Thursday, 29 March 2012

Angka dan Fakta

Ketika anda menuliskan sesuatu, membaca sesuatu ataupun tak sengaja melihat sebuah tulisan dimana sebuah angka berdampingan dengan sebuah fakta, maka saya bisa katakan, tulisan itu menjadi menarik.

Saya bukan orang yang terlalu menyukai angka-angka, apalagi jika merujuk kepada "Statistik Untuk Penelitian Sosial", "Psikometri", "SPSS", "Metode Kuantitatif"...hm.. Ya ya..oke kita lanjutkan, Jadi kemarin, atau lebih tepatnya beberapa hari yang lalu saya membaca tulisan di sebuah situs olahraga. Tajuk berita itu menggambarkan sebuah rekor yang dipecahkan oleh Lionel Messi yang membuat 234 Gol di sepanjang karir profesionalnya bersama Barcelona, mengalahkan legenda Barca, Cesar Rodriguez yang hanya mampu mencetak 232 gol sepanjang karirnya.

"Ah biasa aja", ya memang sepertinya tidak ada yang istimewa, hanya pemecahan rekor yang lumrah dari seorang pesepakbola profesional. Namun, coba kita pakai perspektif yang berbeda. Seperti yang saya katakan di awal tulisan ini, mari kita coba dampingi fakta ini dengan angka-angka. Messi membuat 234 gol dari 314 pertandingan.dengan kurun waktu 8 tahun. Messi menciptakan gol di La Liga sebanyak 153 gol, Copa del Rey 19 gol, Liga Champions 49 gol, Piala Super Spanyol 8 gol, Piala Super Eropa 1 gol, Piala Dunia Antarklub 4 gol.

Messi mencetak gol menggunakan seluruh bagian tubuhnya yang tidak melanggar aturan. Kaki kiri dan kanan, kepala dan tubuh, Dengan kaki kiri lahir 185 gol, kaki kanan 37 gol, 10 gol dari sundulan kepala, dan 2 gol lainnya lahir menggunakan bagian tubuh yang lain.

Lihat, betapa pekerjaan seorang statistiker (sebutan saya untuk orang yang berkecimpung di bidang statistik) sungguh sangat penting, dan saya gak nyangka ada yang rajin ngitungin sedetail itu. Di berita yang lain, ada juga cerita tentang pemecahan rekor Mourinho sebagai pelatih tercepat yang mempersembahkan 50 kemenangan hanya dalam tempo 62 pertandingan.

Halah, bisa aja orang-orang ini bikin kategori, kategori yang gak pernah terpikirkan sebelumnya. Seperti yang satu ini, kali ini tentang akurasi passing, Pemain yang memiliki akurasi passing yang paling tinggi adalah Leon Britton dengan akurasi umpan mencapai 93,3 %. Dari 1127 umpan yang dilepaskan, 93,3 % diantaranya tepat sasaran, mengungguli gelandang Barca, Xavi Hernandez, yang hanya berhasil melepaskan 93% umpan tepat sasaran dari 1830 umpan. Saya gak pernah kepikiran bakal ada orang/mesin/sistem yang menghitung jumlah operan dari pemain bola.

Bagi saya pribadi, fakta itu menjadi menarik saat digandengkan dengan sebuah angka. Fakta bahwa ada seorang pengumpan terakurat, pelatih dengan pencetak kemenangan tercepat dan pemain dengan jumlah gol terbanyak adalah sebuah kategori biasa, tapi menjadi tidak biasa kalau ternyata ada angka yang mencatatnya, bukan sekedar fakta.

Mungkin menarik kalau kita membuat sebuah kategori dan angka angka tentang seberapa lama kita duduk di depan komputer dalam sehari, atau seberapa banyak kita menguap dalam satu jam, atau sejauh mana kita berjalan dari rumah ke tempat kerja tiap harinya.

Atau mungkin lebih menarik lagi klo kita membuat kategori dan angka angka tentang seberapa sering kita memberi salam pada orang yang pertama kali kita temui di kantor setiap bulannya, seberapa sering kita tersenyum pada saudara kita dalam sehari, atau seberapa sering kita beristighfar dalam sehari, atau berapa kali dalam sebulan kita berusaha mengkaji Ayat-ayat Suci Qur'an, atau berapa lama kita bertahan untuk berdzikir sehabis sholat. Ya kategori semacam itu lah, tapi kalau kategori yang ini gak usah dihitung juga tak masalah, ada kok yang udah menghitung, kita gak usah repot menghitung, ada ahli hisab terakurat yang senantiasa menghitung.

jadi ya bagi saya fakta dan angka sebuah paduan yang menarik, sepanjang kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk bertafakur dan merenung lebih dalam melihat tanda yang terjadi dalam hidup.

