan anda terganggu. Manusia memang dapat mengubah takdir dan berusaha untuk mendapatkan yang terbaik bagi dirinya dengan jalan usaha dan doa. Tapi sekali lagi, hak prerogratif ada pada tanganNya. Bukan karena pedagang yang memblokir rel kereta, tapi karena memang itu telah dikehendaki olehNya. Tak jadi soal apa dan siapa penyebabnya, kalau perjalanan anda memang ditakdirkan terganggu, mau bagaimanapun anda berusaha, anda tidak akan mampu menolaknya.
Mau bukti? Bagi yang tempo hari mengatakan "ah ini demo bikin gw susah aja, gw jadi pulang terlambat nih, padahal anak gw udah nunggu di rumah, merengek minta susu, dasar gak punya otak", coba kemaren naik kereta ke arah jakarta, apa reaksi anda? Ada yang bisa protes? Silahkan yang mau protes dengan dzat yang menurunkan hujan, silahkan gugat yang menjadikan hujan kemarin begitu deras dan membuat KRL lumpuh total karena banjir. Masih mau protes?
Jadi jangan separah itulah menggugat para pedagang di stasiun. Mereka cuma minta sedikit, sebuah keadilan, itu saja. Toh ternyata penyebabnya bukan karena para pedagang, tapi karena Allah yang menghendaki. Masih ngeyel juga? Baiklah..buka surat Albaqoroh ayat 6, silahkan cari dan baca sendiri, semoga anda dan saya tidak masuk golongan itu. Amin.
- karena Allah maha kuasa
foto : http://www.anneahira.com/images/kereta-api-indonesia.jpg
Benhil, 18 Januari 2013 - 13.30
Sampai sekarang saya masih mengingat jelas beberapa komentar di blog saya terkait pembahasan mengenai pedagang di stasiun pondok cina. Banyak yang pro dengan aksi blokir rel kemarin, dan tidak sedikit pula yang kontra. Yang pro sepertinya sangat paham mengenai kondisi yang terjadi di lapangan, preman galak dengan kesewenangannya dan aparat pekak dengan ketuliannya. Sedang yang kontra lebih dikarenakan terganggunya hak mereka sebagai pengguna jasa layanan KRL, sebuah musibah yang menimpa para penumpang.
Sebagai orang yang sangat mendukung aksi tersebut maka dengan ini saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan anda, para penumpang yang budiman. Namun izinkanlah saya mengutip sebuah ayat dalam Al Quran.
"Tidak ada satupun musibah yang ada di bumi dan pada dirimu melainkan telah tertulis dalam 'lauhul mahfudz' sebelum kami menciptakan dirimu. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah" - Al Hadid : 22.
Susah dan senang, nikmat dan musibah yang terjadi pada anda dan diri saya sepenuhnya merupakan sebuah kehendak yang telah digariskan oleh sang maha kuasa. Termasuk ketika pemblokiran terjadi dan perjalanan anda terganggu. Manusia memang dapat mengubah takdir dan berusaha untuk mendapatkan yang terbaik bagi dirinya dengan jalan usaha dan doa. Tapi sekali lagi, hak prerogratif ada pada tanganNya. Bukan karena pedagang yang memblokir rel kereta, tapi karena memang itu telah dikehendaki olehNya. Tak jadi soal apa dan siapa penyebabnya, kalau perjalanan anda memang ditakdirkan terganggu, mau bagaimanapun anda berusaha, anda tidak akan mampu menolaknya.
Mau bukti? Bagi yang tempo hari mengatakan "ah ini demo bikin gw susah aja, gw jadi pulang terlambat nih, padahal anak gw udah nunggu di rumah, merengek minta susu, dasar gak punya otak", coba kemaren naik kereta ke arah jakarta, apa reaksi anda? Ada yang bisa protes? Silahkan yang mau protes dengan dzat yang menurunkan hujan, silahkan gugat yang menjadikan hujan kemarin begitu deras dan membuat KRL lumpuh total karena banjir. Masih mau protes?
