Terkadang ia muncul seketika, dan terkadang tak muncul hingga beberapa lama. Terkadang memberikan arahan. Dan terkadang kesalahan. Ia layaknya wangsit yang sering disebut-sebut muncul disaat yang tepat. berputar dalam tataran kognitif hingga berbuah dalam ruang konatif. Ia adalah intuisi
Kini ia muncul kembali. Berada dalam tataran konatif. Tak tahu apakah ini berupa arahan atau kesalahan. Karena saat itu, tiba-tiba aku membuat sebuah putusan yang menurut beberapa orang kontroversial dan tak lazim. Imbasnya sudah tentu ada. Beberapa orang mengeluhkan putusanku dan menyayangkan yang sudah terjadi.
"wah..parah banget lo, sama juga secara gak langsung lo dukung tuh orang"
ini yang pertama
"giliran dulu lo bisa nyuruh gini, dan tegas dalam hal ini ke dia, tapi untuk urusan gini lo gak bisa tegas dan plin plan..jujur, gw gak terima...(kira2 begitu redaksinya, klo gak salah. masih banyak sebenernya)"
ini yang kedua
"lo gak bisa gitu juga donk kak, lo sekarang gak bawa nama lo doang. tapi kita semua, lo tau kan? yang tertulis disana nama gw. Gw udah bilang di atas waktu itu, semuanya tetap, Tapi lo gak dengerin gw dan gak nyimak. Gak peka...(kira-kira begitu redaksinya)
ini yang ketiga
Hingga tibalah hari ini. Ketika akhirnya keputusan ku mulai memperlihatkan hikmah dibaliknya. Ternyata ada ketetapan dari atas yang menjelaskan bahwa seseorang tak jadi maju. Walaupun akhirnya dengan beberapa pertimbangan akhirnya ia tak jadi mundur. Akupun sebenarnya menyayangkan hal ini. Kenapa tidak dari awal aku berusaha menyadari dan memaknai arti dari intuisi ku. sehingga seharusnya hal ini dapat dihindari dengan mencari solusi yang lebih baik.
yah..begitulah..
Wednesday, 17 September 2008
Sunday, 7 September 2008
Menjelajahi Semesta Psikologi [Tulisan Buat Maba Psiko 08]
Mari kita berimajinasi, berkeliling, menjelajahi sebuah wilayah. Sebuah wilayah bernama IKM UI. Di sana di daerah itu terdapat sebuah wilayah lainnya yang bernama psikologi. Ia berada di bagian strategis dari wilayah IKM UI. Berada di dekat pintu gerbang wilayah IKM UI membuat mereka menjadi salah satu tempat persinggahan bagi para pendatang dari luar. Terlebih di daerah ini terdapat berbagai fasilitas yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. Makanan, minuman, sarana ATM dan sebagainya.
Diluar berbagai sarana dan prasarana itu, daerah ini merupakan tempat berkumpulnya sebuah wadah. Sebuah wadah kemahasiswaan yang menaungi para mahasiswanya. Tentunya beberapa diantara kita ada yang telah mengetahuinya. Ada yang tahu? Ya, tepat sekali, wadah itu bernama Ikatan Keluarga Mahasiswa (IKM) Fakultas Psikologi UI.
Sekedar informasi, F.Psi UI merupakan salah satu fakultas yang telah memiliki IKM. Masih banyak sebenarnya wadah kemahasiswaan fakultas lain yang belum memiliki wadah kemahasiswaan formal bagi aktivitas mereka. Sehingga kita patut berbangga bahwa psikologi telah memilikinya. Walaupun kini, IKM F.Psi UI merupakan salah satu IKM termuda di UI dengan Fakultas teknik sebagai IKM tertua. Berdiri pada tahun 2006 membuat pembenahan merupakan kata-kata yang paling tepat bagi organisasi kemahasiswaan di psikologi.
Berdirinya IKM membuat beberapa hal secara nama dan struktural menjadi berubah. Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) sebagai lembaga legislatif dan yudikatif berubah nama menjadi Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM). Senat Mahasiswa (SM) sebagai lembaga eksekutif berubah nama menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Badan Semi Otonom (BSO), lembaga peminatan independent berubah nama menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Sedangkan lembaga yang sebelumnya berada di bawah SM yaitu Badan Kelengkapan Senat Mahasiswa (BKSM) berubah nama menjadi Badan Kelengkapan Badan Eksekutif Mahasiswa (BKBEM).