 

Sunday, 20 November 2011

[FF] A Letter from Jannah.

Ia pun mulai menulis

Bismillah
Aku tak tahu, apakah karena amalku atau memang Allah memberikan Rahmat pada siapa saja yang dikehendakiNya. Tapi satu yang pasti, Aku tahu persis siapa diriku sesungguhnya.


Aku bukan muslim yang 'taat taat' amat, kalau dibandingkan dengan saudaraku yang itu (ia sedang duduk bertelekan permadani di bawah pohon apel yang rindang), mungkin aku tidak ada apa apanya, dia sudah jelas, cap kesholehan seperti sudah tercetak di dahinya.

Tapi kalau Aku? sholat shubuh saja terkadang telat, sholat malam pun tak semalam suntuk, shodaqoh pun jarang jarang, puasa kalau ingat. Aku pun paham, amal yang dicintai Allah adalah amal yang berkesinambungan walau sedikit, tapi apa daya, terkadang karena satu dan lain hal, Aku tak rutin mengerjakan amalan itu.

Seperti saat Aku dulu berhasil mengerjakan full sholat malam selama 3 bulan, wah bahagianya, tergambar betapa betapa besar rahmat yang mungkin kudapatkan dariNya. Tapi di suatu saat, Aku lalai, tertidur dan bablas sampai adzan shubuh. Awalnya Aku kecewa dengan diriku, mengapa amalan yang mulia itu sampai terlalaikan, Namun Akupun berkaca diri. oh mungkin Ia menegurku dengan kelalaian, agar benih kesombongan di hatiku tak tumbuh subur dan mengakar. Tak pantaslah Aku menyombongkan diri dengan amalku, sempurnanya Amal mutlak kehendak dariNya. Akhirnya pun Aku bersyukur dan memaknai kejadian ini sebagai bentuk kasih sayangNya padaku. dan Akupun memulai lagi, mencoba konsisten dalam qiyam di malam hari.

hm.. disana, dibalik bukit itu, terdapat sebuah Istana, Ia yang maha kuasa memberikannya untukku. Aku pun menebak nebak, sebab apa aku mendapatkan istana itu. Tak butuh waktu lama, Ia memberi tahu bahwa tiap penghuni tempat ini, layak mendapatkannya. Akupun tak henti-hentinya bersyukur, betapa Ia memuliakanku dengan Istana yang megah itu, tapi bagiku, istana itu tak berarti apa apa dibandingkan sebuah kenyataan, ternyata Ia ridha terhadapku, ah betapa senangnya, ternyata cintaku padaNya tak bertepuk sebelah tangan.

Dulu, aku berharap amalku akan menyelamatkanku dan membuatku bahagia disana kelak. Maka tak henti-hentinya aku beramal sholih dan mengharapkan pahala yang banyak. Namun lambat laun, kurasakan lelah yang sangat, jemu yang menyerang, dan kebosanan pun muncul. Apa gerangan yang terjadi? apakah imanku sedang turun? ataukah ini biasa terjadi pada pengamal sholih yang lain?

Akupun mencoba melihat pada sosok ibadurahman di zaman Rasulullah, Sahabat Radhiallahuanhum. Apakah mereka juga pernah bosan? apakah mereka pernah jemu? dari buku dan informasi yang kudapat, tak ada rasa itu pada diri mereka. Lalu mengapa mereka tak lelah dan tak jemu? apa sebabnya? apa karena mereka hidup di zaman rasul? tapi mengapa para salafushalih yang lain di kalangan tabiin, tabiut tabiin bisa seperti mereka?

Lalu kudapatkan sebuah kisah, tentang Sahabat Umar Radhiallahuanhu, Alfaruq dan khalifah terjaya dalam sejarah Islam. Dalam sejarah hidupnya, Umar tak henti-hentinya merasa khawatir dan resah dengan amal-amalnya, disatu sisi berharap amalnya diterima, dan di sisi yang lain takut amalnya tertolak. Padahal ia termasuk orang yang dijamin masuk surga. Kalau aku jadi Umar mungkin aku bahagia dijamin surga, tapi ia malah khawatir, seolah tak begitu saja menerima berita itu. Mungkin baginya kabar itu hanya sebagai penghibur semata, karena sesungguhnya ia malah semakin rajin beribadah. Ah.. baginya berita itu tak lebih dari sekedar kabar, karena ia takkan pernah tahu apakah tuhannya ridho dan cinta padanya sebelum ajal menjemput dan jasad bersimbah tanah.

