Monday, 25 February 2008

iklan rokok : tanya kenapa?


brand awareness, konsep marketing yang mengatakan bahwa konsumen memiliki derajat keteringatan terhadap suatu produk yang berbeda-beda. selain dunia marketing, psikologi pun mempelajari hal yang sama dari sisi tingkah laku dan kognisi dari konsumen. psikologi mencoba melihat perilaku yang muncul ketika konsumen melihat ataupun dikenalkan pada suatu produk. apakah si konsumen merasa aware(baca:sadar, mengingat) terhadap suatu produk sehingga memungkinkan dia untuk membelinya ataukah meninggalkannya.

sedangkan dari sisi kognisi, psikologi mencoba melihat bagaimana proses pembentukan dan penyimpanan brand tertentu pada fungsi kognisi manusia. sehingga nantinya secara tepat dapat diterapkan langkah-langkah dalam penyusunan brand tertentu pada suatu produk sehingga konsumen dapat lebih mengingat produk tersebut, dan pastinya membuat konsumen bertahan untuk menggunakan produk tersebut dalam jangka waktu tertentu yang hasilnya berupa profit bagi produsen.

baik, itu sekilas tentang definisi brand awarenes. sebuah konsep psikologi yang diadaptasi dalam dunia marketing. sekarang kita beranjak pada contoh kasus mengenai suatu produk yang mengandalkan teori ini. iklan rokok. iklan rokok sangatlah jeli dalam mencari sebuah brand yang dapat diingat oleh konsumen. dengan berbagai cara mereka melakukannya, tapi lebih didominasi oleh iklah yang memakai sebuah jargon khas, seperti "tanya kenapa?", "bikin hidup lebih hidup", "gak ada lo gak rame", dll. yang jelas mereka kreatif dan berhasil dalam menarik minat konsumen untuk mengingat produk itu.

namun, ada sebuah perbedaan pada cara yang mereka gunakan untuk menarik konsumen dengan cara dari produk2 lain, selain rokok tentunya. contoh, bila ada iklan sepeda motor seperti suzuki, maka mereka biasanya juga mengikutsertakan sample produk dari sepeda motor ini disertai jargon produk. sehingga konsumen mengetahui secara jelas, apa bentuk dari produk tersebut. sedangkan iklan rokok tidak melakukan hal itu. ada yang mengatakan bahwa hal ini tidak lah etis. menampilkan orang yang sedang merokok, sama dengan menyuruh seseorang untuk merokok(bukankah ini tujuan dari iklan?duh...bingung) yang secara tidak langsung mengakibatkan berbagai jenis gangguan(?). intinya seperti itulah, gak etis...

lalu, kalau dipikir-pikir..sebenernya apa sih yang membuat orang yang pertama kali menonton iklan rokok, dapat mengambil kesimpulan bahwa itu iklan rokok?karena klo dilihat-lihat gak ada satupun iklan rokok yang nyambung ama rokoknya. yang ada justru keadaan yang tidak berhubungan sama sekali dengan iklan rokok. bahkan suatu kali ada yang menganggap gencarnya iklan dan poster esia diwarung-warung, tempat hiburan, dll saat itu, sebagai sebuah perkenalan produk rokok terbaru. karena saking rancunya apa yang disebut iklan rokok.

oleh karena itu saya punya satu hipotesis tentang hal ini. tentang iklan rokok yang gak jelas iklannya tapi semua orang bisa tau klo itu iklan rokok. jadi gini ceritanya, pernah gak kita ngeliat himbauan pemerintah tentang bahaya rokok?. "rokok dapat menyebabkan impotensi, serangn jantung, dan gangguan kehamilan dan janin."pernah kan?. klo menurut saya, himbauan pemerintah inilah yang menyebabkan seseorang bisa tau ini iklan rokok atau nggak. karena waktu ada iklan esia yang ditempel poster2nya di warung2 gak pake kata2 itu, orang langsung berasumsi "mungkin sama aja kayak iklan rokok yang laen".