Itu perubahan dalam hal nama, secara struktural juga terjadi perubahan. Sebelumnya BPM lembaga tertinggi dengan lembaga lain di bawahnya. Kini MPM sejajar dengan BEM dan UKM. Lembaga tertinggi kini dipegang oleh Senat Mahasiswa (SM) yang muncul lagi namun dengan fungsi berbeda. Layaknya lembaga tertinggi, SM hanya berfungsi sebagai tempat koordinasi dan memutuskan perkara yang tidak dapat diselesaikan oleh MPM. Selebihnya fungsi dan wewenang lembaga lain tidak berubah. MPM tetap memiliki wewenang untuk meminta pertanggung jawaban semua lembaga, dan BEM serta UKM juga memiliki kewajiban untuk menjalankan arahan dan konstitusi yang diberikan oleh MPM.
Yup, itu sekilah sejarah IKM F.Psi UI. Membaca kembali sejarah berdirinya membuat kita terharu bahwa mahasiswa sedikit banyak telah menggoreskan sejarah bagi perkembangan psikologi. Terlebih bila kita membaca kembali sejarah mas-mas dan mbak-mbak kita terdahulu. Pastinya membuat kita semakin semangat dalam berkontribusi bagi fakultas dan juga Negara ini. Kini, saya mencoba kembali memberikan sekilas sejarah mas-mas dan mbak-mbak kita yang pernah “bermain” di lembaga kemahasiswaan baik di tingkat fakultas ataupun di tingkat UI.
1. bapak Tubagus Farih, Ketua POMDA, staff khusus Wapres. Pernah menjabat ketua BPM dan SM sekaligus.
Kondisi kemahasiswaan saat itu masih mencari bentuk idealnya. Karena pada saat itu, tahun 70-an, kemahasiswaan secara formal baru berdiri. Lalu apa yang membuatnya bisa memegang dua jabatan itu? Jadi kalau tidak salah kejadiannya begini. Saat itu pemilu untuk memilih ketua SM dan anggota BPM yang baru. Dan saat itu ia menjabat sebagai ketua BPM. Akan tetapi kondisinya saat itu ternyata tidak ada yang mengajukan diri sebagai ketua SM. Karena belum ada peraturan yang mengatur mengenai kejadian seperti ini. Akhirnya sebagai ketua BPM untuk sementara ia menjabat sebagai ketua SM sampai ketua SM yang baru terpilih. Saat itu kalau tidak salah lagi, ia menjabat tidak lama karena ada mekanisme tambahan dalam pemilu. Pemilu diperpanjang dan akhirnya ada mahasiswa yang mencalonkan diri sebagai ketua SM. Fuih…akhirnya..meski Cuma sesaat dan sementara, ia telah membuat sejarah dengan menjadi ketua SM dan BPM dalam satu waktu.
2. Mas Dicky Palupessy, Staff pengajar Psikologi Sosial. Menjabat sebagai ketua SM Psikologi pada tahun reformasi bergulir, tahun 1998.
Teman-teman pastinya tahu apa kontribusi mahasiswa pada tahun 1998. Tepat sekali, mahasiswa menjadi motor perubahan bangsa ini. Dengan menjadi ujung tombak dalam reformasi membuat mahasiswa menjadi salah satu elemen vital pada tahun 1998. mahasiswa psikologi pun saat itu tidak tinggal diam. Bersama mas Dicky, kita juga turut menyuarakan perubahan. Saya agak kurang memiliki gambaran mengenai kejadian pada tahun 1998 di lingkungan psikologi. Mungkin untuk lebih jelasnya teman-teman bisa menanyakannya secara langsung pada saksi hidup peristiwa ini, mas Dicky. Ia memiliki ruangan di bagian psikologi social lantai 3. Bagit teman-teman yang berminat mungkin bisa langsung ke ruangannya, Yah..itung-itung silaturahmi..he.he.
3. Mbak Lieche, Staff pengajar Psikologi Umum dan Eksperiment. Menjadi Doktor termuda di psikologi. Lulus dengan predikat cumlaude sebagai sarjana psikologi, IPK saat lulus= 4. Menjabat sebagai Sekretaris Umum BPM tahun 1988-1989.