Jadi jangan separah itulah menggugat para pedagang di stasiun. Mereka cuma minta sedikit, sebuah keadilan, itu saja. Toh ternyata penyebabnya bukan karena para pedagang, tapi karena Allah yang menghendaki. Masih ngeyel juga? Baiklah..buka surat Albaqoroh ayat 6, silahkan cari dan baca sendiri, semoga anda dan saya tidak masuk golongan itu. Amin.
- karena Allah maha kuasa
foto : http://www.anneahira.com/images/kereta-api-indonesia.jpg
Tuesday, 15 January 2013
Panas : antara pedagang, mahasiswa, dan penumpang kereta
Tidak biasanya, kemarin cuaca sungguh panas seharian. Dari jakarta hingga depok sinar hangat menyinari kedua wilayah itu. Padahal beberapa hari sebelumnya hujan secara merata mengguyur jakarta dan daerah sekitarnya. Tapi kemarin tidak biasanya, seperti ada maksud yang ingin disampaikan, ada hikmah di balik ini.Panas menyengat dan orang-orang mulai berdatangan. Stasiun pondok Cina mulai sesak dengan massa yang bercampur. Mahasiswa, pedagang, dan orang-orang berbadan besar dengan linggis di tangan. Terik matahari tidak tertahankan lagi, provokasi orang-orang berbadan besar itu nampak menyulut emosi sebagian pedagang.
Bagaimana tidak?? sumber penghidupan mereka dihancurkan, kios yang selama ini menjadi penopang nyawa dibongkar paksa. Tak ada tawar menawar, hanya linggis dan parang yang berbicara. Sedangkan rekan-rekan mahasiswa tak mampu lagi meredakan amarah dan emosi pedagang, hingga tak kuasa menahan mereka memblokir rel kereta.
Suasana sungguh kacau kawan, polisi pun tak punya nyali. Beberapa orang terkena pukulan bahkan linggis, pedagang dan mahasiswa pun hanya bisa meringis. Panas, ya betul, saat itu sungguh panas, karena memang sudah saatnya kita panas melihat kedzoliman yang sudah jelas. Jika kau lihat kedzholiman, ubah dengan tanganmu, bila tidak, dengan ucapanmu, dan yang terakhir jika kau tak mampu maka cukup dengan hatimu, karena itu selemah lemahnya iman. Dan kami jelas-jelas masih kuat beriman.
Panas hari kemarin diganti oleh sang Khaliq dengan Hujan seharian di hari esok, seolah tahu sudah saatnya mengguyur hati dengan kesejukan. Biarlah kini semuanya terendapkan dulu dengan Rahmat turunnya hujan. Biarlah guyurannya sementara waktu menghapus perih yang dirasa. Jika semua telah kembali tenang, bergerak pun lebih lega tuk dilakukan.
Panas kemarin mengundang panas semua orang, tidak hanya pedagang, para penumpang yang terlunta turut merasakan, emosi mereka tersulut. Tapi setidaknya panas kami berbeda kawan, karena panas kami jelas punya maksud dan tertulis jelas dalam syariat.
Untuk Kalian yang terus berjuang.
Monday, 14 January 2013
'Umar : blusukan before it was cool
Apa saja dilakukan pejabat negeri ini demi mendapat dukungan rakyat. Entah itu iklan di TV, Baliho, atau spanduk, atau ada juga yang langsung menyapa para pendukungnya yang ternyata luar biasa banyak, satu lapangan penuh meneriakkan dan mengelu-elukan nama mereka, terlepas dari faktor U (baca:uang) yang berbicara di sana, tapi usaha mereka patut diapresiasi, setidaknya memberikan rakyat hiburan tersendiri, diliput media dan kampung mereka menjadi ramai.