nah! jadi sebenernya klo buat mengatasi penyalahgunaan ataupun mengurangi jumlah perokok sebenernya cukup gampang. hilangkan aja himbauan pemerintah itu(gak juga sih, paling gak pemerintah ingin berlepas tangan atas akibat yang ditimbulkan dari rokok), dijamin insyaAlloh, banyak orang yang baru pernah sekali ngeliat iklan bakal menyangka bahwa ini iklan produk lain, bukan iklan rokok.

maka itulah kenapa rokok susah banget diturunkan jumlah konsumsinya...(dangkal banget ya? gapapalah sekali-kali...)

kesimpulan : pemerintah berhasil meyakinkan konsumen kalau iklan rokok harus diikuti dengan pernyataan bahwa "rokok menyebabkan kanker, impotensi, serangan jantung, dan gangguan kehamilan dan janin"...kalau gak ada pernyataan ini? tanya kenapa?





 

Saturday, 23 February 2008

Mencermati RKAT UI 2008



malam ini di asrama, seperti biasa kami semua mengadakan rapat rutin tiap pekan. kalo di lembaga2 formal atau nonformal lebih dikenal dengan krida. malam itu kami seperti biasa membahas hal-hal yang menyangkut asrama dan kegiatan2 di dalamnya. semua santri ppsdms telah hadir, minus ketua BEM UI dan FISIP. klo ketua BEM UI katanya lagi ngisi acara di asrama UI, klo ketua BEM FISIP belum ada kabar. jadi tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada mereka berdua, akhirnya kami memulai krida pekan ini.

seperti biasa, krida pekan ini membahas tentang berbagai hal di asrama. dari masalah piket hingga perekrutan calon santri baru PPSDMS 2008-2010. di tengah pertemuan itu akhirnya salah satu dari dua orang yang telah saya sebutkan di awal datang juga, Adhi Ketua BEM FISIP. tanpa banyak bertanya, Adhi mengikuti krida ini hingga selesai. nampaknya ada sesuatu hal yang membuat Adhi terdiam hingga tak bergairah mengikuti krida ini. seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. saya ingin bertanya, namun keinginan itu saya tahan hingga krida selesai dan Adhi menyampaikan sesuatu.

"teman-teman, hari rabu nanti insyaAlloh, Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan UI akan disahkan, dan salah satu point dalam RKAT itu adalah menaikkan anggaran SPP sebesar 300 ribu rupiah. awalnya UI telah mengatakan bahwa SPP akan naik, namun saat itu isu yang beredar adalah kenaikannya hanya 70 ribu." tutur Adhi menjelaskan secara seksama kepada kami.

jujur, saat itu kami sempat terdiam sesaat setelah Adhi menjelaskan hal ini kepada kami. terlintas dalam benak saya wajah-wajah penuh harapan dari anak bangsa yang pupus hanya karena masalah finansial. wajah-wajah yang merupakan representasi indonesia sesungguhnya. karena saya yakin, UI yang menyandang nama besar bangsa ini, masih layak disebut representasi indonesia sebenarnya. sebuah keyakinan yang terbentur dengan realita yang ada. karena sekarang UI hanya milik sebagian orang yang mampu memenuhi mahalnya biaya pendidikan tinggi, meski dengan itu sebagian dari mereka harus rela banting tulang untuk memenuhi tuntutan ini.

Lalu Adhi melanjutkan penjelasannya yang membuat saya terbangun dari khayal sejenak “tapi, hal ini dapat kita ubah dengan menyatukan semua elemen dari mahasiswa. Dengan suara bulat mahasiswa menolak kenaikan SPP, semoga rencana ini tidak akan terjadi. Untuk itu saya harap kita semua dapat menjelaskan hal ini pada teman-teman di fakultas kita untuk menolak kenaikan SPP ini”.

