Thursday, 18 August 2011

Alina.. #1

Medio 2003

Tenang, tenang, Cuma beberapa hari, gak sampai seminggu..mereka bukan harimau yang akan memangsamu Ga, mereka Cuma anak-anak baru yang masih polos, jadi santai saja.. tarik nafas dalam-dalam. Ketika nanti berdiri di depan kelas, jangan tatap mata mereka, pandanglah hanya bagian atas mata sampai ke kepala. Lalu bicaralah sesuai apa yang ada di pikiranmu.

Berulang kali dialog itu berlangsung, antara Rangga dan dirinya. Rangga tahu, tugas ini memang berat, tapi ia sadar hanya lewat tugas ini, penyakitnya akan sembuh. Rangga menyebutnya sebagai penyakit, mungkin bukan hal yang serius bagi beberapa orang, tapi bagi Rangga, penyakit ini membebaninya.

Medio 2002

Semua bermula saat ia masuk ke sekolah ini, sekolah favorit di kotanya. Sekolah yang sama dengan kedua orang kakaknya yang kini duduk di kelas 2 dan 3. Baginya, bukan sebuah hal yang menguntungkan memiliki kakak yang terkenal seantero sekolah.
“eh kamu adeknya Rony dan Roy ya? Wah.. jago maen futsal donk?” 
“eh adeknya Roy nih, ajak masuk tim basket aja”
“eh adeknya Rony ya? Bla blab la..” dan berbagai ekspresi kekaguman serta keheranan, bahkan ada beberapa orang anak perempuan yang meminta nomer telepon rumahnya.
“Kamu? Adeknya Rony? Boleh minta nomer telpon rumah kamu gak?” aiih..

Baiklah, baginya itu masih dalam batas kewajaran, toh dirinya jadi mudah dikenali di satu angkatan karena adik dari bintang sekolah. Namun, hal ini berakibat buruk, karena bila ada tugas, acara, ataupun yang lainnya, pasti dirinya yang menjadi ‘tumbal’, ya benar sekali, ‘tumbal’

“baiklah, kini tugas membacakan pidato di depan kelas, siapa yang mau mencoba?” serentak anak-anak di kelas menjawab “ Rangga saja Pak..!”
“oh rangga, adiknya Rony kan? Rony tuh jago loh klo ngomong di depan umum, Ayo coba maju ke depan”
Dengan langkah gemetar Rangga maju ke depan kelas, keringat dingin mulai bermunculan, berdiri tegap pun ia serasa tak sanggup. Kini ia mematung di depan kelas, mata-mata mereka, mata yang serasa menusuk tajam, ia serasa diadili, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya hingga 20 puluh menit berlalu, beruntung bel berbunyi menyelamatkannya, pelajaran berakhir dengan bisik-bisik yang tidak mengenakkan di antara anak-anak sekelas.

“abangnya padahal jago banget klo ngomong, eh masa adeknya gelagapan klo ngomong di depan kelas”
“ah masa sih? Beda banget donk sama abangnya”

Kesal, marah, malu, semua bercampur jadi satu. Demam panggung membuatnya muak. Rangga sadar, ia tak sehebat Rony dalam berdialektika, atau Roy dalam berolahraga, tapi ia tahu, ia punya potensi, dan ia tak mau potensinya terhalang hanya karena sulit berbicara di depan khalayak.

**
Medio 2003

“Lu serius Ga?”
“iya Gw serius, kenapa? Gw gak boleh ikutan?”
“ah nggak, gak kenapa-kenapa, tapi lo yakin demam panggung lo gak jadi masalah nantinya?”
Ah pertanyaan itu lagi
“udah lah, lo gak usah mikirin gw, lo catet aja nama gw disana, pokoknya gw mau ikut seleksi pendamping kelas buat murid-murid baru”

Dengan sedikit kenekatan, Rangga memberanikan diri untuk mendaftar sebagai pendamping kelas bagi siswa siswi baru di sekolah itu. Pendamping kelas bertugas sebagai mentor dan pemandu selama masa orientasi sekolah. Disana pendamping kelas harus dapat membangkitkan motivasi dari siswa siswi baru, mengarahkan mereka, menjadi teman bagi mereka, dan semua itu diawali dengan berbicara di depan kelas, di hadapan siswa siswi baru. Sebuah tantangan yang dianggap sebagai obat mujarab bagi Rangga, karena baginya satu-satunya cara untuk sembuh adalah dengan menceburkan diri dalam ketakutan itu.