Pada tahun ini sepengetahun saya tidak ada kejadian yang menjadi catatan khusus. Tapi secara umum bila melihat mbak Lieche membuat saya terkagum-kagum. Dengan aktivitasnya yang padat sebagai SEKUM BPM tidak membuatnya lalai dalam akademis. Pembuktiannya ia tunjukkan dalam kinerja yang luar biasa dalam perkuliahan. IPK beliau saat lulus adalah 4. sebuah pencapaian yang luar biasa untuk ukuran seorang aktivis. Ini sekaligus merupakan bukti nyata bahwa antara akademis dan organisasi dapat berjalan beriringan dan harmonis. Mungkinkah kita dapat mengikuti jejaknya?? Pasti bisa bila kita berusaha.
4. Mas Peby Elan, angkatan 92, HRD Bank Syariah Mandiri. Pendiri sekaligus ketua FUSI pertama. Setelah menjadi ketua FUSI, ia terpilih sebagai Ketua SM.
Pada tahun kepengurusannya sebagai ketua SM. Ia banyak menghadapi tantangan. Pada saat itu, kebutuhan mahasiswa psikologi akan tempat ibadah, khususnya musholla sangat tinggi. Meskipun pihak dekanat telah menyediakan tempat ibadah, namun tidak cukup luas dan masih berada di dalam gedung, tidak berada di luar. Dengan berbagai diskusi dan dialog yang alot, akhirnya mas Peby berhasil melobi dekanat untuk mendirikan mushola baru. Yang kini dapat teman-teman lihat berdiri di bawah gedung D dekat perpustakaan.
5. Mas Ade Ahmad Basyir atau akrab disapa Abbas. Pernah menjabat sebagai anggota MWA UI unsur Mahasiswa. salah seorang dari sedikit mahasiswa psikologi yang pernah menjabat sebagai pimpinan lembaga di tingkat UI.
MWA adalah sebuah forum yang merupakan kumpulan semua elemen dari kampus. Dari karyawan, dosen, hingga mahasiswa. Ia memiliki struktur yang lebih tinggi dibandingkan rector. Hingga semua kebijakan rector, sedikit banyak, harus mengacu pada kebijakan MWA. Mungkin secara umum saya melihat mas Abbas sebagai salah seorang anggota MWA UI unsur mahasiswa yang paling vokal dan kritis pada kebijakan MWA. Ia mempunyai keberanian dalam memberikan informasi-informasi tentang kebijakan MWA UI yang tidak berpihak pada mahasiswa kepada ketua-ketua lembaga kemahasiswaan tingkat UI dan Fakultas. Agak berbeda mungkin dengan anggota MWA unsur mahasiswa setelahnya yang agak kurang garang dengan kebijakan MWA. Kita pun patut berbangga mempunyai pendahulu yang kritis seperti beliau.
6. Mas Arif Priambodo dan Mbak Dini Rahma Bintari. Pendiri Lembaga Dakwah Kampus Nuansa Islam Mahasiswa Universitas Indonesia (Salam UI) tahun 1998. Mbak Dini merupakan staff pengajar Psikologi Klinis. Sebelum menjadi pendiri salam Mbak Dini adalah Ketua BPM pada tahun 1997-1998. sedangkan Mas Arief selain menjadi pendiri juga sekaligus menjadi Ketua Salam UI pertama.
Masih banyak catatan yang belum dituliskan tentang mas-mas dan mbak-mbak kita. Kontribusi mereka baik yang terlihat jelas ataupun yang samar-samar telah membuat kita menjadi lebih mudah dalam beraktivitas dan berkontribusi. Mungkin sebelum tulisan ini saya akhiri saya akan menuliskan beberapa ketua BEM/SM dan ketua BPM/MPM 5 periode terakhir.
