Di negeri ini, Indonesia tercinta, siapa yang teraniaya dimasa lalu niscaya mendapatkan simpati lebih banyak dimasa depan. Kesengsaraan, ketidak adilan yang mereka terima dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai pembenaran untuk mendukung mereka yang teraniaya. Agar nantinya mereka yang dizalimi bisa bangkit kembali dan berjuang melawan ketidakadilan yang menimpa mereka. Sungguh mengharukan dan sangat melodramatis, pantas jika di negeri ini tayangan sinetron sangat laku dipasaran.
Beberapa contoh melodrama dari mereka yang teraniaya terlihat jelas beberapa tahun ini. Untuk yang baru saja terjadi seperti kasus Jokowi dan Dahlan Iskan. Saat Jokowi dibilang 'bodoh' oleh gubernur jawa tengah dan saat Dahlan Iskan seolah di 'bully' oleh anggota DPR. Untuk kasus Jokowi terjadi saat ia tak bersedia mereklamasi Pabrik Es Saripetojo untuk dijadikan Mall sesuai dengan perintah sang gubernur. Sehingga saking kesalnya, terlontarlah kata-kata 'bodoh' dari mulut si Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, kepada Jokowi yang dianggap tak tahu apa-apa mengenai masalah reklamasi ini.
Sedangkan kasus Dahlan Iskan berlatar belakang keteguhan Dahlan yang tak mau jika BUMN hanya dijadikan Sapi perah oleh beberapa oknum anggota dewan, hingga membuat anggota DPR meradang karena Dahlan berbicara terlalu banyak dengan mengatakan bahwa ia telah mengantongi nama-nama anggota yang memeras direksi BUMN. Kedua tokoh tadi merespon dengan cara yang mirip-mirip, act like a victim, berperilaku sebagai korban yang ujungnya mendapatkan dukungan dari masyarakat dengan dukungan media.
Gaya Dahlan dan Jokowi sesungguhnya tak asing lagi di negeri ini. SBY dan Megawati telah lama mengadaptasi gaya penokohan seperti ini. Seperti saat SBY seolah dizalimi dengan dipecat sebagai menteri oleh presiden saat itu, dan saat Megawati seolah dianiaya oleh pendukung PDI versi Suryadi lewat peristiwa 27 juli 1996. Kedua tokoh ini telah secara apik mengolah emosi dan simpati masyarakat untuk sebuah daya dorong dan dukungan yang bermanfaat nantinya ketika mereka menokohkan diri dalam pemilu. Terbukti jelas saat SBY dan Demokratnya memenangkan Pemilu 2009 dan saat PDIP serta Megawati memenangkan Pemilu tahun 1999.
Tak ada yang salah dari demokrasi melodrama macam ini, sah-sah saja selama masih dalam koridor yang wajar. Bahkan sangat cerdik karena dapat melihat sebuah celah tuk mendapatkan dukungan walau lewat sebuah drama pencitraan. Untuk sekarang dan sampai seterusnya demokrasi melodrama nampak masih mendominasi ruang berpolitik di negeri ini, bahkan hingga kini saat pilkada di beberapa daerah telah berjalan beberapa waktu lalu.
Demokrasi melodrama tak melulu mengenai siapa yang disakiti dan dipojokkan, karena kini demokrasi melodrama telah bertransformasi secara unik di sebuah partai yang lahir lewat demokrasi macam ini, PDIP dan Ketumnya Megawati. Dimana Mindset melodrama nampak masih tertanam kuat dibenak para pengikutnya yang kemarin bertarung di Pilkada Jabar dan Sumut. Intinya satu, telah terjadi kecurangan dan mereka terzalimi hingga kalah dalam versi hitung cepat.
Wacana melodrama apa daya telah terlanjur mengemuka. Hingga masyarakat mulai jengah dan melihat adanya ketidakcerdasan dari mereka yang menggugat hasil pemilukada. Boleh-boleh saja mengklaim menang seperti pasangan PDIP di Sumut yang mengatakan telah memenangkan pilkada dengan prosentase 32 persen berdasarkan hasil perhitungan manual mereka, atau seperti Oneng di Jabar yang sepertinya akan menggugat hingga level MK.