Pantas saja Umar semakin taat, baginya beramal sholih itu semata mencari keridhoan Tuhannya, mungkin ini yang disebut ikhlas. Semakin banyak ia beramal sholih, ia pun berharap tuhannya makin ridho padanya. Tentu saja, beramal seperti ini lah yang membuat Umar tak jemu pada tuhannya, apalagi bosan, yang ada malah kecintaan yang makin mendalam. Baginya ridho dan cinta dari Tuhannya adalah semata yang ia harapkan.

maka sejak saat itu, akupun mencoba meniru Umar, tak ada salahnya kan meniru seseorang? apalagi orang sekelas Umar. Mencoba beramal dengan harap dan ikhlas, beramal yang diiringi keresahan. Berharap cintaku berbalas, dan Ia pun membalas dengan keridhoanNya. Semakin lama, semakin nikmat yang kurasa. Ya Rabb, betapa yang hamba harapkan adalah RidhoMu.

Suatu saat, kepastian itupun datang menjemput. ia datang dengan wajah tersenyum, betapapun tenangnya saat-saat itu, tapi bagiku, tetap saja saat-saat itu adalah saat-saat yang tak terkira sakitnya, tak pernah kubayangkan akan seperti ini perihnya.

hm.. kini, Aku tak tahu apakah kalian disana bisa membaca surat ini, tapi kuyakin, tiap saat kehidupan kalian disana, maksimalkan untuk meraih cintaNya, karena sesungguhnya, Ia adalah tujuan kita. Allahu ghoyatuna.

Sang penghuni pun memasukkan kertas itu pada sebuah amplop dan disimpannya di suatu tempat. Surat itu tak pernah terkirim.



Thursday, 29 September 2011

Tips dan Trik Melamar Pekerjaan

Bismillah.

Biasanya, hiruk pikuk kejayaan pasca kelulusan hanya bertahan paling lama 2 bulan. Selebihnya para Sarjana kembali pada kegalauan akibat kevakuman aktivitas. Ada yang memilih untuk menganggur dulu dan menikmati kebebasan sesaat, ada yang memilih untuk ber-freelance ria tanpa jam kerja yang tetap, ada yang langsung melanjutkan S2, dan yang paling sering, langsung berganti profesi menjadi jobseeker.

Sebagai jobseeker dan dalam hal ini statusnya masih fresh graduate atau blom berpengalaman, sulit bagi mereka untuk bisa bersaing memperebutkan posisi yang strategis dan keren. Biasanya perusahaan memprioritaskan jobseeker yang berpengalaman beberapa tahun di suatu posisi atau jabatan.

Ada dua jalur karir yang bisa ditempuh oleh jobseeker fresh graduate, via Manajemen trainee (MT), atau via jalur regular. Pertama, melalui jalur MT, dimana jobseeker fresh graduate akan diproyeksikan menjadi manajer ataupun asisten manajer pada suatu perusahaan dengan proses training dan mentoring dengan jangka waktu tertentu, outputnya diharapkan para jobseeker fresh graduate akan mempunyai skill dan kompetensi yang sebanding dengan pegawai berpengalaman karena proses training tersebut. Kelebihan jalur MT ini adalah jalur karir yang cepat sebagai leader dalam perusahaan dan pastinya gaji yang lebih besar dibandingkan jalur kerja yang lain.

Kedua adalah melalui jalur regular, jalur regular ini maksudnya adalah melamar pekerjaan sebagai staf atau pegawai pada perusahaan dengan status entry level atau bahasa lainnya jadi bawahan dulu. Beberapa perusahaan ada yang berbaik hati dengan langsung mengontrak si calon pegawai sebagai karyawan dengan masa kontrak sekian bulan, biasanya setahun sebelum diangkat menjadi pegawai tetap, atau bila si perusahaan agak ‘pelit’ biasanya si calon pegawai di outsourcing dulu dengan pihak ketiga, intinya gak langsung dikontrak oleh perusahaan tersebut. Kelebihannya, hm.. kalau dicari kelebihannya mungkin agak sulit, tapi yang jelas pada jalur ini, si jobseeker fresh graduate bakal banyak mendapatkan pengalaman berkaitan hal-hal yang teknis seperti foto copy, ngefaks, input laporan dan lain lain. Sehingga nanti klo udah jadi atasan bakal lebih wise. Kekurangannya, lama naek jabatannya. Sarannya adalah, jangan lama-lama di posisi itu, cepet-cepet pindah kalau dirasakan sudah dapat manfaat banyak atau pengalaman, ya setahun dua tahun lah. Selepas itu cari yang lebih bonafid berbekal pengalaman di tempat lama.

