Saudara-saudara sekalian, dunia dan kita penghuninya seharusnya tak sereaktif itu merespon tindakan Israel. Saudara-saudara pun pastinya tahu telah banyak yang datang dan pergi di dunia ini. Bukan hanya sekali, dunia melihat ada sekelompok manusia yang hilang karena ia tidak mampu bertahan dari yang kuat. Di bosnia, di iraq, Afghanistan dan lainnya. Dunia ini masih menganut paham evolusionis bung! Survival of the fittest. Yang kuat dialah yang menang. Jadi jangan salahkan kami jika mereka ‘hilang’ karena sudah menjadi mekanisme alam bahwa kami yang kuat selalu dan akan selalu hadir.
Menjadi kewajiban kami untuk memonopoli dunia. Menguasai dan memanfaatkannya. Karena itu yang tertulis dalam ajaran leluhur kami. Objekkan manusia dan jadikan ia budakmu. Masalah nantinya ditentang atau tidak itu urusan belakang. Percuma agen-agen kami menyebar di lingkaran elit institusi dunia bila tidak mampu memuaskan hasrat kami untuk menjadi yang kuat.
Anggaplah nantinya ada yang menentang. Toh..semuanya sekedar angin lalu. Tak satupun yang berani berbuat lebih jauh jika tak ingin berakhir seperti Anwar sadat, Jaime Roldos ataupun Omar Torrijos. Walaupun terkadang ada juga para begundal yang sulit tunduk. Tapi itu tinggal masalah waktu, orang-orang semacam Chaves, Morales, ataupun Ahmadinejad takkan lama lagi mengikuti jejak pendahulu mereka.
Untuk perkara palestina, para begundal-begundal itu hanya ingin memanfaatkan isu untuk menentang kami. Misalnya pun mereka benar-benar menentang kami dengan membuat koalisi penentang, koalisi gabungan sosialis latin dengan anomali timur tengah. kami siap turun dengan berribu-ribu tank dan rudal-rudal tercanggih untuk sekedar melenyapkan mereka. Masalah resolusi PBB nantinya? Haha… tak lebih dari sekedar tong kosong yang nyaring bunyinya. Coba lihat saat ini, apa yang bisa ia perbuat untuk menghalangi serangan Israel? Negara-negara arab yang tergabung dari liga arab pun tak mampu berbuat apa-apa. Nampaknya suguhan kami berupa wanita, harta, dan tahta cukup untuk menutup mulut dan mata mereka dari teriakan saudara mereka di palestin.
Jadi kali ini, saudara sekalian tunduk dan lihatlah pertunjukkan ‘kembang api’ yang kami sajikan. Nikmatilah sajian itu hingga menguatkan memory kalian bahwa kamilah penguasa dunia. Karena kami yang kuat dan yang lemah tinggal lah menunggu masanya.
Sunday, 11 January 2009
Tuesday, 6 January 2009
Fisik dan Meta, digabung jadi Metafisik..
Dunia fisik atau materi adalah realitas faktual yang kita hayati. Selebihnya ada banyak kemungkinan realitas lain yang tak dapat kita pahami eksistensinya. Sebagian orang mungkin mengenalnya dan selebihnya tidak. Yang mengenalnya memberikan label metafisik dan dianggapnya nir-realitas.
Metafisik adalah sebuah kondisi dimana fungsi indrawi sebagai reseptor tak mampu mengidentifikasi sebuah aktivitas diluar jangkauan fungsinya. Tidak tertangkap oleh
pandangan mata tapi dapat dilihat oleh sebagian orang. Tidak didengar dalam resonansi
pendengaran tapi dapat diindrai oleh sebagian manusia. Itulah sebagian inti dan hakikat dari metafisik. Sebuah kondisi yang mungkin relevan dalam hal justifikasi perilaku sebagian manusia.
Sebagian manusia mungkin merasakan sakit ketika ia ditimpa sebongkah batu di dadanya.
Disiang hari dalam cuaca yang sangat terik. Tapi berbeda dengan sebagian lainnya yang
menghayati kondisi metafisik yang berada diluar jangkauan indrawi manusia. Ia tersenyum tak ubahnya menikmati bongkahan batu di dadanya. Fungsi ragawi dan fisik tak lagi bermain dalam tataran metafisik. Ia berada dalam level idea, phantasm, spirit dan belief yang berada diluar realitas fisik. Yang terkadang membuat non-aktif fungsi indrawi atau bahkan meningkatkannya.