Tapi coba setidaknya imbangi cara demokrasi melodrama yang masih tradisional dengan konteks kekinian yang lebih scientific dan ilmiah. Kalau memang mau mengklaim menang, coba belajar ilmu statistik dulu dan memahami dulu apa itu yang namanya quickcount, seberapa besar validitasnya dan seberapa reliabel hasilnya. Kalau memang mau menggugat hingga MK, coba jangan emosional dulu dan siapkan data serta informasi tertulis yang valid yang tidak sekedar omongan saksi dari satu-dua orang. Sertakan etika politisi yang berilmu karena sekarang sudah tak zamannya lagi mengedepankan emosi belaka saat berdemokrasi.
Yasudahlah, gregetan saya melihat mereka-mereka ini... Singkat kata, selamat berjuang. Mari buka-bukaan hingga MK, jangan anarkis dan bawa-bawa preman. Negeri ini sudah cukup merasakan dampak kerusuhan yang mengatasnamakan demokrasi.
Saturday, 9 March 2013
Friday, 8 March 2013
Generasi Anti Galau
Tiap zaman memiliki ceritanya masing-masing yang mungkin tak lagi bisa didapatkan di kemudian hari. Ketika dulu saat dimana usia saya beranjak 5 tahun, dunia hiburan anak-anak tidak kehabisan stock barang yang dapat dijual kepada konsumen mereka, bocah-bocah yang masih lugu dan lucu. Penyanyi-penyanyi seperti Bondan Prakoso, Enno Lerian, Ria Enes & Susan, dan lain sebagainya merupakan pengisi waktu luang dan masa kecil yang pas dipasangkan dengan anak-anak yang hidup dalam dunia keceriaan, kesenangan, riang gembira dan pastinya sesuai dengan masa tumbuh kembangnya.
Banyak yang lupa bahwa masa keemasan seorang anak berada di kisaran usia 0-5 tahun. Saat dimana kemampuan otak anak dalam menyerap informasi sangatlah tinggi. Semua jenis informasi dapat dengan mudah terserap, otak mereka sedang berkembang menuntut adanya asupan gizi berupa kualitas pengetahuan yang berharga. Maka begitu pentingnya peran orang tua di masa ini untuk memastikan bahwa hal yang baik lah yang diserap oleh anak-anak mereka. Sehingga bisa saja kualitas seorang anak nantinya di masa depan sedikit banyak bergantung dari bagaimana masa-masa golden age ini diisi. Tapi kini nampaknya banyak orang tua yang tak terlalu mempedulikan masa-masa keemasan ini hingga terkadang lalai membiarkan buah hatinya menyerap informasi yang justru lambat laun mempengaruhi karakternya kelak.
Jika masa itu diisi dengan pengalaman moral berharga, dialog kekeluargaan yang hangat, penanaman nilai-nilai prinsipil yang penting maka jadilah mereka, anak-anak itu nantinya, seorang yang kuat karakternya, tajam pemikirannya, dan lembut hatinya. Hingga tak heran jika kelak mereka tumbuh berkembang sebagai seorang manusia yang sholih dan mensholihkan lingkungannya, seorang manusia yang hebat dan menghebatkan manusia lainnya.
Jadi sangatlah miris melihat kini masa-masa keemasan itu diisi dengan informasi dan tayangan hiburan yang jauh dari nilai-nilai luhur dan kuat. Hiburan yang tak lagi membicarakan masalah keceriaan hari, aktivitas membantu teman-teman, mengenal lingkungan sekitar serta budayanya seperti lagu-lagu Enno Lerian, Bondan Prakoso, dan Trio Kwek-kwek. Tapi justru penuh dengan kegelisahan, percintaan yang tak kunjung ada habisnya, kesenduan ditinggal kekasih, dan berbagai hiburan yang tak lain belum cocok dalam masa tumbuh kembang mereka. Saat dimana mereka lebih membutuhkan fondasi yang kuat macam nilai-nilai moral dan karakter yang kuat dibandingkan membiarkan mereka terbangun dari fondasi yang lemah macam lagu-lagu galau dan sendu.