Seleksi pendamping kelas sebenernya bukan sebuah seleksi yang lazim pada umumnya, karena faktanya, tak lebih dari 10 orang yang mendaftar. Mungkin karena malas, atau karena merasa tak mampu jadi hanya segelintir orang saja yang mendaftar. Terpaksa panitia seleksi memohon, meminta dan merajuk pada beberapa orang agar mau ikut dalam seleksi ini, dan akhirnya terpilih lah 12 pasang pendamping kelas yang praktis lolos langsung tanpa seleksi.

Hari itu pun datang, Berbekal pelatihan singkat alakadarnya Rangga maju sebagai pendamping kelas bersama dengan rekannya, Ani, teman seangkatannya. Upacara penyambutan Siswa siswi baru di lapangan serasa hampa, Rangga fokus pada performancenya nanti di hadapan adik adik kelasnya. Tenang tenang, santai saja.
“ya perkenalkan di hadapan kalian ini, adalah kakak kakak pendamping kelas yang akan memandu dan menjadi tempat kalian bertanya selama masa orientasi, tidak tertutup kemungkinan juga setelah masa orientasi bila ada hal2 yang membuat kalian bingung, bisa kalian tanyakan pada mereka”
Kepala sekolah memperkenalkan Rangga dan para pendamping kelas lainnya, di hadapan siswa siswi baru, degh. Rangga merasakan Jantungnya berdegup cepat, tatapan mereka membuatnya kehilangan konsentrasi. Tidak tidak boleh, aku harus bisa.

“sekarang, kepada kakak kakak pendamping kelas, silahkan menuju barisan kelas yang sudah ditentukan”
Para pendamping kelas pun beranjak berjalan menuju barisan kelas masing-masing, Rangga dan Ani ditugaskan mendampingi kelas 1.D, Rangga berdiri di samping barisan kelas di bagian depan. Upacara penyambutan masih berlangsung yang dilanjutkan dengan sambutan dari bapak walikota.
“kak, nervous ya?”deg.. Sontak sindiran itu mengejutkan Rangga, ia mencoba melihat siapa siswi yang iseng menanyakan hal itu, tapi dia berada di belakang Rangga. Dengan situasi upacara yang masih berlangsung, sulit bagi Rangga menengok ke belakang.
“ah gak kok, biasa aja,” rangga hanya menjawab sekenanya
“keliatan kok dari muka kakak, pucat gitu, sakit ya kak, ini saya punya obat klo mau”
“ah gak usah, saya baik baik aja kok”
“oh yaudah”
Bapak walikota sepertinya orang yang sangat suka berbicara, 1 jam sudah berlalu, tapi beliau masih asik dengan pidatonya. Rangga tidak sabar melihat siapa murid yang jeli melihat kegugupannya itu.

Upacara pun selesai, dengan segera Rangga membalikkan tubuhnya.
“halo kak, ini obatnya, tapi cuma parasetamol”
Sebuah tangan kecil terulur memberikan sebungkus obat. Seorang anak perempuan bermata bulat, berambut pendek dengan alis tebal berjajar rapi di atas kelopak matanya, anak yang manis.
“oh iya, makasih” Rangga pun mengambil obat itu.
“katanya gak mau, tapi diambil juga kak..hehe”
“eh..eh..itu, anu, ya, gapapalah, lumayan, gratis”Sial,jadi salah tingkah gini
“oh iya, nama saya Alin, Alina, kakak kak Rangga kan?”
“loh kok tau? Saya kan blom memperkenalkan diri?”
“itu di saku kakak”, Alin menunjuk sebuah name tag yang tersangkut di saku Rangga, tertulis jelas sebuah nama.
“oh iya, saya lupa klo udah make name tag,eh..hm..oke, klo gitu, kita jalan, ayo semua, kita ke kelas.” ada nada kegugupan dalam suara Rangga, Alin benar-benar telah membuatnya hilang konsentrasi.
Rangga pun berjalan mengikuti murid murid baru itu dari belakang, dari kejauhan ia menatap sembari bergumam. Alin

