Sunday, 27 July 2008

Mereka Yang Menukar Ayat-AyatNya Dengan Murah??

Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".
Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya tidak menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina".
Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan".
Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh."
(Al A’raaf :12-15)

Benar, Iblis telah memilih. Diantara banyak pilihan saat ia ditahbiskan menjadi makhluk paling taat setelah malaikat, ia memilih menjadi pembangkang. Ketika kita teringat akan banyaknya pembangkangan di muka bumi ini, dan tertawa melihat drama memilukan atas nama revolusi. Maka segarkanlah kembali memory kita. Ada sebuah pembangkangan yang lebih dahsyat selain pembangkangan para penerus Adam. Pembangkangan pertama yang tercatat dalam buku sejarah alam semesta. Jadi?? Pembangkangan manusia tak seberapa dibandingkan pembangkangan Iblis pada Tuhannya.
Dan kini ia adalah makhluk yang diberi pertangguhan, dikekalkan untuk menguji iman anak cucu adam.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Al Mulk : 2)
Ya, kehidupan abadi yang dirasakan iblis merupakan bentuk nyata dari sebuah ujian. Sepanjang hayat masih dikandung badan, iblis kan terus menjalankan misinya. Menyesatkan umat manusia sebagai bentuk pelampiasan rasa dendamnya pada Adam. Iblis menggunakan tipu muslihat yang beragam. Dengan berbagai sarana, strategi dan kemungkinan yang ada ia menugaskan bala tentaranya untuk menjerumuskan umat manusia. Kini Iblis nampaknya telah menemukan sarana yang ampuh untuk mewujudkan visinya. Berbekal sedikit pemahaman tentang kecenderungan manusia untuk saling mencintai sesamanya.

Atas nama cinta manusia rela berkorban. Atas nama cinta seorang ayah rela bersusah payah demi anaknya. Atas nama cinta seorang ibu rela terjaga tiap malam untuk menenangkan sang buah hatinya. Atas nama cinta manusia mampu berbuat diluar batas kemampuannya. Begitulah cinta, men-drive manusia untuk terus bekerja. Mendorong manusia untuk menyadari hakikat dirinya sebagai hamba yang dhoif. Sebuah anugerah yang tak terkira nilainya dari sang maha pencipta.

Tentunya anugerah ini tidak digunakan seenaknya, sekehendak hati manusia. Ada koridor yang berlaku dalam penerapannya. Termaktub dalam Al Quran dan Sunnah yang menjadi pedoman hidup setiap muslim. Agar cinta tak tercemar nafsu syahwat yang rentan menyerangnya. Maka alangkah sedihnya ketika melihat seorang muslim mengatasnamakan cinta sebagai landasan dalam memuaskan hawa nafsu mereka. Naudzubillah

Tapi inilah realita yang terjadi. Boomingnya term-term dan istilah cinta yang bernafaskan islam seolah menjadi komoditi non-migas yang prospektif. Terutama bagi sebagian orang yang jeli melihat peluang ini. Dengan sedikit modifikasi, cinta yang sebelumnya rentan berselimut syahwat, kini sedikit demi sedikit mulai terbalut nafas-nafas islam. Tetapi syahwat tetaplah syahwat, meski dibungkus dengan pakaian yang indah sekalipun, busuknya kan tetap tercium. Tak kan bisa dipadukan antara yang hak dan yang batil, dan takkan bisa disatukan antara syahwat dengan wahyu.

Begitu jengah mata ini melihat adegan dua insan yang syahdu memadu kasih. Dalam sebuah tayangan salah satu stasiun TV. Beralaskan permadani dan berbalut pakaian islami mereka nampak sangat menikmati indahnya menjalin hati. Sungguh indah jika hal ini telah diikat dengan tali pernikahan yang barokah. Namun, justru sebaliknya ikatan itu belum sempat terucap dalam akad yang sah. Ditambah dengan bumbu-bumbu penyedap seperti kalimat-kalimat thoyibah yang keluar dari lisan mereka membuat hati ini miris. Inikah yang Alloh dan RasulNya ajarkan tentang etika antara dua orang insan, lelaki dan perempuan??.