Dunia, dan kehidupan dimasa mendatang tak membutuhkan calon-calon pemimpin dan penerus yang cengeng dan kerap meratapi nasib. Hidup makin keras dan siapkan calon penerus kita untuk siap menghadapinya. Bangun karakter yang kuat dan hebat pada diri-diri mereka, hingga nantinya mereka siap menaklukan dunia.
Banyak yang lupa bahwa masa keemasan seorang anak berada di kisaran usia 0-5 tahun. Saat dimana kemampuan otak anak dalam menyerap informasi sangatlah tinggi. Semua jenis informasi dapat dengan mudah terserap, otak mereka sedang berkembang menuntut adanya asupan gizi berupa kualitas pengetahuan yang berharga. Maka begitu pentingnya peran orang tua di masa ini untuk memastikan bahwa hal yang baik lah yang diserap oleh anak-anak mereka. Sehingga bisa saja kualitas seorang anak nantinya di masa depan sedikit banyak bergantung dari bagaimana masa-masa golden age ini diisi. Tapi kini nampaknya banyak orang tua yang tak terlalu mempedulikan masa-masa keemasan ini hingga terkadang lalai membiarkan buah hatinya menyerap informasi yang justru lambat laun mempengaruhi karakternya kelak.
Jika masa itu diisi dengan pengalaman moral berharga, dialog kekeluargaan yang hangat, penanaman nilai-nilai prinsipil yang penting maka jadilah mereka, anak-anak itu nantinya, seorang yang kuat karakternya, tajam pemikirannya, dan lembut hatinya. Hingga tak heran jika kelak mereka tumbuh berkembang sebagai seorang manusia yang sholih dan mensholihkan lingkungannya, seorang manusia yang hebat dan menghebatkan manusia lainnya.
Jadi sangatlah miris melihat kini masa-masa keemasan itu diisi dengan informasi dan tayangan hiburan yang jauh dari nilai-nilai luhur dan kuat. Hiburan yang tak lagi membicarakan masalah keceriaan hari, aktivitas membantu teman-teman, mengenal lingkungan sekitar serta budayanya seperti lagu-lagu Enno Lerian, Bondan Prakoso, dan Trio Kwek-kwek. Tapi justru penuh dengan kegelisahan, percintaan yang tak kunjung ada habisnya, kesenduan ditinggal kekasih, dan berbagai hiburan yang tak lain belum cocok dalam masa tumbuh kembang mereka. Saat dimana mereka lebih membutuhkan fondasi yang kuat macam nilai-nilai moral dan karakter yang kuat dibandingkan membiarkan mereka terbangun dari fondasi yang lemah macam lagu-lagu galau dan sendu.
Dunia, dan kehidupan dimasa mendatang tak membutuhkan calon-calon pemimpin dan penerus yang cengeng dan kerap meratapi nasib. Hidup makin keras dan siapkan calon penerus kita untuk siap menghadapinya. Bangun karakter yang kuat dan hebat pada diri-diri mereka, hingga nantinya mereka siap menaklukan dunia.
Thursday, 7 March 2013
What doesnt kill you makes you taubah
Sebelumnya hidup hanya dipandang enteng olehnya. Dengan kondisi fisik yang prima dan finansial yang kuat membuatnya merasa jumawa. Seolah dunia tergenggam erat di tangan dan sebebas mungkin dikendalikannya sesuka hati. Tak ada yang namanya kekhawatiran yang ada hanya kepuasan mereguk kenikmatan yang dianugerahkan padanya. Maka hidup sekedar dimaknai dalam lingkup kesenangan diri, tak peduli bagaimana kondisi sekitar yang jelas dirinya dapat bersenang-senang, terlebih kini dimana aturan Tuhan pun diabaikan saat keterlenaan dunia memabukkannya.
Usianya masih tergolong muda, 40 tahun. Untuk ukuran seorang ayah yang sudah memiliki anak berusia 15 dan 11 tahun, fisiknya masih terbilang prima. Tapi entah mengapa, beragam kemudahan dunia seolah tak memberikannya ketenangan. Rumah tangga yang tak pernah sepi dari pertengkaran, dan keresahan yang kerap menghampiri. Ketiadaan alternatif solusi membuatnya makin larut dalam kesenangan yang membutakan, membuatnya makin jauh dari Tuhan yang justru menambah peliknya persoalan yang dihadapinya.