Benar, idea, phantasm, spirit, dan belief, adalah sebuah konsepsi yang menjadi komponen pokok dari fungsi metafisik. Dimana seperti yang telah dikemukakan pada awal tulisan, fungsi ini berada di luar jangkauan fungsi indrawi manusia. Atau dengan kata lain berada di atasnya dan melampaui. Sehingga tak heran jika kemudian fungsi metafisik yang lebih mempunyai peran dalam dinamika perubahan manusia. Karena tak jarang output yang dihasilkannya memiliki kualitas yang tak dimiliki oleh sebagian besar manusia yang secara pasti menggunakan fungsi indrawi.
Sebagai contoh, Seorang ulama besar dikebiri hak-hak asasinya lewat penjara. Seakan tak punya kuasa atas hidup dan kehidupannya. Tapi dengan fungsi metafisik dari sebuah belief akan sebuah pertolongan dari dzat yang maha pengasih, ia dengan bebasnya melayang-layang pergi melintasi penjara yang membatasinya. Membawa serta pemikiran-pemikarannya jauh pergi untuk dituliskan dalam sebuah bentuk tulisan. Yang mungkin saja kualitasnya jauh lebih bermutu dibandingkan penulis-penulis lainnya.
****Metafisik adalah sebuah kondisi dimana fungsi indrawi sebagai reseptor tak mampu mengidentifikasi sebuah aktivitas diluar jangkauan fungsinya. Tidak tertangkap oleh
pandangan mata tapi dapat dilihat oleh sebagian orang. Tidak didengar dalam resonansi
pendengaran tapi dapat diindrai oleh sebagian manusia. Itulah sebagian inti dan hakikat dari metafisik. Sebuah kondisi yang mungkin relevan dalam hal justifikasi perilaku sebagian manusia.
Sebagian manusia mungkin merasakan sakit ketika ia ditimpa sebongkah batu di dadanya.
Disiang hari dalam cuaca yang sangat terik. Tapi berbeda dengan sebagian lainnya yang
menghayati kondisi metafisik yang berada diluar jangkauan indrawi manusia. Ia tersenyum tak ubahnya menikmati bongkahan batu di dadanya. Fungsi ragawi dan fisik tak lagi bermain dalam tataran metafisik. Ia berada dalam level idea, phantasm, spirit dan belief yang berada diluar realitas fisik. Yang terkadang membuat non-aktif fungsi indrawi atau bahkan meningkatkannya.
Benar, idea, phantasm, spirit, dan belief, adalah sebuah konsepsi yang menjadi komponen pokok dari fungsi metafisik. Dimana seperti yang telah dikemukakan pada awal tulisan, fungsi ini berada di luar jangkauan fungsi indrawi manusia. Atau dengan kata lain berada di atasnya dan melampaui. Sehingga tak heran jika kemudian fungsi metafisik yang lebih mempunyai peran dalam dinamika perubahan manusia. Karena tak jarang output yang dihasilkannya memiliki kualitas yang tak dimiliki oleh sebagian besar manusia yang secara pasti menggunakan fungsi indrawi.
Sebagai contoh, Seorang ulama besar dikebiri hak-hak asasinya lewat penjara. Seakan tak punya kuasa atas hidup dan kehidupannya. Tapi dengan fungsi metafisik dari sebuah belief akan sebuah pertolongan dari dzat yang maha pengasih, ia dengan bebasnya melayang-layang pergi melintasi penjara yang membatasinya. Membawa serta pemikiran-pemikarannya jauh pergi untuk dituliskan dalam sebuah bentuk tulisan. Yang mungkin saja kualitasnya jauh lebih bermutu dibandingkan penulis-penulis lainnya.
Dan kini ulah Israel menjawab konsepsi metafisik secara nyata. Di dalam diri rakyat
palestina. Belief dan spirit bangsa palestina membawa serta kekuatan yang muncul dari
diri-diri setiap pribadi. Dimana secara logika, tak mungkin rakyat palestina merubuhkan
kekuatan zionis.
Tapi logika hanya sarana dalam mengintrepetasi fungsi indrawi dan fisik. Metafisik lah yang berperan dalam diri setiap rakyat palestina. Memunculkan kekuatan yang takkan pernah padam hingga kejayaan kembali ke pangkuan mujahid palestin.
Wednesday, 31 December 2008
Pembantaian Etnis, Sebuah Kejahatan Perang israel
Hingga berapa lama para pemimpin dunia menutup mata bahwa serangan Israel merupakan sebuah kejahatan perang. Yang dapat diganjar dengan sebuah hukuman sangat berat. Jika sebelumnya beberapa pemimpin dunia berpendapat bahwa serangan yang dilakukan Israel merupakan hal yang wajar. yang dianggap merupakan serangan balasan terhadap Hamas. Coba saat ini mereka jelaskan mengapa bantuan terhadap rakyat Palestina turut diserang oleh tentara Israel?