Miris, tetapi hati ini tetap (berusaha) berbaik sangka. Mungkin masih zamannya sebuah kebenaran disampaikan dengan cara berbeda. Dengan mencampur adukkan antara hak dan yang batil. Jika benar, alangkah sia-sianya usaha para da’i yang sedari dulu mendakwahkan islam. Usaha mereka seolah tak berarti dan menguap seiring berkembangnya usaha para penjual ayat-ayatNya.
Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu (At Taubah: 9).

Maka berhasillah usaha Iblis untuk menyesatkan anak cucu adam. Hanya manusia-manusia terpilih yang dapat selamat dari tipu dayanya. Manusia-manusia yang mendapatkan Rahmat dari Robb semesta alam. Tidak bagi sebagian orang yang tergoda bujuk rayu Iblis.
kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).(al A’raaf:17)
Tetapi tidak dari atas, karena rahmat Allah kan selalu tercurah pada mereka yang ikhlas dalam menjalankan perintahNya.
Allohu'Alam




Sunday, 20 July 2008

Jalan-jalan Ke rumah Bibi terus Nonton Film Batman terbaru : The Dark Knight.

Hari ini, saya mencoba “melarikan” diri dari asrama. Seharian saya tidak di sana karena mungkin, ingin sejenak menghilangkan kesan sentimentil yang kini merebak. Maklumlah, ketika ada 25 orang yang disatukan tempat tinggal selama dua tahun (dengan berbagai macam program) , setidaknya sebuah ikatan telah terbentuk. Ikatan emosional yang secara eksplisit memang tidak terlihat. Nampaknya masing-masing penghuni asrama pandai menyembunyikan perasaan mereka, namun tidak pada saya. Alih-alih ingin terlihat biasa saja membuat saya tak tahan dan akhirnya pergi ke tempat bibi di Jakarta.

Maksud kedatangan saya kesana memang sekedar tuk melepaskan sedikit beban di hati. Tidur ataupun nonton TV di kamar tamu. Namun tak lama sebuah tawaran datang. Saudara sepupu saya beserta buah hatinya mengajukan sebuah klausul. Mengajak saya untuk menemani mereka berjalan-jalan sambil nonton film di Mall Slipi Jaya Petamburan Jakarta. Kalaulah bukan karena tidak enak hati, mungkin saya akan menolak tawaran itu. Lebih nikmat nampaknya tidur ataupun nonton TV di kamar Ber-AC sembari memikirkan topik skripsi yang masih mengambang tak tentu arah. Namun akhirnya kami berangkat pukul 2 siang, dengan agenda nonton film Batman terbaru “The Dark Knight”.

Film ini berdurasi 2,5 jam. Cukup panjang untuk sebuah film ber-genre action fiction. Dimulai dengan adegan perampokan Bank di kota Gotham oleh kawanan penjahat berkostum badut. Mereka dengan sebuah strategi yang matang berhasil membobol sistem keamanan bank yang berlapis. Efektivitas dalam menjalankan rencana adalah kunci keberhasilan mereka. Dimana mereka saling berkomunikasi secara efisien tanpa mempermasalahkan siapa yang memberi komando, sebuah sistem anarki. Singkat kata mereka berhasil membawa hasil rampokan berjumlah jutaan dollar.

Namun, ada yang unik, sebuah kawanan yang tadinya bahu membahu membobol bank, satu per satu mati di tangan kawan-kawannya sendiri. Solidaritas yang dibutakan oleh gemerlapnya hasil rampokan membuat mereka gelap mata. Hingga akhirnya tersisa dua orang yang saling berhadapan. Mereka saling mengarahkan senjata masing-masing. Tapi seperti film-film aksi umumnya sang penjahat utama yang menjadi lakon dalam film ini memenangkan duel. Joker yang dengan elegan keluar seorang diri dari bank tersebut sambil memakai bis sekolah untuk berkamuflase, berbaur dengan bis sekolah lainnya yang akan mengantarkan murid-murid ke rumah mereka masing-masing. Polisi seperti biasa datang di akhir adegan dengan tangan kosong menatap kegagalan yang ke sekian kalinya mereka dapatkan.

Sepertinya “The Dark Knight” memunculkan Joker sebagai “tokoh utamanya”. Entah mengapa ulasan saya di atas benar-benar menunjukkan kualitas Joker sebagai pemegang kendali atas setiap peristiwa. Tidak hanya di awal adegan tetapi di sepanjang film. Joker menjadi pendikte ulung atas setiap tindakan yang dilakukan oleh Bruce Wayne alias Batman dan beberapa satuan polisi Kota Gotham. Tindakan yang dilakukan oleh Batman seolah hanya reaksi atas sebuah stimulus yang dimunculkan Joker. Dan seperti biasa Batman menanggapi “tantangan” Joker itu dengan tindakan heroik untuk menyelamatkan kota Gotham.