Entah tiga bulan, atau mungkin dua bulan yang lalu, tubuhnya lunglai tak bertenaga. Dirinya yang sedang mengendarai sepeda motor tiba-tiba saja terjatuh tanpa ada kekuatan tuk menopang tubuh dan berat motor. Awalnya tak ada kesan khusus dari peristiwa yang dialaminya, menganggap hal itu dikarenakan kondisi tubuhnya yang tidak fit. Perlahan, sebuah kejadian yang bisa jadi sebuah alarm peringatan hanya dianggap angin lalu olehnya, maka kini satu per satu beragam penyakit mempreteli kesehatannya.
Kesehatan yang menurun memaksanya untuk mengurangi aktivitas yang secara tak langsung membatasi dirinya dalam bekerja. Tak ada perubahan berarti di ragam usaha yang dilakukan agar dirinya kembali prima, dan tak terasa tidak ada lagi pemasukan keuangan akibat kondisinya yang menganggur. Tubuhnya pun makin ringkih, beragam penyakit mulai terdiagnosis menyerang dirinya. Gangguan ginjal, hati, dan penyakit gatal eksim di kaki membuatnya merana, tak ada lagi kesenangan yang dulu dinikmati, kini hanya keputusasaan yang makin menjadi.
Puncaknya seminggu yang lalu. Tubuhnya terkapar tak berdaya di tempat tidur tanpa ada tenaga tuk bergerak. Tubuhnya lumpuh tanpa tahu apa sebabnya. Dada sesak dan lambat laun kesadaran pun perlahan hilang. Ia dengan segera dibawa ke ke UGD rumah sakit. Dokter pun belum dapat mendiagnosis apa penyakit yang dideritanya, kamar ICU yang penuh dan ruang UGD yang minim peralatan membuatnya dirawat seadanya. Kondisinya makin kritis saat perlahan denyut jantung dan nafasnya menurun. Suasana saat itu sungguh sangat mencekam. Si istri yang setia mendampingi hanya dapat menguatkan dan meminta si suami tetap kuat dan terus berusaha melawan sakitnya.
"Ayo pa, ingat adek, ingat abang. kamu sayang kan sama mereka berdua. jangan pergi. tolong jangan pergi"
Si istri hanya menangis di tengah usaha dokter memberi pertolongan.
Seluruh keluarga berdoa untuk kesembuhannya. Tak ada lagi harapan kecuali meminta sang Khaliq memperpanjang usianya, karena tiap orang sangat mengetahui bagaimana hidupnya semasa sehat dulu. Semoga ada setitik keajaiban untuknya. Semoga ada kesempatan kedua baginya. Dengan lafadz tahlil, tahmid, tasbih dari si istri yang setia mendampingi di sisinya, ia pun mencoba mengikuti ucapan-ucapan yang dibimbing sang istri. Kalimat-kalimat yang dulu pernah diabaikannya yang kini menjadi satu-satunya harapan agar Tuhan berbaik hati padanya.
--
2 minggu kemudian
Wajah sumringah terpancar jelas dari raut mukanya. Ia tampak lebih segar dari biasanya, dan yang pasti ada semacam cahaya yang jelas terlihat dari dirinya.
"Jangan lupa ingatkan aku ya, takut lupa kalau sudah bekerja"
Sang istri hanya mengangguk pelan disertai senyuman, tanda kebahagiaan bahwa si suami telah banyak berubah.
"Iya insyaAllah pa, jangan lupa bawa sajadah ya. dimanapun kamu sempat, luangkan waktu disela-sela kesibukan"
Disertai kecup manis dikening sang istri, ia pun pergi melangkah, disertai harapan dari sebuah kehidupan baru. Kesempatan kedua dariNya. Semoga Istiqomah.
