 |
| Sumber: tempo.co |
Ini tulisan pertama saya tentang pelabuhan yang coba diajukan (dan diadu) ke media massa nasional. Awalnya Kompas, hasilnya? ditolak tentu saja, hehe. Tidak putus asa, lalu saya coba kirimkan lagi ke Sindo, Republika, dan Media Indonesia, hasilnya? tidak ada jawaban. Daripada mubazir, dan dibuang sayang, akhirnya saya post juga di blog ini.
****
Sinergisitas Pelabuhan dan Pemerintah
Dalam
suasana serba politis menjelang pilpres Juli nanti, Jokowi pada hari Rabu 16
April 2014 bertandang ke Pelabuhan Tanjung Priok, tujuannya adalah untuk
memantau proses pembangunan Jalan Tol Plumpang-Cakung-Cilincing Jakarta Utara
dan Jalan Tol Priok Acces Road Construction Project Cilincing-Jampea.
Jokowi juga menyempatkan diri meninjau proses pembangunan Dermaga Kalibaru atau
New Priok phase 1 yang diperkirakan akan rampung akhir tahun ini dan
digadang menjadi salah satu terminal pelabuhan terbesar di Indonesia.
Kunjungan
tersebut dirasakan membawa angin segar bagi sebagian praktisi kepelabuhanan dan
maritim. Pasalnya kunjungan Jokowi yang masih berstatus sebagai gubernur DKI
menyiratkan bahwa ada perhatian serius dari pemerintah terhadap kondisi
pelabuhan khususnya di Jakarta. Ditambah lagi Jokowi yang tak lama lagi akan
bertarung dalam pilpres memunculkan harapan, akankah Prabowo, tidak hanya Jokowi,
memiliki concern dan strategi dalam memperbaiki kondisi logistik dan
industri maritim di Indonesia?
Maritim
dan Logistik Indonesia
Luas
wilayah Indonesia yang sebagian besar perairan membuat industri transportasi
maritim diharapkan mampu menjawab permasalahan transportasi dan logistik di
Indonesia. Menggunakan kapal laut sebagai sarana transportasi dalam
mengantarkan barang dan logistik lainnya memiliki beberapa keuntungan.
Pertama,
biaya yang lebih murah. Mengirimkan barang lewat Kapal laut besar (mother
vassel) yang berfungsi mengangkut container dengan muatan hingga
4000-5000 Teus (satuan container dengan ukuran standar 20 feet)
hanya memakan biaya $ 0,97 per ton mil yang berarti hanya membutuhkan biaya sebesar
$ 0,97 per ton cargo untuk perjalanan sejauh 1 mil. Sedangkan bila
menggunakan kereta api membutuhkan biaya $ 2,53 per ton mil dan dan bila
menggunakan truck sebesar $ 5,35 per ton mil. Sebagai contoh, bila 500 ton cargo
dalam 25 container dibawa via kapal laut sejauh 20 mil perjalanan
eksport-import hanya membutuhkan biaya $ 9700 sekali perjalanan. Jauh lebih
murah jika dibandingkan dengan menggunakan kereta api yang membutuhkan $ 25300
dan $ 53500 bila menggunakan truk container.
Keuntungan
kedua, meminimalisir potensi kemacetan via jalur darat. Pertumbuhan kendaraan
per tahun mencapai 11 % sedangkan pertumbuhan jalan hanya 0,01 %. Ketersediaan
jalan yang minim dalam menampung jumlah kendaraan yang bertambah tiap tahunnya
menyebabkan kepadatan di beberapa ruas jalan di Indonesia terutama di kota
besar seperti Jakarta. Kemacetan tersebut secara tidak langsung memperlambat
waktu penyampaian barang kepada customer. Padahal efisiensi waktu
sangatlah penting untuk mendorong dan meningkatkan proses aktivitas perdagangan
di suatu daerah. Diharapkan dengan memaksimalkan jalur laut, produsen dapat
langsung mengirimkan barang lewat kapal laut di dekat pelabuhan yang terdekat
dengan wilayah konsumen. Walaupun nantinya tetap menggunakan jalur darat,
setidaknya potensi kemacetan dapat diminimalisir.
Keuntungan
yang ketiga, ketergantungan pada infrastruktur yang kecil. Membangun jalan
layang yang kokoh dan kuat membutuhkan biaya yang tidak murah. Padahal semakin
berat suatu cargo atau barang yang dibawa lewat darat, maka akan berimbas pada
jalan yang kemungkinan rusak karena beban yang tinggi. Sehingga kebutuhan
biaya untuk memperbaiki akan selalu tinggi tiap tahunnya, padahal mungkin saja
biaya tersebut dapat dialokasikan ke sektor lain yang dapat menurunkan biaya
logistik yang ada di Indonesia misalnya sektor transportasi dan kepelabuhanan.
Sinergisitas
Pelabuhan dan Pemerintah
Presentase
biaya logistic di Indonesia dirasakan masih terlalu tinggi oleh para pengusaha.