Hipotesis saya bahwa joker adalah “tokoh utama” dalam film ini semakin terlihat. Ketika dengan sangat lihainya Joker memperalat Harvey Dent, Jaksa Penuntut Umum Wilayah. Padahal di awal film, Harvey adalah salah satu karakter yang secara jelas memposisikan diri sebagai tokoh Protagonis. Harvey Dent, Seorang ksatria "putih" dengan berbagai kebijakan hukum yang membuat para gembong penjahat kota Gotham bertekuk lutut. Bahkan Batman pun mengakui hal itu.

Tapi dengan berbagai tipu daya dan uraian kata yang manipulatif Joker dapat membujuk Harvey untuk menjalankan keinginan Joker. Penyebabnya adalah Rachel wanita yang disayanginya tewas dalam ledakan yang dirancang Joker. Membuat Harvey kehilangan akal dan membalas kematian Rachel atas pihak-pihak yang bertanggung jawab, salah satunya pihak kepolisian. Saya melihat ini merupakan capaian yang sempurna bagi Joker sang "tokoh utama". Dimana Joker secara lihai memutar fakta dan berhasil meyakinkan Harvey bahwa pihak kepolisianlah yang bersalah, bukan Joker.

Tak hanya itu, ada beberapa lagi peristiwa yang menunjukkan kebenaran hipotesis saya. Lepasnya Joker dari penjara wilayah, menawan beberapa warga sipil, meledakkan rumah sakit umum Gotham, meluluhlantakkan jaringan komunikasi kota adalah beberapa hal yang menunjukkan kedigdayaan Joker sebagai “tokoh utama”. Lalu dimana Batman?

Seperti biasa, layaknya film-film Hollywood lainnya yang menceritakan tokoh superhero, Batman larut dalam kesedihan akan rasa bersalah. Ia merasa tak berhasil menyelamatkan Rachel (wanita yang juga disanyangi Harvey), kekasihnya, yang tewas dalam ledakkan. Konflik batin yang timbul dalam adegan memang seolah menunjukkan betapa berat perjuangan yang dihadapi oleh sang pahlawan. Namun bagi saya ini menunjukkan betapa rapuhnya sang pahlawan. Ketika ia dituntut untuk dapat sempurna dalam perjuangannya sebagai seorang ‘single fighter’ ia tidak mampu mengatasi problem yang ada pada dirinya sendiri. Bahkan justru lari dari kenyataan dan mengeluarkan statement penyesalan dan pengakuan akan kekalahan di akhir film.

Memang, akhirnya, Joker tertangkap dan seolah Batman telah berhasil menjalankan tugasnya. Tetapi berbagai rancangan strategi yang direncanakan Joker jauh lebih berkesan dibandingkan berbagai tindakan reaktif yang dilakukan Batman. Tentu saja ini bukan sebuah pembenaran akan tindakan Joker yang melanggar hukum. Namun, dengan sebuah perencanaan yang hebat seorang superhero dapat ditaklukan oleh seorang penderita gangguan jiwa yang trauma akan masa kecilnya. Film inipun menunjukkan kepada kita bahwa menjadi single fighter tidaklah menyenangkan apalagi dapat dikatakan hebat. Beban yang dipikul sendirian dan enggan untuk dibagi bersama lebih banyak menghasilkan kemudharatan dibandingkan bila kita bersama-sama dalam satu barisan.

Overall, film ini setidaknya memberikan sebuah penegasan bahwa

Film-film Hollywood selalu sama, pahlawan ‘single fighter’ such as Batman, Superman, Spiderman, dan man-man lainnya yang larut dalam permasalahan mereka sendiri.

        

Saturday, 19 July 2008

Sebuah Kisah dari Pinggir Kota Jakarta : cerita dibalik Penerimaan Siswa Baru (PSB) kota Bekasi

Seorang anak duduk termangu di lorong sekolah dengan wajah memerah. Di matanya tersisa bulir-bulir air mata yang ia seka sebisanya. Pengumuman siswa baru di daerah bekasi membawanya pada suatu kenyataan, ia tidak lulus di SMA Negeri 6 bekasi. Dengan rata-rata nilai ujian nasional hampir 9, rasanya nyaris tidak mungkin ia tidak diterima di SMA ini yang masih tergolong menengah dalam hal ketatnya persaingan. Tapi kenyataan berbicara lain, ia benar-benar tidak lulus dan mau tidak mau harus menempuh pendidikan menengah di sekolah non-negeri alias sekolah swasta.

