Hari ini sejenak ku memaknai peristiwa yang berkelabat lewat di depanku. Satu hal yang dapat kukatakan. Mereka bukan bagian dari KITA. Setelah mereka secara diatremal memposisikan diri tuk mengambil jalannya sendiri. Tak masalah jika itu merupakan sebuah rencana yang sudah di susun sedemikian rupa. Tapi menjadi konyol ketika itu dibuat sebagai upaya tuk menegaskan ke-ego-an mereka.
Eksistensi serasa tuhan bagi mereka. Asalkan muncul di permukaan semua inferioritas urusan belakangan. Tak jadi soal yang namanya ideology.Yang penting gerak dulu, berpikir dan memaknai urusan ke seribu. Hingga mungkin membabi buta adalah sebuah habituasi perilaku. Ah.. Mereka sungguh berpijak pada pijakan yang lemah.
Berbeda dengan KITA. Landasan berpijak yang kokoh di atas manhaj perjuangan. Menjadi sebuah motor bagi gerakan para pejuang. Serasa dipandu oleh jalan panjang para syuhada, sholihin yang telah mendahului KITA. Hingga dapat ku berteriak dengan lantang “Kami berpijak pada landasan yang kuat, dan tak mungkin tergoyahkan oleh tipu muslihat kalian”
Jelaskah perbedaan KITA dan mereka??
“berapa banyak orang ada di tengah kita, tetapi bukan kelompok kita, dan berapa banyak orang yang tercatat bagian dari kita. Tetapi tidak ada di tengah kita. Sesungguhnya kekitaan ‘kita’ terletak pada kebersamaan menanggung bebab dakwah dan jalan panjang perjuangan.” –pilar asasi, Alm. Ust Rahmat Abdullah-
-untuk Om dan adek, jangan ragu tuk bergerak saudaraku. Jalan perjuangan masih panjang.-
Monday, 20 October 2008
Friday, 17 October 2008
warisan kepemimpinan
Seorang leadership inspirator suatu saat pernah memberikan petuah pada mahasiswa (yang katanya) calon pemimpin masa depan. Lazimnya sebuah petuah, pastilah isinya tak jauh dari sebuah arahan. Setidaknya anjuran agar si para calon (yang katanya) pemimpin masa depan ini agar menjadi para pemimpin yang baik.
Terdapat satu hal dari berpuluh hal dalam isi petuah yang sejak itu hingga kini selalu terngiang dan meng-hegemoni pikiran saya. Yakni seorang pemimpin yang baik hendaknya memastikan bahwa penerusnya nanti jauh lebih baik dari dirinya. Kaderisasi yang dapat memberikan ‘surga’ bagi penerusnya dan bukannya ‘neraka’ ketika mereka menerima tampuk kepemimpinan darinya.
Tengoklah kondisi actual yang kini terjadi. Tak usah jauh melihat dunia, karena ia sulit untuk kita affirmasi keobjektifannya. Lingkungan kampus di sekeliling saya dapat menjadi sebuah bukti nyata dari kebobrokan system kaderisasi dari sebagian pemimpin. Tentunya para bos dan pimpinan lembaga kemahasiswaan di kampus saya.