“saya tidak tahu persis apakah hal ini berlaku surut, jadi anak 2007 ke bawah tetap kena kenaikan ini atau tidak. Tapi yang jelas MABA 2008 sudah hampir terkena kenaikan ini jika memang kenaikan ini benar-benar terjadi” jelas Adhi menambahkan pernyataannya tadi. mendengar hal ini seperti sebuah panggilan bagi saya. Panggilan agar tidak menjadi generasi yang tidak bertanggung jawab pada generasi setelahnya. Generasi yang membiarkan calon-calon penerusnya terbebani akibat ketidakberdayaannya untuk mencegah sebuah ketidak adilan terjadi.

…Ayo, bangkit bersama agar UI tetap menjadi Kampus rakyat. Agar UI dapat menjadi tempat yang nyaman bagi seluruh anak bangsa…




Thursday, 21 February 2008

Ketika Kemewahan bersinergi dengan Pergerakan

ada sesuatu yang unik di fakultasku. kucoba mencari keunikan ini di fakultas lain, namun (mungkin) ku tak menemukannya. fakultasku mempunyai keunikan, institusi ini mempunyai organisasi atau lembaga atau apapun namanya yang menggabungkan 3 elemen utama. elemen mahasiswa, orang tua mahasiswa, dosen, dan Alumni,,,oiya maaf, bukan 3 elemen, namun 4. elemen-elemen ini bersinergi dibawah sebuah paguyuban(lebih tepatnya) yang bernama POMDA.

ya...POMDA nama lembaga itu, persatuan orang tua mahasiswa, mahasiswa, dosen, dan alumni (mungkin terdapat kesalahan dalam penulisan kepanjangan dari POMDA, tapi esensinya, lembaga ini, ataupun paguyuban ini, atau apapun namanya menggabungkan beberapa elemen di fakultas..). tak kusangka dan tak pernah kubayangkan aku dapat bertemu dengan pimpinan-pimpinannya yang konon mempunyai pengaruh yang cukup kuat pada fakultasku.

tepatnya kemarin tanggal 19 februari 2008, saat ku sedang mempunyai agenda lain yang sangat penting ketika Mufti KaBEM Psiko UI memberitahuku lewat SMS, "Gar, pomda ngajakin rapat sekarang, lo bisa ikut ga?". otakku langsung memproses sinyal ini serta mencoba mengambil sebuah silogisme dari kabar ini. Rapat POMDA sekarang=batalin kursus bahasa inggris+gak ikut rapat asrama. suatu konsekuensi yang berat untukku, karena membatalkan kegiatan asrama sama saja dengan melanggar komitmenku di asrama(ciee...). namun, karenaku tahu klo gak dateng bakal lebih runyam lagi, khususnya buat MPM-ku, maka kuputuskanlah untuk ikut "muf, gw ikut!tapi bareng ama lo ya?". singkat cerita akhirnya aku ikut rapat POMDA di rumah ketuanya, Pak Tubagus, di bilangan permata hijau.

perjalanan menuju tempat itu memakan waktu yang tidak sedikit, setidaknya dapat membuatku dua kali tidur dan dua kali bangun(intinya jauh banget!!). tak terbayangkan klo gak lewat tol, pasti bakal lebih lama lagi. setelah menempuh perjalanan yang melelahkan walaupun cuma duduk doang di mobil KIA picanto-nya Mufti,akhirnya aku sampai di rumah Pak Tubagus, ketua POMDA.

saat turun dari mobil, aku disajikan oleh pemandangan rumah-rumah mewah beserta gedung apartemen permata hijau sebagai latarnya. sungguh permukiman kelas wahid dan elite. tak mungkin menurutku orang-orang yang hanya mengandalkan gaji UMR (baca:upah minimum regional jakarta=800-900ribu/bulan,dikali 10 tahun=tolong itungin) yang meskipun sudah didepositakan olehnya selama 10 tahun dapat membeli rumah semewah ini.

rumah pak Tubagus berada diantara belantara rumah-rumah mewah lainnya. meski tak pantas bila ku mengatakan bahwa rumah beliau itu kecil, namun untuk ukuran rumah di kompleks itu, rumahnya tergolong 'sederhana'. yah...sederhana disana mungkin standarnya punya garasi satu, lapangan basket atau olahraga satu, dan ada pagar tinggi di depan rumah, satu.