Hal ini terjadi saat beberapa kapal yang mengangkut bantuan kesehatan dan pangan dari
Libanon diserang oleh kapal-kapal patroli Israel. Tanpa sebab yang jelas dan provokasi
sebelumnya kapal-kapal patroli Israel menyerang kapal pengangkut bantuan itu yang sebenarnya masih berada di perairan internasional.
Melihat hal ini saya langsung teringat akan peristiwa pembantaian etnis yang dilakukan
Serbia pada rakyat Kosovo dan Bosnia. Dimana saat itu rakyat Kosovo dan Bosnia diupayakan untuk hilang dari muka bumi oleh tentara Serbia. Dengan dibunuh, disiksa, dan dihambatnya bantuan dari dunia internasional untuk masuk ke daerah Bosnia. Saat itu pun alasan yang sama diberikan oleh Serbia. Mereka berpendapat bahwa hal ini dilakukan untuk menekan kelompok separatis Bosnia.
Dunia internasional pun memberikan reaksi atas tindakan yang dilakukan oleh tentara pimpinan Slobodan Milosevic ini. Hingga singkat cerita, Slobodan Milosevic dicap sebagai penjahat perang dan dinyatakan bersalah atas pembantaian etnis di Bosnia oleh mahkamah internasional. Serupa dengan serbia, Israel pun melakukan hal yang sama. Tapi mungkin bedanya Slobodan Milosevic tidak punya saham atas beberapa kekuatan besar di dunia saat itu. Serbia tidak punya andil ataupun jasa terhadap beberapa negara barat. Hingga tak lagi berharga untuk dapat dipertahankan. Berbeda dengan Israel, Mereka mungkin telah menancapkan kukunya ke dalam titik-titik vital negara-negara barat. Hingga negara-negara itu tunduk pada keinginan Israel.
Ironis, karena kita tahu dan melihat kejadian ini tapi sekedar mengecam tanpa bisa berbuat
banyak. Terlebih lagi dilakukan di depan para pemimpin dunia yang tak lagi punya kekuatan
untuk mencegah kejahatan perang Israel Laknatulloh.
Hal ini terjadi saat beberapa kapal yang mengangkut bantuan kesehatan dan pangan dari
Libanon diserang oleh kapal-kapal patroli Israel. Tanpa sebab yang jelas dan provokasi
sebelumnya kapal-kapal patroli Israel menyerang kapal pengangkut bantuan itu yang sebenarnya masih berada di perairan internasional.
Melihat hal ini saya langsung teringat akan peristiwa pembantaian etnis yang dilakukan
Serbia pada rakyat Kosovo dan Bosnia. Dimana saat itu rakyat Kosovo dan Bosnia diupayakan untuk hilang dari muka bumi oleh tentara Serbia. Dengan dibunuh, disiksa, dan dihambatnya bantuan dari dunia internasional untuk masuk ke daerah Bosnia. Saat itu pun alasan yang sama diberikan oleh Serbia. Mereka berpendapat bahwa hal ini dilakukan untuk menekan kelompok separatis Bosnia.
Dunia internasional pun memberikan reaksi atas tindakan yang dilakukan oleh tentara pimpinan Slobodan Milosevic ini. Hingga singkat cerita, Slobodan Milosevic dicap sebagai penjahat perang dan dinyatakan bersalah atas pembantaian etnis di Bosnia oleh mahkamah internasional. Serupa dengan serbia, Israel pun melakukan hal yang sama. Tapi mungkin bedanya Slobodan Milosevic tidak punya saham atas beberapa kekuatan besar di dunia saat itu. Serbia tidak punya andil ataupun jasa terhadap beberapa negara barat. Hingga tak lagi berharga untuk dapat dipertahankan. Berbeda dengan Israel, Mereka mungkin telah menancapkan kukunya ke dalam titik-titik vital negara-negara barat. Hingga negara-negara itu tunduk pada keinginan Israel.
Ironis, karena kita tahu dan melihat kejadian ini tapi sekedar mengecam tanpa bisa berbuat
banyak. Terlebih lagi dilakukan di depan para pemimpin dunia yang tak lagi punya kekuatan
untuk mencegah kejahatan perang Israel Laknatulloh.
Subscribe to:
Posts (Atom)