Sewaktu dulu menjadi MABA. Tak pernah terpikirkan sama sekali bahwa momen di hari terakhir PSAU, Class Consolidation, merupakan sebuah skenario yang direncanakan. Nampaknya skenario itu berhasil mengelabui maba atau mungkin hanya saya. Yang nampaknya begitu polos sehingga menilai kejadian tersebut apa adanya. Dimana secara garis besar, saat itu para senior berupaya menggugah rasa kebersamaan MABA dengan membuat kekacauan dan keributan yang diharapkan membangun kesolidan dari maba, seperti itulah singkatnya. Ketika itu belum ada sama sekali skema di otak saya bahwa kejadian itu merupakan sebuah rekayasa yang dirancang untuk tujuan tertentu. Merujuk kepada Kolb serupa dengan structured experience-nya.
Menariknya adalah kejadian itu sedikit banyak membangun skema kognitif saya. Bahwasanya dunia ini tak selalu dapat dimaknai hitam putih. Ada banyak kemungkinan yang dapat dimaknai dari sebuah peristiwa. Yang terlihat tak selalu seperti apa yang dipersepsi. Slogan seeing is believing nampaknya bukan menjadi premis umum dalam hal ini. Walaupun sebuah peristiwa terlihat seperti apa yang kita lihat, namun mungkin saja itu hanya sebuah skenario dari satu frase yang disebut konspirasi.
Konspirasi atau selanjutnya kita sebut saja teori persekongkolan adalah teori-teori yang berusaha menjelaskan bahwa penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian peristiwa (pada umumnya peristiwa politik, sosial, atau sejarah) adalah suatu rahasia, dan seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh sekelompok rahasia orang-orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau berpengaruh. Sehingga tak lain dan tak bukan ada sebuah kekuatan tersembunyi yang mengendalikan sebuah peristiwa agar dipersepsikan sama sesuai keinginan mereka. Bila dikaitkan dengan class consiladation PSAU mungkin agak-agak mirip.
Nah, berlanjut lagi. menindak lanjuti berbagai peristiwa akhir-akhir ini yang sempat terekam dalam memory saya, saya pun berpikiran, mungkinkah teori konspirasi bermain di dalamnya?. Ada dua peristiwa sejauh pengamatan saya. Pertama isu BHP (badan hukum pendidikan) dan kedua adalah hiburan lempar sepatu dari Muntazer Al Zaidi wartawan stasiun TV Al Baghdadiya.
Untuk yang pertama, ini murni hanya aksi berpikir nyeleneh dari saya. Karena berpikir bahwa sulit saja membayangkan bahwa ada dua penyikapan yang berbeda. Satu sisi ada yang berteriak lantang menolak. Bergerak berdasarkan kondisi faktual yang ada. Dan di lain sisi ada yang mengangguk bijak tanda sepakat dengan RUU BHP. Padahal keduanya berasal dari entitas yang sama bernama rakyat. Itu berbicara idealnya. Berbicara sedikit konspiratif, keduanya pun saya yakin dikoordinasikan oleh satu kekuatan kebaikan yang saya yakin sebagian besar sama. Bagi yang bersama saya dalam gerakan ini pasti tahu apa yang saya maksudkan. Sehingga saya melihat seperti adegan dagelan ketika kedua kelompok ini bertentangan mempertahankan pendapat masing-masing. Jadi Intinya hendak seperti apa dan mau dibawa kemana?
Yang kedua, hampir sama sebenarnya. tapi mungkin agak sedikit besar cakupannya. Saya berpikir mungkin saja Al Muntazher dirancang untuk memberangus pers di Irak. Sehingga ada sebuah alasan bagi pemerintahan Al Maliki untuk mengintervensi pers disana. Mengandalkan alasan keamanan dan stabilitas negara, mempreteli pers disana sehingga tak punya taji untuk memberitakan kebenaran.
Kembali, seperti yang sudah saya tuliskan di atas. Teori Konpiratif sifatnya adalah dugaan dan penjelasan yang tak dibatasi lingkupnya. Sehingga setiap orang bebas mengungkapkan pendapatnya sepanjang dapat menjelaskan dengan fakta dan data yang kuat. Sama halnya dengan tulisan ini, mungkin bedanya minus fakta dan data yang akurat. Jadi jangan terlalu serius lah membaca tulisan ini. Yang hanya sekedar mewacanakan sebuah perspektif baru yang mungkin tak biasa..hehe..
Saturday, 20 December 2008
Wednesday, 10 December 2008
In God We Trust ; All Others Must Use Data


Kalau anda mencermati mata uang US alias koin dan kertas Dollar Amerika Serikat, pastinya anda akan menemukan hal menarik disana. Karena di sana tertulis sebuah kalimat yang menjadi moto resmi pemerintah Amerika Serikat. Terlepas dari pelaksanaan dan mungkin saja ketidak singkronan antara moto tersebut dengan kenyataan kini. Tapi sekali lagi saya mengapresiasi kalimat itu. In God We Trust.
