Monday, 15 August 2011

Pola Kerja Di Tempat Baru

Bismillah

Dulu ketika ngantor di tempat yang lama (bank siang malem), hampir sebagian besar waktu saya di habiskan di kantor. Teorinya saya masuk jam 8 pulang jam 5, tapi kenyataannya masuk jam 7.45 pulang diatas maghrib, itupun kalau beruntung, seringnya pulang di atas jam 7 malem. Lalu dari sisi load pekerjaan, dengan anggota tim yang berjumlah 6 orang yang ditugaskan mengurus rekrutmen dengan kebutuhan seribu pegawai per tahun, bisa dibayangkan, bagaimana jungkir baliknya kami memenuhi kebutuhan pegawai di cabang-cabang selindo.

Itu kalau saya berada di kantor, tapi untungnya saya lebih sering dinas luar kantor, di tempat lama ini lah saya untuk pertama kalinya bisa keliling Indonesia, dari sumatera hingga maluku (papua saja yang blom), tentu saja keliling Indonesia untuk dinas (baca:jalan-jalan) merekrut pegawai di cabang-cabang. Rata-rata tiap bulan 2-3 kali saya dinas luar, dengan jangka waktu dari januari 2010 hingga april 2011.

Per mei 2011, sayapun pindah ke tempat kerja baru, PNM bagian rekrutmen divisi SDM, dengan pekerjaan yang mirip-mirip dengan tempat yang lama, rekrutmen juga. Tapi yang berbeda adalah saya bisa masuk dan bangun lebih siang karena disini saya masuk jam setengah 9. karena masuk yang lebih siang, otomatis pulangnya agak sore, jam setengah 6 TEPAT alias Tenggo (teng langsung go). Dari sisi load pekerjaan, lebih ringan dari tempat lama, kenapa lebih ringan? Entah lah, mungkin karena BUMN jadi dari sisi tuntutan pekerjaan tidak seketat di tempat lama yang notabene perusahaan swasta.

Alhamdulillah, bagi saya pribadi, Saya bersyukur, karena di tempat yang baru ini, setidaknya saya bisa lebih focus dalam mengisi aktivitas di bulan ramadhan tanpa dibebani dengan load pekerjaan yang menumpuk. Walau terkadang saya rindu bisa melanglang buana keliling Indonesia seperti dulu

Sederhana

Bismillah.

Dari informasi yang dulu pernah saya dapatkan ketika kuliah, seseorang dianggap cerdas ketika Usia Mentalnya (MA – Mental Age) lebih tinggi dari usia sebenarnya (CA – Chronologicall Age), jadi sederhananya begini, Usia si anak misalkan 7 tahun, tapi dia telah mampu melakukan pekerjaan ataupun memiliki pengetahuan dari seorang anak berusia 9 tahun, berarti anak tersebut secara mental lebih dewasa 2 tahun dibanding anak-anak seusianya. Dengan kata lain semakin kompleks cara berpikirnya dibanding anak-anak seusianya, semakin dianggap cerdas anak tersebut

Kompleksitas, kerumitan, menjadi tolok ukur perkembangan kecerdasan seseorang, semakin rumit dan kompleks cara berpikirnya, semakin dianggap cerdaslah ia. Lazimnya ini yang dipahami oleh sebagian besar orang. Begitu pula dengan saya, pernah suatu kali saya membaca tulisan saya ketika SMA dan membandingkannya dengan tulisan saya ketika kuliah. Alhasil adalah, saya tersenyum, kata-kata yang digunakan sederhana, idiomnya pun tak ada, frase antar kalimat juga biasa saja. Wah, kalau bikin proposal penelitian atau makalah seperti ini, bisa-bisa gak bakal tembus sama dosen.