Agaknya titel ‘siswa’ dari sekolah swasta yang agak mengganggu dirinya. Apa kata dunia ia sekolah di sekolah swasta? Apalagi sekolah swasta yang namanya nyaris tak terdengar di kancah sekolah menengah di Bekasi. Perasaan itu semakin mengganggu dirinya ketika ia harus menghadapi sebuah fakta bahwa kakak dan abangnya adalah alumnus dari dua sekolah negeri terkemuka di Bekasi, SMAN 2 dan SMAN 1 Bekasi. Pukulan telak kini nampak menimpa dirinya dan itu bertubi-tubi hingga ia nyaris tak mampu berbicara pada orang sekitarnya.

Beruntunglah kondisi ini tak bertahan lama. Keluarga seolah menjadi tempat kembali paling sempurna baginya atas segala kemalangan yang menimpa. Keluarga memberikan motivasi dan kekuatan bagi dirinya untuk menghadapi kondisi ini. Mereka menyadarkan dirinya bahwa lingkungan tak mempunyai dampak langsung bagi hasil yang akan ia capai suatu saat. Sekolah swasta tak menjadi ukuran atas keberhasilan seseorang, tak berarti orang yang berada di sekolah swasta memiliki tingkat kualitas di bawah siswa sekolah negeri. Bila orang tersebut memang berkualitas, pastinya ia akan tetap menunjukkan performa yang luar biasa dalam aktivitasnya, walaupun ia berada sekolah swasta.

Begitupun dengan dirinya, keluarga mengibaratkan dirinya sebagai mutiara. Dimanapun ia berada sebuah mutiara kan selalu bersinar, walaupun di tengah luapan lumpur sekalipun. Maka jadilah mutiara karena ia tak tercemar oleh kotornya lumpur yang mengelilingi dirinya. Karena ia tak terpengaruh oleh statusnya sebagai siswa dari sebuah sekolah swasta dimana ia akan menunjukkan kualitasnya sebagai sebuah mutiara yang terus bersinar.

Karena keluarga memberikan pilihan kepadanya atas sebuah perumpaan. Menjadi ikan kecil di kolam yang besar, atau menjadi ikan yang besar di kolam yang kecil? Tak salah bila ia memilih salah satunya, tapi yang perlu ia pahami adalah menjadi ikan di kedua kolam mempunyai maknanya masing-masing. Berada di sekolah yang hebat dan terkenal namun hanya menjadi penonton diantara orang-orang yang berprestasi adalah perumpaan bagi ikan kecil di kolam yang besar. Sedangkan berprestasi dan menjadi nomor satu di sekolah swasta yang notabene tak terdengar namanya bagaikan menjadi ikan yang besar di kolam yang kecil. Lalu? Mana yang lebih baik? Pertanyaan yang ia ajukan pada keluarganya.

Senyuman terbesit dari anggota keluarga mendengar pertanyaan ini. Dengan perlahan sang ayah berkata “ nak, seorang itu dilihat atas apa yang ia usahakan. Tak dihitung di mana ia berada dan bagaimana caranya, selama yang ia upayakan adalah sesuatu yang halal maka tunjukkanlah bahwa ia bisa membuahkan sesuatu, apapun itu. Ia berpikir untuk terus memberikan sesuatu bagi lingkungannya, atau orang-orang sekitarnya. Maka, menjadi ikan besar di kolam yang kecil atau ikan kecil di kolam yang besar?”

Dengan tersenyum ia berkata pada ayahnya, “aku mau jadi ikan yang besar itu pa, walau Cuma di kolam yang kecil. Seperti lintang di laskar pelangi yang berprestasi luar biasa meski cuma sekolah di sekolah yang minim sarana dan hampir rubuh itu. He.he..”

Kalau begitu saya ucapkan selamat. Semoga tetap istiqomah tuk meraih yang terbaik. Karena engkau adalah mutiara, karena engkau adalah ikan besar walaupun di kolam yang kecil.