Entah karena amanah yang berat atau karena saking nyamannya berada dalam posisi strategis. Para pemimpin ini kerap kali lupa akan fungsi pewarisan yang merupakan salah satu domain dari system kaderisasi. Padahal dengan adanya hal ini sebuah lembaga atau organisasi dapat survive. Paling tidak dalam jangka waktu beberapa tahun ke depan. Baiklah, saya tahu bahwa factor X ikut berperan dalam hal ini. Dimana mungkin saja yang meneruskan tampuk kepemimpinan selanjutnya bukanlah dari golongannya. Karena mungkin saja(sekali lagi) mungkin saja setelah hasil pemilihan ternyata yang memenangkan pertarungan (baca:pemilu?) bukan dari golongannya. Yang membuat si pendahulu ‘ogah’ untuk mewariskan sesuatu. Boro-boro mewariskan, ngobrol aja tak sudi..hehe
Tapi kalau yang menang (menang?) dari golongannya tetap saja terdapat kesalahan yang dilakukan oleh pemimpin sebelumnya. Ia tidak memberitahukan atau mungkin lupa atau mungkin belum sempat menginformasikan beberapa kesalahan fatal yang harus diperbaiki penerusnya. Sehingga ketika berjalan ia masih saja berkutat untuk membereskan masalah yang di’waris’kan oleh pendahulunya. Maka tak heran beberapa lembaga bahkan berjalan di tempat karena saking banyaknya masalah yang diwariskan. Aneh…justru masalah yang diwariskan.
-Untuk pemimpin kelembagaan UI periode selanjutnya-
Sabar-sabar dalam menghadapi kepengurusan mendatang. Karena nampaknya kepengurusan mendatang tambah berat bagi anda semua.
Terdapat satu hal dari berpuluh hal dalam isi petuah yang sejak itu hingga kini selalu terngiang dan meng-hegemoni pikiran saya. Yakni seorang pemimpin yang baik hendaknya memastikan bahwa penerusnya nanti jauh lebih baik dari dirinya. Kaderisasi yang dapat memberikan ‘surga’ bagi penerusnya dan bukannya ‘neraka’ ketika mereka menerima tampuk kepemimpinan darinya.
Tengoklah kondisi actual yang kini terjadi. Tak usah jauh melihat dunia, karena ia sulit untuk kita affirmasi keobjektifannya. Lingkungan kampus di sekeliling saya dapat menjadi sebuah bukti nyata dari kebobrokan system kaderisasi dari sebagian pemimpin. Tentunya para bos dan pimpinan lembaga kemahasiswaan di kampus saya.
Entah karena amanah yang berat atau karena saking nyamannya berada dalam posisi strategis. Para pemimpin ini kerap kali lupa akan fungsi pewarisan yang merupakan salah satu domain dari system kaderisasi. Padahal dengan adanya hal ini sebuah lembaga atau organisasi dapat survive. Paling tidak dalam jangka waktu beberapa tahun ke depan. Baiklah, saya tahu bahwa factor X ikut berperan dalam hal ini. Dimana mungkin saja yang meneruskan tampuk kepemimpinan selanjutnya bukanlah dari golongannya. Karena mungkin saja(sekali lagi) mungkin saja setelah hasil pemilihan ternyata yang memenangkan pertarungan (baca:pemilu?) bukan dari golongannya. Yang membuat si pendahulu ‘ogah’ untuk mewariskan sesuatu. Boro-boro mewariskan, ngobrol aja tak sudi..hehe
Tapi kalau yang menang (menang?) dari golongannya tetap saja terdapat kesalahan yang dilakukan oleh pemimpin sebelumnya. Ia tidak memberitahukan atau mungkin lupa atau mungkin belum sempat menginformasikan beberapa kesalahan fatal yang harus diperbaiki penerusnya. Sehingga ketika berjalan ia masih saja berkutat untuk membereskan masalah yang di’waris’kan oleh pendahulunya. Maka tak heran beberapa lembaga bahkan berjalan di tempat karena saking banyaknya masalah yang diwariskan. Aneh…justru masalah yang diwariskan.
-Untuk pemimpin kelembagaan UI periode selanjutnya-
Sabar-sabar dalam menghadapi kepengurusan mendatang. Karena nampaknya kepengurusan mendatang tambah berat bagi anda semua.
Monday, 6 October 2008
Seputar Materialis Spirituality
Fakta yang kini ada menunjukkan perkembangan baru dalam gaya hidup komunitas perkotaan. Terutama bagi masyarakat kelas atas yang saat ini banyak memainkan peran sentral dalam kehidupan kota besar. Tak hanya mengagungkan aspek materialistis yang lazim dikalangan mereka tapi juga sisi-sisi spiritualitas yang kini berkembang. Mungkin momen Idulfitri dan juga Ramadhan dapat menjadi sandaran dalam melihat fenomena ini.