Dikarenakan perkembangan pola berpikir manusia menjadi lebih cerdas (baca:kompleks) membuat seorang menjadi lebih kritis dan berhati-hati. Pertanyaan-pertanyaan muncul tatkala ada sesuatu yang dirasakan menggelitik logikanya, kenapa seperti ini? Kenapa gak seperti itu? Kenapa harus begini? Dan berbagai pertanyaan lainnya. Tak jarang, pertanyaan itu muncul bukan karena ada hal yang janggal dan hendak ditanyakan, tapi karena excuse (alasan) agar dapat terhindar dari hal-hal yang kurang disukainya. Contohnya seperti ini, ada seorang perempuan yang dibilang pakar dalam dunianya, ya terlihat dari gelar akademisnya yang berderet di depan dan di belakang namanya. Dia beralasan, “jilbab itu bukanlah tuntunan syariah, tapi hanya sebagai budaya orang arab. Terlihat dari bukti sosiologis dan cultural. Dan bukti bla.. bla..bla” (maaf, sepertinya gak terlalu penting dibahas), entah memang karena motif akademis atau karena memang gak suka pake jilbab, who know?. Sehingga bisa dibilang, kekompleksitasan berpikir manusia terkadang membuat sekat pada suatu yang dogmatis contohnya ajaran agama.

Ajaran agama, khususnya islam, memang kental dengan nuansa dogmatis, tapi islam tidak alergi dengan diskusi ataupun kritikan. Telah banyak bukti yang membenarkan hal ini, bahwa islam sejalan dengan sains dan teknologi serta akal budi manusia. Buktinya? Dilain kesempatan mungkin bisa kita bahas lebih jauh nantinya, tapi yang jelas saking ribet dan kompleksnya berpikir manusia, untuk sholat saja seseorang masih berpikir untung ruginya, untuk zakat saja masih berpikir “nanti gw bakal miskin kagak nih?”, dan berbagai alasan serta pertanyaan ketika diminta menjalankan ajaran islam.

Sayapun berpikir, mungkin orang badui lebih baik dari saya. Ketika rasul ditanya oleh orang badui, apa itu islam, Rasul pun menjawabnya dengan 5 rukun Islam, lalu si badui pun berkata “demi Allah, saya tidak akan menambahkan atau mengurangi dari 5 hal itu” dan badui itupun berlalu. Rasul pun bersabda kepada para sahabat “sesungguhnya ia adalah ahlul Jannah, bila ia benar-benar melaksanakan apa yang dikatakannya tadi”. Kitapun bisa melihat bahwa cara berpikir sederhana dari si badui membuat ia digolongkan ahlul jannah, berbeda dengan kita yang ‘cerdas’ sehingga ada saja alasan ketika diminta menjalankan perintah Allah dan Rasulnya.

Kompleksitas berpikir manusia dan kerumitan di dalamnya terkadang membuat sekat dengan perintah Allah dan Rasulnya. Sekat yang hanya bisa ditundukkan dengan hati yang ikhlas dan ridho terhadap apa yang diminta sang khalik serta rasulnya. Karena setinggi-tingginya akal manusia, takkan bisa memahami hikmah dan rahasia dibalik perintah sang pencipta. Hikmah dan rahasia yang hanya bisa dipahami lewat mata hati yang jernih dan ikhlas.

Wallahu alam

Friday, 12 August 2011

Hai, Apa Kabar..!

Bismillah.
Tak terasa, sudah hampir setahun lebih sejak terakhir kali saya memposting tulisan di ‘rumah’ maya ini (terakhir kali tanggal 16 Mei 2010 kalau tidak salah). Nampaknya rumah ini kian mendekat untuk menjadi apa yang disebut banyak netter sebagai ‘sampah’ dunia digital. Hm.. tapi tidak, sayang sekali bila benar-benar menjadi sampah, karena sudah banyak kenangan dan rekam jejak memory saya di dalam blog ini.

Oke, kabar saya baik-baik saja (lah emang ada yang nanya?), status masih single, dan masih tinggal di bekasi. Sudah hampir tiga bulan saya bekerja di kantor yang baru di daerah sudirman. Perusahaan milik Negara yang bergerak di bidang pembiayaan mikro. Tugas saya disana sebagai seorang rekruter, dengan kata lain pekerjaan saya berhubungan dengan alat tes psikologi dan manajemen serta strategi rekrutmen pegawai.

Mungkin sekian dulu informasi singkat tentang kabar saya (halah..), saya pamit dulu, mau ifthor bareng sama orang kantor..

Wassalamualaikum