Kepada tuhan kami percaya. Sebuah pernyataan yang menurut saya menunjukkan ketawakalan dan ketauhidan tingkat tinggi. Dimana segala hal kita tambatkan padaNya. Keluh-kesah, senang-sedih, canda-tawa bermuara padaNya. Mengharapkan yang terbaik darinya. Betapa menariknya bila Amerika benar-benar menunjukkan sikap seperti itu. sehingga nanti setidaknya Amerika dapat sedikit meninggalkan nilai-nilai materialis yang menjangkitinya selama ini. Dan dapat menjadi rahmatan lil alamin (loh??).
Omong-omong, saya pun berpikir bahwa kalimat tersebut kurang lengkap dan perlu ditambahkan sebuah kalimat lagi. Berhubung saat ini kita berada di zaman digital yang membuat akses terhadap informasi sangatlah mudah. Maka segala hal merujuk pada evidenc atau bukti. Sehingga zaman ini selain disebut sebagai zaman digital pantaslah nampaknya disebut sebagai based evidence and power information era. oleh karena itu saya pun berasumsi kalimat penambah itu adalah kata-kata All others must use data.
In God We Trust; All Others Must Use Data. Hanya kepada tuhan kami percaya. Apapun yang datang darinya kami siap menjalankannya. Segalanya kami serahkan padanya dan kepadaNya lah kami kembali. Selebihnya siapkan bukti dan informasi yang kuat. Karena tak ada satupun yang dapat dipercaya selain yang punya data. Apapun itu, Bukti tertulis, lisan, tulisan atau apapun itu. Dan tentunya DIA pusat segala data.
Hanya kepadaNyalah kami percaya....In God We Trust...and All Others Must Use Data.
*diselaselaKAUPdanPELATIHANyangmenggila,semogamenyejukkanhati*
Wednesday, 3 December 2008
Nama menciptakan Maknanya..
What's in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.
William Shakespeare
William Shakespeare
Kalaulah para eksistensialis istiqomah pada prinsip mereka. Hampir dapat dipastikan mereka sepakat dengan pendapat saya. Bahwasanya labelling mendahului meaning. Nama mendahului makna. Sama halnya dengan eksistensi mendahului esensi
Contohnya begini, apa yang menyebabkan air dikatakan air dan tidak dikatakan lembut? ataupun fleksibel? ataupun apalah namanya itu sesuai dengan sifat yang dimilikinya. Dan mengapa pohon disebut pohon padahal secara esensi mungkin saja tak ada hubungannya dengan karakter dan sifatnya. Po- Hon, apa hubungannya dengan makhluk bertubuh keras dengan lembaran-lembaran hijau di puncak tubuhnya?. Begitupun manusia, kenapa ia harus dipanggil manusia dan tidak dipanggil batu, kaki, atau yang lainnya?. Sehingga selanjutnya memunculkan pertanyaan besar, mengapa segala sesuatu harus dinamakan seperti sekarang ini??. Masih bingung? Mari kita sejenak membahas tentang konsep yang sedikit banyak terkait dengan hal ini
Nama terkait erat dengan konsep. dimana konsep merupakan sebuah bentuk representasi dan simplifikasi simbol-simbol elemen kehidupan. Sehingga setidaknya bila telah terbentuk sebuah konsep dalam pikiran manusia, ia telah mampu mengaitkan segala hal yang terjadi padanya dengan konsep yang telah ia miliki. Memang agak rancu dan terkesan overlapping dengan pengertian analogi. Tapi yang harus ditekankan disini adalah nama menjadi point penting pada pembentukan konsep ataupun makna itu sendiri. Dimana konsep takkan terbentuk bila tak ada nama sebelumnya. Eksistensi yang melampaui esensinya.
Segarkan ingatan kita tentang kehidupan nabi Adam di surga. Ketika ia diminta oleh Alloh menamakan setiap makhluk yang ada di sana. Apakah Adam melihat sifat dari makhluk itu terlebih dulu ataukah menamakan dulu baru selanjutnya makna akan muncul dengan sendirinya?. Nampaknya menurut saya adam sekedar menamakan saja tanpa (mungkin) mempertimbangkan sifat dan makna yang bisa saja melekat pada makhluk tersebut.
Sehingga menurut saya nama yang menciptakan makna. dan bukannya makna yang menciptakan nama. Karena segala sesuatu tak selalu membutuhkan makna terlebih dulu untuk dinamakan. karena kalau saja setiap hal diperlakukan begitu, tentunya kini tak ada nama-nama besar yang mewarnai dunia. nama-nama semacam Ibrohim, Ismail, Umar, Abubakar dan lainnya yang sudah memiliki maknanya sendiri.
Subscribe to:
Posts (Atom)