Tengoklah suasana yang muncul bersamaan dengan datangnya Ramadhan. Berbondong-bondong seluruh lapisan masyarakat menyambutnya. Tak ketinggalan masyarakat kelas atas pun menyambut datangnya bulan suci ini. Terlebih lagi stakeholder yang berkepentingan dalam dunia kelas atas. Para investor, pelaku pasar, dan pemodal yang berlomba menggaet masyarakat perkotaan untuk menggunakan produk mereka. Dengan media yang menjadi ujung tombak, mereka berupaya mencitrakan ramadhan yang penuh dengan materi dan hedonisme kehidupan.
Ramadhan tak lagi dilihat sebagai wasilah dalam meraih kesempurnaan spiritual. Seperti yang umumnya dilakukan dibulan ini. Tapi justru sebaliknya, trend yang ada memperlihatkan bahwa komunitas ini (baca:masyarakat kelas atas) digiring untuk meng-idealkan diri dalam standar materialistik. Memang hal ini tak kentara terlihat ketika ramadhan. Paling umum hanya menggambarkan ramadhan yang penuh dengan makanan mewah dan lezat. Namun, mari kita refleksikan bersama suasana idul fitri yang lalu. Mungkin momen idul fitri lebih jelas dalam memperlihatkan trend ini.
Idul fitri diidentikan dalam aura materialistis. Baju baru, sajadah baru, kendaraan baru dan berbagai materi yang dapat diindrai. Momen ini tak lagi dijadikan standar bagi terbentuknya insan baru yang telah melewati tahapan proses spiritual. Akan tetapi, ia hanya dijadikan sarana bagi komunitas ini (baca: kelas atas) mengklaim diri telah mencapai tahap peak experience spirituality (kondisi puncak penghayatan spiritual). Yang sekonyong-konyong justru menempatkan diri mereka dalam posisi pseudo spirituality (kondisi spiritual semu).
Pseudo spirituality hakikatnya adalah disonansi yang terjadi saat sisi spiritual dihayati melalui sisi material. Ia (baca:sisi spiritual) tak lagi dihayati sebagai sesuatu yang metafisik namun telah dimaknai sebagai sesuatu yang indrawi. Metafisik yang berarti melebihi kemampuan fisik dalam merespon kondisi sekitar, merupakan penghayatan dari sisi spiritual yang dibutuhkan untuk membangun kondisi puncak penghayatan spiritual (peak experience spirituality). Maka tak heran puasa yang notabene melatih sisi spiritual kita, dapat dijadikan sarana untuk melatih diri dalam mengontrol aspek indrawi yang dimiliki manusia.
Berkat proses metafisik yang tak lagi dijadikan landasan dalam menggapai kondisi genuineness spirituality (kondisi spiritual murni). Dimana ia merupakan buah dari peak experience spirituality, tak pernah menyambangi para materialis spirituality (proses spiritual para pengagum materi). Yang dikhawatirkan menjadi status baru bagi para masyarakat kelas atas.
Kondisi ini akan terus bertahan selama tatanan yang menyusun masyarakat terutama kelas atasnya masih memiliki paradigma yang semu pada sisi spiritual. Yakni para pelaku pasar, investor, dan pemodal yang memiliki peranan besar dalam hal ini. Memang tak patut pula kita menyalahkan para pemegang kunci-kunci keuangan seperti mereka. Karena bisa saja disebabkan hal-hal tertentu yang menjadi variable sekunder akan hal ini. Namun, kenyataan yang kini ada menunjukkan keselarasan dengan hipotesis penulis.
Sehingga nantinya mungkin saja masyarakat kelas atas tak lagi dapat merasakan nikmatnya genuinennes spirituality. Dan justru terjebak dalam status baru mereka sebagai materialis spirituality.