Ada trend terbaru dalam mencari dukungan rakyat yang dipopulerkan oleh Gubernur Jakarta saat ini, Jokowi, orang-orang menyebutnya Blusukan. Di dalam kamus Bahasa Indonesia blusukan nampaknya belum terdaftar secara resmi, tapi di kamus masyarakat jawa, blusukan secara harfiah berarti masuk. Secara definitif blusukan berarti masuk dari kampung ke kampung menyapa masyarakat secara lansung. Dimana blusukan ini jadi ciri khas jokowi dalam kampanye pilkada DKI yang lalu.
Blusukan efektif menggaet hati masyarakat. Pemimpin yang biasa mereka lihat hanya di TV, sekarang menyapa mereka secara langsung tanpa ada batas tanpa ada sekat. Jarak yang dulu memisahkan dan kesan pemimpin yang elitis kini hilang. Masyarakat dapat bertanya langsung pada pemimpinnya perihal permasalahan mereka, mengeluh, mengeluarkan uneg-uneg tanpa dibatasi dinding-dinding protokoler. Masyarakat senang, keluh kesah mereka didengar, karena terkadang mereka hanya butuh didengar. Si pemimpin pun ikut senang, simpati berdatangan, target suarapun dalam genggaman. Efektif memang, dan itu terbukti saat Jokowi menang.
Namanya juga trend, pasti banyak yang meniru. Selain Jokowi beberapa pejabat juga mengikuti trend blusukan ini, sebut saja ARB, HADE 2.0 (Cagub Jabar), Rieke-Teten (Cagub Jabar), bahkan SBY pun juga ikut-ikutan. Beberapa kali SBY terlihat tengah turun ke tengah masyarakat, menyapa mereka langsung. Blusukan jadi begitu populer.
--
Ah tapi bagi saya hal itu tidak luar biasa, apa yang Jokowi populerkan sudah jauh-jauh hari dilakukan oleh salah seorang pemimpin Islam pengganti Abu Bakar, Khalifah kedua, Amirul Mu'minin, Umar Ibn Khattab RA. Sejarah mencatat kegemilangan Umar dalam merevolusi arti kepemimpinan. Aspek manajerial dan administratif sudah tertangani secara efektif dimasa pemerintahannya. Ia yang pertama menetapkan penanggalan hijriah, beliau juga yang mendirikan baitul maal pertama, menetapkan sistem adminstrasi kepegawaian, serta menjamin hak-hak istri, anak dan suami. Satu lagi yang tak kalah penting, beliau selalu berpatroli tiap malam (blusukan) demi melihat langsung kesulitan rakyatnya, demi menjamin hak-hak rakyatnya terpenuhi.
Kisah Umar yang menggendong gandum dari brankas baitul maal ke rumah seorang janda yang memiliki bayi dan lalu memasaknya sendiri jadi legenda yang tak lekang dimakan waktu. Lalu ketika beliau menyamar menjadi seorang musafir dan bertanya pada seorang nenek apa tanggapannya tentang Umar, si nenek pun bilang, "Umar seorang pemimpin yang buruk, dia tidak menghiraukan orang tua seperti ku", lalu Umar yang menyamar berkata "sudikah nenek menerima uangku sebagai tebusan atas kesalahan umar tersebut?" dan si nenek pun bersedia menerima Uang tersebut, "terima kasih ya nak". Tak lama Utsman dan Ali datang menyapa beliau "wahai Amirul Mu'minin" dan akhirnya terkejutlah si nenek, ternyata orang yang bertanya tadi adalah Umar "maafkan saya Amirul Mu'minin, saya tidak tahu", Umar hanya tersenyum dan berkata "tak apa nek". Sungguh sketsa yang indah dari seorang pemimpin yang amanah.