Selanjutnya, dalam melamar pekerjaan, kita ibarat menjual ‘diri’ kita pada perusahaan. Apa skill yang kita punya dan apa kompetensi yang kita punya untuk dapat dilirik perusahaan dan dibeli perusahaan. Biasanya cara gampang promosi diri adalah via Curriculum Vitae (CV). Hm.. biasanya kalau masih jadi mahasiswa ya, banyak tuh yang bangga CV nya bisa berlembar lembar, semuaaaa pengalaman organisasi ditulis, semua pengalaman seminar ditulis, semua kursus di tulis, sampe juara makan kerupuk tingkat RT juga ditulis, pokoknya lengkap deh dari SD sampe lulus kuliah. Tapi tunggu dulu, hal itu tidak menjamin si perusahaan merasa kagum dengan kita, Tidaak..!. FYI ya, HR Recruitment perusahaan itu tiap hari rata-rata menerima berkas lamaran berupa CV dan surat lamaran 20-30 buah perhari, bahkan ada yang 50 buah perhari. Bayangkan segitu banyaknya berkas lamaran, dan sepertinya gak mungkin mereka meluangkan waktu membaca dengan detail CV kita yang berlembar-lembar.

Ada beberapa tips dalam menulis CV yang efektif, pertama, Tuliskan dengan singkat nama dan informasi kita secara umum di bagian atas sebagai judul CV, seperti nama, fakultas, lulusan universitas, nomor telepon, dan foto, lebih bagus lagi tulis disitu juga IPK kita (kalau dirasakan bisa menjual). Kedua, dibagian awal CV tulis semacam resume tentang diri kita secara singkat, misalnya

Saya adalah lulusan Psikologi universitas Indonesia dengan IPK 3,54 (misalnya) berpengalaman memegang alat tes psikologi diantara projective tes dan intelligence Test serta memiliki kemampuan interview dan observational skill. Mampu bekerja secara tim, dapat bekerja di bawah tekanan, pekerja keras dan memiliki motivasi internal yang tinggi.

Selanjutnya tuliskan pengalaman kerja kita (Kalau udah punya) yang relevan dengan perusahaan yang kita tuju, kalau dirasakan gak relevan ya gak papa sih ditulis juga, up to you lah. Atau bisa juga dituliskan prestasi kita yang dibanggakan seperti juara 1 lomba karya tulis, atau juara 1 lomba debat, dan lainnya. Pokoknya taruh dibagian atas ini, hal-hal yang terbaik dari diri kita, contoh urutannya begini :

dibagian awal tulis pengalaman kerja, atau kalau gak ada ya prestasi kita, lalu skill dan kemampuan kita, lalu kursus dan training yang pernah diikuti, pengalaman organisasi, dan baru yang terakhir, tuliskan data diri kita, dari nama, tempat tanggal lahir, alamat, dan lainnya, jangan tuliskan hal-hal ini di awal CV, percuma juga, karena HR Recruitment gak mau kenalan juga sama kita, maka jangan kepedean menaruh personal information di bagian awal. Hehe untuk urusan estetika dari CV tersebut tergantung kita, mau diberi hiasan yang berlimpah juga boleh, asal jangan terlalu mencolok, yang simple aja, setidaknya membuat kita terkesan elegan dan serius (intinya, nulis CV itu jangan kebanyakan dan kepanjangan, biar dikit yang penting relevan, karena si HR Recruitment juga gak bakal baca CV kita sampai habis).

Selanjutnya surat lamaran, untuk surat lamaran biasanya tidak terlalu rumit, asalkan disana tercantum jelas maksud dan tujuan kita melamar pekerjaan tersebut, jangan lupa juga tuliskan posisi apa yang kita tuju. Untuk bahasa juga tidak terlalu masalah apakah memakai bahasa inggris atau Indonesia, tergantung perusahaannya, kalau perusahaan asing, baiknya kita memakai bahasa inggris, tapi perlu diingat, kita pun harus mempersiapkan diri ketika nanti diundang interview memakai bahasa inggris atau asing. Tentunya kita sudah tau konsekuensi untuk hal ini.