Ketua SM/BEM:
1. Mufti Wirawan, psikologi 2004, BEM periode 2008
2. Arnoldus Vigara, psikologi 2004, BEM Masa transisi 2008
3. Rendi Alhial, psikologi 2003, SM periode 2006-2007
4. Arya Verdi, psikologi 2002, SM periode 2005-2006
5. Riswandi, psikologi 2001, SM periode 2004-2005
Ketua BPM/MPM:
1. Tegar Hamzah, psikologi 2005, MPM periode 2008
2. Edwin Nofsan N, psikologi 2004, MPM Masa transisi 2008
3. Mira Rizki, psikologi 2003, BPM periode 2006-2007
4. Nirta Fitri, psikologi 2002, BPM periode 2005-2006
5. Isranto Miraji, psikologi 2001, BPM periode 2004-2005
Nampaknya sampai disini penjelajahan kita dalam mengarungi semesta psikologi. Mungkin dengan adanya tulisan ini membuat teman-teman menjadi lebih bersemangat dalam upaya memberikan yang terbaik bagi fakultas dan bangsa ini. Semoga nantinya saya akan melihat kembali diantara teman-teman yang menjadi pimpinan dan ketua lembaga baik di fakultas ataupun di tingkat UI. Karena menjadi seorang pemimpin adalah sebuah keniscayaan bagi setiap insan yang memiliki kualitas mumpuni. Dan saya melihatnya pada angkatan 2008. Selamat Berjuang teman-teman 2008, kami tunggu kontribusi kalian.
Monday, 1 September 2008
kebahagiaan itu..
Bahagia rasanya mendengar hal itu dari lisannya. Dengan mengulurkan tangan ia berkata "gimana kabarnya calon psikolog kita?" disertai tepukan hangat pada pundakku mengiringi senyum manisnya. "ah..doain aja pak, supaya lancar" jawabku seraya berusaha menenangkan hati mendengar pujiannya. "insyaAlloh ane selalu doain antum" wajahnya menyiratkan keseriusan. Mimik wajah yang kuingat pernah terlukis saat dulu, sewaktu menunggu pengumuman SPMB.
Ya..ialah guruku. Lebih tepatnya guru ngaji yang akrab dengan panggilan ustadz Subakir. Beliau memiliki perawakan kurus dan sedikit lebih tinggi dariku. Meski begitu performa tubuh selalu beliau jaga, karena beliau adalah imam di masjid dekat rumahku, masjid At-taqwa. Tugasnya sebagai imam mungkin yang menuntutnya untuk menjaga stamina tubuh. Sehingga tak heran seminggu sekali, sepengetahuanku, beliau selalu berolahraga di lingkungan kompleks rumahku.
Itu aktivitas beliau dari sisi jasmani. Dari sisi ruhiyah beliau lah salah seorang yang berjasa mengantar anak-anak di lingkungan kompleks rumahku menjadi sukses. Setidaknya dari sisi ruhiyah. Karena beliaulah yang dulu mengajar kami, mendidik kami untuk belajar membaca, menulis, ataupun sekedar menghafal doa sehari-hari. tak segan beliau menuntun kami sedari awal. Walaupun terkadang kami sering kali membuatnya kesal dan marah.
Pernah suatu saat, dikala aku masih duduk di bangku kelas 6 SD. Beliau menyuruh kami untuk menghafalkan sebuah surat dari juz 30. Mungkin karena kami memang bandel, kami pun tidak mengindahkan perintahnya. Bahkan cenderung bermain dan bercanda-canda dalam menghafalkan Qur'an. Mulai dari sinilah aku melihat kemarahan yang memuncak dari dirinya. ia marah kepada kami dan membuat kami tersadar untuk tidak bermain-main lagi dengan ayatNya. Aku pun lupa apa kata-kata yang beliau keluarkan. Tapi yang paling ku ingat adalah setelah itu kami diharuskan menghafal seminggu satu surat di juz 30. Sebagai hukuman atas tindakan kami. Bila kami tidak berhasil menghafal 1 surat pada minggu itu, konsekuensinya adalah kami diharuskan membersihkan WC masjid. masyaAlloh, WC masjid? bukan karena kotornya yang membuatku tak ingin membersihkannya ataupun karena banyak noda di dalamnya. Tapi karena aku cenderung malas membersihkan sedetail mungkin hingga ubin WC itu bersih.
Akupun baru merasakan manfaatnya ketika beranjak SMA. Dengan dorongan dan pemicu dari beliau. Akupun berhasil menghafalkan 1 juz itu. Luar biasa perasaan yang kurasakan saat itu. Tak terbayangkan sebelumnya akan dapat menghafalkannya. Walaupun terkadang hingga kini, aku sering kali lupa surat-surat ataupun ayat-ayat tertentu dari juz itu. Tapi alhamduilillah tetap terekam dalam memory.