Begitulah Islam mengajarkan, jabatan adalah amanah dan harus dipertanggung jawabkan nantinya dihadapan Allah. Jadi terlepas dari apapun motifnya, entah untuk mendulang suara atau sekedar mencari popularitas, blusukan hendaknya dimaknai lebih dalam oleh para pemimpin. Bila niatnya cuma karena suara, blusukan akan cepat busuk, umurnya tak lama. Tapi bila niatnya ikhlas melayani rakyat, insyaAllah dampaknya lebih lama dan lebih berkah bagi si pemimpin, karena di sebagian suara rakyat ada suara orang-orang terdzolimi, dan doa mereka secepat kilat dapat menembus langit.
foto : http://sikokoh.files.wordpress.com/2012/08/rumah-rakyat-kecil.jpg
Ada trend terbaru dalam mencari dukungan rakyat yang dipopulerkan oleh Gubernur Jakarta saat ini, Jokowi, orang-orang menyebutnya Blusukan. Di dalam kamus Bahasa Indonesia blusukan nampaknya belum terdaftar secara resmi, tapi di kamus masyarakat jawa, blusukan secara harfiah berarti masuk. Secara definitif blusukan berarti masuk dari kampung ke kampung menyapa masyarakat secara lansung. Dimana blusukan ini jadi ciri khas jokowi dalam kampanye pilkada DKI yang lalu.
Blusukan efektif menggaet hati masyarakat. Pemimpin yang biasa mereka lihat hanya di TV, sekarang menyapa mereka secara langsung tanpa ada batas tanpa ada sekat. Jarak yang dulu memisahkan dan kesan pemimpin yang elitis kini hilang. Masyarakat dapat bertanya langsung pada pemimpinnya perihal permasalahan mereka, mengeluh, mengeluarkan uneg-uneg tanpa dibatasi dinding-dinding protokoler. Masyarakat senang, keluh kesah mereka didengar, karena terkadang mereka hanya butuh didengar. Si pemimpin pun ikut senang, simpati berdatangan, target suarapun dalam genggaman. Efektif memang, dan itu terbukti saat Jokowi menang.
Namanya juga trend, pasti banyak yang meniru. Selain Jokowi beberapa pejabat juga mengikuti trend blusukan ini, sebut saja ARB, HADE 2.0 (Cagub Jabar), Rieke-Teten (Cagub Jabar), bahkan SBY pun juga ikut-ikutan. Beberapa kali SBY terlihat tengah turun ke tengah masyarakat, menyapa mereka langsung. Blusukan jadi begitu populer.
--
Ah tapi bagi saya hal itu tidak luar biasa, apa yang Jokowi populerkan sudah jauh-jauh hari dilakukan oleh salah seorang pemimpin Islam pengganti Abu Bakar, Khalifah kedua, Amirul Mu'minin, Umar Ibn Khattab RA. Sejarah mencatat kegemilangan Umar dalam merevolusi arti kepemimpinan. Aspek manajerial dan administratif sudah tertangani secara efektif dimasa pemerintahannya. Ia yang pertama menetapkan penanggalan hijriah, beliau juga yang mendirikan baitul maal pertama, menetapkan sistem adminstrasi kepegawaian, serta menjamin hak-hak istri, anak dan suami. Satu lagi yang tak kalah penting, beliau selalu berpatroli tiap malam (blusukan) demi melihat langsung kesulitan rakyatnya, demi menjamin hak-hak rakyatnya terpenuhi.
Kisah Umar yang menggendong gandum dari brankas baitul maal ke rumah seorang janda yang memiliki bayi dan lalu memasaknya sendiri jadi legenda yang tak lekang dimakan waktu. Lalu ketika beliau menyamar menjadi seorang musafir dan bertanya pada seorang nenek apa tanggapannya tentang Umar, si nenek pun bilang, "Umar seorang pemimpin yang buruk, dia tidak menghiraukan orang tua seperti ku", lalu Umar yang menyamar berkata "sudikah nenek menerima uangku sebagai tebusan atas kesalahan umar tersebut?" dan si nenek pun bersedia menerima Uang tersebut, "terima kasih ya nak". Tak lama Utsman dan Ali datang menyapa beliau "wahai Amirul Mu'minin" dan akhirnya terkejutlah si nenek, ternyata orang yang bertanya tadi adalah Umar "maafkan saya Amirul Mu'minin, saya tidak tahu", Umar hanya tersenyum dan berkata "tak apa nek". Sungguh sketsa yang indah dari seorang pemimpin yang amanah.