Tengoklah suasana yang muncul bersamaan dengan datangnya Ramadhan. Berbondong-bondong seluruh lapisan masyarakat menyambutnya. Tak ketinggalan masyarakat kelas atas pun menyambut datangnya bulan suci ini. Terlebih lagi stakeholder yang berkepentingan dalam dunia kelas atas. Para investor, pelaku pasar, dan pemodal yang berlomba menggaet masyarakat perkotaan untuk menggunakan produk mereka. Dengan media yang menjadi ujung tombak, mereka berupaya mencitrakan ramadhan yang penuh dengan materi dan hedonisme kehidupan.
Ramadhan tak lagi dilihat sebagai wasilah dalam meraih kesempurnaan spiritual. Seperti yang umumnya dilakukan dibulan ini. Tapi justru sebaliknya, trend yang ada memperlihatkan bahwa komunitas ini (baca:masyarakat kelas atas) digiring untuk meng-idealkan diri dalam standar materialistik. Memang hal ini tak kentara terlihat ketika ramadhan. Paling umum hanya menggambarkan ramadhan yang penuh dengan makanan mewah dan lezat. Namun, mari kita refleksikan bersama suasana idul fitri yang lalu. Mungkin momen idul fitri lebih jelas dalam memperlihatkan trend ini.
Idul fitri diidentikan dalam aura materialistis. Baju baru, sajadah baru, kendaraan baru dan berbagai materi yang dapat diindrai. Momen ini tak lagi dijadikan standar bagi terbentuknya insan baru yang telah melewati tahapan proses spiritual. Akan tetapi, ia hanya dijadikan sarana bagi komunitas ini (baca: kelas atas) mengklaim diri telah mencapai tahap peak experience spirituality (kondisi puncak penghayatan spiritual). Yang sekonyong-konyong justru menempatkan diri mereka dalam posisi pseudo spirituality (kondisi spiritual semu).
Pseudo spirituality hakikatnya adalah disonansi yang terjadi saat sisi spiritual dihayati melalui sisi material. Ia (baca:sisi spiritual) tak lagi dihayati sebagai sesuatu yang metafisik namun telah dimaknai sebagai sesuatu yang indrawi. Metafisik yang berarti melebihi kemampuan fisik dalam merespon kondisi sekitar, merupakan penghayatan dari sisi spiritual yang dibutuhkan untuk membangun kondisi puncak penghayatan spiritual (peak experience spirituality). Maka tak heran puasa yang notabene melatih sisi spiritual kita, dapat dijadikan sarana untuk melatih diri dalam mengontrol aspek indrawi yang dimiliki manusia.
Berkat proses metafisik yang tak lagi dijadikan landasan dalam menggapai kondisi genuineness spirituality (kondisi spiritual murni). Dimana ia merupakan buah dari peak experience spirituality, tak pernah menyambangi para materialis spirituality (proses spiritual para pengagum materi). Yang dikhawatirkan menjadi status baru bagi para masyarakat kelas atas.
Kondisi ini akan terus bertahan selama tatanan yang menyusun masyarakat terutama kelas atasnya masih memiliki paradigma yang semu pada sisi spiritual. Yakni para pelaku pasar, investor, dan pemodal yang memiliki peranan besar dalam hal ini. Memang tak patut pula kita menyalahkan para pemegang kunci-kunci keuangan seperti mereka. Karena bisa saja disebabkan hal-hal tertentu yang menjadi variable sekunder akan hal ini. Namun, kenyataan yang kini ada menunjukkan keselarasan dengan hipotesis penulis.
Sehingga nantinya mungkin saja masyarakat kelas atas tak lagi dapat merasakan nikmatnya genuinennes spirituality. Dan justru terjebak dalam status baru mereka sebagai materialis spirituality.
Subscribe to:
Posts (Atom)