Biaya logistik yang memakan 24-26 % dari keseluruhan biaya produksi membuat
pengusaha mau tak mau menaikkan harga jual untuk mengimbangi besarnya
pengeluaran untuk ongkos logistik saja, terutama dalam proses distribusi
barang. Secara nasional, Skor Logistic Performance Index(LPI) Indonesia yang dilansir
oleh worldbank di tahun 2014 adalah 3,08 (skala 5) naik sebanyak 0,14 poin
dibandingkan tahun 2012 yaitu 2,94. Melihat data ini, telah terjadi perubahan
yang cukup signifikan atas skor LPI Indonesia yang naik dari peringkat 59 di
tahun 2012 ke peringkat 53 dunia di tahun 2014. Masih kalah dari Vietnam di
peringkat 48 dan Thailand di peringkat 35 (cukup dibandingkan dengan dua negara
di asia tenggara ini, dengan singapura sudah terlalu jauh. Singapura di
peringkat 5 dunia).
Berdasarkan
data tersebut, ada enam komponen yang dinilai dalam skor LPI, customs
(proses pemeriksaan barang yang masuk, contohnya bea cukai), infrastructure
(pelabuhan, jalan raya), international shipment (kemudahan dalam
menentukan biaya dan moda pengiriman), logistic competence (kompetensi
dan kualitas dari pelayanan logistik), tracking & tracing (kemampuan
melacak barang kiriman), dan timeliness (akurasi waktu dari rencana
pengiriman). Dari keenam komponen tersebut Indonesia memiliki skor dibawah 3
untuk komponen customs (2,87), infrastructure (2,92), dan international
shipments (2,87).
Yang unik
adalah, jika kita menilai secara kasat mata skor 3 komponen di atas, naiknya
peringkat LPI Indonesia dari peringkat 59 di tahun 2012 ke peringkat 53 di
tahun 2014 adalah kenaikan tanpa membangun infrastruktur baru dan tanpa
memperbaiki kualitas customs (bea cukai) yang ada selama ini. Dimana kedua hal
tersebut idealnya merupakan tanggung jawab pemerintah. Tapi justru tanpa
membangun dan memperbaiki kedua komponen itu LPI Indonesia naik cukup
signifikan.
Setelah
dilihat, komponen seperti logistic competence, tracking & tracing,
dan timeliness yang ternyata mengkatrol skor LPI Indonesia, skornya
cukup baik (diatas 3). Dimana ketiga komponen tersebut merupakan inti dari
pelayanan logistik yang sebagian besarnya dimulai dari pelabuhan. Untuk
Indonesia, pelabuhan yang paling vital adalah pelabuhan Tanjung Priok karena
70% aktivitas ekspor-impor Indonesia melalui Priok. Maka hanya dengan
memperbaiki kualitas pelayanan pelabuhan di Tanjung Priok seperti kemudahan
untuk shipment, tracing barang ada
di mana, ketepatan waktu pengiriman barang, LPI Indonesia dapat naik hingga 6
peringkat.
Tentunya
peran pemerintah diharapkan lebih besar untuk meningkatkan skor LPI Indonesia.
Karena sejauh ini pemain utama di bidang logistik, perusahaan pelabuhan telah
banyak berbenah. Bahkan beberapa rumusan solusi dari permasalahan maritim dan
logistik Indonesia banyak dimulai oleh perusahaan pelabuhan misalnya PT
Pelabuhan Indonesia II. Antara lain membangun terminal pelabuhan new priok
dengan mereklamasi daerah utara Jakarta yang akan menjadi pelabuhan terbesar di
Indonesia. New priok diperkirakan dapat menangani bongkar muat container
hingga 13 juta Teus (pelabuhan tanjung priok hanya 7-8 juta Teus, Teus = 1 container
ukuran 20 feet) yang memakan biaya hingga 40 Trilyun. Jika proyek ini
benar-benar terealisasi dengan baik, diperkirakan akan meningkatkan volume
perdagangan dan juga meningkatkan GDP Indonesia.
Solusi lain yang ditawarkan oleh perusahaan pelabuhan
(Pelindo I-IV) adalah konsep Pendulum Nusantara. Pendulum Nusantara adalah
sebuah sistem rute pelayaran sepanjang jalur barat-timur Indonesia yg
beroperasi seperti pendulum. Rute yang dimaksud akan melewati enam pelabuhan
utama, yakni Belawan, Batam, Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Sorong. Dengan
konsep ini, pelabuhan-pelabuhan tersebut diharapkan menjadi pelabuhan utama di
regional mereka masing-masing yang akan dilewati oleh kapal besar dengan
kapasitas lebih dari 3000 Teus. Sehingga nantinya bila konsep ini berjalan,
biaya logistik akan ditekan karena biaya angkut yang dapat ditekan hingga 20%.
Maka jangan heran bila nantinya harga barang di sorong akan sama dengan di Jawa
karena ongkos logistik yang sama murahnya.
Bila industri pelabuhan telah bergerak jauh, maka
sekali lagi, peran pemerintah dapat lebih besar seiring dengan terbentuknya
pemerintahan baru pasca pileg dan pilpres di tahun ini. Tidak sekedar dengan
dukungan dalam bentuk regulasi perundang-undangan tapi juga dukungan kongkret
dalam membangun infrastruktur seperti jalan dan pelabuhan , meningkatkan
kualitas pelayanan Bea Cukai, dan menjadi mitra yang memiliki pemahaman bahwa
mengembangkan dan memperbaiki industry maritim dan logistik Indonesia, berarti
memeratakan pembangunan di Indonesia. Akankah Presiden yang nanti terpilih
mampu memenuhi harapan ini? Kita tunggu saja.