Begitulah Islam mengajarkan, jabatan adalah amanah dan harus dipertanggung jawabkan nantinya dihadapan Allah. Jadi terlepas dari apapun motifnya, entah untuk mendulang suara atau sekedar mencari popularitas, blusukan hendaknya dimaknai lebih dalam oleh para pemimpin. Bila niatnya cuma karena suara, blusukan akan cepat busuk, umurnya tak lama. Tapi bila niatnya ikhlas melayani rakyat, insyaAllah dampaknya lebih lama dan lebih berkah bagi si pemimpin, karena di sebagian suara rakyat ada suara orang-orang terdzolimi, dan doa mereka secepat kilat dapat menembus langit.
foto : http://sikokoh.files.wordpress.com/2012/08/rumah-rakyat-kecil.jpg
Tuesday, 8 January 2013
Gulali
Raut wajah kegembiraan tak kunjung pudar sejak ia menjejakkan kaki kembali di sekolah ini. Banyak perubahan terlebih jika melihat dirinya kini. Perut membuncit, rambut menipis dan janggut yang memutih, tapi bukan, bukan dirinya yang menjadi sorotan, tapi tempat ini. Gerbang sekolah, pepohonan, lonceng bel itu, semuanya telah berganti. Penghuninya pun tak jauh beda, Pak tua penjaga sekolah, emak kantin, guru-guru, ah nampaknya usia memang tak bisa dibohongi, dan kini senyum manis serta sapa ramah mereka sedikit berbeda seiring waktu berjalan.
Pagi itu sekolah sungguh ramai oleh hilir mudik siswa dan orang tuanya. Awal tahun ajaran baru memang tak jauh beda dengan pasar malam, penuh dan sesak. Ia coba mencari ruang sembari sesekali berujar permisi pada beberapa orang. Di sampingnya menggenggam erat tangan mungil yang khawatir kehilangan sang ayah, terlihat si kecil sedikit panik saat genggaman sang ayah terlepas..
"Aaabiii.." si kecilpun merajuk.
"Iya nak, Abi disini. ayo kita bergegas, kelasmu ada di ujung lorong itu"
Si kecil dan ayah berjalan melintasi lorong yang lebih sepi dibanding suasana di aula tadi. Sesekali dengan mendelik penasaran, si kecil mengamati suasana kelas yang telah memulai aktivitasnya.
"nah sekarang, Abi pamit dulu ya.. nanti ibu yang menjemput"
"Tapi tapi," nampak si kecil masih memegang erat celana panjang si ayah, suasana baru dan orang-orang baru, situasi yang tak mudah bagi bocah berumur 6 tahun ini.
Sang ayah berdiri agak merendah, dan mensejajarkan diri dengan si kecil "Tenang nak, mereka kawan-kawanmu, kau dapat bermain bersama mereka, berlarian, belajar menghitung, bu guru pun juga baik, pasti kau senang bersama mereka"
Nampaknya sugesti sang Ayah berhasil, terlihat genggaman si kecil sedikit meregang. Sembari berucap terima kasih pada bu guru, si ayah pamit pulang meski si kecil sesekali melihat ke belakang sambil memegang tangan sang guru. Selamat nak, selamat mengawali langkah masa depan.
Tak lama, ia pun tersadar, ia harus bergegas menuju tempat kerja. Sembari melihat arloji di tangan, ia melangkah pasti menuju area parkir sekolah. Ah itu mobilnya, dan pandangnya pun teralih sebelum sempat membuka pintu mobilnya. Disana, abang tukang gulali, ia masih ada.
Ia pun mendekati si abang dan berjongkok di hadapan kuali kecil berisi adonan lunak permen lengket berwarna merah dan hijau. Nampak si abang masih sibuk mengaduk adonan gulali.