Tuesday, 16 August 2011

Jejaring Alumni PPSDMS

Bismillah

Suatu waktu saya pernah ditanya, pengalaman apa yang paling berharga semasa anda kuliah. Pengalaman paling berharga? Hm.. banyak pengalaman berharga yang saya rasakan ketika kuliah, perubahan paradigma berpikir, kesempatan berinteraksi dengan sesama mahasiswa sekampus, menjadi bagian dari gerakan perubahan, dan banyak hal lainnya, tapi ada satu hal yang mungkin paling berkesan bagi saya, pengalaman 2 tahun sebagai peserta beasiswa pembinaan PPSDMS Nurul Fikri.

Sebagaimana umumnya beasiswa, PPSDMS memberikan bantuan finansial kepada pesertanya berupa uang beasiswa yang diberikan tiap bulan. Namun bagi saya pribadi, ada hal yang paling berharga dari sekedar uang beasiswa, yakni jejaring. Iya jejaring yang kami bangun sebagai keluarga besar PPSDMS.

Kami dibentuk dan dibina pada sebuah asrama pembinaan, disana kami diberikan berbagai materi baik ruhiyah maupun jasmani. Kesempatan mendapatkan pelatihan dan pembinaan diri merupakan hal yang sangat berharga bagi saya, karena secara umum ada semacam quantum leap (lompatan quantum) yang saya rasakan, ada sebuah peningkatan kualitas diri. Namun hal ini bukan menjadi faktor yang paling penting bagi saya, karena bagi saya pribadi, peningkatan kualitas diri bisa dipelajari di tempat lain, bukan hanya di ppsdms, lalu apa faktor yang paling penting itu?, faktor itu adalah faktor nilai (value) yang ditanamkan kepada kami.

Bukan, bukan indoktrinasi, tapi penghayatan atas nilai yang kini lambat laun tergerus derasnya modernisasi. Nilai nilai religius, kebangsaan, dan pengorbanan. Tiap hari bahkan tiap saat kami diajak untuk sama-sama memahami dan menghayati apa sebenarnya makna dari nilai-nilai itu, apa pentingnya pengorbanan untuk bangsa dan agama ini, apa manfaat nya bagi bangsa dan ummat, dan apa peran kita disana. Terus menerus kami diajak untuk memahami dan memaknainya sehingga kami sadar bahwa tanggung jawab membangun bangsa ini di masa depan adalah tanggung jawab kami, para pemuda yang kelak akan menerima estafet kepemimpinan bangsa ini.

Karenanya kami sadar, bahwa kami harus bersama-sama, dengan seluruh komponen bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik, maka dari itu kami pun sepakat membangun jejaring yang mengatasnamakan alumni PPSDMS. Jejaring ini memiliki banyak makna bagi saya, dengan satu nilai, satu visi, dan satu tujuan, yang diikat dalam satu korps membuat kami dapat membangun kekuatan perubahan atas segala potensi yang dimiliki tiap individu dalam satu korps. Lihatlah Jesuit, program pembinaan sdm kader katolik, yang tahun lalu merayakan ultahnya yang ke 100. kini Jesuit menebarkan alumninya di hampir 200 negara di dunia dengan jumlah alumni lebih dari 2000 orang yang tersebar di ratusan institusi bergengsi di dunia. Dimana bila mereka berkumpul, hampir dapat dipastikan mempengaruhi peta politik, social dan budaya di dunia.

Begitu pula harapan kami, suatu saat, 30 tahun kemudian, kami berkumpul lagi di dalam sebuah konferensi tingkat nasional dengan jumlah alumni seribu orang lebih, dimana sebagian besar diantaranya telah berhasil menjadi teknokrat handal, banker brilian, negarawan yang bijak, politikus berintegritas, dan pengusaha yang sukses. Dengan satu visi dan satu cita, bergeraknya kami diharapkan dapat membuat perubahan bagi negeri ini, Semoga. Mungkin terdengar utopis, tapi kami yakin Alloh beserta prasangka hambanya.