Usianya masih tergolong muda, 40 tahun. Untuk ukuran seorang ayah yang sudah memiliki anak berusia 15 dan 11 tahun, fisiknya masih terbilang prima. Tapi entah mengapa, beragam kemudahan dunia seolah tak memberikannya ketenangan. Rumah tangga yang tak pernah sepi dari pertengkaran, dan keresahan yang kerap menghampiri. Ketiadaan alternatif solusi membuatnya makin larut dalam kesenangan yang membutakan, membuatnya makin jauh dari Tuhan yang justru menambah peliknya persoalan yang dihadapinya.
Entah tiga bulan, atau mungkin dua bulan yang lalu, tubuhnya lunglai tak bertenaga. Dirinya yang sedang mengendarai sepeda motor tiba-tiba saja terjatuh tanpa ada kekuatan tuk menopang tubuh dan berat motor. Awalnya tak ada kesan khusus dari peristiwa yang dialaminya, menganggap hal itu dikarenakan kondisi tubuhnya yang tidak fit. Perlahan, sebuah kejadian yang bisa jadi sebuah alarm peringatan hanya dianggap angin lalu olehnya, maka kini satu per satu beragam penyakit mempreteli kesehatannya.
Kesehatan yang menurun memaksanya untuk mengurangi aktivitas yang secara tak langsung membatasi dirinya dalam bekerja. Tak ada perubahan berarti di ragam usaha yang dilakukan agar dirinya kembali prima, dan tak terasa tidak ada lagi pemasukan keuangan akibat kondisinya yang menganggur. Tubuhnya pun makin ringkih, beragam penyakit mulai terdiagnosis menyerang dirinya. Gangguan ginjal, hati, dan penyakit gatal eksim di kaki membuatnya merana, tak ada lagi kesenangan yang dulu dinikmati, kini hanya keputusasaan yang makin menjadi.
Puncaknya seminggu yang lalu. Tubuhnya terkapar tak berdaya di tempat tidur tanpa ada tenaga tuk bergerak. Tubuhnya lumpuh tanpa tahu apa sebabnya. Dada sesak dan lambat laun kesadaran pun perlahan hilang. Ia dengan segera dibawa ke ke UGD rumah sakit. Dokter pun belum dapat mendiagnosis apa penyakit yang dideritanya, kamar ICU yang penuh dan ruang UGD yang minim peralatan membuatnya dirawat seadanya. Kondisinya makin kritis saat perlahan denyut jantung dan nafasnya menurun. Suasana saat itu sungguh sangat mencekam. Si istri yang setia mendampingi hanya dapat menguatkan dan meminta si suami tetap kuat dan terus berusaha melawan sakitnya.
"Ayo pa, ingat adek, ingat abang. kamu sayang kan sama mereka berdua. jangan pergi. tolong jangan pergi"
Si istri hanya menangis di tengah usaha dokter memberi pertolongan.
Seluruh keluarga berdoa untuk kesembuhannya. Tak ada lagi harapan kecuali meminta sang Khaliq memperpanjang usianya, karena tiap orang sangat mengetahui bagaimana hidupnya semasa sehat dulu. Semoga ada setitik keajaiban untuknya. Semoga ada kesempatan kedua baginya. Dengan lafadz tahlil, tahmid, tasbih dari si istri yang setia mendampingi di sisinya, ia pun mencoba mengikuti ucapan-ucapan yang dibimbing sang istri. Kalimat-kalimat yang dulu pernah diabaikannya yang kini menjadi satu-satunya harapan agar Tuhan berbaik hati padanya.
--
2 minggu kemudian
Wajah sumringah terpancar jelas dari raut mukanya. Ia tampak lebih segar dari biasanya, dan yang pasti ada semacam cahaya yang jelas terlihat dari dirinya.
"Jangan lupa ingatkan aku ya, takut lupa kalau sudah bekerja"
Sang istri hanya mengangguk pelan disertai senyuman, tanda kebahagiaan bahwa si suami telah banyak berubah.
"Iya insyaAllah pa, jangan lupa bawa sajadah ya. dimanapun kamu sempat, luangkan waktu disela-sela kesibukan"
Disertai kecup manis dikening sang istri, ia pun pergi melangkah, disertai harapan dari sebuah kehidupan baru. Kesempatan kedua dariNya. Semoga Istiqomah.
Subscribe to:
Posts (Atom)