"bang Beli gulalinya satu"
"baik pak, mau yang warna apa?" terlihat si abang penjual mempersiapkan adonan dan mengambil beberapa adonan berwarna merah dan hijau.
"hm..kalau di bikin bentuk burung atau pesawat bisa kan bang?"mendengar pertanyaannya, si abang gulali hanya terpekur. Jarang sekali orang dewasa meminta dibuatkan gulali berbentuk hewan atau benda. Si abang gulali pun segera memenuhi permintaan pelanggannya. Dengan cekatan ia pun mengolah bentuk adonan gulali warna merah dan hijau menjadi bentuk pesawat.
Si ayah nampak asyik memandang pertunjukkan yang diperlihatkan si abang gulali. Ah gulali ini, kenangan itu kembali muncul, 42 tahun lalu ia juga berjongkok di tempat ini memandangi si abang gulali yang sama membuat bentuk gulali pesawatnya yang pertama. Kala itu ia mengingat persis bagaimana ayahnya kerepotan dengan ulahnya. Ternyata rajukannya dahulu lebih parah dibandingkan anaknya kini sampai-sampai ayahnya membelikan gulali untuk meredakan tangisnya.
"nah nak, gulali itu memang manis dan enak, tapi kita harus tahu, membuatnya tidaklah mudah. Kita harus membakar gula, mencampurnya dengan air dan mengaduknya hingga meleleh sampai siap dibentuk dengan berbagai rupa yang lebih menarik untuk kita santap. Tak jauh beda dengan hidup ini, manisnya terkadang hilang ditelan kesedihan dan kekecewaan, maka anggaplah itu api yang mengolah kehidupan layaknya api mengolah gulali. Olah manis yang terrendam kesedihan itu dengan sabar dan syukur, aduk hingga ia tercampur baik dan membentuk adonan pengalaman. Ketika adonan pengalaman itu telah jadi, kini tinggal kau olah sesuai bentuk yang kau inginkan, yang kau sukai. Rasakan manisnya dan kecap dengan gembira."
Ah ayah, perkataanmu dulu nampak terlalu tinggi bagi anak berumur 6 tahun, tak pernah bisa kucerna, hingga kini akupun baru menyadari dan memahaminya. Beberapa menit berselang, si abang gulali telah selesai dengan tugasnya, burung-burung gulali itu telah jadi. Ditiupnya lubang udara di belakang burung gulali itu dan bunyi itupun bermunculan, sungguh menyenangkan. Sembari meniup ia pun mengecap manisnya gulali. Ah indahnya hidup. ia pun berjalan pulang, mengucap syukur atas manisnya kehidupan.
Pagi itu sekolah sungguh ramai oleh hilir mudik siswa dan orang tuanya. Awal tahun ajaran baru memang tak jauh beda dengan pasar malam, penuh dan sesak. Ia coba mencari ruang sembari sesekali berujar permisi pada beberapa orang. Di sampingnya menggenggam erat tangan mungil yang khawatir kehilangan sang ayah, terlihat si kecil sedikit panik saat genggaman sang ayah terlepas..
"Aaabiii.." si kecilpun merajuk.
"Iya nak, Abi disini. ayo kita bergegas, kelasmu ada di ujung lorong itu"
Si kecil dan ayah berjalan melintasi lorong yang lebih sepi dibanding suasana di aula tadi. Sesekali dengan mendelik penasaran, si kecil mengamati suasana kelas yang telah memulai aktivitasnya.
"nah sekarang, Abi pamit dulu ya.. nanti ibu yang menjemput"
"Tapi tapi," nampak si kecil masih memegang erat celana panjang si ayah, suasana baru dan orang-orang baru, situasi yang tak mudah bagi bocah berumur 6 tahun ini.