Nb.
  1. PPSDMS baru ada di 5 regional di Indonesia, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Bogor. Rencananya kami akan terus membuka perwakilan di seluruh wilayah Indonesia.
  2. Alumni PPSDMS kini berjumlah 395 alumni dari 5 regional dan 4 angkatan.
  3. sebagian diantaranya telah menjadi pengusaha muda, diplomat, dan professional di bidangnya.

Monday, 15 August 2011

DPO Yang Sempat Singgah di Perusahaan Saya

Bismillah

Posisi dan jabatannya lumayan tinggi, staf khusus direksi, siapa yang menyangsikan bahwa posisi itu bisa dibilang bergengsi. Tapi ada suatu keanehan, dia bersedia dikontrak selama setahun oleh perusahaan tanpa kejelasan apakah ia bisa diangkat menjadi pegawai tetap atau tidak. Saya bingung, untuk kapasitas orang yang berpengalaman sepertinya, mau dan tanpa banyak alasan, menerima sodoran kontrak dari perusahaan. Sayapun belum tentu mau disodori kontrak seperti itu,perbandingannya adalah Saya saja yang cuma level officer dan pengalaman yang minim dikontrak permanent dengan probation 3 bulan sebelum diangkat menjadi pegawai tetap.

Saya dan dirinya masuk hampir berbarengan, lebih cepat saya seminggu. Dan selama berinteraksi tak ada yang aneh dari dirinya, bahkan ia cenderung ramah dan cepat bergaul dengan orang-orang. Karena tugasnya sebagai staf khusus direksi, membuat dirinya lebih sering keluar kota untuk dinas, katanya sih dalam rangka OJT (on job training).

Beberapa minggu berlalu sampai di penghujung bulan kedua, saya mendapat kabar bahwa dia mengundurkan diri, loh? Ada apa nih? Pasti ada masalah. Dan ternyata benar, dia memiliki masalah dengan beberapa orang di kantor sehingga memutuskan untuk keluar. Permasalahannya pun unik, selama ia berpergian keluar kota dalam rangka dinas, teryata ia meminjam sejumlah uang pada beberapa orang di beberapa kantor cabang. Besarnya pun beragam, dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Alasannya dia ingin mengembangkan bisnisnya jadi butuh modal dan berjanji akan mengembalikannya bila bisnisnya berhasil, alasan yang sama ke setiap orang. Ketika diminta untuk mengembalikan uangnya, alasannya bermacam-macam, bisnisnya belum berhasil, atau uangnya habis ditipu orang, atau anaknya sakit jadi terpakai, dan lain sebagainya. Mungkin tak tahan ditagih, ia keluar per tanggal 10 Agustus 2011.

Secara umum, saya melihat ia orang yang cukup mapan dari segi ekonomi, bisa dilihat dari Honda jazz keluaran tahun 2005 dan jam tangan bermerk yang melingkar di tangannya. Jadi bisa dibilang basic neednya telah terpenuhi bahkan berlebih. Lalu apa kira-kira motifnya meminjam? Apa karena pola hidupnya yang mewah sehingga ia butuh banyak uang untuk memenuhi kebutuhanya?, saya pun iseng mengetik namanya via om google dan ternyata banyak sekali berita tentang dirinya yang beredar di dunia maya, ini salah satu linknya


wow, ternyata dia sudah seperti buronan, dicari-cari oleh banyak orang karena modusnya yang sama, meminjam sejumlah uang dan susah (baca:tidak mau) mengembalikannya. Mungkin ini bisa menjadi feed back bagi perusahaan saya dan perusahaan lainnya, ada baiknya kalau mau menerima pegawai cross check reference dulu, bagaimana track recordnya, setidaknya check via google dulu, jangan-jangan tuh orang sebenernya sudah masuk DPO Interpol #ngaco.

Nb. Saya masih bingung sebenernya kenapa tuh orang bisa lolos di perusahaan saya. Maen dukun ? gak tau dah