Kini beliau telah memasuki usia setengah abad. Jasa dan pamrihnya bagi kami tak terhitung oleh apapun. Hingga masa-masa memasuki dunia kampus pun, beliau iringi doa untuk keberhasilan ku. Mungkin hadirnya ku di kampus ini berkat salah satu doa yang beliau panjatkan padaNya.
Percakapan yang singkat diawal tulisan ini hanya sekelumit pengalamanku di lingkungan rumah selama dua hari. Singkat memang, tapi kaya makna dan hikmah. Akupun tidak memungkiri masih banyak hutang yang kupunya pada lingkungan tempat tinggalku. Pada masjid, Ustadz Subakir, para jamaah dan teman-temanku. Akupun ingin secepatnya melunasi hutang itu. Agar mereka dapat merasakan sebentuk rasa syukur telah dilahirkan di tengah-tengah mereka.
Ya..ialah guruku. Lebih tepatnya guru ngaji yang akrab dengan panggilan ustadz Subakir. Beliau memiliki perawakan kurus dan sedikit lebih tinggi dariku. Meski begitu performa tubuh selalu beliau jaga, karena beliau adalah imam di masjid dekat rumahku, masjid At-taqwa. Tugasnya sebagai imam mungkin yang menuntutnya untuk menjaga stamina tubuh. Sehingga tak heran seminggu sekali, sepengetahuanku, beliau selalu berolahraga di lingkungan kompleks rumahku.
Itu aktivitas beliau dari sisi jasmani. Dari sisi ruhiyah beliau lah salah seorang yang berjasa mengantar anak-anak di lingkungan kompleks rumahku menjadi sukses. Setidaknya dari sisi ruhiyah. Karena beliaulah yang dulu mengajar kami, mendidik kami untuk belajar membaca, menulis, ataupun sekedar menghafal doa sehari-hari. tak segan beliau menuntun kami sedari awal. Walaupun terkadang kami sering kali membuatnya kesal dan marah.
Pernah suatu saat, dikala aku masih duduk di bangku kelas 6 SD. Beliau menyuruh kami untuk menghafalkan sebuah surat dari juz 30. Mungkin karena kami memang bandel, kami pun tidak mengindahkan perintahnya. Bahkan cenderung bermain dan bercanda-canda dalam menghafalkan Qur'an. Mulai dari sinilah aku melihat kemarahan yang memuncak dari dirinya. ia marah kepada kami dan membuat kami tersadar untuk tidak bermain-main lagi dengan ayatNya. Aku pun lupa apa kata-kata yang beliau keluarkan. Tapi yang paling ku ingat adalah setelah itu kami diharuskan menghafal seminggu satu surat di juz 30. Sebagai hukuman atas tindakan kami. Bila kami tidak berhasil menghafal 1 surat pada minggu itu, konsekuensinya adalah kami diharuskan membersihkan WC masjid. masyaAlloh, WC masjid? bukan karena kotornya yang membuatku tak ingin membersihkannya ataupun karena banyak noda di dalamnya. Tapi karena aku cenderung malas membersihkan sedetail mungkin hingga ubin WC itu bersih.
Akupun baru merasakan manfaatnya ketika beranjak SMA. Dengan dorongan dan pemicu dari beliau. Akupun berhasil menghafalkan 1 juz itu. Luar biasa perasaan yang kurasakan saat itu. Tak terbayangkan sebelumnya akan dapat menghafalkannya. Walaupun terkadang hingga kini, aku sering kali lupa surat-surat ataupun ayat-ayat tertentu dari juz itu. Tapi alhamduilillah tetap terekam dalam memory.
Kini beliau telah memasuki usia setengah abad. Jasa dan pamrihnya bagi kami tak terhitung oleh apapun. Hingga masa-masa memasuki dunia kampus pun, beliau iringi doa untuk keberhasilan ku. Mungkin hadirnya ku di kampus ini berkat salah satu doa yang beliau panjatkan padaNya.
Percakapan yang singkat diawal tulisan ini hanya sekelumit pengalamanku di lingkungan rumah selama dua hari. Singkat memang, tapi kaya makna dan hikmah. Akupun tidak memungkiri masih banyak hutang yang kupunya pada lingkungan tempat tinggalku. Pada masjid, Ustadz Subakir, para jamaah dan teman-temanku. Akupun ingin secepatnya melunasi hutang itu. Agar mereka dapat merasakan sebentuk rasa syukur telah dilahirkan di tengah-tengah mereka.
Subscribe to:
Posts (Atom)