Selanjutnya, ya tinggal tunggu saja panggilan interview atau psikotes. Biasanya sih interview dulu dengan HR atau dengan user, fleksibel. Kalau misalnya diundang interview, kita harus mempersiapkan diri dengan baik. Lihat dulu profile perusahaannya seperti apa, bergerak dibidang apa, dan lain sebagainya, biasanya bisa dilihat melalui website perusahaan tersebut. Untuk entry level atau untuk posisi staff yang masih fresh graduate, biasanya pertanyaan berkisar tentang motivasi kerja, semangat kerja, kemauan dalam bekerja, biasanya tentang skill ataupun kompetensi tertentu jarang ditanyakan walau tidak tertutup kemungkinan hal ini akan ditanyakan juga. Lalu, siapkan pula penampilan kita dengan baik, setidaknya pakai kemeja dan celana bahan serta sepatu, kalau perempuan bisa pakai blazer atau setidaknya pakaian yang rapih dan sopan. Standar orang kantoran lah. Upayakan hadir 1 jam sebelum interview berlangsung, atau paling lambat setengah jam sebelum interview berlangsung. Hal ini agar kita dapat mempersiapkan diri dengan baik, mengatur nafas, mengatur penampilan, mencuci muka kalau yang naik motor dan lain sebagainya, intinya agar kita bisa menenangkan diri dulu. Ketika interview berlangsung duduk yang nyaman dan tegap, atur nafas dengan teratur, jernihkan pikiran dan hapus segala prasangka, nothing to lose, apapun yang terjadi kerahkan kemampuan terbaik kita, jawab seideal dan sebaik mungkin, insyaAllah kalau rezeki gak akan lari. Hehe.

Setelah selesai interview, biasanya dilanjutkan dengan psikotes. Psikotes itu biasanya mengukur 3 aspek, aspek intelegensi, aspek sikap kerja, dan aspek kepribadian. Kalau aspek intelegensi alat tesnya antara lain CFIT, SIT, alat tes yang ada hitungan, menyusun gambar, menyusun pola gambar, mencari perbedaan, dan lain lain. Untuk aspek intelegensi ini, intinya tenang dalam mengerjakan, jangan nervous, santai saja, kalau nervous justru pikiran kita akan blank, kerjakan dengan baik dan sesempurna mungkin, kalau udah lulus S1 ya setidaknya yang kayak beginian bisa lolos lah, asal tenang dalam mengerjakan.

Yang kedua adalah aspek sikap kerja. Aspek sikap kerja ini alat tesnya antara lain Pauli dan kraeplin. Pernah melihat kertas Koran yang besaar dan berisi angka angka? Nah seperti itulah alat tes tersebut, itu namanya Pauli. Cara mengerjakannya sederhana, menjumlahkan dua angka yang berdekatan secara kontinu dan terus menerus sampai waktunya selesai, biasanya kita disuruh menggaris di angka terakhir yang kita kerjakan kalau ada aba-aba “Garis” dari instruktur tes. Kalau kraeplin biasanya kita disuruh berpindah ke garis yang lain kalau ada aba-aba “Pindah” dan menjumlahkan angka dari atas ke bawah. Tes ini intinya mengukur sejauh mana tempo kita dalam bekerja, ketelitian kita, konsentrasi, potensi dan ketahanan kerja kita. Dalam mengerjakan tes ini, kita harus konsentrasi penuh dan jangan terpengaruh dengan berbagai gangguan, focus dalam mengerjakan dan sebisa mungkin pertahankan kinerja kita dalam menghitung.

Yang ketiga adalah aspek kepribadian. Alat tesnya biasanya terbagi menjadi dua jenis, berbentuk inventory tes dan projective tes. Inventory tes itu alat tes berupa kuesioner dan tersusun atas beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta sesuai dengan apa yang ia rasakan saat itu, sesuai dengan kondisi actual dari peserta. Alat tesnya antara lain DISC, Papi kostic, MBTI, dll. Sedangkan proyective tes itu tes dimana peserta diminta untuk mengerjakan sesuatu yang diminta oleh instruktur tes, biasanya diminta untuk menggambar sesuatu, menjawab sesuatu (atau memilih sesuatu). Alat tesnya antara lain DAP (draw a person), Wartegg tes, HTP (House tree person), Rorschach tes, dll. Kedua alat tes ini, sulit dimanipulasi dan dipelajari, karena tidak ada standar baku baik atau buruk, benar atau salah, apalagi alat tes ini sudah dinyatakan valid, jadi insyaAllah hasilnya pun sesuai dengan kondisi kepribadian dari peserta,intinya adalah kerjakan saja dengan baik dan berdoa. Hehe..

Okeh. Mungkin sekian dulu dari saya, mungkin nanti kapan-kapan bisa saya lanjutkan dengan tips dan trik lainnya berkenaan karir dan pekerjaan.. salaam..