Sang ayah berdiri agak merendah, dan mensejajarkan diri dengan si kecil "Tenang nak, mereka kawan-kawanmu, kau dapat bermain bersama mereka, berlarian, belajar menghitung, bu guru pun juga baik, pasti kau senang bersama mereka"
Nampaknya sugesti sang Ayah berhasil, terlihat genggaman si kecil sedikit meregang. Sembari berucap terima kasih pada bu guru, si ayah pamit pulang meski si kecil sesekali melihat ke belakang sambil memegang tangan sang guru. Selamat nak, selamat mengawali langkah masa depan.
Tak lama, ia pun tersadar, ia harus bergegas menuju tempat kerja. Sembari melihat arloji di tangan, ia melangkah pasti menuju area parkir sekolah. Ah itu mobilnya, dan pandangnya pun teralih sebelum sempat membuka pintu mobilnya. Disana, abang tukang gulali, ia masih ada.
Ia pun mendekati si abang dan berjongkok di hadapan kuali kecil berisi adonan lunak permen lengket berwarna merah dan hijau. Nampak si abang masih sibuk mengaduk adonan gulali.
"bang Beli gulalinya satu"
"baik pak, mau yang warna apa?" terlihat si abang penjual mempersiapkan adonan dan mengambil beberapa adonan berwarna merah dan hijau.
"hm..kalau di bikin bentuk burung atau pesawat bisa kan bang?"mendengar pertanyaannya, si abang gulali hanya terpekur. Jarang sekali orang dewasa meminta dibuatkan gulali berbentuk hewan atau benda. Si abang gulali pun segera memenuhi permintaan pelanggannya. Dengan cekatan ia pun mengolah bentuk adonan gulali warna merah dan hijau menjadi bentuk pesawat.
Si ayah nampak asyik memandang pertunjukkan yang diperlihatkan si abang gulali. Ah gulali ini, kenangan itu kembali muncul, 42 tahun lalu ia juga berjongkok di tempat ini memandangi si abang gulali yang sama membuat bentuk gulali pesawatnya yang pertama. Kala itu ia mengingat persis bagaimana ayahnya kerepotan dengan ulahnya. Ternyata rajukannya dahulu lebih parah dibandingkan anaknya kini sampai-sampai ayahnya membelikan gulali untuk meredakan tangisnya.
"nah nak, gulali itu memang manis dan enak, tapi kita harus tahu, membuatnya tidaklah mudah. Kita harus membakar gula, mencampurnya dengan air dan mengaduknya hingga meleleh sampai siap dibentuk dengan berbagai rupa yang lebih menarik untuk kita santap. Tak jauh beda dengan hidup ini, manisnya terkadang hilang ditelan kesedihan dan kekecewaan, maka anggaplah itu api yang mengolah kehidupan layaknya api mengolah gulali. Olah manis yang terrendam kesedihan itu dengan sabar dan syukur, aduk hingga ia tercampur baik dan membentuk adonan pengalaman. Ketika adonan pengalaman itu telah jadi, kini tinggal kau olah sesuai bentuk yang kau inginkan, yang kau sukai. Rasakan manisnya dan kecap dengan gembira."
Ah ayah, perkataanmu dulu nampak terlalu tinggi bagi anak berumur 6 tahun, tak pernah bisa kucerna, hingga kini akupun baru menyadari dan memahaminya. Beberapa menit berselang, si abang gulali telah selesai dengan tugasnya, burung-burung gulali itu telah jadi. Ditiupnya lubang udara di belakang burung gulali itu dan bunyi itupun bermunculan, sungguh menyenangkan. Sembari meniup ia pun mengecap manisnya gulali. Ah indahnya hidup. ia pun berjalan pulang, mengucap syukur atas manisnya kehidupan.
Friday, 4 January 2013
Antara Maldini, Pedagang Stasiun, dan Dirut KAI
Saya penyuka sepakbola, walau mungkin lebih banyak nontonnya
daripada mainnya. :p, Dan sejak umur 9 tahun secara de facto (karena
officially, saya gak terdaftar di member fans club intermilan manapun) saya jadi
bagian dari keluarga besar Interisti Dunia, oh yeaa.. suatu kebanggaan menjadi
bagian dari klub besar dengan sejarah panjangnya.