seiring jalannya waktu, aku memasuki rumah pak Tubagus. rumahnya, seolah tak membiarkan diriku untuk terpana sejenak, kembali aku disajikan oleh pemandangan luar biasa. interior dan pelengkapnya yang sangat 'elegan'(bentuk eufimisme, sangat vulgar klo pake kata aslinya) menyambutku. interior dari tata ruang dan cahaya yang apik dan interior dari furniture kelas wahid.

selanjutnya, pelengkap dari interior itu tentu saja hal-hal diluar bentuk fisik bangunan. seperti makanan yang disajikan dan minumannya. bila tidak dikatakan mewah, makanan ini mungkin layak disebut 'unavailable' di pasaran. nama2nya yang asing membuatku cukup tahu akan rasanya saja, daripada repot-repot lagi mencari nama dari makanan2 ini.

setelah berbagai ritus (baca:seremonial,cth:makan, minum, haha, hihi, bengang, bengong, etc) selesai, acara (akhirnya) dilanjutkan dengan rapat POMDA antara mahasiswa yang dengan ini diwakili olehku dan mufti, alumni yang diwakili (mungkin) oleh pak tubagus, dan dosen yang diwakili oleh bu wadek II. sebenarnya ada beberapa orang lagi yang hadir dalam pertemuan itu. mbak Novi dari POMDA yang selalu menjadi primadona kami para pengurus BEM dan MPM(dia yang megang duit, jadi gak bisa macem2), bu Tubagus(?), Robi waka 2 BEM, Anggun Bendum BEM dan lain2(kurang kenal).

kembali lagi ke cerita tentang rapat POMDA ini. rapat POMDA mempunyai esensi untuk merekatkan hubungan antara lembaga di fakultas dengan mahasiswa dan alumni. jadi setidaknya ada semacam aspirasi yang kami(aku dan mufti) bawa dari mahasiswa untuk dibicarakan dalam rapat ini. setidaknya kami langsung berhubungan dengan orang2 yang berpengaruh di psikologi sehingga tindak lanjut dari aspirasi ini tidak terlalu lama.

semangat kami untuk mengaspirasikan keinginan mahasiswa sebelum kami sampai di sana, seolah-olah tereduksi oleh berbagai peristiwa yang kami lewati sebelumnya(baca:makan, minum, liat rumah mewah, dll). kami seolah tak mampu untuk berbicara dengan lantang tentang keinginan mahasiswa. seakan diri kami cenderung untuk mengikuti alur dan keinginan dari peserta rapat POMDA lainnya.

mungkin ini yang disebut dengan kemewahan yang melalaikan. kenyamanan yang mereduksi keinginan untuk terus bergerak. serasa telah mencapai suatu yang ideal dan lupa akan esensi dari eksistensi diri. kami serasa tak mempunyai posisi yang tegas dan independent dalam menyuarakan aspirasi. meskipun tak sepenuhnya terdiam, namun hal ini membuat kami benar-benar pasif dalam menyampaikan aspirasi teman-teman.

entahlah, aku berpikir bahwa inilah virus-virus yang menyerang para pemimpin bangsa ini. ketika posisi mereka yang dekat dengan kemewahan berdampak pada kinerja mereka di lapangan. mereka seolah telah lupa dengan janji2 mereka ketika kampanye saat pemilu dulu. saat kemewahan masih jauh dari mereka. saat kemewahan belum bersinergi dengan pergerakan.

belajar dari pertemuan pertama ini. kuberpikir untuk meluruskan niat, meluruskan hati-hati kami untuk melihat kemewahan sebagai sebuah bonus dari perjuangan sejati menuju ridho ilahi, namun.., bila bonus ini tak tak dapat kugapai, cukuplah balasan dari Alloh sebagai penebus kekhilafan diri ini...amiinnn...

doakan selalu...tetap istiqomah...