Membicarakan Intermilan, tentunya tak bisa dipisahkan dari
tetangga sekotanya, AC Milan yang 9 tahun lebih tua. Rivalitas keduanya menjadi
sebuah epic yang tersaji tiap musim diantara rivalitas tim sekota di
beberapa Negara Eropa. Dan dari sekian banyak pemain di dua klub tersebut, ada
dua pemain yang saya berikan salam takzim penghormatan atas dedikasi dan
loyalitas mereka. Javier Zanetti (Intermilan, 1995-Now), dan Paolo Maldini (AC
Milan, 1988-2009). Karena saya (setidaknya) sudah tahu banyak tentang Kapten
Zanetti, kali ini mari kita bahas Maldini, Ilcapitano AC Milan.
Paolo Maldini, anak dari Cesare Maldini, salah seorang
legenda AC Milan
yang pernah pula menangani Timnas Italia. Maldini kecil lahir di keluarga yang
mencintai sepakbola dan sejak usia dini telah menjadi bagian dari tim Junior AC Milan. Kiprahnya
berlanjut hingga tim senior sejak tahun 1988 dan ia lambat laun menjadi sosok
yang tak tergantikan di tim inti Milan
bahkan hingga akhir karirnya.
Raihan sempurna AC Milan
di berbagai kompetisi sejak era Capello hingga Ancelotti tak lepas dari
kepemimpinan Maldini dalam mengawal rekan-rekannya, memotivasi mereka, dan menjadi
sosok sentral dalam membangun kebersamaan tim. Maka tak heran pasca pensiunnya
Maldini, Milan
seolah kehilangan Nakhkoda yang selama ini mengarahkan mereka.
--
Nama Maldini, seolah menjadi trademark di kepala saya untuk
seorang pemimpin yang tangguh, ulet, dan berdedikasi, hingga sayapun beberapa
hari terakhir teringat kembali pada Maldini yang lain, di sana, di Universitas
Indonesia, yang kiprahnya saya kira cukup ‘cetar membahana’, di awali dari
langkah kongkretnya membuat petisi online bagi Palestine, agar zionis
laknatullah menghentikan serangan udara mereka, hingga langkah beraninya
menjadi garda terdepan bagi para pedagang di stasiun.
Dari beberapa sumber yang saya dapatkan, penggusuran yang
dilakukan PT KAI dilakukan tanpa adanya dialog terlebih dahulu, ditambah lagi
secara legal, para pedagang telah mengantungi izin usaha yang telah
ditandatangani oleh pihak PT KAI. Maka ketika penggusuran dilakukan, Maldini
dan kawan-kawan serentak bergerak menjadi bagian yang memperjuangkan hak-hak
pedagang stasiun.
Perjuangan memang tak pernah mudah, sehingga luka memar, dan
intimidasi jadi sesuatu yang wajar, namanya juga berjuang, tidak elok tanpa
adanya bekas, benar kan?
Maka sayapun salut dengan Maldini yang dengan kepemimpinannya dapat mengarahkan dan menggerakkan
rekan-rekan sesama mahasiswa, bahkan membentuk opini yang mendukung para
pedagang, dan menyudutkan Dirut PT KAI.
Dan untuk Dirut PT KAI, Maldini dan kawan kawan nampaknya
sudah cukup fair menempuh jalur positif,, tapi memang saat ini tergantung anda
yang memegang peranan, bola panas sudah dilemparkan dan kini tinggal bagaimana
anda mengolahnya. Jangan takut pak, Maldini dan kawan-kawan sudah cukup dewasa
menerima berbagai masukan anda selaku orang yang lebih tua dan berpengalaman, hingga
harapannya, ada solusi kongkret, signifikan dan positif bagi kedua belah pihak,
antara PT KAI dan pedagang stasiun.
Nb. Selamat berjuang Kawan kawan tetap kuat, insyaAllah Doa Kami menyertai
Subscribe to:
Posts (Atom)








